The Leader (UKISS Soohyun)

The Leader

Cast :: U-Kiss

Genre :: Brothership

.

My first brothership fanfic about U-Kiss ~

And dedicate for U-Kiss’s anniversary.

.

 

Alexander dan Kibum akan keluar…

.

.

Kalian akan mendapatkan dua member baru…

.

.

Soohyun, mulai sekarang kau adalah leader U-Kiss…

.

.

Soohyun menutup jurnal bersampul hitam miliknya sambil menoleh kearah Dongho yang tengah asyik bermain bersama dengan anjing coklat kesayangnnya, Bbobbo. Senyum tipis terkembang di wajah pemuda itu ketika dia beranjak bangun dari atas sofa.

“Dongho, sudah saatnya pergi. Kau harus sekolah.” ujar Soohyun sambil berjalan melewati magnae itu sambil memukul kepala Dongho dengan jurnal ditangannya. “Sepulang sekolah nanti manajer Hyung akan menjemputmu untuk acara radio.”

Dongho menghela nafas sambil berguling dilantai, menatap Soohyun yang berdiri di dekat dispenser sambil mengusap bulu coklat Bbobbo. “Haruskah aku bekerja setelah sekolah? Atau aku harus memilih salah satu?” erangnya malas.

“Jangan bercanda. Cepat berdiri. Aku yang akan mengantarmu dan aku mau kau siap sepuluh menit lagi.” Soohyun langsung masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap-siap.

Saat masuk kedalam kamarnya, senyumnya yang sejak tadi muncul ketika bicara dengan Dongho pudar sudah. Ditatapnya jurnal hitam ditangannya dan dia langsung menghela nafas. Sejak menjadi seorang leader, jurnal itulah yang selalu menemani Soohyun ketika dia sendirian. Bukannya beristirahat, Soohyun justru harus merinci berbagai jadwal mereka yang harus mereka lakukan juga memastikan bahwa para dongsaengnya bisa menaati semua jadwal dan peraturan dengan baik.

Tapi tentu saja sulit.

Oh, ayolah… Siapa yang berpikir bahwa menjadi leader itu sangat mudah?

Khususnya bagi Soohyun sekarang.

U-Kiss awalnya memang tidak memiliki seorang leader. Itu dulu, ketika Alexander sang member tertua dan Kibum masih ada disini. Tapi sejak keduanya keluar entah kenapa Soohyun sebagai member tertua akhirnya diberikan posisi leader. Sejak awal, sesungguhnya Soohyun ingin menolaknya. Dia tak ingin menjadi pengatur siapapun. Dia tak mau diberikan gelar tukang ikut campur jika terlalu jauh mengurus dongsaeng-dongsaengnya. Dia takut dibenci.

Tapi dia sekarang seorang leader. Mau tak mau, terima tak terima, Soohyun harus melakukannya. Mengurus enam pemuda dengan perawakan yang berbeda-beda. Seperti pengasuh hanya saja konteksnya lebih sulit. Oh, sungguh! Mengatur enam pemuda yang masih sedikit egois itu sangat sulit. Percayalah.

Sebuah ketukan halus membuat Soohyun kembali dari lamunan sesaatnya.

“Hyung, kau di dalam?” Suara Eli.

“Ya. Ada apa?” Perlahan Soohyun membuka pintu kamarnya dan melihat member berambut hitam itu sudah tersenyum aneh dihadapannya. Soohyun mengerutkan keningnya menatap Eli. Dia tahu dongsaengnya yang satu ini pasti ingin mengatakan sesuatu.

“Nanti malam hanya Dongho dan Hyung yang ada jadwal, kan?” tanya Eli sebagai awal pembicaraan dan Soohyun mengangguk, masih dengan alis tertaut. “Aku dan Kevin ingin keluar dan mungkin kami sampai agak malam. Apa_”

“Ti-dak.” Sebelum Eli selesai bicara, Soohyun memotong ucapannya dengan tegas. Tentu saja kali ini kedua alis Eli yang tertaut heran.

“Why?” tanyanya jelas dengan nada tak terima.

“Sekalipun kau tak ada acara, tetap saja kau tidak boleh pulang larut. Kau pikir sekarang kau bisa bersenang-senang? Pokoknya tidak boleh.”

“Ya, Hyung! Aku dan Kevin kan hanya mau menghadiri culture festival yang ada di sebuah mall! Masa tidak boleh? Kami berdua ingin mencoba makanan-makanan ala barat. Kami kan juga merindukan kampung halaman.” Eli sudah menekuk wajahnya.

Bingung, seperti itulah Soohyun sekarang. Kalau sudah begini, Soohyun bingung harus bicara apa. Sebelum U-Kiss benar-benar comeback dengan dua member baru, AJ dan Hoon, mereka memiliki cukup banyak waktu senggang dan hanya beberapa yang mendapat pekerjaan. Sisanya tentu senggang. Tapi Soohyun tak mau waktu senggang itu disalah-gunakan dengan berjalan-jalan tidak jelas dan pulang larut. Bukankah lebih baik dipakai latihan?

