Tell Me Your Dream!

Tell Me Your Dream!

.

Pairing :: SiBum // GS

Genre :: Sweet Romance // Dream

Rated :: PG-13

Disclaimer :: I dedicated this story for my sista, Uswatun. ^^Hope you like this. And everyone SiBum shipper and you guys the other shippers.

.

.

.

Hmm… Pernah mendengar kalimat ini?

Disaat kalian lulus nanti, kalian harus sudah menentukan impian kalian.

Sesungguhnya itu kalimat yang paling kubenci. Memangnya haruskah aku memberitahukan apa impianku disaat lulus nanti? Kenapa para guru itu sangat suka mencampuri urusan murid-muridnya? Kenapa suka sekali mengambil bagian dalam hidup muridnya sih?

Oh, sebenarnya aku tak perlu segusar ini. Tapi setiap mengingat kalimat itu perutku jadi mulas. Seakan ada ratusan kupu-kupu mengelilingi lambungku. Aneh, ya? Terserahlah. Pada nyatanya memang seperti itu.

Dan sekarang_

“KIBUM!”

Eeh?

“Aku benar-benar heran. Kenapa kau sangat suka melamun, sih?” Ryeowook, salah seorang teman sekelasku duduk tepat dihadapanku. Pemuda berwajah manis –atau harus kukatakan cukup cantik- itu mengendurkan simpul dasi yang melingkar di kerah seragamnya dengan wajah lelah. “Sonsaengnim bilang padaku_”

“Jangan katakan!” Buru-buru aku menahannya untuk tak melanjutkan ucapannya. Dan tentu saja Ryeowook langsung menatapku keheranan. “Pasti Sonsaengnim menyuruhmu menyeretku ke ruang konseling untuk membicarakan rencana lulus nanti, kan?”

“Tepat.” Ryeowook tersenyum bangga sambil merenggangkan tubuh kecilnya. “Tinggal kau dan Hyukkie yang belum menemuinya. Kalian disuruh kesana sekarang.” Anak itu langsung menoleh ke seorang gadis yang juga sedang mengobrol dengan temannya. “Hoy, Hyukkie! Kau disuruh ke ruang konseling dengan Kibummie.”

Gadis berwajah manis dan mata sipit plus gummy smile lucunya itu menatap kearah kami sambil menghela nafas. Hyukjae, atau kami biasa memanggilnya Hyukkie kini berjalan malas mendekati kami.

“Kenapa harus kesana lagi? Padahal aku sudah mengatakan pada Sonsaengnim bahwa aku masih belum memutuskannya.” keluhnya malas sambil menggaruk belakang rambut kecoklatannya yang dibiarkan terurai sampai bahunya.

Aku mengangguk setuju dengan ucapan Hyukkie. “Aku juga sudah bilang seperti itu, tapi Sonsaengnim tak mau peduli.” balasku sambil berdiri dan merapihkan rok hitam berpelipit yang kukenakan sebagai seragam musim gugur di SMU Paran ini. “Tapi sebaiknya kita temui Sonsaengnim sekarang. Kau pasti tak mau dia memanggil nama kita di speaker sekolah, kan?”

“Itu akan sangat memalukan!” Hyukkie mendesah sebal sambil mengacak rambutnya dan berjalan lebih dulu meninggalkanku.

Ryeowook menatapku sambil tersenyum kecil. “Mau menyusulnya?”

“Sudah pasti. Sampai nanti, Wookie.” ujarku cepat sambil berlari kecil mengikuti langkah Hyukkie. Hari ini… Alasan apa yang akan kukatakan pada Sonsaengnim. Sebenarnya sampai saat ini aku masih belum menentukan impianku…

Uff…

Apa hanya aku anak perempuan di dunia ini yang tak memiliki impian?

0o0o0o0o0o0

Aku dan Hyukkie terkurung di ruang konseling selama satu jam penuh. Melewati jam pelajaran terakhir yang seharusnya kugunakan untuk mengobrol dengan teman-temanku yang lain. Ini hari yang tidak menyenangkan.

Apa kalian tahu apa yang dikatakan Sonsaengnim tadi?

Begini, Kim Kibum, tidakkah kau merasa otakmu yang cukup pintar itu akan sia-sia jika kau tak menentukan impianmu dari sekarang? Oh, ayolah! Apa otakku ini akan kadaluwarsa hanya karena aku tak tahu apa impianku? Itu alasan yang terlalu mengada-ada.

“Guk!!”

Lagipula saat kuliah ini aku akan menjalani semester awal seperti biasa, kan? Di semester berikutnya barulah kami menentukan jurusan yang ingin ku tekuni. Kenapa Sonsaengnim jadi serepot ini mengurusi kami?

“Guk!”

Suara anjing?

Aku menoleh dan menemukan seekor anjing berbulu putih, sepertinya jenisnya Pemoranian. Aku pernah melihat anjing yang sama di rawat oleh kakak sepupuku di Cheonan, hanya saja Pemoranian miliknya berbulu hitam dengan beberapa semburat coklat. Dia tergeletak tak berdaya di pinggir jalan. Apa dia dibuang?

Aku berjongkok di depan anjing yang kini memandangiku dengan wajah memelas. Aigooo~ Dia sangat manis! Inilah susahnya jadi anak perempuan. Dengan mudahnya kau terlena karena tatapan anak anjing seperti ini.

“Kawan kecil, kenapa kau sendirian?” Aku mengusap bulu putihnya yang agak kasar. Dia pasti anjing terlantar. Kasihan sekali. Jika saja aku bisa memelihara anjing pasti kubawa pulang, sayangnya di rumah sudah ada tiga ekor kucing milik kakak laki-lakiku yang galak. Dia bisa marah kalau kubawa anjing ini.

Samar-samar aku melihat noda merah di kaki kanan belakangnya. Hati-hati aku mengangkat satu tangannya dan terlihatlah kalau noda merah itu ternyata mengotori bulu belakangnya. Dia terluka!

“Ya, Tuhan! Kenapa bisa seperti ini?” Buru-buru aku mengangkat anjing itu hati-hati ke pangkuanku. Tubuhnya yang kecil juga luka yang dideritanya membuatnya tidak bisa bergerak banyak dalam rengkuhanku.

