Our World // Part 4 (LAST)

Our World

Brothership About Kyuhyun Ryeowook Leeteuk and Henry

by ThenaKim

 

Part 4~

 

Ryeowook’s P.O.V

 

“Sejak awal aku  sudah sengaja mengatakan kalau Henry takut ketinggian. Aku tahu kalau kalian mendengarnya, kalian pasti akan membuat pertaruhan yang melibatkan kelemahan anak itu. Aku tahu kalau Henry pasti akan muntah. Aku sudah menebaknya.”

“Kalau kau sudah menebaknya, kenapa kau masih membiarkan adikmu menerimanya?”

“Henry sangat ingin akrab dengan kalian berdua. Melihat Kyuhyun mengabaikannya membuatku sedikit kasihan. Karena itu aku merencanakan semua. Termasuk Kyuhyun yang duduk disamping Henry ketika naik roller coaster, Henry yang muntah, mereka berdua yang sama-sama ke kamar mandi dan akhirnya Kyuhyun kembali bicara dengannya. Semua sesuai perkiraanku.”

“Kau… Hebat sekali.”

.

.

Kejadian malam itu di Lotte Park tak akan bisa kulupakan. Bukan karena itu pertama kalinya aku dan Kyuhyun bisa dipermainkan oleh orang lain, tapi itu karena ada seseorang yang sangat sangat sa-ngat ingin mendekati kami bahkan sampai merencanakan semua itu.

Dan kuakui, Teukie Hyung memang sangat hebat. Dia terlalu ngotot, sama seperti adiknya. Dan ini merupakan hal yang sangat baru dalam duniaku dan Kyuhyun.

Hanya saja timingnya tidak tepat. Ketika aku dan Kyuhyun mungkin bisa sedikit, hanya sedikit, mengakui mereka berdua sebagai manusia yang juga ada disekitar kami, Appa justru mengatakan hal yang membuat Kyuhyun tersulut amarahnya dan membuatku terluka.

“Ryeowook Hyung.” Aku menoleh saat melihat Henry berdiri di ambang pintu dapur. Dia memakai piyama kecoklatan sambil mengucek matanya, tampak baru terbangun dari tidurnya. “Kenapa Hyung ada di dapur semalam ini? Kau haus?” Anak itu berjalan mendekatiku dan segera mengambil gelas kosong dan menuang air mineral kedalamnya.

Dia akan menjadi saudara tiriku…?

“Kau juga haus?” Henry menatapku setelah selesai meneguk air digelasnya.

Aku hanya menghela nafas sambil mengambil gelas lain dan ikut menuang air lalu meneguknya sedikit. Melihat wajahnya atau bicara dengannya rasanya membuatku kesal. Mengingat apa yang Appa katakan malam itu, membuatku ingin menjauhinya.

Setelah meletakkan gelasku di westafel, aku segera meninggalkan Henry. Tapi anak itu mengekor dibelakangku.

“Kenapa kau tampak sangat membenciku? Aku tahu kau sebenarnya bukan tipe orang yang bisa membenci orang lain. Kau pasti membenciku dan Hyung-ku karena kami akan masuk ke keluarga ini, kan?”

Bisa tidak kau jangan membuatku semakin kesal…?

Aku mengabaikannya dan segera naik ke tangga agar bisa segera kabur ke kamarku. Tapi tiba-tiba Henry menahan tanganku dan membuatku harus menatap wajahnya. Kutatap dia yang hanya memandangiku datar.

“Apa?” tanyaku dingin.

“Tidak bisakah kalian menerima kehadiran kami?”

“Sejak awal aku tidak pernah mengatakan kalau aku tak pernah menerima kehadiran kalian.” jawabku dingin sambil menarik tanganku dari genggamannya. Aku hendak naik lagi, namun ucapan Henry menghentikan langkahku.

“Kau memang tak pernah mengatakannya, tapi kau juga tak pernah mengatakan kalau kau mau menirima kami. Dan kelakuanmu itu membuatku sadar kalau kehadiranku disini sama sekali tidak diterima.”

Aku mematung. Bisa kurasakan Henry naik agak mendekatiku dengan perlahan.

“Hyung… Aku sungguh ingin bisa dekat dengan kalian. Aku ingin menjadi bagian dari dunia kalian. Tak masalah jika kalian tak bisa menganggapku, atau Teukie Hyung, atau Eomma sebagai bagian dari keluarga kalian. Tapi izinkan aku sedikit saja masuk ke dunia kalian. Apa itu dilarang?” Suaranya terdegar setengah memohon.

Kupalingkan wajahku menatapnya. “Kenapa kau sangat ingin masuk ke dunia kami?”

Henry mengulas senyum polosnya lagi. “Karena aku ingin masuk kedalamnya. Aku ingin mengenal kalian lebih jauh. Aku ingin menjadi teman kalian.”

Teman…

Selain Changmin, aku dan Kyuhyun tidak terlalu suka berteman dengan banyak orang. Bergabung di banyak organisasi sekolah bukan karena aku ingin bergaul, tapi karena aku suka menunjukkan kepada orang-orang kalau aku bisa melakukan apa yang belum tentu bisa mereka lakukan. Aku bahkan jarang sekali bicara dengan bahasa yang halus dengan orang lain selain kepada Kyuhyun atau Changmin.

Tapi sekarang… Ada anak kecil yang bilang dengan sangat jujur bahwa dia ingin menjadi temanku. Dan konyolnya orang itu yang akan menjadi saudara tiriku. Apa-apaan ini?

