Our World // Part 3

Our World

Brothership About Kyuhyun Ryeowook Leeteuk and Henry

by ThenaKim

 

Part 3~

 

Henry’s P.O.V

 

Sialan! Aku ternyata ditipu Hyungdeul baruku itu. Aku tak pernah membayangkan mereka akan memberikan sedikit obat tidur di susu yang kuminun sehingga aku tidak bisa bangun pagi. Teukie Hyung sampai marah-marah padaku karena dia sudah menendangku berkali-kali tapi aku tak kunjung terbangun. Dan yang paling menyiksa adalah sekarang… Kyuhyun Hyung tak mau bicara denganku.

Eh, tunggu! Memang kapan Kyuhyun Hyung mau bicara denganku sebelumnya? Err— Aku bodoh sekali.

Baiklah, kalau satu tak mau bicara, masih ada satu. Mereka kan kembar, jadi kalau satu dekat denganku maka yang satu lagi juga akan menjadi dekat. Tapi.. Bagaimana cara membuat Ryeowook Hyung dekat denganku? Sulit.

“Hyung~” Aku melongok masuk ke kamar si kembar Hyung, panggilan apa ini? Entahlah.

Karena pintunya terbuka begitu saja, jadi tak masalah kan? Siapa suruh tidak menutup pintu kamar. Saat aku melangkah masuk, sungguh, aku baru dua langkah mencoba masuk, ada sebuah bantal yang langsung mendarat di wajahku.

Ya, Tuhan…

“Ugh!”

“Yak! Jangan banting PSP-ku, Bodoh!!” Aku segera menangkap bantal yang tadi mendarat di wajahku sebelum dia terjatuh ke lantai. Dan kini aku melihat Kyuhyun Hyung sudah dengan sibuk naik ke atas tempat tidur Ryeowook Hyung. Dan kakak kembarnya itu sudah bersiap-siap menjatuhkan PSP hitam ditangannya.

“Berikan apa yang aku mau.”

“Ada apa ini?” tanyaku cepat.

“Aku akan memberikannya. Tapi kembalikan PSP-ku!!” Kyuhyun Hyung menjerit frustasi. Wajahnya pucat dan sarat dengan ketakutan. Menurut Tuan Cho, anak itu sangat mencintai PSP-nya. Bahkan ketika buang air di toilet dia pasti membawa benda itu.

Aku mencoba mendekati tempat tidur mereka karena tak satupun yang menyadari kehadiranku. Atau sengaja mengabaikanku?

“Ada apa, Hyungdeul?”

Sontak keduanya menoleh kearahku. Aku berdri tepat di samping Kyuhyun Hyung yang sudah berdiri di tangga tempat tidurnya. Disela beberapa detik itu, Kyuhyun Hyung hampir saja bisa mendapatkan PSP di tangan Ryeowook Hyung kalau saja dia tak segera menjauhkannya dari jangkauan Kyuhyun Hyung.

Kini si evil Hyung menatapku kesal. Hanya beberapa detik dan akhirnya dia meloncat turun dari tangga itu.

“Ada apa?” Ryeowook Hyung yang bertanya kepadaku. Singkat dan datar.

“Eng~ Aku hanya berpikir, bagaimana kalau Hyungdeul bermain denganku? Membosankan dirumah ini sendirian ketika Teukie Hyung pergi ke universitasnya.” gumamku sambil meletakkan bantal yang kupegang tadi ke tempat tidur Kyuhyun Hyung.

Tak ada yang membalas, tapi aku lihat Ryeowook Hyung langsung menatap lurus kearah Kyuhyun Hyung yang juga menatapnya. Seperti biasa, mereka berdua seperti melakukan kontak pikiran.

Hebat… Atau mungkin menyenangkan? Seumur hidup ini pertama kalinya aku berada sangat dekat dengan sepasang anak kembar. Sejak dulu aku berpikir anak kembar itu ajaib. Aku selalu membayangkan bagaimana rasanya jika ada seseorang yang berwajah kembar dengan kita. Pasti hebat.

Yah memang sih dua orang yang akan jadi Hyung-ku ini tidak kembar identik, tapi tetap saja ini sangat hebat. Karena itu aku sangat berharap bisa masuk ke dunia mereka yang katanya sih tidak pernah tertembus.

