Our World // KyuWookTeukRy

Tak ada seorangpun yang mampu menembus dunia kami..

Karena kami berdua saling memiliki satu sama lain…

 

Our World

 BrotherShip Fiction about Kyuhyun-Ryeowook-Leeteuk and Henry

By :: ThenaKim

Hope You like this..

 

PART 1

 

Kyuhyun’s P.O.V

 

Aku sangat ingat kenangan malam itu, ketika Appa memperkenalkan kepada kami, seorang wanita yang kehadirannya tak pernah kami harapkan. Aku tak akan melupakan satu malam dimana duniaku langsung berubah.

“Kyuhyun, Ryeowook. Perkenalkan, Ahn Jungmi. Dia akan menjadi Eomma kalian berdua.”

Kalimat yang tak pernah kubayangkan. Kalimat yang tak pernah kuharapkan.

Kami akan memiliki seorang Eomma. Dan orang itu akan menggantikan Eomma yang sudah tiada. Masih satu tahun dan Appa sudah melupakan Eomma kami dan menemukan wanita lain? Dunia tidak adil kepada kami. Dunia tidak benar-benar adil kalau kau merasakan apa yang kurasakan.

“Kyuhyun, apa yang sedang kau lamunkan?”

Sebentar aku menoleh kearah Ryeowook, kakak kembarku. Oh ayolah~ Apa kembar harus selalu identik dengan wajah, tinggi badan dan sosok yang mirip? Tidak. Aku dan Ryeowook tidak kembar secara identik. Jika dilihat tak akan ada yang menyangka kalau pemuda bertubuh kecil dengan paras wajah yang tenang itu adalah kakak kembarku. Sangat kontras jika dibandingkan dengan aku yang berpostur tinggi dan cenderung lebih emosional.

Aku menggeleng sejenak. “Tidak ada.”

“Apa tentang Jungmi Ahjumma lagi?”

Kutatap Ryeowook ketika dia menyebut nama itu. “Bisa kan kau tidak menyebut nama itu untuk sementara?”

“Ayolah, Kyu~ Appa akan menikahinya dan dia akan menjadi Eomma kita.”

“Eomma kita? Dengarkan aku, Ryeowok. Sampai mati aku hanya memiliki satu Eomma.” Kutekankan kepadanya sekali lagi. Aku paling tak suka membicarakan hal ini dengannya. Aku tahu Ryeowook sama tak setujunya denganku, kami kembar, kami saling memahami meski tanpa berbicara. Tapi aku tak tahu kenapa dia selalu berusaha menerima keputusan Appa.

Satu hal yang membuatku dan dia sangat berbeda…

Ryeowook berjalan kearah meja belajarnya. Karena kami berdua satu kamar, kami memiliki tempat tidur bertingkat dan dua meja belajar disini. Dia meraih foto Eomma yang pernah kami ambil sebelum Eomma meninggal setahun yang lalu, di rumah sakit. Di foto itu Eomma tersenyum lembut, padahal ada satu penyakit yang tiap detik berusaha menggerogoti tubuhnya.

“Jika saja aku bisa menukar nyawaku dengan Eomma…” bisiknya.

Menukar nyawa…?

“Dunia terlalu kejam bagi kita.” Ryeowook meletakkan foto itu dan kini menatapku dengan mata yang sarat dengan kesedihan. “Tapi setidaknya kita bisa membuat Appa bahagia, kan? Kau dan aku saling memiliki satu sama lain, tapi tidak untuk Appa. Bagaimanapun juga dia butuh wanita lain untuk menemani hari-harinya.”

“Kau memang terlalu pengertian.” sindirku sambil berbaring diatas tempat tidurku. Kupandangi bagian bawah tempat tidur Ryeowook yang berada di atasku. Di sana kutempel beberapa foto yang kutempel saat liburan musim panas dengan Eomma dua tahun yang lalu.

Tak ada satupun dari kami yang bicara. Selama keheningan yang aku rasakan, aku memikirkan kata-kata Ryeowook. Dia benar. Aku dan dia saling memiliki, tapi tidak untuk Appa. Ada dunia yang tak bisa Appa masuki, dunia kami. Dan karena itu dia pasti kesepian karena tak memiliki seorang istri. Tidak salah jika dia menemukan wanita lain. Tapi tetap saja itu artinya dia tak lagi setia kepada Eomma!

“Kyuhyun.” Ryeowook kembali memanggilku.

“Ya?”

“Aku akan menerima keputusan Appa.”

