Just A One Promise, Be With You Forever // YeWook

Aku akan menunggumu dan kita akan bersama untuk selamanya. Ini memang hanya sebuah janji, tapi aku pasti akan menepatinya. Aku akan bersama denganmu selamanya, Hyung…

.

Just A One Promise, Be With You Forever

Author :: Thena

Pairing :: YeWook

Genre :: Angst/Hurt/Romance

Length :: One-Shoot

.

Seorang pemuda tinggi dengan wajah tampan berjalan dengan senyum penuh terkembang di wajahnya. Senyuman manis yang sarat dengan sejuta kebahagiaan yang sepertinya baru menghampirinya, seakan kebahagiaan itu tak peduli bahwa si pemuda kini tengah berjalan di lorong sebuah rumah sakit.

Satu tangan kirinya membawa sebuket bunga warna-warni yang tampak indah. Ada lili, mawar, anggrek bulan dan berbagai macam bunga lainnya. Sedangkan satu tangan kanannya kini membawa sebuah keranjang yang penuh dengan buah-buahan. Jelas kalau dia terlihat akan menjenguk seseorang yang spesial. Kekasih hatinya. Dan dia kembali tersenyum ketika membayangkan raut wajah yang seperti apa yang akan diperlihatkan kekasihnya itu nanti.

“Tadaa! Aku datang lagi!” sapanya riang saat membuka sebuah pintu putih dengan tulisan nama ‘Kim Ryewook’ di depannya.

Mendengar sapaan riang itu, seorang pemuda bertubuh kecil yang tengah duduk di balik selimut di atas tempat tidurnya menoleh. Mata tajamnya yang nampak teduh itu menatap ke arah si pemuda manis sambil mengerutkan keningnya. Sebuah buku bersampul merah ditangannya segera ditutupnya seraya dia bertanya pelan, “Hyung tidak bosan?” tanya Ryeowook, si pemuda di atas tempat tidur itu dengan kalem.

Pemuda yang dipanggil Hyung itu menutup pintu kamar Ryeowook sambil terkekeh riang. Diletakkannya keranjang buah itu dan segera disodorkannya buket bunga ditangannya sambil mengulas senyum tipis. “Saeng il chukhae hamnida!” serunya riang.

Sontak wajah Ryeowook memerah saat melihat buket bunga cantik itu. “Ya, Tuhan. Sudah kukatakan aku tak mau kau mengingat hari ulang tahunku, Yesung hyung.” gumamnya sambil menghela nafas dan meletakkan bukunya di meja kecil tepat di samping tempat tidurnya.

Pemuda bernama Kim Yesung itu menggeleng sambil duduk dipinggir tempat tidur Ryeowook dan menatapnya. “Memangnya aku mengiyakan permintaanmu? Aku akan tetap membawakan sesuatu untukmu, tak peduli kau suka atau tidak. Dan melihat dari raut wajahmu itu, kau kelihatan suka.”

“Aku tak suka.” kilah Ryeowook cepat sambil mengalihkan wajahnya menatap jendela kamarnya.

Melihat pola tingkah Ryeowook, Yesung hanya tertawa sambil meloncat turun dan berdiri. Ditariknya kedua bahu Ryeowook agar pemuda itu menatapnya dan Yesung mencubit kedua pipi tirus pemuda itu gemas. Tentu saja Ryeowook kembali mengerutkan keningnya kesal.

“Sakit, Hyung!” Susah payah dia mengelak dari cubitan Yesung dan cemberut. “Tak bisakah kau memperlakukan orang sakit dengan baik?”

“Kau yang salah. Sudah tahu aku selalu suka melihat wajahmu yang sok kesal itu.” goda Yesung sambil kembali mengambil buket bunganya dan meletakkannya di meja kecil disampingnya. Kini tatapan matanya melembut. “Bagaimana keadaanmu?” tanyanya.

Seulas senyum menghiasi wajah kecil Ryeowook. Perlahan tangannya meraih satu tangan Yesung dan mengusap punggung tangan pemuda itu lembut. “Lebih baik dan aku akan selalu semakin membaik selama Hyung ada di sisiku.”

Mendengar jawaban Ryeowook membuat senyum Yesung semakin lebar. Diusapnya kepala dengan rambut kecoklatan pendek Ryeowook dengan satu tangannya yang bebas dan ditariknya tubuh kecil pemuda kurus itu ke dalam pelukan hangatnya. “Aku akan selalu ada di sisimu. Segeralah sembuh.” bisiknya lembut.

Ryeowook mengangguk di dalam pelukan Yesung. Kedua lengan kecilnya melingkar dipunggung Yesung ketika dia memeluk balik pemuda dihadapannya itu. Kehangatan Yesung selalu mampu membuatnya lebih baik. Seakan-akan kanker hati yang selama ini bersarang di tubuhnya itu tak pernah ada.

