As Long As You Love Me

As Long As You Love Me

.

Pair :: VinSeop / KiVin U-Kiss

Rated :: K

Genre :: Romance

.

“Sekalipun, aku tak pernah memperdulikan kata-kata orang lain. Biarlah mereka berpikir kalau aku bodoh dan buta, tapi aku tak perduli.”

“Wae? Kau dan aku berasal dari dunia yang berbeda.”

“Karena bagiku, itu semua tak penting. Sepanjang kau mencintaiku, aku tak perduli apa kata orang lain. Aku hanya ingin mencintaimu.”

.

.

~Kiseop pov~

“Aku datang!” Dengan penuh semangat aku membuka pintu sebuah café yang tidak terlalu ramai pagi ini. Sebenarnya ini belum jam buka café itu, tapi terkadang aku suka masuk sesukanya. Lagipula aku kan memang bukan untuk membeli sesuatu.

Seorang namja tinggi bertubuh agak gemuk menatapku malas. “Ah, kau lagi..”

“Ya! Pelanggan itu raja. Jangan menatapku begitu dong, Eli.” sahutku tak perduli sambil duduk dibalik mejanya yang seorang penyaji. Aku nyengir menatap Eli, atau yang bernama asli Kim Kyoungjae, yang sudah tak berniat memperdulikanku.

Eli memutar tubuhnya sambil membersihkan meja kopinya. “Raja, eh? Kau bahkan tidak mau membeli apapun.” balasnya kemudian.

Kali ini aku tertawa sambil mengalihkan pandanganku kesegala arah. Oke, biarkan saja dia yang masih ingin menyelesaikan pekerjaanya. Saat ini aku harus mencari seseorang yang memang harus kutemui pagi ini.

Dan itu dia!

“Kevin!” panggilku cepat. Perlahan namja tinggi itu menoleh dan tersenyum lembut kearahku. Namja cantik dengan rambut coklat terang dan bola mata yang sangat indah tiap kali menatapku. Menurutku, yeojya bahkan kalah cantik kalau disandingkan dengan Kevin.

Kurasakan seseorang menepuk bahuku dan Eli sudah memposisikan kepalanya disamping pundakku. “Hei, bodoh… Dia tak akan datang karena pekerjaannya belum selesai. Jadi jangan berisik panggil- panggil Kevin.”

“Hoi, mana ada pelayan yang mengejek pengunjung cafenya dengan sebutan bodoh?” Kali ini aku menoleh menatap Eli kesal. Tanpa dia bilang aku juga tahu kalau Kevin tak akan menghampiriku. “Kalau kuadukan ke Xander hyung, mungkin gajimu akan diberikan kepadaku.”

“Mana ada pengunjung yang berani mengancam pelayan seperti itu.” Eli balas melotot kearahku.

“Kalian tidak bisa berhenti bertengkar?” Detik berikutnya perhatianku langsung teralih. Kevin sudah duduk disampingku sambil menggerakkan tangannya meminta air pada Eli yang langsung mengambilkannya air. “Maaf membuatmu menunggu lama.”

Aku tersenyum kearahnya. “Gwaenchana.” balasku sambil mengusap kepalanya lembut.

Perkenalkan, namja cantik ini adalah Kevin. Nama aslinya memang bukan Kevin, tapi Woo Sunghyun, hanya saja kami memanggilnya Kevin dan itu terdengar sangat keren. Namja ini kekasihku. Satu- satunya orang yang paling kusayangi di dunia.

Ah, sebelumnya aku juga mau memperkenalkan diri. Aku adalah Lee Kiseop. Namja tampan. Hahaha

Kevin menenggak sedikit air minumnya dan menatapku. “Bukannya kau banyak kegiatan di kampusmu, kenapa kau kesini? Sudah kubilang berhenti datang pagi-pagi kalau kau sedang sibuk.”

“Sok tahu.” Aku kembali tertawa santai. “Aku sedang tidak sibuk. Memang ada beberapa tugas kuliah yang harus kukerjakan, tapi aku bisa menundanya. Aku sangat ingin datang kesini dan bertemu denganmu. Sudah lama kita tidak bertemu.”

Sesaat, rona wajahnya berubah merah dan dia tersenyum lembut malu-malu kearahku. Namun hanya sesaat, detik berikutnya senyuman itu pudar dan digantikan tatapan mata yang sendu. Tak perlu bertanya, akulah yang paling tahu arti tatapan mata Kevin.

“Sudah kuingatkan, kau tidak boleh bersikap semaumu. Itu akan membuat posisimu lebih sulit lagi.” ujarnya sambil menumpukan kepalanya di atas meja. Entah sejak kapan, tapi Eli sudah meninggalkan kami berdua.

“Lebih tepatnya posisimu.” jawabku. “Apa mereka masih mengganggumu?”

Kevin menggeleng dan menatapku sambil tersenyum seakan berusaha menenangkanku. Tapi justru dengan senyumannya, hatiku semakin tercekat. “Aku rasa mereka sudah lelah menggangguku. Kau tak perlu menghawatirkanku, arra?”

Bagaimana caranya aku mengabaikannya? Padahal akulah yang paling tahu kalau semua masalah yang menimpanya itu karena aku.

0o0o0o0o0o0o0

Kevin dan aku memang sama-sama namja, tapi bukan itu yang membuat kami berdua berbeda. Diantara kami, seakan ada sebuah tembok tak terlihat yang selalu menghalangi hubungan ini. Aku adalah anak tunggal dari sebuah keluarga yang cukup terpandang, semua kehidupanku sudah diatur, tak pernah kekurangan dan aku dicintai banyak orang. Berbeda dengan Kevin, dia sebatang kara. Kevin datang ke Seoul seorang diri dua tahun yang lalu untuk mencari pekerjaan, dan disini akhirnya dia bekerja sebagai pelayan café. Xander hyung yang memiliki café itu adalah sepupuku, dan akulah yang merekomendasikan Kevin kesana.

