In Heaven (Straight FF Lee Kiseop with OC)

In Heaven~

.

Author :: Kim Minhwa (Illumi Suou Tamaki) @KiSSeop91Minhae

Editor :: @thenakim91

Pairing :: Lee Kiseop with OC (Kim Minhwa)

A MV fiction from JYJ ‘In Heaven’

Disclaimer :: In Heaven is JYJ’s. Lee Kiseop isn’t MINE (but I hope he’ll be mine). And Kim Minhwa is ME. :p

Rated :: T

Genre :: Romance/Hurt/Angst

ONE SHOOT! This is a STRAIGHT fiction. So, if you are FUJOSHI or hate fiction like as straight. Please don’t read. NO FLAME! NO BASH! I just try to make my fiction with my idol. Please comment if you read my story. ^^

happy reading.

.

Karena ini FF pertama aku yang berani aku post di sini dan ini juga ff pertama yang aku buat. Aku minta maaf kalo banyak banget kekurangan. Thena eon udah bantuin edit. Semoga aja ada yang mau baca.  Gomawo.

.

.

.

STORY START~

.

Saat itu, seorang pemuda berambut hitam, bertubuh tinggi dan berkulit putih. Wajahnya itu sangat tampan. Ia sedang berada dalam sebuah ruang rapat perusahaan tempatnya berkerja, ia akan mempresentasikan sebuah laporan pekerjaan yang telah ia selesaikan beberapa hari yang lalu didepan banyak para pengusaha-pengusaha ternama didunia.

“Kiseop-ssi, apa kau sudah siap?” Tanya seorang pria yang tampak lebih tua kepada pemuda tersebut.“Ya” Jawabnya  agak tegang.

Dia mulai merapikan ujung lengan jas hitam yang ia kenakan dan juga jam tangannya. Dan akhirnya ia memulai prensetasinya itu.

Drrrt.. Drrrt.. Drrrrt.

Beberapa menit sebelum ia berpresentasi, ada panggilan di ponsel milik pemuda yang bernama Lee Kiseop dan tertulis dilayar ponselnya ’Minhwa-Ku’. Kiseop melirik kearah ponselnya, tetapi ia tidak menjawab panggilan tersebut dan segera memulai presentasinya.

Disaat bersamaan ditempat yang berbeda, di sebuah penyebrangan jalan bersama kerumunan orang-orang yang tampaknya ingin menyebrang jalan, terlihat seorang gadis dengan rambut panjang yang hanya sebahu, tubuhnya pun tidak terlalu tinggi. Rambutnya itu terlihat agak berantakan dan itu membuatnya tampak seperti orang yang sedang frustasi.

Saat ia mengangkat kepalanya untuk menatap jalan, sorot mata yang sangat sedih dan juga frustasi terpancar di bola mata hitamnya. Perlahan ia mengeluarkan ponsel dari saku jaket jeans yang ia gunakan. Dan dia mulai menyentuh layar ponsel touchscreen-nya itu untuk memanggil seseorang dari kontak ponselnya. Dia menekan nomor ponsel ‘Kiseop oppa-Ku’

Tuuut.. Tuuuut.. Tuuuuuut.

Tapi disayangkan, gadis itu tidak mendapatkan jawaban dari orang yang ia panggil.

Dengan pikiran yang sangat kacau, ia berjalan menuju tengah jalan. Padahal saat itu lampu lalu lintas belum menandakan untuk para penyebrang jalan untuk menyebrang. Ia melangkah perlahan menuju jalan raya yang dilewati banyak kendaraan yang melaju dengan kencang. Terlihat mobil yang berwarna silver datang dari arah kiri gadis itu dengan cepat.

BRAK!

“Aku ingin pergi sekarang”

“Jangan pergi!”

“Aku akan kembali lagi, jadi..”

“Bohong! Bohong!”

“Tidak! Tidakkah kau tahu bagaimana aku mencintaimu?”

“Tidak bisakah kau memperlihatkan cinta itu kepadaku sekarang?”

“Aku mencintaimu..”

“Tidak bisakah kita saling mencitai lagi?”

.

.