Soohyun menghela nafas berat. “Maaf, Ellison. Tapi sepertinya kau dan Kevin tidak bisa pergi. Kau sendiri tahu aku dan Dongho malam ini tak akan ada di dorm, sekarang Kiseop juga sedang pulang ke rumah keluarganya. Tinggal kalian berdua bersama dengan Jaeseop dan Hoonmin. Daripada berkeliaran di luar dan aku takut kalian terkena masalah, lebih baik kalian berdua membantu Hoon dan Jaeseop. Keduanya masih tampak canggung berada di U-Kiss.”

Eli hanya mendengus sambil memutar bola matanya. “Aku heran kenapa U-Kiss harus memiliki leader sekarang.” gerutunya dengan pelan namun cukup jelas bagi Soohyun untuk mendengarnya. Dan pemuda itu langsung berjalan dengan gusar meninggalkan Soohyun.

Kembali Soohyun termenung. Inilah yang dia benci. Menjadi leader membuatmu memiliki wewenang untuk mengatur dongsaengmu dan ketika ada sesuatu yang berjalan tidak sesuai keinginan, maka gerutuanlah yang terdengar.

“Hyung, sudah siap? Ayo antar aku!” Dongho tiba-tiba muncul dihadapannya sudah dengan tas ransel dan seragam sekolahnya.

Soohyun masuk ke kamarnya dan mengambil kunci mobilnya. “Ayo berangkat.” ujarnya seceria mungkin. Tak mungkin kan Soohyun yang paling tua membiarkan magnae-nya tahu kalau dia tengah gundah sekarang. Itu tidak dewasa.

xXx

“Kalian sudah harus berlatih untuk perilisan album berikutnya. Kali ini U-Kiss akan merilis full album kedua berjudul Neverland. Kalian harus benar-benar bersiap-siap. Jadwal latihan kalian bertambah menjadi sepuluh jam perhari.”

Sontak beberapa member U-Kiss menghela nafas mendengar ucapan manajer mereka. Mereka senang karena bisa kembali mengeluarkan album, apalagi full album. Tapi mendengar jam latihan yang semakin ketat, membuat otot mereka lemas sebelum bergerak. Sepuluh jam? Ini benar-benar melelahkan.

“Hyung!” Dongho mengangkat tangannya dengan gaya hendak bertanya. “Apa kita benar-benar harus berlatih selama itu? Apa tak ada keringanan untukku yang harus bersekolah?” Pertanyaan egois yang membuatnya langsung dihadiahi jitakan dari Kiseop.

“Enak saja kau, magnae… Tidak ada keringanan, dong.”

“Aku kan hanya bertanya. Siapa tahu manajer Hyung mau berbaik hati kepadaku.” balas Dongho cuek sambil mencibir kearah Kiseop yang menatapnya sedikit kesal. “Oh, iya. Ini akan jadi full album kedua U-Kiss, kan? Juga album pertama dengan dua member baru, Jaeseop dan Hoonmin Hyung.”

“Dan album tanpa Alexander juga Kibum Hyung.” Kalimat dari Kevin sontak membuat enam member U-Kiss plus satu manajer mereka melirik kearahnya segera. Pemuda berambut pirang itu hanya mengangkat bahunya enggan karena menyadari tatapan tak suka dari member lama U-Kiss. “Kenapa? Aku hanya bergumam sendirian. Salah?”

Soohyun memutar bola matanya sambil menoleh kearah Hoon dan AJ. “Hoonmin, Jaeseop, aku dan manajer Hyung ingn bicara dengan kalian berdua.” Sang leader berdiri dan masuk ke ruangan lain disusul oleh manajer mereka.

Sebelumnya Hoon dan AJ sempat saling berpandangan, tapi akhirnya mereka berdua menyusul Soohyun. Tinggalah keempat member lainnya yang saling berpandangan dengan penasaran.

“Ada apa, ya? Rahasia sekali sepertinya…” Dongho bergumam sambil membaringkan tubuhnya di sofa.

Tak ada satupun dari ketiga Hyung-nya yang menanggapinya. Eli memilih mendengarkan musik, Kevin memilih masuk ke kamarnya dan Kiseop memilih pergi ke dapur untuk mencari makanan kecil.

xXx

“Yang benar saja!! Harusnya ini giliranmu, Eli! Sudah diingatkan jangan pulang terlambat!!” Kevin menatap Eli dengan sangat marah sambil memukulkan spatula ke pinggiran kompor gas berkali-kali. “Kau yang bertugas mencuci piring, bukan aku!”

Tentu saja Eli hanya bisa mengerutkan keningnya. “Kan sudah kubilang kalau ada yang harus kukerjakan. Sudah kuminta kau untuk menolongku sekali ini.”