Apa yang harus kulakukan? Kenapa masih bertanya! Kau harus membawanya ke dokter hewan, Kim Kibum!

Aku berdiri dengan hati-hati, berusaha sekuat mungkin agar anjing kecil itu tidak merasa sakit dalam gendonganku. “Tunggu sebentar. Aku akan menolongmu.” ujarku cepat sambil mulai berlari membawanya.

Seumur hidup aku belum pernah ke dokter hewan, jadi aku tak tahu dimana letak dokter hewan terdekat. Satu-satunya tempat yang ku ketahui mungkin sebuah klinik hewan kecil di dekat stasiun kereta bawah tanah yang biasa kutaiki kalau berangkat sekolah. Tapi toko itu selalu kelihatan sepi. Bagaimana kalau itu praktek dokter hewan illegal? Akkh! Bingungnya nanti saja! Yang penting selamatkan dia dulu.

Lima belas menit berlari, kini aku sudah berhenti di depan klinik itu. Seperti yang kukatakan, kliniknya tak terlalu ramai. Dari etalase depan hanya terlihat beberapa jenis kucing dan anak kucing yang diletakkan di kandang kaca dengan bacaan ‘gratis’ di luarnya. Anak kucing dijual gratis?

Sebelum aku masuk ke klinik itu, seorang pemuda tinggi justru berjalan keluar. Untuk sesaat kami berdua saling berpandangan. Namun entah kenapa anjing dalam pelukanku itu menggonggong lemah, membuat pemuda itu menunduk kearahnya.

“Ada apa?” tanyanya pelan.

“A-anjing ini kutemukan di jalan. Kurasa dia dibuang atau terlantar dan kakinya terluka. Ja-jadi_”

Sebelum aku menyelesaikan kata-kataku pemuda itu langsung membuka pintu klinik itu dan menarikku masuk dengan hati-hati. “Nanti saja dijelaskannya, coba bawa dia masuk.” ujarnya dengan segera.

Aku mengangguk sambil meletakkan Pemoranian putih itu di meja kecil yang terletak di pojok ruangan. Jangan bertanya kenapa aku meletakkannya disana, karena kulihat beberapa alat medis di dekat meja itu jadi aku yakin ini meja yang tepat. Kulirik lagi pemuda yang sudah mendekatiku dan menyentuh luka si anjing hati-hati.

“Yak! Apa yang kau lakukan?!” omelku kesal. Apa-apaan pemuda ini? Gayanya seperti mengerti saja. “Kita harus menunggu dokter yang berjaga disini.”

Mendengar ucapanku, pemuda itu menoleh menatapku sambil tersenyum manis. Menciptakan dua lengkungan di pipinya dan membuatnya terlihat semakin tampan di mataku. Oh my dearest God…. Dia pemuda tertampan yang pernah kutemui sepanjang hidupku. Yesung oppa bahkan kalah tampan. YAK! Ini bukan saatnya mengagumi wajah orang lain, Kibum!

“Aku dokter di klinik ini.”

Mworago? Dia dokter? Eh, mana mungkin! Selama yang kutahu yang namanya dokter hewan pasti pria paruh baya yang sudah cukup berumur. Tapi dia… Dia kelihatan masih sangat muda!

Dengan cekatan dia membasuh tangannya dan memakai sarung tangan karet. Dengan hati-hati pemuda itu memeriksa bagian si anjing putih yang terluka. Aku tak paham apa yang dilakukannya, tapi dia kelihatan sangat cekatan. Apalagi saat kulihat dia mengambil suntikan dan menyuntik paha anjing itu pelan-pelan. Aku saja sampai bergidik ngeri melihatnya.

Pemuda itu mulai membersihkan luka si anjing dengan kain dan air yang sudah ditetesi cairan antiseptik. Dari yang kulihat, sepertinya anjing itu terluka karena gigitan anjing besar. Aku masih tak yakin karena aku enggan bertanya dengan pemuda itu. Dia kelihatan terlalu serius.

Tiga puluh menit berlalu, akhirnya pemuda itu melilitkan perban di kaki si anjing yang sepertinya dibuat tertidur. Dia memandangi si anjing sambil tersenyum simpul, tampak bangga dengan apa yang sudah dikerjakannya. Barulah dia menatapku.

“Dia baik-baik saja.”

Aaahh… Kata-kata yang melegakan.

“Terima kasih.” ujarku lega.

Senyum pemuda itu tak mau menghilang sampai akhirnya kulihat dia menadahkan tangannya di hadapanku. Tentu saja aku heran dengan apa yang dilakukannya. Dan kalimat berikutnya yang meluncur dari bibirnya adalah…

“Totalnya lima puluh ribu won, Nona.”

WHAT?!

0o0o0o0o0o0

Hari itu aku belajar satu hal…

Kita tak boleh menilai seseorang dari luarnya saja.

Padahal dia terlihat tampan, berwibawa dan sangat baik. Gerakannya ketika mengobati anjing kecil itu benat-benar membuatku terpana. Tapi kalimat terakhirnya membuatku terkejut. Dia meminta bayaran lima puluh ribu won untuk anak sekolah yang jelas-jelas sudah mengatakan bahwa anjing yang dibawanya mungkin anjing terlantar.

KEJAM!! Dari mana uang sebanyak itu?!

“Kibum, tolong isi botol susu ini dan berikan anak-anak kucing di depan susu. Jangan terlalu hangat, atau dingin. Suhu airnya harus sesuai. Dan jangan lupa tambahkan sedikit mentega dan gula pasir.” Choi Siwon –sebenarnya aku harus memanggilnya Siwon oppa karena dia lebih tua dariku-, yep, pemuda yang telah menipuku dari sosok luarnya itu mengulas senyum manis sambil menyerahkan bototl susu kucing kearahku.

Aku mengambilnya dengan enggan. “Sampai kapan aku harus membantu di klinik sepi begini?”

“Tentu saja sampai lima puluh ribu won-nya lunas.” jawab Siwon oppa santai sambil mengusap bulu lebat kecoklatan seekor kucing jenis Angora yang ada di klinik itu. Dia menoleh kearahku. “Kau mungkin harus bekerja selama dua minggu disini.”

