Lost Brother

Lost Brother

.

KyuWook // Brothership

Rated :: K

.

~Kyuhyun pov~

Aku tak bisa mengingat tanggal berapa itu. Jam berapa, di kota apa, berapa usiaku saat itu, sedikitpun tak ada hal yang bisa kuingat dan kuketahui dari kejadian itu. Hanya kalimat umma yang tak pernah kulupakan sampai saat ini.

“Kyuhyun, mulai hari ini kita hanya berdua.”

Dia mengucapkannya sambil berlinangan air mata. Aku tak paham apa arti dari kata- katanya. Saat itu yang aku tahu, umma merasa sakit karena sesuatu yang tak kupahami.

Umma menepuk pundakku dan langsung memelukku. “Mianhae, chagiya. Jeongmal mianhae.” Bisiknya pilu sambil terisak.

.

“Kyu, pinjam PSP-mu.”

Kulirik Henry yang sudah duduk disebelahku dengan tampang tak bersalah sedikitpun. Bisa- bisanya namja Cina-Kanada itu tersenyum riang setelah kemarin sempat tak sengaja membanting kekasihku, PSP.

“No.” Balasku ketus sambil kembali fokus ke soal matematika yang tengah kuselesaikan.

“Oh, ayolah. Kau masih marah soal yang kemarin? Aku kan sudah minta maaf.”

“Kalau maaf saja cukup, buat apa ada polisi? Buat apa kita ikut wajib militer nanti? Buat apa ada hukum di dunia?” Balasku lagi malas sambil menggeser bukuku menjauh dari Henry. “Sana pergi.”

“Maaf ada untuk orang- orang susah seperti aku. Ayolah, kau tega.”

“Kau saja tega sama PSP-ku.”

“Tidak sengaja. Changmin sendiri yang membuatku terkejut karena sedang fokus main game, makanya PSP-mu jatuh terbanting. Aku kan dilarang menyentuh PSP satu bulan. Aku bisa mati, Cho Kyuhyunnn~” Henry mulai merengek lagi.

“Ani! Lagipula sebentar lagi bel masuk. Aku sedang hemat baterai PSP. Seve energy, tahu. Orang sepertimu mana paham makna dari go green!” Kali ini aku memutar tubuhku menatapnya sambil menjunjung kepalan tanganku.

Henry menatapku sebal. “Tumben setan sepertimu bisa memahami makna save energy dan go green.” Namja itu berdecak sambil berdiri menjauhiku. Masih bisa kudengar dia menggerutu dengan bahasa Cina.

Masa bodoh.

Sesuai dugaanku, bel masuk langsung berbunyi saat Henry meninggalkanku. Changmin langsung duduk dikursinya, disebelahku.

“Aigoo, aku belum salin pe-er. Nyontek, Kyu.”

“Makanya jangan makan saja kerjaanmu.” Balasku kesal sambil memberikan buku matematikaku kepada Changmin yang langsung sibuk menulis padahal Kim sonsaengnim sudah masuk ke dalam kelas.

Eh, tunggu!

Dia tak sendiri. Ada seorang namja bertubuh agak mungil disebelahnya. Sorot matanya kelihatan agak gugup dengan alis yang terlihat tegas. Entah kenapa dia langsung melirik kearahku dan membuang muka begitu saja.

“Anak baru?” Bisik Changmin.

Aku hanya mengangkat bahu enggan.

“Annyeong, yeorobun. Hari ini aku akan memperkenalkan seorang anak baru di kelas kalian. Silahkan perkenalkan dirimu, Ryeowook-sshi.” Ucap Kim sonsaengnim lembut sambil mendorong bahu namja itu.

Dia membungkuk sopan sekali dan menatap ke sekeliling kelas. “Annyeong haseyo. Chonun naega, Kim Ryeowook imnida. Aku baru saja pindah dari Jepang setelah tiga belas tahun tinggal disana. Mohon bantuannya.” Ucapnya sopan.

Kim… Ryeowook? Namanya seperti tidak asing.

“Nae, Ryeowook-sshi. Silahkan duduk di kursi kosong di sana,” Kim sonsaengnim menunjuk kearah kursi kosong disebelah Henry. “dan ikuti pelajaran sebaik mungkin. Jika tak mengerti, tanyakan kepada Henry-sshi.”

“Arraseo, sonsaengnim.” Kim Ryeowook membungkuk sopan sambil berjalan kearah kursi Henry yang duduk tepat didepan Changmin. Nae, kini namja itu berada di hadapanku. Dia menoleh kearah Henry juga kearah Changmin dan aku. “Annyeong.”

Tatapannya langsung terpaku saat menatapku.

Menatap wajah itu, aku juga terdiam. Kami hanya saling berpandangan selama beberapa saat sampai akhirnya Henry membuyarkan lamunan kami dan membuat Ryeowook tersenyum tipis sambil kembali menatap ke depan.

Wajahnya… Seperti pernah melihatnya entah dimana.

0o0o0o0o0o0o0o0

Sudah hampir satu bulan aku mengenal Wookie. Nae, dia menyuruh kami –teman sekelasnya- untuk memanggilnya Wookie. Dia bukan namja yang suka bersikap formal diantara namja sebayanya. Meski begitu, kenyataannya dia itu setahun lebih tua dari pada aku.

“Kau mau ke lapangan? Tim sepak bola kelas kita kekurangan satu pemain.” Changmin bersandar di mejaku.