“Nah…” Yesung berujar lagi disaat dia melepaskan pelukannya. Ditepuknya kepala Ryeowook lembut. “Karena ini hari ulang tahunmu. Ayo kita jalan-jalan keluar. Kau butuh udara segar. Terkurung di ruang sempit ini bisa membuatmu cepat mati.” godanya dan langsung membuatnya dihadiahi tepukan keras di pundaknya dari Ryeowook.

Kini pemuda bertubuh kecil itu sudah cemberut lagi digodanya. “Sama sekali tidak lucu. Kau ingin aku cepat mati, hah?” gerutunya. Tapi sedetik kemudian wajah tertekuk itu berubah dan dihiasi senyum tipis. “Aku ingin ke tempat yang hanya milikku dan Yesung Hyung.”

“Kalau begitu, ayo.” Yesung menarik kedua tangan Ryeowook, seraya membimbing anak itu turun dari atas tempat tidurnya dengan hati-hati. “Kita rayakan saja ulang tahunmu disana.” lanjutnya sambil menggenggam erat tangan Ryeowook, seakan-akan mereka tak akan pernah bisa dipisahkan.

0o0o0o0o0

Ryeowook dan Yesung memang sama-sama laki-laki. Lalu kenapa? Keduanya saling mencintai. Itulah yang mereka berdua ketahui dan tak ada satupun yang bisa menentang cinta mereka. Mungkin bagi sebagian orang cinta mereka salah. SANGAT SALAH. Tapi apa yang bisa mereka lakukan ketika benih cinta itu muncul di hati keduanya? Menolak? Sungguh itu hal yang paling tak rasional. Siapa yang mampu menolak cinta?

Cinta tak akan pernah salah. Hanya saja terkadang akan datang pada waktu dan takdir yang kurang tepat. Dan bagi keduanya cinta yang kurang tepat itulah yang menghampiri keduanya. Cinta yang tak tepat karena menghampiri dua pemuda yang akhirnya saling terjerat satu sama lain. Tapi mereka tak menyesal. Tak ada alasan untuk menyesali cinta mereka. Karena merekalah yang menikmatinya.

Meski kadang yang namanya takdir itu selalu bermain disekitar mereka. Seperti saat ini, Ryeowook hanya bisa berada di rumah sakit karena kanker hati stadium tiga yang semakin hari selalu menggerogoti tubuhnya. Tapi bagi Ryeowook, selama Yesung selalu ada disisinya, semua akan baik-baik saja. Ya, Ryeowook percaya.

“Nyanyikanlah sebuah lullaby untukku, Hyung.” pinta Ryeowook sambil menatap langit-langit kamarnya yang gelap karena lampu kamarnya sudah dimatikan Yesung. Ekor matanya melirik ke arah pemuda yang duduk di tepi tempat tidurnya sambil memperhatikan layar ponselnya.

Yesung bergumam sejenak sambil menutup flat ponselnya. Ditariknya sebuah kursi kecil dan duduk disana, menumpukan kedua sikunya di tepi tempat tidur Ryeowook dan menatap pemuda itu lembut. “Lagu apa?”

Sejenak Ryeowook memutar kedua bola matanya. “Terserah.”

Kembali Yesung bergumam sambil memutar ingatannya, berusaha mencari lagu yang bisa dinyanyikannya untuk sang kekasih malam itu. Sebenarnya Yesung memiliki suara yang terlalu indah, lagu apapun yang dinyanyikannya pasti akan membuat Ryeowook terbuai, tapi Yesung ingin menyanyikan lagu yang berbeda. Lagu yang mampu menjadi kenangan dalam lubuk hati Ryeowook-nya tercinta.

Sebuah lagu terbayang dipikirannya. Segera ditatapnya Ryeowook yang sudah menatapnya dengan tak sabar dan satu tangannya menggenggam tangan Ryeowook perlahan. Yesung membuka mulutnya dan melantunkan sebuah lagu berlirik manis. Lagu berjudul Someday yang dinyanyikan sebuah idol group Korea bernama Super Junior mengalun lembut nan merdu dari mulutnya.

Sebait demi sebait, dinyanyikan dengan penuh perasaan untuk sang kekasih tersayang. Dan semakin lama tangannya memberikan kehangatan yang semakin menentramkan bagi Ryeowook. Semua kehangatan Yesung seakan mengalir dari telapak tangannya dan membuat rasa kantuk serta bahagia mulai menyelimuti pemuda itu. Kehangatan Yesung adalah tenaga yang selama ini membuatnya mampu bertahan hidup.

“Hyung… Apa kita akan selalu bersama?” gumam Ryeowook sambil memejamkan matanya perlahan.

Yesung tersenyum namun tak menjawab pertanyaan Ryeowook karena dia tetap bernyanyi. Tak berapa lama Yesung tak melihat respon apapun dari Ryeowook dan dia yakin kalau pemuda manis itu kini sudah terlelap.

