Halte

Halte

Pair :: ZhouRy

Rated :: K

Genre :: Romance~

.

“Henry! Kau lolos kompetisi pertama!”

Seorang namja berpipi chubby dengan kulit putih menoleh kearah namja yang berlari menghampirinya. Nae, Henry Lau. Seorang namja keturunan Cina- Kanada yang selama beberapa tahun belakangan ini menetap di Seoul untuk belajar musik.

Henry membulatkan matanya tak percaya. “Jeongmal? Nugu?”

“Neo!” Namja yang berdiri dihadapannya tersenyum riang. “Kau dan aku lolos! Kau terpilih sebagai salah satu violisnya, dan aku pemain clarinet tunggal! Ini benar- benar di luar dugaan!” Kyuhyun masih terlihat senang.

Sedangkan Henry masih saja tak yakin. “A-aku lolos?” Ulangnya.

“Aigoo.. Kau tuli, eh?! Kubilang…. KAU LOLOS!” Kyuhyun langsung berteriak di telinga Henry dan membuat namja yang jauh lebih muda dan pendek darinya itu terlonjak shock. Kyuhyun hanya terkekeh iseng.

“Kyuhyun! Aku kan masih bisa mendengar! Aku hanya sedang memastikan kalau ini serius!” Omel Henry gusar.

Kyuhyun tersenyum lebar sambil merangkul Henry. “Ini nyata, babbo! Oke, aku mau mencari Ryeowook dulu. Dia juga lolos sebagai pianis utama untuk show minggu depan! Bye- bye, Mochi!” Dengan penuh semangat Kyuhyun sudah berlari lagi meninggalkan Henry.

Henry masih tercengang di lorong sekolah. Satu tangannya bergerak memegang dadanya yang berdegup kencang tak percaya.

“Aku… Kyu dan Wookie lolos?” Ucapnya tak percya. “Aku…?”

Perlahan Henry menunduk sambil menggenggam kedua tangannya. “YEAH! AKU LOLOS!!!” Detik berikutnya dia langsung berseru histeris sambil meloncat bangga. Tentu saja beberapa siswa- siswi disekitarnya langsung menatapnya keheranan. Tapi Henry tak memperdulikannya.

Kakinya langsung menuju ke sebuah kelas yang dihuni beberapa namja tampan yang tengah mengobrol. “Hyungdeul! Aku lolos! Aku, Kyuhyun dan Wookie lolos kompetisi pertama di tahun ini!!!” Serunya girang dengan wajah sumringah.

Sungmin, yang duduk di kursi hanya tersenyum kecil. “Kami sudah tahu, kok. Tadi dari luar kelas Kyuhyun sudah berteriak- teriak kalau kalian bertiga lolos. Chukkae yo, Mochi.”

Henry mengangguk sambil berlari memeluk Sungmin. “Gomawo nae, hyung!”

“Wah.. Show case bulan ini mungkin akan menjadi yang paling hebat. Sungmin, aku dan Donghae juga lolos di kompetisi tahun ini dan akan tampil di orchestra nanti.” Tambah Yesung senang sambil turun dari atas meja. “Bagaimana kalau kita rayakan?”

“Setuju, hyung!” Donghae yang pertama berseru semangat. “Kita karaoke sampai malam! Besok kan hari minggu, malamnya kita bisa menginap di rumah Sungmin hyung, nih. Eothokkae?”

“Aku pasti ikut.” Ujar Henry senang. “Sungmin hyung bisa? Kalau Kyuhyun dan Wookie pasti bisa.”

“Sip.” Sungmin langsung mengacungkan ibu jarinya. “Serahkan tempat menginap dirumahku.”

Henry tersenyum bangga. Dia langsung menatap lurus ke luar jendela. Show case, acara bulanan yang selalu diadakan di SM music high school. Tiap bulan akan diadakan kompetisi untuk memilih siapa saja yang berhak ikut dalam show case.

Dan bulan ini, menjadi bulan yang sangat baik untuk Henry dan yang lainnya. Mereka semua bisa tampil satu panggung untuk mengisi orchestra. Musim semi seakan baru dimulai.

0o0o0o0o0o0o0o0

~Henry pov~

Jam lima sore! Oke, sepulang dari rumah nanti aku langsung pergi lagi. Janjian di tempat karaoke jam tujuh malam, setelah itu menginap dan pastinya akan terjaga semalaman di rumah Sungmin hyung.

Ini akan jadi hari yang menyenangkan.

Belum lagi show case minggu depan.

Kupeluk biola putih yang kini terkurung di dalam tasnya. Benda yang paling kusayangi dalam hidupku. Senilai dengan PSP aneh yang selalu ada di saku seragam Kyuhyun, nyaris setipe dengan kumpulan kura- kura peliharaan Yesung hyung. Biola putihku ini adalah hartaku.

Aku turun di halte bus.

Saat menginjakkan kaki di halte, tatapanku tertuju pada seorang namja yang tengah duduk di halte sambil memandangi bus. Dia tak mau naik? Kenapa malah duduk begitu saja disana? Namja aneh.

SRET! Tatapan matanya tiba- tiba tertuju kepadaku.

Buru- buru aku berjalan menjauhi halte tersebut. Namja aneh, jangan dihiraukan meski sebenarnya aku yang bersikap tidak sopan terlebih dulu.

Nae, memperhatikan orang lain itu kan sangat tidak sopan. Tapi… Kenapa aku jadi memikirkannya? Oke, Henry Lau! Lupakan! Hidupmu tak ada hubungannya dengan namja asing tak dikenal barusan, kan?

Sekarang fokuslah untuk acaramu nanti malam. Fokus!

.

“Umma, aku pergi!” Seruku sambil berlari keluar dari rumahku dan langsung berlari menyusuri jalan setapak di daerah rumahku. Sudah gelap dan disini memang cukup sepi. Tentu saja, rumahku kan terletak di tempat yang tak terlalu ramai.

TRRT~ Ponselku bergetar pelan. Ada telepon dari Wookie.

“Yeoboseyo~”

Henli, eodisseoyo? Kami semua sudah berada di tempat kumpul. Tinggal kau yang belum sampai.

“Mian, Wookie. Aku mungkin masih agak lama, aku masih di jalan. Kalian masuk duluan saja, nanti kasih tahu aku ruangan yang mana.”

Oke. Kata Henli kita masuk duluan saja.” Wookie seperti bicara kepada orang lain. “Nae.. Cepat, ya.