“Aku juga sibuk! Kenapa kau tidak meminta tolong yang lain. Sekarang lihat, tak ada satupun yang bisa kita lakukan kalau lelah. Dan siapa yang harus membersihkan ini semua!” Kevin menunjuk dengan spatula kearah setumpukan perabotan kotor dan sisa sarapan mereka tadi pagi. “Kau harus membersihkannya!”

“Oh, ayolah, Hyungdeul! Kalian tak benar-benar harus bertengkar, kan? Aku lelah mendengarnya!” Keluh Dongho. “Dimana Soohyun Hyung disaat seperti ini? Kenapa aku ditinggal bersama dengan duo barat ini!”

“Diam kau, magnae!” bentakan serentak dari Kevin dan Eli membuat Dongho bungkam seketika.

Kedua pemuda itu kembali bertatapan kesal. “Aku bilang padamu kalau aku dan Dongho ada acara malam ini, dan kau satu-satunya member tanpa acara harusnya bisa menaati peraturan dorm dengan baik. Jam malam itu hanya sampai jam sembilan!”

“Aku terjebak macet, Tuan Kevin Woo yang sempurna! Kau pikir aku bisa apa? Menendang semua mobil dihadapanku? Menabrak semua pejalan kaki yang membuat macet? Hey, yeah! You’re so stupid!”

“Hey!! Don’t call me like that, you’re bitch!!”

“Ya, Tuhan!!! Berentilah bertengkar!!”

“Apa-apaan ini?!” Sebuah suara menginterupsi mereka bertiga. Dongho segera menoleh dan melihat empat member lainnya sudah berdiri di ambang pintu dapur dengan tatapan keheranan.

Buru-buru Dongho mendekati Soohyun. “Kevin dan Eli Hyung bertengkar dan aku tak paham karena mereka bicara dengan bahasa Inggris! Aku pusing, Hyung!” adu si magnae sambil menunjuk kearah dua Hyung-nya bergantian.

Sorot mata Soohyun kini tertuju kepada Kevin dan Eli. “Jelaskan kepadaku apa yang terjadi?”

“Eli pulang terlambat dan mengabaikan tugasnya membersihkan dorm!”

“Aku terjebak macet, Hyung. Dan ketika sampai dorm, Kevin dan Dongho sudah tiba. Aku langsung dimarahi oleh si gemulai ini!” Eli kembali menuding kearah Kevin.

“Just stop call me like that, Ellison Kim!!”

“Yeah, shut up, Kevin!”

Soohyun menghela nafas lelah mendengar pertengkaran keduanya. Segera dia berjalan dengan sangat cepat mendekati Kevin dan Eli lalu memukul kepala keduanya cukup keras bagi keduanya untuk mengaduh kencang.

“Hyung!”

“Dinginkan otak kalian. Sudah kuingatkan, kalau ada masalah bicarakanlah dengan baik-baik. Aku benci pertengkaran.” ujarnya dingin sambil menatap Kevin dan Eli dengan tatapan emosi. Hanya saja Soohyun tetap harus menahan emosinya. Bukankah dia leader?

Pemuda itu menarik sebuah kursi untuk duduk lalu kembali menatap kearah dua pemuda asal Amerika itu dingin. “Eli, bukankah sejak awal sudah kuperingatkan jangan melanggar aturan yang kubuat? Jam malam itu hanya sampai jam sembilan, dan kalau hanya kau satu-satunya yang senggang seharusnya kau bisa mengatur waktumu agar kau tidak pulang terlambat. Dan Kevin, tidakkah seharusnya kau membiarkan Eli menjelaskan alasannya sebelum marah-marah kepadanya. Aku tahu kalian lelah dan itu membuat kalian sedikit emosi. Tapi kita semua juga lelah. Kalian pikir apa yang kalian timbulkan jika bertengkar seperti anak kecil begini? Apa dengan bertengkar dan bicara kasar masalah kecil ini akan selesai?”

Tak ada satupun dari mereka yang menjawab ucapan Soohyun. Meski begitu Eli dan Kevin masih saling mengirim death glare.

“Berbaikanlah.”

“Aku tidak mau.” Kevin membanting spatula ditangannya ke lantai dan langsung berjalan meninggalkan Soohyun dan Eli, melewati Dongho, Kiseop, Hoon dan AJ begitu saja. Apa yang dilakukannya membuat semua member hanya terdiam.

“Biar aku yang bicara dengan Kevin.” Kiseop berinisiatif dan langsung menyusul Kevin.

Kini Soohyun menatap Eli datar. “Dan kau, apa yang mau kau katakan, Ellison?”

“Tidak ada.” Eli hanya menjawab dengan singkat dan berjalan meninggalkan Soohyun.

Merasakan atmosfir diruangan itu sangat buruk, Dongho menghela nafas dan menoleh kearah AJ dan Hoon. “Hyungdeul, mau istirahat atau…” Kalimatnya tidak diselesaikannya begitu saja. Dongho justru memutar bola matanya dan kembali menghela nafas.