“Ani. Aku mau disini saja main PSP.”

“Ah, baiklah. Aku akan meminta tolong sama Junsu hyung saja.” Changmin langsung berlalu meninggalkanku dan membuatku hanya berada di kelas sendirian.

Aku suka ketenangan saat main PSP.

“Kyuhyun?”

Kali ini fokus pikiranku kembali pecah karena suara itu. Kulihat Wookie berlari kecil dan langsung duduk dikursinya, dihadapanku. “Ya? Kenapa kau sendirian disini? Bukankah semuanya sedang ke lapangan?”

“Aku malas.” Balasku sambil kembali fokus ke PSP. “Main PSP lebih menyenangkan. Kau sendiri kenapa kesini?”

“Aku juga malas.” Kali ini kurasakan namja itu duduk disampingku sambil memainkan kursinya dan menimbulkan suara yang berderik- derik.

Kutatap dia. “Berisik.”

“Aku bosan.” Wookie menatapku datar. “Aku sangat bosan. Ayo lakukan hal yang menarik, Kyu.”

“Kau mengigau, eh? Aku ini paling tak suka melakukan hal apapun saat sedang main PSP.” Gerutuku sambil memutar tubuhku membelakangi Wookie dan mencoba fokus dengan PSP di tangaku.

Kudengar Wookie menghela nafas. “Aku bosan.” Ucapnya lagi pelan.

Aisshh~ Aku menyerah!

“Oke, kau bosan kenapa?” Kuputuskan untuk menyudahi game-ku dan mematikan PSP-ku lalu kembali menghadap namja bertubuh kecil itu. “Kalau kau tak bisa memberikan jawaban yang benar, aku akan mengusirmu keluar kelas.”

“Ini kan juga kelasku.” Balasnya sambil terkekeh dan menumpukan kepalanya diatas meja. “Kyuhyun…”

“Apa, sih? Kau itu suka sekali memanggil namaku, ya? Menyebalkan.” Gerutuku pelan sambil ikut menumpukan kepalaku diatas meja dan menatap wajah namja itu seksama. Setiap kali menatapnya, selalu ada sesuatu yang kurasakan.

Déjà vu.

Tangan Wookie bergerak memainkan rambutku yang agak coklat. “Kyu…” Panggilnya lagi.

“Hmm?”

“Panggil aku hyung.”

“MWO?!” Sontak aku langsung duduk shock menatapnya. “Kenapa tiba- tiba bilang begitu? Memang kau setahun lebih tua dari pada aku, tapi kita kan satu kelas. Aku menolak!” Seruku sambil geleng- geleng cepat.

Wookie agak cemberut. “Tapi aku ingin kau memanggilku hyung.” Paksanya sambil duduk tegap menatapku lekat- lekat.

“Tapi aku tidak mau.”

“Sekali saja!”

“Andwae!”

Kini kami saling bertatapan serius. Karena dia tipe yang sedikit egois, aku yang menghela nafas mengalah dan berusaha kembali bersifat lembut. “Memangnya kenapa kau ingin aku memanggilmu begitu? Tiba- tiba sekali.”

Wookie mengangkat bahu. “Molla. Rasa- rasanya sejak pertama mengenalmu, aku ingin kau memanggilku hyung. Bertemu denganmu mengingatkanku pada namdongsaengku yang juga seusia denganmu.”

Namdongsaeng?

“Kau… Punya dongsaeng?”

Wookie mengangguk sambil tersenyum polos. “Namdongsaengku itu sangat manis, manja dan bertubuh agak lemah. Dulu dia selalu mengikutiku kemanapun aku pergi meskipun dia tak paham apa yang aku lakukan.” Sorot bahagianya tiba- tiba pudar.

Waeyo?

Kini Wookie menunduk sambil menghela nafas. “Tapi sudah tiga belas tahun aku tak melihatnya.”

“Loh, waeyo? Memang kalian tidak tinggal bersama?”

Wookie menggeleng lemah. “Aku tak terlalu paham. Kata appa, saat usiaku empat tahun appa bercerai dengan umma. Dan umma diputuskan untuk merawat namdongsaengku itu. Saat itu aku dan appa langsung pindah ke Jepang dan tak pernah bertemu keduanya lagi. Barulah tahun ini kami kembali karena harabojiku meninggal.”

Aku terdiam mendengar kisahnya. Dia memiliki kisah seperti itu?

“Siapa nama namdongsaengmu?”

Kali ini Wookie benar- benar tersenyum getir kearahku sambil mengangkat bahu. “Aku tak tahu. Menyedihkan sekali, aku bahkan melupakan namanya. Aku lupa siapa nama umma. Appa tak pernah menyebutkan nama keduanya.”

Aku ikut tersentuh, perlahan kutepuk bahunya. “Sabar, Wookie.”

“Tapi setidaknya aku punya foto keduanya. Foto saat aku masih berusia dua tahun dan namdongsaengku itu satu tahun. Hanya satu foto itu yang aku miliki. Kurasa sekarang wajahnya sudah berubah menjadi sangat tampan. Aku ingin sekali bertemu dengannya.” Namja itu kini menatap lurus kedepan.

Aku tersenyum sambil mengusap kepalanya. “Kau tahu, Wookie?”

“Ngh?”

“Yang namanya saudara itu sekalipun terpisah jauh jiwanya akan tetap saling berhubungan. Meski kau lupa nama dan tak tahu wajah dongsaengmu saat ini, tapi kalian berdua itu saling berhubungan satu sama lain. Aku tahu kau pasti bisa bertemu dengannya.”