Ryeowook Hyung kembali menatapku. “Maaf. Aku dan Kyuhyun mau pergi.” Pemuda itu langsung meloncat turun dari atas tempat tidurnya kemudian merapihkan kemeja hitam yang dipakainya.

“Yak!!” Kutahan tangan Ryeowook Hyung segera dan dia menatapku. “Kalian harus menemaniku. Ini minggu keduaku hidup disini dan aku selalu merasa bosan. Kenapa tidak mau bermain denganku?” tanyaku sambil menatapnya dengan puppy eyes yang pernah kupelajari sejak kecil. Eh? Bukankah semua manusia juga bisa jurus ini? Ah, abaikan!

Tapi tampaknya puppy eyes-ku tak berpengaruh apapun. Kyuhyun Hyung justru menarik tangan Ryeowook Hyung. Kembali kutarik tangan Ryeowook Hyung dan dia menariknya lagi.

“Lepaskan!” Ryeowook Hyung menyentak kedua tangannya lalu menatapku. “Pertama, kami tak mau ada orang yang selalu mengekor kemanapun kami pergi. Kedua, kami tidak suka kau selalu ingin ikut campur dalam urusan kami.”

Aku mengerutkan keningku karena kesal. “Kenapa selalu kami? Kenapa tidak aku, atau kita? Kenapa kalian selalu berdua? Aku kan juga ingin ikut dan mengenal kalian lebih jauh. Lagipula, kalau kalian tidak mau menemaniku, aku akan duduk seharian di kamar ini!” Segera aku duduk dilantai sambil melipat kedua tanganku, menatap mereka dengan tatapan menantang. Tentu saja mereka berdua memandangiku tak percaya.

Ryeowook memutar bola matanya dan mengabaikanku. Tapi Kyuhyun Hyung menahannya.

“Yang benar saja, aku tak mau dia dikamar kita seharian!” gerutunya kepada kakak kembarnya itu.

Ayo~ Ayo~ Kalian berdebatlah dan ajak aku~

“Kalau begitu ambil saja kunci kamar kita dan kunci dia di dalam.”

Ehhh?

Kyuhyun Hyung menoleh kearahku sejenak.

“Kalian… Tidak akan melakukannya, kan?”

“Kenapa tidak?” Ryeowook Hyung tersenyum kecil sambil melangkah keluar.

Sebelum aku sempat berdiri, dengan sangat cepat Kyuhyun Hyung sudah berlari keluar dan pintu kamar itu ditutup tepat sebelum aku menahan knopnya agar tidak terkunci. Aku terlambat. Aku dikurung. Dari luar aku mendengar suara tawa Kyuhyun Hyung yang sepertinya sangat senang.

Si kembar itu… Arrgh~

Sekali, kudengar suara ketukan halus.

“Pertama, tak ada kata kita. Bagi kami, hanya ada kata kami.” Suara Ryeowook Hyung. “Dan kedua, kau akan terkunci sampai kami kembali, jika kau mau keluar loncat saja dari jendela. Sampai jumpa, Henry.” Berikutnya yang terdengar adalah suara tawa dan langkah kaki yang menjauh.

Ukh!

Aku kembali duduk di lantai sambil berbalik menatap jendela.

Pertama, aku kesal karena mereka selalu bisa mengerjaiku. Kedua, sepertinya aku memang harus keluar dari jendela. Lalu terakhir… Aku memperhatikan kamar berukuran sedang itu. Humm.. Ketiga, kamar mereka tampak tidak semenyebalkan kepribadian mereka. Kamarnya tertata rapih dan terurus. Penuh dengan barang-barang yang tampak normal seperti buku, tumpukan CD musik, hiasan kamar lainnya juga dindingnya dipenuhi beberapa foto.

Sejak awal aku memang tahu kalau mereka tidak menyebalkan. Mereka bertindak begitu karena tak bisa menerima kehadiranku dan Teukie Hyung secara terbuka. Aku yakin, aku akan bisa dekat dengan mereka.