“Kau terlalu banyak berharap.” balasku sambil segera meninggalkan Henry begitu saja. Tadinya hanya Kyuhyun yang memperlakukan kedua kakak-beradik itu dengan dingin. Tapi sekarang aku jadi ingin memperlakukan mereka dengan dingin juga.

Saat aku berbelok menuju lorong kamar, aku terkejut karena melihat Teukie Hyung berdiri disana, menatapku sambil mengulas senyum tipis. Tanpa mengatakan apapun aku berjalan melewatinya.

“Sebegitu sulitnya kah bagi kalian untuk menerima kehadiran orang lain?”

Pertanyaan itu membuat langkahku terhenti, tapi aku tidak menoleh untuk menatapnya.

“Ryeowook?”

“Bukan urusanmu, kan?” Langsung saja aku masuk ke dalam kamarku dan segera kukunci pintunya rapat-rapat. Kupandangi sosok Kyuhyun yang tertidur sangat pulas di tempat tidurnya.

Sebegitu sulitnya kah masuk ke dunia kami? Ya, kami memang tak mengizinkan siapapun masuk ke dunia kami dengan mudah. Aku tak butuh mereka, kan? Aku sudah memiliki Kyuhyun, aku tak butuh mereka berdua.

Aku tak mau ada orang masuk ke dunia kami, masuk ke keluarga kami, aku tak mau menerimanya.

xXx

“Kyuhyun, Ryeowook.”

Aku segera menoleh saat kudengar suara Appa beserta pintu kamarku yang terbuka pelan. Saat ini aku dan Kyuhyun hanya mengurung diri di kamar. Sejak malam itu kami sama-sama lebih suka berdiam diri di kamar seusai sekolah. Tempat ini satu-satunya tempat yang paling membuatku merasa tenang.

Kuletakkan buku pelajaran yang sejak tadi kubaca dan kulihat Kyuhyun meletakkan stick PS yang sejak tadi dimainkannya sedangkan Appa langsung masuk ke kamar kami.

“Ada apa?” tanya Kyuhyun dingin.

Appa mengulas senyum sambil menarik kursi belajar Kyuhyun mendekat ketempatku dan duduk disana, menatap kami berdua bergantian dan kalau dia sudah seperti ini aku yakin Appa akan membicarakan satu hal penting. Pasti tentang rencana pernikahannya.

“Apa kalian masih marah?” tanyanya santai, berusaha untuk rileks.

Kyuhyun kembali memainkan PS-nya namun sambil menjawab. “Appa ingin kami menjawab apa? Sekalipun kami menjawab masih marah, apakah pernikahan itu akan dihentikan? Pasti tidak, kan? Appa bisa melakukan apapun. Terserah.” Jawaban yang sangat culas, tapi aku setuju dengan ucapan Kyuhyun.

Aku hanya memutar bola mataku. “Kalau Appa datang untuk meminta pendapat kami, lebih baik lupakan saja karena Appa tak akan mendapat jawaban yang memuaskan.” lanjutku sambil memutar kursiku dan kembali membuka buku pelajaranku.

Untuk sesaat hanya suara game yang terdengar di kamar kami. Dua menit akhirnya Appa sedikit terbatuk untuk menyita perhatianku dan Kyuhyun. Aku hanya melirik sekilas kearahnya dan kulihat Appa menaikkan posisi kacamatanya sambil menatapku.

“Ryeo, apa kau juga sama tidak sukanya dengan Jungmi Ahjumma seperti Kyuhyun?”

“Hey, aku tak pernah bilang kalau aku tak menyukai wanita itu!” Kyuhyun memprotes.

“Tapi kelakuanm menunjukkannya, Kyuhyun. Sangat mudah menebaknya.” Appa hanya tersenyum kecil.

Kembali aku memutar kursiku untuk menatap Appa lebih jelas. “Apa aku terlihat membencinya juga?”

Kali ini Appa mengangkat bahu. “Entahlah. Kau lebih jago dalam menyembunyikan perasaanmu dibanding Kyuhyun. Kau terkadang bisa bersikap biasa saja tapi ternyata hatimu berbeda. Secara keseluruhan, kau sedikit lebih bisa menjaga perasaan orang lain dibanding Kyuhyun.” goda Appa sambil melirik Kyuhyun yang sudah kesal menatapnya.

Kyuhyun sedikit melempar stik PS-nya sambil berdiri. “Well, yeah. Kuanggap itu sebagai pujian.” gumamnya kesal sambil memilih duduk di tepi tempat tidurnya. “Apa yang mau Appa katakan? Aku tak suka berbasa-basi. Tahu sendiri aku sedang kesal.”

Aku kembali melirik Appa.

“Tidak bisakah kalian menerima pernikahan kami?”

Baru saja aku mau menjawab, Kyuhyun menyelaku. “Kalau kujawab tidak, bagaimana?”

Sontak saja sorot mata Appa menunjukkan betapa kecewanya dia. Aku tak tahu apakah Kyuhyun bisa menyadarinya, tapi adik kembarku itu jauh lebih egois dibanding aku, jadi kupikir Kyuhyun tak akan menyadarinya.

“Appa hanya ingin kalian bisa menerima keputusan ini.”