Menyebalkan…

Aku memegang botol susu yang cukup hangat itu. Kurasa ini cukup baik. Dengan hati-hati kutuangkan beberapa sendok susu bubuk, setengah sendok mentega cair dan juga sedikit gula. Aku lagi-lagi tak tahu kenapa susu untuk kucing harus pakai mentega? Menurut saja, deh..

Dengan hati-hati aku mengambil satu ekor bayi kucing belang tiga dan menempelkan ujung botol susunya ke mulutnya. Dengan lahapnya dia langsung meminum susu yang kuberikan. Ya, Tuhan… Manis sekali!

“Umur mereka baru beberapa hari. Induknya meninggal karena diserang anjing liar. Kasihan sekali. Karena itu aku meletakkan bacaan gratis untuk yang mau merawat mereka. Apa kau berminat?”

“Di rumah sudah ada tiga ekor kucing jantan dewasa. Lagipula anak kucing itu masih rentan, aku takut dia mati.” Kutatap Siwon oppa. “Bagaimana dengan kondisi Fluffy?”

Kedua alis tebalnya langsung tertaut. “Fluffy?”

“Itu loh… Pemoranian putih yang ku bawa kemarin.”

Tiba-tiba pemuda itu justru terkekeh sambil menunduk. Apa yang salah dengan pertanyaanku?

“Ya, Tuhan. Kau memberi nama seekor anak anjing dengan nama Fluffy? Itu kan nama untuk kucing!”

“Memangnya kenapa? Kakakku memberi nama kucingnya dengan nama yang aneh, kok! Heebum, Baengshin dan Champaigne! Kenapa Fluffy disebut aneh untuk nama seekor anjing. Kurasa namanya cocok dengan bulu putihnya!” belaku sebal sambil mengambil bayi kucing lainnya dan memberikan dot itu kearahnya yang sudah lahap menghisap susunya.

Tawa Siwon oppa semakin pecah. “Ahahaha~ Tetap saja itu konyol!”

Menyebalkaaaaannn!!

“Maaf, maaf. Aku hanya kaget saja, kok.” Siwon oppa sesegera mungkin menenangkan dirinya, namun samar aku masih mendengarnya terkekeh dan menyebut kata Fluffy selama beberapa kali. Selama beberapa saat kurasa dia akhirnya tenang. “Anjing itu baik-baik saja. Aku sengaja meletakkannya di kandang terpisah agar dia tak di ganggu anjing lainnya.” Senyum manisnya kembali terulas.

Sial! Kenapa dia selalu mengulas senyum semanis itu? Bagaimana kalau aku jatuh cinta padanya?

“Ngomong-ngomong, kenapa kau memberinya nama? Apa kau akan merawatnya, Kibummie?”

Aku menggeleng cepat. “Seperti yang kukatakan kalau di rumah sudah ada tiga kucing, jadi tak mungkin merawat anjing. Memangnya aku tak boleh memberinya nama, ya?”

Siwon oppa tersenyum lembut lagi. “Sebaiknya jangan. Anjing atau kucing memiliki kemampuan mengingat namanya. Jika kau tak berniat merawatnya maka jangan kau beri nama, itu mencegah terciptanya hubungan antara kau dan hewan itu.”

“Kenapa harus dicegah?” Aku menatapnya penasaran.

“Karena kalau kau tak berniat memeliharanya, dia akan menunggu orang lain untuk memeliharanya, Kibum. Jadi kau tak boleh menjalin hubungan spesial jika kau tak bisa merawatnya. Hal itu bisa membuat anjing atau kucing merasa dikhianati oleh manusia dan mereka akan berubah menjadi liar dan tidak bisa mempercayai manusia.”

Benarkah…?

0o0o0o0o0o0

“Kibum! Kenapa kau masih belum menentukan impianmu? Hyukjae saja sudah menyerahkan kertas laporannya kepadaku.” Teukie Sonsaengnim melepas kacamatanya sambil bersandar lemas di kursinya. “Hanya kau satu-satunya murid yang masih belum menyerahkan keterangan impianmu. Apa kau tak serius dengan masa depanmu?”

Aku hanya bisa menghela nafas di depan Sonsaengnim yang cerewet itu. “Aku masih bingung.”

“Kenapa kau tak membicarakannya dengan orang tuamu?”

Aku menggeleng. “Mereka tak terlalu mempermasalahkan apa yang aku ambil nanti. Kata mereka, aku berhak menentukan impianku sendiri. Kata Ayah, aku cocok menjadi seorang ilmuwan. Tapi kata Ibu, aku cocok menjadi jaksa. Sedangkan kakakku bilang aku cocok menjadi ibu rumah tangga.” Aku menghela nafas ketika mengingat lelucon kakak menyebalkanku itu. Ibu rumah tangga? Huh!

Tentu saja Sonsaengnim tertawa mendengar ceritaku. “Ternyata mereka memiliki saran yang beragam, ya?” godanya sambil menulis beberapa kata di buku yang tak terlalu kupedulikan. “Begini saja, kuberi kau waktu dua minggu lagi dan selama itu cobalah kau tentukan apa yang menarik untukmu.”

“Memangnya itu mudah?”

“Kan kau bisa memulainya perlahan. Coba kau perhatikan apa saja yang ada disekitarmu. Banyak sekali hal yang menarik di dunia ini yang bisa kau kembangkan. Aku yakin kau akan menemukan apa yang benar-benar cocok dan kau inginkan.”

Apa benar aku bisa menemukannya? Memangnya mudah? Itu kan sangat sulit.

Tapi karena aku tak mau terkurung lebih lama di ruang konseling, aku hanya mengangguk dan akhirnya Teukie Sonsaengnim mengizinkan aku pulang. Aku masih harus bekerja paruh waktu di klinik sepi itu, kan? Ck.

Tapi kata-kata Sonsaengnim tak bisa kulupakan. Melihat ke sekelilingmu untuk menemukan apa yang kau sukai? Ada apa saja di sekelilingku? Selama ini aku ke sekolah melihat banyak hal. Aku melihat berbagai macam toko dan restoran, apa mungkin aku bisa menjadi seorang cheff atau bakery? Tidak… Aku tak pandai memasak. Aku tak tertarik.

