Take Care // KyuMin

 Take Care

Pairing :: KyuMin

Genre :: Hurt

 

Aku tak punya hati untuk dicintai.

Aku tak punya seseorang untuk dimiliki.

Ya, aku adalah iblis. Manusia yang seperti iblis. Iblis yang seperti manusia. Aku selalu sendirian. Aku tak butuh apapun untuk hidupku.

Tapi ternyata aku salah.

Setelah kau menyelamatkanku, aku membutuhkanmu. Aku ingin mencintai hatimu.

.

.

“Kau ada disini lagi?

Aku menoleh kearah pemuda tinggi dengan senyum lembut yang sudah menengadah ke atas pohon untuk melihatku yang sedang duduk di dahan salah satu pohon tinggi di pinggir jalan, di samping universitas Kyunghee.

“Turunlah. Aku membawakanmu makanan.”

Aku tak membutuhkan belas kasihan dari orang lain. Tapi nyatanya hanya dia satu-satunya manusia yang selalu ada untukku semenjak aku dibuang ke dunia ini.

Seperti yang kukatakan, aku adalah iblis. Tapi sekarang sudah tidak lagi. Sekarang aku adalah manusia, manusia yang memiliki kemampuan seorang iblis. Tepatnya aku menjadi manusia saat dewa kegelapan membuangku ke dunia manusia dan membuatku hidup sebagai manusia.

Kini kualihkan pandanganku kearah langit kelabu yang ada di atas sana. Kepulan awan mendung bergulung menjadi satu tepat diatas kami. Tak butuh waktu lama karena suara gemuruh mulai terdengar dan aku berani yakin kalau hujan akan segera turun.

“Turunlah. Hujan akan segera turun.” Dia kembali bicara dan aku kembali menatap kearahnya. Kearah bola mata kecoklatannya yang jernih dan tampak tulus ketika dia menatap kearahku.

Aku masih setia di tempatku. Menimang apakah aku harus turun atau tetap duduk disini seperti biasanya. Hampir sepuluh menit berlalu aku tak kunjung menjawab dan akhirnya rintik hujan perlahan turun.

Pemuda di bawahku langsung memakai tudungan hoodie putih yang dikenakannya. Dia menunduk sambil meletakkan kotak bekal berwarna hitam yang tertutup rapat tepat di bawah pohonku dan dia kembali berdiri sambil menatapku. Tersenyum.

“Aku letakkan disini. Makanlah jika kau lapar. Sampa jumpa, Kyuhyun.” Dia segera berlari meninggalkanku.

Lee Sungmin, manusia yang menolongku saat aku dibuang ke dunia ini sebagai seorang manusia. Dia tahu kalau aku adalah iblis terbuang, tapi dia tak merasa takut sama sekali bahkan selalu membantuku dengan membawakanku makanan setiap hari. Bahkan dia juga yang memberikan nama Kyuhyun untukku.

Hujan turun semakin deras bahkan kini aku bisa merasakan tetesan air mengalir melalui celah dedaunan rimbun yang sejak tadi melindungiku dari sinar matahari. Tetesan itu mengalir membasahi wajahku dan segera aku meloncat turun dari tempatku duduk. Kutatap kotak bekal yang kini berada tepat di samping kakiku.

Aku duduk sambil bersandar di batang pohon besar itu, mengambil kotak bekal yang diberikan Sungmin untukku dan membukanya. Tak ada banyak makanan, hanya ada udang goreng dan beberapa kepal nasi yang dibalut rumput laut.

Pertama aku mengambil udang goreng yang ada disana dan mulai memakannya. Seperti biasa, masakan yang dia berikan untukku sangat enak. Namun sebelum aku menikmati udang lainnya, aku tersentak saat kurasakan sesuatu sudah menutupiku dari hujan.

“Akhirnya kau turun, Kyu.”

Aku menoleh dan menatap Sungmin sudah berdiri disampingku sambil memegang sebuah payung. Dia tersenyum lembut seperti pertama kami bertemu dulu. Dan aku sangat menyukai senyumannya itu.

0o0o0o0o0

Semua ini berawal dari setahun yang lalu. Aku melakukan kesalahan di dunia kegelapan yang membuat dewa murka dan akhirnya membuangku ke bumi. Karena sebuah kesalahan, aku membunuh seorang malaikat yang seharusnya bekerja sama dengan iblis untuk menyeimbangkan dunia. Ya, kalian tahu pasti kalau malaikat dan iblis memiliki tugas yang bertolak belakang. Tapi meski begitu kami sama-sama menjaga keseimbangan dunia manusia.

