Letter For Umma // KyuWook

Letter For Umma

.

Genre :: Family Brothership

Cast :: Ryeowook and Kyuhyun

.

.

.

Pernahkah kau berpikir sejauh apa air mengalir?

Mengalir dari sebuah kolam kecil, masuk ke dalam tanah dan bertemu di sungai, mengalir terus sampai hulu lalu bergabung di lautan luas. Apa hanya seperti itu?

Tidak… Tidak. Tentu tidak!

Aku ingat seseorang pernah mengatakan padaku…

 

.

 

“Satu-satunya yang menghubungkan manusia di dunia kita dan manusia yang telah meninggal adalah air.”

Saat mendengarnya aku bingung dan mengerutkan kening. Dengan polosnya aku bertanya, “Kenapa? Bukankah dalam Kitab itu manusia terbuat dari tanah?”

Dia langsung tersenyum dan menjawab. “Ya. Tapi air satu-satunya yang terus mengalir ke dunia tanpa batas. Secara agama memang kita tercipta dari tanah. Tapi menurut Umma, air-lah jembatan penghubung antara kita dan mereka yang telah pergi lebih dulu.”

.

.

Suatu hari, Kyuhyun pernah bertanya kepadaku…

“Hyung, kenapa kau selalu meletakkan air di gelas kesayangan Umma? Bukankah orang yang telah pergi itu tak akan…” Kalimatnya terhenti saat dia ingin mengatakan hal yang -mungkin- paling di larang di rumah kami.

Kulirik adik yang usianya hanya terpaut setahun dariku itu sambil tersenyum kecil. “Karena kalau Umma datang, dia bisa minum.”

 

“Ta-tapi…”

“Kyu~” Setelah kuletakkan gelas itu, aku menatap adikku itu santai. “Apa yang kau cari pertama kali ketika kau pulang dari tempat yang sangat jauh dan mungkin kau kelelahan?”

Kyuhyun mengerutkan keningnya. “Air untuk diminum?” Kalimat tanya retoris itu muncul begitu saja dipikirannya, mungkin.

 

Aku langsung mengangguk. “Dan ketika Umma datang mengunjungi kita dari surga, tempat yang sangat jauh. Aku rasa hal yang pertama dia cari adalah segelas air untuk melegakan dahaganya, barulah dia mencari kita.”

Kyuhyun kini menatapku sambil tersenyum kecil. “Kalau begitu, hyung bodoh!”

“Bo-bodoh apanya?”

 

Adikku itu langsung masuk ke dapur dan keluar dengan segelas air dan meletakkannya di depan foto Umma kami, disebelah gelas yang baru saja ku isi ulang. Kyuhyun kini menatapku sambil tersenyum manis.

“Surga itu tempat yang sangat jauh, Bodoh. Bahkan lebih jauh dari ujung galaksi dunia ini. Jadi Umma tak akan cukup kalau hanya meminum segelas air. Ayo berangkat ke sekolah!” Kyuhyun segera meninggalkanku yang kini hanya berdiri mematung di depan foto Umma.

 

Umma… Doakan kami untuk hari ini!

 .

.

“Selamat atas kelulusanmu!!!” Aku langsung memeluk Kyuhyun yang baru saja melangkah keluar dari gedung tempat dimana upacara kelulusannya berlangsung. Karena ada beberapa tugas kuliah, aku dengan berat hati tak bisa menemaninya. “Maaf aku tak menemanimu.”

 

“Bicara apa kau, Wookie hyung? Aku justru malu kalau kau datang. Mana ada kakak yang lebih pendek dari adiknya.”

“KYU!!”

Adikku itu tertawa lepas sambil merangkul pundakku. “Bercanda, ah. Kita abaikan yang tadi. Sekarang, bagaimana kalau kau mentraktirku? Aku kan lulus.”

 

Aku memutar bola mataku sebelum menjawab ajakannya. “Kau sudah laporan?”

“Ya, Tuhan!!” Kyuhyun memukul keningnya sendiri dengan cepat. “Aku lupa, hyung!”

Melihat gelagatnya, aku hanya tersenyum kecil sambil bergeleng cepat. “Dasar kau ini. Harusnya yang pertama kau lakukan adalah melapor pada Umma.”

 

Sekarang pemuda itu melirikku gusar sambil cemberut. Buru-buru dia mengatupkan kedua tangannya sambil memejamkan matanya dengan khusyu. Aku tak tahu apa yang dikatakannya di dalam hatinya, tapi entah kenapa aku tersenyum melihatnya seperti itu.

