Believe To My Master // HaeHyuk

“Ahhh~ Seoulcity! Akhirnya kita sampai di kota ini!”

“Master, apa kau yakin sapphire stone ada di kota ini. Kok aku tidak yakin, ya?”

“Ckck~ Jangan konyol, Hyukkie. Sejak kapan instingku salah?”

“Well, instingmu selalu salah, kau ingat?”

“Ah, sudahlah! Karena Seoulcity termasuk dari tujuh kota utama yang menjadi tonggak negeri Korea, aku yakin para kakek tua itu juga berpikir kalau sapphire stone ada di kota tua ini. Dan kalau mereka tahu, itu artinya mereka akan datang untuk mencarinya juga. Let’s see. Jika kita bertemu dengan salah satu dari kalangan Higushi tua itu, itu artinya aku benar.”

“Terserah kau saja, Master. Lagipula sudah berkali-kali kita tertipu dengan pancaran kekuatan sapphire stone. Lagipula aku kan hanya puppet yang menuruti sang Master. Ikut saja, lah…”

.

Higushi Master

Story Tittle :: Believe to My Master

Pairing :: HaeHyuk // GS

Notes :: Cerita ini kuambil dari cerita Higushi Master, novel fantasy yang pernah kubuat waktu SMA dengan sedikit perubahan setting tentu saja. Jadi ceritanya mungkin agak membingungkan karena aku cuma jadiin ini oneshoot. ^^

.

And I dedicated this story for two of my dongsaengs~

Dyna Rahmatika aka Toto-Chan and Celi Sayuri aka Cellular berjalan~ #plakkplakk xD ahaha

hope you both like it, dear. ^^

and hope you like it, guys!

.

.

Donghae membuka matanya ketika dirasakan cahaya masuk ke dalam kamarnya. Jendela kaca itu tak bisa menahan sinar matahari pagi, dan Donghae tak menyukainya. Bagi seorang Higushi atau yang biasa dikenal sebagai seorang Puppet Master sepertinya, matahari pagi itu tidak menyehatkannya.

“Master, kau sudah bangun? Cepatlah! Kita tak punya waktu untuk bermalas-malasan di tempat tidur!” Hyukjae masuk ke kamar itu dengan membawa pakaian Donghae yang sudah bersih. Gadis berambut panjang kecoklatan itu menatap sang Master dengan bola mata hitamnya yang pekat. “Pemalas.”

Mendengar ejekan sang Puppet, Donghae hanya mendengus kesal. Oh, ya… Hyukjae adalah Puppet. Mari kujelaskan sedikit. Seperti yang kukatakan tadi, Higushi adalah seorang Puppet Master, pengendali. Dengan kata lain dia membutuhkan seorang Puppet, sosok yang dikendalikan. Dan Hyukjae berasal dari keluarga keturunan Puppet yang sudah ratusan tahun mengabdi kepada keluarga Donghae yang merupakan keturunan Higushi. Itulah kenapa Donghae dan Hyukjae kini terperangkap, bersahabat sejak kecil dan kemudian berpetualang bersama untuk mendapatkan sapphire stone.

Ah, dan sapphire stone. Apa kalian ingin tahu apakah itu?

Sapphire stone adalah batu suci yang menjadi penimbun kekuatan di negeri Korea, sebuah negeri yang dipenuhi dengan sihir juga berbagai monster. Jangan kalian bayangkan sebuah negeri dengan barang-barang cangih dan gedung bertingkat. Tidak! Negeri Korea adalah negeri yang tampak seperti wilayah-wilayah di anime atau manga berjenis petualangan atau game RPG. Dan kenapa mereka mencari batu itu?

Donghae adalah Higushi, dan seorang Higushi harus menemukan sapphire stone yang tidak diketahui bentuk dan wujudnya untuk mendapatkan kekuatannya untuk menjadi seorang Higushi Master. Jangan kalian kira hanya ada satu keluarga Higushi di negeri ini ada banyak. Oh, katakanlah SANGAT BANYAK. Dan hanya akan ada satu orang yang akan menjadi seorang Higushi Master, yaitu pimpinan terkuat para Higushi dengan kekuatan tak terkalahkan. Itu sebabnya Donghae berpetualang mencari batu itu. Sayangnya, seperti yang kutulis tadi bahwa tak ada satupun yang tahu seperti apa bentuk dan wujud batu itu. Hanya Higushi Master sebelumnya yang mengetahuinya, dan Higushi Master sebelumnya hanya muncul selama seratus tahun dan kini dia telah tiada. Akhirnya sapphire stone menghilang dan kini para Higushi muda mulai mencarinya kembali. Mereka hanya mencari dengan merasakan pancaran batu itu.

Kembali ke Donghae dan Hyukjae~ ^^

Gadis Puppet itu duduk di pinggir tempat tidur kayu Donghae sambil melemparkan pakaian Donghae kearahnya. “Cepat ganti pakaianmu dan kita mulai mencari. Ada untungnya kalau kita menemukan petunjuk secepat mungkin, karena ada kemungkinan para Higushi lain juga ada di kota ini.”

Donghae hanya mengangguk malas sambil membuka selimutnya. Pemuda berambut coklat gelap itu mengambil sebuah kantong kecil dan melemparkannya ke Hyukjae. “Aku masih memiliki beberapa keping Won, carilah sarapan untuk kita. Aku akan mneyusulmu nanti setelah berbicara dengan pengurus penginapan agar kita diberikan harga murah kalau menginap satu malam lagi.” Donghae mengulas senyum nakal di wajahnya.

Mendengar apa yang dikatakan sang Master, Hyukjae hanya menggelengkan kepalanya sambil berdiri. “Kau terlalu pelit untuk ukuran seorang Higushi yang sebenarnya berasal dari keluarga terhormat. Aku pergi dulu.” Akhirnya Hyukjae berjalan keluar dari kamar Donghae.

