Past (Chapter 1)

The Future Series

Cast ::

Kim Leeteuk as The Leader,

Hangeng / Hankyung,

Kim Yesung,

Lee Donghae,

Choi Siwon,

Cho Kyuhyun, and

Kim Kangin

 

Fifth Story ::

Past

 

Pov :: Kim Leeteuk

 

Apa yang terjadi dalam keluargaku? Kenapa segala hal yang terjadi dirumahku bisa diketahui akademi? Bukankah diseluruh rumah sudah dipasang pengaman agar nggak bisa ditembus pengintaian akademi? Untung saja sampai saat ini keberadaan Hankyung dan Heechul masih belum ketahuan..

Lebih tepatnya, kenapa hanya mereka yang belum ketahuan..

“ Hyung..” Kudengar suara Donghae memanggilku.

Aku menoleh menatapnya. Donghae dan anggota keluargaku yang lain sudah berkumpul diruanganku. Kecuali Heechul. Ya, aku yang memanggil mereka. Ada yang mau kubicarakan..

Yesung duduk di sofa panjang dan menatapku yang masih duduk di kursi kerjaku. “ Hyung mau bicara apa?”

“ Tentang kejadian beberapa hari ini..” Mulaiku.

Seluruh anggota keluargaku yang lain ikut duduk disofa yang ada diruanganku. Kupandangi mereka bergantian. “ Apa salah satu dari kalian ada yang membocorkan rahasia ke pihak luar?” Tanyaku serius. Aku mencoba memancarkan ion negative dari dalam tubuhku agar mereka tenang. Aku tak ingin membuat mereka cemas.

Kyuhyun menggeleng. “ Hyung, kalau ada yang membocorkan rahasia, aku bisa tahu. Dan sejauh ini, nggak ada satupun yang pernah cerita ke pihak luar tentang segala hal yang ada dirumah kita.” Jelasnya.

“ Tapi kenapa semua rahasia bisa ketahuan akademi? Untungnya dua orang X-Jyuniour itu nggak ketahuan.” Tambah Kibum.

Aku mengerti. Kalau ada yang membocorkan, Kyuhyun bisa tahu.

“ Bagaimana mereka bisa tahu tentang Wookie atau Sungmin..” Kalimat tanya retoris dari Donghae. Kutatap dia lebih serius. Bukannya mencurigai dia, tapi dialah yang sering bertugas diluar rumah.

Tapi, aku tahu bukan Hae yang melakukannya.

“ Apa hanya itu yang ingin hyung tanyakan?” Hankyung menatapku. “ Ada beberapa hal yang harus aku, Siwon dan Kibum lakukan. Jadi..”

“ Ah, baiklah.” Aku berdiri dan bersandar di meja kerjaku. “ Aku yang terlalu khawatir. Aku yakin nggak ada pengkhianat dikelompok ini. Oke, kalian boleh pergi.”

Siwon, Kibum dan Hankyung langsung pergi keluar.

Dan seperti biasa, Donghae memilih kabur dengan loncat keluar jendela.

Tinggalah aku, Yesung, Kyuhyun dan si android Lee Sungmin. “ Kalian nggak ada kerjaan?” Tanyaku sambil menatap mereka bertiga.

Kyuhyun berdiri sambil menarik Sungmin. “ Aku harus mengeset anti laset pada tubuh Sungmin agar dia nggak sekarat lagi, sih. Sampai nanti hyung.” Ucapnya cepat dan Sungmin hanya menurut mengikuti langkah Kyuhyun.

Yesung berdiri dan berjalan mendekatiku. “ Apa hyung benar nggak apa- apa?”

“ Nae, Yesungie..” Jawabku cepat.

“ Kalau ada apa- apa ceritakan aja padaku, yaa..” Gumamnya sambil menepuk bahuku. Dan ia menghilang.

Aku kembali duduk di kursiku sambil memegang dadaku. Jantungku sedikit terasa sakit. Yah, racun itu memang masih ada dalam tubuhku. Kupandangi foto bergerak yang ada diatas mejaku. Foto keluargaku.

Dua tahun ternyata cepat sekali berlalu.

0o0o0o0o0o0o0o0

Tiga tahun yang lalu aku adalah seorang anggota akademi X-Jyuniour.