Aku menghela nafas sambil memutar tubuhku menghadap tembok. Perlahan menarik selimut tebalku untuk menutupi seluruh tubuhku. “Aku juga. Tapi aku tak akan pernah mau menganggap wanita itu sebagai Eomma-ku. Karena aku hanya memiliki satu orang Eomma.”

“Aku tahu. Selamat malam.”

“Hmm.”

xXx

“Sebelum kami menikah, Jungmi Ahjumma akan mulai tinggal disini mulai hari ini.”

Sontak sendok yang tadi kupakai untuk menyendok serealku jatuh kembali ke mangkuk dihadapanku ketika kudengar Appa mengatakan itu. Dia dengan santainya masih membaca koran paginya sambil menyeruput kopinya. Kedua matanya sama sekali tak menatap kearahku dan Ryeowook yang sudah saling berpandangan dalam keheningan.

Aku tak tahu harus mengatakan apa…

“Tapi, Appa… Bukankah itu aneh kalau pria dan wanita tinggal bersama sebelum menikah?” Ryeowook tampaknya memiliki kata-kata yang jauh lebih banyak dariku untuk bicara dengan Appa. Jika aku bicara, pastilah aku akan membentak Appa karena emosi.

Mendengar pertanyaan itu, barulah Appa menatap Ryeowook. Aku bisa menangkap jelas raut kecemasan di sinar mata kakakku itu. Dia pasti tidak setuju dengan hal ini.

Appa tersenyum kecil. “Tidak apa-apa. Kami akan menikah sebulan lagi dan Appa kira itu akan bagus karena kalian bisa saling mengenal sebelum sah menjadi keluarga.”

Kami berdua sama-sama diam.

Perlahan kutarik ransel diatas mejaku sambil melirik kakakku, memberi isyarat padanya agar segera ikut denganku ke sekolah. Ryeowook mengangguk sambil ikut menarik ranselnya.

“Kami lebih baik pergi sekarang.” ujarnya lagi.

Sebelum aku dan Ryeowook meninggalkan ruang makan, Appa kembali bicara. “Mereka akan datang sore nanti. Mungkin saat kalian pulang mereka sudah tiba. Jadi jangan pulang terlambat.”

Aku tak mau peduli dengan ucapan Appa. Segera kutarik Ryeowook semakin menjauh dari ruang makan. “Aku berharap mati sepulang sekolah nanti.” bisikku pada diriku sendiri.

Aku tahu Ryeowook mendengarnya dan langsung menatapku marah, tapi aku tak peduli.

Tak akan ada satupun orang yang kubiarkan mengusik duniaku. Dunia kami.

xXx

“Hey, Kyuhyun! Sudah jam enam sore!!”

Kudengar Changmin berteriak kepadaku. Aku tak memperdulikan teriakan pemuda kurus jangkung yang sudah memukul-mukul box permainan yang tengah asyik kumainkan. Need for Speed. Balapan mobil virtual.

“KYUHYUN!” Dia kembali berteriak.

“Apa?!” balasku sambil berteriak juga, berusaha menembus kebisingan game center disekitar kami.

“Sudah jam enam! Kau harus segera pulang!”

“Aku masih ingin bermain, Min!”

“Ish!” Tanpa bicara lagi mendadak Changmin menekan tombol pause dan membuatku harus menatapnya dengan pandangan ingin membunuh. Tapi si jangkung itu balas menatapku tak kalah gusar. “Ryeowook menyuruhku mengawasimu selama dia ikut rapat sekolah! Dan sudah jam senam sore! Kau harus pulang.”

“Aku tak mau pulang…” balasku singkat.

Sahabatku itu hanya menghela nafas. “Ayolah, Bodoh… Kau jangan mempersulitku.”

“Aku tak mempersulitmu. Lagi pula, Changmin, kau bisa pulang duluan kalau mau?”

“Dan membiarkanmu terlibat masalah lagi? Jangan bercanda.” Changmin menggaruk kepalanya sambil menarik lenganku dengan satu tangannya yang bebas. “Ayo keluar dari tempat berisik ini. Aku bisa kehabisan suara kalau terus berteriak disini.” gerutunya lagi sambil menyeretku.

Dan aku… Hanya menuruti langkahnya.

Di luar game center, ternyata Ryeowook sudah berdiri sambil menggelengkan kepalanya. Dia menatap Changmin dengan tatapan tak enak hati.

