OUr World // Part 2

Our World

Brothership about Kyuhyun, Ryeowook, Leeteuk and Henry.

by ThenaKim

 

Part 2~

 

Leeteuk P.O.V

 

Tebakanku tepat. Tepat sekali. Sejak awal Eomma memang sudah mengatakan kalau Kyuhyun dan Ryeowook adalah anak kembar yang tampak jelas tak mau Appa-nya menikah lagi. Tapi keduanya juga tak ada yang mengutarakan pendapatnya, karena itu Eomma mengatakan kepadaku untuk bersabar menghadapi kedua anak kembar itu. Eomma sudah yakin kalau Ryeowook dan Kyuhyun pasti akan bersikap acuh terhadap kami. Jelas terlihat saat Henry mau menjabat tangan Kyuhyun semalam.

Dan pagi ini… Kedua anak itu hanya sibuk sendirian sebelum berangkat ke sekolah. Sayangnya adikku masih berusaha mendekati mereka. Ini pertama kalinya kulihat Henry seperti ini. Dia sangat tertarik dengan si kembar.

“Hey, hey, mulai hari ini aku sekolah di sekolah yang sama dengan kalian. Kata Eomma kalian kelas dua, aku masih kelas satu. Apa itu artinya aku harus memanggil kalian berdua Hyung? Atau aku harus memanggil kalian tanpa Hyung agar terkesan lebih akrab seperti teman begitu~?”

Henry masih saja mengoceh~ Aduuhh…

Kulihat Kyuhyun melirik Henry ogah-ogahan. Jangankan Kyuhyun, aku terkadang suka sebal kalau mendengar adikku itu tidak bisa berhenti mengoceh tidak jelas.

“Ryeowook, tolong ambilkan PSP-ku.” ujar Kyuhyun akhirnya. Mengabaikan Henry.

“Kau punya dua kaki yang sehat, kan? Ambil saja sendiri.” balas Ryeowook tak peduli sambil menarik ranselnya dan tatapan matanya tertuju padaku. Tadinya aku ingin menegurnya, tapi dia buru-buru mengalihkan tatapannya.

Mereka benar-benar sehati.

“Kalian sudah berkumpul?” Tuan Cho akhirnya turun dengan Eomma. “Ayo kita sarapan.”

“Aku harus jalan lebih awal.” Kini kulihat Ryeowook menendang kaki Kyuhyun diam-diam, seakan tengah mengisyaratkan sesuatu kepada adik kembarnya dan lebih dulu berjalan keluar dari ruang tamu.

Tentu saja Tuan Cho buru-buru menghentikannya dengan mengatakan, “Tidak bisakah kalian menunggu Henry? Ini hari pertamanya di sekolah.”

“Tapi aku tidak bisa menunggu sampai selesai sarapan!”

“Apalagi kalau ternyata dia sarapan seperti bayi.” Kyuhyun menambahkan sambil menarik ranselnya dan menentengnya dipunggungnya. “Ayo, Ryeo!”

Olala~ Si kembar berusaha mencari alasan untuk kabur.

“Tunggu!”

Sontak kali ini aku menoleh kearah Henry. Adikku itu sudah tersenyum polos seperti biasa sambil buru-buru memakai tas ranselnya lalu berlari menghampiri si kembar. “Aku tidak usah sarapan tidak apa-apa, kok. Ayo kita berangkat, Hyungdeul.”

Kyuhyun dan Ryeowook saling berpandangan. Diawali oleh Ryeowook yang akhirnya mengangkat bahu dan Kyuhyun juga ikut mengangkat bahu. Si kembar ini suka sekali bicara dengan bahasa isyarat yang tak kupahami. Akhirnya tanpa bicara apapun keduanya berjalan lebih depan dan mengabaikan Henry yang hanya mengekor dibelakang.

Setelah suasana agak tenang, kuputuskan duduk di meja makan bersama Eomma dan Tuan Cho yang tidak tahu harus mengatakan apa untuk menghadapi kedua anak kembar dan Henry itu.

“Bagaimana tanggapanmu, Jungsoo?” Tuan Cho bertanya kepadaku.

