A Story // Kim Family YeNa’s version

A Story

Pair :: YeNa // Straight FF

Rated :: K+

Genre :: Sweet Romance #plakk xD

Nb :: Buat para Clouds yang cinta sama Yesung oppa, dianjurkan jangan membaca fict ini. Karena kalian bisa sakit hati bacanya. Hhaha..

Jangan salahkan author, author hanyalah seorang Clouds biasa.. #ngekk

.

Chara ::

Kim Yesung

Kim Taena

Kim Eunjung

.

“Eunjung masih belum pulang?” Yesung melongokkan kepalanya ke dalam dapur dan melirik Taena yang masih sibuk memasak untuk makan siang.

Yeojya itu berpaling sebentar. “Dia selalu pulang agak sore, oppa. Kenapa kau selalu lupa sih jam pulang putri tunggalmu sendiri?”

Yesung terkekeh pelan. “Aku benar- benar kelihatan seperti appa yang buruk, deh..” Namja itu masuk ke dapur dan duduk di kursi sambil tetap memandangi sosok belakang istrinya. “Taena.”

“Ng?” Hanya itu respon yang didapatnya.

“Taena~” Dia mengulangi panggilannya dengan alis naik sebelah.

“Apa?” Taena beralih mengambil sendok kecil dan mencicipi sup yang baru matang dibuatnya.

“Apa Eunjung tak pernah bilang kalau dia mau adik?”

“UHUK!” Yeojya itu langsung tersedak.

Melihat istrinya tersedak, Yesung malah tertawa. “Tak usah sekaget itu, yeobo! Kau benar- benar kaget mendengarnya, eh?”

Taena mengerutkan keningnya kesal. “Oppa, aku sedang masak. Jangan macam- macam!” Ancamnya. Sepertinya dia sudah bisa menebak arah pembicaraan Yesung akan kemana. Adik? Satu- satunya inti pembicaraan memang hanya ‘itu’.

Yesung terkekeh lagi. “Oh, ayolah~ Eunjung kan masih lama.”

“Aniya!” Tolak Teana sambil mematikan kompor.

“Yeobo~ Kalau malam aku selalu sibuk. Dan jarang sekali kita benar- benar punya waktu berdua seperti saat ini. Masa kau tega padaku? Sudah hampir dua minggu kita tak melakukannya, aku kan kangen padamu, yeobo.” Namja itu akhirnya berjalan mendekati istrinya.

Tapi Taena langsung menghindar. Sudah sering kali dia berada dalam posisi begini, kalau Yesung berhasil menangkapnya, maka akan berakhirlah acara memasaknya hari ini. “Kubilang tidak yah tidak.”

“Sekali saja. Aku janji hanya satu kali.” Yesung tetap melangkah mendekati istrinya.

“Tidak mau!”

GRAK! Taena menabrak pinggiran wastafel dan terpojok. Yesung sudah ada dihadapannya sambil terseyum licik.

“Terpojok tuh.” Godanya jahil.

Taena semakin mendelikkan matanya. “Oppa jangan berani- berani, ya?”

“Kalau sudah kumulai kau pasti akan membalas.” Saat mengucapkan kalimat itu Yesung langsung menahan kedua tangan Taena dibawah dan mencium bibir istrinya lembut dengan hati- hati.

Seperti yang dikatakan Yesung, Taena malah membalas ciuman suaminya lembut.

Satu tangan Yesung bergerak membuka kancing kemeja yang dikenakan Teana.

“Oppa!” Taena langsung menahan tangan Yesung. “Kau lupa kita masih di dapur ,eh? Kalau tiba- tiba Eunjung pulang bagaimana?!”

“Dia masih lama, kan? Santai saja dulu. Aku malas berpindah ke kamar. Di ruang tengah saja.” Yesung langsung menggendong tubuh istrinya ke ruang tengah dan menjatuhkan tubuh Teana di atas sofa panjang.

Taena menatap suaminya kesal. “Jangan disini!”

“Kan hanya sebentar~” Balas Yesung manja. Tapi…

“Aku pulaaaang!”

DEGH! Seruan kencang seorang yeojya membuat keduanya tersentak.

Yesung buru- buru bangun dan Taena ikutan duduk dengan kaget sambil merapihkan rambutnya yang acak- acakan. Dengan cepat Eunjung masuk ke ruang tengah dan menatap kedua orang tuanya heran.

“Loh? Kenapa appa dan umma diruang tengah dengan tampang shock begitu?” Dia langsung melihat kemeja yang dikenakan Taena terbuka di bagian atasnya. “Umma, kenapa bajunya…” Yeojya itu diam sebentar. Beberapa detik kemudian kedua matanya membulat shock. “OMO! Kalian mau melakukannya di ruang tamu, hah?!”

Taena sontak menutup telinganya mendengar jeritan putrinya itu. Sedangkan Yesung hanya terkekeh aneh.

“A-appa dan umma pasti sudah gila! Kalau aku telat sedikit saja, mungkin aku akan menonton film gratis.”

“Ya, kau Kim Eunjung!” Wajah Taena memerah. Yeojya itu langsung mengancingi kemejanya dan berjalan cepat menuju dapur meninggalkan suami juga putrinya yang hanya berpandangan saling melempar senyuman aneh.

Eunjung langsung menghampiri appanya.

“Kok sudah pulang?”

“Setengah hari, appa.” Jawabnya. “Appa itu apa sih yang dipikirkan? Ingat dong putrimu ini masih dalam masa puber! Mau meracuni pikiranku yang masih polos ini, eh?”

“Polos apanya.. Memangnya kau tak mau adik, eh?” Balas Yesung santai sambil duduk di sofa. Matanya melirik ke arah dapur dan suara- suara terdengar dari dapur. Suaranya sangat keras dan membuat Yesung langsung ngeri. “Umma marah lagi, tuh. Kamu sih tiba- tiba pulang, lagi asyik juga, baru mau bikin adik baru, langsung ketunda.”

Eunjung menatap ayahnya aneh. “Dia marah karena appa nggak tahu tempat.” Sindir yeojya itu sambil kembali berdiri dan melangkah menuju dapur. “Umma! Sini aku bantu! Ayo kita cincang appa!” Tawanya dari dapur.

“Rasanya umma mau memasak kura- kura bakar.” Balas Taena dengan nada culas dan ditanggapi dengan tawa Eunjung yang semakin kencang.

Yesung yang duduk sendirian hanya mendengus kesal. Anak dan istri dua- duanya sama. =.=

0o0o0o0o0o0o0o0

Yesung berguling resah sambil memandangi wajah istrinya yang sudah terlelap disisnya. “Huf.. Aku pulang kemalaman dan dia sudah tidur. Menyebalkan.” Gerutunya pelan sambil memandangi wajah Taena.

Perlahan tangannya mengusap pipi yeojya itu hati- hati sambil tersenyum lembut. “Saranghae.” Bisiknya perlahan dan tentu saja Taena tak membalas ucapannya.

Yesung memilih bangun dan keluar dari kamarnya. Dengan langkah hati- hati dia masuk ke dalam dapur. Tapi iris hitamnya menatap heran seorang yeojya yang tengah menyelinap di balik pintu kulkas.

“Dasar pencuri makanan.” Tegurnya.

“Ya, appa!” Eunjung berseru kaget saat mendapati ayahnya sudah berdiri dibelakangnya. “Loh? Appa masih belum tidur? Umma mana?”

Yesung duduk di kursi sambil meminum segelas air. “Dia sudah tidur pulas sekali. Menelantarkan suaminya yang kesepian dan terserang insomnia akut. Sepertinya umma benar- benar marah sama appa karena tadi siang.”Balasnya sambil terkekeh aneh.