Senyum tulus kembali terulas di wajah Yesung ketika dia berhenti bernyanyi dan berdiri lalu mengusap sambil mengecup kening Ryeowook penuh sayang. “Selamat tidur, Sayangku. Semoga mimpi indah menyertai tidurmu.” bisiknya lembut sebelum akhirnya meninggalkan tempat tidur Ryeowook dan duduk di sofa panjang yang ada di ruangan itu dan mulai mencoba untuk tertidur.

0o0o0o0o0

Kedua mata Ryeowook menatap tak percaya pada berita yang baru saja di dengarnya dari layar televisi. Semalam, tentara Korea Utara menyerang perbatasan Korea Selatan dan sebuah perang terjadi disana. Beberapa warga yang hidup di pinggir pantai teluk Seoul di evakuasi ke dalam kota agar tak menjadi korban. Tapi karena tentara Korea Utara menyerang secara mendadak, ada beberapa warga yang pada akhirnya menjadi korban.

Degup jantung pemuda itu menjadi cepat saat melihat jasad korban yang dipindahkan. Bulu romanya langsung bergidik ngeri melihat darah berceceran dimana-mana. Perang selalu membawa dampak buruk, tak ada hal baik dari perang, akhirnya hanya akan menyisakan luka, penderitaan, trauma dan kebencian.

“Kenapa harus berperang…?” bisiknya sambl bersandar di tempat tidurnya. Matanya kini melirik kearah jam dinding di kamarnya. Sudah hampir tengah hari, tapi Yesung belum datang. Ini cukup aneh…

Baru saja pemuda itu menarik ponselnya yang diletakkan disamping bantal tidurnya, namun gerakannya terhenti ketika mendengar seseorang memutar knop pintu kamarnya dan pintu itu terbuka.

Senyum lega terpancar di wajah Ryeowook. “Hyung… Aku kira kau tak datang.”

Yesung terkekeh sambil menghampiri kekasihnya dan mengusap kepalanya lembut. “Maaf agak terlambat.” ujarnya santai sambil meletakkan sebuah kantong plastik putih di meja Ryeowook. “Ibuku membuatkanmu makan siang. Berterima kasihlah kepadanya.”

Dengan semangat Ryeowook menarik kantong yang diletakkan Yesung dan mengeluarkan kotak bekal susun disana. Tanpa menunggu lama, dibukanya kotak bekal yang terdri dari tiga tempat itu dengan semangat. Di kotak pertama ada berbagai macam sayuran sehat. Di kotak kedua ada beberapa makanan seperti telur gulung, udang goreng, sosis ayam dan kimchi. Lalu di kotak terakhir ada berbagai potongan buah yang tampak masih segar.

“Wow… Daebak!”

Yesung kembali tertawa melihat respon Ryeowook. “Dia berharap kau segera sembuh.”

“Sampaikan terima kasihku untuk, Ahjumma.”

“Pasti.” Yesung duduk di tepi tempat tidur Ryeowook dan membelakanginya. Sejenak tatapan pemuda itu tampak datar. Kini dia menunduk sambil memandangi kedua tangannya yang sudah memegangi ponselnya. “Setelah makan, aku mau mengajakmu jalan-jalan.”

“Kalau begitu aku akan memakannya cepat-cepat.” tawa Ryeowook sambil mengambil sumpit di kantong plastik tadi dan memakan bekal dihadapannya tanpa ada niat untuk berbagi dengan Yesung.

Melihat kelakuan kekasihnya, Yesung hanya bisa tersenyum samar.

0o0o0o0o0

Kini kedua pemuda itu sudah berjalan diantara beberapa batang pohon yang dibiarkan tumbuh secara sembarang di taman rumah sakit. Keduanya sama-sama berhenti di sebuah pohon Sakura yang berkuruan paling besar. Karena masih awal musim semi, jadi hanya ada beberapa kelopak sakura yang terlihat. Hanya sedikit.

“Kalau sudah musim gugur, kita harus berpesta disini, Hyung!” ujar Ryeowook senang sambil menengadah menatap dedaunan rimbun diatasnya. Berulang kali bibir munilnya memuji keindahan pohon itu dan rasanya itu masih belum cukup. “Kira-kira berapa usianya, ya?” lanjutnya sambil menoleh menatap Yesung.

Kembali Yesung hanya tertawa sambil mendekati Ryeowook dan menyentuh batang pohon itu lalu menengadah. “Mungkin seratus tahun. Dia sangat tinggi dan kokoh.”

Ryeowook hanya mengangguk sambil menengadah. “Enak sekali bisa hidup sangat lama. Aku juga ingin hidup yang lama.” gumamnya sendirian dan ucapannya membuat Yesung mengerutkan keningnya menatapnya. Sebelum kekasihnya memarahinya karena bicara seperti itu, Ryeowook sudah terkekeh lebih dulu. “Kalau aku hidup lama, itu artinya aku bisa bersama dengan Yesung Hyung jauh lebih lama lagi.”

