Dreaming I // F.Cuz

Bermimpilah di dalam bintangmu…

Percayalah kepada hatimu…

.

Dreaming I

.

Cast :: F.Cuz ( Jinon, Daeghun, Kan, Raehyun, Yejun)

Genre :: Friendship//Dream

MV Song Fanfic from F.Cuz.

 

Ever since I was young, though I didn’t have much…

I loved the fact that I could sing.

Though I dozed off every day in class.

Though I was scolded by the teacher.

I could dream and that made me the happiest~

.

.

Shim Yejun mengingat kalimat itu ketika tengah menonton sebuah music video di layar iPad-nya. Mata kecilnya memancarkan kerinduan ketika dia menatap serius ke layar video itu. Matanya tampak memikirkan sesuatu yang cukup sulit. Kebisingan disekitarnya tampak tak mampu menembus dunianya.

Yejun bukanlah anak pendiam, dia hanya tidak suka bergaul dengan orang banyak. Lagi pula pemuda yang tahun ini duduk di kelas dua SMA itu memiliki ciri berpakaian dan sifat yang membuat orang enggan berkomunikasi dengannya. Ayolah… Siapa yang mau bersahabat dekat dengan seorang anak yang berani mengecat rambutnya menjadi coklat terang dan memakai berbagai aksesoris yang membuatnya kelihatan seperti berandalan kecil? Dan alasan itulah yang membuat Yejun lebih sering mendengarkan musik dibanding bergaul dengan orang-orang yang sejak awal juga enggan bergaul dengannya. Dan membuat mendengarkan musik sudah menjadi rutinitasnya.

Seorang Seonsaengnim yang masuk membuat semua siswa yang tadi tengah berisik langsung berhamburan duduk ke kursi mereka. Sekali lagi, hari membosankan di sekolah sudah kembali dimulai setelah istirahat sore beberapa menit yang lalu. Yep~ Kalimat itulah yang melintas di pikiran Yejun. Segera pemuda itu mematikan musik di iPad-nya dan menangkupkan layar iPad itu menghadap meja.

Sejenak ingatannya menerawang jauh ke suatu ketika dia masih sangat kecil, bersama sahabat-sahabatnya, bermimpi akan masa depan mereka. Anak kecil tak pernah memiliki apapun, bukan? Dan seperti itulah Yejun dahulu. Satu hal yang ia yakin dan miliki adalah kepecayaan bahwa dirinya memang ditakdirkan untuk bernyanyi. Yejun sangat suka bernyanyi. Tak peduli sesering apa dia tertidur di kelas atau dimarahi oleh Sonsaengnim, baginya bermimpi akan masa depan adalah satu-satunya hal yang membuatnya menjadi orang paling bahagia.

Tapi itu hanya kenangan…

Sorot mata Yejun kembali datar. Sonsaengnim yang tengah menjelaskan tentang grammar bahasa Inggris tak mampu merebut perahatian pemuda manis yang seperti perempuan itu. Bahkan kini Yejun sudah melirik kearah teman sekelasnya. Tak banyak dari mereka yang menyimak pelajaran, sebagian tampak enggan dan lainnya mulai menguap merasa bosan. Sekali lagi, Yejun menghela nafas sambil mengambil earphone yang masih di atas meja lalu memasangnya ditelingnya. Kembali ia mendengarkan musik bahkan sambil melantunkan musik itu.

Tentu saja Sonsaengnim melihat apa yang Yejun lakukan dan merasa terganggu.

“Hey! Apa yang kau lakukan?!”

Tak ada jawaban dari Yejun yang masih sibuk bernyanyi dan semua siswa mulai memperhatikan kelakuannya. Merasa diabaikan, Sonsaengnim mengarahkan penggaris panjangnya sambil menghampiri meja Yejun dan memukul mejanya.

“Lepaskan earphone itu sekarang, Shim Yejun!”

Yejun melirik dingin kearah Sonsaengnim sambil melepas earphone-nya, lalu berdiri. Membuat tatapan sang Sonsaengnim tentu saja menjadi keheranan. Dan tanpa berkata apapun Yejun melangkah menjauhi Sonsaengnim, keluar dari kelas.

“A-apa-apaan anak itu?”

***

Back then, back then, back then I was young…

Yes, yes, yes, my heart was like vapor.

If only I could hold onto you.

If only I could dream.

I don’t want to let go of that hand.

I never let you go~

.

.