Anggota dengan pangkat tertinggi. Nggak ada yang bisa mengimbangi kekuatanku. Sampai saat dimana aku harus menghancurkan seseorang.

Keluarga kecil Yesung.

Aku harus menghancurkan keluarga namja itu, tentu saja aku tak melakukannya. Aku tak bisa. Saat aku bertemu dengan Yesung dalam misiku, aku nggak bisa melukainya. Aku memang lemah, sejak dulu misiku sering gagal karena aku tak pernah mau menghabisi orang lain. Dan pertemuan dengan Yesung membuka mataku.

Kuputuskan untuk keluar dan kabur dari X-Jyuniour lalu datang ke SyuppeoSM. Beberapa orang menganggap tindakanku ini sangat berani. Masuk tanpa perlawanan ke daerah musuh. Tapi saat itu aku nggak perduli, aku hanya ingin memperbaiki masa depanku nanti. Aku ingin memilih langkah yang benar..

Aku meminta masuk menjadi anggota SyuppeoSM.

Sulit memang, selama satu tahun aku dilatih dan dicap sebagai sampah. Tapi aku nggak perduli, dan saat Sooman-sshi mengangkatku resmi menjadi anggota akademi, dia mengizinkanku membuat sebuah kelompok kecil yang kini menjadi keluargaku.

Yesung adalah orang pertama yang kupilih. Kami hanya hidup berdua selama setengah tahun karena setelah itu Donghae dan Kyuhyun dipilih untuk bergabung dengan keluargaku. Kami hidup berempat selama beberapa saat, sampai akhirnya setahun lalu..

Aku menemukan Siwon yang sedang kabur dari pengejaran Hankyung. Siwon benar- benar kewalahan menghadapi Hankyung, akhirnya akulah yang bertarung melawan Hankyung dan kelompoknya. Sampai akhirnya aku tertembus laser beracun tepat dijantungku dan sekarat dalam jangka waktu yang panjang.

Tiga bulan. Aku nggak bisa mengingat semua dengan baik. Karena saat aku membuka mataku, aku sudah kembali dari alam kematian. Kibum menyelamatkan nyawaku. Dan saat itu Siwon resmi kumasukkan kedalam anggotaku.

Nggak pernah kubayangkan kalau sekarang aku bisa seperti ini..

Anggotaku semakin banyak, bahkan dua diantaranya orang dari X-Jyuniour.

Aku pastinya akan menjaga keluargaku ini..

Itu pasti..

Kututup buku tebal yang sejak tadi terbuka diatas meja kerjaku tanpa kubaca. Pikiranku terus melayang- layang nggak tentu arah. Bukannya aku sebaiknya istirahat?

Ya, aku nggak mau merepotkan dongsaengku yang lain.

0o0o0o0o0o0o0o0

Kuperhatikan Yesung yang sedang mengutak- atik mesin waktunya. Aku berjalan mendekatinya yang sedang kelihatan bingung itu.

“ Ada apa, Yesungie?”

Yesung menoleh menatapku sambil membuka kacamatanya. “ Mesinku sedikit rusak, hyung.” Jawabnya singkat sambil mengambil dinamometer dan menyambungkannya dengan mesin waktunya lalu sibuk lagi. Yesung kembali menatapku frustasi. “ Mesin ini semakin kacau, aku harus mencari mesin baru yang lebih baik.”

“ Hyung.” Kudengar seseorang memanggilku. Aku menoleh. Heechul berjalan kearahku sambil membawa sebuah botol kecil yang berisi kapsul- kapsul berwarna biru. “ Kibum memintaku mengingatkanmu minum obat. Ini.” Ia menyodorkan botol itu kearahku.

Kuambil botol itu. “ Gomawo, Heechul.” Balasku sambil tersenyum.

Namja cantik itu mengangguk kearahku lalu mengalihkan pandangannya kearah Yesung. “ Ah, kalau kau mau, aku bisa menemanimu mencari barang- barang yang kau butuhkan. Aku tahu tempat yang bagus untuk mencari spare part untuk mesin waktu.”