Aku hanya tersenyum kecil. “Seperti yang Anda katakan, mereka berdua benar-benar memiliki dunia yang tak bisa ditembus. Tapi sepertinya Henry tak mau menyerah begitu saja.” gumamku sambil mulai menyendok sup macaroni di mangkukku. “Tapi Tuan Cho sudah memberikan padaku semua rahasia dan kebiasaan mereka. Aku rasa aku sudah bisa sedikit memahami mereka.”

Tuan Cho terkekeh sambil membuka koran paginya. “Kau boleh mendekati mereka dengan cara apapun. Itupun kalau kau bisa. Dan satu hal lagi, berhentilah memanggilku Tuan dan berbicara dengan bahasa formal padaku. Aku akan menjadi ayahmu.”

“Kucoba.” balasku santai sambil kembali sibuk menyantap sarapanku.

Mendekati si kembar, ya…

xXx

Kuliahku dimulai minggu depan. Sebelumnya, kami semua tinggal di Cheonan dan aku kuliah di Chungnam. Tapi sekarang aku akan mulai melanjutkan studi di Inha. Bagiku tidak akan menyulitkan berpindah-pindah, tapi tidak bagi Henry. Di sekolah hanya Kyuhyun dan Ryeowook yang dikenalnya, aku ragu kalau si kembar akan membantunya. Pasti tidak.

Ah~ Aku terlalu sibuk dalam lamunanku. Kulirik jam tanganku, sudah hampir jam enam sore dan ketiga anak itu belum ada yang pulang. Tak mungkin kan aku menjemput mereka? Memang berapa usia mereka? Ckckck~

“Hyuuung~”

Henry pulang?

Kulihat wajah adikku itu sudah tampak sangat lelah. Melihatku duduk di sofa, dia langsung menjatuhkan tubuhnya disampingku sambil memanjangkan kakinya. Satu tangannya terus mengipas wajahnya yang penuh keringat.

“Kau kelihatan sangat lelah? Mana Kyuhyun dan Ryeowook? Kalian tidak pulang bersama?”

Mata coklatnya buru-buru menatapku gusar. “Ya, Tuhan, Hyung! Aku sudah mengikuti mereka seharian tapi ternyata Ryeowook Hyung ada rapat. Kuputuskan mengikuti Kyuhyun Hyung eh dia malah nyangkut di game center dengan temannya yang sangat jangkung! Aku lelah akhirnya pulang duluan agar tidak telat. Capeknyaaaa~”

Seperti yang dikatakan Tuan Cho, Kyuhyun sangat suka ke game center dan Ryeowook yang suka berorganisasi sering pulang terlambat karena ikut rapat.

Kulirik lagi jam tanganku. “Baiklah.” Akhirnya aku berdiri sambil menarik resleting jaketku sampai menutupi leherku. Kutatap Henry yang sudah memandangiku penuh penasaran. “Kau mau ikut aku?”

“Mau apa?” Kedua alisnya berkerut.

Aku hanya tersenyum kecil. “Menyeret si maniak game pulang tepat waktu.”

xXx

Disinilah aku dan Henry berdiri, di depan sebuah game center yang cukup besar. Bahkan dari depan saja suara bisingnya sudah terdengar. Suara mesin semua bergabung menjadi satu dan jujur saja membuat telingaku terasa pekak. Sangat pekak. Bagaimana bisa Kyuhyun bertahan di tempat seriuh ini? Benar-benar.

“Hyung mau masuk?” Henry menyenggol lenganku.

Aku segera mengangguk dan berjalan meninggalkan Henry. Bisa kudengar anak itu akhirnya mengekor dibelakangku. Saat kami berdua masuk, suara mesin terdengar semakin berisik. Tempat itu sangat penuh dan cukup pengap mengingat terlalu banyak anak-anak yang bermain di dalamnya. Belum lagi kotak-kotak permainan yang beragam membuat tempat itu terkesan sempit.

“Bagaimana caranya ada orang tergila-gila dengan tempat ini? Aku lebih suka main game di computer atau PSP.” Henry berbisik cukup dekat bagiku agar bisa kudengar.

Tanpa mencari, aku bisa menemukan Kyuhyun dengan mudah. Pemuda berambut coklat ikal itu sedang asyik di kotak starcraft. Sepertinya tengah bertanding dengan seseorang yang duduk disampingnya karena kuperhatikan sesekali Kyuhyun melirik kearahnya. Dan Ryeowook sedang bersandar di tiang sambil mendengarkan musik.