Anak kecil hanya tahu bagaimana cara bermimpi akan masa depan, bukan? Hati mereka bagaikan uap air yang tak bisa dibayangkan. Bebas, lepas, ringan, tanpa beban apapun yang patut mereka pikirkan.

Jika saja masa-masa itu tak pernah hilang… Mungkin dunia akan menjadi lebih baik.

‘BRAK’

Yejun membuka paksa sebuah kelas yang saat itu hening. Para siswa kelas tiga juga Sonsaengnim yang mengajar tentu saja kaget melihat ulah Yejun yang benar-benar tidak sopan dan mengganggu.

Seorang siswa yang duduk di kursi depan sontak membulatkan matanya kaget melihat ulah Yejun. Raehyun.

“Ayo pergi!” ucap Yejun cepat sambil mendekati meja Raehyun. Dia benar-benar menganggap Sonsaengnim yang ada di kelas itu seperti hantu yang tak terlihat.

Raehyun melirik kearah semua siswa dikelasnya dengan pandangan malu. Bagaimana tidak malu ketika ada seorang adik kelas menerobos masuk ke kelasmu untuk membawamu pergi disaat pelajaran tengah berlangsung?

“Sudah saatnya kita semua kembali, Hyung. Aku sudah muak melihat kita terpisah seperti ini.” Lanjut Yejun sambil memukul meja Raehyun.

Raehyun menggigit bibir bawahnya sambil menatap Sonsaengnim. Karena pemuda berkacamata dengan rambut cepak yang dicat biru itu tak menjawabnya, Yejun menatapnya dengan tatapan penuh luka. Sepertinya persahabatan yang sudah hancur memang sulit untuk disatukan.

Tanpa banyak bicara Yejun hanya mampu menatap Raehyun kecewa dan meninggalkan kelas itu. Sonsaengnim hanya mengerutkan keningnya melihat kelakuan Yejun namun kini perhatiannya sudah tertuju pada Raehyun yang hanya terdiam. Tentu saja dia marah pada Raehyun yang selaku teman Yejun.

Yejun kini melangkah sendirian di koridor yang kosong hari itu. Pikirannya kembali melayang ketika dia masih kecil dulu, berlima dengan Raehyun dan tiga orang lainnya.

Persahabatan itu memang rentan. Seerat apapun kau menjalinnya, suatu ketika akan datang hari dimana kalian akan melangkah di jalan kalian masing-masing, kan? Akan tiba hari dimana kalian tak akan membutuhkan satu sama lain? Tapi apa hari itu harus benar-benar datang? Yejun membutuhkan mereka. Membutuhkan sahabat-sahabatnya.

Jika saja dia masih bisa menggenggam mereka semua, jika saja dia masih bisa bermimpi seperti masa lalu. Dia mungkin tak akan pernah melepaskan mereka. Tak akan pernah dibiarkannya mereka pergi dan persahabatan mereka terpecah begitu saja.

***

Though I don’t have any money, though I don’t have anything.

I want to sing, I want to go till the end.

Though it’s still hard, though it’s hard to walk.

I’ll always overcome for that dream.

Dreaming in my star.

Believe in your heart~

.

.

Daeghun menghela nafas ketika membershkan sebuah meja café yang baru saja ditinggal sang pembeli. Diletakkannya cangkir-cangkir kopi yang masih tersisa ke dalam nampan. Tak ada sorot kebahagiaan dimatanya ketika dia melakukan pekerjaan itu. Menjadi seorang pelayan café bukanlah pilihan. Da harus melakukannya kalau ingin bertahan hidup dan mendapatkan uang.

Berhenti sekolah di tahun ajaran terakhirnya, menjadi pelayan dan melupakan impiannya…

“Daeghun Hyung!”

Seruan seseorang membuat pemuda berambut oranye itu menoleh kearah pintu masuk café dan mendapati Yejun sudah berdiri menatapnya disana.

Yejun mendekatinya. “Kenapa kau masih bertahan dengan pekerjaan ini? Bukankah kau ingin terus bernyanyi dan mengembangkan kemampuanmu bersama denganku? Bersama dengan teman-teman kita?” ujarnya sambil hendak meraih tangan Daeghun.

Daeghun segera menghentakkan tangan Yejun sambil menatapnya dengan gusar. “Apa yang kau katakan? Aku sedang bekerja sekarang.” balasnya kasar sambil sedikit mendorong Yejun mundur.

Segera Yejun menarik kedua bahu hyung yang setahun lebih tua darinya itu cepat. “Café ini bukan tempatmu. Hyung, ingatlah! Bukankah kita memiliki impian yang harus kita wujudkan? Kalau kita berpisah-pisah seperti ini impian itu tak akan pernah terwujud. Ikutlah denganku!”