Aku tahu aku bisa.

xXx

Soohyun tertawa ketika aku menceritakan apa yang terjadi kemarin di rumah. Soohyun adalah satu-satunya temanku di sekolah baru ini. Maksudku, dia satu-satunya orang yang mau dekat denganku. Aku tak terlalu tahu, tapi saat mereka tahu aku akan menjadi saudara tiri si kembar, mereka jadi enggan dekat denganku. Kata Soohyun, sih… Kedua Hyung itu sangat terkenal karena kemana-mana selalu berdua, berpisah kalau Ryeowook Hyung ada rapat saja, dan kalau ada orang yang membuat mereka kesal, mereka akan menjahilinya. Err– Aku, dong?

Karena itu mereka malas berurusan denganku.

Temanku itu merapihkan rambut kecoklatannya dan memegangi perutnya yang mungkin terasa sakit. “Jadi, kau keluar dari jendela?”

“Mau tidak mau.” jawabku gusar. “Aku tak tahu bagian mana yang lucu, tapi Teukie Hyung juga menertawaiku semalam ketika aku bercerita kepadanya.” lanjutku sambil menendang kaki Soohyun yang kembali terkekeh geli.

“Henry~ Kau itu terlalu nyolot! Kau tahu kan kalau kemungkinan mereka luluh terhadap kenaifanmu itu hanya satu persen, kenapa masih mencoba? Aku tak tahu kau itu bodoh atau kelewat gigh.”

“Aku ini gigih dan pantang menyerah!” balasku kesal. “Akan kubuat mereka berdua menerimaku.”

Tiba-tiba ponselku berdering samar, ada sebuah pesan. Saat kulihat ternyata pesan dari Teukie Hyung.

-Hey, kau mau main ke taman bermain sepulang sekolah? Aku punya empat tiket Lotte Park. Bagaimana kalau kita kesana dengan si kembar?-

Waaaah~ Taman bermain!

Tunggu! Tapi bagaimana caranya Hyung mengajak mereka?

Buru-buru aku mengetik pesan balasan untuknya. –Bagaimana caranya Hyung mengajak mereka?-

Tak lama, aku sudah mendapat balasan lagi. –Tenang saja- ^^-

Segera kututup flat ponselku sambil menatap guru yang masuk ke kelas kami.

Teukie Hyung punya rencana apa?

xXx

“Dimana kakakmu?” Ryeowook Hyung langsung bertanya kepadaku saat aku keluar dari gerbang sekolah. Disampingnya, Kyuhyun Hyung menatapku dengan pandangan ingin membunuh.

Ada apa?

Aku mengangkat bahu. “Aku tidak tahu, tapi tadi Teukie Hyung bilang ingin mengajak kita ke taman bermain.”

Setelah mendengar jawabanku, Ryeowook Hyung terkekeh sambil menoleh menatap Kyuhyun Hyung yang mukanya makin masam. “Kau dengar itu, Bodoh? Dia benar-benar ingin membawa kita ke taman bermain. Lebih baik turuti saja kemauan orang tua itu.”

Hey, hey, Hyung-ku masih dua puluhan tahu…

Kyuhyun Hyung mendengus. “Kalau PSP-ku sampai rusak. Aku berani bertaruh adiknya akan menjadi orang pertama yang kuhabisi. Ayo pergi kesana, Ryeo!” Dia langsung berjalan meninggalkanku dan Ryeowook Hyung sambil menendang kerikil. Dia benar-benar marah dan ancaman tadi mampu membuatku merinding.

Apa yang sudah Teukie Hyung lakukan?

“Kakakmu itu mengambil PSP Kyuhyun dan bilang akan membuang PSP itu kalau kami berdua tidak datang ke Lotte Park sekarang.” Ryeowook Hyung berbicara sebelum aku bertanya apapun kepadanya. Sepertinya itu cara agar aku tak banyak bertanya. Segera dia berjalan cepat menghampiri Kyuhyun Hyung yang sudah cukup jauh.

Mwoe?? Teukie Hyung nekat sekali! Mengambil PSP Kyuhyun Hyung adalah perbuatan terlarang, sepertinya. Dan dia mengambilnya. Dan AKU yang akan menjadi BAYARANNYA! Oooi, Hyung! Kalau Kyuhyun Hyung tak menghabisimu, aku yang akan melakukannya!