“Sip! Bye~” Aku langsung menutup flat ponselku dan berjalan menuju halte bus yang tinggal beberapa langkah lagi. Ada untungnya juga punya rumah yang cukup dekat dengan halte bus. Kekeke~

Eung…

Tatapan mataku kembali tertuju pada seorang namja yang duduk di halte. Itu namja yang tadi sore. Aigoo… Sejak tadi dia masih belum naik bus? Apa yang dia lakukan disitu? Agak mencurigakan jadinya.

Aku berdiri agak jauh dari tempat orang aneh itu duduk. Tapi mataku seperti tak bisa berhenti untuk melirik kearahnya. Huh~ Jangan mempermalukan dirimu sendiri, Henry Lau!

Aku kembali melirik dan…

SRET! Tiba- tiba tatapan mata namja itu kembali tertuju kearahku. Buru- buru aku langsung mengalihkan tatapanku ke depan.

Bus! Cepatlah datang~

Masih kurasakan kalau namja itu masih menatap sosokku dari tempatnya duduk. Ingin sekali aku menoleh melihatnya, tapi aku tak berani. Aku takut dia memergokiku mencuri pandangan kearahnya. Itu akan sangat memalukan. Akan lebih baik kalau dia itu seorang yeojya manis, tapi sayangnya dia itu namja!

CKIIT~ Sebuah bus berhenti di hadapanku. Tanpa membuang waktu aku langsung naik ke bus dan mengambil tempat duduk di kursi paling belakang.

Dari sini aku bisa memperhatikannya.

Namja itu memandangi bus dengan tatapan yang agak aneh. Dia menoleh ke pintu bus. Sepertinya dia tengah menunggu seseorang. Ah… Benar juga, sih. Mungkin saja dia sedang menunggu seseorang sejak tadi.

Kenapa aku menunduhnya mencurigakan? Kau tega sekali.

Dia tak terlihat menakutkan, kok. Mungkin…

~Henry pov end~

0o0o0o0o0o0o0o0o0

“Aku akan memainkan harmonisasi beethoven dengan sempurna.” Ujar Ryeowook sambil memasukkan partitur musik ke dalam ranselnya. “Oke, Sungmin hyung. Ini akan sangat berguna untuk latihanku. Gomawo!”

Sungmin mengangguk. “Ah, Yesung hyung yang mengantar Wookie?”

Sontak raut wajah Ryeowook memerah malu- malu. “Aku bisa sendiri, kok.”

“Aniya. Semalaman kan kau tidak tidur. Biar aku antar sampai rumah.” Yesung langsung naik ke atas motornya dan melemparkan satu helm ke Ryeowook. “Mianhae, Donghae, Kyuhyun dan Henry. Karena rumahku dan Wookie searah, aku hanya bisa mengantarnya.”

“Gwaenchaan, hyung.” Donghae menepuk punggung Yesung sambil tersenyum menggoda. “Nikmati saja waktu kalian berdua.”

“Ya! Apa maksudnya, Donghae hyung?” Ryeowook cemberut sambil memakai helmnya dan naik dibelakang Yesung. “Nae, yeorobun. Aku duluan, ya. Annyeong.”

“Bye.” Yesung langsung menjalankan motornya dan dengan kecepatan tinggi meninggalkan semua temannya.

“Henry, kau langsung pulang?” Donghae beralih menatap Henry.

Namja manis itu mengangguk sambil masih serius dengan partitur musik yang dipinjamkan Sungmin untuknya. “Aku akan segera pulang dan latihan. Karena ini show case pertamaku, aku akan tampil super maksimal.” Jawabnya sambil menatap yang lainnya.

“Aku masih akan di rumah Sungmin hyung.” Balas Kyuhyun. “Berarti hanya Donghae hyung dan Mochi yang pulang. See you~”

“Ya, Kyu! Kami masih disini tahu!” Seru Donghae gusar. “Oke, sampai besok.” Namja tampan itu langsung menarik Henry dan berjalan meninggalkan Sungmin dan Kyuhyun yang langsung masuk ke dalam rumah Sungmin lagi.

Keduanya tak banyak bicara sampai tiba di halte bus.

“Apa kau yakin bisa memainkannya dengan baik? Di tim violis, hanya kau yang masih siswa kelas satu.”

Henry menatap Donghae. “Aku pasti bisa, hyung.” Dia tersenyum penuh keyakinan. “Karena itu agar tidak membuat masalah, aku harus berlatih lebih keras dari siapapun.” Tatapan matanya tertuju pada sebuah bus yang mendekati halte. Henry langsung menggulung partitur ditangannya.

“Kalau begitu kau harus berjuang lebih keras.” Donghae menepuk bahu Henry. “Sampai besok.”

“Bye, hyung!” Henry melambaikan tangannya sambil berlari masuk ke dalam halte bus. Karena arah rumahnya dan Donghae berbeda, tentu saja keduanya tak naik di bus yang sama.

Seperti kemarin, Henry lebih suka duduk di bagian paling belakang. Selama di jalan, dia hanya fokus pada partitur musik ditangannya. Sampai bus itu sampai di halte tujuannya. Dengan langkah terburu- buru dan masih menatap partitur, Henry turun dari bus.

BRUGH! Tiba- tiba dia menabrak seseorang.

“Mi-mianhae.” Henry mengangkat wajahnya dan saat itu juga nafasnya seakan terhenti.

Kini, namja aneh yang dilihatnya kemarin sudah berada di hadapannya. Tubuhnya jauh lebih tinggi dari pada tubuh Henry yang terbilang cukup pendek. Di bawah sinar matahari, terlihat jelas kalau rambut namja itu berwarna hitam kemerahan. Bola matanya terlihat hitam kecoklatan dan hidunya terbilang sangat mancung. Tampan.

Menatap ketampanan yang hampir sempurna dihadapannya, Henry mematung shock.

Namja itu memiringkan kepalanya heran menatap wajah Henry. “Gwaenchana?”

Henry masih diam.

“Annyeong. Gwaenchanayo?” Namja itu menepuk bahu Henry hati- hati.

DEGH! Henry baru kembali ke dunianya.

“Ah, ah, nae… Gwa-gwaencahana. Mian.” Namja itu langsung membungkuk sopan dan berlari meninggalkan si namja tinggi itu. Namun sesekali Henry terus menatap kebelakang. Menatap namja yang mulai duduk di halte. Ditempat yang sama.

Henry mulai menatap lurus kedepan. “Oke! Kembali ke duniamu! Dia namja, pabbo!” Umpatnya sendirian.

0o0o0o0o0o0o0o0

~Henry pov~

PLOK! Aku menampar kedua pipiku sendiri agar fokus dengan pengarahan yang dijelaskan sonsaengnim untuk show case nanti. Seharusnya aku fokus dengan apa yang dia ceritakan, tapi aku tak bisa fokus.