Donghae kembali duduk di tempat tidurnya sambil mengacak rambutnya yang masih berantakan. Segera Higushi muda itu melihat sebuah gelang yang dilingkarkan di tangan kirinya dan melihat kristal merah yang terdapat di bagian tengah gelang itu. Warnanya merah, itu artinya kristal itu merasakan sedikit pancaran sapphire stone. Dan semoga kali ini memang sapphire stone yang sebenarnya, bukan hanya sisa kekuatannya saja. Entah sudah berapa kali selama perjalanannya Donghae tertipu dengan pancaran sisa kekuatan itu.

Jam kayu di kamarnya menunjukkan pukul sepuluh siang dan sudah saatnya Donghae keluar dari kamarnya. Dia berpapasan dengan seorang Bibi pemilik penginapan tempat dia menginap saat keluar kamar.

“Ah, Bibi! Aku mungkin akan menginap satu malam lagi. Jadi bolehkan kau memberi sedikit diskon?” tanyanya sambil tersenyum merayu Bibi yang kelihatan sudah cukup tua itu.

“Kau kan menginap dengan kekasihmu, penginapanku bisa bangkrut.”

Donghae memutar matanya mendengar Bibi itu menyebut Hyukjae sebagai kekasihnya. “Aku malas pindah penginapan. Ayolah… Dan kasihan sekali kekasihku kalau kubiarkan menginap di jalan.” senyumnya terkembang saat mengatakan hal itu.

“Kuturunkan harga sewa permalam menjadi lima puluh keping Won. Bagaimana?”

“Itu masih terlalu mahal!!”

“Tiga puluh keping Won, tapi kau harus membantuku memotong kayu bakar sore nanti. Bagaimana? Kalau kau menolak, kau cari saja penginapan lainnya di kota ini. Tapi menurut yang kudengar belakangan hari ini banyak monster yang berkeliaran malam hari karena sudah menjelang pertengahan bulan dimana bulan purnama akan bersinar, jadi pastinya penginapan pasti sudah terisi penuh.”

Donghae tampak berpikir sejenak. Sebenarnya bermalam di luar juga tak masalah, Higushi tak takut akan monster, bertarung dengan monster adalah sebuah permainan kecil. Tapi dia kan bersama Hyukjae, apa pantas seorang Master membiarkan Puppet-nya tidur beratapkan langit? Yah, Hyukjae memang tak akan peduli, tapi harga diri Donghae bisa jatuh nanti. Huh…

“Baiklah.” Akhirnya Donghae setuju. “Nanti sore aku akan membantumu memotong kayu bakar, tapi Bibi harus membuat makan malam yang enak, ya.” godanya sambil berjalan meninggalkan si Bibi. “Sampai jumpa, Bi!”

Kini Donghae berjalan keluar dari penginapan itu. Dihirupnya udara panas Seoulcity yang cukup ramai oleh beberapa pedagang dan para penduduk kota yang merupakan pusat dari negeri Korea itu. Donghae memusatkan pikirannya dan memulai menciptakan kontak pikiran dengan Puppet-nya.

‘Dimana kau?’

‘Di sebuah toko roti tak jauh dari penginapan kita. Berjalanlah kearah kiri dan sekitar dua ratus meter kau akan melihat sebuah taman kecil. Aku menunggu disana.’

‘Oke. Jangan kemana-mana.’

0o0o0o0o0o0

“Hey, Master… Kita sudah berpetualang selama hampir tiga tahun. Apa kau tidak merasa ingin pulang?”

Donghae melirik Puppet yang kini menyandarkan kepalanya di bahunya. “Eh, kau kangen rumah, Hyukkie?”

“Aku ingin melihat kakakku. Kudengar dia dan Master Donghwa memutuskan menunda perjalanan mereka selama setengah tahun untuk melangsungkan pernikahan. Aku kan ingin melihat pernikahan kakakku.”

“Oh, iya… Si bodoh Donghwa hyung akhirnya menjalin hubungan dengan Puppet-nya sendiri. Kurasa Sora noona terlalu cantik untuknya. Aku juga ingin punya Puppet secantik dia.”

“YAK!” Hyukjae kini menatap mata Master-nya gusar. “Apa aku tidak cantik?!”

“Tidak.” Jawaban telak. “Bertahun-tahun melihatmu membuatku berpikir kalau kau sama sekali tidak cantik.” Donghae terkekeh menggoda Hyukjae sambil mencolek dagu gadis manis yang sudah cemberut itu. “Tapi Hyukkie itu manis. Tapi tidak cantik, hanya manis.” ujarnya kemudian.

“Kuanggap itu sindiran terselubung. Kalau kau bukan Masterku, sudah kutendang kau.” gerutunya sambil mengalihkan wajahnya dari tatapan mata Donghae. Well, wajah gadis itu sudah merah padam sekarang dan debaran jantungnya mulai kacau.

Seakan tak membiarkan kedua orang itu mengobrol sedikit lebih lama, tiba-tiba Hyukjae berdiri terkesiap. Bola matanya yang tadinya berwarna hitam kini berubah kemerahan. Tatapannya tertuju pada satu titik di kegelapan.

Melihat reakasi sang puppet, Donghae tersenyum dan ikut berdiri. “Bibi di penginapan sudah memperingatkan, karena ini pertengahan bulan dan purnama muncul para monster jadi bekeliaran. Kita kedatangan tamu, Hyukkie?”

“Cukup besar. Kurasa ini jenis Ogre dan seperti yang kau tahu monster jenis ini sedikit agak bodoh. Haruskah kita melawannya?”

“Sudah lama aku tak bertarung. Lagipula kau kira Ogre jelek itu akan melepaskan kita. Higushi dan Puppet adalah makanan enak buat para monster untuk menjadi dewasa. Dan memang itulah alasan dia mengganggu kita malam ini.” Donghae menatap ke arah yang sejak tadi dipandangi Hyukjae. Ke arah sebuah hutan kecil yang kini mengeluarkan suara gemerisik dedaunan. Donghae mengangkat tangan kanannya yang kini sudah memegang sebuah Rosario abu-abu dengan kristal putih di tengahnya. “Kau siap, Hyukkie manisku?”

“Kupersembahkan jiwaku untukmu, Master.” Hyukjae menutup matanya seraya membuat dirinya sesantai mungkin.