 

Umma, Kyuhyun-mu sudah tumbuh dewasa. Sayang sekali Umma tak bisa memperhatikan perkembangannya selama ini…

Apa kau bisa lihat gayanya ketika berdoa untukmu? Benar-benar bukan lagi adikku yang manja dan menyebalkan…

 

Kyuhyun membuka matanya dan tersenyum ceria. “Hyung tahu apa yang ku katakan pada Umma?”

Aku menggeleng. “Apa?”

 

“Aku bilang, aku akan menjadi orang hebat yang bisa membuatnya bangga dan mewujudkan impianku. Dan aku bilang kalau Umma tak perlu mencemaskan kita berdua, karena kita akan baik-baik saja. Bagaimana? Kata-kataku bagus, kan?” Kyuhyun terkekeh bangga pada dirinya sendiri sambil merangkul pundakku.

 

Kalimatnya membuat mataku panas dan air mataku nyaris tumpah. Oh, tentu saja aku tak akan menangis di hadapannya. Tak akan pernah.

“Sok bijak kau.” balasku sambil menatap lurus ke depan.

.

.

Malam itu hujan mengguyur kota Seoul dengan cukup deras. Cukup deras sehingga membuatku dan Kyuhyun sama-sama tak bisa tidur. Magnae itu lebih memilih duduk di ruang tengah dan bermain PSP, sedangkan aku lebih memilih menghafalkan not lagu yang harus ku presentasikan di kelas musik besok.

 

Kulirik Kyuhyun yang tampak tidak mengantuk sedikitpun. “Kau masih ingin bermain?”

“Aku akan main PSP sampai mati.”

“Bodoh.” Dengan cepat kupukul kepalanya dengan buku kuliahku yang cukup tebal. “Mahasiswa macam apa yang menghabiskan waktu dengan bermain PSP?”

 

Kyuhyun melirikku sekilas. Hanya sekilas dan fokusnya kembali ke layar PSP kecil hitam ditangannya. “Aku akan menjadi gamer sejati, masuk tv dan terkenal. Hyung lihat saja. Hyung akan menyesal kalau nanti aku terkenal.” tawa pelannya bisa kudengar meski di luar berisik dengan suara gemuruh hujan.

Kutatap lagi susunan balok yang ada di kertas partitur musikku. “Kau ingat tidak, dulu kau ingin menjadi seorang astronot?” tanyaku.

 

“Astronot?” Kyuhyun menjawab sepertinya tanpa menatapku.

 

Aku mengangguk dan juga tak menatapnya. “Waktu ku katakan pada Umma bahwa aku akan menjadi pemusik dunia, kau dengan bangganya mengatakan akan menjadi astronot dan mendaratkan pesawatmu di Pluto? Saat itu kalau tak salah kau masih berusia tujuh tahun dan tak tahu bahwa di Pluto, planet terjauh dari bumi, sama sekali tak bisa dijejaki siapapun. Tentu saja karena aku juga sama tak mengertinya aku hanya menganggap impianmu itu sangat keren. Tapi kalau kuingat sekarabf, itu sangat bodoh.” Kini aku tertawa sambil memandangi magnae yang wajahnya lagi-lagi sudah tampak gusar.

 

“Masa bodoh dengan masa lalu. Yang penting sekarang aku akan menjadi gamer nomor satu.” gerutunya sambil tetap fokus di layar PSP-nya…

 

Ahaha… Umma lihat ekspresinya saat itu? Dia benar-benar konyol. Tapi… Entah menjadi pemusik, astronot ataupun gamer. Aku yakin aku dan Kyuhyun akan bisa mewujudkan kami. Karena kami memiliki satu tujuan yang sama… Membahagiakanmu.

.

.

Aku meletakkan sebuah pena dan secarik kertas di meja Kyuhyun yang malam itu tengah membaca buku yang cukup tebal. Sepertinya sebuah novel, tapi aku sendiri tak terlalu yakin kalau adikku itu suka membaca novel. Ah, lupakan saja…

 

Kyuhyun menengadah menatapku heran. “Apa ini?”

“Jelas-jelas kau melihat pena dan kertas.”

“Aigoo… Aku tahu! Maksudku untuk apa?”

“Untuk menulis, Bodoh.”

“Yak, hyung!”

 

Aku terkekeh sendirian sambil duduk di tepi tempat tidur Kyuhyun. “Kau ingat besok tanggal berapa?”

Pemuda itu kini tampak mengingat sejenak dan menatapku sambil berujar pelan, “1 Juli. Kenapa?”

 

“Jangan katakan kau lupa itu hari apa.”

Ekspresi wajahnya mendadak berubah. “Aku tak mungkin lupa. Lalu kau mau apa dengan kertas dan pena itu?”