Wajah namja itu masih terbayang- bayang di benakku.

Nuguya? Dua hari dia duduk di halte bus yang sama. Apa dia menunggu seseorang?

TENG-TENG! Bel pulang berbunyi. Tanpa pikir panjang aku langsung menarik ranselku.

“Henli,kau buru- buru sekali?” Wookie menoleh kearahku.

“Langit agak mendung. Sepertinya akan hujan. Aku pulang sekarang saja. Bye.” Ujarku cepat sambil berjalan cepat keluar kelas.

Benar, langit agak sedikit gelap. Dari sekolah menuju rumahku butuh waktu dua puluh menit. Kalau memang akan hujan, maka kemungkinan super besar aku akan kehujanan. Kalau aku sendiri sih tak masalah, tapi biolaku? Jangan sampai basah!

Saat aku masih di bus, akhirnya hujan mulai turun.

Sial!

Kulirik jam tanganku, sudah jam setengah enam sore. Kapan hujannya berhenti?

CKIIT~ Bus itu berhenti tepat di halte tujuanku. Dengan hati- hati aku langsung turun sambil memeluki biolaku. Pokoknya ini harus selamat!

Halte petang itu terlalu sepi. Berhubung hujan, mau tak mau aku harus menunggu sampai reda.

Dan tebakanku sepertinya tepat. Namja tampan itu masih ada di halte ini sambil duduk merenung. Apa dia tak pernah meninggalkan halte ini sejengkalpun? Wajahnya saja yang tampan, tapi isi otaknya sepertinya tak nomal.

Namja itu menoleh kearahku dan tersenyum. Dengan enggan aku membalas membungkuk dan memilih duduk agak jauh dari tempatnya.

“Apa tidak dingin disana?”

Dia bicara!!

Aku hanya diam.

“Ya, kau. Namja manis yang membawa biola. Aku bicara denganmu.”

Perlahan aku menoleh dan namja itu menatap lurus kepadaku sambil melambaikan tangannya. Mengisyaratkan padaku untuk duduk lebih dekat dengannya. Aku hanya menggeleng. “Gwaenchana.”

“Kemarilah.” Ujarnya lagi.

Dia… Sepertinya berbahaya.

“Kalau kau duduk jauh disana, mungkin akan ada orang yang mengganggumu.” Dia terkekeh pelan. “Lagipula kasihan biolamu, dia kedinginan.”

Biolaku…

Akhirnya dengan malas aku beringsut agak mendekat kearahnya.

“Itu lebih baik.” Dia menghela nafas sambil menerawang jauh menatap hujan. “Aku ini sebenarnya tidak suka duduk sendirian di halte. Kalau ada orang yang duduk disisiku, kan aku tidak terlihat aneh.”

Kutatap wajahnya lekat- lekat. Dia memang sangat tampan. “Memangnya kenapa kau selalu disini?”

Namja itu menoleh sambil menyunggingkan senyumannya. Dan itu langsung membuat jantungku berdegup kencang. Bahkan rasanya wajahku kini memerah dan terasa panas. “Aku suka merenung disini.”

“Merenung? Kenapa di halte? Kalau merenung lebih enak di taman atau di gunung, kan?”

Namja itu tertawa. “Aku kan bukan pertapa! Kenapa di gunung?”

Kutatap rintik- rintik hujan yang masih lebat. “Siapa tahu kau berminat merenung digunung.” Balasku. “Henry Lau imnida. Aku sekolah di SM Music High School kelas satu.”

Namja itu tersenyum sambil menepuk kedua tangannya dan merapatkan mantel coklatnya. “Aku… Adalah aku.”

Eeh? Jawaban macam apa itu?!

“Aku kan menyebutkan namaku, setidaknya kau juga harus menyebut namamu.” Ujarku kesal sambil memeluk biolaku semakin erat.

“Panggil saja aku hyung, aku jauh lebih tua daripada kau, Henry-sshi.”

“Jangan seformal itu.” Balasku sambil berdiri dan berjalan ke tepi halte untuk mengukur curah hujan. Sudah lebih reda dibandingkan tadi. “Sudah agak reda, aku akan pulang sekarang.”Aku menoleh menatapnya.

Namja tak bernama itu berdiri sambil melepas mantelnya. Dengan hati- hati dia menutupi punggungku dengan mantel panjangnya.

“Bu-buat apa?!” Aku panik.

“Anak sekolah tidak boleh sakit. Lagipula kalau biola itu basah, akan bahaya. Kau bisa memulangkannya kepadaku besok atau kapanpun. Aku akan selalu ada di halte ini.” Namja itu berjalan meninggalkanku begitu saja, menembus gerimis dan udara dingin.

Dia itu aneh sekali… Aku bahkan tak tahu siapa namanya. Kami baru bertemu beberapa kali, tapi dia sudah meminjamkan mantelnya. Haruskah aku takut terhadapnya? Tapi dia sama sekali tak terlihat berbahaya. Ketika dia tersenyum, dia terlihat sangat ramah dan baik. Tipeku.

Aaish.. Otakku pasti sudah tidak normal! Baru saja aku menatap seorang namja sebagai tipe idelaku. Oh, ayolah! Dia itu namja, Henry! Kau tak boleh menyukai namja!

~Henry pov end~

0o0o0o0o0o0o0o0

Berulang kali Henry menegaskan kepada hatinya agar dia tak boleh memikirjan namja aneh itu lebih dari yang ia pikirkan. Tapi dia tak bisa melawan hatinya. Otaknya dan hatinya tak bekerja sesuai keinginannya.

Bahkan saat berlatih untuk show case, namja itu terus mengingat si namja aneh di halte yang bahkan namanya saja dia tak tahu.

“Henry-sshi, tolong fokus!” Seru sonsaengnim.

Henry kembali tersadar. “Mi-mianhae.” Ujarnya gugup dan kembali mencoba fokus dengan musik yang tengah dimainkannya. Sebagai satu- satunya murid kelas satu, dia harus bisa terlihat menonjol.

Satu jam latihan, akhirnya selesai.

“Kau kenapa? Tidak fokus?” Tegur Kyuhyun sambil meletakkan clarinetnya di atas meja. “Wae?”

“Aniya. Hanya ada beberapa hal yang mengusikku.”

“Contohnya?” Ryeowook ikut bertanya.

Henry diam sejenak. “Bagaimana, ya… Menurut kalian berdua… Seorang namja yang memiliki perhatian khusus terhadap namja lain itu aneh atau tidak?” Dengan ragu dan hati- hati akhirnya dia bertanya.