“ Wow.. Itu bisa sangat membantu.” Yesung berdiri tegap sambil menatap Heechul senang. “ Ayo antarkan aku sekarang kesana, hyung. Aku benar- benar butuh sekarang.” Ucapnya lagi.

Heechul mengangguk. “ Oke, Teukie hyung. Kami pergi dulu.” Ucapnya sambil berjalan meninggalkanku.

Yesung menysulnya. Sebelum ia keluar dari ruanganku, dia menatapku. “ Hyung, hati- hati dengan mesin itu, ya.” Ucapnya mengingatkanku.

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Sekarang Heechul juga sudah bisa berbaur dengan yang lainnya. Aku nggak perlu mengkhawatirkan mereka. Dia bahkan mau membantu Kibum mengingatkanku minum obat. Semakin lama semua semakin baik.

Kuputar tutup botol itu. Aku nggak boleh menyia- nyiakan kebaikan Heechul dan Kibum.

Bzzztt..

Eh? Suara apa itu? Mesin?

Zzzt..

Suaranya semakin jelas. Itu suara listrik yang memancar, kan?

Aku menoleh menatap sekelilingku. Dan pandanganku berhenti kearah mesin waku Yesung yang bereaksi. Percikan listrik muncul dari dalam mesin itu. Perlahan lubang hitam muncul dari dalam mesin itu. Portal waktu!

Ada apa? Bukannya mesin itu harusnya nggak berfungsi?

Sraash! Tarikan gravitasi yang kuat memancar dari lubang waktu itu. Menarik segala sesuatu disekelilingnya untuk masuk kedalamnya. Termasuk aku!

Aku berusaha menahan kakiku agar tetap berpijak di lantai dengan sepenuh kekuatanku.

Kutarik tiang tempat menggantungkan mantel yang berada didekatku. Tiang ini cukup kuat. Kukeluarkan laserku untuk menghentikan mesin itu. Tapi sial, begitu laserku keluar dari balik telapak tanganku, lubang hitam itu langsung menghisapnya. Benda- benda kecil disekitarku sudah berhamburan.

Krek.. Aiish! Tiang ini akan patah!

Trakk! Tiangnya patah!

Tubuhku melayang cepat terhisap kedalam lubang hitam itu!

“ Aaarghh!”

0o0o0o0o0o0o0o0o0

Ciip-Ciip..

Itu.. Suara kicauan burung?

Panas…

Perlahan kubuka mataku. Cahaya terang menyinariku. Kusibakkan rerumputan yang menutupi wajahku.

Eh, rerumputan?!

Aku langsung bangun dan membeku begitu melihat kesekelilingku. Aku.. Ada di tengah- tengah padang rumput? Dimana aku?

Jdor!

Suara tembakkan!

Burun- burung berterbangan berhamburan dilangit dari dalam hutan. Apa itu?

Aku langsung berdiri. Sebelumnya aku menatap sesuatu yang ada dalam genggamanku. Obat yang diberikan Heechul tadi. Tinggal beberapa kapsul. Tutupnya terbuka. Obat lainnya hilang. Aku langsung memasukkannya kesaku bajuku dan berlari masuk kedalam hutan.

Pendengaranku cukup baik. Dengan mudah aku bisa menemukan dimana asal suara itu. Aku berdiri dibalik sebuah pohon dan menatap seorang namja bertubuh kekar sedang membidikkan senapan panjanganya kearah pohon.

Dor! Bunyi letupan itu terdengar lagi. Pohon yang dibidik itu langsung bolong.

Pakaian namja itu, berbeda dengan pakaian dari masaku. Aku terhisap masuk kedalam mesin Yesung. Jadi, sekarang aku terlempar ke masa lalu!

“ Ukh..” Tiba- tiba aku merasakan sesuatu menusuk jantungku.

Aiish.. Sialan.. Racun itu mencoba menyebar lagi.

Brugh! Tubuhku terjatuh ketanah.

“ Siapa itu?!” Namja itu menoleh kearahku. “ Siapa kau?!” Ia menatapku kaget lalu berlari menghampiriku. Ia nggak langsung membantuku. Ia hanya memandangiku bingung.

Kuambil botol obat di dalam saku bajuku. Aku mengeluarkan satu kapsul dan segera menelannya.

