Anihuman // Chapter 6

Chapter 6!

Failed!

.

Henry Lau aka mochi aka koala mungil yang manis,  imut super innocent itu akuhirnya bergabung di Suju high school bersama enam anihuman lainnya. Tapi Zhoumi nggak kuliah di Seoul university, dia tetap kuliah di Incheon university. Setelah keberhasilan di ujian pertama.. Kemampuan ketujuh anihuman itu perlahan meningkat.

Dua minggu berlalu sejak ujian tahap pertama selesai dan mereka dinyatakan lulus.

“ Mochi! Kyu!” Wookie berlari menghampiri Henry dan Kyuhyun yang lagi mojok di pojokan kelas. Aiish.. Klo Sungmin lihat dan ini cerita Yaoi pasti BunnyMin itu ngamuk. Tapi sayangnya author nggak akan melakukan hal itu.

Apa yang dilakukan duo magnae itu?

Battle PSP!

Jangan tanyakan darimana Kyuhyun bisa memiliki sebuah PSP sekarang. Karena author lagi- lagi terlalu malas untuk menjelaskanya. Oke, back to story..

“ Ne, hyung? Waeyo?” Henry nggak mengalihkan pandangannya ke Wookie dan tetap serius dengan PSP kecilnya dan kadang sesekali melirik kearah Kyuhyun yang serius. Kalau ada gempa, kayaknya Kyu tetep nggak akan sadar deh.

Wookie mendelik sebal melihat dua dongsaengnya berkelakuan masa bodoh begitu.

“ Ada panggilan..” Jawab Wookie cepat.

“ Apaan?” Kedua namja itu masih nggak perduli.

“ Ada panggilan dari para DragonAni!” Seru Wookie yang mulai kehilangan kesabarannya.

“ Lalu?” Kali ini sang prince of evil yang bertanya dingin.

Nah.. Sepertinya amarah Wookie udah nyampe ujung kepala kali ini.

“ Kalian ini_”

Sret! Sebelum Wookie meledak tiba- tiba ada sebuah tangan dengan cepat merebut PSP-PSP di tangan Kyu dan Henry. Kedua namja itu langsung menengadah dan mendelik sebal menatap Sungmin.

“ Hyung!” Seru keduanya nggak terima.

Sungmin berjalan kearah jendela dan dengan tampang nggak perduli, masa bodoh, cuek bebek, emang gue pikirin, rasain lo, *banyak amat tatapannya*.. Dia menjulurkan tangannya yang memegang kedua PSP itu keluar jendela.

Set.. Perlahan dilepasnya dua PSP itu daaann~ *omaigat! Itu psp lho umin! Buat thena aja!*

Dua magna itu melotot nggak percaya. Wookie memilih mundur sedikit. Ne, dia yakin akan ada perang hebat setelah kejadian ini.

Prak! Terdengar suara dua benda jatuh menghantam tanah. Kyuhyun berhasil menangkap suara itu.

“ Omoo…” Wookie mengatupkan mulutnya dan kini sudah berdiri di ambang pintu. “ Su-sungmin hyung.. Selamat berjuang~” Detik itu juga Wookie langsung berlari meninggalkan Sungmin di kelasnya.

Duo magnae itu melotot. “ Ya, HYUNG_”

“ Jangan main- main terus! BERKUMPUL!” Potong Sungmin sebelum dua namja itu membentaknya habis- habisan. Bentakan Sungmin seratus kali lebih horror dan sukses membuat Kyu dan Henry mengkeret.

Gantian Sungmin yang melotot. “ Sekarang!” Tambahnya.

“ Ne-Ne!” Seru keduanya takut sambil denan cepat berdiri dan berlari meninggalkan Sungmin dengan sangat cepat.

“ Kelinci pemakan orang!” Jerit keduanya bersamaan.

(Kelinci pemakan orang? Jadi inget Wookie in Wonderland.. *author promosiin fict lama* lol)

0o0o0o0o0o0

Ketujuh anihuman itu duduk di atas batang pohon besar yang ada di belakang taman sekolah. Kenapa di atas pohon? Karena kalau mereka berbicara dibawah dan dilihat orang, itu akan mengundang perhatian. Secara sekarang ada Heechul dan Siwon yang ikut bergabung.