Sebuah suara gertakan samar mulai terdengar dan detik berikutnya beberapa pepohonan itu patah karena diterjang oleh seekor Ogre besar dengan wajah menakutkan. Dua tanduk kuat terlihat di didekat kedua telinganya. Bulu abu-abunya terlihat jelas dibawah sinar purnama dan air liur menetes dari mulut besar yang dipenuhi taring-taring yang siap mencabik tubuh lawannya.

Ogre itu menggunakan cakar besar berbulunya itu mengambil sebuah batang pohon besar yang patah dan melemparkannya kearah Donghae dan Hyukjae. Wajah Donghae berubah serius ketika dengan cepat dia memeluk pinggang sang Puppet dan meloncat setinggi mungkin sampai terlihat nyaris terbang.

Donghae mengecup singkat pipi Hyukjae sambil menggumamkan sesuatu di telinga gadis itu. “Penggabungan!” seru Donghae cepat sambil mendorong Hyukjae menjauh dari pelukannya. Kini kedua orang itu tampak melayang pelan di langit dan Hyukjae sudah menatap Ogre itu dengan mata merahnya.

Donghae memaksa tubuhnya melayang agak menjauh dari Hyukjae sambil memegang kuat Rosario-nya dan mengarahkannya ke sosok Hyukjae. Cahaya hitam terpancar dari kristal putih di Rosario itu dan langsung masuk ke dalam tubuh Hyukjae. Donghae mendarat tepat di tanah dengan posisi sigap dan langsung menatap sosok Puppet-nya yang kini benar-benar melayang di langit.

Ogre itu berlari kuat kearah Donghae.

“Sekarang.” gumam Donghae cepat sambil mundur dan menggerakkan tangannya dan Hyukjae di langit mengkuti gerakan tangannya, melayang cepat ke arah monster. Kini satu tangan Donghae menarik pedang yang selalu bertengger di sabuknya. Dan di tangan Hyukjae juga perlahan muncul sebuah pedang cahaya.

Donghae terus mundur ketika Ogre itu semakin mendekat dan dia meloncat disaat Ogre itu mengayunkan pukulan tepat dihadapannya dan pukulan itu mengenai tanah hingga hancur dan menimbulkan suara dentuman yang sangat hebat.

Donghae kembali menggumamkan sesuatu disaat dia menggenggam Rosario tepat di wajahnya. Pedangnya menghilang dan pedang cahaya di tangan Hyukjae berubah menjadi pedang nyata yang kini mengeluarkan cahaya terang.

Donghae menyentakkan tangannya kuat dan dengan gerakan yang sangat cepat Hyukjae langsung menerjang Ogre itu sambil memposisikan pedangnya tepat di atas kepala sang Ogre dan langsung menancap sampai membelah Ogre itu.

“OAAARRG!” Ogre itu menjerit ketika tubuhnya terbelah menjadi dua. Dan darahnya yang berwarna hijau kental bermuncratan kesegala arah.

“Hyukkie! Jangan terkena darahnya!”

“Sulit untuk menghindar, Master!”

Donghae kembali menyentakkan tangannya untuk menarik Hyukjae menghindar dari cipratan darah itu.

“Akkh!” Hyukjae menjerit ketika lengan kananya terkena cipratan darah dan asap mulai menguar dari lengannya. Dia terkena luka bakar dari racun yang terdapat di darah monster itu.

“Sial!!” Saat itulah Donghae langsung terjatuh dan Hyukjae yang tadi melayang otomatis melayang jatuh. Untung gadis itu bisa mendarat dengan sempurna. Tahu keadaan sang Master kini tak optimal, Hyukjae berlari ke tempat Donghae yang berada di dekat tubuh monster itu. Donghae bersimpuh di tanah sambil memegangi tangan kirinya yang kini sudah merah seperti terbakar, padahal dia tak terkena apapun.

“Ma-master?! Ma-maafkan aku! Kau baik-baik saja?”

Donghae mengangguk sambil meringis menahan rasa sakit. Dengan segera Donghae menatap lengan kiri Hyukjae yang baik-baik saja lalu menghela nafas lega. “Ini tak terlalu bermasalah. Aku hanya butuh… Sedikit istirahat.” Detik itu juga tubuh Donghae oleng dan Hyukjae langsung memeluknya.

Gadis itu memandangi wajah sang Master dalam diam. Inilah alasan seorang Higushi membutuhkan seorang Puppet untuk membantunya. Jika menggunakan kekuatannya, seorang Higushi akan jatuh tertidur untuk mengembalikan kekuatan mereka. Jika seorang Higushi bertarung seorang diri, bahkan bukan hal aneh kalau Higushi itu mungkin bisa mati. Kekuatan mereka memiliki batas dan Puppet menjadi media penolong agar mereka tidak melebihi batas kekuatan itu. Hanya saja selalu ada bayaran karena menggunakan tubuh orang sebagai alat bertarung, jika sang Puppet terluka, maka sang Master-lah yang menerima luka itu sedangkan sang Puppet akan baik-baik saja.

Hal inilah yang membuat Hyukjae terkadang sesak menjadi Puppet Donghae. Hatinya selalu sakit jika melihat sang Master terluka karena kecerobohannya.

“Maafkan aku, Master…” bisiknya sambil memeluk Donghae. Membiarkan pemuda tampan itu tertidur dalam pelukannya.

0o0o0o0o0o0

Mata Hyukjae tak bisa lepas dari tangan Donghae yang kini dibalut perban. Luka bakar yang didapat Karena racun darah Ogre tak bisa sembuh dengan mudah. Butuh waktu satu hari untuk membiarkan racun itu keluar dengan sendirinya melalui pori-pori kulit dan selama itu si penderita akan mengalami kelumpuhan di lukanya.

“Master, maafkan aku…” Sesal Hyukjae sambil menunduk.

Donghae yang sejak tadi sedang berjalan sambil memperhatikan sekelilingnya kini melirik kearah Puppet manis yang kini menunduk merasa bersalah. “Aku tak tahu ini sudah yang keberapa kalinya kau meminta maaf selama seharian ini, Hykkie. Sudah kukatan ini tak masalah. Aku masih baik-baik saja.” ujar Donghae semangat sambil menggerak-gerakkan tangan kanannya.

