Cry Out With My Heart

“Dia…” Seorang namja tinggi dengan tatapan mata yang sangat tajam menatap foto seseorang di layar ipad-nya.

Orang itu adalah.. TARGETNYA.

Perlahan dia mengarahkan senapan laras panjangnya ke bawah dari sebuah gedung bertingkat. Dari kacamata pembidiknya, dia bisa melihat jelas namja yang menjadi targetnya itu kini berjalan keluar dari sebuah gedung perusahaan ternama.

Tanpa ragu, ditariknya pelatuk itu. Dan…

DOR!!

Senyum manis terulas di wajah namja tampan itu. “Mission complete.”

.

Cry Out With My Heart

song by CS.Number

MV-fanfiction by Thena a.k.a. Kim Taena

pairing is ZhouRy

genre is Hurt Brothership –NOT YAOI

rated for all

notes :: Ada yang tahu MV CS. Number yang berjudul Cry Out With My Heart? Ff ini mengikuti alur mv itu.. Jadi kalo ada yg udah pernah nonton MV’a, pasti tau jalan ceritanya.^^

lagunya nyentuh banget.. tiap nnton MV’a aku pasti merinding.. #curcol

.

Okay~ Ready for read?! STARRRRT!

.

~Henry pov~

Ukh! Aku lelah! Lelah! Lelaaaaaahhh~

Seseorang tolong aku.

Cih, tapi sekencang apapun aku menjerit pasti tak akan ada yang dengar. Jangankan mendengar, yang lewat juga dari tadi itu tidak ada. Kenapa sih rumahku harus berada di tempat yang sulit kendaraan begini? Aku kan jadi susah minta pertolongan. Sudah hampir berjam-jam aku berdiri dan aku sangat lelah!!!

Aku harus sampai ke Seoul!

Dari ujung jalan, kulihat sebuah mobil melintas. Tanpa ragu aku melambaikan tanganku tapi…

NGIIING~ Mobil itu melaju cepat mengabaikanku.

Oke, si pengemudi tak berperasaan. Aku harap kau kehabisan bensin di tengah jalan karena mengabaikan bocah semanis aku.

Sekali lagi, sebuah mobil tampak. Dan sama seperti tadi, aku langsung melambaikan tanganku, kali ini dengan gaya yang sedikit heboh agar menarik perhatian. Tapi… Sama! Dia juga mengabaikanku!

Yak! Tidak adakah orang baik di dunia ini?!!

Untuk kesekian kalinya, kulihat sebuah mobil melintas. Kali ini mobil yang cukup keren dengan bagian kap mobil yang terbuka. Ish.. Mau tidak mau aku akan berbuat nekat. Ini demi kebaikanku. Oke, Henry Lau~

SEKARANG!

Aku langsung berlari ke tengah jalan dan mobil itu langsung mengerem mendadak tepat dihadapanku.

“Yak! Apa yang kau lakukan, bocah?!”

“Tunggu!” Seruku cepat sambil berlari mengambil koperku yang tergeletak di pinggir jalan. Tanpa banyak bicara aku berlari mendekati mobil itu dan melempar koperku ke bagian kursi belakang mobil dan meloncat masuk ke samping si pengemudi itu.

“Heya, apa-apaan, sih?”

“Aku menumpang, oke! Tolong bawa aku ke Seoul.” seruku tanpa persetujuan darinya. Hmm.. Pengemudi itu kelihatannya tak terlalu tua. Dia sangat tampan denga postur tubuh yang tegap dan kurasa sangat tinggi. Dia mengenakan celana jeans panjang dan kemeja kotak-kotak yang terbuka begitu saja kancing atasnya, membuat setengah bagian dadanya terlihat. Matanya ditutupi kacamata hitam dan beberapa piercing terlihat di bagian telinganya.

Wow… Bad boy?

Dia hanya geleng-geleng dan langsung menjalankan mobilnya. Yep, misi pertama aku sukses. Aku akan mendapat tumpangan sampai tiba di Seoul nanti.