“ Jadi, kapan ujian tahap keduanya?” Tanya Kibum penasaran. “ Apa sekarang? Tapi.. Nggak hujan lho.. Berarti kita nggak bisa masuk ke wilayah DragonAni, kan?”

Siwon mengangguk sambil tersenyum. “ Memang bukan sekarang. Kami kesini karena ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting.”

“ Apa?” Donghae menatap namja itu penasaran.

“ Sesuatu tentang ujian berikutnya..” Sang cheetah manusia itu mendengus sambil menyibakkan rambutnya yang panjang sebahu. Gaya yang elegan, untung dia itu mirip yeojya. “ Kali ini.. Nggak akan melibatkan para pengasuh kalian lagi.”

“ Jinjja? Huff.. Syukurlah..” Henry mengelus dada tanda lega. “ Aku mana bisa melibatkan Mimi ge lagi.. Aku nggak mau dia terluka kayak kemarin itu..”

Tersungging senyuman misterius di wajah Siwon dan Heechul dan hanya Sungmin yang menyadari senyuman itu. Namja itu menatap tajam kedua pengawas ujiannya. Mencoba mengartikan senyuman itu.

“ Kalian bersiaplah.. Ujiannya akan datang dua hari lagi.” Heechul berdiri sambil berpegangan di batang pohon.

Whuush! Perlahan api muncul dari kakinya. Bergelung menyelimuti tubuh tingginya dan lagi- lagi ia berubah menjadi cheetag cantik yang menakutkan.

“ Ayo pergi Siwonnie..” Dengan gesit cheetah itu meloncat turun ke bawah pohon dan berlari bagaikan cahaya meninggalkan mereka.

Siwon berdiri. Kali ini api berwarna putih ikut menyelubunginya. Sososk kuda bersayap  itu kembali terlihat. Dengan sopan Siwon mengangguk sekali. “ Sampai bertemu nanti.” Ucapya sambil mengepakkan sayapnya dan terbang menjauh.

Kini ketujuh anihuman itu langsung saling berpandangan bingung. Kecuali Sungmin, mata kelincinya menatap lurus ke Siwon yang semakin menjauh dan akhirnya hilang. Dia memang merasakan sesuatu yang buruk. Sepertinya ujian tahap kedua akan menjadi ujian yang sangat menyusahkan.

“ Waeyo, hyung?” Hyukkie mengguncangkan lengan Sungmin dan langsung meloncat turun. Ia menengadah keatas menatap teman- temannya yang masih duduk diatas pohon. “ Ayo turun! Sebentar lagi bel masuk!”

Pertama Wookie dan Henry yang meloncat turun. Barulah disusul oleh Kibum, Donghae, dan Kyuhyun. Sungmin masih bertengger.

“ Ooy, hyung! Cepat turun!” Seru Hyukkie lagi.

“ Ne..” Jawab Sungmin pelan sambil meloncat turun.

“ Waeyo?” Kibum menatap hyungnya penasaran. Kibum kan yang paling sensitive, jadi wajar kalau dia bisa membaca pikiran Sungmin hanya dengan melihat raut wajahnya aja. “ Apa ada sesuatu terjadi, hyung?”

“ Ani, Kibummie..” Sungmin tersenyum. Senyum pura- pura. “ Anything is ok..”

Kibum berdiri diam sedangkan Sungmin berjalan menyusul rekan anihuman mereka yang lain. Kibum tahu ada yang nggak beres.

Plok! Sebuah tangan menepuk bahu Kibum.

Kibum menoleh dan melihat Donghae masih disampingnya dan tengah menatap lurus ke Sungmin dan yang lainnya yang semakin menjauh.

“ Bagaimana menurut hyung?” Tanya Kibum.

“ Aneh. Semoga aja nggak akan terjadi sesuatu yang buruk.” Ucapnya serius dan langsung berjalan mendahului Kibum. Dengan langkah penasaran Kibum berjalan menyusul hyungnya itu. Namun matanya tetap lurus menatap kearah Sungmin.