Eunjung tertawa kecil mendengar gurauan ayahnya. Yeojya itu duduk disamping Yesung sambil menuang susu di gelas dan meminumnya seteguk. “Kalian itu aneh, deh.. Sudah punya anak masih saja seperti anak- anak yang suka bertengkar tak jelas.” Balasnya. “Eung, appa…”

“Hmm?”

“Ada yang mau aku tanyakan.”

Yesung menatap putrinya. “Nae?”

“Sebenarnya, kenapa appa bisa menikah dengan umma?” Mata Eunjung membulat penasaran. “Appa itu kan dulu seorang artis terkenal, yah memang sih sekarang juga masih seorang penyanyi yang cukup terkenal.” Eunjung kembali menegak susunya dan menatap Yesung lagi. “Tapi umma kan bukan artis, umma hanya seorang penulis. Kenapa kalian bisa bertemu?”

Yesung tersenyum lembut sambil mengusap kepala putrinya penuh sayang. “Kau mau dengar ceritanya?”

Eunjung mengangguk antusias. “Aku mau.”

“Baiklah, karena kita sama- sama terkena insomnia akut, biar appa ceritakan kenapa kami berdua bisa bertemu. Ini kisah yang sudah sangat lama. Karena appa tak pandai bercerita, semoga kau tidak bosan, chagi.”

..FLASH BACK..

~Yesung pov~

“Sudah selesai, hyung.”

Aku menatap kearah Wookie yang baru keluar dari dalam studio rekaman. Namja manis itu kelihatan sangat lega karena take vocal bagiannya sudah selesai. Dia langsung menghampiriku sambil tersenyum. “Dengan begini kita tak perlu lembur, hyung.”

Aku mengangguk sambil menyodorkan padanya sebuah botol air mineral. “Mungkin Teukie hyung dan yang lainnya sudah pulang ke dorm.

Wookie, atau yang bernama lengkap Kim Ryeowook itu langsung mengambil ponselnya. “Kyuhyun juga sudah di lantai bawah menunggu kita. Dengan begini KRY sudah santai, kan?” Senyumannya langsung sumringah.

Dia pasti merasa lega karena kami semua bisa istirahat juga akhirnya.

“Ayo turun. Kasihan Kyu menunggu lama.” Ujarku sambil menarik tas kecilku dan berpamitan pada para senior yang menangani take vocal hari ini bersamaan dengan Wookie. Kami berjalan keluar dari studio dan langsung masuk ke dalam lift.

“Hari ini aku akan membuat sushi saja untuk makan malam. Semoga semuanya belum kelaparan.” Gumam Wookie sambil menekan tombol satu untuk menuju lantai bawah.

Pintu lift mulai tertutup.

SRET! Sebelum pintu itu menutup, kulihat sebuah tangan menahannya.

Wookie yang juga sadar langsung membuka kembali pintu lift. “Ah, mianhae. Aku kira tak ada yang mau naik lift ini.”

Perlahan seorang yeojya dengan menggunakan scraft hitam masuk ke dalam lift dan mengangguk sopan kearah kami. “Gwaenchana, oppadeul. Karena dari samping mungkin kalian tak melihatku.”

Kurasa dia bukan seorang Elf. Dia tak memberikan respon heboh terhadapku ataupun Wookie. Dia berdiri di hadapan kami sambil mendongkak menatap urutan penanda lantai.

Saat lift sampai di lantai tiga, dia menoleh. “Kalian Super Junior kan?” Tanyanya.

Wookie mengangguk sopan. “Nae, Kim Ryeowook imnida. Dan ini Kim Yesung. Apa kau tak mengenal kami?” Sepertinya namja innocent itu agak penasaran. Tapi entah kenapa aku sama sekali tak tertarik dengan pembicaraan mereka, aku hanya memperhatikan yeojya itu.

Sorot matanya berubah riang. “Wow… Aku Elf loh.” Ujarnya girang.

Elf? Kenapa tadi responnya biasa saja?

Yeojya itu mendongkak kearahku dan tersenyum lebar. “Annyeong, Yesung oppa. Aku salah satu penggemar beratmu.”

Aku membulatkan mata kaget. “Ka-kau penggemarku? Tapi tadi kau diam saja pas masuk?” Tanyaku keheranan dan Wookie terkekeh pelan mendengar pertanyaanku itu.

Yeojya itu mengangkat bahu. “Pasti akan sangat aneh kalau tiba- tiba aku berseru kegirangan dihadapan kalian, kan? Yang ada kalian berdua akan kabur dari lift meninggalkanku.” Dia tertawa pelan sambil bergeser karena pintu lift terbuka di lantai satu.

Yeojya itu kembali menoleh kearah kami berdua. “Sampai jumpa, oppadeul. Kuharap kita bisa bertemu lagi, ya.” Dia langsung berlari kecil keluar dari dalam lift.

“Ya, kau! Siapa namamu?!” Aku sendiri tak tahu kenapa aku menanyakan namanya. Tapi kata bertemu lagi yang diucapkannya seperti menyihirku tiba- tiba untuk mengenalinya suatu hari nanti.

Dia menoleh. “Naega Kim Taena imnida.” Setelah itu dia langsung keluar dari studio ini dan menghilang di balik pintu kaca.

Kim… Teana?

Wookie menarikku keluar dari lift karena aku mematung. “Wae, hyung? Kau tertarik dengan yeojya barusan? Kau kelihatan kaget? Apa kau mengenalnya?”

Aku menggeleng. Ini pasti kebetulan.

“Hyungdeul! Kalian lama sekali!” Kyuhyun langsung menghampiriku saat kami berjalan menjauh dari lift. Magnae itu terus membicarakan beberapa hal dengan Wookie, tapi aku tak menyimak pembicaraan mereka.

Otakku justru terfokus pada yeojya tadi.

Benarkah dia bernama Kim Taena?

0o0o0o0o0o0o0o0

Kim Taena :: “Yesung oppa! Hari ini kau sudah makan belum?! :D”

Aku mengerjapkan mataku, memastikan nama yang terpampang di halaman ufo reply itu tidak salah. Kim Taena, meski tak tahu wajahnya aku memang ingat nama itu. Di halaman ufo reply dan cyworld-ku, namanya selalu terlihat. Pagi, siang, sore atau malam, dalam satu hari dia tak pernah absen menyapaku hanya untuk menanyakan hal yang agak konyol.

Aku pribadi sih belum pernah menjawab pertanyaannya itu.

Selain itu, dia itu seorang penulis fan fiction tentang Super Junior.

Meski sibuk, kadang sesekali aku iseng membaca sederetan fanfict yang ditunjukan untuk kami semua. Dari cerita Yaoi, Genderswitch, Straight ataupun Family dan Brothership, aku sudah pernah membaca semuanya. Yah, meski sebenarnya aku sangat tidak suka kisah cinta antara sesama lelaki itu, sih. Aku lebih suka membaca cerita tentang keluarga atau persahabatan.

Dulu beberapa kali aku pernah membaca cerita bertema brothership buatannya. Ada beberapa yang berhasil kutemukan, dan jujur saja aku suka dengan caranya menyampaikan cerita itu. Karena itu aku kaget sekali saat mengetahui ada seorang yeojya bernama sama yang bertemu denganku.

Apa benar itu dia?

Aku tersenyum kecil. Di Korea ada banyak sekali orang bernama Kim Taena. Tapi rasanya aku tahu itu memang dia. Karakternya hangat, sama dengan kisah yang ditulisnya.