Saat pertama kali melihatnya yang kesusahan di jalan, aku langsung merasa aneh. Sebelumnya aku memang belum pernah berpacaran, aku tak memiliki ketertarikan pada yeojya Tak kusangka aku justru tertarik pada seorang namja. Dan itu Kevin.

Bagiku, tak perduli dari mana dia berasal atau siapakah dirinya. Selama dia mencintaiku apa adanya, aku akan mencintainya. Dia tak pernah mencintaiku sebagai seorang putra dari keluarga kaya, dia mencintaiku karena diriku.

“Lee Kiseop!”

Aku menoleh ke arah seorang yeojya dan dua namja yang berdiri di hadapanku. Dia merusak lamunanku saja. “Nae?”

“Kau menolakku dan ternyata berpacaran dengan seseorang yang bekerja di café Alexander oppa?” Dia menatapku tak terima sambil menggelengkan kepalanya kesal.

“Lalu?”

“Ya!” Yeojya itu memukul mejaku dan menatapku marah. “Kau menolak gadis sepertiku dan memilih berpacaran dengan seorang pelayan café. Dan apa lagi pelayan itu adalah seorang NAMJA!”

Oke, aku tak suka caranya menegaskan jenis seperti itu.

“Kau itu aneh, ya? Wajah tampan, dari keluarga terpandang, tapi jatuh cinta pada seorang namja pelayan café. Setidaknya, kalau kau memang tidak normal, cari dong namja yang setingkat denganmu. Membuatku sebal saja.” Dia mengibaskan rambut panjang pirangnya dan mendelikkan matanya menatapku.

Aku berdiri. “Siapa namamu?”

“Eh, kau tak kenal aku? Aku, Jung Sooyeon.”

“Ah, Jung Sooyeon-sshi…” Kutarik ranselku cepat sambil menatapnya datar. “Kau tahu, setidaknya Kevin-ku memiliki hati yang jauh lebih cantik darimu. Kevin tak akan menghina orang lain. Sayang sekali kalau wajah cantikmu itu dipadukan dengan sifat yang jelek. Wajah cantikmu itu juga akan jadi sia-sia. Ah, lagipula wajah Kevin juga jauh lebih cantik dari pada kau.” Setelah mengatakannya aku langsung berjalan meninggalkan ketiga orang aneh itu begitu saja.

Cih… Kalau aku suka dan berpacaran dengan Kevin memang apa hubungannya dengan dia? Menyebalkan saja.

Tapi bukan itu yang kini merisaukanku. Aku takut yeojya aneh itu mendatangi Kevin.

~Kiseop pov end~

0o0o0o0o0o0o0o0

~Kevin pov~

“Kevin, tolong bersihkan meja nomor lima.”

“Nae!” Aku langsung mengambil lap pembersih dan berjalan menuju meja kosong yang baru saja ditinggal pelanggan kami. Dengan cekatan, aku mengangkat cangkir-cangkir kopi disana dan membersihkannya secepat mungkin.

“Kevin, tolong antarkan pesanan!”

“Nae!” Kali ini aku berlalu ke meja Eli dan meletakkan cangkir kosong itu disana, nanti Eli yang meletakkannya di dapur untuk dibersihkan. Langsung kuambil nampan berisi cappuccino dan membawanya ke meja nomor tiga. Aku tersenyum kepada seorang namja yang duduk disana. “Silahkan.”

“Ya, apa seperti itu cara melayani kekasih sendiri?” Kiseop menginterupsi.

“Oh, ayolah.. Aku ini sedang sibuk.” balasku malas sambil langsung meninggalkannya begitu saja. Aku tahu Kiseop tak akan marah kuperlakukan begitu, dia juga tadi hanya main-main. Kiseop bukan tipe namja egois.

“Kevin, ada pelanggan tuh.”

Aku berlari kearah pintu dan mengantar pelanggan itu masuk sambil menunggu pesanan mereka. Aku memang bukan satu-satunya pelayan di café ini, tapi entah kenapa aku yang merasa paling repot disini. Melelahkan~

Setelah beberapa lama bekerja keras, akhirnya jam istirahatku tiba…

“Lelah!” keluhku sambil duduk di depan Kiseop yang masih setia menungguku. Namja itu terkekeh sendirian. “Kau merasa ini lucu, eh?”

“Nae. Wajahmu itu lucu.” ujarnya sambil menyodorkan gelas cappuccino-nya dan tersenyum. “Kalau lelah, jangan mengeluh. Kalau kau mengeluh, maka akan terasa semakin lelah. Cappuccino bisa menghilangkan sedikit rasa lelah. Cepat minum, dari tadi belum aku minum, kok.”

“Selalu begitu, memesan minuman tanpa meminumnya. Itu sama saja kau tidak menghargai Xander hyung yang sudah membuatnya sepenuh hati.”

“Ah, masa bodoh.” Dia tertawa lagi sambil memperhatikanku. “Ngomong-ngomong,” Sekali, dia menghela nafas sebelum melanjutkan kalimatnya. “apa kau baik-baik saja belakangan ini?” kini dia bicara dengan nada khawatir.

Baik-baik saja?

“Nae. Tidak ada masalah belakangan ini.”

Kiseop mengangguk sambil mengelus dadanya dengan tampang sok cemas. Aku bisa tahu apa yang ada dipikirkannya. Tapi aku tak memiliki minat untuk bertanya. “Kalau ada hal aneh yang terjadi, kau harus bilang padaku.” ujarnya dengan nada cemas.