Wookie menatapku dalam. “Kyu, dari mana kau belajar seperti itu? Kata- kata yang manis.” Senyumnya sambil gantian mengusap kepalaku lembut.

“Jangan perlakukan aku seperti anak kecil!” Aku langsung mengelak darinya dan berdiri sambil menoleh kebelakang. Menatap langit yang terbentang luas diluar sana. “Itu kata- kata yang selalu diucapkan umma kepadaku.”

Kembali kutatap Wookie yang kini tersenyum sedikit lega. “Ummamu itu pasti yeojya yang sangat bijaksana, juga baik.”

“Ummaku juga cantik.” Timpalku.

Wookie tersenyum kecil. “Nae, dia pasti cantik. Kurasa kedua orang tuamu cukup hebat, habisnya kau menjadi namja yang pintar juga tampan, Kyu.”

Mendengar kata kedua orang tua, aku langsung diam dan kembali duduk. “Sayangnya…” Suaraku menghilang sejenak. Perlahan kuremas kedua tanganku karena dadaku kembali merasa sakit.

“Kyu?”

Kutatap Wookie sambil tersenyum. “Sayangnya appaku sudah meninggal sebelum aku dilahirkan.”

Sorot mata Wookie langsung berubah shock. Dia mengatupkan mulutnya dengan kedua tangannya. Matanyapun ikut berkaca- kaca. Perlahan dengan hati- hati dia memelukku erat.

“Aneh,” Bisiknya. “di dunia yang seluas ini… Kenapa aku bisa bertemu dengamu yang hampir satu nasib denganku?”

Aku hanya diam tak menanggapi ucapannya.

Aku memang baru menyadarinya sekarang. Ternyata nasibku dan Wookie tak berbeda jauh. Di dunia yang begitu luas, Tuhan mempertemukan kami. Ini takdir yang tak bisa dielakkan. Nae, takdir yang baik juga sepertinya.

~Kyuhyun pov end~

0o0o0o0o0o0o0o0o0

~Ryeowook pov~

Entah karena kami berdua kini sudah mengetahui latar belakang masing- masing atau apa, tapi kini aku dan Kyuhyun benar- benar terlihat semakin akrab. Aku sangat suka karena dia kadang bermanja- manja padaku atau sebaliknya, aku yang manja kepadanya.

Rasanya memang seperti memiliki seorang namdongsaeng.

“Wookie, kelas musik.” Kyuhyun memukul kepalaku pelan dengan buku dan berlalu begitu saja melewatiku.

Buru- buru kuambil buku partitur musik yang akan digunakan di kelas nanti. “Kyu, tunggu!” Seruku sambil mengejarnya.

Aku sangat suka kelas musik, kadang aku bisa mendengar Kyuhyun bernyanyi. Suaranya sangat indah, dan kembali mengingatkanku pada umma yang juga memiliki suara yang cukup merdu. Saat aku kecil, umma suka sekali menyanyikan lullaby kepadaku.

Sampai detik ini lirik lagunya sangat kuhapal…

“Hmmm~” Perlahan aku bersenandung lembut sambil berjalan bersama dengan Kyuhyun.

‘Disaat kau menangis, maka jangan lupakan aku. Aku selalu ada disimu.

Disaat kau sendiriri, percayalah.. Aku akan selalu ada disisimu.

Aku akan menemanimu sampai kau terlelap dan tidak takut akan apapun.

Malam ini kau akan bermimpi indah, sayangku.’

Lullaby umma…

“Wookie?”

Perlahan aku menoleh kearah Kyuhyn. “Ng?”

“Darimana kau belajar lagu itu?” Tanyanya heran sambil menatapku tak percaya. “Aku rasa hanya aku yang tahu lagu itu, tak kusangka kau juga mengetahui lagu itu.”

“Lagu apa?”

“Yang tadi kau senandungkan.”

Aku tersenyum kecil. “Aku tak tahu judul lagunya. Yang aku tahu itu adalah lullaby yang dulu sering dinyanyikan umma sebelum aku tertidur. Jadi kau juga tahu lagunya, Kyuhyun?”

Kyu mengangguk ragu. “Yang menyanyikannya kalau tidak salah bernama Kim Jongjin dan itu berjudul believe. Sejak aku kecil, umma juga suka menyanyikan lagu itu, karena itu aku juga tahu.” Dia tersenyum lembut.

Jadi ummanya Kyuhyun juga suka menyanyikan lagu itu?

“Ajaib, ya?” Ucapnya lagi. “Kurasa ummaku dan ummamu itu memiliki kekuatan batin, karena sekarang anak- anaknya bertemu den mengetahui lagu yang sama.” Namja itu langsung merangkul bahuku dan kami mempercepat langkah menuju ruang musik.

Rasanya…

Aku ingin bertemu dengan ummanya Kyuhyun.

.

Takdir itu memang sangat unik. Sejak mengenal Kyuhyun, hanya kalimat itu yang terpatri dibenakku. Pertemuan kami dan latar belakang hidup kami yang cenderung mirip, merupakan takdir yang sangat aneh.

“Aigoo, Kyuhyun mana?!” Henry langsung berlari menghampiriku yang tengah sibuk memasukkan buku ke dalam tasku.

Aku menengadah menatapnya. “Sudah pulang. Wae?”

“Sudah dari tadi apa baru?”