0o0o0o0o0

~Leeteuk pov~

Kutatap ketiga dongsaengku itu sekilas, lalu kembali menyiapkan makan malam sedangkan ketiganya sibuk dengan buku pr masing-masing. Ne, anihuman itu nggak terlalu memahami pelajaran manusia, jadi ketiga dongsaengku itu harus belajar ekstra dirumah. Kecuali Kyuhyun.. Sejak dia mengenal yang namanya PSP, benda itulah yang selalu melekat ditangannya. Menyesal aku membelikannya PSP karena melihatnya tertarik dengan PSP milik Henry. Bahkan saat memainkannya punya Henry, Kyuhyun nggak mau gantian.

Kibum memutar pensil mekaniknya dan sesekali menggigit ujungnya.

Raut wajahnya kebingunan dan nggak serius. Sedangkan Donghae.. Aku nggak bisa melihat raut wajahnya karena dia duduk membelakangiku. Namun aku yakin wajahnya jauh lebih kelihatan mumet dari Kibum.

Ketiga dongsaengku itu.. Sedang nggak ingin belajar rupanya..

“ Ne, hyung..” Akhirnya kulihat Kibum meletakkan pensilnya dan menatapku. Hyaa.. Aku sudah menunggu saat ini. Saat dimana para dongsaengku bercerita tentang keadaan mereka disekolah. Aku kok jadi merasa kayak ibu- ibu yang baru menyekolahkan anaknya aja, yaa..? Hhehe

Kubawa panci sup yang tadi kumasak keatas meja makan dan duduk dihadapan Kibum dan Kyuhyun, sedangkan Donghae duduk di sampingku. “ Oke, aku tahu ada yang mengganggu pikiran kalian. Sekarang tutup buku kalian, kita makan malam sambil bicara..” Titahku akhirnya. Mutlak! Aku nggak suka mereka membantah.

Donghae dan Kibum pastinya langsung menurut. Berbeda dengan evil magnae itu.

“ Kyu..” Panggilku datar.

“ Sebentar!”

Kuputuskan untuk melirik Kibum. Menurut cerita dongsaengku itu, tadinya PSP itu sudah hancur karena dilempar Sungmin dari jendela. Tapi Kyuhyun dan Henry membetulkannya dengan kekuatan anihuman mereka.

Aku tahu Kibum memahami tatapan mataku. Ia langsung meraih PSP Kyuhyun dan menyerahkannya padaku. Si evil kelihatan kesal.

“ Ne, makan dulu.” Ucapku sambil melirik Donghae yang ternyata sudah mulai makan. Kutatap lagi Kyuhyun yang merengut dan mengambil supnya. “ Oke, ceritakan apa yang terjadi hari ini? Kalian kelihatan bingung.”

Kudengar Donghae menghela nafas. Saat kulihat dia, dia nggak lagi memakan supnya, melainkan memainkan sendok supnya. “ Hyung.. Tadi Heechul hyung dan Siwon hyung menemui kami disekolah..” Mulainya ragu.

Aku mengerutkan kening. “ Siapa mereka?”

Donghae menatapku. “ Si cheetah dan kuda terbang dari DragonAni.” Jawabnya singkat dan kubalas dengan anggukan mengerti.

“ Ujian berikutnya dua hari lagi.” Lanjut Kibum.

Dua hari? Cepat juga ya..

“ Kalau begitu kenapa kalian murung? Bukannya semakin cepat ujiannya, kalian akan semakin cepat lulus?”

Kyuhyun berdecak sebal sambil menggetok ujung mangkuknya dengan sendok. “ Ya, hyung.. Yang jadi masalah, ujiannya itu pasti lebih gila- gilaan dari ujian tahap pertama kemarin.” Jelasnya. “ Mereka bilang nggak akan melibatkan hyungdeul pengasuh ke ujian dan kami harus mempersiapkan diri.” Lanjut magnae itu.

Kuputar arah pandanganku yang kini menatap Kibum yang kelihatan resah.

“ Memang dia bilang nggak akan melibatkan para pengasuh.. Tapi aku tetap saja khawatir..” Ucapnya.