Mendengar pertanyaan Henry, kedua temannya langsung tertawa.

“Kau suka namja?!” Seru Kyuhyun.

“Andwae!! Aku kan minta pendapat! Aku sama sekali tidak suka sama namja!” Seru Henry gusar.

Ryeowook mengerlingkan matanya. “Lalu mantel di tasmu yang kau bawa itu milik siapa? Dilihat dari bentuknya itu tak mungkin punya yeojya. Dan dari ukurannya, terlalu besar untuk kau miliki.”

Henry terjepit. “Eung… I-itu milik seseorang.”

“Nugu? Orang yang kau taksir, eh?” Kyuhyun menyenggol lengan Henry, menggodanya.

Rona wajah Henry berubah merah, sangat kontras dengan kulitnya yang putih bersih. “Kalian menyebalkan, ah!” Elaknya sambil memasukkan biolanya ke sarungnya dan menarik ransel juga mantel di kursinya. “Aku pulang duluan!” Dengan menghentakkan kaki, Henry berjalan meninggalkan kedua temannya.

“Heya, Mochi!” Kyuhyun memanggilnya.

“Hmm?” Henry menengok malas.

“Kalau kau memang tertarik kepada seorang namja, itu tidak salah, kok. Cinta itu kan memang tidak mungkin salah. Tak ada yang aneh kalau kau menyukainya. Asalkan kau yakin pada hatimu sendiri.” Ujar Kyuhyun sambil tersenyum.

Ryeowook terkekeh disampingnya. “Kau bisa juga bicara seperti itu, Kyuhyun.”

Henry terkekeh sendirian sambil berjalan keluar kelas. Dia terus memikirkan ucapan Kyuhyun kepadanya tadi. Cinta tak mungkin salah, jadi jika memang dia memiliki perhatian lebih terhadap namja yang tak dikenalnya itu, itu bukan hal yang aneh.

Itu hanyalah cinta.

.

Henry turun di halte bus. Kali ini dengan reflex dia menatap kearah dimana namja aneh itu biasa duduk. Namja itu ada di sana, menatap kearahnya sambil menyunggingkan senyuman khasnya. Henry tersenyum kecil sambil menghampirinya.

“Annyeong, hyung.”

“Annyeong.”

Henry mengulurkan mantel ditangannya. “Sudah kucuci. Mantel ini ternyata sangat berguna. Gomawo.”

Namja itu mengambil mantelnya sambil menepuk kursi kosong disisnya. Dan seakan paham, tanpa ragu Henry langsung duduk disampingnya. “Bagaimana sekolahmu?” Tanya namja itu lembut.

Henry menatapnya heran sejenak. “Kenapa bertanya?”

“Aku hanya mau tahu.” Namja itu menunduk sambil membuka kaleng coke yang ada ditangannya dan disodorkannya kepada Henry. “Kalau kau tak terburu- buru. Temani aku sebentar.”

Lagi- lagi tanpa ragu Henry menerima minuman itu dan menenggaknya. Mata coklatnya melirik kearah si namja aneh. “Sekolahku biasa saja. Hanya saja aku sibuk latihan karena minggu depan akan ada show case disekolah, aku terpilih sebagai salah satu violis yang akan ikut orchestra.”

“Show case, ya?” Namja itu bergumam.

“Lalu, apa sekarang aku boleh tahu siapa namamu, hyung?”

Namja itu menoleh sambil tersenyum dan menepuk kepala Henry lembut. “Belum. Kau boleh tahu namaku kalau aku naik bus suatu saat nanti.”

“Eeh… Kau akan naik bus suatu saat nanti? Kau aneh sekali.”

Namja itu hanya tertawa. “Aku akan naik bus. Dan saat itu kau akan tahu siapa namaku.” Namja itu kembali berdiri sambil mengusap kepala Henry dan berjalan meninggalkan namja itu lagi.

Henry hanya melongo. Kemarin dia dipinjamkan mantel, hari ini diberikan coke. Apa yang akan didapatnya besok dari namja aneh itu?

0o0o0o0o0o0o0o0o0

~Henry pov~

Sejak hari itu, seperti sebuah rutinitas bagiku, seturun dari bus aku tak akan meninggalkan halte. Aku akan duduk disamping hyung untuk menemaninya selama beberapa menit. Memang tak banyak yang kami bicarakan. Dia hanya bertanya, dan aku menjawabnya. Tapi setiap aku bertanya, dia hanya menjawab dengan jawaban yang terbilang sangat aneh.

Kurasa memang dia agak gila. Tapi kenapa aku bisa betah bersama dengannya? Apa aku juga sudah ketularan gila? Hah… Masa bodoh, lah~

“Ya, hyung. Kapan kau akan naik bus?” Tanyaku sambil menyandarkan biolaku dikursi kosong disisiku.

Hyung tertawa kecil. “Wae? Kau sangat ingin tahu namaku?”

“Tentu!” Jawabku cepat. “Sangat tidak adil karena kau tahu namaku dan beberapa hal tentangku, tapi aku sedikipun tak tahu tentangmu selain seorang namja aneh yang selalu merenung di halte bus.”

Hyung menatapku datar. Tanpa emosi. Tatapan matanya sangat aneh. “Kalau aku naik. Aku takut aku tak mungkin bertemu denganmu lagi.”

Ehh…?

“Maksudnya?”

Hyung menggeleng sambil bersandar. “Jika waktunya tiba, aku akan naik dan mungkin akan sulit bagi kita untuk bertemu. Jadi sekalipun kau tahu namaku, kau tak akan bisa memanggil namaku.” Ujarnya sambil menerawang jauh.

Rasanya sangat sulit menebak apa yang ada diotaknya itu. Saking tingginya tingkat keanehan dari setiap kalimat yang diucapkannya, sebegitu anehnya dia, sehingga semua jawaban yang dilontarkannya selalu membuatku mengerutkan keningku keheranan.

“Tapi sepertinya akan sebentar lagi.”

“Sebentar lagi?”

Hyung mengangguk. “Mungkin.” Dia langsung duduk membungkuk sambil menatapku. “Bagaimana dengan persiapan show case-mu? Tinggal tiga hari lagi, kan?”

Mengingat kata- kata show case, aku kembali semangat. “Aku sudah mengalami banyak kemajuan. Hyung mau dengar permainan biolaku?” Tawarku sambil menarik tas biolaku dan dengan hati- hati mengeluarkan biola putihku.