“Baru saja pulang. Tapi mungkin sekarang dia sudah naik bus. Waeyo, Henli?”

Henry duduk disampingku sambil mengacak rambutnya. “Aku lupa mengembalikan buku matematikanya, padahal kan masih ada tugas untuk besok. Ah, besok aku pasti diamuk sama Kyuhyun.”

“Kenapa tidak kau antar saja kerumahnya?”

“Aku ada les biola hari ini.” Henry menatapku. Perlahan matanya berubah berbinar- binar. “Wookie! Bagaimana kalau kau yang mengantarkannya?”

“Tapi aku tak tahu rumah Kyuhyun.”

Henry kembali diam, memutar otaknya.

“Ah, kau tuliskan alamatnya. Biar aku yang cari.” Usulku cepat sambil menutup tasku dan mengambil buku ditangan Henry. “Mencari alamat itu bukan hal yang sulit bagiku. Otte?”

“Good idea!” Henry dengan cepat mengeluarkan pena dan merobek secarik kertas. Dengan lancarnya dia menuliskan alamat rumah Kyuhyun dan langsung menyodorkannya kepadaku. “Maaf merepotkanmu!” Serunya sambil mengatupkan tangan.

Aku mengangguk kecil sambil membaca alamat itu.

Tidak jauh.

0o0o0o0o0o0o0o0

Kyuhyun tidak terlalu suka membawa ponsel kesekolah. Karena itu kalau ada masalah seperti ini mau tidak mau yah langsung mendatanginya kerumahnya. Dan kali saja aku bisa bertemu dengan ummanya Kyuhyun. Penasaran, sih…

Bus berhenti di halte yang kutuju. Langsung saja aku turun dan memperhatikan jalan sambil terus membaca alamat yang tadi Henry tulis. Aku berlari secepat mungkin karena kali saja bisa bertemu Kyuhyun di jalan.

Aku berbelok ke sebuah wilayah perumahan.

Dan.. LUCKY!

Aku melihat Kyuhyun berjalan sekitar seratus meter didepanku!

“Kyu_”

“Kyuhyunnie~”

DEGH! Aku berhenti.

Kulihat tiba- tiba dari sebuah jalan yang lain seorang yeojya paruh baya berjalan menghampiri Kyuhyun yang menoleh kearahnya sambil tersenyum riang. Yeojya itu membawa dua kantung belanjaan dan langsung diambil alih satu kantung oleh Kyuhyun.

Yeojya itu…

Tiba- tiba aku melihat Kyuhyun menoleh kearahku dan dia melotot kaget saat melihatku. Setelah Kyuhyun, yeojya itu juga menoleh dan dia menatapku seratus kali lebih kaget dari pada Kyuhyun.

Belanjaan ditangannya langsung terjatuh dan dia mengatupkan mulutnya tak percaya.

Aku ikut mengatupkan mulutku shock sambil perlahan bergerak mundur.

Ini tak mungkin! Tak mungkin!

“Ryeowook!” Yeojya itu berseru memanggilku.

DRAP! Dengan satu langkah aku langsung berbelok dan berlari meninggalkan tempatku mematung shock tadi.

“Wookie!!” Kali ini yang kudengar adalah suara Kyuhyun.

Aku tetap berlari secepat yang aku bisa. Ini konyol. Suara itu, wajah itu, tatapan mata itu. Meski tiga belas tahun aku tak pernah melihatnya, meski hanya melihat fotonya aku tetap bisa mengingatnya dengan jelas.

BRUGH! Tiba- tiba kakiku tersandung dan aku langsung terjatuh di jalan.

“Ukh..” Air mataku mengalir perlahan.

Ternyata… Dia ada sedekat ini denganku…

~Ryeowook pov end~

0o0o0o0o0o0o0o0o0

~Kyuhyun pov~

Kenapa umma mengenal Wookie? Apa mereka pernah bertemu sebelumnya? Reaksi umma saat melihatnya itu terlalu berlebihan. Dan kenapa Wookie langsung berlari begitu saat umma memanggilnya?

Umma bahkan menangis? Ada apa ini?

“Wookie tidak masuk.”

Aku langsung mengangkat wajahku menatap Henry yang tengah sibuk memainkan ponselnya. “Eh?”

Namja Cina itu mengangguk dan memperlihatkan layar ponselnya kepadaku. Tertulis pesan singkat dari Wookie di layarnya.

‘Aku agak demam, jadi tidak masuk sekolah.’

Dia demam? Benarkah? Atau dia tak mau bertemu denganku?

“Henry, kau tahu dimana rumahnya?”

Henry menggeleng sambil duduk dikursinya dan bersandar. “Kita kan belum pernah bermain kerumah Wookie. Tak ada yang tahu rumahnya. Lagipula dia hanya demam, mungkin besok dia akan sekolah.”

Aku tak yakin.

“Kalau begitu aku minta nomor ponsel Wookie.”

Henry kembali berbalik kearahku dan menyerahkan ponselnya kepadaku. Kali ini nomor Wookie sudah tertera di layarnya. “Mau meneleponnya? Pakai ponselku saja.”

“Gomawo.” Langsung kuambil ponsel Henry dan aku berjalan keluar kelas sambil me-redial nomor ponsel Wookie. Kudekatkan ponsel itu ke telingaku dengan perasaan agak takut.

TUUT~

TUUT~

TUU~ CKLEK!

Yeoboseyo…

“Wookie?” Panggilku hati- hati.