Dan… Aku rasa mencoba menjadi teman si pengemudi ini bukan hal yang buruk.

“Ah, Tuan… Perkenalkan, Henry Lau imnida. Tahun ini aku baru lima belas tahun.” sapaku formal. Tapi dia sama sekali tidak membalas sapaanku dan hanya diam menatap jalan.

Anak pendiam.

0o0o0o0o0o0o0

Entah sudah berapa jam kami hanya duduk diam. Sesekali aku hanya bisa bersenandung kecil sambil melirik orang yang sama sekali tak berminat padaku itu. Mungkin dia kesal karena ada orang tak dikenal langsung menumpang begitu saja dengan cara paksa. Tapi jangan salahkan aku, dong. Salahkan dia yang lewat di jalan tadi. Haha…

Tatapan mataku tertuju pada sebuah boneka yang tergantung di kaca spion depan mobil itu. Sebuah boneka berbentuk kue mochi bulat yang ada mata dan senyum manis di wajahnya.

“Ini boneka milikmu, hyung?” Padahal aku tak tahu namanya. Tapi aku sesukanya memanggil dia hyung. Masa bodoh.

Aku memegangi boneka itu. “Wow, aegyeo. Ternyata hyung yang berwajah seram suka benda-benda lucu, yah? Ini boleh untukku?” lanjutku lagi meski aku tahu dia tak akan menanggapi.

Tapi salah, dengan cepat dia menarik tanganku agar tidak memegangi boneka itu. “Jangan sentuh-sentuh sembarangan, dong.”

Ah, aku mulai dapat respon.

“Eh, tapi tidak cocok sama mobilnya. Hyung juga tidak cocok memasang boneka semanis itu. Kan lebih berguna kalau diberikan kepadaku.” godaku lagi sambil meliriknya dan mencoba menatap wajahnya.

Dia hanya menyunggingkan senyuman sinis.

“Uhh, kalau hyung diam saja lebih baik benar buatku, ya.” Aku hendak menarik boneka itu lagi, tapi dengan cepat kakak itu menarik tanganku.

“Jangan. Kau ini kenapa, sih?”

“Makanya jangan diam saja. Setidaknya aku mau tahu namamu.”

Dia melirikku dengan kesal dan kembali fokus ke jalan sambil membuka kacamatanya. “Zhoumi. Kau itu bocah yang sangat keras kepala, ya?”

Zhoumi…

“Ah, hyung orang Cina, ya?” tawaku langsung pecah. “Tapi bahasa Korea hyung bagus sekali. Salut, deh!”

“Jangan berisik. Aku tidak suka.” Dia kembali bicara dengan sangat sinis padaku. Namun seperti sebelumnya, aku tak terlalu perduli dan hanya menertawainya yang kelihatan semakin gusar. Meski pertama bertemu, aku tahu dia tak akan menurunkanku di pinggir jalan. Dia kelihatan baik.

CKIIT! Tiba-tiba mobil yang dia kendarai berhenti begitu saja.

“Omo? Kenapa, nih?”

Tanpa menjawabku, Zhoumi hyung langsung turun dan berjalan ke bagian depan mobilnya lalu dibuka. Asap hitam agak samar mengepul dari dalam mesin mobilnya. Dan aku bisa tahu arti asap itu.

Mogok.

“Hyung, mobilnya keren tapi kok mogok?” ujarku sambil berjalan keluar dari mobil dan memperhatikan sekelilingku. “Ah, kita berhenti di tepi pantai?!” Tanpa memperdulikan Zhoumi hyung yang mulai sibuk dengan mesin mobilnya, aku langsung berlari ke arah pantai.

Ini indah sekali.

~Henry pov end~

.

~Zhoumi pov~

Ah, kenapa mogok disaat begini, sih? Aku harus segera sampai di Seoul agar misiku selesai. Tapi ternyata mobilku tidak sependapat. Cih…

Ahh.. Tapi kalau mogok itu artinya aku bisa sedikit telat menyelesaikan tugasku, kan? Entah sejak kapan tapi aku benar-benar butuh waktu untuk istirahat dan merasakan ketenangan. Menjadi seorang pembunuh bayaran itu pekerjaan yang sangat sulit.