Aku langsung out dari layar ufo reply dan meletakkan ponselku di atas meja. Kulirik kura- kura kesayanganku yang kelihatan sangat bosan di dalam akuariumnya itu. Aku duduk dihadapan akuarium itu.

“Ddangkoma, Ddangkoming, Ddangkomehng…” Mulaiku santai. “Sepertinya kami akan bertemu lagi.”

0o0o0o0o0o0o0o0o0

“Mau makan siang dimana, hyung?” Aku melirik menatap Teukie hyung yang masih sibuk dengan sebuah kertas acara. Dia tak memperdulikanku. “Hyung, aku bicara denganmu.” Ulangku kesal.

Dia baru menoleh. “Eh, Yesung? Wae?”

“Kau mau makan siang dimana?” Ulangku gusar.

Namja itu memutar bola matanya berpikir. “Hmm.. Aku makan siang nanti saja. Kau dan yang lain duluan, masih ada yang mau aku bicarakan dengan manajer.” Ucapnya sambil menepuk bahuku dan menatap kearah dongsaeng kami yang lain. “Bye.”

Aku menoleh menatap mereka.

“Lalu mau kemana?” Tanya Kyuhyun. “Aku sudah lapar, nih. Heechul hyung makan siang dengan seorang produser, Donghae hyung dan Eunhyuk hyung dan Siwon hyung sudah pergi dengan manajer SNSD duluan. Kita terlantar…”

“Ah, aku tahu tempat yang bagus.” Ujar Sungmin. “Karena tempat umum yah kita menyamar saja.”

“Boleh juga.” Balas Shindong. “Dimana saja tak masalah. Aku sudah lapar, yang penting aku bisa makan sekarang juga.”

Mereka jalan duluan dan aku hanya mengekor dibelakang sambil sibuk mengutak- atik ponselku. Menulis twitter update untuk para fansku. Baru beberapa detik aku post, balasan sudah menumpuk. Banyak yang menggunakan bahasa yang tak kupahami.

Kubiarkan manajer kami membawa kami ke tempat yang direkomendasikan Sungmin.

Kami sampai di sebuah café. Café yang cukup ramai, belum lagi diserbu oleh kami semua yang datang ramai- ramai. Semoga saja tidak terjadi kehebohan. Di depannya tertulis Sourire café. Nama yang aneh.

Kami duduk di bagian paling ujung yang tidak terlalu mencolok. Saat pelayan menghampiri tentu dia kaget, tapi kami sudah memberi isyarat agar dia tidak heboh dengan kehadiran kami semua disini.

Aku mengedarkan pandangan kesekeliling café, dan tatapanku terfokus ke seorang yeojya yang baru masuk ke dalam café ini. Aku tak mungkin salah mengenalinya. Meski baru bertemu dan jarak dari hari itu dengan hari ini sekitar lima hari. Itu dia.

“Eh, hyung. Itu yang di lift, kan?” Wookie menyenggol lenganku.

“Kurasa sih dia.” Jawabku.

Dia memberi salam pada pelayan dan bicara sesuatu. Lalu duduk di kursi kosong tak jauh dari kami. Beberapa saat kemudian, seorang namja yang kelihatannya pemilik café langsung menemuinya. Dan mengobrol dengannya. Yeojya itu mencatat sesuatu di notesnya.

Pekerjaannya apa?

Saat pelayan datang, aku menahan pelayan itu. “Dia sedang apa?” Tanyaku.

“Oh, dia itu penulis dari redaksi mingguan Seoul Weeks. Saat ini sedang meliput tentang café kami. Kalau sudah tidak ada yang bisa kulakukan. Aku permisi dulu.” Pelayan itu langsung meninggalkan kami semua.

“Wae, hyung?” Wookie kembali menyenggol lenganku.

“Aniya.” Jawabku sambil mulai makan pesananku. Tapi mataku terus melirik kearah yeojya itu. Memperhatikan setiap gerak- geriknya. Gaya bicaranya dengan sang manajer. Aku bahkan memperlihatkan gerakan terkecil yang dia lakukan meski itu hanya menggigit ujung penanya atau memainkan penanya sesekali.

Aku pasti sudah gila!

Setelah beberapa menit dia akhirnya berdiri dan sepertinya berpamitan. Dan secara reflex aku ikutan berdiri.

“Hyung, wae?” Sungmin menengadah menatapku.

“Setelah ini kita bebas, kan? Aku hanya ada acara sore nanti. Ada yang mau aku lakukan jadi aku pergi duluan, ya.” Ucapku cepat sambil menaikkan masker dan kacamata hitamku. Aku langsung berlari keluar café itu.

Yeojya itu masih berjalan tak jauh dari depan café, dengan meminimalisir jarak antara kami, aku mengikuti tepat dibelakangnya. Bahkan aku bisa mendengar apa yang dia gumamkan sejak tadi.

TEP! Tiba- tiba langkahnya terhenti dan aku langsung mundur beberapa langkah. Di suasana seramai ini, mustahil dia menyadari keberadaanku. Tapi apa yang dia lakukan?

Matanya menatap lurus ke dalam sebuah toko pakaian. Tatapan matanya aneh. Sekilas senyum terulas di sudut bibirnya dan dia kembali berjalan. Aku kembali mengikutinya, dan saat berada di tempatnya berdiri tadi aku menoleh.

Ada poster Super Junior di dalam toko itu. Dia tersenyum?

Dia tersenyum karena menatapku?

“Oppa sedang apa?”

DEGH! Aku langsung mundur kaget dan menatap yeojya yang menegurku. Dia sudah ada dihadapanku.

“Benar Yesung oppa?” Tanyanya dengan nada berbisik. “Aish, tak kusangka kita bertemu lagi disini. Sedang apa di Myeondong? Ada syuting? Atau sedang jalan- jalan? Oppa sendirian?” Tanyanya bertubi- tubi.

Aku hanya tersenyum kecil dan tanganku secara reflex mengusap kepalanya lembut. “Mau minum teh denganku?”

0o0o0o0o0o0o0o0o0

Siang ini aku duduk sendirian di Elite de Café yang ada di dekat kantor SM. Para dongsaeng juga hyungku sedang sibuk semua, jadi aku lebih memilih sendirian saja.

Kutatap layar ponselku. Di situ terpampang sederet nomor dan satu nama.

Kim Taena.

Ya, satu minggu yang lalu kami minum teh dan mengobrol banyak hal. Akhirnya aku bisa mendapatkan nomor ponselnya. Tapi sampai sekarang dia tak mengirimiku pesan. Apa dia tak berniat denganku? Atau sudah punya namja chingu? Apa dia suka padaku hanya sebagai artis idola?

Aishh! Pikiranku kacau hanya karena dia. Rasanya aku memang mengerti apa yang kurasakan terhadapnya. Suka.

Dengan segera aku mengetik pesan untuknya.

“Apa kau sedang sibuk? Saat ini aku sedang makan siang sendirian di Elite de Café yang ada di dekat kantor SM. Kau mau menemaniku hari ini? Maaf kalau aku mengganggu.”

Aku langsung mengirimnya.

Aigoo~ Seorang Kim Yesung Super Junior mengirim pesan seperti itu kepada seorang yeojya yang hanya seorang penulis redaksi mingguan? Mungkin aku sudah tidak waras! Banyak artis yang menjalin skandal dengan sesama artis setingkat, bukan dengan seorang penulis yang tak terlihat.

Tak ada balasan darinya. Apa dia tak akan datang? Tapi setidaknya dia harusnya membalas pesanku, kan? Benar- benar tidak sopan!