“Lepaskan aku, Yejun. Kau tak paham posisiku.” balas Daeghun lagi sambil menyingkirkan tangan Yejun dari pundaknya, hanya saja kini intonasi suaranya tidak sekasar sebelumnya. Tampak jelas bahwa Daeghun sesungguhnya ingin mengikuti ucapan Yejun, tapi dia tak punya pilihan. Daeghun harus tetap berada di café itu.

Yejun kembali merengkuh pundak Daeghun. Namun sebelum dia berbicara, Daeghun kembali menyingkirkan tangan Yejun sambil menatapnya dengan tatapan yang pilu. “Aku butuh pekerjaan ini.” ujarnya sambil mendorong Yejun.

“Hyung, ayolah!” Kini Yejun dengan paksa menarik tangan Daeghun namun kecelakaan terjadi. Karena Daeghun langsung menyentakkan tangan Yejun, tak sengaja sebuah cangkir tersenggol dan jatuh kelantai lalu pecah.

Kedua pemuda itu langsung membisu menatap pecahan cangkir di lantai café.

Tak perlu menunggu lama, pria bertubuh pendek gemuk langsung menghampir mereka dengan marah-marah. “Apa-apaan ini, Daeghun?!”

Yejun tampak sangat bersalah dan Daeghun tak tahu harus bilang apa. Segera didorongnya tubuh Yejun menjauh sambil menggaruk belakang kepalanya gusar. “Pergilah, Yejun.” usirnya dingin dan membuat Yejun hanya bisa terdiam lalu meninggalkannya begitu saja.

“Maafkan aku.” sesal Daeghun sambil menundukkan kepalanya di depan manajer café yang sudah menatapnya marah.

Dengan kasarnya manajer café itu menoyor kepala Daeghun beberapa kali sambil memarahinya. “Kau itu benar-benar, Daeghun. Kau harusnya bisa berhati-hati, dasar anak bodoh! Kau harus menggantinya dengan gajimu!”

Daeghun hanya bisa menunduk diam diperlakukan sekasar itu. Dia tak bisa melawan.

Daghun tak memiliki uang, dia tak memiliki apapun. Satu-satunya yang dimilikinya adalah nyanyiannya, sama seperti Yejun dan dia ingin bernyanyi sampai akhir. Meski sesungguhnya sangat sulit mewujudkan impian itu, tetapi Daeghun ingin mengatasinya. Demi impiannya, Daeghun ingin bermimpi. Ingin percaya.

***

Right now, my heart is boom boom beating…

My beating heart is saying something.

Telling me to fly higher.

Yes, I’m ready – this fly gentleman is going.

This dreaming goes out to you.

And the future of my passionate heart~

.

.

Jinon menatap pemuda berwajah ketakutan yang kini berdiri di hadapannya sambil menundukkan kepalanya. Senyum meremehkan terulas jelas di wajahnya yang tampak sedikit agak nakal. Rambut pirangnya membuatnya tampak semakin mencerminkan sosok anak berandalan yang memang selalu melekat di namanya.

“Coba lihat wajahnya. Payah sekali.” ejek Jinon sambil terkekeh meremehkan dan membuat beberapa anak buahnya ikut terkekeh meledek.

Namun ada satu pemuda berambut biru gelap hanya menatap ke arah pemuda itu dingin, tampak tak ingin ikut campur dengan apa yang dilakukan Jinon.

Perhatian Jinon teralih ketika Yejun sudah menghampirinya. Dia cukup kaget karena dia tak pernah berpikir kalau magnae itu bisa menemukan dimana dia ketika membolos sekolah. Meski tahun ini Jinon dan teman-temannya seharusnya duduk di kelas tiga, mereka sama-sama tak peduli akan sekolah dan hanya membolos setiap hari bersama anak-anak berandalan lainnya.

“Hyung~”

“Ehe~ Si bodoh ini?” Jinon kembali tertawa meledek sambil melirik pemuda berambut biru itu sekilas.

Yonghak, atau yang biasa dipanggil Kan, pemuda berambut biru itu, kembali hanya melirik Yejun dengan tatapan dingin namun sarat dengan sesuatu yang sulit digambarkan Yejun. Kan segera mengalihkan tatapannya tanpa minat sambil berdecak.