Pembunuh bayaran? Yeah.. Itu aku.

Aku melirik bocah yang baru beberapa jam aku kenal itu. Kalau tidak salah ingat, namanya itu Henry dan dia kini tengah berlarian aneh di pantai sambil memunguti sesuatu dari pasir. Usianya baru lima belas tahun, kan? Pantas saja kelakuannya kekanakkan begini. Sedangkan tahun ini aku baru dua puluh tahun, dan harus melakukan pekerjaan kotor.

Jadi agak iri dengan dia… Sedikit juga, aku ingin merasa tenang.

“Hyung!”

DEGH! Aku tersentak saat namja itu sudah berdiri disampingku dan tersenyum polos.

“Ngh?”

“Mobilnya bagaimana?”

“Tidak terlalu buruk. Ini mobil lama, jadi gampang mogok. Di dorong sedikit juga akan jalan.” jawabku sekenanya. Tapi tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang dingin dan keras menempel ditelingaku. Sebelum aku menghindar, Henry sudah tersenyum.

“Dengar, deh. Suara laut. Itu untuk hyung.” ujarnya polos.

Kuambil alih sebuah kerang yang ternyata ditempelkan Henry di telingaku. Samar, aku bisa mendengar suara deburan ombak dari dalamnya. Sebenarnya itu bukan suara deburan ombak, tapi itu suara udara yang menyatu di dalam ruang kosong. Tapi sebagian orang berpikir itu adalah suara ombak di laut.

“Jadi tenang, kan?” tanyanya lagi.

Kulirik dia yang tetap memasang senyum polosnya. Entah kenapa perasaan lega perlahan menyelimutiku. Aku tak tahu kenapa hatiku merasa lega begini? Tapi aku merasa tenang.

Perlahan aku tersenyum kecil kearahnya. “Nae, sedikit menenangkan.”

0o0o0o0o0o0o0

Sore hari, mobilku kembali bisa berjalan dengan normal. Tapi aku sudah lelah menyetir semalam penuh dan aku butuh istirahat. Di dekat sebuah mercusuar, akhirnya kuputuskan untuk istirahat sejenak.

“Hyung, ayo lihat ke mercusuar itu. Ramai sekali disana, seperti ada perayaan.”

“Tidak mau. Kau saja sana…”

“Aigoo~ Aku tak mau hyung sendirian disini.” Kini Henry sudah menarik-narik tanganku dan memaksaku mengikuti langkahnya.

Anak ini sangat keras kepala. “Hanya sebentar, oke?”

“Siiip!” Henry menarik lenganku dan berlari duluan. Karena tubuhnya jauh lebih kecil dariku. Aku tak perlu susah-susah berlari untuk menyamai langkahnya yang tidak terlalu panjang.

Kami sampai di dalam mercusuar.

“Neomu arumdaunwo!” seru Henry senang sambil melepas lenganku dan berlari ke segala arah. Dia berdiri di samping jendela dari dalam mercusuar itu. “Hyung, kajja! Dari sini pemandangannya sangat indah. Lautnya jelas sekali.” serunya dengan semangat.

Dengan langkah malas aku berjalan kearahnya dan ikut melihat dari balik jendela. Dia benar, pemandangan dari sini sangat indah. Selain kematian orang lain, aku jarang sekali melihat keindahan seperti ini.

Dosaku sudah terlalu banyak… Tapi Tuhan masih mengizinkanku melihat pemandangan ini. Sungguh menyedihkannya diriku…

Pembunuh bayaran yang takluk pada keindahan alam.

NYUUT! Tiba-tiba sebuah lollipop sudah menempel di bibirku.

“Nih. Aku tidak punya banyak uang karena aku harus berhemat sampai aku tiba di Seoul. Tapi aku bisa mentraktir hyung lollipop. Hyung kelihatan kurang ceria. Kata haelmoni, kalau sedang sedih kita bisa memakan permen dan itu akan membuat perasaan lebih baik.”