Kulirik kertas dan pena di meja Kyuhyun sambil mengangkat bahu. “Entah. Aku hanya ingin kau menulis sesuatu. Mungkin tentang hari-harimu atau apapun. Yah, apalah itu.”

 

“Untuk?”

 

“Untuk kita kirimkan ke surga.”

Sontak Kyuhyun menatap mataku tak percaya. Dia memiringkan kepalanya dan aku bisa melihat ratusan pertanyaan seakan terpancar di matanya. “Mengirim pesan ke… Surga?”

Aku mengangguk. “Sudah hampir lima tahun Umma meninggalkan kita berdua. Dan entah kenapa aku ingin mengirim surat untuknya.”

 

“Tapi… Kau tidak gila kan, hyung?”

“Mungkin aku gila.” Aku tertawa sambil berdiri dan menepuk pundak adikku itu. “Lakukan saja apa yang aku suruh. Karena besok pagi-pagi sekali kita akan mengirimkannya. Jangan bertanya bagaimana cara mengirimnya, kau cukup menulis saja. Oke?”

Kyuhyun menghela nafas sambil mengangguk enggan. “Terserahlah.”

 

Katakan ini hal konyol, tapi aku benar-benar ingin mengirimnya. Aku tak tahu apakah surat ini sampai ke surga atau tidak. Tapi aku percaya, Umma pasti membacanya. Aku benar, kan?

.

.

Aku masuk ke kamar Kyuhyun tepat jam setengah enam pagi. Aku tak tahu, tapi sepertinya anak itu tidak tidur semalaman. Matanya agak sembab dan merah. Dia menatapku enggan sambil beberapa kali menghela nafas.

Sesungguhnya aku tahu bahwa Kyuhyun mungkin -atau memang pasti- menangis semalam. Tapi cukup bijaksana bagi seorang kakak sepertiku untuk tidak menanyakan hal itu. Aku dan Kyuhyun memiliki satu peraturan tak tertulis tentang privasi kami. Aku tak akan bertanya alasan dia menangis jika dia tak bicara lebih dulu, dan Kyuhyun pun tak akan bertanya padaku akan hal yang sama.

 

Meski bersaudara dan sangat kompak, kami memiliki ruang privasi yang sama-sama tak bisa tertembus, kan?

 

Kyuhyun menghampiriku sambil menenteng mantelnya. “Kau mau mengajakku kemana? Siang nanti aku ada ujian di kelas Matematika. Aku tak mau nilaiku jatuh karena kurang tidur.”

Aku memutar bola mataku sambil berpaling meninggalkannya. “Aku hanya menyuruhmu menulis surat. Aku sama sekali tak menyuruhmu untuk tidak tidur semalaman.”

.

.

Matahari mulai terbit di ujung langit. Semburat oranye yang sebelumnya menghiasi langit perlahan berubah menjadi biru gelap. Sudah jam enam pagi dan matahari akan segera benar-benar menghapus warna oranye di langit pagi. Dari semua pemandangan, aku sangat suka pemandangain di pagi hari.

 

Kini, aku dan Kyuhyun sudah berdiri di atas jembatan sebuah sungai kecil dengan arus yang cukup deras.

“Kau bawa suratnya, kan?”

“Tentu. Tapi kenapa sekarang kita berada disini?”

Kurasa Kyuhyun kini menatapku, tapi aku hanya tetap fokus menatap air sungai yang cukup jernih itu. “Kau tahu, air adalah jembatan penghubung antara kita dan manusia yang telah meninggal.”

 

“Eh? Dari mana kau berpikir begitu?”

“Umma yang bilang.” Aku tersenyum kecil sambil menumpukan kedua lenganku di pinggir jembatan dan menatap Kyuhyun. “Tadinya aku juga tak paham, tapi semakin tumbuh dewasa aku rasa bisa mengambil sedikit filosifinya.”

“Apa?”

 

Kutatap aliran sungai itu lagi. “Air, adalah satu-satunya zat di bumi kita yang terus mengalir tanpa arah tujuan. Berawal dari sebuah kolam kecil, terserap ke dalam tanah atau mengalir menuju sungai. Dari sungai akan kembali mengalir menuju lautan luas yang tak pernah kita bayangkan seluas apa lautan itu. Mereka tetap mengalir mengarungi dunia yang tanpa batas ini. Tak ada satupun yang tahu dimana air itu akan berakhir.”

 

Sepertinya Kyuhyun masih belum memahaminya. Dia bertanya, “lalu apa hubungannya dengan orang yang sudah meninggal?”