“Jika saja aku bisa sedikit lebih baik ketika menjadi Puppet-mu. Kau selalu terluka jika bertarung dan itu semua karena aku. Padahal kau sudah kehilangan banyak tenaga karena mengendalikanku.”

“Itu namanya derita seorang Master.” Donghae tersenyum. “Percayalah padaku, aku baik-baik saja.”

Hyukjae menghela nafas sambil menoleh kearah lain. Rasanya enggan sekali mempercayai ucapan Donghae. Bagaimanapun juga kalau Donghae yang berada di posisi Hyukjae, dia pasti merasa bersalah juga.

“Hyukkie!” Tiba-tiba Donghae memeluk Hyukjae dan menarik gadis itu bersembunyi di balik sebuah tembok bangunan sebuah bar.

Wajah Hyukjae kembali merona. “A-ada apa?”

“I-itu kan Yesung hyung.” Donghae merapatkan tubuhnya ke tembok sambil mengintip. Ditatapnya seorang pemuda tampan tengah berbicara dengan seorang pedagang. Dibelakangnya, seorang pemuda berdiri siaga. “Sungmin juga ada disana. Sudah kuduga, pasti ada Higushi juga disini. Apa sapphire stone benar ada disini?”

Hyukjae ikut mengintip dan melihat kearah yang sama. “Entahlah, Master. Aku tak yakin. Kalau memang ada, kenapa Master Yesung berbicara dengan seorang pedagang?”

“Mungkin sedang bertanya jalan. Kau bodoh sekali, sih.” goda Donghae. “Ah, sembunyi!” Pemuda itu kembali menarik Hyukjae ketika dia melihat Yesung dan Sungmin berbicara sejenak dan berjalan kearah mereka. “Kita harus bersembunyi. Aku tak mau bertemu Yesung hyung disini.”

“Lalu, kita harus sembunyi dimana?!”

Sebuah ide muncul di pikiran Donghae, oh katakanlah ini ide yang cukup nekat. Tapi daripada Yesung atau Sungmin menyadarinya? Tanpa bicara dulu, Donghae langsung menarik Hyukjae merapat ke tembok dan meraih wajahnya. Saat itu juga dia memposisikan wajahnya seakan tengah mencium bibir Hyukjae. Jarak wajah mereka hanya… Dua sentimeter. Bahkan Hyukjae bisa merasakan nafas hangat Donghae di wajahnya.

Gadis Puppet itu mematung shock. Wajahnya merah padam. Tak tahu apa yang harus dia katakan. Dan dihadapannya Donghae hanya tersenyum lembut sambil memejamkan matanya. Sepertinya pemuda itu juga agak enggan menatap mata polos Hyukjae.

“Uwahh.. Remaja jaman sekarang, bahkan berani berciuman di depan umum.”

Kedua anak itu langsung terdiam. Ya, itu suara Yesung.

“Kau kira berapa usiamu, Master?” balas Sungmin. “Ayolah. Memangnya ada waktu mengintip orang bermesraan, ya?”

“Ck. Itu sebabnya aku berharap mendapatkan Puppet seorang perempuan.”

“Berisik.”

Donghae mematung sebentar sampai langkah kedua pemuda benar-benar menjauh.

“Ma-master… Bi-bisakah kau a-agak menjauh?”

“Apa aku lanjut saja menciummu?”

“YAK!” Hyukjae langsung mendorong Donghae agar menjauh darinya. “Ja-jangan berpikiran macam-macam, kau harus mencari sapphire stone disini dan segera pergi kalau tak ada. Aku tak mau Master-ku keduluan yang lain.”

Donghae terkekeh melihat respon Hyukjae dan langsung berjalan duluan meninggalkanya. “Payah, kau…”

Kini Hyukjae hanya memandangi sosok Master-nya itu dalam diam. Ada sesuatu yang bergemuruh di dadanya. Sesuatu yang selama ini terus menerus menjadi semakin kuat hanya dengan melihat keberadaan Donghae disisinya. Tapi sebagai Puppet, tentu dia tak bisa membiarkan perasaan itu. Dia hanyalah seorang Puppet bagi sang Master, dia tak boleh mencintai sang Master karena dia harus mengabdi kepadanya.

0o0o0o0o0o0

“Seharusnya kan kami mencari sapphire stone, kenapa malah bertahan di kota ini terlalu lama. Master itu terlalu suka bermain-main.” Hyukjae menggerutu sendirian sambil menimang-nimang kantong uang yang diberikan Donghae kepadanya. Seperti hari kemarin, pagi itu Donghae menyuruhnya mencari sarapan sedangkan sang Master masih berguling nyaman di tempat tidur.

Mata sipit gadis itu tertuju pada penjual roti yang ada di pinggir jalan dan langsung menghampirinya. Harum roti membuat perutnya lapar. “Kelihatannya enak sekali. Berapa harganya, Paman?”

“Hanya sepuluh keping Won untuk Nona yang manis.”

“Aku beli empat potong!” Hyukjae buru-buru merogoh kantongnya namun tiba-tiba kantong itu jatuh. Gadis itu merunduk untuk mengambil kantongnya, tapi bayangan seseorang yang kini berdiri dihadapannya membuat gadis itu menengadah. Dan detik itu juga dengan refleks dia mundur dan jatuh terduduk di tanah. “Ma-master Kyuhyun?”

“Wah~ Wah~ Ternyata memang Puppet noona milik Donghae hyung. Sudah kubilang kalau mataku tak mungkin salah. Ternyata kalian juga sampai di Seoulcity ini, ya?”

Hyukjae menggigit bibir bawahnya sambil menarik kantongnya yang tadi juga terjatuh. Gadis itu segera berdiri dan menatap pemuda tampan berambut ikal kecoklatan dihadapannya dengan tajam. Matanya melirik kearah pemuda kecil yang berdiri dibelakang Kyuhyun, barulah dia menatap Kyuhyun lagi. “Aku harus kembali. Per_”

“Tunggu dulu.” Kyuhyun menahan tangan Hyukjae. “Apa kau membeli empat roti untuk Master-mu?”

