Hope is A Dream That Doesn’t Sleep

Hope is A Dream That Doesn’t Sleep

.

Pairing :: KyuWook

Genre :: Hurt/Friendship

Rated :: K

.

Rumah sakit. Januari,23 Oktober 1998..

“Sahabat itu asal hanya ada satu di dunia kurasa cukup. Asal dia bisa memahami dirimu dan menerima kekuranganmu tanpa masalah.”

Kyuhyun menatap jauh ke dalam mata Ryeowook. Berusaha menyelami mata bening namja bertubuh kecil itu.

Ryeowook tersenyum polos kepadanya. “Kalau kau mau, kita bisa menjadi teman.”

“Apa kita akan berteman selamanya?” Tanya Kyuhyun.

Ryeowook mengangguk. “Selamanya.”

.

23 Oktober 2010…

Seorang namja tampan, bertubuh tinggi dengan rambut kecoklatan agak ikal tengah berdiri di atas panggung yang megah. Panggung yang penuh dengan ratusan atau mungkin ribuan penonton yang menyerukan namanya.

“CHO KYUHYUN!”

“CHO KYUHYUN!”

Seruan para penggemarnya bagaikan sebuah musik ditelinganya. Namja tampan itu mengangkat satu tangannya dan melambai sambil tersenyum manis. “Ini lagu persembahan terakhir dariku di konser ini.” Gumamnya.

Para fans itu langsung heboh.

“Lagu ini kupersembahkan untuk seorang komposer nomor satu yang telah menciptakan lagu ini untukku.” Ucap Kyuhyun lagi. “Kim Ryeowook, kau dengar kan?” Senyum getir terulas diwajahnya dan dia menenggelamkan wajahnya.

Namja bersuara indah itu mulai bernyanyi.

0o0o0o0o0o0o0o0

Maret, 12 Agustus 2005…

~Kyuhyun pov~

Aku berlari cepat begitu keluar dari pusat pelatihan dimana aku di trainee setahun ini. Saat ini aku, Cho Kyuhyun, baru saja berusia tujuh belas tahun. Setahun yang lalu saat baru saja menang dari sebuah kompetisi game di pusat kota, ada seorang ahjussi yang menawariku untuk ikut audisi. Dan ternyata aku lolos audisi di sebuah entertainment dan mulai di trainee.

Dia pasti sudah menungguku.

Aku berbelok ke persimpangan jalan kecil dan berlari ke arah sebuah taman. Seperti yang kuduga, dia sudah ada disana sambil menemani beberapa anak kecil bermain pasir.

“Hoi, Wookie!”

Namja itu menoleh kearahku dan berdiri. Bukannya menyambutku dengan senyuman, Wookie, atau yang bernama lengkap Kim Ryeowook itu malah cemberut sambil menatapku gusar.

Aku menggaruk kepalaku tak enak hati. “Eung, mianhae. Tadi ada kelas tambahan di pusat pelatihan.”

“Kau punya ponsel, Kyu?”

Dengan raut wajah heran aku mengeluarkan ponselku. “Ini? Wae?” Tapi beberapa detik kemudian aku paham akan pertanyaannya. Dia tak mau meminjam ponselku. Tapi dia pasti mau marah. “Mianhae! Aku lupa kirim pesan!” Sesalku lagi.

Wookie itu sebenarnya bukan pemarah. Dia hanya kurang suka menunggu. Namja bertubuh pendek itu memilih menghela nafas sambil menatapku malas. “Aku tuh sudah menunggu satu jam disini. Baru saja mau pulang.”

“Mianhae.” Ulangku lagi. Sepertinya harus kuulang seratus kali biar anak ini tak terus mengomel. “Kau bawa kan?” Tanyaku lagi sambil menatap matanya penuh harap.

Senyum manis diwajahnya mulai terulas. Satu tangannya merogoh ke dalam tasnya dan mengeluarkan sesuatu yang sejak tadi aku tunggu- tunggu. Kaset game keluaran terbaru! Battle Tank new version!

Aku langsung merebut kaset itu dari tangan Wookie. “Yes! Gomawo, Wookie! Akhirnya aku bisa mendapatkannya juga! Karena tak punya waktu untuk mengantri antrian pembelian, akhirnya kau mendapatkannya!! Yeaaah!” Seruku kegirangan.

Wookie berdecak bangga. “Aku dapatkan dengan mengantri dua jam. Untung saja aku ini anak dengan waktu luang yang sangat banyak.”

Kutatap dia lagi dan menepuk kepalanya. “Anak pintar.”

“Heya, aku ini setahun lebih tua darimu!” Serunya kesal.

Aku terkekeh melihat kelakuannya. Sebenarnya dia memang setahun lebih dua dariku. Tapi aku tak pernah memanggilnya hyung, bukannya tak sopan, tapi itu karena aku tak pernah menganggapnya lebih tua dariku. Dia itu sangat manis dan mungil. Akan sangat lucu kalau kupanggil hyung.

“Kau boleh keluar sampai jam berapa?” Tanyaku lagi.

Kedua bola matanya menatap keatas dengan wajah berpikir. “Sekitar satu jam lagi aku harus pulang. Wae?”