Dua puluh menit. Aku sudah pegal menunggu. Memangnya siapa yang menyuruhku menunggunya? Aku kan bisa pulang saja. Aargh! Awas kau Kim Taena! Kalau kita bertemu lagi, aku pasti akan_

“Annyeong, oppa…”

DEGH!

Aku mengangkat wajahku perlahan dan melihat yeojya yang kutunggu itu sudah berada di hadapanku saat itu. Dia tersenyum sopan dan duduk dihadapanku.

“Ku-kukira kau tak akan datang hari ini. Aku mengirim pesan tadi secara tiba- tiba.” Balasku setengah shock.

Taena menggeleng santai. “Mana mungkin kutolak ajakan makan siang dari seorang Kim Yesung?” Dia mengecilkan volume suaranya setiap menyebut namaku. “Mian membuat oppa menunggu lama.”

Aku hanya terkekeh pelan. Tadinya sih mau marah- marah. Tapi emosiku reda saat melihat senyumannya. “Gwaenchana. Kau mau pesan apa? Biar aku yang traktir. Apa kau suka makanan laut?”

Yeojya itu kembali menggeleng. “Aku alergi terhadap kerang juga makanan laut yang beraroma kuat.” Ucapnya. “Tapi aku tidak lapar, sih. Aku hanya mau bertemu dengan oppa saja.” Kali ini matanya menatap lurus ke mataku.

Mata kecoklatan yang sangat jernih.

Kami memutuskan hanya memesan minuman saja akhirnya.

“Kau, penulis?” Tanyaku membuka pembicaraan dengannya.

Yeojya itu menatapku kaget. “Bagaimana oppa bisa tahu? Aku penulis di bulletin mingguan Seoul Weeks. Tapi aku masih magang dan belum memiliki halaman khusus, sih. Untuk mengisi waktu luang aku biasa menulis fanfict tentang kalian, Super Junior.” Ucapnya jujur.

“Aku tahu.” Jawabku sambil menyeruput kopi yang kupesan tadi. “Aku pernah membaca beberapa cerita brothership yang kau tulis dan semua kisah itu berhasil membuatku terpesona. Karena itu aku tahu kau penulis.”

Taena tertawa kecil. “Aigoo~ Aku tak menyangka kalau idolaku bahkan membaca cerita buatanku. Sepertinya pertemuan kita memang sudah ditakdirkan, oppa. Takdir yang unik” Godanya sambil mengaduk jus yang dipesannya.

Takdir? Nae, takdir bisa mengendalikan semuanya. Termasuk hati seseorang. Jadi yang menggerakkan hatiku saat ini pasti memang takdir. Aku memang ditakdirkan menyukainya dalam waktu singkat.

“Kenapa kau menyukaiku?” Tanyaku lagi. Kali ini dengan agak hati- hati.

Yeojya itu justru tersenyum lembut kearahku. “Molla. Pada awalnya aku hanya menyukai suara tanpa mengetahui bagaimana sosok oppa. Tapi saat melihat dan mencari tahu tentang oppa, ternyata aku jadi semakin mengagumimu. Bukan sebuah bintang yang bersinar di langit dan tak bisa kugapai, oppa lebih terlihat seperti awan putih yang menyelimuti hari- hariku dengan semangat dan kebahagiaan.” Jawaban yang sangat polos juga jujur dari remaja seusianya.

Jawabannya membuatku terpana. Sudah banyak aku mendengar jawaban hebat dari para Clouds yang menyukaiku. Tapi ternyata jawabannya tak berbeda jauh dengan mereka, hanya saja kalimat terakhir yang diucapkannya saat itu, membuatku diam.

“Wae, oppa?” Tanyanya keheranan. “Terpana dengan kalimatku?” Dia tertawa meledekku. “Oh ayolah, oppa. Aku ini penulis, loh. Aku sangat mudah menggoda dengan sebuah kata- kata. Jadi jangan terlalu dipikir yang aneh- aneh.” Ucapnya lagi.

Ah, benar juga. Aku nyaris saja terjatuh dalam lubang kecil.

“Ah!” Taena melirik jam tangannya. “Aku masih harus mengerjakan sesuatu. Mian oppa. Aku tak bisa menemanimu lama- lama.” Yeojya itu berdiri. Tapi sebelum dia pergi aku menahan tangannya. “Oppa?”

“Kita bisa bertemu lagi?” Tanyaku. Pertanyaan konyol!

Yeojya itu tersenyum manis sambil mengeluarkan notes dari sakunya dan menuliskan sesuatu lalu diserahkannya kepadaku. Alamat.

“Apa ini?” Tanyaku heran.

Dia tertawa kecil. “Itu alamat apartemenku. Aku tak bisa berjanji apakah akan bisa menemui oppa lagi. Sebenarnya hari ini aku bisa datang karena memang sedang berada di wilayah ini. Tapi kalau oppa benar- benar ingin bertemu denganku datang saja.”

Seorang yeojya mengundang namja ke apartemennya? Apa dia selalu melakukan hal ini pada namja lainnya?

Taena melepaskan tanganku. “Kalau bisa, aku juga ingin bertemu dengan oppa lagi. Hwaiting, oppa.” Yeojya itu langsung berjalan terburu- buru meninggalkanku.

Saat itu pemikiranku terhadapnya berubah negative. Dengan mudahnya dia menyuruhku datang ke apartemennya? Apa ini tidak terlalu berlebihan? Memang sih aku yang mengajak bertemu duluan, tapi kalau seperti ini…

Aku bingung!

Kumasukan kertas itu ke dalam saku kemejaku. Dari pada memikirkan hal itu, lebih baik aku pergi sekarang. Ada kegiatan di Sukira sore ini.

0o0o0o0o0o0o0o0o0

Nyaris satu bulan aku sudah tak pernah bertemu dengan Taena lagi. Sekalipun dia tak pernah mengirimiku pesan. Aku juga ragu untuk memulai menanyakan kabarnya. Meski aku berpikir kalau aku tak boleh mengganggunya, tapi hatiku terus resah. Aku ingin tahu bagaimana kabarnya.

“Yesung, kau kelihatan gelisah akhir- akhir ini. Waeyo gudhae?” Teukie hyung duduk disebelahku.

“Aniya, hyung.” Jawabku sambil menatapnya malas. “Aku hanya bosan.”

“Pabboya, kau kira bisa membohongiku? Aku ini cukup pintar menebak hatimu, tahu.” Godanya. “Ceritakan saja. Ada apa?”

Apa benar harus diceritakan padanya? Tapi pada siapa lagi aku harus cerita kalau bukan ke orang paling tua di grup kami ini?

“Hyung, aku sepertinya menyukai seorang yeojya.” Mulaiku sambil meremas tanganku yang gemetaran. Pasti dia akan meledekku. Pasti akan ngomong yang macam- macam. Ah, masa bodoh lah!

Teukie hyung menepuk bahuku. “Nugu?”

Dia tak tertawa?

Kutatap dia. “Aku tak tahu.” Jawabku jujur.

Setelah mendengar jawabanku itu barulah hyung tertawa. “Aigoo, Yesung! Kukira kau akan bicara serius. Kau bilang kau suka seseorang, tapi kau tak tahu dia siapa. Kau itu sangat aneh.” Ucapnya sambil menepuk kepalaku.

Dia menyebalkan, deh!

“Aku serius!” Tegasku dengan wajah panas karena malu ditertawakan olehnya. “Aku suka dia, tapi aku sama sekali tak tahu banyak tentangnya. Ini aneh juga konyol. Makanya aku diam saja. Sudah satu bulan kami tak bertemu dan aku jadi cemas!” Seruku kesal dengan cepat.