-Kiseop Pov-

DEGH!

Aku langsung tersentak dan segera bangun dari tempat tidurku. Mimpi itu, mimpi yang terus menghantuiku. Di mimpi itu tergambarkan dimana saat seorang gadis yang sangat kucintai meninggalkanku untuk selamanya. Terlihat jelas sorot pandang yang sangat sedih dan frustasi di matanya. Maafkan aku..

Aku menatap seluruh sudut kamarku yang putih dan terang karena sinar matahari pagi yang masuk kedalam ruangan. Aku hanya sendiri. Tidak ada satu orang pun bersamaku. Sebenarnya aku tidak hidup sendiri didalam rumah ini, tapi semenjak kepergiannya aku mulai menjalani hidupku hanya seorang.

Sudah dua tahun berlalu sejak gadis yang sangat aku cintai pergi untuk selamanya. Itu karena kecelakaan yang menimpanya. Kim Minhwa, ia pergi seketika setelah sebuah mobil berwarna silver menabraknya saat ia ingin menyebrang jalan. Aku benar-benar merasa terpukul karena kejadian tersebut. Aku benar-benar menyesal karena tidak sempat menjawap panggilannya. Panggilan untuk yang terakhir kalinya.

Perlahan aku beranjak dari tempat tidurku dan berjalan menuju dapur. Aku membuka kulkas dan mengambil sebotol air mineral didalamnya. Terlihat beberapa jadwal yang kutempelkan dipintu kulkas itu. Sesaat aku melirik ke kalender yang terpasang di atas kulkas tersebut. Sekaran g sudah tanggal 8 Agustus 2010.

“Dua tahun sudah berlalu, Minhwa” Gumamku sambil menatap langit-langit dapurku.

Aku memejamkan mataku perlahan. Aku menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan pikiranku sejenak. Aku masih belum bisa menerima ini. Saat membuka mataku, aku langsung bersiap-siap untuk pergi ke perusahaan tempatku bekerja.

Setelah selesai bersiap-siap. Aku berjalan menuju garasi rumahku untuk mengambil mobilku. Aku menggunakan kaca mata hitamku dan langsung mengendarai mobilku yang berwarna putih itu untuk menuju perusahaan. Aku menyusuri jalan raya yang agak sepi.

Saat diperjalanan, pikiranku terus-menerus memikirkan Minhwa yang sudah pergi. Aku benar-benar ingin bertemu dengannya sekali lagi. Seandainya waktu bisa berputar kembali, sebisa mungkin aku akan meluangkan waktuku untuknya. Selama ia masih hidup, aku terlalu sibuk dengan pekerjaan yang aku miliki sehingga aku mengabaikannya.

Hari-hariku kulalui hanya dengan mengerjakan pekerjaanku. Saat ini aku sendang menyusun sebuah laporan untuk aku presentasikan. Aku benar-benar lelah. Aku membuka laci meja dimana tempat aku mengerjaakan presentasiku tersebut. Aku langsung diam sejenak saat melihat sebuah foto yang berbingkai dengan bingkai berwarna hitam.

Aku menatap foto itu, fotoku bersama Minhwa. Aku menyimpannya di dalam laci meja karena aku akan merasa sakit saat melihat foto itu. Aku terus memandangi foto kami. Perlahan aku beranjak menuju jendela rumahku. Menatap langit biru yang terlihat di luar jendela sana dibalik kain gorden putih yang agak bergerak samar karena tiupan angin dari luar sana.

Dan lagi-lagi aku teringat bayang-bayang Minhwa. Aku benar-benar tidak menerima takdir yang begitu kejam ini. Aku benar-benar sakit. Yang aku harapkan hanya satu. Aku ingin waktu terulang kembali saat Minhwa masih ada disisiku. Aku benar-benar mencintainya. Aku tidak bisa melupakannya. Tuhan, tolonglah berikan aku satu kesempatan lagi. Aku menarik nafas dalam dan segera beranjak menjauhi jendela tersebut.

Aku melirik jam tangan dilengan kiriku. “Sebaiknya aku pergi keluar untuk mencari udara.”