“Tidak mau.”

“Ayolah,” Henry memaksa lollipop itu masuk ke dalam mulutku. “Hitung-hitung ini ongkos yang aku bayar selama menumpang padamu.”

Dasar keras kepala.

“Mau, kan?” Dia kembali menatapku dengan tatapan mata polosnya. Dan sialnya, entah sejak kapan aku jadi tidak tahan ditatap begitu oleh bocah kecil ini. “Ayo dimakan, hyung.” pintanya masih berlanjut.

Dengan malas kuambil lollipop itu dan mengulumnya. “Begini sudah puas, kan?” tanyaku sebal.

“Nae!” tawanya pelan sambil bersandar disisiku dan memandangi laut.

Perlahan aku tersenyum kecil disisinya. Kenapa Tuhan mempertemukanku dengannya? Apa Tuhan ingin aku mempercayai orang lain selain diriku sendiri?

~Zhoumi pov end~

Zhoumi dan Henry menghabiskan waktu mereka di tempat itu. Ada sebuah pasar hiburan disana dan mereka memutuskan untuk bermain sebentar. Saat itulah, entah kenapa muncul seberkas perasaan sayang di hati Zhoumi terhadap Henry.

Rasa sayang seorang kakak.

0o0o0o0o0o0o0o0

Zhoumi melirik ke belakang dari bagian depan mobilnya. Untuk kedua kalinya mobil itu mogok begitu saja. Tapi kali ini Zhoumi menolak untuk memperbaikinya. Menurut peta yang ada di ipad-nya, tak jauh dari tempatnya ada bengkel dan dia akan membawanya ke bengkel itu.

Senyum terulas di wajah Zhoumi ketika dilihatnya Henry dengan sekuat tenaga mendorong kobilnya di belakang. “Ayo, jangan lemah. Kau kan namja.”

“Arraseeeoo~” ujar Henry sambil mendorong mobil itu dengan susah payah. “A-aku mencoba mendorong sekuat tenaga, niiih~”

Otomatis Zhoumi tetawa mendengar rintihan Henry disetiap kalimatnya. Anak yang keras kepala dan kelewat semangat itu kini kesusahan dibelakang sendirian.

“Kalau nanti mobilku sudah diperbaiki, aku janji akan mengajarimu cara menyetir.”

“Mwoya? Tapi aku masih di bawah umur!”

“Kan kita hanya belajar, pabbo. Lagipula di jalan setapak yang sepi begini, tak mungkin ada masalah.”

Henry menyunggingkan senyum cerianya sambil menepuk tangan senang. “Oke! Hyung sudah janji, ya!”

“Jangan lepaskan tangamu! Bantu aku dorong!”

“Oke!”

Zhoumi kembali tertawa santai sambil menatap ke depan. Sebuah bengkel mulai tampak di depan mata mereka. Dan senyum namja itu semakin terkembang saat melihat pantai di dekat bengkel itu.”

“Istirahat disana, bukan hal yang buruk.” gumamnya sendirian.

.

.

“Kau paham, kan? Perlahan saja dijalankan?” Zhoumi memberikan pengarahan singkat pada Henry yang sudah terkekeh sendirian sambil menatap berbagai mesin dihadapannya. Zhoumi masih memegangi stir mobilnya agar Henry tidak kelepasan. “Injak perlahan.” ulangnya.

“Seperti ini?” Dengan hati-hati Henry menginjak gas mobil itu hati-hati dan dengan pelan juga mobil itu bergerak. “Jalan! Wow! Mobilnya jalan, hyung!”

“Tentu saja, kau kan menginjak pedalnya.” tawa Zhoumi sambil mengusap kepala Henry penuh sayang.

“Ah, hyung naik saja. Biar aku yang menyetir.”