“Aku tahu. Tanpa bilang, kau juga pasti tahu. Entah berapa banyak mata-mata yang kau kirim untuk mengawasi keseharianku.” sindirku sambil meminum cappuccino yang tadi diserahkannya kepadaku.

Kiseop kembali tertawa, namun agak dipaksakan. “Yang benar saja, tahu darimana kau kalau banyak orang yang aku suruh memperhatikanmu?” godanya dengan tampang yang sedikit agak aneh.

“Kau kira aku bodoh?”

“Ah, mana aku tahu. Aku kira kau itu tidak peka.”

“Sama saja dengan bodoh.” balasku sambil berdiri. “Aku harus kembali bekerja. Bayar apa yang sudah kau pesan dan segera pergi dari sini. Kau masih banyak jam kuliah sore nanti. Kau boleh menyiapkan banyak mata-mata untuk mengawasiku, tapi aku memiliki satu mata untuk bisa mengawasimu lebih baik.”

Kulihat Kiseop tersenyum sangat manis sambil berdiri meminum cappuccino yang tadi kuminum dan meletakkan di meja. “Arraseo. Aku kan selalu menurut padamu.” Namja tinggi berwajah tampan itu langsung memelukku sejenak dan mengecup keningku. “Nanti malam aku akan datang ke tempatmu.”

“Kalau begitu sampai nanti malam.”

Kiseop mendahuluiku berjalan menuju meja kasir yang dijaga oleh Dongho, seorang pekerja sambilan yang sebenarnya masih bersekolah dan membayarnya sambil mengobrol sebentar. Sebelum dia keluar dari café, Kiseop sempat menoleh dan tersenyum lembut kearahku.

Aku membungkuk sopan seperti cara terima kasih seorang pelayan café kepada pelanggannya. Saat menunduk, aku memperhatikan sepatu kets ku yang agak rusak setengah. Aku tak menceritakannya pada Kiseop.

Sebenarnya sesuatu terjadi…

0o0o0o0o0o0o0o0

~Kiseop pov~

“Loh, seingatku sepatumu masih baru.” Kuperhatikan sepatu kets Kevin yang rusak satu. Aku ingat baru membelikannya minggu lalu, dan sekarang bagian kiri sepatu itu sudah nyaris rusak. Seperti di sobek. “Kau merusaknya? Kau tidak suka?”

“Ah, itu? Bukan.” Namja itu tersenyum manis sambil meletakkan ramen yang baru saja masak di atas meja makan kecil dan mengambil sepatu itu dari tanganku. “Tidak sengaja terlindas mobil Xander hyung.”

“Pembohong.”

“Aku tidak bohong.”

Dia memang bohong. “Ya, logikanya mana mungkin terlindas mobil bisa robek seperti ini. kalau tidak suka kau bisa bilang, biar aku tukar yang lain.”

“Tidak bisa. Aku masih bisa memakainya.” Kevin buru-buru menyembunyikan sepatu itu dibalik punggungnya dan menggelengkan kepalanya. Tambahan, juga memasang wajah imutnya yang kadang kelewat batas.

Wajah imut yang tidak pernah bisa membuatku tahan kalau melihatnya. “Aigoo~ Kenapa kau manis sekali, sih?!” Seruku kesal sambil memeluk Kevin cepat. Kevin sudah terkekeh dalam pelukanku dan mengusap belakang kepalaku lembut. “Kau ganti parfum, eh?”

“Apa sih? Aku bahkan tidak pakai parfum, dasar yadong.”

Aku sangat hapal harum tubuh Kevin. Kalau dia menggunakan parfum lain, mana mungkin aku tak tahu. Kulepaskan pelukanku ditubuhnya dan memandangi wajahnya. “Kau tahu, aku merasa sangat beruntung bisa memilikimu.” Perlahan kusentuh wajahnya dan mendekatkan wajahku perlahan.

Bisa kutatap Kevin mulai memejamkan matanya. Tapi ketika bibirku nyaris menyentuh bibirnya, ponsel Kevin berdering dan dia langsung tersentak. “Ish! Lain kali kalau kita sedang bersama, matikan ponselmu.” gerutuku kesal.

“Mianhae, tapi itu tidak bisa. Kalau ada telepon penting bagaimana?” Kevin meraih ponselnya dan membaca sesuatu yang tertulis di ponselnya. Mungkin pesan dari seorang temannya, hanya saja raut wajahnya perlahan berubah.

“Nuguya?”

Kevin menatapku sambil tersenyum. “SMS nyasar. Ayo makan sebelum ramennya dingin.” Kevin langsung memasukkan ponsel itu ke saku kemejanya dan mengambil mangkuk yang ada di depannya.

Wajahnya mengatakan kalau dia berbohong… Dasar.

~Kiseop pov end~

0o0o0o0o0o0o0o0

~Kevin pov~

Dasar manusia menjijikan. Lebih baik kau jauhi Lee Kiseop sekarang juga! Tidak normal!-

Aku terhenyak saat membaca pesan yang kuterima itu. Ini bukan yang pertama kalinya kudapatkan pesan seperti itu, dan juga bukan pesan yang terakhir. Aku sudah sering diserang pesan seperti ini. Hanya saja, kata-katanya kali ini sangat menyakitkan.

Kudengar Eli mendengus sebal dibelakangku. “Kau masih belum memberitahukan ke Kiseop?”

“Tidak bisa, kalau dia tahu dia pasti akan merasa bersalah padaku. Kalau sudah bosan, orang aneh itu juga akan berhenti mengirimiku pesan aneh begini.” jawabku sambil menumpukan kepalaku di meja Eli dan memainkan ponselku. “Aku tak mau membuat Kiseop kerepotan.”

