Special Birthday Gift // Straight // Changmin x OC

Special Birthday Gift

Main Chara :: Jung Changmin (Shim Changmin) x OC (Kim Eunjung)

Rated :: PG-13

Genre :: Romance

.

Special birthday for my daughter…🙂

Hope you like this, chagi..

.

~Eunjung pov~

“Oppa!!!!” Aku berlari keluar dari rumah begitu kulihat sosok namja tinggi berparas mungil itu keluar dari rumahnya. Nae, dia itu Jung Changmin, tetangga di depan rumahku. Anak dari Jaejoong ahjumma dan Yunho ahjussi. Tambahan, dia juga temanku dari kecil, hanya saja usia kami terpaut agak jauh. Ah satu lagi… Namja itu… CALON TUNANGANku.

Aku berlari sambil membawa sekotak bekal yang telah kusiapkan untuknya.

Saat aku keluar dari rumah dia berhenti menatapku. “Kau?”

Tanggapannya menyebalkan.

“Ya oppa! Memangnya tak ada tanggapan yang lebih manis dikit ya? Selamat pagi kek, halo kek, ini hanya, kau? Aigooo~ Menyedihkan sekali diriku ini.” Cerocosku langsung saat berada dihadapannya. Meski statusku ini calon tunangannya, dia selalu cuek begitu terhadapku.

“Oppa tinggimu naik!!” Seruku.

Bukannya menanggapi, Changmin oppa malah menyentil keningku. “Dasar anak cerewet. Kenapa kau memanggilku sekencang itu tadi? Aku ada kelas kuliah pagi nih…”

Dingin…

“Oppa sekarang sok sibuk yaa.. Aku tahu oppa sudah kuliah, tapi sekarang oppa jadi jahat. Tak mau menemaniku main.” Ucapku berpura- pura ngambek padanya. Benar kok yang aku bilang, sekarang Changmin oppa sangat cuek.

Apa pengaruh pergaulan?

Kulirik namja tinggi itu, kini dia tersenyum kecil dan langsung membuat darahku berdesir cepat. Senyumannya di pagi hari memang sesuatu yang sangat indah. “Wae?” Tanyaku sok cuek membalasnya.

Tangan namja itu langsung mengacak rambutku. “Uljima… Sepertinya kamu memang sengaja mengahalangiku.”  Tatapan matanya tertuju pada sesuatu yang sejak tadi aku pegangi. Changmin oppa langsung mengambilnya. “Ini untukku kan? Gomawo… Nanti malam aku akan kerumahmu.” Setelah mengatakannya Changmin oppa langsung berjalan meninggalkanku sendirian.

Kini aku menatap sosoknya sambil memegangi kepalaku yang tadi diusap olehnya.

Kurasa dia lupa sesuatu…

“Kim Eunjung!”

DEGH! Suara eomma!

Aigoo! Aku lupa! Tadi kan aku juga sedang memasak untuk bekal kesekolah nanti. Mwo? Jangan- jangan telur gulung yang tadi aku goreng hangus! Kyaaaa!

0o0o0o0o0o0o0o0

“Eomma… Si Changmin oppa itu bener tunanganku atau bukan sih? Kok dia selalu bersikap cuek begitu sih? Dia seperti tak menganggapku sebagai tunangannya. Yah, memang sih status kami juga tak berpacaran.” Sore itu aku duduk di kursi meja makan sambil menata piring sedangkan eomma yang memasak.

Tak ada tanggapan dari eomma.

“Eomma!” Kutolehkan kepalaku sambil cemberut. Saat menoleh kumelihat eomma tengah memegang ponselnya dan tampak serius mengetik sesuatu.

Aku dikacangin nih!

“Aigooo! Aku bicara tapi eomma malah sibuk dengan ponsel!” Seruku kesal.

“Ahaha.. Mianhae…” Eomma memasukkan ponselnya dan menatapku sambil cengengesan aneh. “Appamu tadi mengirim pesan katanya akan pulang terlambat. Ada acara mendadak di radionya. Tadi kamu bilang apa?”

Dia benar- benar tak mendengarkanku. Lagipula appa itu kenapa harus mengirim pesan sih? Sok sibuk sekali. Kan bisa telepon saja. Perkerjaan appaku itu terbilang hebat loh… Appa itu seorang penyanyi terkenal, tapi sekarang dia juga menjadi DJ di radio pribadinya. Sedangkan eomma itu, penulis.