Kulirik hyung yang tersenyum ramah. “Boleh. Asal gratis.” Godanya sambil terkekeh.

“Bayarannya hanya satu, kok.”

“Apa?”

“Hyung harus mendengarkannya sebaik mungkin. Itu cukup bagiku.” Aku terkekeh pelan sambil menyandarkan biolaku di bahuku dan mulai menggesekkan dawainya perlahan sambil fokus dan memejamkan mataku.

Gesekan itu mulai berubah menjadi alunan melodi yang indah. Inilah saat yang paling kusukai, menggesekkan dawai dan mendengarkan harmonisasi dari biolaku. Benar- benar bisa menentramkan hati siapapun.

Aku bermain selama lima menit. Setelah aku selesai, aku kembali membuka mataku perlahan. Kini kulihat banyak orang sudah berdiri di depanku, memperhatikanku. “Ah… Mi-mianhae kalau aku mengganggu!” Seruku cepat sambil berdiri dan membungkuk.

PLOK! PLOK! PLOK! Tanggapan yang kudapat justru berbeda.

Aku mematung. Mereka semua bertepuk tangan.

“Permainan yang indah.” Ujar seorang ahjumma dan ditanggapi oleh beberapa orang lainnya.

Hatiku terasa agak aneh. Antara senang dan bangga. Ini perasaan yang sangat menyenangkan dalam hidupku. “Ka-kamsahamnida.”

Tiba- tiba hyung langsung menarik tanganku dan berdiri. “Jangan langsung terbang dengan pujian kecil itu, kalau kau mau menjadi violis hebat, kau harus bisa lebih baik lagi. Permainanmu sangat bagus. Aku yakin, kau akan tampil dengan baik di show case nanti.”

Aku menatapnya dan dia tersenyum sambil mengusap kepalaku. “Hyung… Kau mau datang ke show case nanti?”

Hyung langsung menurunkan tangannya sambil mengangkat bahu. “Mollayo.”

“Wae? Kau ada janji?”

Namja itu menggeleng. “Aku… Hanya tidak tahu. Sekarang, kau harus pulang. Kita akan bicara besok.” Hyung langsung menepuk bahuku pelan dan perlahan berjalan meninggalkanku tanpa menoleh kebelakang lagi.

Hyung… Aku sangat ingin kau juga datang dan melihatku tampil.

Apa itu tidak mungkin?

~Henry pov end~

0o0o0o0o0o0o0o0o0o0

“Belakangan hari ini kau terlihat agak lain.” Donghae memperhatikan raut wajah Henry yang kelihatan berbeda beberapa hari belakangan ini. “Kau punya pacar, eh?”

“Ya, Hae hyung!” Dengan kesal dipukulnya pundak Donghae. “Pacar apanya, sih?”

“Habisnya kau kelihatan berseri- seri. Seperti orang yang baru punya pacar.” Goda Donghae lagi. “Apa sesuatu yang baik terjadi?”

Henry menggeleng santai. “Tidak ada.”

“Ah, hyung… Sebenarnya Henry baru saja menemukan pujaan hatinya!” Kyuhyun langsung tertawa setelah mengatakan kalimat itu dan langsung dihadiahi lemparan partitur musik oleh Henry. “Ya! Sakit, Mochi!”

Henry menjulurkan lidahnya kearah Kyuhyun. “Jangan sembarangan kau, Kyu!”

“Tapi aku benar. Pasti namja itu…”

“MWO?! Namja?!” Donghae membulatkan matanya shock menatap Henry. “Na-namja? Kau suka seorang namja?! Aigooo~ Cukuplah Kyuhyun, Ryeowook dan Yesung hyung yang aneh diantara kita, kenapa kau ikut- ikutan aneh?!” Namja itu menggelengkan kepalanya frustasi.

Mendengar ucapan Donghae, Henry dan Kyuhyun cemberut. Kebetulan Sungmin, Yesung dan Ryeowook sedang tak ada.

“Ya, hyung… Jangan mentang- mentang diam- diam aku suka Sungmin hyung dan Yesung hyung dan Wookie sebenarnya saling menyukai, kau jadi mengklaim kami aneh, dong. Kau saja yang norak! Aku doakan kau juga naksir namja!” Balas Kyuhyun kesal.

Donghae cemberut meledek. “Tidak mau lah, yaa… Aku seratus persen normal.”

“Ah, abaikan.” Kyuhyun gusar dan memilih menatap Henry. “Eothokae? Kau serius naksir namja itu, kan?”

Henry diam sambil membolak- balik partitur musiknya. “Mollayo, Kyu. Maybe.”

“Maybe apanya?! Aku mau tahu yang jelas, nih. Iya atau tidak?”

Henry mengangkat bahu. “Mungkin iya, mungkin tidak.”

“Serius, woy!” Kyuhyun langsung menempeleng kepala Henry kesal.

Henry kembali diam. “Eung… Aku benar- benar tidak paham. Tapi setiap bersamanya, aku merasa nyaman dan tenang. Kami memang tidak pernah membicarakan hal yang bersifat jauh lebih mengenal, tapi aku rasa aku tak bisa berbohong atau menipu diriku dihadapannya. Bersama dengannya membuatku merasa aneh.” Namja itu menunduk sambil memainkan kertas partiturnya serba salah. “Aku sadar ini salah, aku namja dan dia namja, tapi hatiku mengatakan lain.”

“Itu artinya kau suka.” Donghae langsung menepuk punggung Henry.

“Kau nggak mencela, hyung?” Sindir Kyuhyun datar.

Donghae menatap dongsaengnya sebal. “Aku ini tak mungkin menyindir perasaan dongsaeng manisku. Sekalipun aku tak suka karena yang ditaksir Henry ternyata namja, memangnya aku bisa apa? Menyulap namja itu jadi yeojya, eh? Aku bukan Harry Potter.” Ujarnya sambil cengengsan aneh.

Henry terkekeh pelan mendengar lelucon Donghae. “Lebih baik hyung sulap aku jadi yeojya, dia itu benar- benar namja sejati.” Balasnya.

“Jadi, intinya sekarang bagaimana?” Kyuhyun membungkuk di samping meja Henry. “Kau mau mengakui hatimu? Setidaknya kau juga harus pastikan, kau suka atau tidak.”

Henry langsung menatap Kyuhyun. “Kurasa… Aku tahu.”

Namja berkulit agak pucat dihadapannya tersenyum. “Apa?”

“Aku suka padanya.”

.

~Henry pov~

Nae, aku suka padanya! Kini aku bisa mengakuinya.