“Akan kubuatkan makan malam untuk kalian. Kalian pasti belum makan, kan?” Hoon akhirnya masuk ke dapur dan mendekati Soohyun. “Hyung bisa istirahat sejenak. Kau pasti sangat lelah apalagi dengan pertengkaran Kevin dan Eli tadi.”

Soohyun segera mengangguk. “Iya. Panggilkan aku jika makan malam sudah siap.” Soohyun berdiri sambil mengusap rambutnya. Dia cukup frustasi. Ditatapnya Hoon sambil tersenyum tidak enak hati. “Maaf kau harus membuat makan malam untuk hari ini.”

“Tidak masalah, Hyung.” Hoon hanya tersenyum kecil.

“Baiklah, aku akan membantu Hoonmin Hyung memasak!” Dongho mendekati Hoon sambil merangkul lengannya. “Aku cukup pintar memasak.”

“Biar aku yang mencuci piring,” AJ menambahkan.

Soohyun tersenyum kecil melihat ketiga dongsaengnya yang masih bisa memahaminya. Segera Soohyun keluar dari dapur dan masuk ke dalam kamarnya. Di kuncinya pintu kamar itu rapat dan Soohyun hanya bersandar di balik pintu sambil berkali-kali menghela nafas.

Sejak Alexander dan Kibum tak ada, entah kenapa U-Kiss menjadi agak aneh. Tak banyak dari mereka yang justru jadi canggung satu sama lain dan tentu saja kenyataan itu membuat Soohyun semakin sulit mengatur mereka. Pertengkaran ini bukan yang pertama kalinya terjadi dan setiap ada pertengkaran Soohyun terkadang bingung apa yang harus dilakukannya.

Jika dia bukan leader, mungkin dia tak akan tertekan seperti ini.

“Aku tak ingin menjadi leader…”

xXx

Semenjak pertengkaran itu Kevin dan Eli tampak enggan bertegur sapa kalau bersama. Sepertinya mereka masih sama-sama kesal. Dan member lainnya harus bisa menghadapi tensi yang ada diantara keduanya. Apalagi ketika mereka tengah berlatih, tak boleh ada satupun yang bisa mengundang emosi Kevin atau Eli.

Disaat istirahat, Soohyun memilih sendirian, duduk sambil membaca jurnal hariannya. Disaat itulah Jaeseop memilih menghampirinya, duduk disisinya. AJ tahu bahwa Soohyun yang paling tertekan. AJ cukup mengenal Soohyun, bahkan sebelum dia bergabung di U-Kiss. Dan secara teknis, AJ mungkin bisa disebut senior karena sebelum bergabung di U-Kiss dia sudah lebih dulu bergabung di Paran, salah satu boy group senior di NH Media.

“Hyung, kau tampak lelah sekali.” gumamnya sambil menepuk pundak Soohyun.

“Benarkah? Sepertinya tidak terlalu.” Soohyun segera menutup jurnalnya dan menatap AJ. “Kau sendiri bagaimana? Apa sudah terbiasa dengan bergabung di U-Kiss?”

“Awalnya memang sulit, apalagi karena ada aku kalian harus kehilangan Xander dan Kibum Hyung. Tapi sekarang sudah terbiasa. Kalau di Paran aku adalah magnae, tapi disini aku memiliki banyak dongsaeng. Cukup menyenangkan juga menjadi Hyung.” Pemuda itu menampilkan senyum kucingnya ketika bercerita.

Melihat senyum AJ, entah kenapa Soohyun merasa lega. Selama ini dia berpikir AJ sedikit tertekan berada di U-Kiss apalagi kalau ada yang bertengkar, tapi ternyata tidak begitu. Senyuman AJ tidak menunjukkan kebohongan.

Perlahan Soohyun memejamkan matanya. “Aku lega mendengarnya.” bisiknya. Kembali dibuka matanya dan kini dia menatap langit-langit studio latihan mereka. “Bukan karena kau kami harus kehilangan Xander Hyung dan Kibum, Jaeseop. Ini semua sudah keputusan pihak NH. Tak ada satupun dari kita yang bisa menentangnya.”

“Termasuk keputusan kau menjadi leader?”

Sontak Soohyun terdiam mendengar pertanyaan itu. Sebelum Soohyun menanggapi ucapan AJ sebuah suara keras dari arah dongsaengnya yang lain membuat mereka berdua menoleh. Dan Soohyun langsung menghela nafas saat Eli dan Kevin kembali bertengkar.

“Hyung, sudahlah. Kalian seperti anak kecil saja!” Dongho berusaha menahan tangan Eli yang sudah sangat kesal menatap Kevin.

Kevin memandangi Eli dengan tatapan datar. “Apa? Kau mau menyangkal, Ellison? Bukankah memang hanya kau yang selalu melanggar peraturan.” Kevin mengalihkan tatapannya dari wajah Eli dan itu membuat Eli semakin kesal dengan kelakuan Kevin.