Kudekati Ryeowook sambil mencolek bahunya. Dia tak sadar. Berikutnya kupukul lengannya pelan dan barulah dia menoleh sambil melepas earphone yang dipakainya. Kedua matanya tampak kaget, kedua alisnya tertaut keheranan.

“Kenapa kau ada disini?” Matanya melirik kearah Henry disampingku yang hanya nyengir.

Aku tersenyum sambil mengusap rambutnya. Tentu saja Ryeowook agak terkejut dengan apa yang kulakukan. Tanpa menjawabnya kualihkan pandanganku kearah Kyuhyun dan kuhampiri anak itu.

“Kyuhyun, ini sudah waktunya untuk pulang!” Aku harus bicara agak kencang agar dia memperhatikanku. Namun bukannya Kyuhyun, justru pemuda disampingnya yang menghentikan permainannya.

Kulirik dia dan dia menatapku kaget. Dia menoleh kearah Ryeowook. “Siapa dia?”

Kupandangi lagi Kyuhyun. “Hey, kau tidak mendengarku?” Kuposisikan kepalaku tepat dihadapan wajahnya dan rupanya cara ini mampu membuat Kyuhyun terlonjak kaget sampai mundur sedikit.

“Yak!! Jangan mengagetkanku!”

“Ayo pulang.” ulangku.

Anak itu menoleh kebelakang untuk melihat kakak kembarnya lalu menatapku lagi. Seperti habis melakukan kontak pikiran atau apalah, aku tak bisa menebak apa yang dipikirkan mereka, Kyuhyun kembali tersenyum sambil menyeringai aneh.

“Kau mau menyeretku pulang?”

“Seperti itulah..” jawabku.

Kini Kyuhyun terkekeh. “Kalau kau atau adikmu itu berhasil mengalahkanku di permainan Starcaft, aku akan pulang. Tapi jika tidak, kalian harus membayarkan total jam sewa permainanku hari ini. Bagaimana?”

Tantangan…

Sebelum aku menjawab Henry sudah menarik tanganku dan dia tersenyum penuh yakin. Lagi-lagi anak ini merasa terlalu tertarik dengan apa yang Kyuhyun katakan. “Aku yang akan melawanmu.” jawabnya semangat.

“Wow… Selama ini belum ada yang bisa mengalahkan Kyuhyun.” Pemuda disampingku yang menanggapi. Dia turun dari kotak permainannya dan membiarkan Henry menggantikan posisinya.

Sedangkan aku memilih mundur mendekati Ryeowook. Anak itu sudah mengulas senyum aneh tanpa menatapku sambil memasang lagi earphone-nya. “Kenapa kau izinkan?” katanya, nampak seperti bicara dengan dirinya sendiri.

“Kenapa?”

Kini Ryeowook menoleh kearahku sambil tersenyum. “Kau tahu? Kyuhyun itu curang, dia sengaja memilih game yang paling dikuasainya agar dia tidak kalah. Seharusnya kau tahu hal itu. Sampai detik ini tak ada seorangpun yang mampu mengalahkan kembaranku itu, dan tidak pula dengan anak sipit itu. Henry tak akan menang.”

Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan Ryeowook. “Kita lihat saja. Aku yakin.”

“Kenapa kau yakin sekali?”

Kulirik Ryeowook sambil terkekeh menatapnya. “Hanya menebak. Dan kau tahu kenapa aku merasa yakin, Ryeowook?” Dia mengerutkan keningnya penasaran dengan ucapanku. “Aku yakin tadi adalah kalimat pertama dan terpanjang yang kau ucapkan kepadaku.” Lanjutan yang kuucapkan membuat kedua mata Ryeowook membulat tak percaya dan aku hanya tertawa.

Aku tak mengharapkan Henry menang. Aku hanya mencoba memahami si kembar lebih jauh.

xXx

Seperti yang kuduga, Henry tidak menang dan aku harus membayar sewa permainan Kyuhyun dan temannya yang jangkung, kalau tak salah bernama Changmin. Aku tak mempermasalahkan hal itu, sih. Lagipula Henry tampak bersenang-senang tadi, aku juga menikmatinya, jadi tak masalah meski uangku harus kugunakan.