Teukie hyung tertawa kecil menatapku. “Jeongmal? Siapa namanya? Apa dia artis juga? Atau tranee di SM?”

Aku menggeleng. “Dia tak terkenal seperti kita, hyung. Dia bekerja dibalik sebuah naskah. Dia hanya seorang penulis di majalah mingguan juga sebuah author fanfict. Aku masih belum banyak tahu tentangnya, tapi dengan mudahnya dia memberikanku alamat apartemennya. Aku langsung berpikir negative saat itu, tapi ujung- ujungnya aku yang cemas sendiri.” Gerutuku lagi.

Teukie hyung bergumam sebentar. “Hmm~ Kau tahu namanya?”

“Kim Taena.” Jawabku cepat. “Dia seorang Elf dan juga ternyata seorang Clouds.”

“Kisah cinta antara bintang idola dan fans?” Goda Teukie hyung lagi.

“Aku harus bagaimana, hyung?” Tanyaku pelan sambil kembali meremas tanganku. “Aku benar- benar memikirkan keadaannya. Aku sangat tak suka merasakan kecemasan ini. Bisa- bisa aku tak konsentrasi saat manggung nanti.”

Hyung langsung menepuk pundakku. “Temui saja dia.”

“Eh?” Kutatap dia heran. “Ke apartemennya?”

Teukie hyung mengangguk.

“Itu sangat tidak rasional, hyung! Apa yang akan orang katakan nanti? Seorang Kim Yesung Super Junior berkunjung ke apartemen seorang yeojya tak dikenal. Kalau paparazzi tahu bisa habislah kita semua.”

Teukie hyung hanya tersenyum kecil. “Kalau kau memikirkan apa yang orang katakan, maka hiduplah di balik bayangan orang lain. Saat ini kau hanya ingin memastikan keadaannya kan? Apa salahnya kalau hanya melihatnya. Asalkan hatimu tenang, kurasa tak akan jadi masalah.”

Benarkah?

“Hyung serius?”

Teukie hyung mengangguk. “Nae.”

Aku diam sejenak. Kurasa… Memang harus kesana.

0o0o0o0o0o0o0o0

Apartemennya sangat beda jauh dengan Sharp star city, tempatku tinggal. Apartemennya kelihatan agak kecil. Aku langsung naik ke lantai dua, tempat apartemennya berada. Jantungku berdegup kencang. Semoga saja penyamaranku tak bisa dikenali siapapun.

Pintu kamar nomor 18 sudah terlihat olehku. Namun aku langsung shock saat berada di depan apartemen itu.

Pintunya terbuka sedikit!

Tanpa berpikir panjang aku langsung menerobos masuk ke dalam apartemen itu. Satu kesan yang kudapat hari itu adalah, BERANTAKAN.

Apartemen itu seperti kapal pecah. Apa ada pencurian disini?!

“Taena!” Aku langsung berlari masuk. Dan saat itu juga aku teridiam. Terdiam melihat seorang yeojya tertidur dengan kepala di atas meja dan laptop menyala di hadapannya. Dia  hanya mengenakan piyama biru laut yang kelihatan sangat kebesaran. Disekelilingnya bertebaran bungkusan mie instan juga beberapa artikel bekas.

Beberapa pakaian resmi juga tercecer sembarangan. Ruangan itu sangat berantakan.

Bodohnya aku, kenapa aku pikir ada pencurian disini. Mana ada yang mau mencuri di apartemen kecil yang dihuni seorang yeojya biasa sepertinya. Fyuhh~

Aku berjalan mendekatinya hati- hati agar tak menginjak barang- barang, atau mungkin sampah yang berserakan di lantai. Wajahnya kelihatan sangat lusuh. Sejak jadi bintang top, aku tak pernah melihat yeojya dengan wajah selusuh itu.

Aku tersenyum kecil sambil berjongkok disisinya. Kutatap lekat- lekat wajah itu. Hatiku rasanya lega. Yah, kecemasanku hilang seketika saat melihatnya tertidur sangat pulas. “Kim Taena…” Panggilku sangat pelan.

“Oppa…” Dia bergumam kecil.

Oppa? Yang dia maksud itu… aku?

Perlahan kedua matanya yang terpejam mulai bergerak. Dan dengan gerakan lambat kedua kelopak mata itu terbuka perlahan, memperlihatkan bola mata hitam kecoklatan miliknya yang jernih. Tapi detik berikutnya dia melotot shock.

“OPPA!” Dia langsung tersentak kebelakang dan nyaris terjatuh.

Melihat responnya itu aku hanya tertawa.

“Ke-kenapa oppa ada disini?” Dia langsung berdiri dan merapihkan piyama yang dikenakannya. “A-aigoo! Ini berantakan sekali. Dan.. A-apa! Aku juga kan belum mandi selama dua hari! Gyaaahh!” Wajahnya merah dan panik, bahkan matanya berkaca- kaca nyaris menangis. Dia langsung panik sambil berlari kearah kamar dan menutup pintunya rapat.

Ekspresi shock yang sangat menggemaskan.

“Taena, gwaenchana? Mian membuatku kaget, tadi kulihat pintu apartemenmu terbuka, jadi aku langsung masuk karena takut sesuatu terjadi padamu.” Ujarku sambil mengetuk pintu kamarnya. “Kau mau aku pulang saja?”

Tidak ada jawaban.

“Taena… Baiklah, aku pulang_”

“A-aku malu.” Terdengar suara dari balik pintu itu.

“Malu?” Aku gantian yang heran.

“Yang benar saja. Di dunia ini yang namanya yeojya pasti ingin kelihatan cantik dihadapan orang yang disukainya, kan? Tapi hari ini.. Oppa melihatku hanya mengenakan piyama yang belum kuganti selama dua hari. Apartemenku berantakan sekali. Aku sangat malu, sampai mau mati saja.” Ujarnya dengan suara parau dan setengah terisak.

Masa dia menangis karena hal ini?

Perlahan kubuka pintu kamarnya, ternyata tak dikunci. Saat pintu itu terbuka, kulihat Taena berdiri sambil mengelap air matanya dengan tangan piyama panjangnya. Menangis karena hal yang sangat tak masuk akal. Dia itu… Benar- benar unik.

“Ya, kau. Aku yang salah karena masuk sembarangan. Jangan menangis.” Ujarku sambil menariknya keluar dari kamarnya. Meski hanya berdua, berada di kamar seorang yeojya itu sangat tidak nyaman untukku.

Taena masih terisak sambil duduk dilantai di depan meja kecil tempatnya tidur tadi.

“Uljima.” Ucapku lembut sambil mengusap kepalanya. Memang sih, rambutnya sangat berantakan, kusut dan agak kasar. Benar- benar penampilan yang memalukan mungkin.

Dia masih tak mau dengar.

“Ya!” Akhirnya kutarik kedua tangannya dan mengangkat wajahnya agar menatapku. Wajahnya merah padam dan air matanya masih terus menetes. “Oke, hentikan tangisan tak jelasmu itu. Hari ini anggap saja aku tak melihat apapun ditempat ini. Aku akan berpura- pura tak melihat apa- apa, tapi kau harus berhenti menangis. Arra?”

Perlahan yeojya itu mengangguk. “Mi-mianhae, oppa… Aku benar- benar kesal. Aku malu banget.” Ucapnya sambil kembali menunduk.

Dia itu susah sekali diberi tahu. Huff~

Tapi… Sekarang justru ada sesuatu yang bergejolak dalam tubuhku. Dengan reflex aku langsung memeluknya.