Entah apa yang terjadi sampai mereka bertemu dan akhirnya menikah lalu memiliki anak sepertiku ini. Mereka berdua menikah dalam usia muda saat eomma masih dua puluh tahun. Aku rasa eomma memaksa appa menikahinya, mengingat eommaku ini agak cerewet dan appa agak pabbo. Ckckck…

“Kamu bilang apa tadi? Kenapa malah bengong melihat eomma? Ada yang aneh?” Pertanyaannya membuyarkan lamunanku.

Aku buru- buru menggeleng. “Aniyo.” Balasku sambil berjalan menghampirinya dan mengambil sepiring kimchi yang dibuat eomma. “Aku sedang membicarakan Changmin oppa. Sebenarnya status kami apa sih? Sudah calon tunangan tapi kok dia cuek begitu. Apa eomma dan Jae ahjumma serius menunangkan aku dengan dia?” Selidikku sambil menatap eomma.

Eomma tertawa pelan mendengar pertanyaanku. “Jangan tanya eomma… Rencana menunangkan kalian kan gara- gara appamu dan Yunho ahjussi. Mereka pernah membuat janji konyol saat Jae ahjumma tengah mengandung. Kata appamu, kalau anak Jae ahjumma itu namja, maka harus ditunangkan dengan anaknya kalau anaknya perempuan. Dan Yunho ahjussi setuju saja. Saat eomma melahirkanmu, ternyata anak perempuan. Akhirnya janji itu ditepati.” Jelasnya.

Aku sudah mendengar cerita itu puluhan kali tahu!

“Huh!” Aku langsung duduk. “Sama saja kami akan bertunangan tanpa cinta kan? Padahal aku sangat mencintainya. Tapi dia selalu bersikap santai dan memperlakukanku seperti dongsaengnya.”

Eomma menepuk pundakku lembut. “Kalau gitu, buat dia agar mencintaimu. Gampang kan? Kalau perlu paksa dan ancam saja dia.” Eomma nyengir aneh lagi menatapku.

“Hoo.. Seperti eomma yang memaksa appa ya?”

“Huu.. Anak nakal!” Tangannya langsung menjitak kepalaku kesal. “Appamu itu memang tertarik sama eomma, kok! Siapa yang memaksa siapa coba?”

“Appa yang cerita.” Balasku lagi sambil tertawa meledek eomma.

“Ah, annyeong!”

DEGH! Aku kaget saat mendengar suara itu. Tanpa banyak bicara aku langsung berlari keluar dapur menuju pintu depan rumahku. Changmin oppa tengah membuka sepatunya dan masuk ke rumah.

“Oppa!”

Namja itu tersenyum manis menatapku. “Aku mencim bau kimchi nih… Taena ahjumma memasak kimchi ya? Untung aku mampir sebelum makan malam, aku ikut makan disini saja ya.”

Ahaha.. Dasar tukang makan.

“Hari ini eomma masak banyak.” Aku langsung menarik tangan Changmin oppa menuju dapur. “Eomma! Hari ini masakan eomma bakalan habis dimakan Changmin oppa! Jadi bersiaplah…” Ujarku lagi.

Changmin oppa menunduk sopan didepan eomma. “Annyeong, ahjumma..”

“Nae, Changmin. Kau sudah bilang Jae eonnie kalau mau makan malam disini?”

Kulirik Changmin oppa yang cengengesan. “Aniyo, ahjumma. Biar nanti aku telepon eomma dan bilang aku makan malam disini.” Namja tinggi itu langsung duduk di kursi dan bersiap menyomot kimchi.

“Oppa! Cuci tangan dulu!” Aku buru- buru memukul tangannya sebelum menyentuh kimchi.

Dia menatapku sebal. “Kau itu galak sekali sih, mirip dengan eommaku.”

~Kriiing~

Telepon rumahku berbunyi dan eomma langsung keluar dari dapur.

Kini tinggallah kami berdua di dapur. Kutatap Changmin oppa yang mengelap tangannya di handuk dapur dan dia menatapku aneh.

“Wae? Ada yang aneh diwajahku?” Tanyanya.