“Kupukul kau, Kev~” geramnya dan Kevin tak menanggapi.

“Sejak kapan Kevin jadi semenyebalkan ini…” Soohyun menghela nafas sambil berdiri, berjalan mendekati mereka. “Ayolah, kita sedang berlatih. Haruskah kalian berdua melanjutkan pertengkaran kalian disaat kita hampir mendekati comeback U-Kiss?”

Kevin dan Eli hanya saling berpandangan.

“Sekarang juga aku ingin kalian berbaikan!” Soohyun akhirnya memerintah.

“Aku tak mau!” Kevin mendengus kesal.

“Aku juga malas berbaikan denganmu!” Tambah Eli.

Tentu saja sangkalan itu membuat Soohyun marah. “Yak! Tidak bisakah kalian berdua menurut dan menjalankan perintahku?! Aku leader disini! Berhentilah bersikap kekanakkan dan menurutlah denganku!”

Tapi ternyata kalimat yang baru dikatakan Soohyun membuat tensi di ruangan itu agak berubah. Mereka lelah dan entah kenapa ucapan Soohyun membuat semua menatap kearah Soohyun tidak terima.

“Sejak awal aku tak mau menganggapmu sebagai leader, Hyung.” balas Eli gusar. “U-Kiss tak butuh leader! Aku tak suka ada orang ikut campur dengan apa yang kulakukan.”

Kalimat Eli membuat Soohyun mematung. U-Kiss tak butuh leader, tidakkah itu berarti U-Kiss tak butuh Soohyun?

“Hey, Eli! Jaga ucapanmu!” Kiseop langsung mendorong bahu Eli dan menatapnya marah. “Aku tahu kau emosi, tapi kau bisa bicara dengan kata-kata yang baik. Ucapanmu itu menyakiti Soohyun Hyung!”

“Hey!” Eli menatap Kiseop. “Jangan sembarangan, kau juga berpikir seperti itu kan, Kiseop? Bukan hanya aku atau kau. Aku yakin Kevin dan Dongho juga berpikiran sama. Sejak awal U-Kiss tak punya leader. Jadi kenapa Soohyun Hyung harus dipilih sebagai leader?”

Kiseop mengggit bibir bawahnya menahan emosinya. “Tapi aku masih bisa berpikir untuk tidak mangatakannya dibanding kau yang mengatakannya dengan tidak sopan! Kau seharusnya bisa berpikir lebih dewasa!”

Satu pukulan mendadak mendarat di wajah Kiseop dan sang ulzzang langsung terjatuh di lantai kayu. Tentu saja kejadian itu bagaikan obat yang membuat semua orang bereaksi. Refleks Hoon langsung menarik dan menahan lengan Eli dan Kevin dan Dongho segera bersimpuh menahan Kiseop yang sangat marah dengan Eli.

“Apa-apaan, sih?! Hentikan!! Kenapa kita jadi bertengkar seperti ini?!” Jerit Dongho yang air matanya sudah mengalir. Ini adalah pertama kalinya semua member U-Kiss mengalami pertengkaran hebat seperti ini. Dan kenyataanya, sang magnae tak bisa menerima semua ini.

Dongho menatap Soohyun yang masih berdiri. “Hyung, lakukan sesuatu! Kau leader U-Kiss, kan!”

Kalimat Dongho justru semakin membuat Soohyun tersudut.

“Lepaskan aku, Hoonmin!! Kau tak punya hak untuk menilaiku macam-macam, Lee Kiseop!” Eli berontak dari cengkraman Hoon. Namun sang bunny untungnya tetap bisa menahan pemuda gemuk itu.

Kiseop menggigit bibir bawahnya. “Dan kau pikir kau punya hak untuk menghina Soohyun Hyung? Dia Hyung kita! Kita bersama dengannya selama bertahun-tahun! Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu dengan mudah?!”

“Kiseop sudahlah!” Kevin menahan Kiseop yang hendak berdiri. Matanya sudah berkaca-kaca namun Kevin masih berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah. Sedangkan Dongho sudah memeluk Kiseop, menahannya agar tidak menyerang Eli sambil sesengukan.

Hati Soohyun benar-benar sakit. Melihat semua dongsaengnya terluka, menangis, emosi dan bertengkar seperti ini membuatnya yakin kalau dia memang tak bisa menjadi leader. Terlalu sulit menjadi leader. Soohyun benar-benar tak bisa melakukannya.

“Benarkah U-Kiss tak membutuhkan leader? Itu artinya… Kalian juga tak membutuhkanku, kan?” Pemuda itu langsung berjalan berbalik. Tanpa kata-kata apapun dia meninggalkan keenam dongsaengnya yang justru hanya memandanginya dengan tatapan tak mengerti.

xXx

Malam semakin larut dan Alexander baru saja sampai ke apartemennya. Ya, pemuda itu masih ada di Seoul untuk beberapa waktu kedepan meskipun sekarang dia bukan lagi member U-Kiss.