“Lalu bagaimana dengan Eomma kami?” Kali ini kuberanikkan diri untuk bertanya. “Sejak awal, secara pribadi aku tak terlalu menentangnya, aku mau Appa bahagia. Tapi tidakkah ini terlalu cepat? Eomma baru setahun meninggal dan Appa sudah mau menikah lagi. Jungmi Ahjumma juga baru kami kenal salama beberapa minggu. Kami tentu tak bisa menerima semua ini dengan mudah.”

“Bukannya tak bisa menerima, kalian sudah terlalu jauh mengunci diri dalam dunia kalian.” Ucapan Appa membuatku sedikit tersentak.

Kami sudah terlalu jauh mengunci diri dalam dunia kami?

“Aku tahu kalian berdua anak yang baik, tapi kalian tak mau ada orang asing yang masuk ke dunia kalian, karena itu kalian tak mau menerima Jungmi Ahjumma, Jungsoo ataupun Henry. Ini bukan semata alasan karena Eomma, tapi juga karena dunia kalian, kan? Kalian takut mereka bisa dengan mudahnya masuk ke dunia kalian, seperti Eomma atau Appa.”

Aku tak bisa mengatakan apapun, Kyuhyun juga hanya diam. Benar yang dikatakan Appa. Alasan tentang Eomma memang hanya alasan semata. Mungkin aku dan Kyuhyun sesungguhnya hanya takut, kami takut ada yang masuk ke dalam dunia kami seperti orang tua kami sendiri.

Ketika kau terbiasa hidup dengan beberapa orang saja yang bisa kau terima, pasti akan sangat sulit ketika ada yang hendak masuk lagi. Pasti akan sulit menerimanya. Benci mengatakannya, tapi Appa benar.

“Appa hanya ingin mengatakan, pernikahan kami tak akan ditunda. Appa harap kalian bisa bersikap dewasa.” Appa segera berdiri. “Selamat malam.”

Sepeninggal Appa keluar dari kamar, aku menoleh menatap Kyuhyun yang hanya menatap lurus kearahku. Selama beberapa detik kami hanya bisa saling berpandangan untuk bisa memahami jalan pikiran masing-masing.

Aku tahu Kyuhyun pasti memikirkan hal yang sama denganku. Aku bisa merasakannya.

“Appa benar.” bisikku.

Kyuhyun tak mau menanggapiku dan langsung berbaring memunggungiku.

xXx

Sejak malam dimana aku dan Henry berbicara, aku kira Henry akan menjauhiku, tapi ternyata anak itu benar-benar teguh pendirian. Dia tipe anak yang akan melakukan apa yang ingin dia lakukan sampai akhir tanpa menyerah.

Kulirik Henry yang sudah tersenyum sambil mengangkat kotak bekalnya lebih tinggi lagi. “Bagaimana? Eomma membuatkan bekal sangat banyak dan sengaja untuk dimakan bertiga. Ryeo dan Kyu Hyung harus ikut menghabiskannya.”

Ryeo dan Kyu Hyung? Aneh sekali…

Kyuhyun langsung berjalan meninggalkan Henry begitu saja sedangkan Changmin yang tadi berdiri disampingku hendak mengambil bekal di tangan Henry. Tapi anak itu langsung menjauhkannya sambil menatap Changmin waspada.

“Ini hanya untuk bertiga. Tidak ada tambahan lagi.” ujarnya cepat lalu menatapku. “Ayo, Hyung! Masakan Eomma itu saaaangat enak! Kau pasti suka.”

“Ryeo! Cepat!”

Aku dan Henry sama-ama menoleh kearah Kyuhyun yang sudah cukup jauh. Kembali aku dan Henry saling bertatapan dan kini sorot mata Henry sarat dengan luka. Dia pasti tahu kalau aku akan meninggalkannya dan menghampiri Kyuhyun. Kalau dia tahu kami akan mengacuhkannya, kenapa dia terus mengikuti kemanapun kami berada.

“Ryeo!!”

“Tunggu aku. Kau cerewet sekali.” Seperti yang sudah kukatakan, aku langsung melewati Henry begitu saja dan menyusul Kyuhyun.

Sebelum kami berjalan meninggalkan Henry semakin jauh, aku menoleh dan melihat Henry berdiri memunggungiku. Dia perlahan menggaruk kepalanya lalu berjalan meninggalkan Changmin yang hanya mengangkat bahu.

“Dia benar-benar keras kepala.” gumam Kyuhyun.

“Sama seperti kita, kan?” balasku dan membuat Kyuhyun menatapku sambil mengerutkan keningnya keheranan. “Kita juga keras kepala. Sudah tahu kebahagiaan Appa adalah menikahi Jungmi Ahjumma, tapi kita tidak mau menerima keputusan itu dan terus-terusan menjauhi mereka semua.”

Kyuhyun menggigit bibir bawahnya, tampak sekali dia tak suka dengan kata-kataku tadi.

Aku hanya tersenyum sinis. “Iya, kan? Aku tahu kau juga memikirkan hal yang sama denganku.”

Dan tanpa mengatakan apapun akhirnya Kyuhyun berjalan meninggalkanku sendirian.

Aku tahu kau juga memikirkannya, Kyuhyun…

Aku sadar kalau apa yang kulakukan ini salah, tapi aku juga enggan merubah sifatku. Aku tahu Appa membutuhkan wanita itu, tapi aku juga tak bisa dengan mudahnya menerima wanita itu menggantikan posisi Eomma-ku. Aku tahu kalau sudah saatnya aku berhenti mengacuhkan Henry, tapi aku juga tak bisa membiarkannya masuk ke duniaku.

xXx

Malam itu saat aku masuk ke ruang keluarga, kulihat Appa, Jungmi Ahumma dan kedua putranya tampak sedang sibuk memilah beberapa kartu. Mungkin itu kartu undangan pernikahan mereka nanti.