“Tapi dia kan kekasihmu, Kev.” Suara Eli melembut dan bisa kurasakan namja itu kini memainkan helaian rambutku dengan perlahan. “Kalau sesuatu terjadi padamu, dia harus tahu. Kau tidak bisa menyembunyikannya, karena dia jelas-jelas ada hubungannya.”

“Tidak.” bantahku cepat. “Kiseop tak perlu tahu.”

Aku tak mau dia semakin jauh memikirkanku. Bagiku sudah cukup kalau dia merasakan ketenangan ini. Aku tak mau melibatkan Kiseop lebih jauh lagi dengan semua masalahku. Dia terlalu baik, dan aku tak mau berhutang lebih banyak lagi padanya.

“Kalau kau merasa berat,” Eli kembali bicara. “kenapa kau tidak mengakhiri saja hubungan kalian?”

Mengakhirinya?

Kini aku tersenyum sambil memandangi meja di hadapan wajahku. “Aku tak berani mengakhirinya, Eli. Perasaanku ini terlalu dalam untuknya, kalau karena hal ini saja aku mengahiri semuanya. Maka aku akan menderita.”

“Tapi kalau diteruskan, kau juga akan terus terluka.”

Kuangkat wajahku untuk menatap Eli. Wajahnya terlihat sangat mencemaskanku, jadi kuputuskan tersenyum lembut kepadanya. “Terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Tapi aku ingin melakukan sampai batas akhir yang aku bisa.”

“Aku datang!” Seruan Kiseop yang tiba-tiba masuk ke café membuatku dan Eli tersentak. Dengan cepat aku menghampiri dia sebelum dia sampai ditempatku dan Eli. “Sedang apa kau berduaan dengan Eli? Kau selingkuh, ya?”godanya sambil mengusap kepalaku lembut.

“Iya, kita sedang selingkuh. Diam-diam aku dan Kevin itu menjalin hubungan dibelakangmu.” Eli yang menjawabnya.

Aku tertawa kencang saat mendengar jawaban Eli, tapi Kiseop disampingku justru buru-buru merangkul bahuku dan merapatkannya di tubuhnya dengan gaya protektif. “Hey, unggas. Kalaupun Kevin akan selingkuh, dia pasti akan mencari orang yang lebih hebat dariku. Mana mau dia denganmu, Pigeonnie. Iya kan, Kev?”

“Yak! Dasar kampungan. Berani sekali kau mengataiku unggas?”

“Kau kan pigeon?”

Aku semakin tertawa mendengar pertengkaran keduanya. Dengan sebisa mungkin aku berkelit keluar dari lengan Kiseop dan langsung kabur ke dapur. “Sudah, masih banyak yang harus kukerjakan. Kalian bertengkar saja dulu. Kalau kalian mau pacaran juga tidak apa-apa.”

“Kevin!” Keduanya berseru namun aku tak perduli dan langsung menghampiri Xander hyung yang sudah tertawa sendirian di dapur. “Hyung menguping, ya?”

“Mana mungkin aku tidak dengar semua yang kalian bicarakan di luar?” balas Xander hyung. Namun perlahan raut wajahnya berubah serius saat menatapku. “Kalau sesuatu terjadi padamu, jangan sampai Kiseop tak tahu. Dia itu selalu mencemaskanmu.”

“Nae arraseo, hyung.”

0o0o0o0o0o0o0o0

Aku menghela nafas saat membaca sebuah pesan. Pesan bernada sama dengan banyak pesan yang kudapatkan belakangan ini. Aku kira si pengirim akan bosan karena aku sama sekali tak meladeninya. Tapi dia justru semakin kasar.

Tak jarang dia memakiku dengan bahasa kasar. Merepotkan saja.

“Kevin, jangan melamun. Ada pelanggan!” Eli menepuk kepalaku cepat dan membuatku tersadar. Aku langsung menghampiri dua orang yeojya yang masuk ke café ini dan tersenyum sopan.

“Silahkan.”

“Kau Kevin?”

Eh? Dia kenal namaku?

Aku mengangguk dan menatap yeojya yang sedikit lebih pendek dariku itu. Dia manatapku tajam dari atas sampai bawah. Sejujurnya, aku merasa sangat risih ditatap seperti itu. “Nae, Agashi?”

Seulas senyum mengejek terlihat diwajahnya. Tanpa bicara lagi dia dan seorang temannya langsung berjalan melewatiku dan duduk tak jauh dari tempatku berdiri. “Cepat kesini, pelayan. Aku mau memesan.”

Kurasa… Aku bisa tahu siapa orang ini.

Kuambil notes di sakuku dan langsung menghampirinya. “Nae, mau pesan apa?”

“Dua buah cappuccino dan croissant. Aku ingin cappuccino yang agak kental dan tanpa cream diatasnya. Croissant-nya juga tolong yang masih fresh, aku tak terbiasa memakan sesuatu yang tidak fresh.”

Sombongnya.

“Baiklah. Mohon tunggu.” Aku membungkuk sekali dan mendatangi Eli. Namja itu sudah menatapku agak aneh. Dia pasti agak tidak suka dengan gaya nona itu. “Ini pesanannya. Kau sudah dengar apa yang dia mau, kan? Sampaikan pada Xander hyung.”

“Oke.” Eli membawa pesanan itu ke dapur dengan tampang aneh.

Menunggu selama sepuluh menit, akhirnya pesanan dua orang itu sampai. Aku langsung membawanya dan mempersilahkannya untuk mencicipi. Namun saat aku akan meninggalkannya, dia memanggilku lagi.

“Kau.” ujarnya dengan nada dingin.

“Nae?”

“Bukankah aku sudah bilang kalau aku tak suka croissant yang tidak fresh?”

Kutatap dia heran. Setahuku itu baru keluar dari panggangan. Apanya yang tidak fresh? Apa dia sengaja mencari masalah denganku?