“Apapun yang terjadi aku memang akan selalu bersamamu.” Yesung terdiam sejenak. Dan melihat tatapan mata Yesung, Ryeowook tahu ada sesuatu yang disembunyikan kekasihnya itu darinya.

Segera diraihnya tangan Yesung dan digenggamnya. “Ada apa? Ada yang mau kau katakan padaku, kan?”

Yesung sadar betul, pemuda yang sudah hampir tiga tahun menjadi kekasihnya itu pasti bisa menyadarinya. Digenggamnya tangan Ryeowook erat dan ditatapnya bola mata hitam itu dalam-dalam. “Kau sudah mendengar berita tentang perang di teluk Seoul, kan?”

Sejenak perasaan aneh menyelimuti hati Ryeowook dan pemuda itu hanya mengangguk sekali sebagai jawaban.

“Semalam aku mendapat telepon dari pusat pelatihan militer untuk ikut terjun dalam perang.” Sungguh kalimat berikutnya bagaikan bumerang di telinga Ryeowook. Yesung yang sadar akan perubahan sorot mata dari kekasihnya, menggenggam tangan Ryeowook semakin erat sambil melanjutkan, “Kau tahu aku sudah selesai melakukan latihan wajib militerku, itu sebabnya mereka memanggilku untuk terjun dalam perang.”

“Kau… Akan berperang?”

“Demi negara.” jawab Yesung pelan. Tampak sekali dia tak tega mengatakan hal itu pada Ryeowook. Dan kembali dia melanjutkan sebelum Ryeowook bertanya. “Kau tahu sebagai anak laki-laki pertama yang sudah dewasa, aku tak bisa berpangku tangan melihat perang di depan mataku_”

“Tapi bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi padamu, Hyung?!” Ryeowook menarik tangannya cepat sambil menatap Yesung frustasi. Matanya tampak berkaca-kaca namun dia menahan dirinya untuk tak menangis. Bayangan korban perang yang tadi dilihatnya kembali teringat di pikirannya namun kali ini yang terbayang justru sosok Yesung yang berlumuran darah.

Ryeowook menggelengkan kepalanya cepat. “Tak mau! Kalau kau terluka bagaimana?!”

“Ryeowook, dengarkan aku.” Yesung merengkuh kedua lengan kecil pemuda dihadapannya, membuat pemuda itu terpaksa menatap ke dalam matanya dengan mata yang kini sudah meneteskan butiran bening di sudutnya. “Aku akan baik-baik saja. Aku akan pulang karena aku sudah berjanji akan terus ada di sisimu. Dan seperti sebelumnya, kau harus mempercayaiku. Kau paham?”

Perlahan Ryeowook menggeleng. “Aku tak mau…” isaknya tertahan. “Aku tak mau Yesung Hyung pergi. Bagaimana kalau kau tak kembali?! Apa yang akan terjadi padaku?!” racaunya lagi sambil menangis histeris.

Segera Yesung memeluk tubuh Ryeowook erat dan kembali pelukannya membuat Ryeowook terdiam. “Aku akan kembali. Aku akan pulang. Tunggulah aku di sini. Aku akan pulang untukmu dan aku berjanji.” bisiknya lembut namun serius. Seakan tengah menuliskan ikrar tak terlihat di dalam hati Ryeowook.

Luluh… Itulah yang terjadi di dalam lubuk hati Ryeowook. Dia memang tak akan bisa menghentikan Yesung. Ikut terjun dalam perang adalah kewajiban setiap laki-laki Korea. Dengan kedua tangan gemetar dan lemah, dipeluknya tubuh Yesung yang masih mendekapnya erat. Ditenggelamkan wajahnya di dada bidang Yesung dan dihirupnya dalam-dalam aroma tubuh pemuda yang dicintainya itu.

“Aku akan menunggumu di sini. Hyung harus kembali kepadaku.”

0o0o0o0o0

Hari-hari Ryeowook berlalu begitu saja setelah Yesung terjun ke medan perang. Tak ada lagi pemuda manis yang menemaninya setiap hari. Tak ada lagi senyum manis atau tawa riang yang memenuhi kamar kecilnya seperti dulu. Sebagai gantinya, terkadang keluarga Yesung datang mengunjunginya untuk menghiburnya. Sungguh beruntung Ryeowook bisa diterima di keluarga Yesung sebagai kekasihnya. Hal yang langka dari hubungan antara pria sejenis yang pernah ada.

Setiap hari Ryeowook merasa kesepian, dan setiap hari pula dia datang ke tempat dimana menjadi tempat perjanjiannya dengan Yesung.