Aku tersenyum sambil mengusap kepala Donghae yang berada di sebelahku. “ Kalian jangan lemah begitu. Hwaiting! Aku tahu seperti apapun ujiannya, kalian pasti bisa. Karena kalian dongsaengku.” Ucapku dan dibalas oleh senyum manis dari ketiga dongsaengku itu.

~Leeteuk pov end~

.

~Yesung pov~

“ Wookie.. Sudah selesai?” Aku masuk ke dalam dapur untuk melihat keadaan dongsaengku yang sedang memasak itu. Yapz, Wookie itu koki di apartemenku ini. Kulihat namja itu meletakkan sebuah piring besar berisi kimchi diatas meja makan. Dan si monkey Hyukkie langsung berlari melewatiku ke dalam dapur.

“ Yay!” Serunya senang sambil mencomot kimchi buatan Wookie.

Aku dan Sungmin ikut bergabung dengan Hyukkie dan Wookie.

“ Oh, iya hyung..”

Kutatap Sungmin yang mulai bicara sambil mengunyah. Ia menelan makanannya cepat dan menatapku lagi. “ Dua hari lagi ujian tahap kedua, lho..”

Jinjja? Dua hari lagi?

“ Benar!” Seru Hyukkie cepat. Kutatap dia yang duduk disebelahku. “ Dua hari lagi.. Tadi si cheetah cantik dan kuda terbang keren itu menemui kami, hyung.. Nah, sampai ujian tiba hyung harus jaga diri.”

“ Wae?” Aku mengerutkan kening bingung. “ Apa mereka akan melibatkanku, Teukie hyung dan Zhoumi?” Tanyaku sambil mulai memakan kimchi buatan Wookie yang terlalu enak. Yap, dongsaengku ini memang jagonya deh.

Wookie menggeleng. “ Katanya sih enggak.”

“ Tapi hyung tetap harus berhati- hati.” Sungmin memotong Wookie dengan tampang sangat serius. Kutatap dongsaeng tertuaku yang bertampang aegyo itu. Dia kelihatan cemas dan memikirkan sesuatu.

Aku nggak mau melihat dongsaengku seperti itu.

“ Waeyo, Minnie?” Tanyaku pelan.

“ Sejak tadi di sekolah Minnie hyung aneh.” Lanjut Hyukkie.

Benar. Memang ada yang aneh dengan dongsaengku itu. “ Kalau ada yang kau pikirkan, ceritakan saja, Minnie.. Aku sama yang lain pasti dengar kok. Apa masalah cinta?” Godaku sekali dan Sungmin menatapku gusar.

Dua dongsaengnya terkekeh pelan.

“ Hyung!”

Aku ikut tertawa. “ Ya, makanya cerita. Ada apa?”

Kulihat namja itu menggaruk kepalanya dengan ujung sendoknya. “ Aku sebenarnya nggak terlalu paham apa yang mereka rencanakan untuk ujian tahap kedua. Tapi aku curiga karena mereka bilang nggak akan melibatkan para pengasuh. Aku tahu mereka merencanakan sesuatu.. Makanya hyung harus tetap waspada..”

Yah, ampun.. Jadi itu kecemasan Sungmin?

Dia mengkhawatirkanku. Dongsaeng yang amat manis..

“ Ne, gomawo.. Aku pasti akan waspada. Jangan khawatirkan aku, Minnie.. Wookie dan Hyukkie juga.. Kalian hadapi ujian semampu kalian. Aku ingin impian kalian sebagai anihuman sempurna terwujud.” Balasku sambil tersenyum dan memandangi ketiga dongsaengku satu- satu.

Tentu aja mereka nggak usah mengkhawatirkanku..

Justru akulah yang boleh mengkhawatirkan mereka. Mereka kan dongsaengku. Dan aku sudah menganggap mereka sebagai dongsaengku sendiri.

~Yesung pov end~

.