“Apa yang kau lakukan?! Cepat ikuti kami! Memangnya kau tahu dimana letak Lotte Park dari sekolah ini?” Ryeowook Hyung berseru memanggilku.

Tanpa kusadari mereka sudah sangat jauh. “Tunggu!” Buru-buru aku berlari mengejar keduanya.

xXx

Lotte Park, jam enam sore… Telat pulang ke rumah, deh.

“Dimana si bodoh itu!” Kyuhyun Hyung sejak tadi sudah marah-marah. Mengatai Hyung-ku dengan kata si bodoh, si tua bangka, si tukang ikut campur dan si-si-si lainnya. Dan disampingnya Ryeowook Hyung hanya menertawainya tanpa memberi penyangkalan atau menambahkan.

Lalu aku… Berdiri ketakutan karena terkadang Kyuhyun Hyung melirikku sangat buas. Hanya karena sebuah PSP, lho…

“Teukie Hyung. Namanya Teukie Hyung, bukan si bodoh.” Kuberanikan diri berbicara.

“Ryeo! Telepon dia!” Dan Kyuhyun Hyung mengabaikanku.

“Tidak mau.”

“Ukh! Kau harus menelepon dia!”

“Kau saja yang telepon.”

“Aku juga tidak mau!”

“Yah kalau begitu diam saja dan tunggu disini.”

“Kau menyebalkan sekali!!”

“Sama sepertimu, kan?” Terakhir, Ryeowook Hyung hanya mengulas senyum santai.

Demi apapun, yang satu emosional yang satu super santai. Ini benar-benar hal yang terkadang bisa menjadi tontonan baru dalam duniaku.

Tak lama kemudian, si pembuat masalah datang. Aku segera menghampiri Teukie Hyung yang sudah berlari menghampiri kami bertiga.

“Maaf membuat kalian menunggu. Ada hal yang harus kukerjakan.” ujarnya sambil berjalan kearah loket tiket. Otomatis kami bertiga segera mengikuti langkahnya.

Sebelum Teukie Hyung masuk ke Lotte Park, Kyuhyun Hyung menahan tangannya. “Mana PSP-ku?”

“Ada padaku. Kau harus ikut masuk untuk menemukannya.” Dengan sangat cepat Hyung-ku itu menarik tangan Kyuhyun Hyung, mengamit pundaknya sambil mengacak rambut coklatnya. Tentu saja Kyuhyun Hyung meronta tak terima diperlakukan seperti anak kecil. Tapi Teukie Hyung tak melepaskannya dan menyeretnya masuk.

Aku berjalan berdampingan dengan Ryeowook Hyung. “Dasar kakak-beradik paling gigih.”

Aku berhenti saat mendengar Ryeowook menggumamkan sesuatu dan berhenti sebelum masuk ke Lotte. “Kau bicara apa, Hyung?”

“Masuk.” Dia dengan cepat mendorong pantatku dengan kakinya agar masuk.

Ryeowook Hyung memang bertubuh kecil, tapi menyebalkan dan kurang ajarnya tak kalah jauh dengan Kyuhyun Hyung. Huh…

xXx

“Kembalikan PSP-ku!”

Aku dan kedua Hyung lainnya sontak menoleh kearah Kyuhyun Hyung yang kembali menadahkan tangannya kearah Teukie Hyung. Kami baru tiga puluh menit berada di Lotte Park dan sudah hampir sepuluh kali Kyuhyun Hyung melakukan hal itu. Dan jawaban dari Teukie Hyung…

“Sudah kukatakan bersabarlah. Aku akan memberikannya nanti.” jawabnya santai.

Teukie Hyung nekat…

“Kalau sesuatu yang buruk terjadi, misalnya tak sengaja kau merusakkan PSP-ku karena itu kau membawa kami jalan-jalan kesini, maka aku akan balas dendam. Dan adikmu itu yang pertama jadi korbanku.” ancamnya dingin sambil mendelikkan matanya penuh dengan emosi.

Aku berusaha menahan tawaku, tapi Ryeowook Hyung sudah terkekeh lepas. “Oh ayolah, Kyu! Jangan berlebihan!” tawanya sambil menendang kaki Kyuhyun Hyung dan dibalas dengan death glare darinya.