“Hyung~ Sudahlah hentikan ini semua. Apa untung yang kau dapat dengan menindas orang lain? Ayo ikut denganku.” ujar Yejun sambil menyentuh kedua bahu Jinon. Sepertinya pemuda manis itu tak lelah memohon seperti itu kepada sahabat-sahabatnya.

Jinon melotot menatap Yejun sambil menyingkirkan tangannya. “Apa urusannya denganmu, hah?! Pergi kau!”

“Yonghak Hyung!” Yejun menarik kemeja sekolah Kan namun tangannya dengan kasar disingkirkan oleh Jinon yang benar-benar marah kepadanya dan langsung mendorong Yejun dengan kasar sampai membuat pemuda itu agak oleng.

“Pergi.” usirnya sambil mengarahkan tangannya, mengsyaratkan pada Yejun untuk pergi.

Yejun benar-benar tak tahu harus bagaimana lagi mengembalikan persahabata mereka yang sudah terpisah seperti ini. Sorot kekecewaan yang dalam tak bisa disembunyikan pemuda itu ketika dia menatap Jinon dan Kan. Namun sama seperti dihadapan Raehyun atau Daeghun, Yejun kembali meninggalkan kedua sahabatnya begitu saja tanpa mengatakan apapun.

Hilang harapan…

Jinon hanya menatap Yejun yang semakin menjauh dengan tatapan kesal. Tapi Kan kembali hanya bisa menatap Yejun dengan pandangan datar. Tapi ada sesuatu yang bergejolak di dada Kan. Hatinya seakan mengatakan sesuatu yang dia sendiri tak mampu untuk memahaminya. Mungkin Jinon juga merasakan hal yang sama, tapi pria yang secara usia paling dewasa itu enggan untuk memikirkannya.

Hatinya seakan menyuruh Kan untuk kembali terbang seperti dulu, terbang jauh lebih tinggi. Dan mungkin saat ini dia sudah siap. Kan ingin terbang lebih tinggi. Dia siap terbang lebih tinggi. Hatinya benar-benar memintanya untuk kembali seperti dulu.

***

Di kelas, Sonsaengnim masih saja memarahi Raehyun dengan kata-kata kasar.

“Kau itu sudah kelas tiga. Seharusnya berentilah bermain dan fokus belajar agar kau bisa lulus dengan sempurna. Coba lihat rambut yang kau cat menjadi biru aneh seperti itu? Apa ini pantas dilakukan siswa kelas tiga yang akan menjalani ujian? Aku tahu teman-temanmu itu sama berandalannya denganmu. Tapi setidaknya kau tak harus mengikuti jejak mereka!”

Raehyun sejenak menunduk mendengar ucapan Sonsaengnim. Dia merasa muak karena Sonsaengnim itu menghina sahabat-sahabatnya. Mungkin memang sudah lama sekali Raehyun dan keempat sahabatnya tidak lagi bersama, tapi itu bukan berarti dia akan diam mendengar seseorang menghina sahabatnya seperti itu.

Mereka sahabatnya.

Dengan segera dia berdiri dan berjalan meninggalkan Sonsaengnim, melangkah keluar kelas begitu saja tanpa dosa.

.

.

Raehyun sudah sibuk mengelap kaca café yang sebenarnya masih bersih. Tapi dibanding dia hanya diam dan akan mendapat celaan dari boss-nya, lebih baik dia melakukan sesuatu meski itu sebenarnya percuma. Dan meski dia sibuk, pikirannya tak bisa lepas dari Yejun. Membayangkan Yejun mencari-cari sahabatnya yang lain. Apa mereka akan ikut dengan Yejun?

Ketukan kecil dari dalam café membuat perhatian Raehyun teralih. Ditatapnya seorang bocah kecil yang mengingatkannya pada masa lalunya. Ya, bocah itu sangat mirip dengannya ketika kecil. Katakan ini halusinasi, tapi memang itulah yang dilihat Raehyun.

Bocah itu tersenyum tulus kearahnya dan membuat Raehyun sejenak menghentikan kegiatannya dan menatap senyum polos itu. Senyumannya di masa kecil. Namun pemuda itu langsung terkejut karena boss-nya sudah mendorong kepalanya cukup keras dan ketika sadar, bocah itu sudah tak ada dihadapannya.

“Kenapa kau malah termenung, bodoh?! Cepat kerjakan pekerjaanmu dengan baik!!”

Raehyun melirik boss-nya datar.

“Aku menggajimu bukan untuk membersihkan kaca dengan lemah seperti itu.” Pria gemuk itu menirukan cara Raehyun mengelap kaca dengan pelan-pelan sambil terus memarahinya. “Kalau kau mau bekerja disini, kau harus bisa bekerja dengan baik!”