~Zhoumi pov~

“ Ya, Mochi.. Cepat habiskan makananmu!” Kutarik mangkuk kotor bekasku makan ramen tadi (menu makan malam paling tragis dibanding dua kelompok lainnya. XD). Ya, memang aku yakin dia bosan makan ramen terus. Habis mau gimana lagi? Mochi kan sama sekali nggak bisa memasak, dan aku sibuk banget. Jadi inilah menu makan malam kami yang udah jadi menu utama tiap hari. Aiish.. Coret! Maksudku terkadang aja.. hanya menu dari senin sampai minggu.. #plakk *sama aja oppa!*

Mochiku tersayang tampak nggak memperdulikan ucapanku. Ia mengaduk ramennya malas. Apa dia ada masalah disekolah?

“ Mochi? Ada masalah?” Akhirnya aku kembali duduk dan menatap dongsaengku itu penuh perhatian. Dia pasti sedih sekali.. Pasti ada masalah berat yang menghadangnya. Ne, dongsaeng.. Aku ada disini, kok..

Perlahan Henry mengangkat wajahnya menatapku.

Kupasang senyum paling sempurna bertenaga satu milyar volt yang bisa menghanguskan hati setiap orang yang memandangnya, termasuk si author gaje itu. Dan Henry pasti akan merasa lebih baik dengan senyumanku.. *oppa.. narsis juga ada batasnya tau!*

Henry kembali menunduk.

What? Gagal?

“ Henly.. Ceritakan padaku kalau ada masalah..”

“ Masalahku hanya satu gege..”

“ Ne, wae?” Aku masih berusaha bersikap lembut dan bijaksana. Ini kan cerminan hyung terbaik abad ini.

Henry kembali menatapku dengan tatapan nelangsanya. “ Masalahku.. Aku bosan sama ramen..

Gubrak! Brak! Bratak! Tuung! Tuung! Tuung! Kain! Meoong~ (??) *author mati dilempar tepung*

Bugh!

“ Aiish! Sakit Mimi ge!”

Aku berdiri sambil merenggangkan tanganku yang tadi kupakai mengeplak kepala dongsaeng terimutku itu. (pembalasan dendam zhoumi yang digeplakin Henry di I Won’t do it ternyata berlangsung di ff ini. Lol *author mencoba promosi lagi*)

Aku langsung mencucui mangkuk kotor beserta peralatan dapur lainnya.

“ Mimi ge~”

Aku masih diam.

“ Mimi ge~ maaf.. Yaudah.. Aku ikhlas deh tiap hari makan makanan nggak bergizi model gini. Aku ikhlas deh kalau badanku nant jadi sekurus Mimi gege.. Tapi jangan cuekin aku, yaah..”

Kutolehkan kepalaku menatapnya yang tengah nyengir kuda, memamerkan deretan gigi putihnya. “ Koreksi, aku nggak kurus. Aku berotot.” Ujarku sambil melanjutkan aktivitasku. Dan aku hanya mendesah kesal saat kudengar kue mochi itu tertawa.

“ Ya, gege..” Perlahan kurasakan mochi memelukku dari belakang.

What?

“ Heyo, waeyo? Jangan begini.. Kau sakit, ya? Minta dimanja?”

“ Mimi gege..” Jantungku berdegup keras saat Henry memanggilku dengan selembut itu. Kenapa dengannya? Apa benar dia agak sakit?

“ Na-nae..?”

“ Saranghae~” #duagh! Stop! Ini bukan fict yaoi!! Oke! Cut! Mulai lagi.. Hayo.. Mimi-Henly! Action!

“ Na-nae..?”

“ Gege harus jaga diri yaa.. Aku nggak mau gege dan yang lainnya kena masalah lagi karena ujian kami. Aku nggak mau lagi gege..” Suaranya terdengar parau.

Aku langsung melepaskan pelukan Henry dan memutar tubuhku untuk menatapnya. Sejak ujian yang nyaris membunuhku dan kedua hyungku, ini pertama kalinya mochi kelihatan khawatir. Setelah ujian itu dia nggak membahas tentang keadaanku, aku juga nggak. Karena aku tahu kalau kubahas, mochi pasti kepikiran.

“ Gwaenchanayo, dongsaeng?” Tanyaku pelan.

“ Aku.. Hanya khawatir dan takut. Aku benar- benar nggak mau kalau ujian kami sampai melibatkan para hyung dan membuat kalian nyaris mati.” Jawabnya ragu sambil memainkan ujung kaus panjangnya.