Aku melihat berbagai bangunan tinggi pencakar langit di Seoul. Apa menjadi arsitektur? Tidak! Itu juga tak menyenangkan. Kadang kulihat mobil mewah melintas dan aku berani bertaruh di dalamnya pasti para pengusaha sukses. Well, aku bisa menjadi presedir, kan? Tapi… Aku memang akan kaya, tapi itu juga membosankan. Aku tak mau menjadi seseorang yang berteman dengan tumpukan dokumen.

Di Seoul kan banyak sekali girl group. Apa aku bisa menjadi artis? Ti-dak! Aku bahkan tidak bisa berakting dengan baik. Meski kuakui tubuhku cukup bagus dalam hal menari. Lalu aku harus menjadi apa? Aku ini pasti orang bodoh. Sedewasa ini tapi masih belum memiliki impian apapun.

“KYAA! Ada kucing tertabrak mobil!!”

Aku tersentak ketika mendengar teriakan itu. Aku segera menoleh kearah jalan dimana ada sebuah sedan hitam berhenti di pinggir jalan namun beberapa saat kemudian sedan itu mundur dan melaju pergi begitu saja. Betapa kagetnya aku ketika kulihat seekor kucing berbulu abu-abu tergeletak disana dengan berlumuran darah.

“Ya, Tuhan! Apa yang harus dilakukan?”

“Kucingnya masih hidup!”

“Dia harus di bawa ke dokter!”

Dokter… SIWON OPPA!

Dengan segera aku berlari kearah kucing yang dikerumuni sekitar empat orang pejalan kaki itu. “Bi-biar aku membawanya. Aku bekerja paruh waktu di sebuh klinik dokter hewan.”

“Tapi kau harus menghentikan pendarahannya dulu. Dia bisa mati!” ujar seorang Bibi dengan khawatir.

Mati… Tidak! Dia tak boleh mati! Hewan itu sama seperti manusia, mereka berhak hidup. Tapi bagaimana cara menghentikan darahnya yang terus mengalir seperti ini? Aah! Apa saja boleh, yang penting dia selamat, kan?

Tanpa banyak berpikir aku langsung melepas dasi kemejaku dan mengambil sapu tangan di tasku. Kuikat kaki kucing itu hati-hati karena kakinya sepertinya patah. Pendarahannya dari kakinya. Dan dengan perlahan kubalut tubuhnya dengan sapu tanganku. Suhu tubuhnya harus terjaga agar dia bisa bertahan. Setelah itu aku langsung berlari sambil menggendongnya dalam pelukanku.

Tidak. Kau harus bertahan, kucing! Kau tak boleh mati. Tak akan kubiarkan kau mati!

.

Aku berdiri di samping Siwon oppa yang tampak serius menangani pendarahan di kucing malang itu. Ingin sekali aku bisa membantunya, setidaknya mengambilkan apa yang dia butuhkan –atau mungkin mengejar si pelaku tabrak lari dan memukulnya-. Tapi aku tak bisa. Aku sama sekali tak paham alat-alat yang digunakannya. Aku takut menghambatnya dan kucing itu justru bisa mati karena terlalu lama ditolong.

Aku bisa menyium bau darah yang menguar dari seragam sekolahku. Ya, tadi aku memeluk kucing itu dan itu menyebabkan darahnya mengotori seragamku. Aku persis terlihat seperti orang yang baru saja di tusuk di bagian dada hanya saja tetap bisa hidup. Tapi itu bukan hal penting. Aku tak peduli.

Kugenggam kedua tanganku erat dan memejamkan mataku. Tuhan… Tolong biarkan kucing itu hidup. Tolong lindungi dia.

Jantungku berdebar keras, seperti seorang Ibu yang menunggu hasil operasi anaknya. Ini benar-benar konyol. Mungkin Heechul oppa benar, aku cocok sebagai Ibu rumah tangga. Ah, tidak mau!

“Sudah selesai.”

Aku langsung membuka mataku ketika medengar Siwon oppa bergumam begitu. Pemuda tampan itu menatapku dengan sorot kekecewaan. Oh, tidak. Aku tahu arti tatapan itu. Kini aku melirik kearah kucing yang sudah tak bergerak itu. Dia…

“Aku tak bisa menyelamatkannya. Dia kehilangan sangat banyak darah dan kondisinya sangat lemah. Tak ada satupun yang bisa kita lakukan. Daripada kubiarkan dia menderita lebih lama jadi..”

“Kau suntik mati dia?!” tanyaku tak percaya.

“Sudah tak ada harapan.”

“Tapi dia masih berusaha bertahan hidup!” Kini mataku berkaca-kaca. “Kenapa kau kejam sekali?! Bagaimana kalau Tuhan memberikan keajaiban untuknya?! Bagaimana kalau sebenarnya dia masih bisa ditolong?! Kau tak seharunya membunuhnya, Oppa!” Air mataku mengalir sudah. Aku marah. Ya, aku sangat marah pada Siwon oppa.

Pemuda itu langsung merengkuh bahuku dan memelukku. Sejenak hatiku tersentuh di dalam kehangatan pelukannya. “Aku sama sekali tak bermaksud membunuhnya, Kibum. Terkadang, kami para dokter hewan, akan melakukan hal ini jika kami yakin tak ada kesempatan lagi. Jika dibiarkan dan terus dipertahankan, itu juga akan semakin menyiksanya. Aku juga tak sanggup melakukannya, tapi itulah satu-satunya pilihan terakhir untuk menolongnya.”

“Mana ada menolong tapi membunuhnya?” isakku tertahan sambil memukul lengan kekarnya yang semakin erat memelukku. “Dia… Dia mungkin masih ingin hidup. Dia mungkin saja masih ingin berusaha…” Aku tak tahu kenapa aku menjadi sekacau ini hanya karena seekor kucing jalanan yang baru kulihat tadi sore. Rasanya sesak dan menyedihkan. Aku tak bisa mengendalikan emosiku sendiri…

Apa-apaan ini?! Sepanjang sore itu aku hanya menangis dan Siwon oppa terus memelukku.

0o0o0o0o0o0

Ini adalah hari kelima aku menemukan Fluffy. Ah, aku tahu aku tak boleh memberikannya nama, tapi aku tak peduli. Aku kan tak mau memanggil anjing kecil itu, ‘hey, Pemo!’ atau ‘hey, anjing kecil!’. Jadi aku tetap memanggilny Fluffy~ Nama yang manis… Hahaha..

“Oppa! Oppa! Fluffy mulai berjalan!” seruku senang.