“Bukan urusanmu, Master dari keluarga Cho.” Hyukjae menghentakkan tangan Kyuhyun.

“Setia sekali kau dengan Master-mu. Padahal kan kau hanya Puppet.”

“Apa yang mau kau katakan?!”

“Sudahlah~ Aku sebenarnya tidak mau juga mengobrol dengan boneka sepertimu, hanya saja menyapamu sepertinya menyenangkan. Seorang Puppet perempuan yang jatuh cinta dengan Master-nya sendiri.”

Raut wajah Hyukjae mengeras.

“Hati-hati, Puppet noona. Seorang Puppet itu hanya boneka yang dibutuhkan oleh Master-nya. Dan jika boneka itu rusak, pasti akan diganti yang baru. Jangan terlau jauh memiliki perasaan dengannya karena itu hanya akan membuat boneka sepertimu hancur.”

“Apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan…?”

Kyuhyun menyeringai. “Hanya menyampaikan kenyataan. Kau tak lebih dari seorang bo-ne-ka. Jadi berhentilah berharap. Ayo kita pergi, Ryeowook.” Kyuhyun melangkahkan kakinya meninggalkan Hyukjae yang mematung sendirian.

Ryeowook, pemuda bertubuh kecil yang tadi berdiri dibelakang Kyuhyun menatap Hyukjae sambil menghela nafas dan segera mengikuti sang Master tanpa bicara apapun dengan Hyukjae. Hyukjae kini tertunduk diam.

“Maaf, Nona. Apa jadi membeli?”

“Aku… Beli dua saja, Paman.”

.

.

“Ini enak sekali, Hyukkie! Sumpah!” Donghae memakan roti dengan sangat lahap. “Kenapa kau tidak makan?”

“Aku tak lapar, Master.” Hyukjae meletakkan satu kantong kertas yang bersisi satu potong roti di pangkuan Donghae. “Kau makanlah sampai kenyang. Bagaimanapun juga tenagamu harus terisi penuh karena kita tak tahu kapan bahaya datang.”

“Kau juga harus makan, Bodoh. Kalau kau tak makan kau juga tak bisa bertarung.”

Hyukjae terdiam mendengar ucapan Donghae. Perlahan kalimat Kyuhyun terngiang dipikirannya. Sejak awal dia memang sadar, dia hanyalah boneka yang digunakan Donghae untuk bertarung, tak lebih, karena itu dia tak berani menunjukkan cintanya terhadap sang Master. Tapi mendengar orang mengatakan hal itu, rasanya sesak sekali.

“Ayo makan.” Donghae mengeluarkan roti yang tersisa dan menyodorkanya kearah Hyukjae namun gadis itu menggeleng. “Makan!”

“Tidak mau!”

“Sejak kapan kau berani menolak Master-mu?”

Satu kalimat itu kembali membuat hati Hyukjae semakin sesak. Mungkin sebelumnya Donghae sering mengatakan hal itu, tapi saat ini tidak tepat. Kalimat Donghae justru menorehkan luka baru dihatinya.

“Kalau aku bilang makan, kau harus makan.”

Hyukjae menatap Donghae gusar. “Lalu kalau aku menolak?!”

“Kau tak boleh menolak.” Nada suara Donghae berubah rendah ketika melihat sang Puppet memandanginya dengan mata berkaca-kaca. “Ka-kau baik-baik saja, kan?”

“Aku sama sekali tak baik-baik saja!” Gadis itu kini berdiri. “Jangan seenaknya saja memerintahku hanya karena aku Puppet milikmu, Lee Donghae!!”

Wah~ wah~ Ini pertama kalinya Hyukjae berani memanggil Donghae dengan namanya sendiri.

“Hyu-hyukkie?”

“Kalau kau bilang aku harus makan, maka aku akan makan. Jika kau memerintahkan padaku untuk mati, lalu aku harus mati! Ya, aku tahu karena aku Puppet maka aku harus menuruti semua ucapan Master-ku! Tapi kenapa kau membuatnya semakin sulit dan menyedihkan begini!”

“Apa sih yang kau bicarakan? Aku sama sekali tak paham!”

“Arrgh!!” Hyukjae menutup wajahnya frustasi. “Aku benci. Aku benci. Kenapa jadi rumit begini?”

Donghae memandangi gadis dihadapannya dalam diam. “Hyukjae?”

Hyukjae membuka matanya dan menatap Donghae. “Master… Kenapa aku harus menjadi seorang Puppet?”

“Eh?”

“Kenapa aku harus terlahir menjadi seorang Puppet-mu? Aku tak mau…” Kini suara gadis itu mulai parau.

Donghae berjalan mendekati Hyukjae dan hendak merengkuh lengan gadis itu. Tapi sebelum Donghae memeluknya, Hyukjae langsung mendorong dada Donghae agar menjauhinya. Apa yang dilakukannya tentu membuat Donghae tertegun heran.

“Aku tak mau menjadi Puppet-mu lagi. Aku tak mau… Maafkan aku.” Hyukjae langsung berlari meninggalkan pemuda itu sendirian.

0o0o0o0o0o0

“Apa-apaan sih Hyukkie itu?! Ada apa dengannya? Dengan mudahnya bilang tak mau jadi Puppet-ku lagi, apa otaknya sedang tidak waras?” Donghae melangkahkan kakinya gusar sambil menendang batu yang ada dihadapannya. Dia kesal sekali. Entah kenapa rasanya seperti dicampakkan oleh kekasihnya sendiri. Tidak, tidak, Hyukkie-nya itu bukan kekasihnya. Hanya PUPPET.

“Memangnya aku yang mengatur takdir sehingga dia dilahrikan menjadi Pupet-ku? Kenapa dia menyalahkanku? Dasar menyebalkan.”

“Hey, Tuan!”

Donghae mengalihkan pandangannya kearah Paman yang berdiri di depan pintu rumahnya dan baru saja hendak menutup pintunya. “Ya?”

“Sedang apa kau diluar? Langit sebentar lagi gelap dan para monster akan keluar. Kau harus pulang!”