Jungmi Ahjumma yang menyadari kehadiranku langsung memanggilku. “Ryeowook, kemarilah. Kami sedang mencari kartu undangan yang sesuai.” ujarnya sangat ramah.

Namun aku mengabaikannya dan langsung berjalan masuk ke dalam dapur. Kutarik beberapa camilan yang ada disana, namun gerakanku terhenti saat kurasakan seseorang sudah berdiri di ambang pintu dapur. Aku berdiri tegap dan menoleh. Disana Teukie Hyung sedang memandangiku. Kembali kuabaikan dia dan mencari camilan yang ingin kubawa.

“Sampai kapan kau akan terus bersikap kekanakkan, Ryeowook?”

“Sampai aku puas.” balasku asal-asalan. Aku sudah mengamit dua bungkus besar keripik kentang dan sebotol besar cola. Saat berjalan melewati Teukie Hyung, pemuda itu menahan lenganku dan membuatku harus berhenti.

Kutatap dia dan dia hanya menatapku datar. “Tidak bisakah kalian menghentikan ini?”

“Menghentikan apa?” tanyaku dingin sambil menyentakkan sentuhannya di lenganku.

“Menghentikan semua kelakuan kekanakkan ini. Tak bisakah kalian lihat Appa kalian, dia ingin bahagia, haruskah kalian menghentikan kebahagiaannya karena keegoisan semata? Aku bisa menerima kalau kalian tak mau menerimaku atau Henry, tapi apa salahnya sedikit mengalah untuk Appa kalian sendiri? Bukankah selama ini Appa kalian sudah banyak mengalah untuk kalian?”

Tentu saja ucapannya membuat amarahku tersulut. “Mengalah? Appa mengalah?” tanyaku tak terima. “Appa sendiri selalu mengabaikan kami, kan? Apanya yang mengalah?”

“Itu karena kau dan Kyuhyun tak pernah mengizinkan Appa kalian bergabung di dunia semu kalian. Akhirnya dia mengalah dan tidak mau mengusik dunia konyol itu. Dan sekarang ketika Appa kalian menemukan kebahagiaannya, kalian berdua bersikap kekanak-kanakkan dengan tidak mengizinkannya bahagia. Lalu kalau dia gagal menikah, kalian akan melakukan apa? Kalian akan kembali mengabaikannya juga, kan? Tak ada seseorang yang bisa hidup sendirian, Ryeowook. Sama seperti kau dan Kyuhyun yang tak bisa dipisahkan. Appa kalian juga butuh teman hidup.”

Aku hanya memandanginya dingin. Kalimatnya membuatku terluka. Oke, aku merasa tersindir karena semua yang Teukie Hyung ucapkan itu benar. Aku tahu. Tapi jika dia ada diposisiku, apa dia bisa menerimanya dengan baik. Dia mengatakannya dengan mudah karena dia tak tahu perasaanku!

Akhirnya dengan berlari aku meninggalkan Teukie Hyung. Sialnya, aku mau menangis karena terlalu kesal!

xXx

Hari ini, Henry kembali datang ke kelas kami dengan membawa bekalnya yang cukup besar. Senyum cerianya tak pernah lepas kalau dia mengunjungi kami, hanya saja senyum itu selalu berubah menjadi tatapan kekecewaan kalau kami mengabaikannya.

“Hyungdeul~ Aku datang lagi!”

“Huh~” Sontak Kyuhyun menghela nafas sambil meletakkan PSP-nya ke meja lalu menatap Henry. “Kau benar-benar keras kepala, ya?”

“Tentu saja.” jawabnya jujur. “Hari ini aku membawa roulette isi kentang juga beberapa nasi kepal. Eomma juga memberikan udang goreng, lho. Sungguh kalian harus mencobanya. Ini sangat enak!” Henry segera membuka tutup bekalnya dan menyodorkannya kehadapanku dan Kyuhyun.

Harum masakan itu tercium dan memang sepertinya enak.

“Ayo cicipi!”

“Boleh aku yang icip-icip duluan?” Changmin sudah mendorong kursinya mendekat dan tangannya hampir saja mengambil udang goreng di dalam bekal itu kalau saja Henry tidak memukul tangannya. “Pelit sekali, sih. Aku kan juga mau.”

“Ini hanya untuk bertiga, Hyung. No tambahan. No no no.” balasnya sambil menggoyangkan jarinya dengan gaya yang agak sok. Anak itu akhirnya mengambil udang goreng dan menyodorkannya kearah Kyuhyun. “Ayo coba dulu. Kau pasti ketagihan.”

“Aku tidak mau!” Kyuhyun sedikit mundur untuk menghindar.

“Ayolah, Hyung~ Satu gigitan saja.”

Aku memilih tak memperdulikan kedua anak itu. Namun sebuah masalah kembali terjadi. Kyuhyun berdiri sambil menyentakkan tangan Henry menjauh dan gerakannya itu mengenai tangan yang memegang bekal sehingga makanan itu terjatuh di lantai. Suasana kelas kami mendadak hening.

Henry menunduk memandangi bekalnya sedangkan aku menatap Kyuhyun yang tampak kaget dan merasa bersalah.