“Tapi itu baru keluar dari panggangan, Agashi.”

“Tetap saja tidak benar-benar baru keluar. Aku tak mau!”

PRANG! Dia melemparkan piring itu ke lantai dan pecah begitu saja. Croissant yang sudah dibuat Xander hyung berceceran begitu saja. Kini dia juga sudah berdiri dihadapanku sambil menatapku tajam.

Aku balas menatapnya dingin. “Kau punya masalah denganku, kan? Kau tak perlu memperlakukan makanan seburuk itu, Agashi.”

Seringaian muncul di wajahnya. “Kau pintar juga.” Dia tertawa sinis sambil menyentuh daguku dan memperhatikan wajahku dengan seksama. “Aku tak tahu apa yang membuat Kiseop tertarik padamu. Padahal sudah kuancam dan kumaki sedemikian rupa, tapi kau masih bertahan. Hebatnya.”

“Jadi kau yang menerorku?”

Kali ini dia tersenyum manis. “Aku kesal padamu. Padahal aku sudah menyukai Kiseop sejak lama, tapi dia menolakku karena alasan sudah punya pacar. Dan pacarnya itu juga namja. Menjijikan sekali rasanya. Tapi aku heran,” Gadis itu melepaskan wajahku dan beralih menarik-narik kemejaku. “kenapa dia bisa menyukai namja kotor sepertimu? Setingkat dengannya saja tidak.”

Aku mengelak cepat. “Silahkan kau pulang saja kalau memang hanya ingin mencari masalah.”

“Ya! Pelayan tak tahu malu. Dasar gay menjijikan!”

PLASH! Dengan sangat cepat dia menyiramku dengan cappuccinonya yang masih agak panas. Rasa panas itu menjalar di wajahku. Untungnya saja tidak benar-benar panas. Dan suasana di café mulai kacau.

“Kau seharusnya sadar diri! Kau dan dia sama sekali tidak sebanding! Apa kau tahu apa yang akan terjadi dengannya jika keluarganya tahu hubungan kalian? Tidak tahu malu! Bilang saja kau hanya menginginkan kekayaan Kiseop, orang miskin!”

Kupejamkan mataku kuat-kuat. Kalimatnya membuatku marah. Jika saja dihadapanku ini bukan yeojya, mungkin akan kupukul dia.

“Kau yang tidak tahu malu!”

DEGH! Suara Eli. Aku menoleh dan melihat Eli sudah berada disisiku sambil menarik tangan yeojya itu.

“Maaf, tapi kami tidak mau ada kekacauan disini. Silahkan keluar!”

“Kau! Beraninya kau bilang begitu pada konsumen! Aku ingin bertemu dengan manajer disini. Alexander oppa, kan?!”

Kami dalam masalah besar.

“Dia benar.” Sebuah suara membuat kami semua menoleh. Tak jauh dari belakang kami, Xander hyung sudah berdiri dengan wajah dingin. “Kami tak menerima pelanggan sepertimu. Dan kumohon keluar dari sini. Jangan pernah datang lagi.”

Kilatan marah muncul di wajah yeojya itu. Dengan cepat dia menarik tas jinjingnya. Dan dengan kasar dia berjalan sambil mendorong bahuku dan membuatku mundur. “Kau tahu, dengan menjalin hubungan denganmu itu akan membuat Kiseop serba salah. Dia akan membawa masalah ke keluarganya. Dan kalau kau memang memperhatikannya, seharusnya kau tidak membuatnya kesusahan sekarang ataupun nanti.”

Aku tahu… Aku sangat paham akan posisiku. Tanpa dibilang juga aku sudah mengerti kalau hubungan ini sangat kacau. Tapi aku juga tak sanggup untuk menghentikan perasaanku padanya. Aku sangat mencintainya.

Tapi kalau cinta ini justru akan membawanya kedalam masalah…

“Kevin, are you okay? Cepat ke ruang staff dan ganti pakaianmu.” Xander hyung kembali bicara.

Dengan lirih kutatap dia. “Hyung, apa aku boleh pulang sekarang?”

~Kevin pov end~

0o0o0o0o0o0o0

Kiseop mengetuk pintu apartemen Kevin dengan tidak sabaran. Karena jadwal kuliah, dia tidak bisa datang ke café sejak pagi. Dan disaat dia datang sore hari, ternyata kekasihnya tidak ada. Melihat dari raut wajah Eli tadi, dia tahu sesuatu yang buruk terjadi. Kevin bukan orang yang suka meninggalkan pekerjaannya begitu saja.

“Kenapa tidak mau dibuka, sih?” gerutunya kesal. “Kevin! Kau di dalam, kan?”

Tak ada sahutan dari Kevin.

“Heya! Kalau tidak dibuka, aku akan dobrak nih!” Kali ini Kiseop mengancam sedikit sambil terus mengetuk pintu apartemen Kevin. Dan tak lama kemudian, terdengar suara kunci dibuka dari dalam.

Wajah Kiseop kelihatan lega saat melihat Kevin muncul dihadapannya. Tapi kelegaan itu sirna ketika melihat mata Kevin yang tampak sendu. “Kau kenapa?” tanyanya sambil mencoba menyentuh bahu Kevin, namun Kevin menolak.

“Kiseoppie…” Kevin menyentuh wajah Kiseop sambil tersenyum lembut. Kelakukannya tentu membuat Kiseop heran. Dengan hati-hati Kevin mengecup pipi tirus Kiseop dan beralih mencium bibir namja itu lembut.

“Kev…?”

“Kita akhiri saja hubungan kita.”

JGERR! Petir seakan menyambar tubuh Kiseop.