Ah, Donghae lupa kalau purnama masih tetap bersinar. Tapi dia tak mungkin pulang, Hyukjae mungkin saja di luar. Tanpa Donghae, gadis itu tak akan bisa menggunakan kekuatannya, kan?

Tapi sejak tadi pergi, Hyukjae sama sekali tak mau menjawab panggilan telepatinya. Ini benar-benar membuat Donghae frustasi. Katakanlah dia benar-benar mencemaskan Puppet manis itu. Dia tak bisa tenang kalau gadis itu ada jauh darinya.

“Aku sedang mencari seseorang, Paman.” jawabnya akhirnya.

“Cepatlah. Ini hari terakhir purnama dan para monster akan semakin gencar. Kudengar kemarin ada rumah warga yang diserang monster. Kau harus segera menemukan orang itu dan kalian harus bersembunyi.”

“Iya. Terima kasih, Paman.” Donghae kembali melangkahkan kakinya dan kembali membuat kontak dengan Hyukjae. Namun gadis Puppet-nya sama sekali tak mau menjawab panggilannya. “Kemana sih Puppet menyebalkan itu? HYUKKIEEE~!”

.

“Aku bodoh sekali. Kenapa kata-kata Master Kyuhyun aku masukan begitu saja. Bagaimanapun juga dari semua Master yang pernah kutemui, Master bungsu dari keluarga Cho itulah yang paling kekanak-kanakkan. Dia bahkan sering sekali menggoda Master yang lain. Aku tak berani menjawab Master Donghae. Aku sudah sangat lancang. Aku bisa dihukum kalau ketahuan bertindak seperti ini.” Selama sepanjang sore itu Hyukjae hanya bisa menggerutu sendirian, memarahi kebodohannya sendiri.

Bagaimana bisa seorang boneka menolak perintah sang majikannya? Itu benar-benar tak boleh dilakukannya. Dan sekarang dia takut sekali menemui Donghae. Dia yakin majikanya itu akan memarahinya habis-habisan. Yang terburuk, mungkin Master-nya itu akan mencari Puppet lain untuk menggantikannya.

Hyukjae menekan dadanya saat memikirkan hal itu. Benar, jika tak suka Donghae bisa dengan mudah mengantinya dengan Puppet yang jauh lebih hebat, lebih penurut dan benar-benar lebih darinya. Karena dia hanya boneka, jika suatu saat dia rusakpun Donghae bisa menggantinya dengan mudah…

“Kenapa aku harus terlahir sebagai boneka dan menjadi tergantung dengan majikanku sendiri? Ini benar-benar menyesakkan…”

HYUKKIE DENGAR DAN JAWAB AKU!!’

Sontak gadis itu terkejut saat mendengar jeritan Donghae dalam pikirannya. Sejak tadi, akhirnya Donghae benar-benar menjerit dalam panggilannya.

‘Dimana kau?!’

Hyukjae menarik nafas dan seluruh tubuhnya gemetar ketakutan. Dia takut sudah membuat Donghae marah, dia takut Master-nya itu membencinya. Dia benar-benar merasa takut karena dia telah membuat kesalahan.

‘Ma-master..’

‘Akhirnya kau menjawabku! DIMANA KAU?! Tidak tahukah kau aku benar-benar cemas setengah mati sekarang! Jika kau punya masalah, katakan padaku! Jangan kabur begitu saja, Puppet bodoh!’

Hyukjae memejamkan matanya takut. ‘Ma-maaf…’

‘Cepat katakan dimana kau!’

‘A-aku…’

‘Jangan bertele-tele!’

Belum sempat Hyukjae menjawab Donghae, tiba-tiba mata gadis itu kembali berubah merah. Sebuah tekanan besar membuatnya tersentak dan menatap ke atas langit. Dibalik bayangan bulan purnama yang bersinar terang, Hyukjae bisa melihat dengan jelas sesuatu terbang melesat kearahnya.

“Monster…?”

Hyukkie!!’

Detik itu juga sesuatu yang kuat menerjang kearah Hyukjae namun gadis itu dengan sangat cepat meloncat menghindar. Terjangannya membuat sebuah ledakan kecil di permukaan tanah dan membuat batu berhamburan kemana-mana. Dibalik kepulan asap, Hyukjae perlahan melihatnya…

Saat itulah gadis itu menelan ludah takjub. Seekor monster sejenis Grool, monster berwujud burung raksasa dengan sayap berbentuk tangan dengan cakar tajam dan wajah menakutkan juga paruh yang tajam berwarna merah darah, sedang menatapnya.

“Apa yang harus kulakukan….”

.

“Akh!” Tiba-tiba Donghae merasakan rasa sakit yang luar biasa di bagian dadanya. Pemuda itu langsung terjatuh di tanah sambil meringis. “A-apa yang terjadi? Sakit sekali…” Dia merasakan sesuatu merembes dari balik pakaiannya. Darah!

“Hyu-hyukkie…”

.

Hyukjae berguling di tanah dan kepalanya menghantam batu besar. “Akh~” Untuk sesaat gadis itu merasa sakit yang luar biasa, tapi rasa sakit itu begitu saja lenyap disaat dia berusaha berdiri. “A-aku tak bisa terluka. Saat ini Master pasti terluka. Tapi kalau sendiri aku tak bisa melakukan apapun…”

.

“Sakit…” Donghae memegang keningnya yang kini sepertinya memar. “Sial. Dimanapun dia berada, pasti sesuatu yang buruk terjadi.” Pemuda itu berdiri sekuat tenaga, berusaha mengabaikan rasa sakit di seluruh tubuhnya. “Aku harus menyelamatkannya.”

Donghae mengambil Rosario dibalik pakainnya dan menggengamnya erat sambil menggumamkan sesuatu. Kristal putih di Rosario itu kembali bersinar dan sepasang sayap cahaya muncul di balik pundak Donghae.

“Akkh!” Pemuda itu kembali terjatuh dan kali ini bekas kemerahan muncul di tangannya. Tampak seperti luka bakar. “Sial… Monster seperti apa yang menyerang Puppet-ku! Ah, jangan lemah, Donghae! Kau harus bisa menolong Hyukkie!” Dengan satu hentakan kaki, dengan sekuat tenaga Donghae langsung terbang di tengah gelapnya langit malam

.