“Kyu~ Tidak boleh membuang makanan.” balas Changmin dingin sambil menunduk dan membersihkan tumpahan makanan itu sambil memasukkannya ke dalam bekal.

Selama beberapa menit Changmin membersihkannya, tak ada satupun dari kami bertiga yang bicara. Kutatap wajah Henry yang tampak sangat terluka dan entah kenapa itu membuatku semakin merasa bersalah.

“Ini.” Changmin menyerahkan bekal yang sudah kotor dan berantakan itu kembali kepada Henry.

“Terima kasih, Hyung.” Henry kini melirik aku dan Kyuhyun sambil tersenyum pilu. “Aku tak tahu kalau Hyungdeul sebegitu bencinya kepadaku. Maaf karena aku selalu mengganggu waktu kalian…” Suaranya terdenar bergetar. “Tapi aku… Serius ingin menjadi teman kalian.”

Setelah mengatakan itu, Henry berjalan meninggalkan kami. Kyuhyun kembali duduk di kursinya. Kami sama-sama terdiam satu sama lain sampai akhirnya Changmin memilih bicara.

“Kukira sudah saatnya kalian berdua berhenti memperlakukannya seperti itu. Dia hanya ingin menjadi teman kalian.”

Teman…

xXx

Sejak kapan kami berdua jadi semenyebalkan ini? Sejak kapan kami berdua jadi sejahat ini? Henry hanya ingin berteman dengan kami, Teukie Hyung hanya ingin mencoba memahami kami, Jungmi Ahjumma hanya ingin mengenal tentang dunia kami. Tapi kenapa kami membuatnya jadi semakin sulit sampai kami yang akhirnya kerepotan?

Selama perjalanan pulang aku dan Kyuhyun tak banyak bicara. Henry tidak menemui kami seperti biasanya. Wajar kalau seharusnya dia menjauhi kami, seharusnya aku merasa lega karena ketenanganku kembali. Tapi aku justru cemas…

“Dia… Tidak datang…” Kyuhyun bergumam.

“Henry?”

“Siapa lagi menurutmu?” Kyuhyun menarik ranselnya dan menentengnya dengan satu pundaknya saja. “Aku tak terlalu yakin dengan apa yang kurasakan. Tapi aku justru merasa tidak enak hati dengan kejadian tadi. Dan karena dia tidak menemui kita, aku jadi sedikit agak…”

“Khawatir?” Aku memotong ucapan Kyuhyun. Tanpa Kyuhyun menjawab pun aku bisa menebaknya. “Apa kau ingin meminta maaf?”

“Haruskah?”

“Kurasa harus.”

“Kepada semuanya?”

Kali ini aku menghentikan langkahku dan menatap Kyuhyun yang menatapku tak terima. “Kalau itu aku tidak tahu. Tapi sepertinya kita harus meminta maaf kepada Henry. Bukan untuk kelakuan kita, tapi untuk kejadian tadi. Sepertinya…”

“Entahlah, Ryeo…” Kyuhyun dan aku kembali berjalan. “Aku tak tahu. Aku justru merasa tertekan dan tersudut.”

“Mungkin itu karena kitalah yang salah.” bisikku pelan dan Kyuhyun tidak menanggapinya.

Tanpa bicara apapun akhirnya kami sampai dirumah. Di depan pintu gerbang rumah kami, kulihat Teukie Hyung sudah berdiri disana dengan memegangi ponsel dan wajahnya agak cemas. Apa sesuatu terjadi?

“Kalian berdua sudah pulang? Henry tidak bersama kalian?”

Sontak aku menggeleng dan Kyuhyun berjalan lebih dulu sambil melewati Teukie Hyung. Aku segera menyusul Kyuhyun disaat Teukie Hyung tampak menghubungi seseorang. Dan satu kalimat yang muncul dari bibirnya membuat langkahku dan Kyuhyun langsung berhenti.

“Henry masih belum pulang. Iya, aku akan mencarinya. Eomma tenang saja. Iya, aku akan mengabari kalau sudah menemukan Henry. Sampai nanti.”

Aku sudah menatap Teukie Hyung. “Apa dia tak menghubungimu?”

“Tidak biasanya dia pulang seterlambat ini.” jawab Teukie Hyung. “Ponselnya juga tidak aktif.” Teukie Hyung akhirnya memakai tudung hoodie sambil memasukkan ponselnya. “Aku akan mencarinya. Kalau Henry pulang, tolong hubungi aku.” Segera pemuda itu meninggalkanku dan Kyuhyun yang masih berdiri.

Sepeninggal Teukie Hyung, aku dan Kyuhyun saling berpandangan.

“Apa? Ini bukan salahku, kan?” gerutu Kyuhyun sambil mengacak rambutnya dan berjalan meninggalkanku. “Merepotkan saja anak itu.”

xXx

Bisa kulihat wajah Kyuhyun tampak cemas. Sejak tadi dia memang bermain dengan PSP-nya, tapi matanya tidak fokus. Jelas sekali kalau dia pasti memikirkan Henry yang sampai saat ini masih belum kembali. Sudah jam tujuh malam dan Teukie Hyung juga tidak memberi kabar apapun.

Yah.. Itu bukan berarti aku menunggu kabar darinya, lho.

Tapi Henry kemana? Apa dia pergi kerumah temannya? Dia tak mungkin kabur dari rumah, kan?

“Apa dia kabur?” gumaman pelan dari Kyuhyun membuatku menatapnya. Dia berpikiran sama denganku. Kyuhyun akhirnya menoleh kearahku sambil meletakkan PSP-nya. “Dia tidak mungkin kabur dari rumah kan, Ryeo?”