“Wa-wae?! Sesuatu terjadi? Apa ada yang mengganggumu lagi?!” Kiseop tak bisa menerima ucapan Kevin. Diguncangkan bahu namja itu kencang. “Aku tak mau! Aku tak mau mengakhiri semuanya!”

“Jangan konyol, Lee Kiseop!” Dengan cepat Kevin menyentakkan kedua tangan Kiseop dan agak mundur sedikit. “Kau tahu aku dan kau itu hidup di dunia yang berbeda. Terlalu kuat tembok yang menghalangi kita. Aku tak mau hidup dengan perasaan tertekan terus-menerus! Aku lelah menjalin hubungan denganmu! Aku tak sanggup lagi bertahan!”

Kiseop tercengang menatap Kevin. Perlahan digerakan tangannya hendak menyentuh wajah Kevin. Tapi menatap wajah Kevin yang kacau, niatnya pudar. Nafasnya tak beraturan. “Kau… Lelah?”

“Aku sakit. Aku selalu terluka. Dan karena tak mau menyusahkanmu aku menutupi semuanya. Tapi sekarang aku tak sanggup lagi bertahan. Aku ingin kita berakhir saja.”

“Kau serius?” Suara Kiseop terdengar parau sekarang. Kevin menjawab dengan sebuah anggukan tapi dia tak mau menatap mata Kiseop. “Woo Sunghyun, tatap aku. Apa kau serius?” Kini Kiseop menepuk bahu Kevin.

Kevin mengangkat wajahnya dan mengangguk. “Aku serius.”

“Baiklah.” Dengan hati hancur, Kiseop melepaskan Kevin begitu saja. “Aku tak akan mengganggumu lagi. Selamat tinggal.” Dan berikutnya, dia sudah berjalan cepat meninggalkan Kevin yang gantian mematung.

Kevin memandangi sosok belakang Kiseop yang semakin menjauh, lalu hilang begitu saja dari balik tangga. Saat itulah air mata Kevin menetes perlahan. Rasa sakit yang tadi ditahannya barulah ditumpahkannya. Dikatupkan mulutnya rapat sambil bersandar di pintu apartemennya.

“Kau harus bisa, Sunghyun. Ini semua kau lakukan demi dia. Demi orang yang kau cintai.” isaknya dalam.

0o0o0o0o0o0o0

~Kiseop pov~

Satu minggu~

“Lee Kiseop! Kau ini kemana saja satu minggu bolos kuliah?” Aku melirik malas kearah Soohyun hyung yang menghampiriku dengan tampang gusar. “Aku lelah dikejar-kejar fansmu yang ingin tahu dimana dirimu.”

“Aku dari alam kubur, hyung.” balasku tak perduli.

“Eh? Kau gila, ya?” godanya. Namun melihat aku tak memberikan respon apapun, dia langsung menepuk bahuku dengan pelan. “Ada apa? Sesuatu terjadi padamu?”

“Aku putus dengan Kevin.”

“OMO!” Kini dengan cepat Soohyun  hyung sudah memegangi bahuku dan menatapku tak percaya. “Bagaimana bisa kalian putus? Padahal kau kan sangat mencintainya. Pasti dia yang memutuskanmu, makanya kau jadi sekarat begini, ya?”

Dia memang hebat dalam main tebak-tebakan perasaan.

Aku mengelak darinya dan kembali merenung. “Dia yang meminta putus dariku. Dia bilang tak sanggup lagi merasakan sakit kalau dia terus berhubungan denganku. Dia juga bilang dunia kami terlalu berbeda, terlalu sulit disatukan. Dan karena aku juga tak mau membuat Kevin semakin terluka, aku menerima keputusannya.” jelasku panjang.

Kudengar Soohyun hyung menghela nafas. “Apa-apaan itu? Kukira kau akan menolak keputusannya.”

“Mana bisa aku menolak. Dia terluka kan gara-gara aku. Aku juga tak mau membuat Kevin menderita karena menjalin hubungan denganku. Makanya tanpa bicara apapun aku langsung mengiyakan keputusannya.” Kalau aku yang mengatakannya, kenapa aku jadi kelihatan namja yang pasrah begini? Aiish…

PLETAKK! Tiba-tiba sesuatu yang keras mengenai kepalaku. Kulihat sebuah botol plastic menggelinding di dekat kakiku.

“Dasar payah.”

Aku tahu suara siapa itu?

“Eh, kau yang bekerja di café Xander hyung?” Soohyun hyung yang melihatnya lebih dulu. Barulah aku menoleh.

Eli.

.

“Kalau Kevin jadi mayat hidup, apalagi aku?” gumamku setelah mendengar Eli bercerita banyak tentang Kevin selama satu minggu ini. Dia bilang Kevin jadi pendiam dan banyak melakukan kesalahan. Yah, itu wajar saja. Justru akan sangat aneh kalau Kevin biasa-biasa saja setelah pisah denganku.

Eli memandangiku dengan seksama. “Kalian sama-sama seperti mayat.”

“Tapi aku yang paling parah.”

“Sok tahu!” Eli sudah memukul kepalaku lagi. “Kalau kau mau tahu bagaimana kondisi Kevin, sana datang ke café dan lihat.”

“Kalau aku melihatnya, aku tak yakin bisa melepaskannya begitu saja. Kau kira aku tidak sama menyedihkannya sekarang? Meski Kevin yang minta putus, tapi itu bukan keinginannya yang sebenarnya.” balasku serius sambil memandangi rumput dibawahku. “Dan karena aku sangat mencintainya, aku tak mau membuatnya jauh lebih terluka.”

“Kalau kau tahu Kevin terpaksa, kenapa kau mau-mau saja? Jangan jadikan hal semacam itu sebagai alasan. Aku muak mendengarnya.”