Aku bisa mendengar Siwon oppa terkekeh dari tempatnya duduk sambil memeriksa seekor kucing yang dibawa pemiliknya untuk di suntik vaksin. Mataku terus tertuju pada sosok mungil yang tampak kesal dengan perban di kakinya. Beberapa kali Fluffy mencoba melepaskan perban itu, namun dia gagal. Kumasukan tanganku ke kandangnya dan mengusapnya. Fluffy tampak menyukai sentuhanku.

“Kau harus segera sembuh, Sayang…”

“Apa anjing itu milikmu?” Gadis pemilik kucing jensi Persia yang tengah divaksin itu sudah berdiri dibelakangku sambil ikut mengusap bulu Fluffy yang sudah tampak halus. “Kasihan sekali Pemoranian kecil ini.”

Aku tersenyum kecil. “Dia bukan anjingku.”

“Kukira dia milikmu. Kau sangat menyayanginya.”

“Ah, Sungmin-sshi. Hyaku sudah selesai divaksin.” Kudengar Siwon oppa memanggilnya dan gadis itu segera menghampirinya sambil menggendong kucing jantannya yang cukup gemuk itu. “Kau harus menjaga porsi makannya. Kurasa dia jauh lebih gemuk dari hari terakhir kau membawanya kesini.”

Aku melirik gadis itu sudah menghela nafas. “Beberapa hari ini aku banyak tugas dan hanya ada si pemalas Donghae di rumah. Jadi aku jarang melatih Hyaku. Tapi terima kasih, Siwon-sshi. Aku akan lebih memperhatikan Hyaku.”

“Dia kucing yang manis dan sehat. Sampai jumpa, Hyaku.” Kulihat Siwon oppa mengusap kepala kucing itu dengan gemas.

Gadis itu menatapku. “Sampai jumpa.” ujarnya ramah sambil berjalan keluar dari klinik itu. Dan saat itulah aku mendekati Siwon oppa yang tampak memasukkan beberapa lembar uang ke dalam mesin kasir.

“Klinik ini sepi sekali. Tapi Oppa menetapkan harga yang mahal. Apa itu tidak bermasalah?” tagurku.

Pemuda itu tersenyum kecil. “Justru karena sepi, mau tak mau aku menetapkan harga yang sedikit agak mahal. Ada cukup banyak hewan yang kurawat disini, dan aku butuh dana untuk merawat mereka, kan? Meski sepi tapi aku memiliki cukup banyak pelanggan. Seperti Sungmin-sshi, dia dan adik laki-lakinya setiap bulan selalu datang untuk memeriksa kondisi anjing dan kucingnya.” jelasnya sambil duduk di kursinya dan menengadah memandangiku.

Aku hanya mengangguk sambil duduk di kursi di depan mejanya. “Oppa, apa menjadi dokter hewan itu tidak membosankan?”

“Membosankan?”

“Setiap hari kau menghabiskan waktu untuk mengurus hewan. Jika aku tak disini maka kau sendirian. Itu kan membosankan.” jelasku penuh keingin tahuan.

Kulihat Siwon oppa lagi-lagi mengulas senyum sempurnanya sambil merenggangkan kedua tangannya. “Bosan, ya? Aku justru sangat menikmatinya. Sekalipun kau tak ada disini aku tetap akan menikmatinya karena menjadi dokter hewan adalah impianku.”

Impian…

“Kalau Kibummie, apa impianmu? Kalau kulihat dari sosokmu, sepertinya kau punya ambisi yang cukup kuat, ya?”

Dia bercanda…

Aku menunduk dihadapannya. “Konyol sekali, aku bahkan tidak memiliki satupun impian dalam hidupku.”

Sepertinya pengakuanku mengagetkannya, karena dia langsung bertanya. “Kenapa?”

Aku mengangkat bahu. “Aku tak tahu. Mungkin karena aku bodoh.”

Sontak saja Siwon oppa tertawa. Kutatap dia yang sudah terkekeh. “Bodoh? Kenapa kau berpikir begitu?”

“Bukannya seseorang yang seusia denganku tapi masih belum memiliki impian itu namanya bodoh?”

“Kata siapa?”

“Eung… Kataku…”

Siwon oppa kembali tertawa. “Kau polos sekali, Kibummie. Mana ada orang yang tak memiliki impian itu disebut bodoh. Kau kan hanya belum menemukan apa yang sesuai dengan keinginanmu. Itu wajar. Justru disaat-saat inilah kau akan langsung menemukan apa impianmu.” Pemuda itu mengusap rambutku perlahan. “Sering kita mendengar ada anak TK yang ingin menjadi guru, lalu saat masuk SD dia bilang ingin menjadi astronot, ketika masuk SMP dia mulai berpikir ingin menjadi insinyur pertanian, dan ketika SMA dia ingin menjadi presedir, tapi justru kuliah di bidang sastra bahasa. Itu menandakan bukan berarti orang yang memiliki impian dari kecil itu juga akan melakukan hal sesuai keinginannya, namanya impian itu akan terus berubah-ubah. Di saat seperti sekaranglah kau akan langsung menemukan impian apa yang paling tepat untukmu, karena kau sudah bisa berpikir secara benar untuk dirimu sendiri.”

Siwon oppa benar…

“Cobalah kau perhatikan sekelilingmu, kau akan menemukan hal apa yang benar-benar cocok untukmu. Kau akan menemukan satu hal yang paling ingin kau wujudkan dalam hidupmu.”

Satu hal yang paling ingin kuwujudkan…

“Kadang tanpa kau sadari, hal kecil saja asal itu menarik minatmu justru bisa membantumu menemukan impianmu. Kau harus menentukan impanmu dengan tanganmu sendiri, karena dengan cara itulah kau akan tahu bagaimana caranya merealisasikannya, Kibummie.”

Untuk beberapa saat, selama Siwon oppa mengatakan hal itu… Aku melihat sosok lain didirinya. Dia benar-benar sangat dewasa dan mengagumkan. Aku ingin menjadi orang dewasa yang sepertinya.