“ Uggh..” Sakit sekali.. Aku benci rasa sakit saat racun ini mencoba membunuhku lagi.

“ Gwa-gwaenchanayo?” Namja itu duduk disampingku dan membantuku duduk. “ Kau siapa? Kenapa pakaianmu aneh begitu? Kau.. Sakit..? Wajahmu kok pucat sekali?”

Aku nggak bisa menjawabnya semua. Rasa sakit ini membuatku sulit bicara.

Ah.. Perlahan pandanganku memudar. Sedetik kemudian, hanya kegelapan yang kulihat.

0o0o0o0o0o0o0o0

Lagi- lagi saat kubuka mataku, aku berada ditempat yang aneh. Aku langsung bangun dan menatap kesekelilingku. Aku berada didalam sebuah tenda. Tenda siapa ini? Perlahan kusentuh dadaku. Sudah nggak terasa sakit. Obatnya sudah bereaksi.

Ah, lalu apa yang harus kulakukan? Aku ada dimasa lalu. Bagaimana caranya aku pulang?

“ Kau sudah sadar?” Namja yang tadi kulihat sedang menembak masuk kedalam tendanya sambil membuka penutup tendanya. Membiarkan cahaya matahari masuk kedalam. “ Kau tiba- tiba pingsan, aku kaget tadi. Jadi kubawa aja kau kesini.”

“ Go-gomawo..” Balasku sambil memperhatikan raut wajah namja itu.

“ Ah, Kim Kangin imnida. Kau siapa?” Ia duduk disampingku dan menatapku penuh penasaran.

“ Kim Leeteuk.” Jawabku singkat.

Namja bernama Kangin itu menyentuh bajuku dengan tatapan ingin tahu. “ Kenapa pakaianmu sangat aneh. Aku belum pernah melihatnya. Ini model baru, ya? Kalau kulihat dari wajahmu, kau seperti artis atau model. Aku benar?”

Otomatis aku tertawa kecil mendengar pertanyaan itu. Artis? Model? Yang benar saja.

“ Kok tertawa? Aku bener, ya? Ah, kalau kau memang artis aku minta foto bareng, kali aja bisa aku pamerin sama teman- temanku.” Kangin nyengir menatapku. Tatapan matanya polos tapi terlihat tegas dan lucu. Namja yang manis.

Aku langsung menggeleng. “ Aku bukan artis.”

Raut wajahnya langsung berubah nggak percaya. Ia cemberut masih dengan ekspresi yang lucu. “ Ah, masa sih. Wajahmu cantik, lho.. Kau pasti bisa pacaran dengan artis namja yang keren.”

Aku diam mendengar ucapannya. “ Apa? Artis namja?”

Kangin mengangguk.

“ Mian, Kim Kangin.” Kutatap dia serius. “ Aku ini namja, lho.”

Mata Kangin langsung melotot. “ Na-namja?! Bohong! Ka-kau cantik dan mirip yeojya, aku kira kau yeojya!” Kangin langsung melirik kearah dadaku. “ Rata, sih.. Aku nggak sadar waktu menggendongmu. Kau terlalu cantik sebagai namja.”

Itu pujian atau sindiran? Aku memang biasa dibilang cantik. Tapi ini pertama kalinya ada yang berpikir aku ini yeojya. Seharusnya aku marah, kan? Tapi.. Lupakanlah.

Kangin menyodorkan botol air mineral kearahku. “ Oke, aku minta maaf. Lain kali aku akan hati- hati. Silahkan minum, kelihatannya kau nggak sehat. Tadi kau pingsan, kan?”

Kuambil botol yang disodorkan Kangin. Langsung kutenggak habis air dalam botol itu. Kutatap lagi Kangin lebih serius. Kurasa, nggak ada salahnya kalau aku cerita. Tapi agar dia nggak panik, aku harus memancarkan ion negative lagi.

Kupusatkan tenagaku..

“ Nae, Kangin-ah.. Sebenarnya aku adalah manusia yang datang dari masa depan.” Mulaiku pelan- pelan.

Lagi- lagi Kangin tersentak. Tapi dia nggak kaget atau berkata aneh- aneh. Dia tenang. Ion negative-ku bisa mengendalikan emosinya.

“ Maksudmu?”