“Jangan konyol!” Kali ini Zhoumi sudah menggetok kepala Henry dengan tangannya sendiri dan menarik kunci mobilnya agar Henry tak bisa menjalankan mobilnya. Tentu saja namja manis itu langsung cemberut menatap Zhoumi. “Ayo keluar, biar aku yang menyetir. Kau bilang mau tiba di Seoul dengan cepat, kan?”

“Setengah perjalanan aku, deh…”

“Tidak bisa.”

Dengan cemberut, Henry bergulir ke kursi disampingnya dan membiarkan Zhoumi duduk di belakang kemudi dan mulai menjalankan mobilnya. Angin mulai berhembus menerpa tubuh kedua namja yang hanya berceloteh kecil itu.

Perlahan Henry mengangkat satu tangannya. “Bebas!”

Tentu saja kelakukannya membuat Zhoumi memperhatikannya. “Bebas?”

“Nae, rasanya sangat bebas. Rasanya seperti semua bebanku terhempas terbawa angin dan pergi menjauh!” Henry kembali berseru. “Hyung coba saja.”

Awalnya, Zhoumi enggan melakukannya. Tapi wajah polos Henry kembali menghipnotisnya untuk melakukan apa yang dilakukan bocah itu. Perlahan diangkat satu tangannya dan mulai merasakan terpaan angin itu ditubuhnya.

Benar… Zhoumi merasa bebas. Semua beban yang ditanggungnya perlahan pergi terbawa angin.

“Bagaimana, hyung?”

Zhoumi tertawa kecil sambil melirik Henry yang sudah mengangkat kedua tangannya dengan semangat. “Kau benar. Aku merasa bebas sekali.”

0o0o0o0o0o0o0

“Ayo kesini. Kita istirahat sebentar di bawah alang-alang. Aku sudah membeli banyak makanan untuk kita.” Zhoumi menatap Henry yang sudah membawa sebuah kantung berukuran sedang dan berjalan menyusulnya.

Zhoumi duduk di sebuah batu besar dan menengadah menatap langit sore. “Indah, kan?”

“Aku sudah sering sekali melihat langit begini.” balas Henry sambil mengambil botol air dan menenggaknya dengan cepat. Karena terlalu ceroboh, tiba-tiba Henry tersedak dan membuat air itu menyembur dari mulutnya.

Zhoumi tertawa. “Yak! Hati-hati, Henry!” ucapnya sambil menepuk punggung Henry yang kini terbatuk-batuk. “Kau itu terlalu semangat, tenanglah sedikit.”

“Ak-akhu kan –uhuk- hanya anakh muda –uhuk-.” jawab Henry sambil terbatuk dan kembali meminum air dengan hati-hati. “Ah, tapi tak masalah kalau tersedak. Habisnya hyung tertawa melihatku tersedak.”

“Eh?”

Henry tersenyum manis menatap Zhoumi. “Waktu pertama melihat hyung, aku kira hyung sangat dingin dan menakutkan. Hyung tidak pernah tersenyum tulus. Makanya aku senang melihatmu tertawa bahagia begitu.”

Perlahan Zhoumi tersenyum sambil mengusap rambut Henry penuh sayang. “Gomawo.”

Henry hanya mengangguk sambil menatap langit. “Hyung, kau ada urusan apa ke Seoul?”

Kali ini Zhoumi agak tersentak karena mendengar pertanyaan Henry. Tidak mungkin dia menceritakan tentang misinya sebagai pembunuh bayaran. Sudah pasti Henry akan sangat membencinya kalau tahu hal itu. Zhoumi memilih diam saja.

“Aku ingin bertemu appa.” ujar Henry kemudian. “Ummaku meninggal saat aku dilahirkan. Satu-satunya keluargaku itu appaku yang mengurus sebuah perusahaan di Seoul. Sebelumnya aku tinggal bersama haelmoni di rumah sederhana di tepi pantai. Tapi karena haelmoni-ku meninggal, jadi aku akan ke Seoul dan tinggal dengan appa.”

“Kenapa kau tidak tinggal dengan appa-mu sejak awal?”