Seharusnya aku menanyakannya, kan? Nae, aku memang harus menanyakan apakah dia menganggapku sebagai calon tunangannya. Aku tak mau hubungan kami seperti ini terus. Sangat tidak nyaman rasanya.

“Anou, oppa… Sebenarnya_”

“Aigooo!” Kalimatku terpotong oleh eomma yang tiba- tiba masuk ke dapur dengan wajah kesal.

“Wa-wae eomma?”

“Appamu melupakan setumpukan partitur musik yang harus dipresentasikannya di siaran nanti malam. Dia meminta eomma mengantarkannya. Tapi saat ini aku sedang masak. Benar- benar merepotkan saja.”

Sebelum eomma membuka apronnya, Changmin oppa menarik tangannya. “Ah, ahjumma.. Biar aku saja yang mengantarnya. Stasiun radio Miracle kan tak terlalu jauh. Aku bisa mengantarkannya dengan cepat kok.”

“Benar tak merepotkanmu, Changmin?”

Changmin oppa mengangguk pasti. “Aku bisa melangkah dengan cepat kesana dan sampai sebelum makan malam habis. Aku tetap akan makan malam disini, loh…”

“Kalau tiang yang berlari pasti cepat, yaa..” Eomma terkekeh menggoda Changmin sambil berjalan menuju kamarnya dan keluar dengan membawa partitur yang dimaksud. “Eunjung, kau juga ikut, ya… Appa pasti akan memarahimu kalau kau tak membantunya dan malah membiarkan Changmin mengantarkannya sendiri.”

Aku langsung berdiri semangat. “Siap!” Kapan lagi aku bisa jalan sama Changmin oppa? Sekalian bicara dengan dia tentang hubungan kami yang sangat tak jelas ini.

“Kajja, Eunjung.” Panggil Changmin oppa.

Aku langsung memeluk eomma sekilas. “Gomawo, eomma.” Aku tahu eomma pasti bingung kenapa aku bilang gomawo? Tapi aku tak memperdulikannya. Aku langsung berlari keluar ruang makan menyusul Changmin oppa yang sudah berdiri di depan pintu.

Namja tinggi itu tersenyum yakin. “Kita bergerak cepat, oke?”

“Siip, oppa!”

0o0o0o0o0o0o0o0

“Ah, gomawo sudah mengantarnya, chagi, Changmin.” Appa langsung mengambil partitur musik yang kami bawa. “Kenapa bukan eomma yang mengantar? Dia sedang sibuk? Appa kan meminta eomma yang mengantar.”

“Appa ini… Eomma itu sedang masak tahu. Kenapa memaksa?” Balasku.

Changmin oppa tertawa. “Appa-ku juga kadang begitu. Memaksa eomma-ku melakukan sesuatu. Padahal ada maksud tertentunya, loh.. Palingan appa kamu kangen sama ahjumma.” Tawa Changmin pecah sedangkan appa hanya menatapnya kesal.

Aku tersenyum kecil. “Nae, appa… Kami harus kembali, nih.. Eomma kan sudah memasak buat kami.”

Appa langsung mengusap kepalaku dan mengangguk. “Nae, sampaikan salam buat eomma, ya..”

Aku langsung menarik Changmin oppa yang masih terkekeh pelan keluar studio radio itu. “Oppa, kenapa tertawa terus sih? Kau itu aneh atau memang gila?” Tanyaku kesal sambil melepas tangannya yang sejak tadi kutarik.

“Aniya, aku hanya berpikir kalau orang tuamu dan orang tuaku itu sama saja.” Balasnya sambil mengusap kepalaku. “Appa dan eomma-mu itu benar- benar memanjakanmu, ya? Jadi satu- satunya anak perempuan di rumah pasti dimanja. Sedangkan aku, kadang appa itu suka menyebakan. Hanya eomma yang memanjakanku.”

“Oppa kan sudah dewasa, masa mau dimanja terus sih?” Aku geleng- geleng disebelahnya. “Kalau aku dimanja yah itu takdirku.”

“Dasar anak kecil.”

DEGH! Hatiku kembali tercekat saat mendengarnya bilang seperti itu.

Tiba- tiba ponsel Changmin oppa berdering dan dia langsung mengangkatnya. “Ah, Sooyoung waeyo?”