 

Aku tersenyum simpul. “Dunia tanpa batas. Itu artinya dunia yang memang tak ada batasnya, kan? Pada dasarnya bagiku semua dunia itu bersatu dan tidak terpisah jarak apapun. Umma memang tak ada lagi di dunia kita, tapi aku percaya Umma ada di dunia lain yang juga tak jauh dari kita. Dan karena air mengalir ke dunia tanpa batas, itu artiny air juga akan mengalir ke dunia Umma. Itulah sebabnya kenapa aku bilang air adalah jembatan penghubung antara kita dan Umma. Ini kedengaran konyol memang. Mungkin hanya aku yang mengatakan hal ini. Tapi karena mempercayai hal itu, aku bisa sedikt lebih bersemangat meski Umma tak lagi bersamaku, Kyu.”

 

Kyuhyun diam tak menanggapiku…

 

Kutatap dia sambil menadahkan tanganku. “Mana suratmu? Kau sudah menulis dengan baik, kan?”

Dirogohnya saku mantelnya dan Kyuhyun mengeluarkan sebuah amplop berwarna putih bersih. Dia tampak tersenyum kepada dirinya sendiri saat memandangi amplop itu. “Setidaknya aku memakai amplop putih karena aku tahu Umma sangat menyukai warna itu.”

 

Aku hanya mengangguk sambil menarik surat ditangannya dan mengeluarkan surat dari saku jaketku. “Apa yang kau tulis?”

“Rahasia. Kau pikir aku akan memberitahukannya kepadamu?” Kyuhyun terkekeh meski aku tahu dia memaksakannya.

Aku kembali tersenyum kecil dan menatap ke langit. “Apa sudah bisa kita kirim sekarang, Kyu?”

 

“Sebaiknya cepat. Aku kira Umma tak sabar ingin membacanya.”

Kulirik adikku yang kini tersenyum manis menatapku. Aku menarik nafas panjang sambil melempar kedua surat itu kearah sungai. Kedua amplop yang sama-sama berwarna putih itu jatuh perlahan ke atas permukaan air dan dengan sangat cepat mengikuti aliran sungai itu dan meninggalkan aku dan Kyuhyun yang hanya memandanginya.

 

“Apa… Akan sampai?”

“Pasti. Aku percaya, kok.” Kutatap Kyuhyun yang masih terus memandang lurus ke depan. “Lagipula sekalipun tak sampai, aku tahu Umma akan membacanya. Karena secara harfiah, Umma selalu ada disisi kita.”

 

Kyuhyun mengangguk. “Aku tahu. Hyung sendiri yang mengatakannya kepadaku.” Dia menatapku sambil tersenyum. “Orang yang telah pergi tak akan benar-benar pergi jika masih ada orang yang mengingatnya. Umma masih hidup, setidaknya dihatiku dan dihatimu. Dan itu artinya sedetikpun Umma tak pernah meninggalkan kita. Kita selalu bersama-sama bahkan sampai kita benar-benar bertemu Umma di dunia yang berikutnya. Iya, kan?”

 

Aku mengangguk. “Kau benar. Ayo kita pulang.” Aku tersenyum sambil berjalan meninggalkan Kyuhyun dan menatap ke langit.

 

Umma…

Kau dengar sendiri, kan?

.

.

.

Umma… Kami yang dulu kau tinggalkan hanyalah anak-anak yang tak bisa melakukan apapun tanpa sosok seorang Ibu. Entah berapa kali aku menangis karena tak bisa menerima kepergianmu. Tapi demi Kyuhyun dan Appa, aku mencoba untuk tegar.

Ya, aku putra pertamamu itu artinya akulah yang harus tegar melebihi siapapun. Aku harus selalu tersenyum di hadapan siapapun meski dihadapan orang yang terkadang bertanya padaku tentang kehidupanku.  Apa yang akan terjadii jika kutunjukkan kelemahanku?

 

Sejujurnya kulakukan itu karena aku BENCI dikasihani. Aku sangat benci ketika mereka menatapku atau Kyuhyun sebagai anak yang tak memiliki seorang Ibu. Aku benci ketika salah satu dari mereka terkadang bertanya ‘apa kau merindukan ibumu?’.

Apa mereka bodoh? Tanpa ditanyakan pun jawabannya sudah pasti.

Dan karena aku benci hal itu, karena itu aku tak suka kelihatan lemah dihadapan mereka.

 

Dan sekarang aku menang. Aku tumbuh jadi putramu yang kuat, kan?