Dewa kegelapan akhirnya mengambil jiwa iblisku dan hanya menyiskan sedikit kekuatan iblis untukku bertahan di dunia dan membuangku. Tentu saja itu adalah pertama kalinya iblis sepertiku turun ke dunia. Aku masih ingat raut wajah malaikat Cloud yang diutus untuk mengantarku ke dunia ini.

“Sparkyu…” Dia memanggil namaku dengan wajah penuh perasaan bersalah. “Aku tak pernah menyalahkanmu karena tak sengaja membunuh Snow. Tapi Dewa tak akan memperdulikan alasanmu.” lanjutnya dengan wajah tertunduk.

“Aku tak apa-apa.” jawabku, berbohong. Aku sesungguhnya sangat takut. Aku tak pernah tahu seperti apa dunia manusia itu. Dan berada di dunia yang terlalu asing bagiku tentu membuatku sangat ketakutan. Tapi tak mungkin mengatakannya kepada Cloud.

Cloud menatapku datar. Aku yakin dia bisa menebak apa yang ada dipikiranku. “Kau tahu kalau Aiden dan Jewel berusaha membantumu, kan. Bersabarlah. Aku juga akan berusaha meluruskan masalah ini agar Dewa menarik hukumannya. Sebagai sahabat Snow, dia pasti akan merasa bersalah karena membuatmu menanggung semuanya.”

“Sudah kukatakan aku tak apa-apa. Aku tak mau Aiden dan Jewel ikut terlibat dan membuat Dewa semakin marah. Aku bersalah dan pantas dibuang. Lebih baik kau segera pulang ke dunia langit sebelum Dewa Langit juga menghukummu, Cloud.”

Butuh beberapa menit bagi malaikat itu untuk menjawabku.

“Jaga dirimu, Sparkyu.” Masih dengan tatapan mata penuh penyesalan, akhirnya dia mengangguk dan mengembangkan sayap putih nan megahnya. Cloud langsung terbang meninggalkanku menuju langit malam.

Baru beberapa menit berada di dunia ini, aku mulai merindukan sepasang sayap iblisku.

Sekarang, kemana aku? Tak ada tempat tujuan dan aku tak tahu apa yang bisa kulakukan kalau sendirian. Selama ini aku selalu bersama Aiden dan Jewel.

Tanpa tujuan kulangkahkan kakiku kearah sebuah taman yang sangat sepi malam itu. Ini awal musim dingin, dan kurasa tak ada orang bodoh yang mau datang ke taman di cuaca sedingin ini. Selimut tipis salju menutupi jalan di taman dan permainan yang ada disana. Salju yang putih mengngatkanku kepada Snow.

Sungguh aku tak membunuhnya. Mungkin secara harfiah aku memang membunuh malaikat itu, tapi aku melakukannya atas keinginan Snow. Snow adalah satu-satunya malaikat yang dekat denganku, dia mengatakan padaku kalau dia jatuh cinta pada manusia yang dilihatnya ketika turun ke dunia manusia tapi manusia itu meninggal. Sungguh aku tak tahu apa yang harus kulakukan ketika dia mengatakan hal itu.

Snow sangat ingin bersama gadis yang dicintainya apapun caranya. Akhirnya dia mencuri ramuan reinkarnasi dari istana langit dan datang kepadaku. Dihadapanku dia meminumnya dan menyuruhku untuk membunuhnya agar dia bisa berinkarnasi dan kembali bertemu cintanya di suatu tempat nanti. Ya, kenapa dia minta tolong padaku karena malaikat hanya bisa dibunuh oleh iblis, begitupun sebaliknya. Dia memohon sambil menangis dan bersujud kepadaku, apa yang bisa kulakukan? Menolak. Mana mungkin.

Akhirnya kukabulkan permintaan Snow. Aku membunuhnya. Dan akhirnya Dewa Kegelapan dan Dewa Langit mengetahuinya dan aku dihukum. Ini sangat tragis.

Suara gemerisik semak belukar membuatku yang tadi berdiri di taman agak terkejut. Tak mungkin ada orang disini.

Tapi kembali aku salah. Aku melihat sekelebat bayangan berlari kearahku dengan sangat cepat. Tapi tentu saja aku bisa menghindarinya. Pria paruh baya dengan menggunakan masker itu menghunuskan pisau lipat kearahku. Perampok.

‘JLEB’

Detik berikutnya aku terkejut karena sesuatu sudah menancap tepat di pinggang belakangku. Aku menoleh dan melihat pria masker lainnya sudah ada di hadapanku. Dengan mudahnya aku jatuh karena rasa sakit yang mulai menjalari seluruh tubuhku. Aku bukan iblis lagi sekarang, tentu aku bisa mati dengan mudah.