Aku menelusuri beberapa anak tangga dirumahku dan langsung berjalan keluar rumah menuju halaman rumah tepat dimana aku memarkir mobilku. Aku masuk kedalam mobil dan menyalahkan mesinnya. Aku ingin pergi entah kemana.

Aku terus mengendarai mobilku tanpa tujuan. Dan saat itu aku behenti tepat dipinggir sungai.

“Ini tempat yang sangat aku rindukan. Minhwa, apa kau juga ada disini?” Gumamku sambil menatap langit yang biru dan indah itu.

“Apa kau melihatku dari surga sana?”

Terputar kembali kenangan-kenangan saat aku bersama dengan Minhwa dan kembali itu membuatku hancur. Aku memejamkan mataku dan merasakan hembusan angin yang sangat sejuk. Dan itu sedikit membuatku agak tenang.

Setelah berlama-lama disana, aku memutuskan untuk kembali pulang.

“Aku masih punya banyak tugas”

Aku terus mengendarai mobilku di tengah-tengah jalan kota Seoul. Banyak beberapa toko yang kulalui. Aku melalui sebuah toko buku yang sangat kukenal. Ini adalah toko langganan Minhwa dimana ia mebeli peralatan lukisnya. Dia sangat suka melukis. Itulah hobinya.

Aku memarkir mobilku tepat didepan toko tersebut. Perlahan aku membuka pintu toko itu.

“Selamat datang.” Sapa seorang penjaga toko kepadaku. Aku sedikit menundukan tubuhku dan tersenyum ramah kepadanya. Aku menelusuri beberapa rak-rak yang tersusun rapi didalam toko tersebut.

“Minhwa..” Aku menyebut namanya perlahan. Aku menatap beberapa cat air dengan merk yang sangat kukenal. Merk yang sering digunakan Minhwa untuk melukis. Aku langsung keluar toko tanpa membeli apapun. Tentu saja, apabila aku membeli sesuatu, tidak akan ada yang menggunakan benda tersebut. Minhwa sudah pergi.

Aku kembali mengedarai mobilku dan kali ini aku benar-benar kembali kerumah.

08.00 Pagi…

Kring! Kring! Kring!

Ukh! Suara jam weaker yang berisik. Aku terbangun dari tidurku dan mematikan bunyi jam tersebut. Seperti pagi sebelumnya, aku menuju dapur untuk mengambil air mineral yang ada didalam kulkas. Aku meneguk air yang ada didalamnya sampai habis. Itu sangat menyegarkan tenggorokanku.

Ting Tong..

Aku menatap kearah pintu tepat di mana suara bel itu berbunyi.

“Siapa yang bertamu sepagi ini?”

Aku langsung berjalan menuju pintu dan mengambil sweaterku yang tergantung di dekat pintu tersebut. Perlahan aku membuka pintu rumahku dan melihat sosok gadis yang sangat aku kenal dengan menenteng tas yang berisi beberapa benda, kelihatan seperti dia habis berbelanja.

Aku langsung membatu saat melihat sosok itu. Gadis itu tersenyum manis kepadaku. Tapi aku tidak membalas senyumannya karena aku sangat kaget. Aku hanya menatap gadis itu tak percaya.

Apa ini mimipi? Minhwa? Apakah itu benar kau?

Perlahan Minhwa langsung mengerucutkan bibirnya cemberut karena melihat responku yang aneh.

“Huuh. Oppa, padahal tadi aku sudah tersenyum semanis mungkin kepada oppa. Tapi kenapa oppa malah melihatku dengan aneh? Menyebalkan.”

Dia langsung berjalan melaluiku yang masih mematung didepan pintu dengan langkah yang agak kesal. Aku masih benar-benar tak percaya dengan hal ini. Apa aku mimpi?

Aku melangkah secara perlahan menuju dapur. Kutatap dia yang mengenakan kemeja putih yang kelihatan agak kebesaran di tubuh kecilnya, dipadukan dengan legging hitam yang pas dikakinya. Aku masih menatapnya tak percaya. Dan Minhwa melirik kearahku.

“Ahh, oppa ada apa? Ada yang salah?” Tanyanya agak kesal sambil mengeluarkan sebotol minuman dari dalam tas belanjaannya.