Dia diam. “Kyu…?

“Gwaenchana?” Tanyaku kali ini.

Dia diam beberapa saat.

“Wookie? Kau masih disana?”

Kudengar dia menarik nafas dalam- dalam dan suaranya terdengar sangat berat. “Nae, gwaenchana.

CKLEK! Sambungan telepon kami putus secara tiba- tiba.

Aku mematung. Suaranya parau… Dia menangis?

.

“Kyuhyun… Kau kenal Kim Ryeowook?” Umma bertanya pelan kepadaku saat kami makan malam. Matanya enggan menatap mataku, tidak seperti biasanya.

Aku mengangguk sambil meminum segelas air. “Dia teman sekelasku. Baru saja pindah dari Jepang setelah tiga belas tahun tinggal disana. Waeyo, umma? Dan kenapa umma juga mengenalnya?”

Umma hanya diam.

“Umma gwaenchana?”

Kali ini umma mengangkat wajahnya dan menatapku. Air matanya sudah mengalir dan aku tak tahu kenapa dia menangis. Umma berjalan menghampiriku dan langsung memelukku sambil terisak.

“Umma? Ada apa sebenarnya?”

Dia menggeleng pelan di pundakku. “Mianhae, chagiya… Jeongmal mianhae.”

Lagi- lagi dia mengucapkan kalimat itu. Ada apa diantara umma dan Wookie?

0o0o0o0o0o0o0o0o0

“Wookie!” Aku langsung berlari menghampirinya saat kulihat dia berjalan di koridor sekolah. Ternyata dia masuk hari ini. Berarti dia sudah merasa lebih baik. Syukurlah.

Wookie tak menoleh kearahku.

“Ya!” Kutarik bahunya dan dia menengadah menatapku datar. “Wa-waeyo?”

“Lepaskan aku.” Ucapnya datar sambil mengelakkan bahunya dan kembali berjalan meninggalkanku begitu saja.

Kenapa?

“Ya! Waeyo?” Kembali aku menarik tangannya, namun kali ini aku menahan tangannya agar dia tak bisa lepas dariku. Namun reaksi kaget Wookie membuatku keheranan sendiri.

Wookie menatapku aneh. “Lepas!”

“Aniya! Kau harus bilang dulu padaku ada apa!”

“Tidak ada apa- apa!” Wookie berusaha melepaskan tanganku namun aku memeganginya semakin buat dan membuat namja itu agak meringis. “Kyuhyun, apa yang kau lakukan?!”

“WOOKIE!” Kubentak dia kasar dan dia menengadah menatapku.

Keheningan menyelimuti kami.

“Ada apa diantara kau dan ummaku?”

DEGH! Aku kaget saat sinar mata Wookie berubah shock. Dengan sekali hentakkan kuat dia melepaskan tanganku dan langsung berlari meninggalkanku menuju keluar gedung sekolah.

Aku mengejarnya. “Wookie!”

Berkali- kali aku berusaha meraih tangannya, tapi ternyata sulit. Dia berlari lebih cepat dari aku meski aku jauh lebih tinggi darinya.

“Ryeowook!”

DEGH! Kali ini aku mematung saat mendengar suara itu. Ryeowook juga berhenti berlari di depanku. Pandangan kami lurus ke satu tempat. Ke asal suara yang tadi memanggil nama Wookie.

Umma berdiri di pinggir jalan.

“Umma?”

Umma lagi- lagi menangis dan kulihat Wookie hanya mematung shock.

“Wookie…” Tiba- tiba umma berlari untuk menyebrang jalan.

TIIIN! Suara klakson itu membuatku nyaris tuli.

Andwae…. Andwae… ANDWAE!

“UMMA AWASSS!!!” Jertiku sambil berlari.

BRAKK!!

Kini aku mematung dipinggir jalan. Tubuhku terasa gemetar dan nyaris roboh. Pikiranku kosong dan rasanya lidahku terasa kelu. Dihadapanku banyak orang berkumpul panik. Sosok umma kini terbaring di jalan.

Berlumuran darah…

“U…”

“UMMA!!!”

DEGH! Detik berikutnya aku langsung menoleh. Bayangan sosok umma kini berubah dengan Wookie yang berlari menghampiri umma sambil menangis histeris.

Kenapa dia memanggil ummaku… Umma?

0o0o0o0o0o0o0o0

Aku duduk sambil meremas kedua tanganku yang gemetar di depan ruang UGD. Air mataku tak bisa berhenti mengalir. Perasaan kalut, takut dan sebagainya semua berkecamuk di dalam dadaku. Pikiranku kacau setiap mengingat umma dan Wookie.

Semua cerita Wookie tentang keluarganya kembali kuingat.

Semua persamaan aku dan Wookie juga kembali aku ingat.

Dan mau tidak mau aku menyambungkan semuanya dengan latar belakang masa laluku. Ternyata memang hanya satu titik temu yang berhasil kutemukan dari semua permasalahan ini.

Inikah alasan kenapa aku merasa tidak asing dengan wajah juga namanya?

Déjà vu.

KREKK~ Pintu UGD terbuka dan seorang dokter keluar.

“Bagaimana keadaan ummaku, dokter Lee?”

Dokter Lee menatapku serba salah. “Nyonya Cho kehilangan banyak darah dan kami kehabisan darah yang cocok dengannya.”

“Kalau begitu darahku saja. Aku anaknya, pasti cocok!”