Hyukjae meloncat setinggi mungkin ketika monster itu mengarahkan cakar sayapnya kearahnya. Cakar itu mengenai pohon dan pohon itu langsung tumbang. Melihat musuhnya meloncat ke langit, Grool itu langsung meloncat dan terbang menerjang Hyukjae. Hyukjae menahan serangan Grool itu dengan kedua tangannya dan tentu saja dia tak cukup kuat untuk menahannya. Dia langsung terdorong jatuh kebawah dan tubuhnya menghantam tanah.

“UGH!”

.

“UGH!” Donghae yang tengah terbang tiba-tiba oleng dan dia memuntahkan darah. “Si-sialan!” serunya gusar sambil menghapus noda darah yang mengalir di sudut bibirnya. ‘Hyukkie! Cepat katakan dimana kau?!’

‘Ma-master…’

‘DIMANA KAU?!’

‘A-aku_’ Telepati itu terputus begitu saja dan Donghae langsung kembali oleng. Ini benar-benar hal buruk. Master dan Puppet memang tak boleh terpisah. Inilah yang akan terjadi kalau mereka terpisah.

.

“Kalau aku begini terus, yang terbunuh adalah Master.” Hyukjae menatap Grool itu dengan marah. “Aku harus membunuh monster itu sebelum Master-ku semakin lemah!” Gadis itu berlari sambil mengarahkan tangannya ke arah monster. Setidaknya dia masih memiliki beberapa kemampuan.

“Shourou!” serunya dan cahaya melesat dari telapak tangannya. Namun cahaya itu tak menimbulkan apapun, dengan mudahnya monster itu menerima serangan Hyukjae dan tak ada hal apapun terjadi padanya.

“Purnama terakhir akan membuat monster semakin kuat… Aku harus bagaimana? Master…”

Pikirannya mulai kacau. Dia tak tahu apa yang harus dilakukan dan dia mulai menyesali apa yang telah dia lakukan tadi. Jika saja dia tak meninggalkan Donghae, mungkin tak akan terjadi hal ini. Karena dia tak bisa melawan monster itu, pastilah sekarang Donghae yang sedang menerima semua luka darinya.

Kenapa sebagai seorang Puppet, dia hanya selalu membuat majikannya terluka. Kenapa bukan dia saja yang menerima semua luka itu, bukan Donghae?

“Ma-master…” Air matanya mulai mengalir. “Maafkan aku…”

Monster itu kembali menerjang tubuh Hyukjae dan menekan tubuh gadis itu di tanah dengan kedua kakinya yang kuat. Kalau Hyukjae mati, maka dia dan Donghae akan mati. Tapi tak ada satupun yang bisa dia lakukan sekarang. Dia tak memiliki kekuatan apapun tanpa Masternya. Dia hanya seorang Puppet…

Grool itu mengangkat satu sayap bercakarnya tinggi-tinggi, bersiap mengoyak tubuh gadis itu dan memakan tubuh serta meminum darahnya. Hyukjae memejamkan matanya pasrah. “Master, kumohon maafkan aku… Aku tak bergu_”

“HYUKKIE!!!”

Hyukjae tersentak saat melihat sepasang sayap cahaya kini terbang kearahnya. Dengan jelas dia melihat Donghae mengarahkan Rosario-nya kearah Hyukjae dan detik itu juga cahaya hitam melesat dari kristalnya dan masuk ke dalam tubuh Hyukjae.

Penggabungan dimulai…

Dalam keadaan terbang, Donghae menggerakkan tangannya ke samping dan detik itu juga tubuh Hyukjae yang tadi berada di bawah cakar Grool itu langsung tertarik dan keluar dari cakar kaki Grool itu. Tentu saja karena tadi Grool itu menekan tubuh Hyukjae, tubuh gadis itu otomatis terkena cakarannya. Dan Donghae langsung melenguh kesakitan saat dadanya seakan tercabik.

“Ma-master!!”

“A-aku baik-baik saja!” ujar Donghae memastikan. “Ayo habisi Grool tua itu!”

“Ta-tapi kau~”

“Jangan pernah membantahku! Percaya padaku!”

“Master…”

Donghae kembali menggerakkan tangannya kedepan dan saat itu tubuh Hyukjae melayang cepat kearah Grool tua itu. Dengan Rosario ditangannya, Donghae kembali menggumamkan sesuatu dan Hyukjae mengarahkan tangannya kearah Grool itu. Detik itu juga cahaya merah yang sangat kuat muncul dari balik telapak tangannya.

“Shourou!!” ujar Donghae dan Hyukjae bersamaan.

Berbeda dari serangan Hyukjae pertama, kali in kekuatan itu mengalir dengan sangat hebat dan menakjubkan dan Grool itu mundur ketika cahaya itu menekannya sangat kuat. Namun Grool yang juga kuat itu mengenyahkan serangan itu dengan kedua sayapnya.

“Penghabisan, Hyukkie.” Donghae kini menarik pedangnya dan Hykjae tampak sedang memegang cahaya. Pemuda itu langsung menggumamkan sesuatu dan kini pedang bercahaya juga sudah ada di tangan Hyukjae.

Grool itu merasa sudah tersudut dan mulai membuka sayapnya lebar sambil melesat terbang untuk menyerang Hyukjae dan Donghae. Dengan kecepatan tinggi, Hyukjae melesat sesuai dengan gerakan tangan Donghae kearah Grool itu sambil mengarahkan pedangnya.

Pedang itu menembus dari bagain kepala dan membelah Grool tua itu menjadi dua dan Grool itu langsung meledak. Berbeda dengan Ogre yang darahnya mengeluarkan racun, Grool akan meledak jika mati.

Tubuh Hyukjae terpelanting karena tekanan yang sangat kuat itu dan dengan sekuat tenaga Donghae terbang cepat dan langsung memeluk tubuh Hyukjae erat. Tubuh keduanya terjatuh membentur tanah dan sempat berguling beberapa kali sampai akhirnya menabrak pohon cukup kuat.