Aku benar-benara tak percaya. Kini aku dapat melihatnya dan mendengar suaranya kembali. Kim Minhwa, dia benar-benar ada dihadapanku.

Perlahan aku melirik kearah pintu kulkas. Aku benar-beanr kaget saat melihat beberapa foto-fotoku bersama Minhwa yang menempel di permukaannya. Foto-foto ini seharusnya sudah tidak ada karena aku sudah menyimpannya. Dengan segera aku melihat kalender yang tertempel bersama foto-foto tersebut. Aku kaget saat melihatnya. Hari ini tanggal 8 Agustus 2008. Aku kembali saat dua tahun yang lalu. Disaat Minhwa masih ada di sisiku. Aku kembali menatap ke arah gadi itu yang sedang mengambil apel hijau dari dalam tasnya. Aku langsung berlari kearahnya dan memeluk pinggangnya erat.

“Minhwa….” Ucapku pelan dalam pelukanku. Aku benar-benar bahagia saat ini. Ini sebuah keajaiban bagiku.

“Minhwa. Aku mencintaimu” ucapku sambil tersenyum kepadanya.

“Haha.. Aku juga mencintaimu, oppa” Ucapnya sambil tertawa kecil.

-Kiseop Pov END-

Sudah beberapa hari sejak kembalinya Minhwa dihadapan Kiseop. Saat ini Kiseop sedang menulis beberapa kegiatan yang tidak sempat Kiseop lakukan wakt itu bersama Minhwa. Dan kali ini ia beranji tidak akan melewatinya untuk kedu kalinya. Terulas senyuman bahagia di wajahnya dan kini ia kembali melanjutkan susunan-susunan kegiatannya itu.

Suatu pagi, terlihat Minhwa sedang berdiri di depan pagar kayu dan memejamkan matanya untuk merasakan udara pagi yang menyejukan di pinggir salah satu sungai di Seoul. Terlihat senyuman diwajahnya.

“Aku benar-benar suka ini” Gumamnya sambil menghirup udara segar disekitarnya. Rimbunan rerumputan dihadapannya memberikan kesan tersendiri untuk gadis yang kini mengenakkan gaun casual berwarna putih dengan topi rajutan.

“Minhwa!!” Terdengar seorang pemuda memanggil namanya, Minhwa menoleh kebelakang dan saat itu dia tersenyum sangat bahagia karena Kiseop sekarang bersamanya.

“Kiseop oppa..” Dia tersenyum sambil menyebut nama Kiseop pelan. Kiseop berjalan menghampirinya. Sekilas Minhwa melihat style Kiseop dan kemudian membandingkannya dengan style-nya. Kiseop menggunakan atribut yang lengkap seperti orang yang benar-benar ingin mengikuti balap sepeda, sangat bertolak belakang dengan pakaian Minhwa. Itu membuat penampilan mereka terlihat sangat tidak cocok.

“Oppa. Kenapa berpakaian seperti itu?” Ujar Minhwa sambil menunjuk kearah Kiseop.

“Memangnya kenapa? Kita kan ingin bersepeda?” Tanyanya sambil terkekeh menunjukan sederetan giginya.

“Itu tidak cocok dengan gayaku sekarang” Rengek Minhwa “Huuaaa.. Kita sangat terlihat berbeda” Minhwa merengek semakin kencang sambil menekuk kedua lengannya untuk menutupi wajahnya.

“Sudahlah. Nanti orang salah paham denganku, Minhwa” Bujuk Kiseop agak panik. Kalau orang melihat, mereka akan berpikir macam-macam nantinya. “Sekarang kita bersepeda bersama, oke?”

“Baik, oppa” Sekejap Minhwa langsung tersenyum kembali.

Dan akhirnya mereka bersepeda bersama menelusuri jalan diantara padang rumput yang hijau dan indah.Tampak kebahagiaan diantara Minhwa dan Kiseop.

Mereka beristirahat di kursi kayu yang ada di jalan tersebut.

“Oppa, aku mencintaimu” mulai Minhwa sambil menatap lurus kearah langit yang terbentang luas dihadapan mereka.