Benar yang dikatakan Kyuhyun dulu. Tak ada yang aneh dengan perasaan ini, asal hatiku bisa mengakuinya semua akan lebih baik. Cinta tak akan pernah salah. Hanya saja cinta ini berkembang karena seorang namja, itu hanya tidak biasa.

Aku langsung berlari turun dari halte dan menghampiri hyung yang duduk di tempatnya. “Annyeong, hyung!” Seruku.

Dia tersenyum seperti biasa. “Pulang lebih cepat dari biasanya?” Tanyanya.

Aku mengangguk. “Karena show case-nya besok, jadi kami bisa pulang cepat. Yang tugas sampai sore itu hanya tim penata panggung, kami yang mengisi acara disuruh berlatih di rumah. Tadi sudah gladi bersihnya.” Jelasku panjang lebar sambil duduk disisinya.

Hyung hanya tersenyum simpul. Aneh…

“Wae? Hari ini kau lebih aneh lagi, hyung.”

Hyung tersenyum sambil mengusap kepalaku. “Apa hari ini kau mau tahu alasan aku selalu duduk disini?” Dia bertanya. Menanyakan hal yang selalu membuatku penasaran.

Tanpa banyak tanya, tentu aku mengangguk. “Mau!”

Hyung menerawang jauh kedepan. “Aku tengah menghitung.”

“Menghitung?” Ulangku. “Menghitung apa?”

“Menghitung jumlah bus yang melewati halte ini.”

Aku melongo. Itu jawaban paling aneh dan tak masuk akal yang tak pernah kubayangkan. Kukira dia akan bilang kalau dia menunggu seseorang atau selainnya. Tapi dia, dia menghitung jumlah bus?!

“Kau pasti kaget.” Hyung tertawa kecil.

Aku mengangguk shock. “U-untuk apa? Apa hyung sudah gila?”

Raut wajahnya langsung berubah. “Dulu, aku pernah memiliki seorang kekasih yang sangat kucintai. Seorang yeojya yang sangat cantik dan manis, juga baik hati.”

DEGH! Mendengar ucapannya, hatiku terasa sesak. Kekasih… Yang dicintainya. Yeojya yang cantik? Dia ternyata tak mungkin melirikku. Sesak…

“Tapi…” Hyung kembali melanjutkan ucapannya. Sekitar tiga bulan yang lalu dia pergi meninggalkanku ke langit.”

Hatiku kembali terasa nyeri. Kutatap hyung yang menerawang jauh ke langit. “Dia…”

“Dia kini sudah dilangit.” Terulas senyum simpul yang penuh luka di wajah tampannya. Hyung langsung menatapku. “Dia terkena sakit kanker otak dan tak bisa selamat. Selama dua bulan penuh aku menemaninya di rumah sakit. Dan akhirnya kami berpisah.”

Aku hanya diam tak menanggapi.

“Dulu, kami sangat sering duduk di halte ini. Dan beberapa hari sebelum dia pergi, dia pernah bergumam sambil bercanda kepadaku.” Hyung menarik nafas dalam. “Jika dia sudah meninggalkanku selama seratus hari, maka aku harus menghitung seratus bus yang kulihat melewati halte ini.” Dia tertawa sendiri. “Aneh ya?”

Dengan enggan aku mengangguk. “Karena itu hyung hanya duduk di sini dan menghitung jumlah busnya?” Kutatap dia lagi.

Hyung mengangguk. “Dia bilang akan ada keajaiban nanti jika aku melakukannya. Tadinya kukira dia hanya berbicara sesukanya, tapi dia benar. Selama menghitung bus, aku ternyata bertemu denganmu.” Hyung tersenyum sambil mengusap kepalaku lembut. “Itu keajaiban, Henry.”

“Kenapa… Akhirnya hyung menceritakannya?” Tanyaku pelan.

Hyung diam sejenak sambil menarik nafas. “Bus yang akan datang beberapa menit lagi, itulah bus keseratus. Aku akan menaikinya, dan mungkin kita tak akan bertemu lagi.”

NYUT! Sesak! Sakit! Perih! Sekarang hatiku benar- benar terasa sangat menyakitkan.

Aku… Tak bisa bertemu lagi dengannya? Itu kenyataan? Wae?

“Ka-kalau begitu apa aku bisa tahu namamu sekarang?” Kedua mataku terasa panas, kuputuskan untuk menunduk. Aku tak mau menangis dihadapannya. Itu akan sangat memalukan.

Hyung diam. “Saat aku naik nanti, akan kusebutkan namaku.”

Kini aku mematung. Hening… Tak ada satupun dari kami yang melanjutkan kata- kata kami. Aku hanya mengarungi pikiranku yang mulai kacau dan menyakitkan. Kenapa harus begini? Apa kini saatnya aku harus bilang?

Nae, aku harus bilang!

“Hyu_”

“Busnya datang.”

DEGH! Aku mematung.

Hyung langsung berdiri mendekati pinggiran halte tepat saat bus itu berhenti di hadapannya. Kuperhatikan sosoknya perlahan masuk ke dalam bus dan berdiri memandangiku dari dalamnya. Dia tersenyum pilu sambil melambaikan tangannya.

“Namaku…”

Namanya?

“Zhou…..” Aku tak bisa mendengarnya dengan jelas karena saat dia menyebutkan namanya pintu bus itu langsung tertutup. Hanya satu suku kata ‘zhou’ yang bisa kudengar. Siapa namanya?!

TUNGGU!!

Kini aku mulai mengejar bus yang sudah mulai berjalan meninggalkanku itu. Air mataku tumpah sudah. “Tunggu, hyung!! Aku belum mendengarnya dengan jelas!! Kumohon hentikan busnya!!” Aku berlari sambil berteriak histeris.

Setidaknya aku mau mendengar namanya! Jika aku tak bia bertemu lagi dengannya, izinkan aku mengetahui namanya!!

Bus itu melaju semakin menjauh dan aku tak mungkin mengejarnya. Aku mematung memandangi bus itu. “Hyung… Hyung…” Penglihatanku mulai buram tertutup air mata. “Setidaknya biarkan aku bilang, kalau aku menyukaimu!!!”

~Henry pov end~

0o0o0o0o0o0o0o0o0

“Kau terlihat tak sehat.” Yesung memperhatikan raut wajah Henry yang datar pagi itu. Namja itu menyentuh kening Henry. “Kau sakit?”

“Ani.” Henry berjalan sambil menarik biolanya menghindari Yesung dan teman- temannya yang lain. Semalaman ia berlatih biola dan mencoba fokus sambil menghapus bayangan namja itu dari pikirannya. Meski kadang air matanya menetes, dia berusaha untuk bisa menahannya.