Seusai makan malam, si kembar tek seperti kemarin. Keduanya memilih duduk di ruang tengah sambil membicarakan sesuatu yang kurang kupahami. Tak jarang mereka berdua hanya diam dan tiba-tiba tertawa bersamaan. Aku tak tahu kalau anak kembar benar-benar bisa sedekat itu.

Disisi lain, Henry memperhatikan mereka, tampak sekali ingin bergabung.

“Hey, hey, bagaimana kalau kita main PS?” usulku dan mendapat perhatian dari si kembar plus adikku. Namun dengan cepat Kyuhyun dan Ryeowook kembali berbicara satu sama lain dan Henry juga mengabaikanku.

Menyebalkan sekali ketiga anak ini…

“Apa ada yang mau makanan?” Aku kembali mengusulkan. Sepert tadi, mereka sama-sama menoleh kearahku tapi juga selanjutnya aku diabaikan. Dan Henry sepertinya lebih tertarik memperhatikan si kembar daripada aku, kakaknya yang berusaha mencairkan suasana.

Apa yang harus kulakukan?

“Ada yang mau main kembang api?”

“Kau kira aku anak kecil.” Kyuhyun orang pertama yang membalas ucapanku. Wow… Sepertinya aku harus memancingnya bicara dengan memulai topik yang membuat harga dirinya sedikit terluka. Haha…

“Hanya anak SD yang bermain kembang api.” lanjut Kyuhyun sambil menatap Ryeowook dan kembarannya itu mengangkat bahu.

“Aku suka kembang api.” balasnya.

“Yak! Kau kan seharusnya mendukungku, Ryeowook!”

“Tapi aku memang suka kembang api, kok.” Ryeowook menertawakan Kyuhyun. Keduanya memang bertengkar karena ucapanku, tapi tetap saja mereka memiliki dunia yang tetap tak bisa aku masuki.

Henry mencoba mendekati mereka. “Aku juga suka kembang api. Tapi kata-kata Kyuhyun Hyung juga benar, kembang api hanya untuk anak-anak. Leeteuk Hyung berarti masih anak-anak, ya?”

Hey, hey, siapa yang kau pihak, Henry?

Si kembar menatapku. Kenapa?

“Leeteuk Hyung?” Ryeowook mengerutkan keningnya. “Kukira namanya itu Jungsoo… Apa semalam aku salah dengar, ya?”

“Aku juga dengarnya Jungsoo, kok.” Kyuhyun menambahkan.

Sontak Henry tertawa keras sambil duduk di sofa disamping Ryeowook. “Memang namanya Jungsoo, tapi dipanggil Leeteuk. Eomma bilang waktu melahirkannya, Jungsoo Hyung nyaris saja meninggal tapi akhirnya selamat. Karena itu dipanggil Leeteuk yang artinya spesial.” Dasar Henry memang sangat cerewet.

Bukannya menimpali, Kyuhyun tertawa. “Aneh! Kalau sejak lahir mau dipanggil Leeteuk, yah kenapa diberikan nama Jungsoo? Huahha~” Ucapannya membuat Ryeowook ikut terkekeh menertawakanku dan Henry langsung mengerutkan kening. Dia seperti membenarkan ucapan Kyuhyun, tapi juga kesal aku ditertawakan. Entahlah…

“Hey, Hyung~ Bagaimana kalau besok kita pergi ke sekolah bersama lagi?” Henry mengalihkan topik pembicaraan.

Kyuhyun dan Ryeowook kembali saling berpandangan. Tapi perlahan keduanya sama-sama tersenyum dan mengangguk satu sama lain.

“Boleh. Tapi kau harus mengalahkanku pada sebuah taruhan lagi.” ujar Kyuhyun.

“Apa?”

“Kalau kau bisa bangun mendahului kami, kau bisa berangkat sekolah bersama kami dan kami akan menemanimu seharian.” Ryeowook yang melanjutkan dan tentu saja Henry tampak tak percaya dengan tawaran menggiurkan itu.

“Tapi…” Kyuhyun menyela dan menyeringai. “Kalau gagal, jangan pernah berharap bisa bicara denganku lagi. Bagaimana?”

Sulit…

“Setuju!”