Raehyun sama sekali tak menatap pria itu.

“Hey! Kau tak mau mendengar boss-mu, hah?!

.

.

“Yejun benar. Tak ada gunanya kita melakukan hal ini.”

Jinon langsung mendorong bahu Kan ketika pemuda itu mengutarakan pendapatnya. “Sejak kapan kau berani kepadaku?” tantangnya dingin.

“Yejun datang untuk menyadarkan kita. Kita sudah melupakan sesuatu yang sangat penting, Jinon. Dan kau juga harus menyadarinya.” lanjut Kan sambil mengacak rambutnya frustasi. Sulit bicara dengan Jinon yang cukup temperamental.

“Jadi kau juga sudah berani menasihatiku, heh?” Jinon terkekeh meremehkan sambil mendorong tubuh Kan.

Melihat apa yang terjadi, seorang pemuda dari kelompok Jinon segera maju dan meraih kerah kemeja Kan lalu mendorong pemuda itu menghantam tembok lalu memukul wajah Kan kencang. “Kau mau berkhianat, eoh?”

.

.

Raehyun duduk di kursi di tengah koridor sekolahnya. Matahari dibalik jendela besar dibelakangnya sudah benar-benar tenggelam dan itu membuat perasaannya semakin resah. Bukan hanya resah karena Yejun, tapi dia juga resah karena hatinya tak mau menuruti perintahnya.

Apa dia harus menemui Yejun? Pertanyaan itu berulang kali muncul dipikirannya.

Raehyun tak menyadari ketika sudah ada seorang bocah yang duduk disampingnya sambil tersenyum polos menatapnya.

.

.

“Kalau kau terus-terusan malas, akan kupecat kau! Banyak pemuda diluar sana yang lebih bisa diandalkan dari pada berandalan seperti kau!” ujar pria gemuk tadi sambil kembali menoyor kepala Daeghun beberapa kali tanpa memperdulikan raut wajah Daeghun yang sudah mengeras.

Muak dengan perlakuan yang didapatnya, Raehyun langsung mendengus sebal sambil melempar lap ditangannya dengan kasar ke lantai dan membuat boss-nya langsung terkejut dengan kelakukannya.

.

.

Jinon hanya bisa diam ketika anak buahnya bersama-sama memukuli Kan yang tidak bisa melawan. Pemuda itu hanya bersandar di tembok jalan sambil berpikir. Mungkin hatinya tak mampu melihat sahabatnya dipukuli, tapi dia juga ragu untuk menghentikan perlakuan itu. Harga dirinya sebagai ketua genk terlalu tinggi. Mungkin.

“Enyah saja kau!” Seseorang menendang wajah Kan yang sudah penuh luka hingga Kan yang sudah tersungkur di jalan kembali membentur tembok.

Jinon mengacak rambutnya sambil menghela nafas, sampai akhirnya dia menoleh ketika merasakan sesuatu. Dan disana, tepat disampingnya, entah kenapa dia melihat dua orang bocah kecil sudah tersenyum polos kearahnya. Satu dari mereka bahkan tersenyum lebar dan membuat Jinon bisa melihat deretan giginya yang jarang-jarang.

Jinon terdiam sejenak sampai akhirnya tersenyum kecil. Akhirnya dia menyadari ada satu hal penting yang tak pernah bisa dilepaskannya. Segera pemuda itu menghampiri para pemuda yang masih memukuli Kan dan mendorong mereka semua dengan kuat.

“Pergi kalian semua!”

Meskipun harus selalu menemui saat-saat yang sulit atau sekalipun mereka gagal. Mereka harus tetap percaya pada diri sendiri dan selalu bangkit.

Percaya pada mimpi. Hampir saja Jinon melupakan hal itu.

.

Even if it’s hard every time, even if I fail.

I will trust myself and get up.

Believe in your dreams~

***

Take your hand out of your pocket and raise them up high.

You will fly across that sky someday.

Lift up your two hands, lift them up high.

Because it’s your dream, fly higher.

.

.

Malam semakin larut dan Yejun hanya berdiri di dalam sebuah gudang tua yang tak terpakai. Dulu, ketika dia masih kecil, Yejun, Jinon, Kan, Raehyun dan Daeghun selalu menghabiskan waktu di gudang itu untuk bermain. Jika ada salah satu dari mereka yang bersedih atau punya masalah, mereka akan sama-sama saling menghibur satu sama lain dan kembali ceria. Persahabatan di masa itu sama sekali tak ada gantinya. Kenangan yang manis.