Sebagai namja dia harus bisa tegar, kan?

Namja itu menatap ke depan panggung dari sisi samping panggung. Para penonton sudah mengisi kursi untuk menonton show case bulan ini.

“Hyung…”

“Henli, gwaenchana?” Ryeowook menepuk pundak sahabatnya prihatin.

Henry mengangguk. “Gwaenchana. Aku… Hanya tegang.” Dustanya sambil memeluk biola putihnya.

Sungmin langsung menghampiri Henry. “Kau bisa tampil dengan maksimal, aku tahu kau akan melakukan yang terbaik. Hwaiting!” Ujarnya menyemangati.

Dengan enggan Henry mengangguk sambil memaksakan senyumnya. “Nae, hyung. Hwaiting.”

Selama menunggu show case dimulai, Henry lebih memilih sendirian di balik panggung sambil memandangi biola putihnya. Rasa sakit di dadanya seakan masih sama, tak ada yang berubah meski dia sudah melampiaskan emosinya dengan bermain biola semalaman.

“Sudah saatnya.” Ujar Sungmin sambil menepuk pundak Henry.

Para pemain orchestra itu mulai masuk ke panggung dan disambut oleh tepukan tangan yang riuh dari para penonton.

Selama pertunjukan yang berlangsung sekitar lima belas menit itu, Henry mencoba untuk terus fokus. Otaknya memang setengah memikirkan namja itu, tapi ia berusaha mengenyahkan pikirannya. Sampai akhirnya dia memainkan nada yang sama dengan yang pernah dimainkannya didepan namja itu.

Air mata kembali menyengat matanya. Henry memejamkan matanya kuat- kuat dan butiran kristal itu mengalir dari sudut matanya. Dia kembali menangis dalam keheningan. Hanya alunan musik yang mengiringi kepedihan hatinya saat ini.

“Henry, kenapa kau menangis?” Kyuhyun menatap sahabatnya setelah turun dari panggung.

Dengan cepat Henry menggeleng dan berjalan menjauhi semua teman- temannya yang enggan mengikutinya. Saat ini dia memang butuh saat- saat untuk sendirian. Dan diputuskannya untuk tak menonton show case.

Masih dengan pakaian pemusiknya dan biola ditangannya, Henry berjalan lunglai meninggalkan SM Music High School. Dilangkahkan kakinya menuju halte bus dan langsung naik ke bus yang kebetulan berhenti di halte.

Dia duduk di bagian belakang sambil merenung hampa.

“Hyung…”

Dua puluh menit berlalu, dia turun di halte dan langsung duduk di tempat yang selalu diduduki namja itu. Henry menerawang jauh menatap langit. Kembali diingatnya memori satu minggu yang lalu saat pertama kali bertemu dengan hyungnya.

“Cepat sekali. Padahal hari- hari yang kulewati dengan mengobrol dengannya terasa sangat lama.” Bisiknya pilu sambil menunduk dan menghapus air matanya yang hendak mengalir lagi. “Pabboya.”

Perlahan rintik hujan mulai turun. Dengan erat, dipeluknya biola putih miliknya dan dia mulai terisak. “Hyung…” Hanya panggilan itu yang sanggup diucapkannya sambil terisak.

“Biolamu… Kedinginan.”

DEGH! Henry mematung.

“Kenapa ada disini? Aku mencarimu di sekolahmu tadi, tapi kata seseorang kau sudah tak ada disekolah. Dan tebakanku benar, kau ada disini.”

SRET~ Perlahan seseorang menyampirkan sebuah mantel coklat dipundak Henry yang masih mematung.

“Menunggu siapa?”

Dengan hati- hati Henry menoleh dan membulatkan kedua matanya, saat namja tinggi berambut agak kemerahan itu tersenyum dibelakangnya. Namja itu tak bisa bersuara.

“Kau menungguku?”

“Hyu-hyung?”

Perlahan namja itu duduk disisi Henry sambil tersenyum. “Semalaman aku berpikir apa arti keajaiban yang dimaksudkan kekasihku itu, dan kata- kataku memang benar. Keajaiban itu memang dirimu. Aku bertemu denganmu yang perlahan mengisi kesendirianku selama menghitung bus disini.”

Henry masih menatapnya tak percaya.

“Kau masih ingat namaku?”

Kini namja manis itu menggeleng. “Pi-pintunya tertutup, sebelum kau selesai menyebutkan namamu.” Bisiknya pelan.

“Zhoumi.”

Henry diam.

“Namaku Zhoumi. Dan aku mencarimu karena ingin mengatakan sesuatu kepadamu.”

“Zho-zhoumi hyung?” Hanry bergumam sendirian.

Namja bernama Zhoumi itu tersenyum sambil mengusap kepala Henry. “Gomawo karena menemaniku beberapa hari kemarin. Dan mulai sekarang, apa kau mau terus menemaniku? Sudah kukatakan, kan? Aku sangat tidak suka sendirian.”

Henry mengerjapkan matanya tak percaya. “Tu-tunggu… Apa itu artinya…”

“Dulu aku yakin bahwa aku tak akan bisa mencintai yeojya lain selain dia. Dan itu benar, pada dasarnya aku tak akan pernah mencintai yeojya lain selain dirinya. Dan itu berakhir pada aku yang mencintai seorang namja.”

Henry menahan nafasnya.

“Neorago.” Zhoumi tersenyum lembut menatap Henry. “Saranghaeyo, Henry.”

Namja itu mengatupkan mulutnya rapat. “Se-serius?”

Zhoumi mengangguk. “Buat apa aku mencarimu kalau aku bercanda? Bagaimana denganmu? Apa kau sama tidak normalnya denganku?” Namja tampan itu menyunggingkan senyuman khasnya yang sangat menawan.

Sontak rona wajah Henry langsung berubah merah. Tapi seulas senyum terlihat diwajah manisnya. “Aku… Sama tidak normalnya denganmu, Zhoumi hyung.” Jawabnya polos. “Nado saranghae!” Henry langsung memeluk Zhoumi begitu saja.

Zhoumi terkekeh sambil balas memeluk Henry. Sepertinya keduanya tak terlalu memperdulikan bahwa banyak orang yang memandang mereka dengan aneh. Yang mereka perdulikan sekarang hanya satu, mereka saling mencintai.

Dan kenyataan kalau keduanya adalah namja, tak akan bisa menghentikan cinta mereka. Karena cinta mereka itu kuat, dan akan menjadi jauh lebih kuat lagi mulai dari sekarang.

.

.