Dia berjalan sambil bersenandung kecil keluar dari parkiran mobil. Namun sebelum dia masuk ke lobi apartemennya, ponselnya berdering. Alexander menatap nama yang terpampang di layar ponselnya dan alisnya tertaut. Nama yang sudah hampir tiga bulan ini tak lagi ditemuinya.

“Hello, Soohyun?” Alexander mengangkat telepon itu.

Namun sontak raut wajahnya cemas saat menyadari suara Soohyun agak parau disana. “Hey, hey, why? Sesuatu terjadi? Apa kau menangis?”

“Hyung, bisa kita bicara sebentar?” jawab Soohyun.

Alexander mengangguk meski dia tahu Soohyun tak akan melihatnya. “Tentu. Dimana kau sekarang?”

“Di depan apartemenmu.”

.

.

Kini ruang latihan U-Kiss sunyi senyap. Yang masih terdengar adalah isakan Dongho yang sejak tadi meringkuk di pinggir sofa, menekuk kedua lututnya dan memeluknya. Kevin duduk disampingnya sambil memegangi ponselnya, berusaha menghubungi Soohyun tapi selalu ditolak. Soohyun tak mau menerima panggilan teleponnya.

Eli memilih duduk di pojok ruangan sambil bersandar di kaca. Tampak murung dan sepertinya merenungkan apa yang tadi terjadi. Kiseop memilih berdiri agak jauh dari mereka, dia hanya berdiri di dekat pintu sambil berbicara dengan Hoon yang sepertinya nampak menenangkannya dan mengobati pipinya yang agak lebam.

“Apa Soohyun Hyung sudah bisa dihubungi?” AJ masuk ke dalam ruangan itu sambil memegangi ponselnya. “Aku sudah menghubungi manajer Hyung dan katanya Soohyun Hyung tak menjawab teleponnya.” lanjutnya sambil memandangi kelima member lainnya bergantian.

Kevin menggeleng sambil menekuk kakinya dan menunduk. “Aku minta maaf.” bisiknya penuh penyesalan. “Ini salahku.”

“Iya. Ini salahmu, Hyung. Ini salah kalian. Jika saja kalian tidak bertengkar satu sama lain dan menyakiti Soohyun Hyung, dia tak mungkin pergi.” Dongho menambahkan sambil kembali terisak. “Sekarang kita tak tahu dimana Soohyun Hyung. Kita harus bagaimana?”

Melihat Dongho, Kevin semakin merasa bersalah. AJ buru-buru bersimpuh dihadapan Dongho dan memeluknya erat.

“Sudahlah, magnae… Kalau kau terus menyalahkan justru akan semakin memperkeruh suasana.” bisik AJ.

“Tidak. Dongho benar.” Kali ini Kiseop yang bicara. Sorot matanya tampak penuh dengan penyesalan. “Kita semua sudah keterlaluan terhadap Soohyun Hyung. Dia leader, tapi kita tak pernah menganggapnya sebagai leader U-Kiss dan bertindak sesukanya.” Perlahan dia melirik kearah Eli yang sama sekali tidak bicara. “Aku minta maaf, Eli.”

Hoon hanya menghela nafas sambil menepuk punggung Kiseop perlahan. “Bukan kepada Eli atau siapapun kalian harus meminta maaf. Seharusnya permintaan maaf itu untuk Soohyun Hyung. Kita harus mencarinya.”

“Kau benar.” Kevin orang pertama yang berdiri. Segera dirapihkan kemeja hitam dan celana panjangnya sambil menatap semua member disana dan tatapannya terakhir tertuju kepada Eli. “Kita harus menemukan Soohyun Hyung. Setelah itu kita selesaikan masalah kita, Ellison.”

Belum sempat Eli menjawab ucapan Kevin, ponselnya bergetar. Segera diraihnya ponsel di saku celana pendeknya dan dia melihat satu pesan disana. Kedua matanya membulat kaget saat membaca pesan yang dia dapatkan.

Segera Eli berlari meninggalkan teman-temannya.

“Hey!”

“Aku tahu dimana Soohyun Hyung.”

xXx

Alexander meletakkan segelas air dingin di hadapan Soohyun yang hanya duduk bersandar di sofa sambil menengadah dan memejamkan matanya. Sejak tadi, mungkin sudah sepuluh menit, Soohyun hanya seperti itu dan tidak bicara sama sekali. Alexander pun dengan sabarnya menunggu dongsaengnya bicara tanpa bertanya apapun.

Sejak mereka berpisah, ini pertama kalinya Soohyun menemuinya.

Sampai akhirnya Soohyun mengangkat wajahnya dan menunduk sambil menumpukan lengannya di kedua lututnya. “Apa sebaiknya aku keluar saja dari U-Kiss?” tanyanya dengan suara sangat pelan.

Alexander harus sedikit mendekatinya agar bisa mendengar ucapan Soohyun. “Apa katamu? Keluar?”