“Aku juga mencintaimu” Saat itu Kiseop langsung merangkul pundak Minhwa. Dan mereka sama-sama menikmati kesejukan udara di pagi hari. Sesaat keheningan menyelimuti mereka sampai Kiseop membuka pembicaraan.

“Nanti malam kita makan diluar, mau?” Tanyanya sambil mengusap kepala Minhwa lembut.

“Makan diluar? Bukankah nanti malam oppa ada rapat?”

“Itu bisa diatur” Kiseop tersenyum sambil menatap Minhwa.

“Baiklah, oppa” Jawab Minhwa sambil menunduk malu dan juga perasaannya sangat bahagia.

Sesuai janji Kiseop tadi pagi, malam ini Minhwa terlihat sedang duduk seorang diri disalah satu meja di retoran. Ditemani bersama beberapa piring kosong dan gelas yang berisikan anggur putih. Terlihat seorang pelayan menghampirinya.

“Ada yang ingin anda pesan, Nona?” Tanya pelayan itu sangat ramah sambil tersenyum kearah Minhwa.

“Tidak. Aku sedang menunggu orang” Jawab Minhwa sambil membalas senyuman pelayan tersebut.

“Baiklah” Pelayan itu langsung berjalan meninggalkan Minhwa yang kini duduk sendirian.

Minhwa terlihat sudah mulai bosan menunggu Kiseop. Kiseop sudah telat sekitar 20 menit. Itu sangat membuat Minhwa bosan dan kesal. Sesekali ia menoleh kebelakang, kearah pintu masuk restoran tersebut. Tetapi ia tidak juga melihat tanda-tanda kedatangan Kiseop.

Dia melirik jam tangan dilengannya. Kali ini dia sudah benar-benar kecewa. Apakah Kiseop tidak akan datang? Dia sangat takut kalau tiba-tiba Kiseop meneleponya dan mengatakan bahwa dia pulang sangat telat. Terlihat jelas raut wajah yang sangat kesal.

“Kiseop oppa apa tidak datang?” Gumamnya dengan nada yang agak bergetar seperti ingin menangis.

Beberapa waktu kemudian, terlihat seorang pemuda lengkap dengan stelan jas hitamnya. Itu Kiseop. Saat masuk kedalam restoran, ia melihat sosok Minhwa dari belakang. Dan kemudian tersenyum. Kiseop berjalan menghampiri meja tempat Minhwa.

Kiseop langsung mengambil tempat tepat dihadapan Minhwa sambil tersenyum. Kedatangannya tidak disambut dengan kata-kata oleh Minhwa. MInhwa hanya menatap Kiseop dengan wajah yang kesal. Tetapi Kiseop justru tersenyum seolah-olah dia tidak melakukan kesalahan sama sekali.

Minhwa tetap tak berbicara apapun. Kiseop sudah membuatnya kesal. Perlahan Kiseop memejamkan matanya dan mengayun-ayunkan kedua tangannya sambil tersenyum. Dan saat itu juga terdengar alunan gitar dan saxophone yang membuat Minhwa terkejut dan menoleh kearah suara tersebut.

Minhwa melihat tiga orang pria yang cukup tua dengan kumis diwajah mereka sedang asik memainkan alunan nada-nada yang indah. Itu membuat Minhwa tertawa bahagia itu suatu kejutan yang tak terbayangkan oleh Minhwa. Saat dia menoleh ke Kiseop, ia melihat Kiseop masih mengayun-ayunkan tangannya semakin tinggi.

“Oppa, apa kau sengaja mempersiapkan ini?” Tanya Minhwa sambil tersenyum bahagia. Karena hal ini, Minhwa sampai lupa atas kemarahan kepada Kiseop yang datang terlambat.

“Ya, tentu saja, Minhwa. Ini spesial untukmu yang sudah menungguku cukup lama” Jawab Kiseop tenang sambil menumpukkan kedua tangannya di atas meja yang ada dihadapan mereka dan tersenyum.

“Oppa sengaja membuatku menunggu, eh?” Tanya Minhwa sambil mengerutkan keningnya.