“Oke! Kalau begitu kau ikut aku ke game centre, kita battle game dulu, sudah lama kita tak bermain.” Aku langsung menarik pundakknya dan menatapnya.

Wookie mengangguk santai sambil terkekeh. “Tapi kau harus ingatkan aku. Kalau aku terlambat pulang, para perawat itu akan sangat berisik. Bisa- bisa aku dihukum tidak boleh main selama satu bulan. Aku bisa mati bosan di kamar rumah sakit.”

“Sip!” Seruku lagi penuh semangat.

Aku, Cho Kyuhyun. Dan dia, Kim Ryeowook. Kami berdua sudah bersahabat cukup lama. Ah, bukan! Kami sudah sangat lama sekali bersahabat. Pertemuan pertama kali saat aku yang masih berusia sepuluh tahun harus masuk rumah sakit untuk menjalani operasi tulang belakang karena aku mengalami kecelakaan.

Sedangkan dia, Wookie sudah sangat lama tinggal di rumah sakit. Yang kutahu, jantung anak itu lemah dan dia harus berada di rumah sakit sampai kondisinya pulih. Hanya saja meski kondisinya pulih, kapan saja penyakitnya bisa sembuh. Meski sudah operasi, penyakitnya tak kunjung membaik. Seakan tahu kalau aku kesepian di rumah sakit, akhirnya dia selalu datang menemaniku pasca operasi dulu.

Saat itu hanya dia sahabatku. Aku yang kesepian di rumah sakit, dia yang kesepian di rumah sakit, kami berdua sangat mirip dan ternyata cukup cocok. Akhirnya kami putuskan untuk bersahabat. Bersahabat untuk selamanya.

Ah, seandainya kata selamanya itu benar- benar bisa terealisasikan.

0o0o0o0o0o0o0o0

13 Desember 2005…

“Natal sebentar lagi.”

Aku menatap wajah Wookie datar. Namja itu tak menatapku, matanya lurus menatap ornamen pohon natal yang berada di luar kamarnya. Karena kamarnya di lantai satu rumah sakit, jadi dari jendela kamarnya dia bisa melihat pohon natal yang mengelilingi rumah sakit ini.

Namja itu menoleh menatapku. “Kenapa matamu sembab begitu, Kyu? Kau menangis?”

“Pabbo.” Balasku dingin sambil menatapnya. “Kenapa kau tak bilang padaku kalau kondisi tubuhmu sedang buruk?”

Wookie hanya tersenyum kecil. “Kalau aku bilang, kau pasti tak mau bertemu denganku. Aku sangat bosan, Kyuhyun.” Guraunya santai.

Aku menggigit bibir bawahku kesal.

Dua hari yang lalu, Wookie tiba- tiba ingin bertemu denganku. Setelah satu minggu sebelumnya kami tak bertemu, tiba- tiba sahabatku itu ingin battle game denganku. Aku sama sekali tak tahu kondisinya, jadi aku mengiyakan ajakannya.

Setelah bermain seharian, tiba- tiba kulihat wajahnya pucat dan dia langsung pingsan.

Aku langsung membawanya ke rumah sakit. Saat itu tubuhnya dingin sekali. Aku gemetar saat menggendongnya dan berlari menyusuri jalan setapak. Kubiarkan udara dingin menggigit sampai ke tulangku. Saat itu yang aku pikirkan hanya keadaan Wookie.

Saat sampai di rumah sakit, seorang perawat memarahiku. Dia bilang kondisi namja itu memang sedang buruk beberapa hari ini. Dan karena kejadian itu, Wookie tidak boleh keluar dari rumah sakit sampai satu bulan. Natal dan tahun baru tahun ini akan dirayakannya di tempat ini.

Lagi..

“Jangan tatap aku seperti itu, Kyu.” Wookie membuyarkan lamunanku.

“Memangnya kau mau aku tatap serperti apa? Seperti ini?” Aku melotot menatapnya sambil cemberut.

Wookie tertawa. “Ahaha, apa sih yang kau lakukan? Jangan melotot seperti itu, sangat tidak lucu!” Serunya cepat.

Aku tersenyum kecil. Aku paling suka kalau ucapanku berhasil membuatnya tersenyum. Dia itu sahabatku.

“Jangan berbohong lagi, ya.” Ujarku.

Sorot mata Wookie langsung berubah. “Bohong apa? Aku kan tidak pernah berbohong.”

“Kau tak membohongiku apanya? Kau bohong karena kau tidak bilang soal kondisi tubuhmu. Lalu kau juga membohongi tubuhmu sendiri. Pokoknya kau jangan seperti itu lagi. Arra, Kim Ryeowook?” Kutatap dia serius.

Sorot mata teduhnya kembali memenjarakan diriku. Dia tersenyum sambil mengangkat kedua tangannya. “Aku berjanji.”

Perasaan lega menyelimuti hatiku. Setidaknya Wookie tak akan mengingkari janjinya.

“Boleh aku minta satu permintaan kepadamu, Kyu?”

“Apa?”

“Jika masa trainee yang kau jalani sudah selesai dan kau mulai debut sebagai seorang penyanyi, apa kau mau menyanyikan laguku?” Dia menatap lurus kedepan sambil tersenyum lembut.

Lagunya?

“Kau membuat lagu?” Tanyaku tak percaya.