Aku mengangguk pelan. “ Aku adalah manusia yang datang dari masa depan. Tepatnya tahun 4011. Aku terhisap masuk kedalam mesin waktu milik dongsaengku dan terlempar kesini. Dan sekarang aku nggak tahu harus bagaimana..”

“ Kau nggak bisa pulang?”

“ Begitulah.” Aku merunduk dan bergerak keluar dari dalam tenda kecil itu. Kami berada didalam hutan. Sisa api unggun berada tak jauh dari tenda. Kangin mengikutiku keluar dari tendanya.

Dia menatapku bingung. “ Memangnya masa depan itu benar- benar ada? Sekarang kan masih tahun 2011. Kok bisa kau datang dari tahun 4011?”

“ Kami memiliki mesin waktu dan kadang pergi ke masa lalu. Mungkin terdengar mustahil dan konyol. Tapi memang itulah kenyataannya.” Jelasku lagi lebih singkat agar namja ini mudah mengerti.

Kangin nggak menimpali ucapanku. Matanya terus memandangiku curiga dari atas sampai bawah.

“ Aku nggak memintamu untuk percaya, Kangin-ah.”

“ Memangnya aku bilang aku nggak percaya!” Ucapan Kangin membuatku sedikit terkejut juga. Kangin menatapku serius dengan tatapan matanya yang agak sangar. “ Aku percaya, kok.”

Aku masih memandanginya. Apa benar dia percaya?

“ Kenapa kau percaya padaku?” Tanyaku akhirnya.

Kangin mengalihkan wajahnya dariku dan menengadah menatap langit sebentar. Lalu ia menatapku lagi sambil tersenyum. “ Karena kelihatannya kau bukan orang yang suka berbohong. Jadi aku percaya padamu.”

Satu kalimat itu membuat hatiku merasakan sesuatu yang aneh.

Dia percaya dengan apa yang kukatakan.. Padahal ini pasti hal yang sulit diterima oleh manusia semacam dia. Tapi dia percaya padaku.. Dipertemuan pertama kami..

0o0o0o0o0o0o0o0

“ Berapa umurmu?” Tanya Kangin sambil melempar sebatang kayu yang cukup besar kedalam api yang berkobar didekat kami.

Malam sudah menjelang. Udara di dalam hutan terlalu dingin. Dan sejujurnya, tubuhku nggak bisa menerima ini. Kesehatanku masih belum stabil.

“ Dua puluh delapan.” Jawabku sambil merapatkan jaket yang tadi diberikan Kangin padaku. Lucu juga melihat diriku sendiri memakai jaket tebal milik manusia masa lalu dan dipadukan dengan baju panjangku yang benar- benar berasal dari masa depan.

Kangin megerucutkan bibirnya bête.

“ Waeyo?”

“ Kukira kau lebih muda dariku. Ternyata kau jauh lebih tua. Berarti seharusnya aku memanggilmu hyung.” Jelasnya.

“ Berapa umurmu?”

“ Dua puluh enam.” Jawabnya singkat dengan nada gusar. Sepertinya dia benar- benar kesal karena aku jauh lebih tua darinya.

Kangin mendengus kesal. “ Baiklah, hyung.. Bagaimana caranya kau kembali ke masamu?”

Dia akhirnya bertanya juga. Aku hanya tersenyum miris lalu menggeleng. “ Aku nggak tahu. Mungkin sekarang para dongsaengku sedang bingung mencariku. Aku terhisap secara tiba- tiba dari rumahku. Tanpa persiapan apapun. Jadi, aku juga nggak punya persiapan untuk pulang.” Benar, nggak ada jalan pulang. Satu- satunya benda yang kubawa hanya beberapa senjata yang kumasukan dibalik telapak tanganku.

Kangin berdiri dan duduk disampingku. “ Seandainya bisa, aku ingin membantumu.”

Kutatap dia sambil tersenyum. “ Gomawo, Kangin-ah.”

Kangin kembali memandang lurus ke arah api unggun. “ Masa depan pasti keren banget, deh.. Aku jadi ingin kesana. Kalau kau pulang, boleh aku ikut, hyung?”

Aku langsung tertawa.

“ Kok ketawa lagi?”