Dan kenapa Yejun berdiri disana sendirian?

Yejun hanya percaya. Dia percaya bahwa masa itu akan kembali. Dia percaya bahwa inilah saatnya mereka kembali bersama seperti dulu. Menjadi sahabat yang sepenuhnya. Dan karena alasan itulah Yejun disana untuk menunggu. Yejun percaya kepada sahabat-sahabatnya. Bukankah sahabat memang harus seperti itu?

Sekali lagi Yejun melirik jam tangannya dan dia hanya menghela nafas sambil menengadah menatap langit-langit.

.

“Apa yang kulakukan disini?” Raehyun akhirnya mengacak rambutnya kesal dan langsung berdiri. Berlari meninggalkan koridor tempatnya merenung sepanjang sore.

.

Yejun masih menunggu.

.

Daeghun mendengus sebal lalu melepaskan apron pelayan yang dipakainya.

“Aku keluar.” ujarnya dingin sambil melangkah cepat meninggalkan boss-nya sendirian.

“Ya, kau! Mau kemana kau?” Si pemilik café kembali berseru.

.

Yejun terus menunggu.

.

Jinon dan Kan sama-sama duduk dengan wajah babak belur di pinggir jalan. Sekilas Kan tertawa mengejek wajah Jinon yang juga terluka meski tak separah dirinya. Mendengar tawa Kan yang sangat jarang, Jinon ikut terkekeh sambil melirik sahabatnya yang tetap tertawa sambil meringis itu.

“Apa yang lucu, hah?” gumam Jinon sambil menyentuh luka di pipi Kan sekilas sambil tersenyum kecil.

.

Jam sepuluh malam, Yejun tak ada niat beranjak pergi dari tempat itu. Jika memang sahabat-sahabatnya tak datang hari ini. Dia akan menunggu kembali esok dan seterusnya. Dia akan menunggu sampai mereka kembali bersama. Melangkah di jalan yang searah agar bisa saling menopang seperti dulu.

‘BRAK’

Suara pintu yang terbuka kasar membuat pemuda itu menoleh kaget kearah pintu gudang itu. Sontak kedua bola matanya membulat tak percaya dengan apa yang dilihatnya kini. Kebahagiaan seakan meluap dari hatinya bahkan membuat air matanya mengalir.

Yejun tertawa pelan sambil mengusap matanya. “Kalian datang…” bisiknya penuh haru dan tersenyum lembut.

Sudah saatnya mengangkat tangan tinggi-tinggi karena suatu hari nanti kau akan terbang jauh melintasi langit. Terbang tinggi dengan sepasang sayap impian yang melekat dipunggungmu dan kau tak akan menyesal karena mengikuti kepakan sayapmu. Karena itu adalah impianmu.

.

.

Dreaming in my star~

Dreaming in my star~

Believe in your dreams~

.

.

Raehyun menjadi orang pertama yang menyalakan kembang api yang dibawa Daeghun. Tak lama setelahnya, keempat sahabatnya juga sudah memegang kembang api yang menyala terang di dalam gudang tua itu. Cahaya kemerahan menjadi sinar pelengkap diantara kelima pemuda yang akhirnya kembali menemukan jalan impian mereka.

Yejun hanya bisa tersenyum bahagia melihat keempat hyungnya yang dulu sempat jauh kini ada disisinya. Bersamanya.

“Kita raih impian kita dari awal bersama-sama. Kita tak boleh terpisah lagi.” ujar Jinon lantang sambil mengangkat kedua tangannya yang memegang kembang api tinggi-tinggi.

“Ini semua berkat Yejun.” Kan menatap magnae itu sambil tersenyum lembut dan mengusap rambut coklat Yejun penuh sayang. “Terima kasih karena mengingatkan kepada kami akan hal yang paling penting.”

Yejun hanya mengangguk untuk menjawab ucapan Kan. Saat ini baginya, tak akan ada satupun kata yang mampu melukiskan kebahagiaannya.

.

Ya, sejak awal bukankah sudah jelas..

Sahabat dan mimpi adalah satu kesatuan yang tak akan bisa kau lepaskan sampai kapanpun. Mungkin suatu saat kau akan melangkah di jalan yang berbeda, tapi ada saatnya kalian tetap akan menuju arah yang sama. Arah masa depan yang sudah dijanjikan.

Bermimpilah di dalam bintangmu… Percayalah kepada mimpimu.

.

.

~END~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s