Namja itu kembali menengok menatapku dan mengangguk. “Aku membuat sebuah lagu. Belakangan ini aku melihat banyak artis yang baru debut. Dan aku yakin suatu saat kau juga akan seperti mereka. Sebagai sahabatmu, aku ingin kau menyanyikan laguku.”

Aku tersenyum menatapnya. “Boleh kulihat lagunya?”

Dia menggeleng. “Jangan sekarang, Kyu. Kau boleh melihatnya kalau kau sudah debut nanti.”

“Baiklah. Kalau begitu aku berjanji akan menyanyikan lagu itu.” Aku mengangkat satu tanganku dan berjanji dihadapannya.

Senyumnya terulas. “Ada satu lagi.”

0o0o0o0o0o0o0o0

3 Februari 2006..

“SAENGGIL CHUKKAEYO!!!”

Aku mematung saat melihat Wookie sudah berdiri di depan gerbang sekolahku dan berseru keras saat melihatku keluar. Hari ini tanggal 3 februari, ya? Ah, hari ulang tahunku. Aku kok bisa lupa sama hari ulang tahun sendiri, sih?

Aku berlari menghampirinya. “Kenapa kau disini? Kau sudah boleh keluar dari rumah sakit?”

“Aku izin satu hari untuk keluar.” Ucapnya sambil merogoh ke dalam tasnya. Wookie mengeluarkan sebuah kaset video game terbaru. “Kau tahu? Aku berhasil mendapatkan ini setelah mengantri selama dua jam di toko kaset.” Ujarnya penuh kebanggan.

Aku menatapnya tak percaya.

Di cuaca yang masih terbilang sedingin ini, dia mengantri di depan toko hanya untuk membelikanku kaset video game? Dia itu bodoh atau tak punya otak sebenarnya!

“Anak bodoh!” Seruku gusar sambil menarik syal yang kugunakan dan kugelungkan di lehernya. “Heh, Kim Ryeowook, dengar aku! Kau itu sakit dan harus istirahat! Kau kira aku akan senang kalau kau melakukan ini?”

Mendengar ucapanku, Wookie menatapku shock. “Kau… Tidak suka, Kyu?”

“Aku sangat tidak suka dengan sikapmu yang mengentengkan penyakitmu ini. Aku lebih senang kau menungguku di rumah sakit daripada melihatmu menunggu di depan sekolahku dalam cuaca sedingin ini. Aku lebih suka kau menuruti ucapan para perawat dan dokter dari pada menjadi pembangkang seperti ini.”

Kedua tangannya langsung terjatuh lemas dan dia menatapku dengan mata berkaca- kaca.

Ucapanku tadi keterlaluan.

“Mian.” Bisiknya pelan. “Aku kira kau pasti akan senang. Makanya aku menunggu disini sampai kau keluar. Tak kusangka kau akan semarah itu, Kyuhyun.”

“Aku bukannya marah, Wookie.” Aku langsung berjalan sambil merangkul pundaknya. “Aku ini menasihati. Menasihati itu berbeda dengan memarahi, tahu.”

Wookie terkekeh pelan. “Arraseo.” Jawabnya santai. “Tak akan kuulangi lagi.” Dia mengangkat satu tangannya sambil tersenyum kearahku. “Jadi, kau tak mau kaset game ini?” Dia kembali menyodorkan kaset itu.

Aku langsung mengambilnya. “Tentu saja aku mau. Ini kan kado dari sahabatku, masa aku tolak?” Aku tertawa sambil mengacak rambut hitamnya santai. “Hari ini akan kutraktir kau makan apapun yang kau suka.” Balasku.

.

Langit mulai gelap. Saat kulihat jam, ternyata sudah jam lima sore. Waktunya pesta kecil kami diakhiri untuk hari ini.

“Wookie, biar kuantar kau pulang ke rumah sakit.” Ujarku.

“Ani.” Wookie memainkan satu jarinya. “Hari ini masih belum selesai, masih ada yang aku inginkan.”

Kutatap namja itu heran. Sudah main seharian, dia masih ingin menginginkan sesuatu. “Apa? Kalau yang aneh- aneh, tak akan kukabulkan.”

“Waktu di rumah sakit dulu, kan aku masih memiliki satu permintaan kepadamu, kan?”

Aku mengangguk masih dengan bingung.

“Aku ingin memintanya sekarang.”

“Memang apa itu?”

Dengan cepat Wookie langsung menarik tanganku keluar dari kedai tempat kami makan sore itu. Dia membawaku ke sebuah toko dan meminta kaleng tak terpakai pada si pemilik toko. Mau diapakan kaleng itu?

“Kau mau apa, sih?” Tanyaku penasaran.

Namja itu hanya bersenandung kecil sambil berjalan menuju taman tempat kami janjian untuk bertemu. Sebenarnya dia mau apa?

Di bawah sebuah pohon, Wookie berjongkok sambil meraba permukaan tanah. “Menurutmu, apa tempat ini cukup bagus kalau dibuat lubang?” Tanyanya sambil menengadah menatapku dengan satu alis naik.

Aku ikut berjongkok. “Buat apa? Kau mau mengubur kaleng itu?”