Ya, Tuhan, Henry!! Tidak bisakah kau melihat mereka berdua sudah merencanakan sesuatu!

xXx

Aku sudah menggelengkan kepalaku sambil memperhatikan Henry yang tengah sibuk mengeset semua jam, kuulangi, SEMUA JAM yang ada dikamar ini. Jam ponselnya, jam ponselku, jam weker, jam dinding, jam meja, jam PSP, semua jam yang dianalsir memiliki sistem alarm diset bersamaan agar berbunyi jam empat pagi. Aku tak berani membayangkan sebising apa nanti.

Adikku itu tersenyum yakin. “Dipikir aku bodoh? Bangun pagi sih gampang…” ujarnya bangga.

“Aku yakin mereka sudah merencanakan sesuatu, Henry. Kau itu kenapa langsung menyetujuinya, sih?”

“Yah ampun, Hyung! Kau dengar tidak tawarannya? Mereka akan menemaniku seharian! Itu kan hebat!” Matanya tampak berbinar-binar dan aku ingin tertawa mendengarnya.

Tapi tetap saja aku yakin mereka tak akan mungkin melakukan taruhan semudah ini.

“Ya sudah segeralah tidur. Aku harap tak ada hal buruk terjadi besok.”

Kami berdua sama-sama menoleh ketika mendengar suara pintu kamar diketuk. Segera kubuka dan kulihat seorang Ahjumma, salah satu pembantu di rumah ini, sudah berdiri sambl membawa segelas susu.

Tunggu? Susu?

“Nyonya mengingatkan Tuan Henry untuk meminm susu.”

“Yeppp…” Buru-buru Henry menghampirinya dan mengambil gelas susunya.

Untuk ukuran anak kelas satu SMU, dia terlalu kekanak-kanakkan. Aku tahu dia berusaha menyaingi tinggi badanku, tapi tak kusangka dia jadi kecanduan susu sampai dewasa. Memalukan, sedikit…

Eh, tapi…

Henry sudah meneguk habis susunya dan mengembalikan gelasnya ke pelayan itu. “Terima kasih!”

Firasatku tidak enak…

xXx

KRIIIIIINGGGGG!!!!!!!!!

Demi Tuhan! Berisik sekali!

“Henry!!” Aku buru-buru bangun dan suara alarm yang berbunyi bersamaan itu membuatku nyaris meledak. Sungguh kau bisa bayangkan sebising apa pagi ini. Jam empat pagi dan ada lebih dari lima alarm berdering nyaring. Berani bertaruh, seluruh rumah ini pasti mendengarnya.

Segera aku bangun dari tempat tidurku dan menendang kasur diatasku, tempat tidur Henry. “Bangun!”

Tak ada respon.

Akhirnya aku keluar dari tempat tidurku dan menatap keatas, melihat Henry yang masih pulas tertidur dengan sangat damainya. Apa adikku ini tuli?

“Hey, Henry bangun!”

“Euum~” Dia bergumam sambil menarik selimutnya.

“Hey! Kau kan bertaruh dengan Kyuhyun dan Ryeowook. Kau akan kalah!”

Tetap dia tak merespon. Akhirnya kumatikan semua alarm itu sebelum Eomma datang ke kamarku atau ada sebuah panci melayang dari tetangga sebelah karena kebisingan pagi ini.

Sesuatu yang bergemerisik di depan pintu kamar membuatku penasaran. Segera aku mendekati pintu kamar dan membukanya. Betapa kagetnya aku melihat Ryeowook dan Kyuhyun sudah ada disana sambil menahan tawa mereka.

“Kalian?”

“Maaf, ya… Tapi susu yang dia minum semalam sudah kumasukan sedikit obat tidur.” Kyuhyun dan Ryeowook sama-sama melakukan high-five dengan semangat dan langsung kabur ke kamar mereka.

Dengan jelas aku bisa mendengar tawa evil Kyuhyun penuh kemenangan.

Sudah kuduga, kan… Mereka pasti merencanakan sesuatu. Henry tak akan bangun dan itu artinya dia kalah. Kyuhyun akan mengabakannya. Ish~ Sejak awal sudah kukatakan jangan seenaknya mengambil keputusan.

Dan si kembar itu… Aku akan membalasnya dengan caraku…

One thought on “OUr World // Part 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s