0o0o0o0o0o0

Hari kesepuluh, perban di kaki Fluffy sudah dilepas dan Pemoranian manis itu sudah bisa berlari dengan leluasa. Bulunya kini halus dan dia tampak gemuk. Kondisinya benar-benar berbeda dari saat dia kutemukan dulu. Semakin lama aku juga semakin menyayanginya…

“Aku ingin sekali membawamu pulang.” gerutuku sendirian sambil melempar bola ke pojok klinik dan Fluffy mengejarnya. Seandainya saja tidak ada tiga kucing di sumar, pasti aku akan membawa Fuffy pulang ke rumah.

Hari ini belum ada satupun orang yang datang ke klinik. Kalau kuingat lagi, mungkin empat hari lagi aku bisa berhenti bekerja disini. Siwon oppa hanya menyuruhku membantu selama dua minggu, tapi rasanya aku betah sekali berada disini. Aku senang melihat Siwon oppa yang tampak serius menangani hewan, aku juga senang bermain dengan hewan disini. Sepertinya aku jatuh cinta…

Pertama, aku jatuh cinta pada Siwon oppa. Kedua, aku jatuh cinta pada klinik sepi ini. Hehe…

Telepon berdering dan aku berdiri menghampirinya. “Yeoboseyo?”

“Ha-halo! Apa ini Klinik hewan Dokter Choi?”

Suaranya kedengaran panik. “I-iya. Ada yang bisa kami bantu?”

“To-tolong! Anjing puddle-ku akan melahirkan dan sepertinya dia memiliki masalah dengan kontraksinya. Anaknya baru keluar satu ekor dan yang keluar lebih dulu adalah badannya. Bisakah Anda datang?”

Ini situasi darurat!

“Dimana alamat Anda?” Aku segera mengambil notes dan pulpen di meja dan bersiap mencatatnya.

“Gedung apartemen 3A. Pintu nomor 39 di lantai dua. Itu cukup dekat dengan tempat kalian. Kumohon cepatlah!”

“Baiklah!” Aku segera menutup telepon itu dan berlari ke arah kandang dimana tempat Siwon oppa tengah memeriksa beberapa ekor anjing dewasa. “O-oppa! Ada masalah! Kau harus datang ke alamat ini, letaknya dekat dari sini. Ada seekor anjing yang tengah melahirkan tapi memiliki masalah.” ujarku panik sambil menyerahkan notes itu.

Dengan segera Siwon oppa mengambil notes ditanganku. “Kalau begitu tolong jaga klinik sebentar, Kibummie.” Dia langsung berlari mengambil tasnya dan keluar dari klinik.

Dadaku lagi-lagi berdebar keras… Ada apa denganku? Ini debaran yang sangat aneh.

.

Sudah satu jam aku hanya bisa menunggu di klinik sendirian. Sejak tadi debaran di dadaku tidak berkurang, bahkan setiap detik semakin membuatku cemas. Bagaimana kondisi anjing itu? Apa bayinya selamat? Aku mau lihaaaatt~

“Maaf!” Lamunanku buyar ketika kulihat seorang gadis kecil berlari masuk ke klinik dengan membawa sesuatu di gendongannya.

“Ada apa, Nona kecil?”

“A-aku menemukan anak kucing ini di jalan. Dia kelihatan sakit! Kakak, tolong bantu dia! Aku pasti akan membayarnya!”

Me-membantu anak kucing?

Nafasku seakan tertahan ketika gadis kecil itu mengeluarkan seekor kucing kurus dari balik selimutnya. Kucing itu tampak masih belum bisa melihat dan tubuhnya gemetar hebat. Dia pasti terpisah dari induknya. Anak kucing sekecil ini tak boleh dibiarkan terpisah dari induknya, kan?

“Kakak, tolong selamatkan dia.” mohon si gadis kecil itu lagi.

Tapi aku bisa apa? A-aku tak bisa melakukan apapun. Siwon oppa~ Tapi aku tak bisa membiarkan anak kucing ini mati begitu saja di hadapanku. Setidaknya aku harus mencoba menyelamatkannya, kan?

Buru-buru aku mengambil beberapa selimut dan meletakkan anak kucing itu dibawah selimutnya. Kuambil handuk lembut dan air hangat dan kembali mendekati anak kucing itu sambil membersihkan kotoran di seluruh tubuhnya dengan hati-hati. Dia sangat lemah dan rapuh, jika aku tidak hati-hati aku takut akan menyakitinya.

Setelah dia bersih, aku menyelimutinya dengan selimut agar dia cukup hangat. Setidaknya suhu tubuh anak kucing itu harus normal, sekitar 30 derajat. Lalu aku harus melakukan apa lagi sekarang? Aku tak tahu~

“Kucing kecil, bertahanlah~” Gadis kecil itu terus memandangi si kucing penuh harapan.

Kucing kecil ini juga tampak berjuang untuk hidupnya. Ya, aku tak boleh menyerah! Aku harus melakukan sesuatu. Segera aku menuju rak perlengkapan dan mengambil sebuah plastik tipis. Kucing sekecil itu tak akan bisa meminum susuk dari botol, kan?

Kuisi plastik itu dengan susu hangat yang baru saja kubuat dan aku membuat lubang kecil di ujung plastik agar airnya bisa keluar. Setelah yakin berhasil, dengan hati-hati aku mengangkat kepala kucing kecil itu –besarnya tidak lebih besar dari telapak tanganku- dan menahan jemariku di bagian sisi mulutnya. Dengan hati-hati kugunakan satu jariku yang sudah kubasahi air susu ke mulutnya, mungkin dia akan membuka mulutnya. Dan benar! Kucing kecil itu membuka mulutnya dengan segera.

Dengan hati-hati aku meletakkan ujung plastik itu di mulutnya dan meneteskan beberapa tetes air susu itu. Aku tak mau kucing kecil itu tersedak, jadi aku meneteskannya satu atau dua tetes sekali, setelah dia selesai menelannya barulah kuteteskan lagi. Aku terus melakukannya sampai lima belas menit dan berhenti ketika si kucing sudah tak mau lagi meminum susunya.

Kuangkat selimut beserta kucing itu ke sebuah kandang kaca dengan lampu kecil diatasnya. Siwon oppa pernah bilang kalau kandang itu seperti sebuah inkubator buatan. Aku meletakkan kucing itu disana dan menyalakan lampunya. Kucing itu kini meringkuk dalam selimut dan tampak tertidur.

“Kakak… Apa dia baik-baik saja?”