Matanya menatap ke atas, menatap kelopak-kelopak merah muda Sakura yang sudah mulai tampak jelas dan banyak di atas sana. Senyumnya terulas tipis.

“Disana pasti tak ada pohon Sakura.” bisiknya sendiri sambil mengeluarkan ponselnya dan langsung mengambil gambar pohon Sakura itu dengan ponselnya. Sesaat Ryeowook mengagumi hasil gambar yang baru diambilnya dan kembali mengambil gambar lainnya dari sudut yang berbeda.

“Ini akan jadi kado untuk Yesung Hyung kalau dia kembali nanti.” senyumnya bangga pada dirinya sendiri.

Kini hampir setiap hari Ryeowook akan mengambil satu gambar tentang pohon Sakura dan meminta tolong Jongjin, adik laki-laki Yesung, untuk mencetaknya dan menempelnya dkamar Yesung. Jadi jika Yesung kembali nanti, dia akan terkejut melihat berbagai foto perkembangan pohon Sakura mereka. Itu artinya keduanya sama-sama melihat perkembangan pohon Sakura itu bersama-sama, kan?

Membayangkan betapa terkejutnya ekspresi Yesung, selalu mampu membuat Ryeowook tersenyum bahagia.

0o0o0o0o0o0

Ryeowook kembali mengambil satu gambar pohon Sakura sebelum dilihatnya Jongjin berlari menghampirinya.

“Ryewook!”

“Jongjin? Ada apa? Tumben sekali kau menyusulku kesini?” tanya Ryeowook sambil memandangi hasil gambar yang baru diambilnya. Namun saat dia ingin menatap Jongjin, tiba-tiba pemuda yang sedikit lebih tinggi darinya itu langsung memeluknya dan terisak. Ryeowook bisa merasakan pundaknya kini basah dengan air mata Jongjin. “Hey, ada apa?”

“Hyung-ku… Yesung Hyung…”

Mendengar ucapan Jongjin membuat nafas Ryeowook mendadak tertahan. “Ye-yesung Hyung, apa yang terjadi padanya?”

“Yesung Hyung gugur di medan perang, Ryeowook.” tangis Jongjin dan sontak ponsel di genggaman Ryeowook terjatuh begitu saja.

Ucapan Jongjin bagaikan petir yang langsung menyambar tubuhnya. Seluruh tubuhnya gemetar di pelukan Jongjin. Lemas. Tak ada tenaga untuk menopang berat tubuhnya sendiri. Semua tampak berputar dan membuat kepala Ryeowook mendadak pusing. Perlahan tatapan matanya berubah gelap dan tubuh Ryeowook benar-benar langsung terkulai lemas dalam pelukan Jongjin. Jongjin yang menyadari hal itu langsung menatap Ryeowook yang nyaris jatuh dalam rengkuhannya.

“Ryeowook? Hey, Ryewook!”

0o0o0o0o0o0

Sakura masih baru bersemi, tapi cinta Ryeowook sudah gugur lebih dulu. Sebuah janji yang diikatnya dengan Yesung beberapa minggu kini sudah tak berarti, semua seakan menghempas gugur terbawa angin musim semi.

Hampa.

Itulah yang Ryeowook rasakan. Apalagi dia tak bisa melihat jasad sang kekasih. Ya, jasad Yesung dikabarkan tenggelam di teluk Seoul dan tak ditemukan. Kenyataan itu benar-benar membuat Ryeowook hanya bisa terdiam seperti mayat hidup. Menolak berbicara atau berinteraksi dengan siapapun disekitarnya.

Ryeowook benar-benar tak peduli dengan tubuhnya yang semakin hari semakin lemah. Kanker hatinya dengan cepat menggerogoti seluruh tubuhnya karena depresi yang dirasakannya semenjak ditinggalkan Yesung. Tak ada lagi kebahagiaan di dalam hidupnya. Orang yang telah berjanji akan selalu ada di sisinya kini justru lebih dulu meninggalkannya. Sumber tenaganya sudah tak ada. Lalu apa yang bisa dia lakukan sekarang?

Malam itu bulan bersinar sangat terang menerangi Seoul, sama sekali tak terbayangkan tengah terjadi perang di teluk Seoul. Entah bulan yang memang tak memiliki perasaan karena memancarkan keindahannya di tengah bencana, atau memang perang yang datang disaat yang tak tepat? Oh, ayolah! Perang memang selalu datang disaat yang tak tepat.

Ryeowook melangkahkan kakinya yang lemah menyusuri jalan setapak yang hanya dipenuhi pohon-pohon Sakura. Malam sama sekal tak membuat niatnya surut untuk berjalan sendirian. Langkahnya terhenti di depan pohon Sakura yang menjadi tempat perjanjiannya dengan Yesung. Janji yang tak akan pernah bisa ditepatinya karena si pengikat janji sudah lebih dulu mengingkarinya.