“Ya, kenapa kau jadi marah-marah padaku?!”

“Habisnya kau menyebalkan!” Kini Eli sudah menatapku dengan seirus. “Aku kira kau akan menahan Kevin dengan berbagai cara agar dia tak pergi dari hidupmu, tapi kau melepasnya begitu saja. Padahal jelas-jelas kau tahu alasan Kevin meninggalkanmu. Jelas-jelas kau tahu Kevin sangat mencintaimu. Dasar bodoh.”

“Aku memang bodoh.”

“Argh! Menyesal aku datang ke kampusmu. Niatnya aku mau bicara, tapi rasanya sia-sia.” Eli kini sudah berdiri. Sebelum dia meninggalkanku, dia menatapku dengan dingin. “Kalau kau punya waktu, lihat keadaan dia. Kalau kau benar-benar tak menginginkannya lagi, biar aku yang menjaganya.”

Ehh? Tunggu! Apa maksud dari ucapan Eli tadi? Apa sebenarnya, dia juga menyukai Kevin?

“Oh, iya.” Eli kembali bicara. “Satu minggu yang lalu, ada seorang gadis yang menghina Kevin habis-habisan di café. Aku rasa gadis itu yang selalu mengganggu Kevin belakangan ini.”

Mwo? Gadis yang mengganggu Kevin belakangan ini? Bagaimana bisa aku tak mengetahuinya?

~Kiseop pov end~

0o0o0o0o0o0o0

PRANG! Kevin tersentak saat sebuah cangkir terlepas dari tangannya dan langsung pecah begitu saja mengotori lantai. Dengan tampang bersalah, Kevin buru-buru menunduk hendak membersihkan pecahan cangkir itu.

“Biar aku saja, Kev.” Eli langsung menarik Kevin agar berdiri, tapi Kevin tak menghiraukan Eli. Namja itu tetap bersikukuh membersihkan pecahan kaca tanpa bicara apapun. Hal itu tentu membuat Eli sedikit termenung. “Ya, kubilang biar aku saja.”

“Aniya, aku yang memecahkan jadi aku yang membersihkan.” Kevin menatap Eli sambil tersenyum kecil dan kembali fokus dengan pekerjaannya. Namun saat ia menunduk, sinar matanya berubah redup.

Belakangan ini hidupnya tak menyenangkan. Dia merasa hampa dan kosong. Berulang kali dia merasa menyesal karena memilih keputusan untuk meninggalkan Kiseop, tapi dia juga tak bisa memutar waktu. Semua sudah terlambat dan dia sudah memutuskannya.

“Kev!” Tiba-tiba Eli menarik tangan Kevin dan membuat namja itu langsung berdiri. Keduanya saling berpandangan. Yang satu heran, yang satu kesal. “Sudah hentikan. Aku muak melihatmu seperti ini terus!”

“Eli?”

“Sekarang juga kau temui dia dan kembalilah kepadanya!”

“Kau bicara apa, sih?” Kevin berusaha menarik tangannya, namun Eli tetap memeganginya dengan sangat kuat. “Banyak pelanggan sekarang. Lepaskan aku, Kyoungjae!”

“Andwae! Aku tak akan melepaskanmu sebelum kau berjanji akan kembali padanya.” Eli benar-benar marah pada Kevin. “Kau tahu hidupmu kacau setelah kau meninggalkannya, kenapa kau masih mencoba bertahan, hah?! Aku muak melihatmu seperti mayat hidup begini.”

Mendengar semua yang diucapkan Eli, Kevin hanya bisa diam. Dia tak punya kata-kata untuk menyangkal Eli. Karena yang diucapkan Eli semuanya nyata.

“Aku tak bisa…” bisiknya lirih.

Perlahan Eli melepaskan tangan Kevin dan menepuk bahu namja itu hati-hati. “Kalau tembok penghalang itu terlalu besar untuk kau lewati sendirian, kenapa kau tak berusaha melewatinya bersama? Kau tahu kalau dia tak akan membiarkanmu kesusahan sendirian.”

“Aku tak bisa.” Kini Kevin sudah menunduk sambil menahan air matanya yang nyaris tumpah. Namun satu gerakan tiba-tiba membuatnya tersentak. Dikiranya Eli kembali menarik tangannya, namun saat dia menatap siapa yang menariknya keluar dari café, dia terpana. “Kiseop?”

Kiseop langsung mendorong Kevin agar berdiri dihadapannya, dan belum sempat Kevin bertanya apa yang dilakukannya, Kiseop langsung memeluk tubuh namja itu tanpa bicara apapun. Tentu saja Kevin harus gelagapan diserang begitu olehnya.

“Ki-kiseop! Apa yang kau lakukan? Lepas.”

Kiseop tak bicara dan justru memeluk Kevin semakin erat. Selama beberapa menit, akhirnya Kevin berhenti meronta-ronta. Sebenarnya Kevin juga sangat merindukan pelukan Kiseop, itu alasan kedua kenapa Kevin akhirnya menyerah.

Kiseop menghirup aroma tubuh Kevin perlahan. Bayangan akan parfum yang dipakai Kevin kembali muncul dan sebuah senyum tulus muncul di wajahnya. “Kau pakai parfum yang berbeda lagi, Kev?”

Wajah Kevin memerah mendengar bisikan Kiseop. Dia tak bicara sepatah katapun kali ini.

“Mianhae.” Kiseop kembali bicara.

“Untuk apa?”

“Karena aku tak bisa melindungimu semaksimal mungkin.” Kini Kiseop melepas pelukannya dan menatap mata Kevin dalam-dalam. “Aku benar-benar tak tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu. Dan dengan konyolnya aku menyutujui permintaanmu begitu saja. Aku minta maaf, Kevin…”

“Kau tidak salah, kok. Aku yang memutuskannya begitu saja dan kau hanya menurutiku.” Kini Kevin sudah menunduk.