Teukie Hyung hanya terkekeh. “Ah, roller coaster. Henry, kau takut ketinggian, kan? Mau naik itu?” usulnya sambil menyikut lenganku pelan.

“Hyung tahu aku benci ketinggian tapi masih mengusulkan. Yang benar saja…”

“Sudah enam belas tahun tapi tidak berani naik roller coaster? Kau kekanakkan sekali.” Kali ini Ryeowook Hyung yang meledekku.

Aku hanya memutar bola mataku ke tempat lain, mencari makanan yang enak dan bisa kubeli secepatnya mengingat perutuku sudah sangat kelaparan. Mataku teruju pada pedagang burger. “Hyung! Aku mau burger! Aku beli itu dulu, ya.” Segera aku berlari menghampiri tukang burger itu dan memesan. Untung tidak terlalu ramai.

Sejenak aku berpikir lagi, kenapa si kembar Hyung benar-benar tak mau menerima orang lain masuk ke dunia mereka? Apa mereka kembar jadi mereka saling memahami satu sama lain sehingga tak ada seorangpun yang bisa memahami mereka? Padahal akan sangat menyenangkan kalau sekarang kami berempat bisa bermain bersama tanpa ada death glare atau ucapan ketus apapun.

“Ini.” Tak sadar si paman burger sudah menyodorkan kepadaku pesananku.

Aku membayarnya lalu segera mengambil sambil mulai memakan burger-ku. Mendekati ketiga Hyung yang hanya diam. Sebenarnya Teukie Hyung yang diam, Ryeowook dan Kyuhyun Hyung sibuk berargumentasi satu sama lain. Yang satu marah-marah ingin pulang, yang satu menertawainya.

“Aku kesal. Aku pulang sekarang saja!” Akhirnya Kyuhyun Hyung memutuskan.

“Kalau pulang sekarang, PSP-mu tak akan kau temukan.” Ancaman itu membuat Kyuhyun Hyung menoleh kearahnya dengan tatapan marah. Tapi Hyung-ku hanya mengulas senyum santainya. “Ini taruhan. Sejak masuk ke tempat ini kita sudah bertaruh.”

Taruhan…?

“Kalau kalian berdua bisa bertahan disini, bersama kami, maka PSP Kyuhyun akan kembali. Tapi jika salah satu atau kalian berdua memutuskan pulang begitu saja, maka PSP itu akan kubuang. Taruhan yang mudah, bukan?”

Taruhan yang melibatkan satu pihak. Itu sih bukan taruhan namanya… Aku tak mau ambil bicara dan hanya sibuk mengunyah burger-ku. Bisa kulihat si kembar Hyung kini saling berpandangan tak terima.

“Taruhan tanpa kompromi, itu curang namanya!” Kyuhyun Hyung emosi.

“Bukankah kalian juga selalu curang kalau melakukan taruhan?” Knock down. Kedua Hyung itu langsung diam.

Hyung-ku terkadang sangat jenius. Tapi nekat…

Aku membuang bungkusan burger ke tempat sampah. “Daripada bertengkar, bagaimana kalau kita naik wahana?” usulku akhirnya.

Kyuhyun Hyung menatapku sekilas. Tatapannya aneh, aku tak tahu apa yang dipikirkannya. Tapi detik berikutnya dia sudah menarik Ryeowook Hyung agar mendekatinya dan membisikkan sesuatu yang tak bisa kudengar. Mereka saling berpandangan selama beberapa detik sampai akhirnya Kyuhyun Hyung menoleh kearah Teukie Hyung sambil tersenyum licik.

“Baiklah. Kalau begitu bagaimana kalau ditambah satu taruhan lagi?” tawarnya.

“Apa yang dipertaruhkan?” Teukie Hyung bertanya cepat.

“Taruhan kali ini… Jika kami menang, maka kami akan segera pulang dari tempat ini dan aku mendapatkan kembali PSP-ku. Kalian bisa menentukan apa yang kalian inginkan kalau kalian yang menang.”

“Hebat! Kalau begitu aku mau kalian berdua menerima kami!!” Aku langsung berseru dengan semangat. “Aku terima taruhan itu!”