Henry menghela nafas dan tetap memasang senyum manis. Hanya saja terlihat kesedihan dibalik matanya. “Tidak bisa, hyung. Appa seorang pengusaha yang pasti punya banyak saingan. Appa takut kalau aku tinggal dengannya, aku akan terlibat masalah.”

Zhoumi hanya mengangguk paham.

“Tapi aku senang. Justru karena aku tak tinggal dengan appa dan ingin menemuinya sekarang, aku bisa bertemu dengan hyung. Kalau aku sudah di Seoul, aku pasti tak akan bertemu dengan hyung.” Henry lagi-lagi tersenyum polos. “Aku sayang hyung. Hyung benar-benar baik.”

Zhoumi tersenyum lembut kearah Henry dan mengusap kepala anak itu lagi dengan penuh kasih sayang. “Nado.”

Karena tak ada yang ingin dibicarakan lagi, Henry meloncat turun dari batu dan berjalan kearah rumput ilalang yang tinggi itu sambil mencabuti satu persatu dan mulai asyik sendirian.

Zhoumi tadinya hanya memperhatikan kegiatan Henry, namun matanya tertuju pada tas yang selalu dibawa Henry. Entah karena apa, dia membuka tas itu dan menemukan sebuah ipad di tasnya.

“Ini milikmu?” tanya Zhoumi.

Henry menoleh sekilas untuk melihat apa yang dipegang Zhoumi dan mengangguk. “Nae! Itu diberikan appa sebagai hadiah ulang tahunku yang kelima belas, hyung!”

Zhoumi terkekeh. “Dia itu manja sekali pasti kalau bersama appa-nya.” Perlahan dibukanya ipad itu dan Zhoumi langsung membatu. Membatu shock ketika melihat wallpaper di bagian depan ipad putih itu.

Jantungnya berdegup cepat saat melihat foto Henry dengan seorang namja paruh baya. Ingatannya berputar kembali ke kejadian dua minggu yang lalu saat dia berada di Seoul untuk menjalankan misinya.

Namja paruh baya yang bersama dengan Henry di foto itu… Adalah namja yang telah dihabisi olehnya dua minggu lalu.

0o0o0o0o0o0o0

~Zhoumi pov~

Kukemudikan mobilku dengan kecepatan penuh. Aku menyuruh Henry menunggu dan membuat api unggun di tempat kami beristirahat tadi. Dan aku bilang padanya akan mencari toko makanan untuk membelikannya kembang api.

Aku shock…

Foto itu.. Orang itu.. Aarrgh!!

CKIIT! Kuhentikan mendadak mobilku di pingir jalan dan memukul stir mobilku dengan sangat kencang.

Kenapa?

Kenapa Tuhan mempertemukanku dengannya?

Apa ini cara-Nya agar aku bisa tersadar dan menghentikan pekerjaan kotorku itu. Tapi kenapa harus dengan Henry? Kenapa harus dengan orang yang perlahan telah kuanggap sebagai adikku sendiri?

Tuhan memiliki cara unik untuk membuka mata hamba-Nya.’ kata-kata itu kembali kuingat dalam benakku. Entah sudah berapa lama aku tak pernah mendengar kalimat itu lagi. Dan barulah kusadari kalau kalimat itu benar.

Apakah ini cara untuk menyadarkanku?

TES~ Air mataku menetes.

“Sial! Sial! Sial!”

Aku tak bisa menahan emosiku. Aku hancur sekarang. Dia sama sekali tak tahu kalau orang yang dicarinya di Seoul sudah tidak ada. Dan dia tak tahu kalau aku adalah penjahat yang sudah membuatnya sebatang kara. Aku harus bagaimana? Haruskah aku mengakui semuanya?

Dia pasti akan membenciku!

Tapi aku juga tak mungkin meninggalkannya di tempat ini… Hanya aku satu-satunya harapannya agar bisa sampai ke Seoul.

.

Aku kembali ketempat dimana Henry menungguku. Beberapa kayu sudah selesai ditumpuknya, dan kini namja itu berbaring santai di atas batu. Saat kudekati dia, dia ternayat tertidur dengan sangat damai.