Perlahan aku hanya mengangkat bahu. “Aku tak tahu.”

“Err—Aku merasa apa yang kulakukan tadi itu agak keterlaluan. Tapi itu tidak disengaja. Lucu juga, tapi kuakui sebenarnya Henry tidak semenyebalkan kita. Dia dengan sabar mau memahami kita tapi aku justru selalu melukainya. Aku jadi merasa sangat jahat.” lanjut Kyuhyun sambil berdiri dan berjalan kearah pintu kamar kami.

“Kau.. Tidak mau mencarinya, kan?” tanyaku ragu.

Kyuhyun menatapku. “Bukankah seharusnya kita juga mencarinya? Kau juga sejak tadi ingin melakukannya, kan?”

Benar. Sejak tadi aku tidak tenang. Aku ingin mencarinya tapi aku tak tahu bagaimana cara mengatakannya kepada Kyuhyun.

Segera aku ikut berdiri dan mendekatinya. Kutepuk bahu Kyuhyun sambil berjalan melewatinya tanpa mengatakan apapun. Kyuhyun segera menyusulku. Ketika kami turun dari tangga, aku sudah melihat Teukie Hyung masuk ke ruang keluarga dengan wajah frustasi.

“Dia… Masih belum ditemukan?” tanyak pelan.

“Aku akan kembali mencarinya. Aku kembali karena kukira Henry sudah pulang.” ujarnya cepat. Namun sebelum Teukie Hyung meninggalkanku dan Kyuhyun, dia sempat menatap kami dengan serius. “Apa kalian benar-benar tak bisa menerima kami?”

Pertanyaan itu lagi…

Aku dan Kyuhyun sama sekali tidak bicara.

“Bagaimana kalau taruhan?” Ucapan Kyuhyun membuatku menatapnya tak percaya.

Taruhan lagi?

“Taruhan?” Teukie Hyung juga tak paham maksudnya.

Kyuhyun mengangguk. “Ini akan jadi taruhan terakhir. Jika kau berhasil menemukan Henry lebih dulu dari kami, maka kami berdua akan menerima kehadiran kalian juga menerima pernikahan Appa tanpa syarat apapun. Tapi jika aku dan Ryeowook yang berhasil menemukannya, maka kalian berdua harus berhenti mengganggu kehidupan kami.” ujar Kyuhyun serius. “Ini sangat mudah. Kau dan Henry kakak-beradik, kalian pasti memiliki kontak batin yang kuat dan dengan mudah kau bisa menerka dimana anak itu berada. Bagaimana?”

Tak ada jawaban apapun.

Teukie Hyung tak mungkin menerimanya. Dia tak mungkin mau bermain disaat seperti ini.

“Aku terima.”

Ehh?

Kulihat Teukie Hyung tersenyum yakin. “Aku terima. Aku akan menemukan Henry dan akan kubuat kalian menyerah begitu saja dengan kegigihan kami.” Segera Teukie Hyung berlari meninggalkan kami.

“Kyuhyun, kau serius?”

Kyuhyun menatapku sambil tersenyum kecil. “Kenapa tidak? Ayo cari Henry. Ini satu-satunya cara agar kakak-beradik itu menjauh dari hidup kita, kan?”

xXx

Sudah hampir jam delapan malam, hampir satu jam aku dan Kyuhyun berlari mengelilingi kota untuk mencari Henry. Aku dan Kyuhyun menuju sekolah dan berusaha menemukannya di taman-taman sekitar sekolah, tapi kami tidak menemukannya. Aku tak tahu siapa saja yang dekat dengan Henry di sekolah, jadi aku tak bisa menghubungi siapapun.

Kyuhyun sudah sedikit terengah-engah, meski malam cukup dingin tapi keringat menetes membasahi kening dan seragam kami yang belum sempat kami ganti.

“Dimana anak itu? Sudah malam dan kita sama sekali tidak menemukannya.” gerutunya.

“Kau pikir mudah mencarinya…” Aku kembali berlari dan bisa kudengar derap langkah Kyuhyun mengikutiku. “Hey, Kyu!” panggilku.

“Hmm?”

“Apa kau serius dengan taruhan tadi?”

“Kenapa? Apa kau tidak serius?”

Aku menghentikan lariku dan menatapnya yang juga berhenti berlari. “Aku hanya merasa kalau… Tidak seharusnya kita seperti ini. Appa benar, kita sudah melangkah terlalu jauh memasuki dunia kita dan itu membuat kita tak mau membiarkan orang ikut masuk. Bukankah sudah seharusnya kita melangkah keluar?” Kutatap mata Kyuhyun dalam-dalam. Dia tampak mencerna kalimatku.

“Menerima kehadiran Teukie Hyung dan Henry, juga Jungmi Ahjumma, tak akan merugikan kita, kan?” lanjutku dan Kyuhyun tetap tak menanggapiku. “Appa tak mungkin terus sendirian. Kita saling memiliki, tapi Appa tak memiliki siapapun. Tak selamanya kita selalu ada untuk Appa. Tidakkah seharusnya kita berhenti bersikap egois.”

“Entalah.” Kyuhyun akhirnya kembali berlari meninggalkanku.

Kupandangi sosok Kyuhyun yang semakin menjauh, namun tiba-tiba dia berhenti. Kyuhyun menatap kearahku cepat sambil melambaikan tangannya, mengisyaratkan kepadaku untuk mendekatinya. Segera aku menyusul Kyuhyun.