Dia menjulurkan lidahnya sambil nyengir. “Ini permintaanku yang satunya lagi. Heya, Cho Kyuhyun. Ayo mengubur sebuah time capsule disini.” Ajaknya sambil menepuk bahuku santai.

Time capsule?

Ah.. Dasar Kim Ryeowook aneh!

Refleks aku langsung tertawa geli sambil bersandar dipohon. “Aigoo, aku kira kau mau apa. Ternyata mau mengajak membuat sebuah time capsule toh. Kenapa tidak bilang saja sih?” Tawaku.

Wookie cemberut. “Aku kan hanya ingin mengejutkanmu.” Gumamnya bête. “Kau mau tidak?”

“Iya.. Iya…” Aku langsung berdiri dan berjalan mencari ranting. Kudapatkan ranting yang cukup kuat, dan aku kembali ke tempat Wookie dan mulai menggali permukaan tanah. “Apa yang harus kita kubur? Kau mau menulis surat untuk kita di masa depan nanti?” Tanyaku.

Wookie bergumam. “Sudah gali saja dulu.”

“Ini cukup?” Aku mengambil kaleng yang tadi diminta Wookie dan memasukkannya ke dalam lubang itu. Cukup dalam sepertinya. Kembali ku tatap dia. “Sekarang, apa yang mau kau masukan?”

Dia tersenyum riang seperti anak kecil sambil merogoh ke dalam tasnya. Dikeluarkannya secarik kertas juga sebuah kaset.

“Itu lagu yang kau ceritakan dulu?” Tanyaku.

Namja itu mengangguk. “Di kertas ini tertulis liriknya, di kaset ini sudah kurekam musiknya. Seperti yang kubilang padamu, kau boleh tahu kalau kau sudah debut. Sampai saat itu tiba, aku ingin menguburnya di dalam sini. Kita di masa depan yang akan membukanya kembali.” Ujarnya sambil tersenyum.

Wookie membuka penutup kaleng itu dan memasukan kertas juga kaset yang dimilikinya ke dalam. Dia menatapku. “Kau, apa yang akan kau masukan?”

Buru- buru kuambil kaset video game yang tadi Wookie berikan  kepadaku. “Ini.”

“Loh, itu kado dariku!” Dia menatapku tak terima.

Dengan santai aku memasukkan kaset itu ke dalam kaleng. “Memang kenapa? Kaset ini kan hadiah dari sahabatku sendiri, jadi ini barang yang sangat berharga untukku. Akan kusimpan sampai saatnya tiba dan baru kumainkan. Mungkin saat itu game ini sudah tidak terkenal, tapi bagiku saat itu game ini akan menjadi kado yang sangat manis.” Aku tersenyum menatapnya. “Tak apa, kan?”

Wookie tersenyum penuh haru kepadaku. “Baiklah.” Langsung ditutupnya kaleng itu dan dia membenamkan kaleng itu di tanah.

Aku mengambil sabuah batu yang cukup besar dan menancapkan batu itu agak kedalam tanah agar tidak bisa dipindahkan orang lain. “Dengan begini, kita akan mudah menemukannya nanti. Aku seperti anak kecil saja.” Gumamku.

“Berjanjilah, kita tak akan membukanya sampai kau debut nanti.” Ucap Wookie sambil berdiri.

“Aku berjanji.”

0o0o0o0o0o0o0o0

5 November 2006…

“Heya, Kyuhyun!” Seorang namja menghampiriku dengan tampang senang. “Kau dipanggil oleh Sooman-sonsaengnim.”

Ngh? Kenapa dia memanggilku.

“Ada apa?”

Namja itu hanya tertawa aneh. “Temui saja dia.”

Sooman-sonsaengnim adalah pemilik perusahaan tempatku menjalani masa- masa trainee dua tahun ini. Tumben sekali dia mau bertemu denganku. Apa ada kabar baik?

TOK-TOK! Aku mengetuk pintu ruangannya dan perlahan membukanya.

“Anda memanggilku?”

Ahjussi itu tersenyum sambil mengarahkan tangannya kearahku. “Kemarilah, Cho Kyuhyun.”

Aku datang kearahnya dan duduk di sofa. “Ada apa, sonsaengnim?”

“Aku sudah menempatkanmu pada sebuah boyband baru yang akan segera kubentuk. Akhirnya keputusan ini telah disetuju dan kami tinggal menerima persetujuanmu. Kau akan menjadi salah satu member dari SM The Ballad, bersama dengan Jay T-rax, Kim Jonghyun juga Cho Jino. Chukkae.”

Aku masih mematung menatapnya. Aku…. Akan segera debut?

“Kau termasuk beruntung karena sudah ditentukan. Tapi kau masih harus menjalani masa trainee dengan ketiga temanmu itu sebagai satu grup. Mungkin sekitar satu atau dua tahun lagi.”

“Gwaenchana!” Seruku. “Yang penting aku sudah dapat kejelasan dari masa trainee-ku! Kamsha hamnida, sonsaengnim!” Aku langsung membungkuk hormat.

“Kau boleh keluar dan menyampaikan berita ini kepada keluargamu.”

“Nae.” Aku membungkuk lagi dan langsung berjalan keluar dari ruangan itu. Dengan segera kuambil ponselku dan menghubungi nomor ponsel Wookie. “Wookie!!” Seruku saat namja itu menjawab teleponku.