“Tidak bisa, Kyuhyun-sshi.” Dokter Lee menepuk bahuku. “Kondisi tubuhmu itu tidak baik dan cukup lemah. Kami tidak bisa menjadikanmu donor darah untuk ummamu. Jeongmal mianhae.”

“LALU BAGAIMANA DENGAN UMMA?!” Kuraih kerah baju dokter Lee marah. “Kumohon selamatkan umma…”

“Tenanglah, Kyuhyun-sshi…”

“Biar aku yang mendonorkan darahku.”

DEGH! Dengan cepat aku menoleh dan melihat Wookie sudah berdiri tak jauh dariku. Matanya sembab dan pakaiannya kotor bekas noda darah. Saat ambulance membawa umma, dia menghilang begitu saja.

“Wookie?”

“Aku juga putranya,” Suaranya menghilang sebentar. “jadi darahku dan dia pasti cocok.”

Putranya…?

Dokter Lee langsung mengangguk dan membawa Wookie yang menoleh kearahku sekilas.

BRUKH! Kakiku lemas dan aku terjatuh di lantai rumah sakit.

Jadi aku memang… Namdongsaeng Wookie yang dicarinya selama ini?

.

Kutatap wajah Wookie yang tengah tertidur. Dokter Lee mengambil darahnya cukup banyak dan itu membuatnya sedikit anemia dan harus istirahat sebentar.

Pantas saja dia merasa sangat ingin kupanggil hyung…

Pantas saja aku merasa sangat nyaman bersamanya…

Pantas saja…

Kenapa aku tak bisa menyadarinya?

Kudekap kepalaku disamping tempat tidur Wookie dan kembali menangis.

Apa dia juga sudah tahu dari awal? Atau dia juga baru tahu saat pertama kali bertemu dengan umma dulu?

Kalau begitu sebenarnya appaku… Masih hidup.

Dengan tangan gemetar kuambil ponsel Wookie yang diletakkan diatas meja dan mencari nama yang harus kutemukan. Tak butuh waktu lama untuk menemukan nama itu karena nama itu ada dipanggilan nomor satu.

Ku redial nomornya dan menunggunya sejenak…

Yeoboseyo, Wookie? Waeyo?

DEGH! Jantungku berdegup kencang, kututup mulutku agar isakanku tidak keluar. Air mataku jatuh semakin deras. Memang benar, suara itu juga terdengar tidak terlalu asing bagiku.

“Ap-pa…” Bisikku parau.

Eh? Kau bukan Wookie? Nuguya?

“Woo-wookie hyung, saat ini dirumah sakit,” Aku menarik nafas sebentar untuk bicara dengan sejelas mungkin. “di-dia mendonorkan darahnya untuk menelamatkan ummaku yang kecelakaan tadi siang.”

Menyelamatkan ummamu? Kau siapa?

“Appa… Aku Kyuhyun.”

~Kyuhyun pov end~

0o0o0o0o0o0o0o0o0

Ryeowook perlahan mambuka matanya. Kepalanya terasa agak pusing. Wajar saja, dokter harus mengambil darahnya sebanyak dua liter kantung pak untuk menyelamatkan ummanya Kyuhyun yang masih dirawat.

“Ukh…” Erangnya sakit.

“Kau sudah bangun?” Kyuhyun sudah berdiri disampingnya dan memandanginya datar.

Sorot mata Ryeowook ikut datar saat menatap namja itu. Dengan enggan dia memalingkan wajahnya dari Kyuhyun.

“Umma sudah berhasil ditolong. Saat ini sudah dipindahkan ke ruang ICU untuk perawatan lebih lanjut.” Kyuhyun diam sejenak sambil menghela nafas. “ Appa juga ada disana.”

DEGH!

Ryeowook langsung menatap Kyuhyun. “Ap-appa?”

“Appamu.” Koreksi Kyuhyun.

Dengan perlahan Ryeowook memilih bangun dan Kyuhyun membantunya untuk duduk. Keduanya kembali saling berpandangan dalam dan perlahan Ryeowook menyentuh wajah Kyuhyun hati- hati.

“Jadi kita berdua sebenarnya…” Kyuhyun kembali diam tak sanggup melanjutkan kata- katanya.

Air mata Ryeowook kembali menetes dan Kyuhyun juga mulai terisak kembali.

GREB! Dengan gerakan yang bersamaan, kedua namja itu saling berpelukan dan terisak pilu satu sama lain.

“Ternyata… Kau ada sedekat ini…” Bisik Ryeowook pilu sambil menenggelamkan wajahnya di bahu tegap Kyuhyun.

Kyuhyun menarik nafas dalam- dalam. “Hyung…”

.

Jungsoo perlahan membuka matanya. “Wookie…” Hanya nama itu yang berhasil diucapkannya saat ia bisa melihat cahaya. “Kyuhyun…” Kedua tangannya bergerak perlahan sekaan mencari sesuatu.

SET! Perlahan sebuah tangan yang cukup kekar meraih tangannya dan menggenggamnya erat. Tentu saja itu membuat Jungsoo kaget dan menoleh.

Samar namun pasti, yeojya itu bisa mengenali siapa namja yang kini duduk disampingnya sambil menggenggam tangannya erat. Air matanya menetes perlahan dan dia kelihatan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang.

“Jungsoo, mianhae.”

“Youngwoon?”

“Jeongmal mianhae.” Bisik Youngwoon pilu dan mencium punggung tangan yeojya itu hati- hati.