Sesuatu yang lengket mulai membasahi punggungku ketika kulihat kedua pria itu menggeledah mantel hitam yang kugunakan. Salju putih dibawahku mulai ternoda dengan warna darahku. Merasa tak mendapatkan apapun, kedua pria itu langsung berlari meninggalkanku.

“Aggh~” Aku bergelinjang kesakitan sambil meraba pinggangku yang masih ditancap pisau. Dengan cepat aku mencabutnya. “Arrgh!!!” jeritku frustasi dan kurasakan darahku mengalir semakin deras.

Dewa… Aku masih belum ingin mati…

Pandanganku semakin kabur sampai akhirnya aku melihat kearah seseorang yang berlari kearahku dengan wajah panik. Manusia.

“Ya, Tuhan! Kau baik-baik saja? Kau bisa mendengarku?!” Suaranya panik.

Manusia kotor. Berani sekali kaum kalian menyerang iblis sepertiku.

“Per…gi…” bisikku sambil berusaha bangun namun aku kembali terjatuh dan bagian lenganku sudah sangat lengket karena darah. Dia berusaha menolongku tapi aku langsung mendorongnya hingga dia terjatuh.

Kutatap dia tajam dan bisa kurasakan sisa tenaga iblisku kembali meluap dan membuat aura hitam muncul dari tubuhku. Membuat pemuda itu mengatupkan mulutnya dan gemetar. Da takut. Ya, dia seharusnya takut.

“Ka-kau…”

“Per…gi…” Dengan sekuat tenaga aku bangun dan berdiri. Sekuat tenaga kuabaikan rasa sakit di punggung juga darahku yang semakin lama semakin habis. Kulangkahkan kakiku dan menyeretnya menjauh dari pemuda itu.

‘BRUKK’

Tubuhku kembali terjatuh dan aku terbaring tak berdaya di atas hamparan salju. Aku akan mati…

Tapi tiba-tiba pemuda itu menghampiriku. Dia bersimpuh dan mengatakan sesuatu yang tak bisa kudengar karena kesadaranku semakin menghilang. Dan akhirnya kegelapan menguasaiku.

Ketika terbangun, aku sudah berada di suatu tempat yang tak kuketahui. Mereka menyebut itu… Rumah sakit. Aku selamat.

0o0o0o0o0

“Sudah setahun tapi kau masih tak mau bicara padaku, Kyuhyun.” Sungmin bergumam ketika kami sama-sama duduk di kursi taman yang berada di universitas Kyunghee. Masih cukup pagi dan wilayah universitas itu masih belum terlalu dipenuhi dengan para pelajar.

Aku tak menjawabnya, seperti biasa.

Sungmin menepuk kepalaku. “Sudah kubilang kau bisa tinggal ditempatku jika kau mau. Kau tak perlu berkeliaran di luar setiap hari. Bagaimana? Tidakkah kau seharusnya sudah percaya pada kebaikanku?” Dia tertawa sendirian sambil menepuk-nepuk kepalaku selayaknya seorang kakak.

Aku hanya bisa memandangi wajahnya yang kelihatan sangat manis dimataku. Aku tak pernah tahu sejak kapan aku mulai merasakan perasaan yang aku sendiri tak tahu apa ini. Tapi setiap kali aku menatap wajah dan mata itu, sesuatu yang hangat mengalir diseluruh tubuhku. Perasaan nyaman setiap dia menepuk atau tersenyum kearahku. Itulah alasan aku selalu duduk di pohon di depan universitasnya dan setiap pulang kuliah dia pasti menemuiku.

“Bagaimana kalau kita jalan-jalan?”

Kembali aku tak menjawab dan hanya memandangi wajahnya dari sudut mataku. Seperti biasa, Sungmin tak mengeluh karena aku tak menjawabnya, dia sudah terbiasa dengan aku yang memang tak pernah bicara kepadanya.

Sungmin akhirnya berdiri dan menarik tanganku agar ikut berdiri. “Diam artinya setuju. Kalau begitu ayo pergi denganku.” Dia langsung menyeret tanganku begitu saja.

Bukankah seharusnya dia belajar?

Entah kenapa, seakan bisa menebak pikiranku, Sungmin menoleh kearahku. “Aku akan membolos satu hari ini. Bagaimana?” tawa kecilnya terdengar dan entah kenapa aku ikut tersenyum tipis menatapnya.