Kyu, waeyo?

“Aku punya berita bagus untukmu! Kita bisa bertemu sekarang?”

Wookie diam sejenak.

“Wookie?”

Ah, mian. Tadi aku melamun. Mau bertemu dimana?

Melamun kenapa?

“Di taman biasa.”

Baiklah, aku akan segera kesana.

“Oke, kau tunggu aku. Tunggu aku sampai aku disana.” Seruku sambil menutup flat ponselku dan berlari menyusuri lorong tempat pelatihanku.

Kau pasti akan sangat terkejut, Wookie.

“Kyuhyun hyung!”

Aku berhenti berlari dan menoleh kebelakang. Jino berlari kearahku dengan wajah sumringah. “Aku sudah dengar katanya kita akan bergabung di satu grup!”

“Ah, jeongmal kau sudah dengar? Nae! Aku juga baru tahu tadi. Tapi kita masih harus menjalani masa trainee lagi, Jino.” Ucapku semangat.

Jino mengangguk. “Untuk merayakannya, Jonghyun hyung mengajak kita makan. Sebagai salah satu calon anggota, kau juga harus ikut, hyung!”

Ehh?! Tapi!

“Ayo!” Tanpa menunggu penjelasanku, Jino langsung menarik lenganku.

Tapi bagaimana dengan Wookie?! Dia pasti menungguku.

0o0o0o0o0o0o0o0

Aku sebentar lagi akan kesana.

Aku mengetik pesan untuk Wookie dan langsung menatap ketiga temanku yang sudah makan. “Aku sebenarnya ada janji, jadi aku tak bisa lama- lama.” Ujarku.

“Ya, Kyu. Kau ini kan harus ikut sampai pesta selesai.” Ucap Jay hyung sambil meminum segelas soju yang dipesannya. “Kita harus merayakan berita baik ini.”

“Setuju!” Seru Jonghyun senang.

Tapi bagaimana dengan Wookie.

TRRRT! Ponselku bergetar. Ada pesan balasan dari Wookie.

Oke. Aku akan menunggu sampai kau datang.

Aku tak mungkin membuatnya menunggu lama. November kan sudah mulai dingin. Pasti nanti penyakitnya tambah buruk, deh. Aku tak bisa membiarkannya menunggu! Aku harus kesana sekarang!

BRAK! Aku berdiri.

“Wae, hyung?” Jino menatapku heran.

Aku membungkuk cepat. “Mianhae, aku benar- benar harus pergi sekarang. Lain kali kalian pasti akan aku traktir, deh. Aku janji.” Aku langsung berlari keluar dari kedai dan menyusuri jalan menuju halte bus.

Wookie, jangan pulang dulu, oke! Sudah satu minggu kami kan tidak bertemu, kalau bukan hari ini, kapan lagi aku bisa menemuinya?

Aku benar- benar tak sabar untuk sampai di taman. Lima belas menit naik bus, akhirnya aku turun di halte terdekat dengan taman itu. Aku akan segera sampai. Sambil berlari aku meraih ponselku dan me-redial nomornya.

Hhh.. Yeoboseyo?

“Kau masih disana, kan?”

Nae. Aku akan menunggu…” Suara Wookie hilang beberapa saat. “Aku akan menunggu sampai kau datang.

Ada yang aneh?

“Aku sebentar lagi sampai. Tunggu sebentar lagi.”

Nae, Kyu. Aku akan menunggu.

TUUUT~ Sambungan telepon kami langsung terputus begitu saja.

Perasaanku tiba- tiba tak enak. Ada apa?

Aku berlari semakin cepat. Bukan dengan perasaan bahagia yang tadi kurasakan, tapi dengan perasaan cemas serta khawatir.

Akhirnya aku sampai di pintu masuk taman, kulihat Wookie berdiri di pohon tempat dimana kami menanam time capsule berbulan- bulan yang lalu. “Wookie!!”

Namja itu menatapku sambil melambaikan tangannya dan tersenyum.

Dia…

Perlahan tubuhnya melayang dan kedua tangannya terkulai lemah.

BRUKK!! Wookie langsung terjatuh.

Aku berhenti berlari beberapa langkah dihadapannya dan mematung shock. “Wo-WOOKIE!!!”

.

“Sudah dibilang dia tak boleh keluar dari ruang perawatannya!!”

Aku mematung saat seorang perawat membentakku. Wookie sudah dibawa masuk ke ruang UGD rumah sakit dan aku hanya bisa mematung di depan pintu itu. Hanya mematung dengan perasaan campur aduk.

“Di-dia… Tidak bilang.” Suaraku gemetar.

“Sudah tiga hari kemarin dia koma. Dan baru siuman kemarin pagi. Tapi hari ini dia kabur dari rumah sakit dan menghilang seharian. Kondisinya kacau. Seharusnya sebagai temannya, kau tak membiarkannya berbuat seceroboh ini!”

“Mianhae…” Aku menunduk. “Apa… Dia tak akan kenapa- kenapa?”

“Kami tak tahu. Tunggullah disini sampai keluarganya datang.” Perawat itu langsung masuk ke dalam ruang UGD. Meninggalkanku sendirian.

Aku berjalan lunglai ke kursi dan merosot duduk dengan tubuh lemah.