“A-aku harap seperti itu.”

“Terima kasih! Kakak telah menyelamatkan kucing itu!” Gadis itu langsung memelukku.

Aku… menyelamatkan kucing? Lagi-lagi dadaku berdebar hebat. Ada perasaan senang tak terhingga kini merasukiku. Perasaan yang sangat asing namun sangat menyenangkan. Aku sangat menyukai perasaan ini. Sama seperti ketika aku jatuh cinta…

“A-aku kembali!” seruan Siwon oppa membuatku menoleh menatapnya. “Ba-bagaimana keadaan disini? Setelah selesai aku segera pulang.”

“Oppa, bagaimana anjingnya?”

“Persalinannya agak bermasalah. Kami kehilangan satu bayi pertama, tapi tiga anak lainnya berhasil diselamatkan.” Tampak sekali kekecewaan memenuhi sorot mata teduhnya. Belum sempat aku bicara, Siwon oppa menatap gadis kecil yang berdiri di hadapanku. “Siapa dia?”

“Eung, dia…”

“Namaku Lee Dayoung! Aku datang karena menemukan kucing kecil yang terlantar dan nyaris mati. Tapi kakak ini sudah meneyelamatkannya. Sekarang kucingnya sedang tidur di kandang kaca yang bersinar itu.” Dia menunjuk kearah kandang kaca tempat dimana kucing itu tertidur. “Kakak sangat hebat!”

Bisa kurasakan wajahku bersemu merah mendengar pujiannya. Kulirik Siwon oppa yang menatapku sambil tersenyum. Dia mendekatiku dan mengusap kepalaku lembut. “Kerja bagus, Dokter Kim. Ternyata kau sangat bisa diandalkan…”

Dokter Kim…?

0o0o0o0o0o0

Aku tersenyum melihat ekspresi takjub dari Ryeowook. Pemuda itu berkali-kali berdecak kagum membaca catatan tentang impianku. Setelah selesai membacanya, dia menatapku tak percaya. “Itu hebat sekali, Kim Kibum!”

“Aku kan jenius.” ujarku bangga. “Aku akan menemui Sonsaengnim dulu.” Kutarik ranselku dan aku meninggalkan sahabatku itu. Hari ini tepat dua minggu berakhir dari hari perjanjian dengan Teukie Sonsaengnim. Tapi kali ini aku tak akan membuatnya kecewa, karena aku sudah menemukan apa impianku.

Jujur saja, bekerja paruh waktu tanpa bayaran di klinik Siwon oppa memberikanku berbagai pengalaman yang mendebarkan. Ini pertama kalinya dalam hidupku, aku berdebar-debar panik dan bahagia sekaligus. Benar-benar perasaan yang menyanangkan.

Aku… Sepertinya ingin menjadi dokter hewan…

.

“Fluffy sepertinya sudah benar-benar sembuh.”

Aku melirik Siwon oppa yang tengah memperhatikan anjing putih itu. Lucu sekali, dulu dia yang menertawakan nama itu, tapi sekarang dia ikut memanggilnya dengan nama Fluffy. Dan anjing itu juga sepertinya sudah mengenali namanya.

Kuusap tiga ekor kucing yang sudah tampak besar dari waktu pertama aku bertemu dulu. “Anak-anak kucing ini juga sudah cukup besar.”

Ketiga kucing itu mengendus tanganku sambil sesekali bermain dengan saudaranya. Mereka benar-benar tampak manis.

“Ah, permisi!” Seorang Bibi masuk ke dalam klinik. “Aku melihat ada bacaan gratis anak kucing diluar. Kebetulan sekali aku tengah mencari anak kucing. Apa aku bisa melihatnya?” tanya Bibi itu langsung.

Aku melirik Siwon oppa yang tersenyum ramah sambil mendekati kandang tempatku berdiri. Aku memilih mundur bersama Fuffy yang kini lebih sering berada di luar kandang untuk bermain-main. Kedua orang itu tampak mengobrol santai dan kulihat Siwon oppa mengambil satu ekor anak kucing dari dalam kandang.

Satu ekor menemukan rumahnya dan dua ekor lagi akan tetap disini bersama kami. Ah, kami…?

“Ngomong-ngomong, ini hari terakhirmu membantu disini, kan? Bagaimana kalau nanti aku traktir makan malam?” Siwon oppa kembali berbicara setelah Bibi itu pergi dengan membawa seekor anak kucing.

“Aku bekerja untuk membayar hutangku padamu, jika aku ditraktir sama saja dengan aku kembali berhutang, kan? Tidak mau!”

Siwon oppa terkekeh. “Kibummie, bodoh. Tentu saja ini gratisan. Pasti akan sepi kalau kau tak ada. Selama dua minggu ini padahal aku sangat senang karena kau ada disini membantuku.” ujarnya lagi sambil menopangkan dagu dan menatapku. Senyum sempurna itu kembali terulas di depan mataku.

Aku berjalan mendekati Siwon oppa. “Aku tak akan pergi jika Oppa memohon kepadaku.”

“Memohon?”

“Iya… Katakan saja, Kibummie aku mohon kau jangan pergi. Aku membutuhkanmu disini.” Aku langsung tertawa ketika aku berusaha menirukan suara Siwon oppa ketika mengatakan hal itu. Apa-apaan ini?

“Kumohon jangan pergi.”

Eh? Tawaku langsung berhenti.

Siwon oppa menatapku tulus dengan senyumnya. “Aku membutuhkanmu disini.”

Apa aku… Bermimpi?

“Aku tak bisa mengatakan hal itu dengan ekspresi menyebalkan seperti yang kau tirukan, kau bisa lihat sendiri kalau wajahku terlalu tampan. Karena sudah ku katakan, maka kau tak boleh pergi dari sini. Kau harus tetap bekerja disini menemaniku, oke?” Dia tersenyum menggodaku.

A-apa-apaan ini? Huh~

“Tidak mau!”

“Kan kau yang memintanya! Curang sekali!”

Aku bersandar di meja Siwon oppa sambil menatap ke beberapa binatang yang berada di dalam kandang kaca mereka. “Oppa tahu, aku tak akan mengabulkan permintaan itu karena sejak awal aku memutuskan tak akan pergi dari sini.”

“Maksudmu?”