Dia satu-satunya manusia yang kukenal dan satu-satunya manusia yang tidak mengabaikan eksistansiku di dunia ini.

0o0o0o0o0o0

Hari demi hari berlalu, tak ada satu haripun yang terlewat tanpa sosok Lee Sungmin dalam hidupku. Aku mencintainya. Tak pernah kubayangkan bahwa aku akan mengalami cinta terlarang yang sama seperti Snow. Tapi aku tak berniat berakhir seperti Snow.

“Sparkyu~ Dewa memanggilmu.”

Satu ucapan dari Cloud pada suatu hari membuatku menatapnya tak percaya. Sudah setahun lebih aku berada luntang-lantung di bumi dan akhirnya dewa memanggilku kembali ke langit.

“Untuk apa?”

Cloud hanya mengangkat bahunya. “Mungkin sudah saatnya kau diberikan hukuman atas kesalahanmu, atau mungkin dewa sudah memaafkanmu. Apapun itu, kau tahu dewa tak suka menunggu. Kau harus kembali.”

Setelah memberitahukan berita itu, Cloud pergi meninggalkanku. Malaikat itu enggan berlama-lama bicara denganku, sepertinya. Dan seperti yang dia katakan, aku tak boleh mengulur waktu untuk bertemu dengan dewa. Mungkin sudah saatnya hukumanku dicabut kembali.

Tapi bagaimana dengan Sungmin? Dengan perasaanku terhadapnya? Haruskah kunyatakan cintaku?

Tidak!

Aku tak memiliki keberanian untuk menyatakannya. Setidaknya untuk sekarang. Aku tak mungkin menyatakannya.

“Kyu!”

Aku menoleh menatap pemuda yang segera menghampiriku.

“Aku melihatmu bicara dengan seseorang lalu orang itu menghilang. Apa kau ditodong penjahat lagi?” Mata kelincinya tampak sangat khawatir.

Aku menggeleng. Haruskah aku katakan kalau aku akan pergi?

“Humm~” Sungmin kembali bicara. “Hari ini apa kau mau menemaniku bermain? Aku benar-benar kesepian, nih.”

Aku harus menemui dewa.

“Kyu_”

“Sungmin.” Sebelum dia bicara, aku hanya memotong ucapannya cepat. Sungmin menatap kepadaku dengan tatapan sangat kaget, bisa dibilang ini pertama kalinya aku memanggil namanya secara langsung. Wajar kalau dia terkejut.

“Aku akan pergi.” lanjutku.

Entah kenapa kalimat itu membuat Sungmin tampak berhenti bernafas. Dia menatapku tak percaya. “Per-pergi? Kemana?”

Aku tak menjawabnya.

“Berapa lama?”

Kembali aku tak menjawabnya.

“Apa kita akan bertemu lagi?”

Aku masih tetap diam.

Hatiku terlalu keras. Hatiku terlalu egois. Disaat seperti ini harusnya aku menjawab pertanyaannya. Tapi entah kenapa aku tak memiliki keberanian untuk menjawabnya. Aku takut mengikat janji yang takutnya tak mampu kutepati kelak.

“Kyuhyun~” Perlahan Sungmin meraih tanganku dan menggenggamnya erat. “Kau akan kembali menemuiku, kan?”

Kenapa dia berharap seperti itu?

“Aku akan menunggumu.”

Dia akan menungguku? Benarkah?

Perlahan akhirnya kulepaskan tangan Sungmin dari tanganku dan berjalan meninggalkannya. Sejak awal aku tak berniat mengikat janji apapun atau menerima janji apapun. Tapi entah kenapa Sungmin membuatku ingin mempercayainya.

Aku ingin kembali kepadanya dan mengatakan bahwa aku mencintainya.

0o0o0o0o0o0

Dewa tak menghapus hukumanku, namun dewa memintaku memilih. Apakah aku ingin menjadi manusia dan selamanya hidup di dunia manusia atau menjadi iblis yang tetap dibuang ke dunia manusia?

Hey, kau kira apa yang akan kupilih?

Kalau aku yang dulu, pastilah memilih menjadi iblis saja. Tapi aku yang sekarang berbeda, aku ingin menjadi manusia dan hidup bersama dengan Sungmin. Aku menginginkannya.

“Aku ingin menjadi manusia.” Akhirnya jawaban itu meluncur begitu saja dariku.

Dewa pun merubahku menjadi manusia. Hanya saja itu membutuhkan waktu yang sangat lama. Aku tak pernah memperdulikannya. Satu hal yang sekarang kupercayai, disana, di suatu tempat di dunia sana, Sungmin menungguku.