Pantas saja hampir satu minggu dia tak kedengaran kabarnya. Pantas saja suaranya terdengar aneh tadi. Dan aku? Tanpa menyadari sesuatu terjadi kepadanya, aku memintanya menungguku.

Tapi kalau kondisinya buruk, kenapa dia diam saja! Seharusnya dia kembali ke rumah sakit!

Aku akan menunggumu.

Kata- kata itu kembali terngiang dan spontan membuat hatiku sakit.

Dia menungguku… Karena menungguku, dia diam saja disana. Aishh~

0o0o0o0o0o0o0o0

4 Juni 2008…

“Besok, kalian akan tampil secara resmi di SBS stasiun untuk diperkenalkan secara resmi.” Kutatap manajerku sambil mengatur rambutku yang baru saja kupotong. Panjangnya berkurang jadi agak pendek, sih. Lebih rapih.

“Lagu pertama kita Miss You.” Ucap Jay hyung.

Aku hanya mengangguk. Akhirnya besok aku akan memilai debutku.

Dua tahun aku menunggu waktu ini, akhirnya aku bisa debut dan memulai karirku sebagai seorang bintang idola. Ah, bintang idola? Ini saatnya akan ada sebuah bintang lagi di langit, dan itu adalah bintangku.

Menyusulnya yang sudah menjadi bintang dua tahun yang lalu.

“Hyung, bukannya kau mau datang ke suatu tempat?” Jino mengingatkanku.

Ah, benar! Aku harus kesana.

“Aku pergi dulu, ya!” Aku langsung berlari ke luar dari dorm kami dan berjalan cepat. Karena aku masihlah seorang artis yang mau debut besok, aku masih belum butuh penyamaran seperti artis terkenal.

Masih santai…

Dalam waktu tiga puluh menit, aku akhirnya sampai di tempat itu. Taman.

Aku berjalan kearah pohon besar yang tak pernah berubah di taman itu. “Sudah dua tahun berlalu. Bagaimana kabarmu disana?” Gumamku sendirian sambil berjongkok di bawah pohon itu. Menyentuh sebuah batu yang tertanan di dalam tanah.

Dua tahun lalu, di taman inilah tempat terakhir aku bisa melihatnya bergerak. Ya, bergerak.

Saat dia masuk ke ruang UGD dalam keadaan kritis, dia tak pernah keluar lagi dalam keadaan yang sama. Dia berubah. Saat keluar hari itu, dia bukanlah dia yang kukenal. Bukanlah dia sahabatku yang hangat dan selalu tersenyum.

Dia hanya sesosok tubuh yang terasa dingin juga kaku dengan mata terpejam.

Bola mata jernihnya yang selalu bisa memenjarakanku di dalamnya, tak akan pernah terlihat lagi. Bola mata itu… Telah mati.

Ya, Kim Ryeowook, sahabatku yang sangat manis dan baik itu.. Telah tiada.

Air mataku kembali menetes. Entah sudah berapa kali aku menangisinya. Menangisi kebodohanku yang menyuruhnya menungguku hari itu. Jika aku bisa datang lebih awal, mungkin dia masih bisa selamat. Dengan sisa tenaganya, dia tetap menungguku dan melambaikan tangannya.

“Ishh…” Aku memejamkan mataku kuat- kuat. Berniat menghentikan tangisanku. Tapi mustahil. Aku tak akan bisa berhenti tiap mengingat kenangan pahit di hari itu. Hari yang seharusnya menjadi hari bahagia, berubah.

Dua tahun dan besok aku akan memulai debutku. Sesuai janji kami dulu, aku sudah boleh membukanya kan, Wookie?

Dengan tangan gemetar aku menggali tanah dan mengangkat batu besar itu. Kaleng itu masih tetap utuh di dalam tanah. Tertutup dengan sangat rapat. Secara hati- hati aku mengangkat kaleng itu keluar.

Ini saatnya kudengar lagunya. Dan aku akan menyanyikannya.

Kubuka penutup kaleng itu dan aku melihatnya. Sebuah kaset video game, sebuah kaset rekaman, dan dua carik kertas.

Eh? Dua kertas?

Aku langsung mengambil kedua kertas itu dan membukanya. Yang satu adalah sebuah lirik lagu. Dan yang satu lagi. Dengan perlahan aku membukanya. Kulihat tulisan tangan Wookie agak memudar dan sedikit menguning.

Aku membacanya.

Kapan kau membukanya? Apa kau akan segera debut? Ah, kuharap iya. Kau tak mungkin mengingkari janjimu, Kyuhyun.🙂

Dia percaya padaku sampai akhir. Nae, Wookie… Aku membacanya karena besok aku akan memulai debutku.

Aku tulis surat ini saat aku terkurung di ruang isolasi di rumah sakit. Aku benar- benar kesepian dan tidak bisa memegang ponsel. Aku sangat bosan dan ingin sekali keluar. Tapi para perawat itu menahanku disini.

Saat ini aku tahu, mungkin sudah saatnya kita akan berpisah. Karena itu kutulis surat ini.

Kau kaget kan? Hehe…

Aku sangat kaget, pabbo. Aku tersenyum kecil membaca bagian atas surat itu. Mataku mulai terasa panas. Dan air mataku mulai menetes.