“Hahaha.. Tidak, lah. Setega itukah aku membiarkan wanita yang sangat aku cintai menungguku sangat lama? Kau sudah tahu kan aku ada rapat malam ini. Aku tahu kalau aku sangat telat dan kau akan marah kepadaku oleh karena itu aku memanggil beberapa pemain musik tersebut untuk menghiburmu. Dan aku pun berhasil” Jelas Kiseop.

Minhwa tidak menjawab apa-apa. Dia hanya tersenyum sambil menatap wajah Kiseop dalam-dalam. Saat ini dia benar-benar bahagia karena Tuhan telah mengirimkan Kiseop untuk menjadi miliknya.

“Aku mencintaimu, oppa.” Ucap Minhwa sambil tersenyum.

Saat itu, Minhwa sedang duduk dikursi tepat didepan lukisan yang menggambarkan sosok Kiseop yang baru saja selesai ia buat sambil mendengar musik.

Entah apa yang membuatnya seperti itu, ia tampak sangat bahagia sambil tersenyum-senyum sendiri.

“Kiseop oppa, aku bahagia sekarang. Seandainya aku akan mati, aku pasti mati dalam keadaan sangat bahagia” Ucapnya ngawur. Tapi yang sangat jelas saat ini adalah kebahagian yang ia rasakan belakangan hari ini bersama Kiseop. Walaupun sibuk dengan pekerjaannya tapi Kiseop dapat selalu berada disisinya.

“Aku akan beli perlengkapan lukis” Gumamnya sambil bangkit dari tempat duduknya.

Ia membereskan bajunya dan bersiap-siap untuk membeli beberapa cat air yang telah habis dan juga kain kanvas. Dia berjalan menuju toko buku langganannya itu. Dia langsung mengambil beberapa benda yang ia perlukan dan langsung berjalan kekasir untuk membayarnya.

Minhwa berjalan keluar toko buku tersebut dan berjalan menuju rumah. Sesampainya dirumah, ia meletakkan benda-benda tersebut di ruangannya dan berjalan ke dapur untuk mengambil jus buah. Saat itu ia langsung melihat bunga-bunga yang sudah layu yang ada di atas meja dapur.

“Haa.. Kenapa aku bisa tidak tahu kalau bunganya layu? Baiklah aku akan mengganti dengan yang baru” Minhwa langsung mengambil tasnya di atas meja tersebut dan langsung berjalan keluar rumah dan kini ia akan menuju toko bunga. Tapi, Minhwa lupa untuk membawa ponselnya.

-Kiseop Pov-

Hari ini. Tanggal 21 Agustus 2008, tepat saat kejadian itu terjadi. Karena waktu telah terulang, itu berarti kejadian waktu itu akan terulang kembali. Kejadian yang bersamaan saat aku mengadakan presentasi ini.

“Aku harus menelepon Minhwa untuk memastikan keadaannya”

Aku langsung bergerak cepat dan mengambil ponselku. Aku terus-menerus meneleponnya tetapi tidak ada jawaban sama sekali.

Apa dia baik-baik saja? Ada apa dengannya?

Perasaanku mulai merasa tidak enak. Minhwa sama sekali tidak menjawab teleponnya. Aku tidak ingin kehilangannya untuk kedua kalinya.

“Kiseop-ssi, apa kau sudah siap?” Tanya seorang pemuda yang terlihat lebih tua dariku. Ini benar-benar seperti hari itu. “Ya” Jawabku. Tapi aku tidak yakin apa aku benar-benar siap dengan presentasi ini.

Saat ini aku sedang berdiri didepan ruang rapat untuk membuka presentasiku didepan banyak orang, aku benar-benar tegang. Bukan tegang karena presentasi ini, melainkan Minhwa. Wajahnya yang frustasi, sedih, hancur serta air matanya yang mengalir terus terbayang dikepalaku. Wajah yang aku lihat dengan jelas dalam mimpiku. Aku benar-benar bimbang.

Sampai saat ini aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku hanya diam sambil memikirkan keadaan Minhwa. Itu membuat presentasiku terhenti. Orang-orang tampak kebingungan melihatku yang tidak kunjung membuka presentasiku ini.