Telepon dari seorang yeojya?

“Ah, sekarang? Boleh… Aku sedang tidak sibuk.”

Wait! Dia bilang tidak sibuk? Dia kan mau makan malam dirumahku!

“Oke, aku ke rumahmu sekarang. Bye.” Changmin oppa langsung menutup flat ponselnya dan menoleh menatapku. “Ng.. Malam ini…”

“Oppa mau pergi dengan yeojya itu?” Tanyaku datar.

Kedua bola mata Changmin oppa membulat aneh. “Yeojya itu? Dia teman sekampusku, Choi Sooyoung. Tolong sampaikan ke ahjumma kalau aku tak jadi makan malam hari ini, yaa..” Changmin oppa mengusap kepalaku dan hendak berjalan meninggalkanku.

“Oppa pembohong!!” Seruku tiba- tiba.

Tentu saja Changmin oppa langsung kaget dan menatapku shock. “E-eunjung wae?”

“Kau bilang mau makan malam dirumahku! Tapi sekarang kau pergi dengan yeojya lain! Oppa harus ingat, aku ini kan calon tunangan oppa!!” Mataku terasa panas dan rasanya air mataku mau menetes.

Sorot mata Changmin oppa berubah datar. “Calon tunangan?”

Kenapa dia bicara sedingin itu?

“Eunjung, aku harap kau tak terlalu serius dengan itu. Itu kan hanya ucapan yang dikatakan kedua appa kita dulu. Aku… Aku yang akan memilih pasangan hidupku sendiri.” Dia mencoba tersenyum. “Sekarang pulang, yaa.. Aku akan meneleponmu nanti.”

Apa yang dia katakan tadi? Kenapa dia bisa bicara seperti itu?

Selama ini aku selalu berpikir kalau itu semua serius. Aku selalu berpikir kalau memang bisa bersama dengannya. Tapi dengan mudahnya dia berkata seperti itu. Kenapa dia kejam sekali kepadaku?

“Eunjung…” Changmin oppa menggerakkan tangannya hendak mengusap kepalaku lagi.

Aku langsung mundur. “Ja-jangan sentuh aku. Aku benci oppa!” Seruku sambil berlari meninggalkannya.

“Eunjung! Tunggu!” Changmin oppa itu bertubuh tinggi, dia langsung mengejar dan menarikku. “Tunggu, dengar dulu. Aku bukannya bermaksud untuk_”

“Untuk apa?!” Aku berseru marah. Air mataku tumpah sudah dihadapannya. “Aku.. Aku padahal serius mencintai, oppa. Tapi oppa sedikitpun tak pernah menatapku sebagai seorang yeojya, kan? Sudah jangan pernah temui aku lagi!” Aku menyentakkan lengannya dan kembali berlari meninggalkannya.

Aku kesal! Aku marah! Kenapa harus aku yang menerima perlakuan ini? Kau itu sangat bodoh, Changmin oppa!

~~Eunjung pov end~

.

BRAKK!! Eunjung membuka pintu rumahnya dengan keras dan membantingnya begitu saja.

“Omo? Chagi? Kau suda kembali?” Tentu saja Taena langsung kaget mendengar suara itu. Baru saja yeojya itu ingin menyusul, dia sudah melihat Eunjung naik ke lantai dua dan terdengar suara pintu kamarnya dibanting keras.

KRIIING~ Telepon rumah kembali berdering.

“Yeoboseyo?”

“Taena ahjumma?”

“Changmin?” Taena mengerutkan keningnya heran. “Kau bertengkar dengan Eunjung?”

“Di-dia sudah sampai di rumah? Apa dia menangis?”

Taena langsung diam. “Aku tak lihat, tapi sepertinya dia menangis. Dia membanting pintu kamarnya. Apa yang terjadi? Dia marah padamu? Atau dia marah pada appa-nya?”

Changmin diam sebentar. “Ng… Semuanya karena aku, ahjumma. Tolong bilang padanya aku benar- benar minta maaf. Aku sama sekali tak bermaksud menyinggungnya sedikitpun. Tadi dia…”

“Uljima, Changmin…” Taena menyelak.

“Eh?”