“Youngwoon kau juga kembali…?” Dengan lemah Jungsoo mengusap wajah namja itu. “Kau kembali Youngwoon? Bersama dengan putraku…”

“Sudah cukup aku meninggalkanmu selama tiga belas tahun. Kuputuskan kembali dan ingin bertemu dengamu. Aku ingin bertemu dengan putraku dan mengembalikan keluarga kita yang dulu hancur. Tak kusangka… Mereka berdua duluan yang bertemu sebelum kita…” Bisiknya pilu sambil terisak kecil.

Jungsoo menggingit bibir bawahnya kuat dan menangis pilu. “Youngwoon…” Hanya itu yang bisa diucapkan yeojya cantik itu.

“Mianhae, Jungsoo…”

Sementara di luar ruang ICU, Kyuhyun berdiri sambil memapah Ryeowook dan menatap kedalam. Dengan hati- hati keduanya masuk ke dalam ruangan itu dan membuat Youngwoon juga Jungsoo menoleh.

Ryeowook kembali menangis menatap Jungsoo sedangkan Kyuhyun hanya menggigit bibir bawahnya menatap Youngwoon.

“Kyuhyun…?” Youngwoon menatapnya tak percaya.

“Wookie chagiya, kemarilah…” Panggil Jungsoo lembut.

Kedua namja itu kini menangis dan langsung berlari memeluk kedua orang tuanya pilu. Pandangan keduanya terasa sangat buram karena air mata. Tak ada perasaan lain yang ada dihati mereka selain kebahagiaan dan kelegaan yang bukan main besarnya.

0o0o0o0o0o0o0o0

“Loh, Kyu? Sejak kapan kau mengganti nama keluargamu jadi Kim?” Changmin menatap kartu mahasiswa Kyuhyun sambil mengerutkan alisnya tak percaya.

Kyuhyun menyeringai aneh menatap sahabatnya sambil terkekeh. “Hebat, kan?”

“Hebat apanya? Ummamu mengganti nama keluarga kalian?” Tanya Henry ikut penasaran. “Sejak kapan? Kenapa aku baru tahu sekarang saat kita semua sudah lulus dan mulai kuliah? Kau parah sekali tidak bilang hal sepenting ini kepadaku!”

Tawa Kyuhyun semakin lebar saat mendengar gerutuan Henry. Matanya terarah menatap Ryewook yang tengah sibuk menatap ke papan pengumuman di universitas tempat mereka semua belajar kini.

“Bagaimana? Ada namamu?” Tanya Kyuhyun sambil mendekatinya.

Namja itu menoleh kearah Kyuhyun. “Ada. Aku berhasil masuk kelas komposisi musik klasik. Kita pisah kelas.”

Kyuhyun mengusap kepala Wookie.

“Ya! Aku ini setahun lebih tua darimu!”

“Kyuhyun! Kau belum menjawab pertanyaanku!” Kali ini Changmin dan Henry mendekati keduanya. “Semakin lama kau dan Wookie semakin dekat saja. Ada apa diantara kalian? Pacaran, ya?”

“Jangan konyol!” Kyuhyun menggeplak kepala Changmin.

Ryeowook terkekeh. “Memang kau tanya apa?”

“Kenapa Kyuhyun mengganti nama keluarganya dari Cho menjadi Kim, kau tahu alasannya?” Henry yang bertanya.

Senyum aneh juga terulas di wajah Ryeowook, Kyuhyun sudah merangkul pundaknya sok akrab sambil terkekeh.

“Aku dan Wookie hyung kan sekarang keluarga lagi.”

“MWO?!!” Kedua bola mata Henry dan Changmin membulat shock.

“La-lagi, maksudnya?”

“Nae, akhirnya aku menemukan namdongsaengku ini!” Seru Ryeowook riang sambil tertawa nyaring dan meninggalkan Changmin dan Henry yang masih melongok keheranan. Kyuhyun juga sudah berjalan disisinya sambil tertawa geli.

Ryeowook meliriknya. “Jangan banyak tertawa, kita harus segera kesana.”

“Arraseo.” Balas Kyuhyun. “Kau sudah menyiapkan kado, hyung?”

Ryeowook mengangguk. “Ini kan hari jadi kembalinya appa dan umma, tidak mungkin aku tak memberikan mereka apapun.”

Kyuhyun tersenyum kecil. “Aku lebih senang kau menjadi temanku dibanding hyungku. Rasanya aneh sekali memanggilmu hyung. Apa sebaiknya aku tak usah memanggilmu hyung ya, Wookie?”

Kedua mata Ryeowook mendelik sebal dan Kyuhyun sudah berlari kecil meninggalkannya sambil tertawa.

“Dasar magnae bodoh…” Gumam Ryeowook kecil. “Namdongsaengku…”

“Hyung! Ayo cepat! Kalau kau lelet begitu aku benar akan memanggilmu Wookie saja!”

“Jangan main- main, Kyuhyun!” Ryeowook langsung menyusul Kyuhyun yang sudah cukup jauh dihadapannya.

.

.