Kau lihat sendiri kan, Umma? Aku dan Kyuhyun sekarang sama-sama memiliki impian. Oh, welll… Kyuhyun bahkan lupa kalau dulu dia sempat ingin ke Pluto. Sekarang dia bertekad menjadi gamer nomor satu. Sejujurnya aku tak tahu apa gunanya menjadi seorang gamer, tapi karena dia adikku, sudah pasti akan kudukung dia. Kami sudah bisa berpikir seperti ini, aku menyimpulkan bahwa aku dan Kyuhyun adalah anak-anak yang sangat kuat

Percaya diri sekali aku… ==a 

 

Lalu aku… Aku akan menjadi pemusik terkenal di seluruh dunia. Itu adalah satu-satunya impianku sejak kecil dan sampai detik ini impianku tak akan berubah. Tak akan pernah berubah.

Aku tahu sekarang Umma memang tak ada di sisiku lagi. Aku tahu Umma tak akan bisa mendukungku lagi seperti dulu. Umma tahu bagaimana kesepiannya aku? Aku yakin Umma tahu sebanyak apa aku menangis karena merindukanmu. Aku ingin sekali kau mendungkungku dan menyemangatiku meski hanya beberapa detik (seperti ketika kau menemaniku tidak tidur karena aku harus membuat sebuah lagu untuk mengikuti sebuah lomba dulu). Semangat yang sepeti itu… 😀

 

Tapi perlahan waktu berjalan akhirnya aku menemukan banyak orang yang kini mendukungku. Seperti kau dulu. ^^ 

 

Meski tak ku kirimpun, aku yakin Umma tahu surat ini. Umma juga pasti ikut membacanya disaat aku menulisnya. Ya, aku tahu Umma sekarang -saat aku menulis surat ini- ada di sampingku. Apa Umma menangis? Kuharap tidak. Karena kertas ini sudah cukup basah karena air mataku semalam penuh. Hhehe.. :p 

 

Aku bersumpah tak akan lagi membuatmu khawatir. Aku akan menjadi anak baik. Aku berjanji~

 

Ya, aku sesungguhnya tak mau mengakhiri surat ini. Ada banyak hal yang ingin kuceritakan. SANGAT BANYAK. Memang tak seperti dulu, karena sepanjang hari kugunakan untuk bercerita kepadamu, sampai-sampai aku tak tahu apa saja yang lupa kuceritakan. Tapi sekarang aku ingat semua yang ingin kuceritakan. Aku menyimpan semuanya untuk kuceritakan padamu suatu saat nanti kalau kita bertemu. Mungkin akan butuh waktu yang sangat lama sampai semua ceritaku berakhir Hehehe~

 

Aku akan menjadi anak yang kuat dan tegar. Aku tak mau lagi bersikap bodoh atau ceroboh. Aku akan berjuang keras menggapai impianku. Umma ingat itu! Dan semuanya hanya akan kupersembahkan untuk Umma, hanya agar Umma bangga telah melahirkanku. Agar Umma tidak menyesal karena melahirkan dan membesarkan anak bodoh sepertiku.

Aku juga akan menjaga Kyuhyun dan Appa. Umma percayakan semuanya kepadaku, oke? Jangan khawatir dan tersenyumlah selalu untuk kami. Karena senyumanmulah satu-satunya harapanku.

 

Aku menyayangimu… Ah, aku tak mau mengatakan hal itu karena sebuah kata-kata tak akan melukiskan betapa besarnya sayangku untukmu.

Sampai bertemu Umma… Sampai bertemu dan kita bisa bersama lagi. Aku merindukanmu… Sangat merindukanmu. Teramat meeeeeriiinnnduuukaaannnmuuu~

 

nb :: Tuhan… Kumohon kau jaga Umma-ku disana dan biarkan kami bertemu lagi suatu saat nanti, yaa.. ^^

 

signed,

your son,

Kim Ryeowook

 

HWAITING!!!! 3

 

.

.

.

.

~End~

3 thoughts on “Letter For Umma // KyuWook

  1. Nangis waktu baca suratnya wookie :”
    Feelnya kerasa banget :”)
    Baca fic ini aku jadi bisa mahami gimana orang yang ‘merindukan’ orang yang berada disisi Tuhan sekarang🙂
    Great job, eonni-ya!!!! \^^/

  2. ini ff terbaik yg pernah aku baca,
    sebagai seorag anak perantau yg tinggal.jauh dr ibu aku bner2 nangis pas baca ini.

    kata2 ngena banget.Aku jd rindu sm ibuku,apalgi ibuku single parent sejak 22thn yg lalu krn ayahku.udh meninggal.

    salut bwt author.yg nulis ini ff…titip jempolnya yah….mdh2’n ada ff yg seperti ini lgi.krn aku sangat suka…^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s