“Bodoh! Sudah kubilang jangan asal mengambil keputusan. Dia belum bilang mau bertaruh bagaimana, kan?” Teukie Hyung segera menjitak kepalaku. Aku salah bicara. Hyung-ku itu langsung menoleh kearah Kyuhyun. “Lalu apa yang akan kita lakukan?”

Ryeowook Hyung menunjuk kearah roller coaster tinggi yang berada tak jauh dari kami. “Kita naik roller coaster itu. Kalau Henry bisa bertahan, itu artinya kalian menang. Tapi jika Henry muntah atau pingsan, itu artinya kami yang menang.”

“Curang! Kalian tahu aku benci ketinggian, kan?!”

Keduanya hanya terkekeh. Ryeowook Hyung tersenyum kecil. “Bukankah kau sudah menerima tantangan ini? Mau batal? Itu artinya aku dan Kyuhyun yang menang. Gampang saja, kan…?” balasnya santai.

Aku menggigit bibir bawahku. Kutatap roller coaster menakutkan itu. “Baiklah.”

xXx

Dan pada akhirnya disinilah aku berada. Di atas sebuah roller coaster yang beberapa menit lagi akan bergerak, membawaku melintasi rel yang tampak sangat menakutkan di malam hari, di tempat yang tinggi!

Jantungku tak bisa berhenti untuk berdetak cepat. Olahraga jantung, begitu aku mengatakannya. Sial…

“Apa kau takut?” Teukie Hyung bertanya. Dia duduk dibelakangku, bersama dengan Ryeowook Hyung. Sedangkan yang duduk disampingku adalah Kyuhyun Hyung.

Tentu saja aku mengangguk cepat. “Sangat takut.”

“Dan kami akan menang.” Kyuhyun Hyung bergumam. “Hey, aku mau duduk bersama Ryeowook!” Dia menoleh kebelakang dengan suara kesal. Aku tak tahu raut wajahnya karena aku enggan menoleh kebelakang.

Kudengar Teukie Hyung tertawa. “Curang. Tentu tidak boleh bersama teman satu tim. Kalau aku bersma  Henry dan anak itu muntah atau pingsan, kan bisa saja aku menutupinya dari kalian.” Hyung-ku ini sangat jujur atau bodoh, sih?

Gesekan halus dari roller coaster itu mendadak membuat jantungku berdegup kencang. Aku agak terkejut dan nyaris menjerit. Kupegang besi pengaman tempat duduk itu erat. Jika bisa bicara, mungkin besi itu akan memakiku karena kesakitan. “Su-sungguh… Ha-haruskah kita naik benda ini. A-aku mau turun…” Suaraku pasti terdengar ingin menangis.

“Anak kecil.” Aku bisa mendengar Ryeowook Hyung meledekku lagi tapi aku tak bisa menoleh karena detik itu juga si roller coaster bergerak naik.

“HUAAAA!”

“Berisik!! Benda ini baru bergerak naik!” Kyuhyun Hyung membentakku.

Tapi aku kan takut! Masa aku diam saja!

Perlahan namun pasti, kami semakin naik ke atas. Saat berada di atas lintasan itu, roller coaser berhenti bergerak. Aku bisa merasakan jelas terpaan angin yang menyentuh tubuhku dan kini terhampar pemandangan Lotte Park yang sangat luas dan dipenuhi lampu-lampu dari berbagai wahana. Indah… Tapi sayangnya aku tak bisa menikmati keindahan ini…

Detik berikutnya, roller coaster kembali bergerak… TURUN!

“HUAAAAAAA!!!!!” Tubuhku terbanting kesegala arah ketika roller coaster itu menukik melintasi lintasannya. Angin yang SANGAT kencang menerpa tubuhku. Rasa-rasanya nyawa dan tubuhku tidak bersatu. Sepertinya pakaian yang kukenakan nyaris terlepas karena angin kencang. Apapun itu, INI SANGAT MENAKUTKAN!!

Aku tak bisa berhenti menjerit ketakutan dan aku bahkan tak berani membuka mataku.