“Aku ingin kau kembali kepadaku.” Satu kalimat Kiseop membuat Kevin kaget dan menatap namja dihadapannya tak percaya. Yang ditatap justru menyunggingkan senyum manisnya dengan tulus. “Aku ingin memulai yang baru denganmu dari awal. Aku ingin membawamu pergi keluar dari kota ini. Ke tempat dimana tak ada satu orangpun yang mengenal aku sebagai Lee Kiseop dan kau sebagai Woo Sunghyun. Kita akan memulai hidup kita yang baru tanpa ada masalah seperti sekarang. Karena itu, kembalilah…”

“Apa yang kau katakan?! Kau pikir mudah!” Kevin menyentakkan tangan Kiseop di bahunya dan menatap mata Kiseop dalam. “Membuang semua yang kau milikki untuk hidup bersama dengan orang menjijikan sepertiku. Kau pikir ini main-main_”

“Aku tak perduli!” Gantian, Kiseop bicara dengan nada tinggi kepada Kevin. “Bukankah dulu aku pernah mengatakannya? Aku tak pernah memperdulikan apa yang orang lain katakan tentangku. Aku tak perduli siapa dirimu. Karena selama kau dan aku saling mencintai, itu cukup bagiku. Akan kubuang semua milikku jika itu bisa membuatku hidup denganmu!”

“Kiseop~” Kevin menggigit bibirnya saat mendengar apa yang diucapkan Kiseop dihadapannya. Air matanya kembali menyengat matanya dan dia buru-buru menggeleng agar tidak menangis. “Jangan konyol. “

“Kevin..” Kiseop kembali merengkuh pundak Kevin. “Seumur hidupku, aku selalu mendapatkan apa yang aku mau meskipun aku tak membutuhkannya. Dan kali ini, akan kubuang semua itu agar aku bisa mendapatkan apa yang aku butuhkan.” Senyumnya kembali terulas lembut. “Dan kali ini aku benar-benar akan melindungimu dengan tanganku sendiri. Tak akan kubiarkan siapapun menyakitimu lagi.”

Kevin tak bisa menahannya lagi, air matanya tumpah begitu saja. “Bodoh!”

“Aku memang bodoh. Dan aku jadi bodoh karena kau.” Dengan hati-hati Kiseop langsung memeluk Kevin. Tak ada tanda-tanda penolakan dari Kevin, jadi Kiseop memeluknya semakin erat. “Berjanjilah, kau tak akan menanggung semuanya sendirian lagi. Berjanjilah kau akan selalu berbagi denganku.”

“Kau bodoh~”

Kiseop terkekeh pelan sambil mencium puncak kepala Kevin. “Kevin, kau bersedia kan memulai suatu hal yang baru denganku?”

Kevin hanya diam saja.

“Kev?”

“Berjanjilah, kalau kau benar-benar tak akan meninggalkanku.” bisik Kevin pelan sambil menatap mata Kiseop dalam-dalam. “Aku tak memiliki siapapun. Kalau aku menerima ajakanmu itu, aku benar-benar hanya akan memiliki dirimu. Dan kalau aku meninggalkanku, maka aku akan hancur.”

“Aku kan tak pernah meninggalkanmu.” Kiseop tersenyum sambil mengusap rambut coklat Kevin. “Aku akan mengumpulkan uang dengan tenagaku sendiri dan membahagiakanmu. Kau pegang janjiku.” Diulurkannya jari kelingkingnya tepat di hadapan Kevin.

Sambil tersenyum, Kevin mengaitkan jari kelingkingnya di jari Kiseop. “Aku pegang janjimu.”

“Nae.” Tanpa bicara lagi, Kiseop kembali memeluk Kevin. Namun kali ini dia benar-benar berjanji, sedetikpun tak akan dibiarkannya Kevin terluka seperti kemarin. Dia benar-benar akan melindungi satu-satunya orang yang berharga dalam hidupnya itu.

Kevin, Woo Sunghyun-nya yang paling berharga.

.

~The End~

9 thoughts on “As Long As You Love Me

  1. FIRST LAGI? YAAAYYY #dance bonamana

    huweee…
    ini lbh menggigit drpd yg together,
    eli bwt q ja kkk~

    q gbs komen, bgus lah, TOP!!!

    krna uda happy end kev ma kiseop, jd eli buat akyu……
    #seret eli plg

  2. kyaaaa….. Kiseopppa so sweeettt….
    hueeee kasian kevinppa..
    hukss..2x iihh jd pngen mitakin Jess dehh…. uuhh untuung rda Happy End..
    kkkkkk

  3. Huaaaaaaaaa
    critanya bener2 menguras hati.
    Cinta memang bisa merubah segalanya.
    Ta’ peduli apapun yg terjadi. Bahkan jika harus mengorbankan segalanya, demi orang yg di cintai bukan menjadi masalah besar.
    Malah bisa membuat bahagia karna bisa berkorban.
    Kekuatan cinta, meskipun terpisah pasti akan kembali lagi karna ada ikatan di antaranya.

    Aigooo
    Kiseop ama Kevin kayaknya emang ga’ mungkin berpisah deh kalow efeknya aja bisa bikin mreka jadi kayak mayat hidup.
    Wkwkwk
    tp akhirnya bersatu juga..
    Ah, harusnya Kevin ama Elippa aja tuh#buagh
    hehehe
    fihgting eon,
    buat lagi yow..

  4. aigooo eonnn~
    ini so sweet bangetttt !!!!!!!!!!
    nae kiseoppie, ga nyangka kamu se so sweet ini. andai aku kevinnya xD

    it’s amazing banget eonn *dance random*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s