Kuusap pipinya perlahan dan air mataku nyaris tumpah lagi. “Mianhae.” bisikku pilu.

Mianhae…

0o0o0o0o0o0o0

Malam menjelang dan udara semakin dingin. Aku sudah menyalakan api unggun untuk menghangatkanku dan Henry. Namja itu kini bersendandung sambil mengobrak-abrik isi kopernya. Tiap melihat wajahnya, hatiku benar-benar sangat sakit.

“Ah, ini dia!” Henry mengeluarkan sebuah kotak berbentuk biola.

“ Biola?”

Dia mengangguk sambil membukanya dan mengeluarkan sebuah biola putih yang sangat bersih. “Aku lupa cerita pada hyung kalau aku ini sangat jago bermain biola. Malam ini akan kupersembahkan sebuah alunan melodi khusus untuk hyung.” ujarnya sambil berdiri dihadapanku dan memposisikan biola dibahunya.

Aku tersenyum kecil. “Baik, aku akan mendengarnya.”

Dengan hati-hati namun pasti, Henry menggesek dawai biola itu dan menciptakan sebuah alunan nada yang sangat merdu. Alunan biola itu mengisi kekosongan kami dan entah kenapa membuat hatiku semakin tersayat.

TES~ Perlahan air mataku kembali menetes.

“Aiish~” Kau tidak boleh menangis Zhoumi.

“Loh, hyung kenapa menangis?” Tiba-tiba Henry sudah merunduk tepat dihadapanku dan memandangiku cemas. “Apa ada yang merisaukanmu?”

Kucoba untuk tersenyum dan menariknya agar duduk disampingku. “Gwaenchana. Ada yang mau kuberikan padamu.” ujarku cepat sambil mengambil sesuatu di saku kemejaku. Sesuatu yang langsung menarik perhatian Henry ketika kami pertama bertemu.

“Boneka mochi?”

Aku mengangguk sambil meletakkan boneka kecil itu ditangannya. “Kau mirip sekali dengan kue mochi. Mulai sekarang boneka ini milikmu.”

“Ehh? Tapi bukannya hyung sangat menyukainya? Waktu kusentuh dulu saja hyung langsung kesal?”

“Suka? Aku mana mungkin menganggap istimewa benda seperti ini.” godaku sambil mengusap kepalanya dan dia tertawa. “Kau suka?”

“Nae. Akan kujaga.”

Aku kembali mengusap rambut kecoklatannya dan mengangguk. “Sekarang ambil kembang api yang tadi aku beli. Ayo kita nyalakan sekarang.” perintahku dan Henry langsung menurutinya.

Di dekat api unggun yang kubuat, kuletakkan beberapa kembang api disana dan menyalakannya. Henry juga sudah memegang beberapa kembang api di tangannya dan hendak dinyalakannya. Tak perlu menunggu lama, percikan api itu mulai keluar dan membuat suasana malam kami semakin meriah.

Kuperhatikan Henry yang kembali sibuk dengan kembang api itu sendirian dan tampak mengabaikanku. Hanya saja sesekali dia menoleh kebelakang dan tertawa riang. Aku hanya membalasnya dengan sebuah senyuman kecil.

TES~ Lagi, air mataku menetes.

Tuhan… Ini adalah hukuman yang paling menyesakkan. Aku menerima hukuman ini. Aku akan membalas dan menebus semua dosa yang telah kuperbuat selama ini. Aku akan dengan senang hati terjun ke neraka-Mu untuk menebus dosa ini.

Aku yang kotor dan menjijikan ini…

Sebelumnya, aku berterima kasih karena Kau mempertemukanku dengan malaikat manis yang bisa menyadarkanku.

Henry…

Dengan hati-hati, aku mengambil sebuah revolver yang selalu ada dibalik saku jeansku. Kubuka kunci revolver itu dan perlahan menempelkan mulutnya ke kepalaku. Mataku tak bisa lepas dari sosok Henry yang terus bermain sendirian. Dan air mataku juga tak bisa berhenti mengalir.