Entah berapa menit, tapi akhirnya roller coaster itu bergerak melambat. Dengan gemetar dan nyaris menangis, aku membuka mataku. Melihat akhir dari lintasan menakutkan itu. Ini sudah berakhir, kan…?

Roller coaster itu berhenti. Dan aku…

“Hey, Henry kau baik-baik saja, kan?”

Aku…

“Dia pingsan dengan mata terbuka?”

Dan aku…

“Hey. Ayo bicara.” Seseorang, sepertinya Kyuhyun Hyung, menggerakkan tubuhku.

“Hoekk!!” Dan aku muntah.

xXx

Aku membuka pintu toilet dan melihat Kyuhyun Hyung sudah menatapku. Wajahnya tampak kesal, tapi dia juga tampak khawatir.

“Kau baik-baik saja?” tanyanya ketus.

Aku mengangguk sambil menghampirinya kearah westafel, membasuh mulutku sambil meliriknya yang sedang membersihkan kemeja sekolahnya yang kotor terkena muntahanku. “Maaf seragammu jadi kotor, Hyung.”

“Kau berhutang kepadaku.” balasnya. “Kalau tahu aku yang akan terkena muntahanmu, aku tak akan mengusulkan taruhan konyol itu. Ah, sudahlah. Yang penting aku bisa pulang dan aku bisa mendapatkan PSP-ku kembali.” Dia langsung mengacak rambutnya kesal. “Dan ini, Ryeowook menyuruhmu memakai ini. Bajumu kotor karena muntah menjijikan itu.” Dia menyodorkan kepadaku hoodie yang tadi dipakai Ryeowook Hyung.

“Lalu bagaimana denganmu?”

Kyuhyun Hyung membuka seragamnya dan sudah memakai t-shirt biru laut dibalik kemejanya. “Lihat, aku orang yang selalu waspada.” gumamnya terdengar bangga pada dirinya sendiri.

Aku hanya tersenyum. Tapi detik berikutnya aku langsung mematung. Tunggu… Tadi Kyuhyun Hyung bicara kepadaku?

“Kenapa melamun? Ayo cepat pakai agar aku bisa keluar! Aku tak mau kau mendadak pingsan dikamar mandi, Bodoh!” gerutunya lagi sambil menggulung seragamnya dan menentengnya.

“Hyung…?”

“Apa?!”

“Kau barusan bicara padaku?”

“Kau pikir dengan siapa lagi aku bicara kalau…” Mendadak Kyuhyun Hyung terdiam dan memandangiku.

“Kau akhirnya mau bicara lagi denganku!!” Buru-buru aku memeluk Hyung-ku itu sekilas dan tentu saja dia langsung meronta. Sebelum ditendang, aku segera melepaskannya. Menatapnya dengan tatapan bahagia. Ini hebat!

Wajah Hyung-ku itu sudah memerah. “Sial…”

“Berarti hadiah pertaruhan minggu lalu sudah hangus. Aku kira kau tak akan bicara denganku lagi selamanya. Yeah! Ada untungnya juga aku muntah, ya?”

“Jorok!!” Kyuhyun Hyung menatapku kesal. “Sudah jangan banyak bicara. Ayo keluar!” Dengan langkah gusar dia langsung meninggalkanku.

Aku masih terkekeh memperhatikan wajahnya yang memerah karena malu. Dan segera aku menyusulnya keluar dari kamar mandi. Di luar kulihat Ryeowook Hyung dan Teukie Hyung sudah menunggu kami. Kira-kira mereka bicara soal apa selama berdua tadi?

“Kau baik-baik saja?” Teukie Hyung bertanya.

Aku mengangguk. “Aku pinjam hoodie-mu, Hyung.” ujarku kearah Ryeowook Hyung dan dia hanya mengangguk.

“Aku pulang sekarang. Mana PSP-ku?” Kyuhyun Hyung kembali menadah kearah Teukie Hyung.

Sontak Hyung-ku itu tertawa dan kelakuannya membuat kami bertiga menatapnya keheranan. “Sejak awal aku tak mengambil PSP itu. Aku hanya mengerjai kalian berdua karena aku tahu Kyuhyun tak mungkin mengecek ke rumah kalau kubilang aku mengambil PSP-nya. PSP itu ada di kamarmu. Tidak kusentuh sedikitpun.”