Sebuah anggukan menjadi jawaban Soohyun dan Alexander menautkan alisnya heran. “Tunggu, apa alasannya? Apa kau ada masalah dengan perusahaan sampai ingin keluar? Sesuatu yang buruk terjadi?”

Soohyun kini menatap Alexander datar. “Aku tak punya masalah dengan perusahaan, tapi dongsaeng-dongsaeng itulah yang menjadi masalahku, Hyung. Aku tak tahu harus bertopang kepada siapa, karena itu aku menghubungimu.” gumamnya sambil kembali menunduk dan menghela nafas. “Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa…” bisiknya parau.

Melihat Soohyun yang biasanya ceria, tentu saja Alexander menjadi iba. Ditepuknya pundak sang dongsaeng lembut sambil mengusap rambut Soohyun beberapa kali. “Sepertinya ini pertama kalinya kau frustasi karena dongsaeng-dongsaengmu, Soohyun.” godanya sambil terkekeh pelan.

“Aku tak pantas jadi leader U-Kiss, Hyung. Aku tak bisa mengatur mereka dan aku sama sekali tak bisa diandalkan. Jabatan leader hanya membuatku semakin tertekan dan frustasi. Aku ingin melepas jabatan itu dan sedikit saja merasa bebas. Ini semua terlalu membuatku frustasi.” erangnya sambil mengepalkan kedua telapak tangannya agar emosinya bisa tertahan.

Alexander hanya terdiam memandangi Soohyun. Dia tahu apa yang dirasakan Soohyun. Pastilah sulit menjadi leader. Mungkin kalau melihat seorang Kim Leeteuk, Jung Yunho, atau para leader lainnya, menjadi seorang leader tampak mudah dan menyenangkan. Tapi tidak pada kenyataannya. Ketika kau menjadi leader maka semua tanggung jawab akan jatuh dipundakmu. Tak ada alasan untuk mengeluh ataupun menyerah karena apa yang terjadi selanjutnya merupakan tanggung jawabmu. Dan Soohyun masih belum mampu menerima keputusan itu.

Atau mungkin masih belum bisa menjalankan tugasnya semaksimal mungkin…

“Hey.” Alexander kembali menepuk pundak Soohyun beberapa kali. “Kukira kau menikmati jabatan itu. Ayolah, kau kan bisa memarahi mereka dengan wewenang sebagai leader. Kenapa kau justru tertekan karena ulah anak-anak itu?” tawanya sambil menegak kaleng minuman yang tadi sudah disiapkannya.

Tentu saja ucapan Alexander membuat Soohyun agak kesal. “Hyung! Leader tidak bisa menyalahgunakan jabatannya hanya untuk memarahi mereka.”

“Tapi nyatanya itu yang harus kau lakukan. Kau pemimpin dan bagaimanapun caranya mereka yang kau pimpin harus bisa mematuhi aturan-aturanmu. Kau harus bersikap tegas, Bodoh. Bukankah sebelum menjadi leader resmi kau juga sudah sangat berpengalaman dalam memimpin sesuatu? Kau kan juru bicara U-Kiss yang selalu mengoceh apapun kalau sedang ada di acara reality show atau wawancara.” Alexander tersenyum lembut sambil menepuk kepala Soohyun. “Perusahaan menunjukmu sebagai leader bukan karena kau yang paling tua. Mereka pasti sudah mempertimbangkan banyak hal. Dan mereka tahu kau pantas menjadi leader. Mereka tahu kau bisa diandalkan untuk mengurus semua dongsaengmu ketika aku atau Kibum, salah satu member yang cukup dewasa tidak ada disana.”

Penjelasan panjang Alexander membuat Soohyun tenggelam dalam pemikirannya.

“Kau masih baru memulai tapi sudah mau berhenti? Konyol sekali…” Alexander berikutnya mengacak rambut Soohyun sambil tertawa. “Ayolah! Kemana Soohyun yang kekanakkan yang selalu ceria yang dulu ku kenal?”

Namun Soohyun tidak tertawa seperti Alexander. Dia masih termenung. “Bicara memang mudah, tapi nyatanya aku tetap sulit mengatur mereka.”

“Apa kau sudah bicara dengan mereka?”

“Bicara?” Soohyun memandangi Alexander.

Alexander mengangguk. “Kau harus bicara dengan mereka tentang semua hal yang harus mereka taati dan mereka lakukan. Pastikan mereka paham dan tak satupun dari mereka yang menyepelekan peraturanmu. Jangan hanya karena kau leader, kau jadi berubah kaku. Santai saja, itu akan membantumu juga yang lainnya untuk menjadi rileks. Awalnya U-Kiss memang tak punya leader, perubahan seperti ini pasti membuat mereka kebingungan juga. Apalagi ada dua anggota baru.”