“O-oppa?!”

“Tapi syukurlah.” Ucapku sambil menghela nafas lega. “Syukurlah kalau kau selama ini baik- baik saja. Aku sangat mencemaskanmu.”

0o0o0o0o0o0o0o0o0

Sejak kejadian hari itu, Teana sepertinya sedikit lebih membuka diri kepadaku. Meski kami memang sangat jarang bertemu karena kesibukanku, tapi hampir setiap hari kami mengirim pesan atau saling menelepon.

Begini cukup untukku. Aku tak mau merasa cemas lagi seperti waktu itu.

“Kita akan segera mengadakan Asian tour Concert dan akan berkeliling Asia selama kurang lebih setengah tahun”

Aku langsung menatap manajer kami kaget. Ah, Super Show kedua kami. Aku lupa!

“Huff.. Akhirnya masa yang kutunggu datang lagi. Yes!” Seru Eunhyuk semangat. “Tak sabar bertemu dengan para Elf di seluruh Asia itu.”

Sibuk enam bulan? Itu artinya aku tak mungkin menemuinya kan?

“Kenapa Yesung hyung? Kau tidak semangat?” Wookie menoleh menatapku heran. “Tumben kau diam saja.”

“Aniya.” Aku berdiri menatap manajer. “Kapan akan dimulai persiapannya?”

“Satu bulan lagi. Jadi mulai sekarang kalian tak punya jadwal di luar. Kalian harus fokus berlatih menjelang konser. Kuharap kalian semua tak pergi kemana- mana dan giat bekerja. Arra?”

“Oke, hyung.” Jawab kami semua bersamaan.

Sibuk. Aku harus bilang apa? Aku tak bisa kembali merasa cemas kalau harus jauh darinya. Meski kami tak memiliki hubungan apapun, aku tetap tak akan bisa menahannya.

.

Dua minggu aku sama sekali tak bisa menemui Taena. Sepertinya yeojya itu juga sedang sibuk, dia juga agak jarang membalas pesanku dan jarang bisa menerima teleponku. Sama seperti minggu pertama waktu kami berteman, dia kembali menghilang begitu saja.

Dan kenyataan ini membuatku tidak nyaman!

Hari itu, aku meneleponnya.

Yeoboseyo, oppa?

Suaranya… Akhirnya dia bisa mengangkatnya.

“Ah, anou_”

Oppa, mianhae. Aku benar- benar harus bekerja keras mengejar deadline, aku tak bisa bicara dulu. Nanti akan ku kirim pesan, nae. Bye, oppa.” Secara sepihak dia memutuskan sambungannya begitu saja, padahal aku belum bicara apapun padanya.

Ini sangat menyebalkan!

Dia bilang akan mengirim pesan. Baiklah Kim Jongwoon, tunggu saja.

0o0o0o0o0o0o0o0

Ternyata perhitunganku salah, dia sama sekali tak mengirim pesan kepadaku. Hanya satu kata maaf pun dia tak mengirimnya. Apa saking sibuknya jadi dia lupa? Atau dia tak sempat? Aku yang seorang member Super Junior saja sempat menghubunginya, kenapa dia tidak bisa? Atau dia sudah bosan berteman denganku?

Bosan…

Apa aku bintang idola yang membosankan? Setelah mengenalku lebih jauh, seorang penggemarku hilang begitu saja karena bosan. Dasar bodoh.

“Yesung, jangan melamun. Apa kau sudah siap- siap? Besok kita akan berangkat ke Singapura.” Teguran Heechul hyung membuatku kembali tersadar ke duniaku.

Besok ya? Setelah itu maka aku akan sangat sulit menghubunginya. Dia juga tak mungkin memulai menghubungiku. Dan hubungan persahabatan kami akan berakhir begitu saja. Sangat monoton rasanya. Aku bahkan belum menyatakan perasaanku.

“Kalau kau cemas, temui lagi dia, Yesung.” Teukie hyung menunduk disampingku. “Aku tak suka melihat raut wajahmu belakangan ini.”

“Kau meledekku lagi, hyung.” Gerutuku.

“Tapi memang itu nyatanya.” Ucapnya sambil melangkah meninggalkanku. “Aku tahu dimana letak kantor redaksi majalah Seoul Weeks. Kalau kau mau, aku bisa memberi tahukan padamu alamatnya.”

Kantor redaksi…

Tempatnya bekerja, kan?

.

“Aku ingin bertemu Kim Taena.” Ucapku pada seorang resepsionis yang duduk di depan kantor redaksi itu. Dia langsung kaget saat menatapku, tapi dengan professional dia membungkuk.

“A-ada keperluan apa, Yesung-sshi?” Tanyanya sopan.

“Aku ingin bertemu dengannya. Apa dilarang?”

“Eung, sebenarnya Kim Taena-sshi…”

“Hwajoon oppa! Tunggu aku!”

DEGH! Aku langsung diam saat mendengar suara itu. Saat aku menoleh kulihat Taena berlari mengejar seorang namja tinggi dengan jas hitam yang sudah berniat keluar dari kantor ini.

“Biar aku yang menyelesaikannya. Banyak yang harus oppa lakukan, jadi jangan ikut turun tangan. Kalau begini terus pekerjaan yang lain akan berantakan.”

“Dasar pabbo.” Balas namja itu kesal. “Kau kira aku bisa diam saja mendengar bawahanku dihina hanya karena mengangkat telepon dari idolanya sendiri?”

Eh? Menerima telepon dari idolanya? Apa itu maksdunya teleponku dulu?

“Kakakmu menitipkanmu padaku disini. Dan aku akan bertanggung jawab sepenuhnya. Aku akan bicara dengannya.”

“Aniya, oppa!” Taena menahan lengan namja itu sambil menengadah menatapnya dalam. Apa memang dia selalu melakukan hal yang sama terhadap semua namja? Aku tak suka melihatnya menatap namja lain sedalam itu!

“Aku yang akan menyelesaikannya. Ini semua salahku, jadi akulah yang bertanggung jawab. Ahjussi itu sebenarnya baik, hanya saja dia menjunjung tinggi kesopanan. Karena itu dia marah padaku karena menerima telepon saat mewawancarainya.”

“Apa kau yakin bisa menyelesaikannya?” Namja itu balas menatapnya dalam.

Taena mengangguk. “Aku yakin.” Ucapnya.

Setelah namja itu berjalan meninggalkannya, yeojya itu langsung berjalan keluar dari kantornya. Dengan segera aku mengejarnya. “Kim Taena!”

Sekali panggil, dia sudah menoleh. Dia langsung kaget melihatku. “A-aigoo! Yesung oppa? Kenapa bisa ada disini?”

“Aku ingin bertemu denganmu.”

“Tapi aku agak sibuk sekarang. Kita_”

“Hanya sebentar!” Potongku cepat. “Hanya sebentar, tak kurang dari sepuluh menit.” Ucapku secepat mungkin.

Taena menatapku dalam. “Oppa.Waeyo?”

Kulepas tangannya perlahan. “Aku… Mungkin akan pergi untuk waktu yang sangat lama.” Gumamku pelan.

“Super Show dua kan?”

Dia tahu…

Kutatap yeojya itu. “Kau sudah tahu?”

Taena tersenyum. “Aku kan selalu tahu apa saja kegiatan oppadeul.” Jawabnya jujur. “Kenapa oppa menemuiku sebelum pergi? Apa oppa ingin aku beri semangat?” Tanyanya riang.

Aku menggeleng.

“Lalu apa?”