Sebelum aku bertanya, Kyuhyun menunjuk ke suatu arah. Aku tersentak saat melihat Henry berdiri di depan sebuah game center yang dulu biasa dikunjungi Kyuhyun. Dia tampak fokus memainkan sebuah box permainan sehingga tak mungkin menyadari kehadiranku dan Kyuhyun yang cukup jauh.

“Henry?”

“Siapa yang menyangka kalau dia ke game center? Orang frustasi biasanya menyendiri di taman yang sepi, kan?” Kyuhyun terkekeh meremehkan. “Sialan.”

Aku sedikit tersenyum. Aku juga berpikiran sama dengan Kyuhyun, kupikir anak itu sedang menyendiri di taman, seperti film-film drama yang ada di televisi. Tapi dia justru bermain seharian di game center. Kami terkecoh… Lagi.

“Kita harus segera menghampirinya sebelum Teukie Hyung menemukannya.” Kyuhyun sudah hampir berlari lagi, tapi aku langsung menahan tangannya. Dia menatapku heran. “Kenapa lagi?”

“Kita mengalah saja. Bagaimana?” tawarku akhirnya.

“Mengalah?”

“Menerima mereka… Bukan sebuah kesalahan, kan? Itu yang sejak tadi kupikirkan. Mungkin saat ini kitalah yang harus mengalah demi mereka semua.” Aku mengulas senyum terpaksa sambil mengangkat bahu.

Kulihat Kyuhyun justru menggelengkan kepalanya sambil tertawa. “Sungguh sejak tadi aku menunggumu mengatakannya.”

“Eh? Menungguku?”

Kyuhyun menunduk. “Aku menunggu kau mengatakan kalau lebih baik kita yang mengalah. Aku yang membuat taruhannya jadi tak mungkin aku yang bilang kalau lebih baik kita mengalah saja, kan?” Adik kembarku itu menepuk bahuku sambil menoleh ketempat game center dimana Henry masih berdiri sendirian dan bermain.

Aku menghela nafas. Entah kenapa aku menjadi sangat lega. “Lalu sekarang kita harus bagaimana?”

“Menunggu.” jawab Kyuhyun.

Iya… Kami hanya harus menunggu sebentar.

“Henry!!” Sebuah panggilan membuatku dan Kyuhyun langsung menoleh. Dari arah yang berbeda Teukie Hyung segera berlari ketempat Henry dan langsung memeluk adiknya itu erat.

Kulirik Kyuhyun dan sebuah senyum terlihat di wajahnya. Segera kutarik kembaranku itu agar segera pergi dari tempat itu sebelum kedua kakak-beradik itu mengetahui keberadaan kami.

“Sisi positifnya, apapun yang terjadi kau dan aku tetap saling memiliki.” gumamku.

“Yep. Itu yang paling penting.” Kyuhyun merangkul pundakku.

xXx

“Hyungdeul! Ayo lihat kearahku!”

Aku mendelikkan mataku kesal kearah Henry. “Bisakah kau letakan kamera itu atau mencari objek lain untuk kau potret?” omelku sambil berdiri dan meninggalkannya. Aku menghampiri Kyuhyun yang sejak tadi duduk menyendiri di sofa sambil bermain PSP hitamnya. Keramaian rumah kami tampak tak mengusiknya sama sekali.

Henry justru berlari menyusulku. “Hey, hey, aku belum mendapat foto kalian berdua.”

“Henry, menjauh!” gerutuku lagi.

Kyuhyun tampaknya terusik dengan kehadiran kami. Matanya menatap tajam kearahku dan Henry. “Menjauh kalian. Aku sedang fokus disini.”

Dengan gusar aku duduk disamping Kyuhyun. Kutarik PSP-nya dan tentu saja Kyuhyun menyentak bahuku kesal, tapi aku tak peduli. Aku mengambil alih PSP itu dan melanjutkan game yang tadi Kyuhyun mainkan. Membiarkan Henry asyik memotret kami dengan kamera bodohnya.

“Yak, kau! Hentikan!!” Kyuhyun kembali emosi dan Henry tertawa.

“Aku sedang suka memotret apapun. Apalagi di pesta pernikahan ini.”

Aku hanya menghela nafas sedangkan Kyuhyun terus mengomel tidak berhenti.

Ya, pesta pernikahan. Hari ini Appa dan Jungmi Ahjumma menikah. Setelah dari gereja, mereka menggelar sebuah pesta yang cukup besar di rumah kami. Aku dan Kyuhyun tak terlalu memperdulikannya, toh yang berpesta kan bukan kami.

“Kalian menepati janji kalian.” Tiba-tiba seseorang merangkulku dari balik sofa.

Teukie Hyung…

Pemuda itu tersenyum sambil mengusap rambutku lembut. “Aku tahu kalian akan sulit menerima kehadiran keluarga baru kalian dengan cepat, tapi aku tak akan memaksanya. Asal kalian bisa sedikit mengalah dan menerima, itu sudah jauh dari kata cukup. Aku senang. Dan Henry juga akhirnya bisa merasa lega.” lanjutnya.

Aku tak menoleh dan tetap melanjutkan permainanku. Tapi kini sorot mataku teralih kepada Kyuhyun yang sedang berusaha mengambil kamera Henry dan mengancam akan menghancurkannya sedangkan anak itu juga dengan susah payah menjauhkan Kyuhyun dari kameranya.