“ Jangan Kangin-ah.. Manusia masa lalu nggak bisa berada dimasaku dalam waktu yang lama. Kita memang sama- sama manusia, tapi kita berbeda.” Jelasku lagi masih sambil tertawa pelan.

Argh.. Jantungku sakit lagi!

Sial.. Racun dan penyakit ini benar- benar membuatku nggak bisa berbuat apa- apa. Kalau bukan karena obat yang untung terbawa, aku pasti sudah sekarat.

“ Hyung.. Gwaenchanayo?” Kangin menyentuh bahuku pelan- pelan. “ Kau kelihatan kesakitan? Apa ada yang sakit?”

Aku menggeleng pelan tanpa menjawab pertanyaannya. Segera kuambil obat yang masih tersisa. Tinggal beberapa kapsul lagi. Kalau kapsul itu habis dan aku masih berada disini, aku akan mati. Aku nggak mau berakhir disini!

Aku langsung mengambil satu kapsul dan menelannya.

“ Ukh..” Ringisku lagi. Setiap racun ini mencoba menyebar, rasanya benar- benar tersiksa. Nggak ada cara untuk membersihkan racun yang bersarang di jantungku. Sejak aku sakit waktu itu, aku semakin tersiksa. Setiap saat, racun ini suka mencoba menyebar.

Setelah menelan kapsul itu, perlahan rasa sakit itu berkurang. Aku nggak boleh pingsan.

“ Apa yang terjadi? Wajahmu pucat sekali, hyung..” Kangin menatapku khawatir.

“ Gwaenchana, Kangin-ah..” Balasku sambil tersenyum menatapnya. Meski sekarang nggak ada dongsaeng- dongsaengku. Setidaknya aku tetap nggak sendirian. Ada Kangin disini. Meski baru mengenalnya tadi, aku rasa aku boleh mempercayainya.

Kangin masih menatapku khawatir. “ Tapi wajahmu pucat sekali.”

“ Sudahlah..” Balasku sambil mengusap kepalanya.

Kangin mengelak dan cemberut. “ Aku bukan anak kecil, hyung.”

Aku tertawa pelan. “ Tapi kau tetap lebih muda daripada aku.” Godaku sambil mencoba mengusap kepalanya lagi, dan Kangin bergerak menjauhiku. Tawaku semakin pecah tapi aku langsung menenangkan diriku sendiri. “ Lalu, apa yang kau lakukan disini? Tadi sore kulihat kau sedang menembak, kan?”

Kangin mengangkat bahu. “ Aku suka menembak dan kadang aku suka menginap di hutan beberapa hari untuk latihan.” Jawabnya santai sambil kembali melemparkan satu batang kayu kedalam api unggun.

“ Kapan kau pulang?”

Kangin kembali mengangkat bahu. “ Mungkin lusa. Wae?”

Lusa.. Itu artinya aku akan berpisah dengannya, kan? Apa para dongsaengku sudah menemukan cara untuk datang kesini. Mesin itu kan rusak, aku juga nggak bisa dideteksi berada dimana. Nggak ada yang tahu dimana keberadaanku.

Tiba- tiba kurasakan sentuhan tangan Kangin dibahuku. Aku menengadah menatapnya. Sejak kapan dia dibelakangku.

Kangin tersenyum. “ Sudah malam, hyung.. Kau tidur saja di tenda. Biar aku yang berjaga disini.”

Aku berdiri. “ Apa boleh begitu? Aku juga bisa berjaga Kangin- ah.. Kau lupa kalau aku ini manusia dari masa depan? Aku lebih kuat daripada kau, Kangin-ah..”

Kangin hanya tersenyum sambil menarikku masuk kedalam tenda. “ Tapi setidaknya kau sedang sakit dan aku sehat. Lagipula sekarang kau dimasa lalu, hyung.. Ini wilayah kekuasaanku, kau harus menurut.” Ia mendorongku agar tertidur dan mengusap kepalaku lembut lalu keluar dari tenda.

Ini pertama kalinya aku diperlakukan seperti anak kecil..

0o0o0o0o0o0o0o0o0

Aiish.. Lagi- lagi dadaku terasa sesak sekali.

Jam berapa ini..?