Air matanya menetes namun raut wajah Ryeowook tetap datar. Seperti itulah dia menangis selama ini. Menangis tanpa menunjukkan ekspresi apapun. Disentuhnya batang pohon Sakura itu dan dipejamkan matanya perlahan, membiarkan air matanya menetes membasahi tanah.

“Hyung…” panggilnya dan hanya hembusan anginlah yang menjawabnya. “Yesung Hyung…” Tetap tak ada satupun jawaban yang ditemukan Ryeowook. “Hyung…” Suaranya semakin parau dan kini tubuhnya merosot ke tanah sambil menunduk dan menangis keras.

“Yesung Hyung!!!!” Inilah pertama kalinya Ryeowook menjerit memanggil nama sang kekasih sendirian. Hanya ada Sakura, bulan, angin, malam dan serangga yang menemaninya. Dan ini membuat hatinya semakin pilu dan sesak.

0o0o0o0o0o0

Setahun kemudian…

TING-TONG!

Jongjin terkesiap di ruang tengah saat mendengar suara bel pintu apartemennya. Kedua orang tuanya tak ada di rumah dan dengan enggan pemuda itu melangkahkan kakinya ke pintu depan sambil menggaruk belakang kepalanya dengan malas dan satu tangan masih memegangi remote tv.

TING-TONG!

Raut wajahnya berubah kesal saat si tamu kembali menekan bel. “Tunggu!” serunya cepat sambil menekan kunci kombinasi apartemen mereka.

Sebuah bunyi PIIP terdengar dan Jongjin melihat knop pintu itu berputar lalu sang pintu terdorong kedalam. Mata sipit Jongjin berusaha menangkap sosok yang kini berjalan masuk ke dalam rumahnya dan saat itu juga remote tv yang ada di tangannya langsung terjatuh ke lantai.

Sosok itu berdiri di hadapan Jongjin dengan senyum terkembang. Tapi yang ditatapanya justru tampak seperti sedang melihat hantu.

“Tak bisakah kau bahagia melihat kakakmu kembali, Jongjin?”

“Ye-yesung Hyung?!” Jongjin benar-benar tak bisa mempercayai apa yang ada dihadapannya itu nyata atau hanya halusinasi yang ditimbulkan karena rasa rindu terhadap sang kakak yang diketahuinya sudah meninggal dalam perang “Ba-bagaimana bisa kau masih hidup?!” serunya masih dengan shock.

Yesung berjalan masuk sambil melepas sepatu butsnya. Apa yang dikenakannya tampak sangat lusuh. Dia hanya mengenakan sebuah mantel usang dan celana jeans yang sudah sobek. Benar-benar terlihat seperti orang yang aneh.

“Aku memang nyaris mati.” ujarnya sambil melangkah masuk ke ruang tengah dan duduk di sofa. Dibukanya mantelnnya dan Yesung mengangkat kaos putih yang dikenakannya, memperlihatkan sebuah luka bekas tertembak di bagian perutnya. “Aku terkena tembakan di perut saat berperang dan langsung terjatuh dari perahu ke dalam laut. Saat itu aku benar-benar tak tahu apa yang terjadi, ku pikir aku sudah mati. Tapi saat aku kembali membuka mataku, aku sudah berada di sebuah pondok kecil yang dihuni sepasang suami istri nelayan yang menyelamatkanku.” ceritanya dengan senyum kalemnya.

Jongjin masih tak bisa percaya dan ikut duduk di sofa, memandangi Yesung. “La-lalu, kenapa kau tak segera pulang?!”

Senyum Yesung pudar. “Aku ingin segera pulang, tapi tubuhku mengalami kelumpuh sementara karena trauma yang aku alami. Aku tak bisa menggerakkan tubuhku dan hanya bisa berbaring. Aku juga tak bisa menghubungi siapapun karena nelayan itu tidak memiliki satupun alat komunikasi.” jelasnya. “Tapi akhirnya aku bisa bergerak dan tanpa mengulur waktu, aku bisa kembali.”

Mendadak air mata Jongjin mengalir. Dengan segera dipeluknya tubuh sang kakak erat dan dia terisak. “Aku kira Hyung benar-benar sudah tiada! Aku kira Hyung benar-benar sudah mati! Syukurlah, Hyung… Syukurlah kau masih hidup dan kau pulang. Syukurlah…” isaknya penuh haru.

Yesung menepuk pundak adiknya sambil tersenyum lega. “Mana Ayah dan Ibu? Aku juga ingin segera menemui Ryeowook. Bagaimana keadaannya?”

Sontak Jongjin melepaskan pelukannya dan menatap Yesung serba salah. “Hyung…”

“Ada apa?”

“Ryeowook…”

0o0o0o0o0

“Hyung, Ryeowook meninggal tiga bulan setelah berita tentang kematianmu terdengar.” Kalimat Jongjin kembali teringiang.