“Agh!” Donghae meringis kesakitan saat tulang punggungnya nyaris remuk karena benturan itu.

Hyukjae yang tadi memejamkan matanya langsung menatap Master-nya panik. “Ma-master!!”

Donghae merenggangkan pelukannya dan membiarkan Hyukjae kini duduk sambil membantunya berbaring di pangkuannya. “Ma-master kumohon jawab aku! Kau baik-baik saja, kan? Kau masih hidup, kan!!”

Terdengar tawa kecil di bibir Donghae. “Bodoh… Ma-mana mungkin aku mati…” Donghae membuka matanya sambil meringis menahan sakit.

Mata Hyukjae berkaca-kaca sekarang. “Maaf. Sumpah aku benar-benar minta maaf, Master!” sesalnya dalam sambil menunduk dan air matanya menetes di wajah Donghae.

Donghae menatap gadis itu sejenak lalu meraih wajah Hyukjae. “Jangan menangis, Hyukkie.”

“Ini semua salahku! Jika saja aku tak meninggalkanmu. Jika saja aku tetap disisimu. Sungguh aku minta maaf. Kumohon maafkan kebodohanku, Master… Aku benar-benar menyesal. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan agar kau memaafkanku.”

“Sudahlah.” Donghae menghela nafas panjang. “Aku tak suka melihatmu menangis begitu. Tapi. Hyukkie…” Pemuda itu menarik nafas berat karena rasa sakit di sekujur tubuhnya. “Kumohon jangan pernah lakukan ini lagi…”

“Master?”

“Sekalipun, jangan pernah coba kau menjauh dari sisiku. Aku tak mau kejadian ini terulang. Apa kau tahu bagaimana cemasnya aku saat kau tak di sisiku. Apa kau tahu betapa takutnya aku kehilanganmu saat aku tahu kau sedang dalam bahaya? Kau itu sangat penting untukku…”

“Ma-maafkan aku…” Hyukjae semakin menyesal.

Donghae mengulas senyum tipis sambil mengusap pipi Hyukjae yang basah akan air mata. “Kau tahu, mungkin dimatamu kau hanya terlihat sebagai Puppet untukku. Tapi kau harus tahu, kau bukan hanya Puppet untukku. Kau sangat penting. Sebagai Puppet, alat bertarung, teman seperjalanan, sahabat, juga kau sangat berarti bagiku sebagai seorang wanita, Hyukkie. Kau harus tahu…”

Tangisan Hyukjae mendadak berhenti mendengar pengakuan Donghae. Kini matanya menatap sang Master tak percaya. “Ma-maksdunya?”

“Aku menyayangimu lebih dari sebagai seorang Puppet. Karena itu aku tak mau kau jauh dari sisiku. Kau harus tetap di sisiku, di sampingku. Jangan tinggalkan aku, karena aku tak akan bisa melakukan apapun jika kau menghilang lagi. Aku tak mau merasakan kecemasan lagi, aku tak suka.”

“Ma-master…”

“Ukh~” Donghae kembali mengerang.

“Master!!”

Kali ini pemuda itu benar-benar mengulas senyum bahagia ketika menatap sang Puppet. “Aku… Lelah sekali. Aku ingin istirahat sebentar, tolong jaga aku, ya?”

Air mata Hyukjae kembali menetes, tapi dia kini tersenyum lega. “Baiklah. Tidurlah, Master.”

“Aku akan menghukummu jika aku tak menemukanmu ketika aku terbangun nanti.” Donghae mengarahkan wajahnya ke pangkuan Hyukjae sambil memejamkan matanya. Digenggamnya tangan gadis itu erat. “Aku sangat menyayangimu. Berjanjilah tak akan melakukan hal bodoh lagi.”

Hyukjae menundukkan kepalanya dan mencium kepala Master-nya lembut. “Aku berjanji, Master. Selamanya aku akan di sisimu. Aku juga menyayangimu.”

0o0o0o0o0o0

“Eeehh?! Jadi kau sudah tahu kalau sapphire stone tak ada disini sejak lama?!”

“Tepatnya sejak aku melihat Yesung hyung.” Donghae terkekeh sendirian memandangi wajah Puppet manisnya yang kini melongok tak percaya dengan mata terbuka lebar. “Ish~ Jangan menatapku seperti itu. Aku tak suka!”

“Kalau begitu kenapa kau tak memutuskan untuk meninggalkan kota ini?! Bagaimana kalau ada Higushi lain yang mendahulukanmu, Master! Issh~ Kau benar-benar!” Gadis itu mengacak rambut panjang coklatnya frustasi karena ulah majikannya sendiri.

Donghae tetap tertawa senang. “Aku sengaja.”

“Sengaja?”

“Kau kan bilang waktu itu kalau kau ingin pulang untuk melihat pernikahan Donghwa hyung dan kakakmu. Karena kita tak mungkin kembali ke rumah, kuputuskan untuk beristrahat cukup lama disini karena ku pikir kau pasti lelah.”

Wajah Puppet itu memerah mendengar alasan sang Master.

Donghae mengusap rambut Hyukjae lembut. “Itu karena kau, karena itu jangan pernah sekalipun membelot atau meninggalkanku. Paham?”

Hyukjae mengangguk sambil tersenyum dan menyandarkan kepalanya di bahu Donghae. “Aku paham. Selamanya aku tak akan berbuat bodoh dengan meninggalkanmu, Master.”

Donghae memejamkan matanya sambil menikmati sinar matahari siang dan mengusap rambut Puppet-nya penuh kasih. “Bagus. Kau memang Puppet yang paling manis, Hyukkie. Besok, kita akan melanjutkan perjalanan, oke.”

Hyukjae mengangguk pelan sambil menghela nafas lega. Dia kini berjanji, dia tak akan meninggalkan Master-nya atau mendengarkan lagi ucapan pemuda dari keluarga Cho yang berhasil membuat hatinya bimbang. Biar saja dia menjadi Puppet milik Donghae, yang terpenting adalah keduanya saling membutuhkan. Saling mencintai.

.

.

END~

2 thoughts on “Believe To My Master // HaeHyuk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s