“Apa yang kau lakukan Kiseop-ssi?” Bisik seseorang dengan nada yang sangat kesal. Aku tidak menghiraukannya. “Kiseop-ssi?”

Dan saat itu juga aku tidak ingin berlama-lama berpikir. Aku tidak ingin melakukan kesalahan untuk kedua kalinya. Tuhan telah menguang waktu ini untukku, untuk aku memperbaikinya jadi aku tidak boleh menyia-nyiakannya.

Dengan segera aku berlari keluar ruang rapat. Dan orang-orang yang ada didalam ruang rapat tersebut tampak sangat kecewa. Aku tidak perduli dengan pekerjaan ini, aku harus menyelamatkan Minhwa. Aku berlari secepat mungkin untuk menuju lokasi kejadian dimana tempat Minhwa tertabrak. Aku terus berlari dengan cepat.

Saat aku sudah dekat dengak lokasi tersebut. Aku sedikit agak lega karena aku melihat Minhwa masih berdiri disana sambil membawa bunga didalam pot kecil dan tersenyum. Aku melihat dia sedang mendengar musik menggunakan Headset kuningnya itu.

-Kiseop Pov END-

Saat Minhwa sedang memandangi bunga matahari yang ia beli barusan. Ia masih mendengar musik. Minhwa terkejut saat melihat pemuda di sampingnya berlari untuk menyebrang jalan. Ia pikir ini sudah saatnya bagi penyebrang jalan di perbolehkan menyebrang. Tapi sebenarnya lampu lalu lintas belum bertanda seperti itu. Karena Minhwa sedang mendengarkan musik, ia tidak sadar dengan bunyi klakson mobil.

Kiseop sangat kaget melihat Minhwa yang menyeberang jalan dengan begitu tiba-tiba. Padahal saat ini mobil masih melaju dengan cepat. Dengan cepat Kiseop langsung mengambil langkah dan berlari menuju Minhwa untuk menyelamatkannya.

“Minhwa!!!” Teriak Kiseop sambil berlari kearah Minhwa. Tapi Minhwa tidak mendengarnya.

Saat Minhwa sudah sampai hampir ke tengah jalan. Dia sangat kaget karena melihat mobil yang melaju dengan cepat di hadapannya. Karena shock, kedua kakinya tidak dapat bergerak untuk menjauh dari jalan. Saat mobil sudah akan menabraknya, dia merasakan seorang pria memeluknya.

“Oppa?” Minhwa sangat kaget karena kehadiran Kiseop.

“Kita aka selalu bersama”

BRAK!!

Terima kasih Tuhan

Engakau telah memberikan kesempatan kedua untukku agar selalu bersama dengan orang yang kucintai

Sesuai janjiku, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.

Terima kasih karena sampai akhirnya kami terus bersama-sama sampai akhir hidup kami

4 thoughts on “In Heaven (Straight FF Lee Kiseop with OC)

  1. oen yang pertama nie keknya,,,
    Ahahai,,,
    Akhirnya oen bsa bca jga kryamu,,,,,

    Sblumnya oen mnta mf kalo ntar komen oen gak mengenakkan,ne,,,???
    Mnrt oen,Ceritanya menarik,
    Tapi penyusunan kalimatnya,msih krg menarik kalo mnrt oen,
    Jadi saat oen baca rasanya ada yang kurang gitu,,,
    Truslah berlatih,oen yakin ke depannya kamu pasti bisa bkin ff lebih menarik dari ini,
    Tetap Semangat,,,^_^
    Oen tunggu karya2mu slnjutnya,,,,

  2. yaoloh. . . Bca ff ini yang terlintas knpa wajah junsu. . . #otak saya sedang agak error.
    Ceritany bgus kok. . Keep writing ne. .
    Oh iya salam kenal ya . . .!!

  3. Waktu baca. Kring kring kring.
    Aq kira suara sepseda. #Gampar.

    Ah, author maunya meninggal bersama kiseop. Padahal dah meninggal sendiri, malah bawa2 orng tuk d tmani. ^^v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s