Kuambil kerang yang dulu pernah diberikan Henry padaku dan mendekapnya di dadaku dengan erat. Akan kubawa kenangan ini ke duniaku nanti.

Henry… Maafkan aku. Maafkan aku yang telah melakukan dosa yang tak kau ketahui. Aku sangat menyayangimu. Aku bersyukur karena sempat bertemu denganmu. Dan sekarang, akan kutebus dosaku.

Nyawa dibalas nyawa.

Selamat tinggal…

~Zhoumi pov end~

.

DORRR!!

DEGH! Henry langsung terkesiap saat mendengar suara letupan senjata itu. Matanya menengadah keatas sambil mengerutkan keningnya.

“Hyung, apa kau dengar?” Perlahan Henry menoleh kebelakang untuk melihat Zhoumi, namun seketika Henry mematung shock.

Zhoumi sudah terbaring dengan satu tangan terkulai lemas dan memegangi sebuah revolver. Darah segar merembes keluar dari bagian tempurung kepalanya. Wajah Henry berubah pucat dan perlahan dia melangkah tak percaya mendekati Zhoumi.

“HYUUUUNG!!!!!”

.

.

~The end~

20 thoughts on “Cry Out With My Heart

  1. Eonni!!
    Sungguh sungguh sungguh tega dirimu!! Aku Kira gak ada chara yg mati,, eonni cma blang sengsara,,
    T,T
    Aduh cerita’a bener” angst banget,,
    Aku baca epep ini sambil dengerin lagu MBLAQ yg it’s war,,
    Kn rada mirip ma cerita awal’a,,
    Dan itu tambah bkin aku ngek (?)
    Yadah eonni,, pokok’a Jeongmal Gomawo dah bkin ZhouRy,,
    #bow

    Epep’a the best,,
    ^^)b

  2. Yeiii! Akhirnya ahjumma update juga!!

    Padahal Cuma sehari tapi Zhoumi udah ngrasa sayang dan brsalah ma Henry,,,
    huft, Henry kasian bgt jadi dia hidup sbatang kara sekarang dehh…
    Aish, kasian bgt >.<…!!

  3. Pas awal baca judul ficny langsung engeh sma laguny CS Numbers, eeh trnyata bener ni MV Fic…
    Tragis bgt bru ketemu, udh hrus pisah dgn cra yg ga terduga..

  4. yey. . Ceritanya lucu bgt. . . Nah lho -.-a , *watakpsicokumat
    ya ampyun kesian bgt si henry, dia akan sebatangkara selamanya karna koalany mati. . Omo. . .

  5. heu heu heu T.T
    entah kenapa baca FF ini aku jadi teringat MV nya MBLAQ yang This Is War sama Timeless nya Zhang Liyin
    perang batin zhouminya
    penyesalan jangan dilampiaskan ke bunuh diri nak,,,..(sok bijak :p)

  6. huwaaaaa Eonnn…..
    kasiaaann Zhouryx huweeeeeee….
    tragiiissss….

    *ikt layat brg s kyuppil**plakkk

    weeehhh d atas da Umma

    ne lnjuut Eonn saranghaeeee…..

  7. Eonni,, ko zhoumi’a malah d buat mati sich ..
    Knppa gx d buat tobat aja truz hdup bareng dch ma henry ..
    Ohh ea eonni aqqu readers baru d sini .. Salam kenal

  8. Woyy!!!
    Kalo mau buat kayak gini kira-kira dong!
    Jangan sampe buat aku jantungan!!!!!! >.<
    Nggaaaaaaaaaakkkkkkkkk~~~
    Aku nggak tega ama Henry yang kehilangan Mimi!! T^T

  9. Keren ceritanya!!! Sedih… feelnya dapet banget padahal sama sekali gak tau lagu itu. Penyampaian kata2nya suka. Dulu pernah baca seriesnya di ffn tp gak pernah tinggalkan jejak. Pertama kalinya komen disini, maaf ya…*ampunampunampun*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s