Aku kembali tersenyum. “ Tenanglah, Mochi.. Aku nggak akan kena masalah. Kau harus fokus ke ujianmu.” Kuusap kepala koala-ku lembut dan dia menengadah menatapku sambil tersenyum polos.

“ Gomawo, gege..”

“ Ne.”

Yah, seenggaknya dia nggak sedih lagi. Kenapa tiba- tiba dia bilang begtu ya?

~Zhoumi pov end~

0o0o0o0o0o0

Zrrrsss~ Hujan lebat mengguyur Seoul.

Leeteuk berdiri di depan gedung fakultasnya sambil menengadah menatap hujan itu. “ Hujan.. Apa ini saatnya ujiannya akan dimulai.. Kenapa para dongsaengku nggak mengabariku? Apa benar kami para pengasuh nggak akan dilibatkan lagi?”

Namja itu kelihatan ragu dengan keadaannya sekarang. Sejujurnya perasaannya nggak enak. Disaat begini seharusnya ketiga dongsaengnya itu masih di sekolah.

Ia ingin menemui Yesung, tapi sialnya saat ini Yesung nggak ada jadwal kuliah.

Jadilah Leeteuk hanya sendirian memandangi langit yang gelap karena mendung.

Sedangkan Yesung..

Namja itu menyerupuy teh hangat sambil berdiri di depan jendela. Ia paham arti dari hujan ini. Mata sipitnya menatap ke arah jam dinding di kamarnya. Jam satu siang.

Perlahan ia menghela nafas. “ Ne, na dongsaengdeul hwaiting..” Ucapnya pelan.

Sedangkan disaat yang sama seorang namja sedang berteduh di depan etalase sebuah toko. Ia lupa membawa payung. Bukan itu alasannya.. Sekarang kan memang bukan musim hujan, makanya dia nggak bawa payung.

Mata tajamnya menatap langit.

“ Apa ini alasan Henly bersikap aneh dua hari yang lalu? Ujian tahap kedua, yaa..” Gumamnya. Tangannya dengan lincah mengetik pesan ke dua nomor yang berbeda. Nomor Leeteuk dan Yesung.

Kalian ada dimana? Apa kita nggak harus ikut lagi?

Ia langsung mengirim pesan itu dan kembali menatap langit dengan datar.

.

Ketujuh anihuman itu kembali berada di kastil milik kelompok DragonAni bersama dengan empat orang anihuman sempurna dan pemimpin mereka. Sang naga, Hankyung.

“ Kalian sudah siap untuk ujian tahap kedua?”

Ketujuhnya mengangguk.

“ Cepat saja katakan pada kami.” Tantan Kyuhyun nggak sabaran.

Hankyung menyunggingkan senyumannya. Dan melihat senyum itu kali ini Sungmin merinding. Bukan hanya dia, Wookie, Henry dan Kibum juga bisa melihat makna lain dari senyuman itu.

“ Ada yang aneh..” Bisik Kibum pada Donghae yang nggak menyadari apapun. “ Kurasa ujian tahap kedua juga akan sama susahnya. Bahkan.. Lebih..”

“ Itu sih udah pasti Kibummie..” Balas Donghae sambil menggenggam tangan dongsaengnya. “ Tenanglah.. Seperti apapun ujiannya, kita akan saling membantu.”

Kibum mengangguk pelan sambil melirik ke anihuman lainnya yang sama- sama tegang.

Wookie secara reflek merapat ke sisi Sungmin dan menarik samar ujung kemeja hyungnya itu. “ Hyung.. Aku sedikit paham dengan yang kau maksudkan dulu.”

Sungmin dia. Satu tangannya langsung meraih Hyukkie dan Henry yang berada di dekatnya. Dia memiliki tanggung jawab penuh mengingat dirinya yang paling tua disini. “ Perasaanku nggak enak.” Bisiknya.

Karena mendengar suara Sungmin, Kibum dan Donghae memilih ikut agak merapat. Sedangkan si magnae Kyuhyun yang masih tenang sendirian.