Kutolehkan kepalaku menatapnya dan tersenyum. “Aku akan berada disini. Aku akan belajar menjadi dokter hewan dan setelah lulus nanti aku akan masuk ke fakultas kedokteran untuk menjadi dokter hewan.”

Bisa kulihat mata Siwon oppa tampak berbinar mendengarnya. “Jadi kau sudah menemukan impianmu?”

Aku mengangguk. “Berada dua minggu disini membuatku merasakan banyak hal baru. Kuakui, menjadi dokter hewan bukan hal yang aneh justru masih terbilang langka. Aku merasa senang ketika hewan yang kutolong bisa sembuh, melihat mata mereka kembali memancarkan cahaya kehidupan, itu sangat indah dan aku ingin terus merasakan hal itu. Aku ingin berusaha menyembuhkan semua hewan yang datang ke klinik ini, karena itu aku akan menjadi dokter hewan dan bekerja disini. Bagaimana? Keren, kan?” tawaku pelan sambil berputar lagi untuk menatapnya.

Siwon oppa mengusap rambutku. “Itu impian yang sangat bagus. Aku senang kau akhirnya menemukan apa yang benar-benar kau inginkan.”

“Ini semua berkat Siwon oppa, lho…”

“Aku?”

Aku mengangguk dan dengan cepat mengecup pipinya. Lihat! Wajah Siwon oppa langsung bersemu merah dan matanya menatapku tak percaya. Aku suka sekali melihat wajahnya seperti itu.

“Karena aku menyukaimu, karena itu aku ingin berada di sisimu dan membantumu.” gumamku sambil berlari menghampiri Fluffy yang tidur di pojok ruangan. Aku menatap Siwon oppa yang masih memandangiku dengan kaget.

Dia menatapku sambil mengusap pipinya. “Apa tadi itu pernyataan cinta, ya?”

“Kurasa begitu.” ujarku sambil menggendong Pemoranian kecil itu dan memeluknya. “Bukan begitu, Fluffy? Kita akan berada di klinik ini selamanya dan membantu Dokter Choi. Dengan begitu Fluffy bisa kupelihara di tempat ini!” seruku lagi dengan senang.

Aku menoleh kearah Siwon oppa yang terkekeh pelan dan berjalan menghampiriku. Dia kembali mengusap kepalaku lembut. “Kalau begitu, aku mohon kerja samanya lagi, Dokter Kim. Ah, apa mulai sekarang aku harus memanggilmu Chagiya?”

Aku memutar bola mataku sambil berpikir. “Aku tak suka. Cukup panggil aku dengan namaku. Aku justru lebih suka dipanggil Dokter Kim.”

“Baiklah. Dokter Kim. Berjuanglah.” Siwon oppa langsung memelukku lembut dan mengusap rambutku berkali-kali. Fluffy yang berada di pelukanku meronta dan memaksa melepaskan dirinya dariku.

Aku dan Siwon oppa tertawa melihat anjing kecil itu nampak tak suka karena berada diantara kami jadi aku segera melepaskannya. “Ya, aku akan berjuang.”

Well, karena sekarang aku sudah mengetahui jalan mana yang akan kutempuh untuk masa depanku. Itu artinya aku tak memiliki waktu untuk bersantai-santai saja. Aku akan belajar tekun dan berjuang keras agar bisa mewujudkannya. Menjadi dokter hewan, bekerja di klinik ini dan bersama Siwon oppa.

Aku akan mewujudkannya.

Dan kalian… Apa impian kalian?

10 thoughts on “Tell Me Your Dream!

  1. Hyaaaaaa!!!!!!!!!!!! Eomma dataaaaangg!!!!
    Hah…hah,,,mian ne chagiya……umma pasti telat.
    Umma skrang jarang buka fb, jd udah lama bgt umma ga sapa km chagi. Umma jg jarang sms ya? kangeeenn…
    wait! ini ff,umma kan mo ripiu.
    Jenis anjingnya pemoranian atau pomeranian? umma cuma tanya, dulu jg umma pernah pelihara anjing pomeranian warna putih. wkwkwkwk……lucu bgt. tp sayang skr dah ga lg. ckck..
    dan umma suka bgt ceritanya. hehehehe……cantik. walaupun ini GS, tp umma yang udah terlanjur yaoi fever jd ngebayanginnya Kibum tuh namja juga. kekekekek….
    .
    .
    panjang ah!
    Oh ya chagi, ayo bikin YeWook lagi. Umma kangen nih.
    .
    .
    Udah ah, lama! see u Thena-chagi, Saranghae……..*hugkissu*

    >>>eomma<<<

  2. K E R E N B G T (lebay dikit)hehehehehe
    hehehehehehe mianhae yach……
    bc’ny semalem, tp bru koment skrg.coz semalem dah keburu ngantuk,bc lewat hp pula hehehehehehehe
    hehehehe aq pikir kibum jd namja, g tw’ny yeoja yach….
    bikin lg yg banyak yach……
    white series’ny lanjutin donk………

  3. Eung masih boleh komen gak? (udah telat banget)
    huwaaaa ini manis bangetttttt…saya cinta dokter kim!apalagi dokter choi kkkkkkkk~itu si hyukki mau jadi apa?

  4. Ah chingu…
    jadi dokter hewan itu juga impianku dulu setelah baca komik Wild Life #curcol#
    sekarang aku juga sedang menjadi impianku yang sebenarnya #curcol lagi# :p

    fanfictnya keren chingu, menginspirasi banget🙂😀

  5. Oh, my!!
    Aku suka ini XDD

    Ini fluffy banget!
    Bikin sekuelnya dong!! Aku pengen liat aksi Dr. Kim dengan Dr. Choi ^^

    Onnie, aku menemukan kata-kata yang ada aneh deh *pasang muka detektif*
    Yang kayak gini, nih!
    ‘… botol susu ini dan berikan anak-anak kucing di depan susu ..,’
    Nah loh, ‘anak-anak kucing di depan susu’ ? Maksudnya apa? Mungkin kelebihan kata di belakang nggak?
    Kalau nggak salah ada satu lagi, tapi lupa ada di mana XDD

  6. ceritanya lucu bgt, tentang pencarian jati diri gtu… keren… bgs bgt… oya bikin sekuelnya donk… kutunggu ya… tetep berkarya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s