“Maaf selalu merepotkanmu. Hanya kau yang bisa menyeret Kyuhyun keluar dari game center.” gerutunya untuk dirinya sendiri. Sepertinya. Dan aku hanya mendengus sebal mendengar ucapannya.

Changmin justru tertawa. “Seriuslah, Ryeowook. Kau benar-benar membutuhkan pengasuh buat evil bodoh ini.” Si jangkung itu langsung mengamit leherku dan mengacaukan tatanan sempurna rambut kecoklatanku.

Tentu saja aku berusaha menghindar darinya. “Hey! Hey! Aku bukan anak kecil! Lepaskan!”

“Kau akan selalu jadi anak kecil kalau tidak bisa mengurus dirimu sendiri, Cho Kyuhyun. Tirulah kakakmu!”

“Heh, kau tua sekali, Shim. Kata-katamu seperti kakek-kakek usia delapan puluhan. Kolot.”

“Yak!” Changmin kembali mengamit leherku dan kini menjitaki kepalaku berkali-kali. “Kau bahkan lebih tua lima belas hari dariku, Cho!!!”

Bukannya menolongku, Ryeowook hanya tertawa memperhatikan kami. Dan tentu saja itu membuatku gusar.

“Tidak bisakah kau menolongku, Cho muda!” sentakku kesal.

Ryeowook buru-buru menarik tanganku agak menjauh dari Changmin, masih dengan tertawa. “Kalian seperti anak-anak.” gumamnya sambil memberikan kepadaku ranselku yang seharian tadi kutitipkan kepadanya. “Kita harus segera pulang, Kyu.”

Aku tak mau pulang…

Kuacak rambutku sambil melirik Changmin yang menatapku dengan pandangan meledek. “Awas kau. Besok kita bertanding PSP, yang kalah harus merayu Hwayoung dari kelas musik.” gerutuku asal bicara dan langsung mendapat tendangan kecil dikaki dari Ryeowook. Changmin tertawa semakin keras.

Huh…

xXx

Sudah jam tujuh.. Kami berdua telat. Dan sekarang aku dan Ryeowook hanya berdiri di depan pintu gerbang rumah kami. Sama-sama ragu apakah kami harus masuk dan menemui Appa juga Jungmi Ahjumma, atau berbalik arah dan kabur dari rumah itu.

“Kau siap?” Ryeowook bertanya pelan.

“Yang benar saja? Mau masuk rumah sendiri sudah mau masuk ke rumah hantu yang menegangkan.”

“Atau mungkin naik roller coaster?”

“Ini seperti hendak mendengar jawaban dari sebuah lamaran…”

“Seperti menunggu hasil ujian.”

“Bisakah kau tidak melanjutkan ucapanku!” Kutatap Ryeowook kesal dan kakakku itu hanya mengangkat bahu santai.

“Kau yang harus berhenti bicara. Ayo masuk.” Ryeowook berjalan lebih dulu membuka gerbang.

Selama menyusuri pekarangan rumah, tak ada satupun dari kami yang berbicara. Rasa-rasanya malas sekali membayangkan apa yang ada dibalik pintu itu. Yang benar saja… Dunia ini benar-benar menjengkelkan!

Ryeowook membuka pintu perlahan, tampaknya kakakku itu sangat berhati-hati melangkah. Seakan-akan ada yang akan melempar laba-laba kearahnya ketika pintu itu terbuka.

“Cepatlah sedikit!” Segera kudorong bahunya dan tubuh kecilnya terdorong masuk dengan segera.

“Kyuhyun!”

“Kalian terlambat.” Satu suara itu membuatku dan Ryeowook sontak terdiam. Suara wanita.

Kami berdua sama-sama menatap lurus kedepan, melihat seorang wanita muda dengan rambut hitam dan senyum lembut menatap kearah kami. Dia memakai apron biru laut –milik Eomma-. Apa yang dia lakukan?

Jungmi Ahjumma…

“Aku sudah membuatkan lasagna untuk makan malam. Masuklah.”

“Iya.” Hanya Ryeowook yang membalas dan Jungmi Ahjumma segera masuk ke dapur meninggalkan kami. Ryeowook dengan cepat menarik tanganku agar berjalan disampingnya. “Aku tak tahu kalau dia bisa memasak.” bisik Ryeowook.

“Memangnya Appa pernah bilang kalau dia tak bisa memasak?” balasku cuek.

Kami berdua hampir saja masuk ke dapur kalau kami tak mendengar suara asing dari sana. Kami saling berpandangan mendengar suara dua laki-laki yang sama sekali asing. Bukan suara Appa. Lalu suara siapa?