“Dia berubah sejak mendengar berita kematianmu. Dia berubah menjadi mayat hidup dan menolak berinteraksi dengan siapapun. Hampir tiap hari aku mencoba menemuinya tapi dia menolak. Dia bahkan menolak minum obat atau makan. Keluarganya, dokter juga keluarga kita benar-benar tak tahu harus bagaimana memaksanya karena dia sangat keras kepala. Berkali-kali dia mengatakan bahwa tak ada gunanya dia hidup jika kau saja sudah tak ada lagi.”

“Aku tak tahu pasti apa yang terjadi. Tapi waktu itu, awal musim gugur, aku datang ke tempatnya pagi-pagi sekali. Tapi aku tak menemukannya disana dan pintunya sudah terbuka. Tak ada satupun perawat yang tahu kemana dirinya dia. Saat itu aku kira dia ada di tempat yang selalu didatanginya, di dekat pohon Sakura tertinggi di taman rumah sakit. Dan aku benar, aku menemukannya tengah duduk bersandar disana. Hanya saja… Aku tak pernah membayangkan kalau yang ada disana hanyalah tubuh Ryeowook.”

BRUK!

Tubuh Yesung terjatuh tepat di depan pintu kamarnya.

“Hyung, kau baik-baik saja?” Jongjin benar-benar bingung menatap kakaknya yang kini hanya memunculkan ekspresi shock dan tak bisa bicara apapun. Pasti sangat mengejutkan ketika mendengar orang yang kau cintai meninggalkanmu dalam keadaan tak tahu kalau kau yang dikiranya sudah mati ternyata masih hidup.

Takdir kali ini sangat tidak adil!

Yesung mencoba untuk berdiri dengan meraba pintu kamarnya dan memutar knop itu perlahan. Tak ada satupun kata yang bisa diucapkannya. Hatinya dipenuhi kehampaan yang sangat besar. Bahkan Yesung berharap ini hanya mimpi dan ketika dia terbangun, dia sudah kembali ke satu tahun yang lalu, tepat dimana masih ada Ryeowook disisinya.

Perlahan pintu itu terdorong terbuka dan bola mata Yesung terbuka lebar saat melihat dinding kamarnya penuh dengan tempelan foto pohon Sakura dari yang masih baru bermekaran sampai yang sudah nyaris mekar sempurna.

“Foto itu diambil oleh Ryeowook dan setiap harinya dia memintaku mencucinya lalu menempelnya di kamarmu. Dia ingin memberi kejutan untukmu disaat kau pulang nanti.” ujar Jongjin lagi tanpa menunggu Yesung bertanya.

Pohon Sakura mereka..

Tanpa memperdulikan jawaban Jongjin, Yesung langsung berlari melewati adiknya yang kembali terkejut melihat reaksinya. Yesung hanya berlari meninggalkan Jongjin, keluar dari apartemennya dan segera mencari halte bus terdekat.

Degup jantungnya tak bisa melambat apalagi saat ia turun dari bus dan segera berlari ke arah sebuah rumah sakit besar yang berada tak jauh dari halte tempatnya turun. Langkahnya semakin cepat saat Yesung sudah masuk di wilayah taman rumah sakit dan seakan sebuah tarikan aneh, dia langsung menuju ketempat dimana pohon Sakura yang difoto Ryeowook berada.

Tempat kenangan keduanya. Tempat mereka mengikat janji…

Langkahnya terhenti sekitar lima langkah di depan pohon itu. Menatap pohon yang tidak berbunga, tidak pula berguguran. Dedaunan Sakura yang berwarna hijau lembut menutupi setiap ranting di pohon tinggi itu. Tak pernah terbayangkan kalau dia akan berada disini sendirian. Tanpa Ryeowook disisinya.

Setelah cukup lama menahan air matanya, kini mata pemuda itu berkaca-kaca. Langkahnya dengan sangat pelan dan agak tertatih kini mendekati pohon itu. Matanya menatap keatas, memperhatikan sinar matahari yang berhasil menembus celah dedaunan dan menyinari tubuhnya yang terasa kaku dan kosong.

Yesung memejamkan matanya dan membiarkan air matanya menetes perlahan. Disentuhnya batang besar pohon itu dengan satu tangannya. Samar, dirasakannya sebuah guratan disana. Yesung kembali membuka matanya dan melihat guratan halus yang cukup jelas di batang pohon itu.

Yesung semakin mendekat dan menatap serius guratan itu.

Tulisan tangan Ryeowook!

Segera Yesung mengatupkan mulutnya dengan satu tangannya ketika air matanya mendadak benar-benar keluar dengan deras. Nafasnya tersenggal bahkan kini seluruh tubuhnya lemas membaca guratan-guratan tipis itu yang membentuk sebuah pesan. Pesan untuknya dari Ryeowook.