“Berjanjilah padaku.” Ucapku sambil kembali meraih tangannya.

“Be-berjanji apa? Oppa memintaku untuk menunggu oppa kembali? Tanpa diminta aku pasti akan menunggu oppadeul kembali ke Seoul, kok.”

“Bukan itu.” Balasku.

“Ehh? Lalu apa, oppa?”

Kucoba menatap kedalam matanya dia menatap kearahku dalam- dalam. “Berjanjilah sampai aku kembali, kau tak boleh berpacaran dengan siapapun. Selama ini kalau tak bertemu denganmu aku selalu merasa cemas. Cemas karena banyak hal yang aku sendiri tak paham. Karena itu berjanjilah.”

Taena hanya diam memandangiku heran. Aku tak perduli bagaimana tanggapannya. Aku hanya ingin dia berjanji. Aku tak mau merasa cemas selama tour concert nanti.

“Oppa… Suka padaku?”

DEGH! Aku langsung diam. Mau jawab apa? Aku sendiri tak tahu mau jawab apa dihadapannya. Ini konyol.

Perlahan yeojya itu menggenggam tanganku dengan kedua tangannya. “Baiklah, aku memang tak tahu apa yang terjadi. Tapi aku akan berjanji. Aku berjanji tak akan menjalin hubungan dengan siapapun sampai asian tour kalian selesai.” Dia tersenyum lembut. “Apa oppa sudah merasa lebih baik?”

Perasaan lega kembali menyelimuti hatiku. Dia sudah berjanji kan? Dia tak akan mengingkari janjinya kan? Meski dia berjanji tanpa mengetahui maknanya, tapi aku akan mempercayai ucapannya.

Kusentuh kedua bahunya dan menyamakan tinggiku dengannya. “Sekarang, kumohon semangati aku.” Ucapku pelan.

Yeojya itu tersenyum sambil mengepalkan kedua tangannya. “Hwaiting, oppa!” Dia membentuk bentuk hati dengan kedua telapak tangannya. “Saranghae, Super Junior. Saranghae, oppa.”

Aku hanya bisa balas tersenyum kepadanya. Dengan begini aku bisa pergi dengan lebih tenang. Nado saranghae, aku juga akan mengucapkannya nanti.

0o0o0o0o0o0o0o0

Delapan bulan berlalu…

Terlalu lama dari yang kami janjikan dulu. Sebenarnya sesuai jadwal, asian tour sudah berakhir dua bulan yang lalu. Tapi kejadian yang sama kembali terulang. Taena menghilang lagi. Saat aku kembali ke Seoul, dia tak mengirimiku pesan. Semua pesan dan teleponku tak satupun yang dijawab.

Saat aku datang ke kantornya, dia selalu tak ada. Apartemennya juga selalu kosong.

Apa dia pergi begitu saja…?

Dia mengingkari janjinya?

Ah, tidak. Sebenarnya bukan mengingkari, sejak awal dia hanya berjanji tanpa tahu makna janji itu. Jadi aku tak mungkin menyalahkannya kalau dia pergi begitu saja. Sejak awal kami memang tak terikat hubungan apapun, kan?

Tapi…

Rasa sakit dan sedih apa yang kini kurasakan. Kecemasan itu tak pernah bisa hilang. Aku tak tahan hidup dengan rasa seperti ini.

“Buku yang sangat bagus. Kudengar penulisnya masih muda, tapi bukunya sudah menjadi best seller di kalangan remaja di Korea, loh.”

Aku menoleh kearah dua yeojya yang tengah mengobrol itu.

“Judulnya juga sangat menarik. Waiting for You. Kudengar dia menuliskan kisah pribadinya, loh.”

Waiting for you?

“Nama penulisnya itu, Kim Taena kan? Namanya sama seperti penulis di redaksi Seoul Weeks. Atau jangan- jangan memang benar dia.”

Kim Taena?

“Kau sudah baca bagian akhir di penutup buku? Bagian thanks to by author itu, loh. Disitu ada kata- kata yang membuatku agak penasaran. Seperti surat yang ditunjukkan kepada seseorang. Surat yang sangat manis.”

Surat yang ditunjukkan kepada seseorang!

“Dia menyebutnya, my clouds.”

Itu aku!

Aku langsung berlari dari tempatku merenung tadi. Mencari toko buku terdekat yang bisa kutemukan dipinggir jalan. Setelah menemukan toko, aku langsung mencari buku yang kumaksud dan tanpa membacanya dulu langsung aku bayar.

Di depan toko itu aku langsung membukanya. Waiting for You, Kim Taena. Itu memang dia.

Aku langsung menuju halaman akhir. Seperti yang dikatakan yeojya- yeojya tadi. Ada sebuah surat yang seperti ditunjukkan kepada seseorang dibagian ucapan terima kasih. Di depannya ditulis for my cloud, pangeranku yang berasal dari awan.

Sekalipun aku tak pernah melupakan janjiku.

Aku tak mungkin ingkar janji atau berbohong pada orang yang selalu memberikan kebahagiaan untukku dengan suara lembutnya itu. Tapi maaf, kau tak bisa menghubungi ponselku lagi. Sekarang aku ada di satu tempat. Oppa tahu kok tempatnya. Itu tempat pertama kali kita bertemu. Semoga kita bisa bertemu lagi.

Tempat pertama kali kami bertemu?

Kantor rekaman itu, kah?

Aku langsung kembali berlari menuju halte bus terdekat. Dia memang ada disitu. Dia sendiri yang bilang kalau dia tak pernah berbohong, kan? Dia memang ada disana. Dia tahu aku pasti akan membaca surat ini dibukunya.

Karena kita dihubungkan oleh takdir yang unik. Takdir tentang sebuah cerita.

Aku sampai di kantor itu siang hari. Dan tanpa mencari terlalu lama, aku temukan dia disaat berjalan masuk ke kantor. Sosok yang sangat lama tak kulihat. Dia… Tak berubah sedikitpun.

Aku langsung berlari mendekatinya. Tanpa memanggilnya kutarik lengannya dan langsung memeluknya. “Jeongmal pogoshippeoyo…” Bisikku lembut.

“Eung? O-oppa!!” Dia langsung shock dan berontak.

Tapi aku justru memeluknya semakin erat. “Sebentar. Aku ingin memelukmu sebentar lagi. Kau tak tahu betapa rindunya aku denganmu setelah delapan bulan tak bertemu kan? Kau lagi- lagi menghilang dan membuatku frustasi.”

“Oppa… Mianhae…” Balasnya. “Aku tak bermaksud membuat cemas.”

“Aku tahu.” Potongku lagi sambil melepas pelukanku. “Aku sudah membaca suratmu di bukumu, karena itu aku langsung datang kesini. Kenapa kau ada disini?”

Taena tersenyum kecil. “Aku berhenti di kantor lamaku karena bosan. Saat kulihat perusahaan rekaman ini membuka lowongan, aku coba ikut dan diterima. Sekarang aku bekerja disini. Karena itu aku menulisnya di bukuku. Tak kusangka oppa juga membacanya.”

“Tak sengaja.” Jawabku sambil mengusap wajahnya perlahan.

“Oppa?”

“Jeongmal neomu pogoshippeo.” Ucapku lagi dengan lembut.

Wajahnya langsung memerah. “Aku tepati janjiku, aku sama sekali tak berpacaran dengan siapapun selama oppa keliling Asia.” Ucapnya. “Dan… Kurasa memang sekarang sudah tak masalah kalau aku mengatakannya.”