“Ryeowook! Kyuhyun! Kenapa belum masuk?!” Kali ini barulah suara Appa.

Kami berdua sama-sama melangkah masuk ke dapur dan betapa terkejutnya kami melihat dua orang pemuda sudah duduk di meja makan sambil menatap kearah kami berdua. Yang satu matanya sipit dengan kulit putih dan rambut coklat terang. Yang satu lagi juga berambut coklat hanya saja wajahnya agak tirus dan jelas kelihatan kalau dia lebih tua dari kami.

Appa berdiri dan Jungmi Ahjumma ikut merapat mendekatinya.

“Mari kuperkenalkan kalian berdua. Ini adalah Henry dan Jungsoo, putra-putra dari Jungmi Ahjumma.”

Aku menelan ludah sambil merapat ke Ryeowook. “Appa tak pernah bilang kalau dia sudah memiliki anak.” bisikku.

“Memangnya Appa pernah bilang kalau dia tidak memiliki anak?” Ryeowook membalas ucapanku sambil berjalan mendekati meja makan dan duduk di kursi tanpa mengatakan apapun.

“Mereka berdua Kyuhyun dan Ryeowook, yang pernah ku ceritakan.”

Aku segera duduk disamping Ryeowook ketika si mata sipit hendak menjabat tanganku. Aku pura-pura tak melihatnya dan rupanya apa yang kulakukan membuat si sipit jadi enggan menjabat tanganku. Tak ada yang berbicara sampai akhirnya Appa memecah kesunyian dengan menggeser sebuah kursi didekatnya.

Itu kursi tempat Eomma. Tapi ditempati Jungmi Ahjumma.

“Ayo kita makan.” ujarnya cepat.

xXx

Seusai makan malam aku dan Ryeowook sama-sama segera masuk ke kamar tanpa menunggu Appa membuka pembicaran baru. Sesaat aku mendengar suara pintu terbuka tepat disebelah kamar kami. Apa mungkin kedua orang itu juga tidur disamping kamar kami?

“Yang benar saja. Aku bahkan tak tahu yang mana yang bernama Henry, yang mana yang Jungsoo.” Ryeowook bergumam sambil membaringkan tubuhnya diatas tempat tidurku.

Aku membuka beberapa kancing atas kemejaku sambil memandanginya yang tampak sangat lelah. “Sudahlah. Besok juga akan tahu.”

“Tapi yang sipit sepertinya seumuran dengan kita.”

Aku sontak tertawa. Ternyata kami memang kembar karena Ryeowook juga memanggilnya si sipit, sama sepertiku. Haha…

“Kenapa tertawa?”

Aku menarik kursi meja belajarku dan duduk sambil tetap tertawa. “Tidak. Hanya berpikir kalau ternyata kau dan aku memang kembar.” lanjutku. Namun tawaku mendadak berhenti ketika pintu kamar kami diketuk seseorang.

“Siapa?” Ryeowook mendadak bangun.

Aku mengangkat bahu sambil kembali berdiri dan berjalan kearah pintu. Perlahan kubuka pintu kamarku dan kulihat si sipit sudah ada dihadapan kamar kami. Tersenyum polos dan lebar selayaknya anak kecil yang baru mendapat permen.

“Hey, aku Henry! Margaku yang sebenarnya adalah Kim, tapi nanti akan berubah menjadi Cho Henry. Sama seperti kalian berdua.”

Aku mengerutkan keningku menatapnya. Sekilas kulirik Ryeowook yang juga hanya mengangkat bahunya tak mengerti.

“Kuharap kita bisa menjadi keluarga yang baik.” lanjutnya semangat.

Jangan bercanda…

Aku mengulas senyum tipis kearahnya. “Jangan banyak berharap.” Detik itu juga segera kututup pintu kamar dihadapannya. Aku tahu apa yang kulakukan ini pasti sangat membuatnya terkejut atau sakit hati. Tapi biar saja. Aku tak pernah mengharapkan keluarga baru, kok.

Di tempat tidurku, Ryeowook hanya menggelengkan kepalanya. “Kejam sekali, Kyu…”

“Masa bodoh.” Kutendang kaki Ryeowook. “Minggir. Aku mau tidur.”

Satu hal yang membuatku sedikit agak kesal melihat wajah si sipit bernama Henry itu… Firasatku mengatakan dia lebih muda daripada aku. Huh~

 

One thought on “Our World // KyuWookTeukRy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s