Kyuhyun, sahabatku. Berjanjilah kau akan menjadi orang yang sangat baik untuk dirimu nanti. Kalau kau terkenal nanti, tetaplah menjadi dirimu yang apa adanya. Karena itulah kau yang sahabatku. Kalau kau berubah, berarti kau bukan sahabatku.

Aku menarik nafas sebentar dan menghapus air mataku yang mengalir semakin deras. Apakah saat ini aku berubah? Tidak, aku masihlah Kyuhyun yang sama. Aku sahabatmu, Wookie…

Jangan menangis.

Terlambat! Aku sekarang sedang menangis, nih!

Aku sudah tak bisa lagi mengantri di toko video game untuk mendapatkan kasetmu. Jadi, mulai sekarang kau antri sendiri ya. :p

Siapa juga yang mau mengantri? Aku kan sudah punya laptot sendiri, jadi aku bisa bermain game online kapanpun tanpa menggunakan kaset. Haha.. Kau kampungan, Wookie.

Lagu ini… Hadiah terakhirku untukmu. Nyanyikan laguku. Aku ingin mendengarnya dengan suaramu. Hope is a dream that doesn’t sleep. Impian adalah mimpi yang tak akan pernah tertidur. Meski sekarang aku akan tertidur sangat panjang, impianku akan terus bersinar denganmu. Lagu inilah impianku.

Sampai bertemu lagi, di dunia yang tak terbatas. Sahabatku.

Aissh~ Aku meremas surat itu pilu sambil menunduk dan menyandarkan tubuhku di pohon. Dengan gemetar kuambil kaset rekaman itu dan memasukkannya ke dalam pemutar kaset yang sengaja kubawa hari ini. Kupasang earphone di kedua telingaku.

Instrumen piano mengalir lembut dari alat itu.

Dengan perlahan kuambil kertas lain yang ditinggalkan Wookie dulu dan aku memejamkan mataku, mendengarkan dentingan piano yang berani kujamin, Wookie-lah yang memainkannya.

Lagumu akan kunyanyikan. Pasti akan kunyanyikan.

~Kyuhyun pov end~

0o0o0o0o0o0o0o0

23 Oktober 2010…

Neul naui gyeoteseo geurimjacheoreom

Joyonghi neoneun naegero waseo

Na apahaneunji maeil oerounji

Geuriumeuro neoneun naege danyeoga

 

Sesangi nal ulge haedo naneun gwaenchana

Hangsang niga naui gyeote isseunigga

Meonjicheoreom chueoki byeonhaeseo ddeonalgga

Geujeo useumyeo maeumeul dalraeeo bwado

 

Nae salmi haruharu kkumeul kkuneun geotcheoreom

Neowa hamgge majubomyeo saranghalsu itdamyeon

Dasi ileoseol geoya..

Naege sojunghaetdeon gieoksokui haengbokdeul

Himdeun sigan sokeseodo deouk ddaseuhaetdeon

Huimangeun naegen jamdeulji aneun kkum..

 

Sueobsi neomeojyeo biteuldaedo

Naneun ireohgeseo itjana

Nae mam hanabbuninde

Himdeul ddaemyeon niga ireohge himi dwaejulrae

Neoreul hyanghae yeongwonhi

Ireohge sangcheo soke seulpeumdeuleul samkinchae..

Miso jitneun nae moseubeul neoege boyeo julge

Ijeneun apeuji ana..

Eonjena neowa hamgge irugopeun kkum ango

Galsu eobdeon jeopyeoneseo neoreul bulreobolgge

Nae maeum dahae saranghaneun neoreul…

.

Air mata Kyuhyun tak bisa ditahan. Air mata itu tumpah saat ia selesai menyanyikan lagu itu. Para penggemarnya langsung histeris melihat namja tampan itu menangis di hadapan mereka. Sejak dulu memang selalu begitu, Kyuhyun akan menangis saat menyanyikan lagu ini.

Lagu sahabatnya.

“Gomawo.” Kyuhyun membungkuk hormat sekali dan berjalan turun dari atas panggung.

23 Oktober adalah hari dimana dia dan Ryeowook berjanji untuk menjadi sahabat selamanya. Sejak dia debut, setiap tanggal itu Kyuhyun akan menggelar sebuah konser tunggal. Dan di akhir konser itu, dia akan menyanyikan lagu Ryeowook.

Senyum Kyuhyun terulas saat melihat para rekannya menatapnya bangga karena konser itu berakhir baik.

Kyuhyun menoleh ke sudut panggung dan mematung. Samar tapi pasti, dia bisa melihat sosok bayangan Ryeowook dengan baju santai tengah berdiri sambil tersenyum kearahnya. Saat itu mungkin Kyuhyun hanya menatapnya sebagai halusinasi yang dipantulkan otaknya.

Tapi Kyuhyun tersenyum kearah sudut panggung itu. Tersenyum kearah sahabatnya.

“Kita akan bertemu lagi, di dunia yang tak terbatas nanti. Sampai saat itu tiba, aku akan membuat satu lagi bintang impian di langit. Itu adalah bintang impianmu, Kim Ryeowook.” Gumam namja itu sambil berjalan pergi.

.

.