~Fin~

===============================================================================

31 thoughts on “Lost Brother

  1. asik kyuwook lagi. .
    Ugh ketika pas mereka tau kebenaran kalo trnyata mereka bersaudara namun trpisah n brtmu lg jadi mewek bcanya. .u,u
    tp cocok jg duo evil bersatu mjd keluarga. .kekekeke

  2. KyuWook brothership (kalo romance, gw ga suka. Gw sukanya pure couple #curcol dikit) emang ga bosenin, suka banget. Tadinya gw ngira mereka kembar, ternyata ga hehehehe…

    Lucu juga, Wookie yang baru ketemu ama Kyu, minta dipanggil hyuung. Ga ngira juga, kalo orang tua mereka itu KangTeuk, mereka emang Umma n Appa sejati dah.

    Salam,

    Elle

  3. Thena-chan crtanya manisssssssss bgt dii suka dii suka aplgi pas bgn akhrny KyuWook tau mrka sodaraan haduhh pngenny sie ada lnjutanny kisah cnta*bhsa dii* Duo magnae epil ini tntu aja sama Umin trs NcungChagi*jiwa fujo gsa bhong<digeplak*yo wis lah next ff dtunggu aja thena chan

  4. omona..
    ak jg kehilangan koko ma oppa ku.. #nyari2 chulppa ma koko han,
    g nyangka deh wookie ma kyu sodara tulen (?) #plakk

    lanjut ah ke haehyuk

  5. kyuwook!! hehehe
    ternyata ortu’a kyuwook itu kangteuk ya… tapi untung kangteuk balik lagi… jadi’a kyuwook jadi sodara lagi…
    kkkk
    b^^d

  6. Akhirnya saya bisa baca lagi ff milik Taena, udah lama banget gak baca😄 dan lagi, ff Taena selalu bagus dan yang ini sangat menyentuh🙂
    Kyuwook😄 dulu saya suka baca ff Taena di ffn tapi cuma silent reader #plak

  7. Cerita yg mengharukan dan lucu.
    Aq ska pas di bagian kyu ma 2 tmn.a itu, si changmin ma henry.
    Pasti ada aja hal lucu…

    Aq ska ff.a.
    Thena onnie daebak….

  8. I LOVE IT……..
    kyuwook emank bguuss low tipenya(?) brothership… kkkkkkk
    Omona~ tpi q rada gg dong., kq jungsoo 5 kangin cerai??
    pas cerai mang kyu lom lahir??
    daebaakk Eonn!!!!!
    lnjuuuttt…..😀

  9. KyuWook emang enak bgt dijadiin sodaraan. hehe….
    nae,chagi…..eomma udah baikan sama appa. Jd bs baca deh ff km….kwkwk…
    .
    gyah…tadinya eomma kira yang ketabrak Wookie trus dia mati. ckckck……

    ternyata malah eomma-jungsoo toh. kasihan….
    .
    .
    pokoknya eomma suka bgt. mengharukan!

    Souki-nya cepet diberesin, ne? trus White House-nya dibikin deh…..penasaran bgt sama series baru itu. Kayaknya bakal asik bgt. hwahahaha……..#mulai gila#
    .
    .
    saranghae chagi *hug!

  10. terharu bangettttt…!!! T___T
    KyuWook sgat co2k jdi saudaraaaaaaa…
    ato jgan2 mreka sodra bneran..hahaha…#plakk

    hal yg plig lucu wktu Kyu sok tau ttg save energy n go green..
    Hahaha,,sok tau kamu chagy.. *ditabockKyu*..

    Banyakin FF ttg KyuWook-nya,,ya Thena…hehe..^^

  11. co cwiiiiiit~
    Kyaaaaa \(>o<)/

    Kupikir spa tdi ortuny, trnyta kangteuk😀
    Uri eomma jadi yeoja deng XP

    Sbnerny udh ktebak klo wookie hyungnya uri kyunnie, tpi jlan critany tetep berkesaaaaaan~
    Berkesan banjeeet😄
    Seolah2 bsa aja bukan wookie hyungnya. Kkkk~

    Yah, eonnie, itu knpa wookie mlah ngindar sih ? Kan dy udh tau klo kyuni itu dongsaengny, bukannya dksi tau mlah ngindar
    Ah~ wukieny aneh nih =3=

    Kseluruhan ttp oke kok :Dd

    Keep writing eonnie😀
    Sukses ne buat ff2 lainnya😀

  12. Sesuatu bangettt 13 taun berpisah akhirx kembali jg hehe ^^
    ikatan sodara emg gak pernah bisa luntur sampe kapanpun
    ada bekas, pacar, bekas teman, tp tak pernah ada bekas sodara kan??

    haru banget ceritax, thena bikin sepenuh hati bangeett🙂
    moga2 thena jg di beri kebahagiaan seperti ini😀

  13. aku terhipnotis oleh nih ff. . Masak gara2 bca ni ff aku jadi nangis. . T.T #plakk ahh akhirnya sdar juga. . .

    Ffnya bgs tp typony lumayan btebaran. .
    Waktu wookie nyanyi *Disaat kau menangis,
    maka jangan lupakan
    aku. Aku selalu ada
    ‘disimu’.
    Disaat kau ‘sendiriri’,
    percayalah.. Aku akan
    selalu ada disisimu.* ini memang disengaja krn lgunya kyak gni ato memang typo sih
    . . Ah sudahlah tp ceritanya bner2 daebak unn, d-.-b *dua jempol deh

  14. Unnie request teukyu xD
    Huueee jura nangis lho eonn #ga nanya plak
    Syukurlah akhirnya happy ending x) gabisa bayangin deh bunda mereka itu sii leeteuk x)

    Eonni buat FF brothership teukhaekyu ne ?🙂
    Kamshahamnida sebelumnya^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s