“Saranghae.” Aku kembali memotong kalimatnya begitu saja. Dan kata- kataku membuatnya mematung. “Saranghae.” Kali ini aku memeluknya. “Jeongmal saranghae.”

“Oppa?”

“Inilah yang seharusnya kukatakan sebelum aku pergi dulu, tapi aku masih belum berani mengatakannya.” Ucapku. “Kumohon jangan pernah menghilang begitu saja dariku, kalau sibuk kirimlah pesan atau apapun kepadaku. Aku tak mau hidup dalam kecemasan karena kau menghilang. Aku lelah.”

“Mianhae…” Taena balas memelukku perlahan. “Mulai sekarang aku berjanji, aku tak akan menghilang lagi, oppa. Aku tak akan membuatmu cemas lagi.”

Senyum terkulas di bibirku. “Kau harus ada disisiku selamanya. Arra?”

“Nae.” Dia mengangguk dalam pelukanku. “Aku akan selalu ada disisimu untuk menyemangatimu. Dan karena aku tak akan berbohong, jadi percayalah.”

“Aku percaya padamu.” Balasku sambil mencium puncak kepalanya lembut.

~Yesung pov end~

0o0o0o0o0o0o0o0o0

“Yah ampun! Ternyata hubungan kalian dulu sangat aneh dan rumit. Memang tak ada pihak ketiga atau apapun, tapi tetap saja rumit. Aku pusing mendengarnya.” Eunjung menghabiskan susu di gelasnya. “Tapi romantis.” Tambahnya.

Yesung tersenyum kecil. “Yah, namanya juga orang tua.” Godanya.

“Eung, apa sampai sekarang appa juga selalu begitu? Appa selalu cemas kalau umma tak ada, kah? Kalian pacaran lama sekali, ya? Dari cerita yang kudengar, sepertinya sifat umma dulu tak segalak sekarang.”

Kali ini Yesung tertawa pelan. “Setelah setahun resmi pacaran barulah appa tahu kalau umma-mu itu galak. Dia mudah sekali bad mood dan mengomel aneh. Tapi justru tingkahnya begitu yang menarik.” Namja itu menerawang jauh. “Mungkin appa tak bisa bertahan tanpa dia.”

“Huh, appa benar- benar mencintai umma. Aku jadi cemburu.” Gumam Eunjung sambil menumpukan kepalanya di atas meja. “Tapi aku suka kisah kalian.”

Yesung mengusap kepala putrinya lembut. “Kau juga akan merasakannya nanti kalau sudah tiba saatnya.”

“Oppa? Eunjung? Kenapa tengah malam begini ada di dapur?” Taena perlahan berjalan masuk ke dapur. “Saat terbangun, aku tak melihatmu di kamar, jadi aku keluar. Kulihat lampu dapur menyala dan ternyata kalian berdua masih bangun.”

“Umma kesepian, ya?” Goda Eunjung jahil.

“Dasar anak nakal. Cepat tidur! Besok kau kau harus sekolah!”

“Huh, dasar galak.” Eunjung langsung berdiri dan menoleh kearah Yesung. “Aku benar- benar salut karena appa bisa bertahan dengan umma yang cerewet dan galak itu, ya.”

“Kim Eunjung!”

“Piss, umma!” Eunjung langsung berlari keluar dari dapur. Tapi beberapa detik kemudian yeojya itu kembali menyembulkan kepalanya. “Ah, appa. Sebagai jawaban untuk pertanyaan appa tadi siang, aku sebenarnya sangat ingin punya adik. Selamat tidur, umma, appa.” Yeojya itu langsung berlari ke kamarnya.

Taena menoleh menatap Yesung heran. “Pertanyaan apa? Apa yang kalian bicarakan?”

Yesung mendelikkan satu alisnya santai sambil merangkul pinggang Taena. “Hanya cerita lama. Tak perlu dipikirkan, yeobo.” Dikecupnya puncak kepala istrinya lembut. “Sekarang yang lebih penting, kau dengarkan apa yang Eunjung katakan tadi. Dia bilang_”

Taena langsung membungkam mulut Yesung dengan sebuah kecupan kecil dibibir namja itu dengan berjinjit. Tapi raut wajahnya kelihatan berbeda dengan perlakuannya. Taena menatap Yesung serius. “Aku mengantuk dan mau tidur.” Jawabnya tegas sambil berjalan meninggalkan dapur.

“Aish.. Masih saja kesal gara- gara yang tadi.” Gerutu Yesung sambil berjalan menyusul Taena dan mematikan lampu dapur di rumah itu. Yesung mengejar istrinya dan merangkul pundaknya lembut. “Saranghae.” Bisiknya pelan.

Taena tertawa kecil. “Nado, oppa.”

.

~Fin~

17 thoughts on “A Story // Kim Family YeNa’s version

  1. kyaaaaa…..😄
    eonni bernarsis-narsis ria dsni…..
    awalny ak pkir, ak g bkalan ska sma critany,,
    tp,, ak salah,, ak ska eon… critanya sweet >,<
    mskipun agak sdikit cmburu sih…
    seandainy ak jdi eonni….
    eon, skali-skali bkinin fict ttg ak sma yeppa dong eon *ok, yg ini abaikan…

    Hwaiting eon ^^

  2. hwahaha … Eonni bkal bner2 d’bntai clouds !!!

    Kesannya eonni jual mahal bgt tuh k’yeppa … Mlah yeppa yg galau gitu .. Itu kebalik eon !! #dijitak eonni thena

    okey2, sperti biasa aku suka ..
    Payah nih eonni d’ajak nc’an buat bkin adek bru nolak mulu !
    To-chan kan pengen punya keponakan gy …#evil smirk

    aku hanya bs mengAMINi ff’a…
    Smoga eonni bner2 bhagia nulis fict ni …
    Hahahaha xD

  3. jiah epep yg romancex dpt bgt
    syg lawanx yeppa si thena..
    ~digamparthena

    sesuju m komen d ats, tp bknx moga2 tp emg psti
    qm bhgia bgt bkin ini, psti bkinx smbl senyum2 ndiri

    thena jjang…
    epep ni blh jd mlikmu, tp yeppa tetep milikq ~smirk

  4. haqahahahaha Tena Eonnie narsiiiissss….. ^^v*plakkk
    kkkkk crtax jga cocweeeeetttttt…….
    aihhh jd pngeen niihh…*duakk*
    ckckckck Kim Eunjung ktlran pervertx Yeppa yy???
    hahahahhaha…. Hwaitiing Eonn!!!

  5. @princess evilkyu: iya pasti eonni thena sneng bget nulis’a smbl teriak2 n ketawa2 gaje …. Hahaha😄

    mksd ku smoga sneng, adlh smoga fict ini smua readers suka n menerima ..
    N ga ada yg bashing eonni chagi ….🙂

  6. Hwuhahay thenaaaa dirimu narsisnyaa..:-P

    Bener2 dah..ckckck *siapin peralatan perang*

    Aduh thena,seperti biasa eon suka ceritanya..tapi..tapi kenapa kau selalu nolak diajalk nc-an ma yeppa..takut dimarahin wookie kah??kwkwkwk

  7. ahahahaha ff’a bgs #karena aku bukan clouds tp snowers

    aku setuju bgt dech klw author ma yeppa #ditendang clouds ampe planet pluto

    pokok’a ff’a keren😀

    _Amira Laila Nurjannnah (Park Mi Rae)_

  8. uwooo baaaaagggguuuusss banget gila ! ngebayangin diri sndri jadi kim taena *.* tapi bukanny org korea ga boleh kawin dgn sesama marga?😮 tapi ksluruhan bgus kok (y)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s