Tubuh Yesung merosot lalu terduduk pasrah di tanah dan dia menunduk sambil terisak dalam. Dia menyesal. Sangat menyesali semuanya. Seandainya dia bisa kembali ke masa lalu, seandainya dia tak perlu lumpuh atau mungkin seandainya dia tak terluka. Seandainya dia tak ikut terjun ke medan perang. Semua seandainya kini muncul dipikirannya.

Seandainya Ryeowook masih hidup.

Tapi itu semua sudah tak berguna. Yesung mungkin terlambat.

“Wook…” isaknya tertahan. “Ryeowook…”

Yesung benar-benar tak bisa melakukan apapun selain menangis. Senyum, tawa, sentuhan dan seluruh ekspresi yang selalu ditampilkan kekasihnya kembali menyeruak, memaksanya untuk mengingat itu semua tanpa terkecuali dan itu membuat Yesung menangis semakin pilu.

Guratan yang dibuat Ryewook di pohon mereka kembali diingat Yesung. Yesung mengingkari janjinya, tapi Ryeowook mengikat satu janji baru dengannya sebelum pemuda manis itu pergi meninggalkannya untuk selamanya.

‘Yesung Hyung dan Ryeowook. Bersamamu untuk selamanya….’

.

.

~The End~

10 thoughts on “Just A One Promise, Be With You Forever // YeWook

  1. kereeen~ aaa, bagus lah pkoknya ;AAA;
    slalu brhasil bikin banjir airmata. aku pkir awalnya yewook meninggal trnyata cma wooknya aja *lah trus? orz*
    adegan akhir itu kerasa nyeseknya smpai ke langit (?) TAT
    ditunggu yewook2 yg lain, hwaiting! \o/

  2. nyesek bgt…
    ya ampun, kukira yesung yang balik itu cuma rohnya kayak di film the other…
    duh, khayalanku ketinggian…
    tapi, kasian banget ryeowook maupun yesungnya, mereka tidak bisa bersatu di dunia…😦
    tapi, ficnya keren lho…

  3. keren banget…
    tapi juga nyesek minta ampun… T-T
    awalnya kukira yesung yg sakit, ternyata ryeowook… maaf…
    hari2 ketika mereka masih bersama manis banget… yesung setia nemenin ryeowook… btw, keluarga ryeowook di mana? yesung kerja apa?
    kehilangan orang yg paling dicintai apalagi dalam kondisi seperti itu memang jadi pukulan berat bagi ryeowook… sayangnya ryeowook gak menerima kasih sayang orang2 di sekitarnya… walo udah tau apa yg mungkin terjadi ma ryeowook, tapi waktu diceritain ryeowook mati air mata saya langsung ngalir… kenang2an dari ryeowook bwt yesung dan pesan terakhir ryeowook bikin saya makin ngrasa kisah mereka tragis…
    jadi akhirnya, walopun raga mereka gak bersama, walo dunia mereka udah berbeda, mereka tetap bersama selamanya kan?
    keren… b><d

  4. hiks, Eonni berhasil membuatku banjir air mata. selalu saja bikin FF DAEBAK!! iri aku #gigitcelemek

    keep writing ya eonni ^^
    tunggu FF mu yg white treasure jg nih ><

  5. Kim Taena-sshi~!!!
    Ueeee~tega bgt bkn yg angst, yewook lg TT^TT sumpah ngga nahan nangis pas baca ini…. TT_TT keren tp sngat mnyedihkan TT~TT
    Kim Taena-sshi, req fanfic yewook yg romance,ne?hehe…jgn yg sad ending,ne?yg happy2 aja…hehe
    gomawo^o^

  6. hiks
    wookie oppa, hiks
    Tae nangis bacanya, padahal udah keberapa kalinya, hiks
    Eonni, ditunggu YeWook nya lg ya
    Tae YWS!! hhe
    ditunggu kelanjutan White Housenya jg eon
    Hwaiting😄

  7. Nyesekk T_T
    Aq nangis seember nih., Sumpah ff nya keren bgt smpe bkin aq bnjir air mata., Y_Y
    D tnggu ff YeWook lainnya😉

  8. nyesek bgt akhirnya !
    ryeowook meninggal *ini ga iklas*
    yesung hidup lagi *ini juga ga iklas*
    POKOKNYA GA IKLAS KLO YEWOOK TIDAK BERSAMA *nangis di pinggir air terjun*
    kenapa ga nunggu yesung muncul baru ryeowook meninggal ? #plak
    okeh ini terharu bgt, hiks hiks hiks

  9. huweeee tisu mana tisu…
    ff.a sungguh bikin aku nangis….
    gak nyangka ff.a kerennnn…
    kasian bgt si nasib yewok ='(

    chingu~ sering sering ne..buat ff yewok keren kayak gini…
    ddaebakk benerr bner menguras air mata… ='(

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s