“Tapi… Aku tetap ragu. Apa aku pantas menjadi leader yang baik. Apa aku bisa menjadi leader yang bisa diandalkan…”

“Kenapa tidak? Kau kan Shin Soohyun.” Alexander merangkul pundak Soohyun. “Dan Shin Soohyun yang kutahu, pasti bisa menjadi leader yang baik. Bisa menjadi leader yang bisa diandalkan.”

Kalimat terakhir Alexander sepertinya mampu membuat beban di hati Soohyun agak berkurang. Ditatapnya sang Hyung yang mengulas senyum manis untuknya. Dan perlahan Soohyun ikut tersemyum menatap Alexander.

“Hyung… Kau benar-benar baik. Terima kasih.”

“Kalau kau butuh teman untuk bicara, kau bisa mencariku. Meski kita tidak satu grup lagi, aku tetap Hyung-mu. Kau tidak pernah sendirian, Soohyun.”

“Iya, Hyung. Terima kasih.” Soohyun mengambil gelas yang tadi diletakkan Alexander untuknya dan menegak habis air di dalamnya. Untuk sesaat beban berat di pundaknya sedikit terangkat karena bantuan Alexander.

xXx

“Hyung!!”

Kedua bola mata Soohyun terbuka lebar saat ia melihat keenam dongsaengnya sudah berdiri di depan apartemen Alexander. Kevin orang pertama yang langsung berlari menghampirinya dan memeluknya erat.

“Hyung, maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf karena sudah bersikap kekanak-kanakkan beberapa hari ini. Sungguh, Hyung… Aku tak ingin kau pergi.” ujarnya dengan suara parau dan nyaris menangis.

Namun Soohyun masih belum bisa merespon kejadian dihadapannya. Diliriknya Eli dan Kiseop yang sama-sama mendekatinya dengan wajah tertunduk.

“Aku juga minta maaf sudah menyakitimu dengan kata-kataku, Hyung.” gumam Eli. “Sungguh itu semua bukan hal yang benar-benar ada dalam hatiku. Aku sangat membutuhkanmu.”

“Dan aku minta maaf karena ikut membuat keributan. Sebagai member kedua yang paling tua seharusnya aku bisa ikut membantumu. Sungguh maafkan aku, Hyung.” tambah Kiseop akhirnya.

Dan barulah Soohyun bisa menyadari apa yang ada dihadapannya. Kevin sudah melepaskan pelukannya dan menatap Soohyun dalam-dalam. Kini sang leader sudah mengatupkan mulutnya sambil menahan isakan yang nyaris keluar dari mulutnya. Pertahanan Soohyun runtuh, air matanya mengalir.

“Hyung… Kenapa kau menangis? Apa kau sangat marah pada kami?” Dongho dengan hati-hati mendekatinya.

Segera Soohyun menggeleng sambil menunduk. “A-aku tidak apa-apa.” bisiknya sambil terisak.

“Kau tak akan meninggalkan kami kan, Hyung?” Kali ini Hoon yang bertanya.

Dan kembali Soohyun menggeleng sambil menatap semua dongsaengnya. “Tidak akan. Aku tak akan meninggalkan kalian. Aku kan leader kalian. Leader U-Kiss.” jawabnya jelas sambil mencoba mengulas sebuah senyum untuk meyakinkan mereka.

“Hyung!” Dongho dan Kevin kembali memeluk Soohyun.

Sedangkan kini AJ sudah merangkul pundak Soohyun. “Lain kali kalau ada yang ingin kau bicarakan, jangan pendam itu sendirian. Jika kau merasa beban sebagai leader sangat berat, kau bisa membaginya dengan kami semua. Itu adalah fungsi sebuah teman, kan? Fungsi sebuah keluarga. Dan U-Kiss, kami semua, adalah teman juga keluargamu, Hyung. Jadi bagilah beban itu kepada kami juga.”

Diusapnya kepala AJ dengan satu tangannya yang bebas dan Soohyun hanya tersenyum. “Aku akan sangat membutuhkan kerja sama dari kalian semua. Mohon kerja samanya.”

“Iya. Kami juga akan membantumu!” Dongho segera berseru sambil memeluk Soohyun semakin erat.

Alexander benar, Soohyun tak pernah sendirian. Memang awalnya sulit ketika kau menerima beban yang berat sendirian di pundakmu, tapi kau tak selalu sendirian. Tengoklah, kau masih memiliki sahabat dan keluarga yang akan membantumu menopang beban itu. Semua akan baik-baik saja asalkan kau tidak menyerah dengan mudah.

Soohyun kini percaya pada dirinya. Percaya bahwa U-Kiss membutuhkan leader sepertinya. Dia tak akan lagi menyerah.

.

.

End~

One thought on “The Leader (UKISS Soohyun)

  1. HUWEEEEE sedih banget pasti Soo, belum lagi ditambah capeknya jadi leader baru T~~T
    seru ceritanya, jadi kebayang aslinya Soo waktu baru diangkat jadi leader sempet gitu juga gak ya? xD
    ditunggu fanfic ukiss yang lainnyaaaa :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s