Ya, aku ingin dia menungguku. Aku memang tak pernah mengatakan bahwa aku akan kembali, tapi aku ingin dia menungguku.

Butuh waktu lima tahun bagiku untuk menjadi manusia sempurna. Sangat lama dari perkiraanku. Dan hari itu, kuputuskan untuk kembali ke dunia manusia. Mencari Sungmin dan mengatakan bahwa aku mencintainya.

Lima tahun berlalu tak sedikitpun menghapus cintaku terhadapnya.

Tetapi…

“Sungmin~” Aku berdiri menatap seorang pemuda dewasa dengan kemeja santainya tengah menuntun seorang anak kecil yang terlihat masih berusia tiga tahun.

Sungmin menatapku shock. Dia masih mengenaliku. Itulah yang aku tangkap dari sorot matanya.

“Kyu…?”

Aku melirik perempuan di dekatnya kini menatapku penasaran. Dia… Sangat mirip dengan Sungmin. Bola mata dan senyum manisnya.

“Kyu, kau kembali?” Kalimat itu terdengar sebagai sebuah sangkalan dibanding pertanyaan.

“Aku tak pernah mengatakan kalau aku tak akan kembali.” jawabku dingin.

“Tapi kau tak pernah mengatakan kalau kau akan kembali!” Kalimat itu membuatku tersentak.

Si gadis kecil kini menarik tangan Sungmin. “Appa, siapa?” tanyanya setengah terbata.

Appa…? Itu… Anaknya?

Sungmin menatapku, tak menghiraukan pertanyaan putrinya. “Kyu…”

Jadi dia sudah menikah?

Detik itu juga aku berpaling, namun langkahku terhenti ketika mendengar seruannya. Hatiku sakit mendengar suaranya.

“Jangan salahkan aku!” serunya.

Aku menoleh kearahnya, tapi enggan membalas ucapannya.

“Dulu, lima tahun yang lalu ketika bertemu denganmu, sejujurnya aku menaruh perasaan terhadapmu.”

Itu tak mungkin…

“Tapi kau tidak bisa kutebak. Berkali-kali aku berusaha dekat agar bisa mengenalmu, kau tak pernah membiarkanku masuk ke duniamu. Kau tak pernah membiarkanku mengenalmu.” Suara Sungmin terdengar tenang, mungkin dia takut putrinya merasa ketakutan. “Dan akhirnya kau mengatakan akan pergi.”

“Dan kau bilang akan menungguku.” balasku dingin.

“Tapi kau tak pernah mengatakan kepadaku agar kembali, kan?” Sungmin terdengar terkekeh getir. “Setiap hari aku terus menunggumu, Kyu. Aku terus menantimu kembali agar aku bisa mengatakan perasaanmu, tapi kau tak pernah kembali. Tak ada satupun hal yang membuatku percaya kau akan kembali. Dan akhirnya aku lelah. Apa salah kalau aku merasa lelah menunggu orang yang tak pernah mengatakan kepadaku bahwa dia akan kembali?”

Hatiku terkoyak mendengar ucapan Sungmin. Kukepalkan tanganku erat, menahan emosiku.

“Aku bertemu dengan Sunkyu, gadis yang akhirnya membuatku merasa kembali dihargai. Dia mencintaiku dan akhirnya aku bisa mencintainya. Akhirnya kami menikah dan inilah putri kami, Saehee.”

Aku kembali melirik kebelakang dan melihat Sungmin merapatkan gadis kecil itu kesisinya.

“Maafkan aku, Kyu.”

Tak ada lagi ucapan dari Sungmin. Akhirnya aku berjalan meninggalkannya. Aku tak berani menoleh kebelakang. Aku takut hatiku goyah ketika menatap wajahnya.

Aku tahu aku yang salah. Aku tak pernah menyalahkan kalau Sungmin tidak menungguku. Tapi rasa sakit ini nyata. Hatiku terluka.

Dewa… Apa ini juga salah satu hukuman untukku?

Setelah beberapa langkah, aku memutuskan berhenti untuk menoleh. Disana, kulihat Sungmin menuntun putrinya berjalan semakin jauh dariku.

Dulu, ketika melihat punggung itu semakin menjauh dariku, aku tahu besok dia akan kembali kepadaku. Tapi sekarang…

Dia tak akan pernah kembali kepadaku.

Hanya satu yang kuinginkan…

Jagalah dirimu. Aku mencintaimu. Dan cukup untukku ketika tahu kau juga pernah mencintaiku.

4 thoughts on “Take Care // KyuMin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s