Aku tersenyum. “Kau tak tahu apa yang kupikirkan. Jangan banyak berharap.” bisikku.

“Hyung! Kyuhyun Hyung ingin menghancurkan kameramu!” Henry berlari kearah Teukie Hyung sedangkan Kyuhyun kembali menghempaskan tubuhnya disampingku. Tampak sekali kesal di wajahnya.

Kyuhyun mendekati wajahnya kesisiku. “Haruskah kukatakan kepadanya kalau sebenarnya kita yang lebih dulu menemukan Henry agar dia pergi dari hidup kita?” bisiknya dengan nada gusar.

Sontak aku tertawa mendengar pertanyaan Kyuhyun, membuat kakak-beradik itu sontak menatapku keheranan. Aku mengangkat bahu sambil merangkul pundak Kyuhyun. “Nanti saja kalau ada waktu untuk mempermainkan mereka lagi.” bisikku sambil tersenyum licik.

Kyuhyun ikut tertawa.

“Kalian bicara apa? Boleh aku tahu?” Henry bersandar di pinggiran sofa disamping Kyuhyun sambil menumpukan berat tubuhnya di pundak Kyuhyun.

“Hey, menyingkir dariku!”

“Katakan padaku apa yang kalian bicarakan.”

“Tidak mau. Dasar tukang ikut campur.”

“Aku kan sekarang juga teman kalian.”

Teman, ya…

Aku hanya tersenyum melihat Kyuhyun dan Henry yang terus-terusan adu argumentasi.

“Ryeowook, Kyuhyun, Henry, Jungsoo. Orang tua kalian memanggil kalian untuk berfoto bersama!” Seorang paman memanggil kami.

Kyuhyun yang pertama mendengus sebal. “Foto lagi?!”

“Ayo, Hyung!” Segera Henry menarik Kyuhyun agar berdiri dan membawanya meninggalkanku dan Teukie Hyung.

Segera aku berdiri dan Teukie Hyung sudah merangkul pundakku ketika kami berjalan. Apa-apaan ini, gayanya sudah seperti kakakku saja.

“Terima kasih sudah menerima kami.” gumamnya.

“Sudah kukatakan, jangan terlalu berharap kepadaku dan Kyuhyun.” lanjutku sambil tersenyum kecil dan Teukie Hyung mengacak rambutku sambil tertawa.

“Aku tahu.”

Didepan sana, Kyuhyun sudah berdiri di samping Appa yang mengenakan jas hitam. Henry juga berdiri disamping Jungmi Ahjumma yang mengenakkan gaun pengantin. Dengan lembut Ahjumma melambaikan tangannya kearah kami dan Teukie Hyung langsung menarikku dengan cepat.

Aku berdiri di samping Kyuhyun sedangkan Teukie Hyung berdiri disamping Henry. Kyuhyun menyenggol tanganku pelan sambil kembali mendekatkan wajahnya kesisiku.

“Lihat, betapa menyebalkannya difoto seperti ini.” gerutunya lagi.

“Jangan banyak bicara. Nikmati saja hidupmu, Bodoh.”  Aku merangkul pundak Kyuhyun tepat ketika si fotografer mengisyaratkan kepada kami semua untuk bersiap.

‘CKLEKK’

Satu foto keluarga baru yang akan terpasang di rumah kami.

“Terima kasih, Ryeowook, Kyuhyun. Appa bangga kepada kalian.” gumam Appa sambil menepuk pundak kami berdua.

Aku dan Kyuhyun tak menanggapinya dan seperti biasa, kami lebih suka langsung pergi begitu saja. Tapi Appa adalah ayah kami yang sangat memahami kelakuan kami, tanpa kata-kata manis apapun aku tahu Appa pasti mengerti.

Kyuhyun menggenggam tanganku. “Sekarang, kau benar-benar tak boleh meninggalkanku.”

“Memang kapan aku pernah meninggalkanmu?” tawaku sambil memukul bahunya dan  Kyuhyun menatapku sambil mendengus kesal. “Kita kan memang akan selalu bersama, Bodoh.”

“Ya, ya, ya, berhentilah memanggilku Bodoh.”

“Kalau begitu berhentilah bersikap bodoh.”

“Hyungdeul~ Kita masih belum berfoto!” Suara Henry lagi.

“Ya, Tuhan!” Kyuhyun menepuk keningnya gusar dan menatapku. “Ayo kabur dari tempat ini!”

“Sejak tadi aku menunggumu mengatakan hal itu.” Kami berdua sama-sama tertawa dan lari dengan cepat sebelum Henry menghampiri kami.

“Yak, kalian mau kemana?! Aku ikut!!”

“Tidak mau!” Seru kami berdua bersamaan dan langsung kabur begitu saja dari acara itu.

Dunia yang dulu hanya ada kami, aku dan Kyuhyun, perlahan akan dimasuki mereka, entah mereka siapa saja. Tapi aku dan Kyuhyun sama-sama sudah sepakat untuk sedikit membuka pintu yang selama ini menjadi pembatas antara kami dan orang lain.

Tidak selamanya kami hanya akan berdua, kami harus belajar menerima kehadiran orang-orang baru yang lainnya. Dan sebelum terlambat, kami akan mulai belajar. Lagipula, aku dan Kyuhyun masih saling memiliki satu sama lain. Jadi kami akan baik-baik saja, kan?

 

FIN~

4 thoughts on “Our World // Part 4 (LAST)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s