~Fin~

36 thoughts on “Hope is A Dream That Doesn’t Sleep

  1. Sumpah eon KEREN banget ..
    Aku sampe nngis baca’a ..
    Hiks hiks hiks hiks😥
    Ryeppa knpa nekat banget sih ..
    Pikir kesehatan dulu dong😦
    Gk bsa bnyak coment tpi yg jelas aku ska bnget eon ..

  2. mau nangiiiiiss~
    DAEBAK eonni,feelnya dapet bgt..

    wookie muncul dalam sosok hantu.. *ditoyor ryeosomnia
    btw,jarang jarang kyu jadi penyanyi kalo di fanfic,hehe..
    aku suka bgt ama lagu ini,artinya dalem bgt,pas kalo yg nyanyiin kyu..

  3. Annyeong..
    .
    unni.., nyaris nangis unni…
    nyarissss….

    cerita’a bener2 sedih. feel’a berasa bgt. apalagi sambil dengerin lagu’a Kyunnie oppa..
    Omo! bener2 ngena.
    .
    DAEBAKKKK UNNIIIIIIIIIII…!!!!!!!

    ditunggu ff2 lain’a.. ^^

    Sign.
    LY

  4. kyaaaaaaaaaaaaa

    aku meler nih eon T.T

    sudah aku duga pasti wookie oppa di bikin meninggal T.T

    mana aku bacanya sambil dneger agu memmories trus lagu hope is a dream that;s doesn’t sleep…
    huwaaaa

    aku nangis nih eonnn

    tugas saeng, saeng biarkan tercecer demi baca fanfic eonnie…

    Daebak eonnn/
    (tapi lain kali jangan bikin wookie oppa yang begini eon, ntar nggak di kasih makan lag lho :P)

  5. hiks…hiks .. Serius aku bneran nangis eon … Terharu bgt ..

    Ssuai tbakanku wookie psti d’bkin mninggal ..
    Pokok’a 1 kt ini slalu ada untukmu eon .. ‘DAEBAK’

    aku bngung coment pa gy …

    Gomawo eon …*masih nangis*

  6. Ya ampun eonni….

    Kok ff.a sedih bgt sih…
    Wookppa memang berhati baik, jd mkn ska deh ma kmu…😛 *abaikan
    sedih bca ff ini, sampe nangis…. T_T

    Daebak deh…… d^_^

  7. aku nyaris nangis, pdhl lgi dikelas
    guru.a lgi jelasin, aku.a bca fanfic. ntar klo aku nngis ap kta guruku?
    klo g dithn, ku uda nngis kejer nih #disumbat pke buku pkn
    huweeeeee Wookie mati T.T

  8. Ya ampun thenaaa…uapa ini…hueee wookkie..T.T
    Hueee…T.T

    Mian thena eon g bisa komen bnykbnyak..masih nyesek..hueee..T.T *lanjutinnangis*

  9. heeeyyyyoooo, knapa boss kyyu g ngomong???
    pasti terpesona ma my umin babby bunny balla balla ya?? *noel2 kyu

    lanjuuuuuut eon,, lanjuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuutttttttttttttt ^^
    wait for next chap xD

  10. omonaaaaaa.. salah coment, it atas mau komen buat s.o.s aika paboya *geplak kpala sndiri…

    eeooonnniii. knapa wookie mati??? waeyo? apa salah wookie??
    hiks, terharu kyu masi tetep inget ma wookie walo udah debuutttt..
    hwaiting kyu….

  11. Huweee~
    Aq ngga terima wookie dibikin mninggal T.T
    Kmbaliin wookie ku #pletakk *ditimpuk rame2*

    Bnran dehh,nyesek bgd paz bca surat wookie bwt kyu..fict eon sukses bkin aq trharu T.T

  12. huwaaaaaaaa
    wookieeee jgaan pergiiiiii*plaakk*
    nangiiss niihh q seakan2 bsa ngerti rasax persaan kyu
    q jga gtu siihh*ggnanya*
    hwaitiing Eonn
    *srooott**nerusin nangis*

  13. Satu kata … meweeeek!!! Sumpah, gw mewek gaje. Ini fic friendshiep nya dahsyat banget. ya ampun Wookie, kau kasihan banget nak, n Kyu… lo dodol banget sih. Kasihan kan. udah ga ada baru nyesel.

    Bagus chingu. Suksek bikin hati sesek. Wookie nya manis. Hwaiting!

    Salam,

    Elle

  14. Yg pasti umma nangis bacanya…….
    menyedihkan sangat! perih bgt rasanya…..hiks…hiks…

    nae, chagi…..
    saranghae…

  15. Huuaaahhhh
    hix…hixxx
    ini cerita sedih amat sih thor
    aku ampe nangis nih bacanya TT_TT

    bagus banget
    ini cerita patut di acungin 4 jempol🙂

  16. Eonn😥 aku nangis bacanya😥
    Tanggung jwb *plak*
    Feel nya dpt banget eonn x'(
    Huueee buat cerita gini lg dong eonn, tapi cast nya teukhaekyu ;D ne ne ??

  17. g tau nich mst komen apa tp bnran aq nangis bc’a..bnr kt tmnku klw bc ff ini siap2 ngeluarin air mata..crt’a kyk kisah nyata..atw mmg bnran ksh nyata..author salam kenal..hiks hiks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s