APA?!!

Kedua Hyung itu melotot tak percaya.

“Apa?! Jadi kau mengerjaiku?!”

“Tak ada yang rugi, kan? Toh kita bersenang-senang disini.” Teukie Hyung masih terkekeh.

Sontak aku dan Ryeowook Hyung langsung tertawa, sedangkan Kyuhyun Hyung wajahnya sudah benar-benar kesal. Kembarannya langsung merangkul pundak Kyuhyun Hyung sambil memukul lengannya, menggodanya.

“Bagus bukan, Kyu? Ini pertama kalinya kau dikerjai seseorang. Manis juga.” godanya.

“Sial. Menjauh kau, Ryeo!”

Ryeowook Hyung tertawa semakin keras.

“Ayo kita pulang. Aku tadi meminjam mobil ayah kalian, jadi kita tak perlu naik bus.” ujar Teukie Hyung lagi.

Kyuhyun Hyung memutar bola matanya. “Apa-apaan ini? Appa tak pernah mengizinkanku meminjam mobil.”

“Kau kan tak punya SIM.” Ryeowook Hyung menendang kakinya pelan dan Kyuhyun Hyung langsung berbalik, berjalan meninggalkan kami bertiga. Ryeowook Hyung langsung menoleh kearah kami. “Untuk malam ini, rasa-rasanya aku tak merasa buruk. Yah… Ini cukup menyenangkan.” gumamnya singkat lalu berjalan cepat menyusul Kyuhyun Hyung.

Aku hanya tersenyum kecil dan perlahan Teukie Hyung menarik pundakku, mengacak rambutku sambil terkekeh. “Kau hebat juga, Henry. Maaf sudah membuatmu pusing karena naik roller coater. Dan maaf karena akhirnya kita kalah dan mereka masih belum menerima kita.”

“Tak apa, Hyung. Yang penting Kyuhyun Hyung sudah mau bicara lagi denganku.” jawabku cepat sambil terkekeh.

xXx

Kami sampai di rumah jam sepuluh malam. Ini sudah sangat malam dan aku benar-benar lelah. Bau bekas muntahan di seragamku dan Kyuhyun Hyung juga sudah menguar kemana-mana ketika kami keluar dari mobil.

Kedua anak kembar itu berjalan mendahului kami masuk. Saat aku dan Teukie Hyung masuk, kulihat Eomma dan Cho Ahjussi sudah berada di ruang keluarga.

“Kalian sudah pulang?” sapa Cho Ahjussi ramah.

“Selamat malam, Ahjussi.” Aku balas menyapa tapi kedua putranya justru tak mau peduli.

Sebelum mereka menaiki tangga menuju lantai, Cho Ahjussi segera menghentikan langkah keduanya dengan mengatakan, “Tunggu.”

Mereka menoleh kearah ayahnya.

“Berhubung kalian berempat ada disini, lebih baik aku mengatakannya sekarang saja.” Cho Ahjussi dan Eomma berdiri dan saling berdampingan. Keduanya tersenyum bahagia dan aku bisa menebak mereka akan menyampaikan berita bahagia. Mungkinkah…

“Kami akan segera menikah.” lanjutnya. “Satu minggu lagi…”

Waaaww… Ini hebat!

“TIDAK BISA!!” bentakan kasar itu membuat kebahagiaan yang tadi kurasakan pudar. Aku melihat kearah Kyuhyun Hyung yang sudah menatap tak percaya dengan tatapan marah.

“Kyuhyun…?”

“Yang benar saja.” Pemuda itu langsung berlari menaiki tangga dan menghilang dihadapan kami semua dan berkutnya kudengar suara pintu kamar yang ditutup kasar. Tinggal Ryeowook Hyung yang berdiri di ambang tangga sambil menatap ayahnya dengan tatapan yang sulit kupahami.

Sarat dengan luka…

Dari tempatku, bisa kulihat dia menggigit bibir bawahnya lalu berjalan cepat menaiki tangga.

Teukie Hyung merangkul pundakku agar mendekatinya. “Ini akan sedikit sulit, Henry…”

Padahal… Baru saja kami berempat sedikit lebih dekat…

One thought on “Our World // Part 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s