~Fin~

28 thoughts on “Halte

  1. huwaaaaaa…..
    mimi bahkan lebih aneh drpd bebeh ecung😄

    tapi kenapa mimi blg mungkin ga akan kembali yaw?
    *mski akhrnya kmbli*
    ah, q pgn sekuel.a tp yg yewook focus
    mrka kan sling suka
    pgn liat jadian.a😄

  2. Kesan’a ff eonni hari ni.. Crita’a aneh + gaje smua ..
    Td si yesung yg aneh, skrng mimi?
    Hahaha ..
    Aku suka smua’a .. ;-D

    keep writing eon ..
    Hwaiting !!!

  3. Wahhh…!!
    dasar Mimi aneh. Duduk di halte cuma mo ngitung Bis, mending renungin aku aja #plaak.
    Nah tuh lagi si Mochi, suka ma orang ngga dikenal, namja pula lagi, mending suka ma aku #plaak,plookk, pleekk 8d tampar bolak-balik ma Mimi*

    si Hae bilang mereka (Kyuhyun, Henry, Wookie, n Yesung) nggak normal, awas aja kalo tiba2 ketemu ma Hyukkie terus jatuh Cintrong!

    Ok, keep fighting, n keep writing^^

    _Fye_

  4. unpredictable! gw kira si mimi hantu ato apa gituuh.. ternyata oh ternyata! dasaar.. mimi aneh bet dah! tapi tetep cinta kok ama mimi-ge.. kkkk

  5. Zhoumi beneran freak di sini hehehe…. aneh banget. Tadinya ngirain kalau Zhoumi itu arwah loh. Abis kata2nya sok melankolis n menuju ke alam baka sih #TABOKED#

    Aneh, kayak ga ada kerjaan aja si Mimi, Henry malah ngira dia gila. Mungkin ada benarnya. Gila karena ditinggal mati ceweknya #PLAK# Sempet ngira kalau Mimi ga pulang, ga mandi, n ga ganti baju heheheh…. (kenapa gw ngehina Mimi mulu ya?). Mimi itu itu masih sekolah, kuliah atau udah kerja sih? Kok ga dijelasin. Henry… Ngapain ngejar bus nya, kan capek, mendingan ngejar gw aja, pasti langsung gw tangkap #ditendang Mimi#

    Tapi sumpah. Ide ngehitung bis itu lucu banget. Mochiiii…. kau lugu sekali nak. N apaan sih Dong Hae itu. Buat dia kena karmanya dong. Bikin dia ketemu ama Hyukkie n suka ama dia. Biar tahu rasa gimana suka ama namja n ga ngehina mulu.

    PS: Boleh rikues ga. Bikin pair KangTeuk, HanChul, SiBum, HaeHyuk dong. Soalnya kangen nih ma pair itu. Boleh ya…. pinjem Agyeo nya Sugmin.

    Salam,

    Elle

  6. ak kirain mimi ge bneran gila,,,
    trnyta alsanny itu toh,,,
    kok ada y org kyk mimi ge,,
    brarti org kyk mimi ge itu org yb bner” setia sma psangan,,
    hhh,, jdi pgen pnya suami kyk mimi ge,,
    g bkalan d poligami kan,,,

    daebak tuh eon critanya,,
    bkin pnasaran,,😀

  7. uwoooo mimi ge kau aneh sekali dan kurang kerja’an. .
    Pantes za henly ngatain drmu aneh. .
    Tp ktika dngar crta tntang yeoja’y ksian. .
    Huhu. .
    Sip ceritanya. .
    Mantep. .mantep. .

  8. Q pkir mimi bakal ningalin henry ternyata balik juga..syukur deh🙂
    Ternyata itu toh alasanya mimi duduk di halte terus..tp mimi cetia bgt ama mantan pacarnya,tetap menepati janjinya ^^

  9. ceritanya mengharukan dan menyedihkan waktu mimi cerita ttg masa lalunya
    suka kata2nya mimi yg bilang klo yeoja mantannya yg udh mati adl yeoja terakhir yg dy cintai toh nyatanya bener bahwa yg dicintai skrg adl henry yg seorang namja
    two thumbs buat thena

  10. hae pura” bego -3-
    entar klo ktmu Hyukkie jg bkal naksir kok😛
    pdhl klo Zhoumi kgk balik aku mo jdiin Henry uke ku (?)
    jdi pair.a MinRy? #plakkplakkplakk! #ditampar Mimi

  11. Kirain tadi zhoumi hantu .
    Selalu bagus sperti biasa oen keren . Selalu bisa buat ak trbawa suasana .

    bikin sequelnya dong tpi focusnya kyumin

  12. aku kira Zhoumi hantu…
    ternyata orang toh😀

    fict nya memang awalnya aku bingung bacanya
    tapi akhirannya bagus kok eon🙂
    seperti biasa thena eon emang daebak !!😀

    bikin fict tentang SHINee juga dong eon, kalau bisa yang humor ya😀
    Hwaiting !!!

  13. Awal2 baca.. Nebakny klo Mimi tu Setan/roh yg kelayapan d bumi gtu.. Hahahaha…
    Abis kga jelas bgt du2k d halte sendirian.. Sok2 misterius dh..
    Eehh ternyata dy du2k d halte cman mau ngitungin Bus..

    Tp Romantis & Sweet bgt Zhoury nya.. Lgi kangen2ny sma couple satu ni saia…

  14. kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa……………..
    Kta2 Mimige bag. akhir co cweeetttt…
    hhfftttttt….
    lnjuuutt dong Eonn yg bag. Yewook n Kymin low perlu kisahx Hae 5 Hyuk kkkkk😛

  15. Uuuhh . . .
    Mimi kok gitu bgt sie?
    Mochi jadi galau kan tuh!
    Aigoo . . .
    Ketemu lagi dgn org2 yg g bsa jujur ama perasaannya!
    *lirik YeWook*

  16. “Aku… Sama tidak normalnya denganmu, Zhoumi hyung” hahaha,polos bgd sih si m0chi😀

    kraen Zhoumi’nya bkln bnran prgi,eh trnyta dia balik lg..I like this😉

  17. Mimi gilaaa!!!! Mochi juga polos amat sih? ckckck……jadi pengen makan aja tuh si Mochi #tabokked#

    hehehe……suka umma ceritanya. Yah, walaupun awalnya umma kira si Mimi adalah hantu (?) tapi untungnya nggak.

    Mimi aneh! Mochi pabbo ! Thena………Gilaaaaaa!!!!!! #kaburbarengMimi#?

    nae chagi, saranghaeeeee……#teriakpakeToa#🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s