Aku bangun dan mencoba menatap keatas tenda. Kelihatannya diluar masih sedikit gelap. Dimana obatku?

Sakiit…

Mana obatku!

Aku mencoba mengambil botol obat di bajuku. Tanganku mulai gemetar. Saat botol itu berhasil kukeluarkan dari saku bajuku, botolnya jatuh. Sial banget aku!

Kapsul- kapsul itu berjatuhan cukup jauh dari tempatku duduk.

“ Aargh!” Tubuhku nggak kuat untuk bergerak! Lemas dan sakit.. Semua jadi satu. Aku tersaruk diatas tanah yang dilapisi bawah tenda.

“ Kang..in..” Kucoba memanggil orang yang mungkin saja bisa membantuku.

Nggak ada balasan. Apa dia tertidur?

Tanganku bergerak menyentuh tenda dan mengguncangkannya pelan. “ Kangin-ah…” Suaraku semakin lemah.

Aku merasa kesadaranku semakin jauh. Aku nggak boleh pingsan, kalau aku pingsan sekarang, nggak akan ada yang bisa menyembuhkanku. Ingat Kim Leeteuk, disini itu masa lalu! Nggak ada Kibum ataupun Siwon yang bisa menyembuhkanmu!

“ Kangin-ah..” Sakit sekali.. Rasa sakit ini semakin mencekikku!

“ Hyung!” Aku mendengar suara Kangin memanggilku. Kurasakan tangannya yang kekar mengangkat tubuhku dan aku masih bisa melihat wajahnya yang menatapku cemas. “ Wa-waeyo, hyung? Sakit lagi?”

“ O-obat..” Suaraku tertahan.

Kangin langsung mengalihkan pandangnnya kesekeliling tenda. Tangannya dengan cepat bergerak mengambil sesuatu dan memperlihatkan satu kapsul kepadaku. “ Ini obatnya?”

Aku mengangguk lemah.

Dengan perlahan dan hati- hati Kangin memasukkan kapsul itu kedalam mulutku. Aku langsung menelannya. Butuh waktu yang cukup lama sampai rasa sakit itu menghilang. Aku harus tetap terjaga. Nggak boleh pingsan lagi! Kau harus kuat Kim Leeteuk!

“ Bagaimana?”

Aku nggak bisa menjawab pertanyaan Kangin. Aku hanya bisa memejamkan mataku sambil menggigit bibir bawahku untuk menahan rasa sakit yang luar biasa ini.

“ Hyung..” Kangin masih mencoba memanggilku.

Aku mengangguk lemah. Setidaknya hanya itu yang bisa kulakukan..

“ Hyung, apa kau mau ikut kerumahku?”

Perlahan kubuka mataku menatap namja itu. “ Ka-kangin-ah..”

Kangin mengangguk. “ Aku hanya tinggal dengan dongsaengku. Kau bisa tinggal disana sampai ada orang dari masa depan yang menjemputmu, hyung.. Aku pasti akan membantumu, hyung.” Lanjutnya lagi.

Aku nggak bisa menjawabnya. Kugerakkan tanganku mencoba menyentuh wajahnya. Meski kubilang aku harus kuat, tapi nyatanya tubuh ini nggak bisa bertahan lagi. Rasa sakit itu memang sudah berkurang.

“ Gomawo..” Bisikku sambil mengusap wajah namja itu dan mencoba tersenyum.

Lagi- lagi aku nggak bisa mengingat apapun. Hanya kegelapan..

Aku masih ingin belum mati disini. Dongsaengku pasti mencemaskanku.. Masih banyak hal yang harus kulakukan. Aku harus terus bertahan sampai ada jalan pulang menuju masa depan!

.

~To Be Continued~

5 thoughts on “Past (Chapter 1)

  1. Kok bs langsung ketarik gt¿ ¿
    Teuki baik baik aja kan entar¿ ¿
    Jgn jgn adik kangin itu wookie¿ ¿sishh lanjut dah dari pada prnasaran. .Hehehe

  2. leteeuk oppa bertahanlah oppadeul yang lain pasti akan berusaha untuk mencari oppa
    jadi penasaran siapa yach adiknya kangin oppa ??? semoga aja ryeowook oppa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s