“ Apa ujiannya?” Tanya Henry ragu.

“ Apa para hyung kami nggak usah ikut?” Kali ini pertanyaan terlontar dari Hyukkie.

Hankyung menggeleng. “ Kalau mereka ikut dan tahu, maka semua akan gagal.”

Ketujuh anihuman itu nggak paham dengan ucapan Hankyung.

Hankyung menoleh menatap keempat pengikutnya dengan tatapan penuh isyarat.

Kangin langsung maju lebih depan. “ Ujian kali ini adalah tentang sebuah pertaruhan dan timbale balik yang setimpal.” Mulainya sambil menatap ketujuh anihuman dihadapannya penuh makna.

“ Maksudnya?” Balas Donghae bingung.

Kali ini Shindong maju. “ Apa kalian bisa mempertaruhkan nyawa pengasuh itu dengan kelulusan kalian?”

“ Mwo!” Seru mereka serentak.

“ Apa maksudnya!” Seru Kyuhyun yang mulai gusar. “ Nyawa?”

Heechul dan Siwon ikut berjalan maju bersamaan. Senyum licik terpampang di wajah cheetah cantik itu. “ Kali ini ada dua jalan agar kalian langsung lulus, atau mengikuti ujian tahap ketiga.”

“ Bunuh pengasuh kalian..” Lanjut Siwon.

Saat itu juga tubuh ketujuh anihuman itu membeku. Mereka nggak percaya dengan apa yang mereka dengar. Membunuh? What? Membunuh hyung sendiri? Itu mana mungkin! Mustahil!

Hankyung tertawa pelan. “ Kalau kalian sanggup membunuh ketiga pengasuh itu, maka kalian bukan hanya lulus, tapi langsung memegang kekuasaan. Harus kalian ketahui, manusia yang mengetahui rahasia anihuman harus mati. Tapi ada jalan lain, kalau kalian berhasil melukai mereka sampai nyaris mati, kalian akan lolos di tahap kedua.”

“ Itu mustahil!” Seru Sungmin frustasi. “ Andwae! Mana mungkin aku membunuh Yesung hyung! Ini konyol!”

Keenam dongsaengnya nggak ada yang bisa bersuara.

“ Apa kalian tahu kenapa Hankyung-sshi bisa memegang daerah ini?” Heechul bertanya dengan sinis.

Sungmin menggeleng.

“ Karena dia membunuh pengasuhnya di ujian pertamanya.”

Segala macam perasaan kini bercampur dalam hati ketujuh anihuman itu. Antara marah, benci, takut, bingung, frustasi, galau dan sebagainya. Yang benar aja? Dia membunuh pengasuhnya hanya demi menjadi anihuman sempurna?

“ Apa kalian akan melakukannya?” Tanya Hankyung.

“ Andwae!” Jerit Donghae cepat. “ Aku menolak ikut ujian ini! Aku nggak akan melukai Teukie hyung satu inchipun! Dan aku yakin kalau semua temanku juga setuju dengan kata- kataku. Kami nggak akan melukai apalagi sampai membunuh mereka!”

Senyum masih menghias di wajah Hankyung. Namun kali ini senyuman dingin dan kelam. “ Ne, kalau begitu.. Kalian bertujuh.. Kunyatakan gagal dalam ujian ini. Selamat tinggal.”

Angin bertiup kencang disekeliling ketujuh namja itu dan detik berikutnya mereka sudah berada di kebun belakang sekolah. Masih hujan..

Nggak ada satupun dari mereka yang langsung berdiri. Dibiarkan mereka hujan membasahi tubuh mereka sedangkan mereka duduk di tanah yang becek dengan tampang shock.

Diantara ketujuh anihuman itu, Kyuhyun satu- satunya yang masih bisa tersenyum. Ne, tersenyum getir dan nyaris menangis. “ Kita.. gagal..?

.

.

To be continued!

2 thoughts on “Anihuman // Chapter 6

  1. Hufh dah mulai ujian yg serius,tak apalah ga2l drpd jd pmbunuh
    wlpn g pny hbng darah tp persaudaraan mrk luar biasa🙂
    Ngungsi k chap7…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s