Yeojya itu mencoba tersenyum meski Changmin tak akan melihatnya. “Aku sepertinya tahu apa yang terjadi, biar aku yang bicara dengannya. Kau tenang saja, ya…”

“Nae…” Suara Changmin terdengar lesu. “Lalu, ahjumma.”

“Hmm?”

“Aku sebenarnya… Aku serius. Baiklah, sampai jumpa nanti, dan maaf karena aku tak bisa kembali kesana untuk ikut makan malam.”

“Arraseo.” Balas Taena sambil menutup teleponnya. Yeojya itu melirik kearah dapur sebentar lalu melepas apronnya dan naik ke kamar Eunjung.

.

~Eunjung pov~

“Hiks..” Aku terisak dalam. Hatiku rasanya sangat sakit sekarang. Mengetahui kalau selama ini Changmin oppa sama sekali tak serius kepadaku. Mengetahui kalau Changmin oppa tak pernah menatapku sebagai yeojya. Ini sangat menyakitkan.

TOK-TOK

“Ngh?” Aku langsung menatap ke pintu kamarku. Pasti eomma.

“Chagi, boleh eomma masuk?”

Sebenarnya aku tak mau eomma masuk ke dalam kamarku sekarang. Tapi kularangpun percuma dia akan tetap masuk sekarang juga. “Na-nae.” Jawabku parau sambil menghapus air mataku dan duduk di atas tempat tidurku.

Kulihat eomma masuk ke dalam dan langsung duduk di tepi tempat tidurku. Dia menatapku lekat- lekat. “Kau menangis karena dikejar anjing liar atau karena appa menggodamu disana?” Eomma tersenyum meledekku.

Aku tahu itu hanya guyonan saja.

Aku cemberut. “Jangan bercanda, eomma.”

“Eomma serius bertanya, loh…” Eomma langsung naik ke atas tempat tidurku dan duduk beradapan denganku. “Karena Changmin lagi kan? Kau itu lebih sering menangis karena dia dibanding menangis karena merajuk.”

Aku mengerutkan keningku heran. “Aku juga tak pernah menangis karena merajuk, eomma.”

“Waktu kecil?”

“Itu kan dulu!” Sentakku kesal.

Eomma kembali terkekeh pelan sambil mengusap kepalaku. “Dia bilang apa?”

Memang tanpa bicara panjang lebar dia bisa tahu apa yang aku pikirkan. “Eomma, apa ucapan kalian tentang pertunanganku dan Changmin oppa itu nyata? Apa benar itu sudah ditakdirkan? Aku benar- benar terluka, eomma.” Perlahan intonasi suaraku menurun dan kuremas rokku. Air mataku menetes lagi.

“Terluka kenapa?”

“Dia… Dia sama sekali tak pernah menatap kearaku. Dimatanya aku hanya seorang anak kecil, tak lebih dari itu. Dia tak pernah menatapku sebagai seorang yeojya. Padahal selama ini aku serius mencintainya. Aku serius ingin bersamanya. Apa semua ucapan appa tentang pertunangan itu hanya bohong?” Aku kembali terisak.

“Aigoo~” Eomma langsung menarikku dan memelukku. “Memangnya appa pernah berbohong?”

“Sering!”

Eomma lagi- lagi tertawa mendengar jawabanku. “Kau kan tahu kenapa appa dan Yunho ahjussi berniat menunangkan kalian, kan?” Saat eomma bertanya begitu aku mengangguk pelan. Aku memang tahu alasannya.

“Tapi kau juga tahu kenapa sampai saat ini kami sama sekali tak mempermasalahkannya atau melakukan pertunangan itu?”

“Wae?”

“Karena kami ingin kalian sendiri yang menyatukan diri. Eomma tahu kalau kau menyukai dia, dan eomma punya keyakinan kalau kalian memang bisa bersama. Makanya kami sama sekali tak mau mengurus masalah ini sampai kalian yang menentukannya.”

“Tapi Changmin oppa tak menyukaiku sama sekali! Dia sama sekali tak memahami perasaanku, bagaimana caranya kami bisa bersama?”

“Kau mau menyerah?”

“Ngh?” Aku menengadah menatap eomma.

“Kau mau menyerah sebelum mencobanya? Kau bahkan belum menyatakan perasaanmu kepadanya, bagaimana caranya kau tahu kalau dia sama sekali tak menyukaimu, chagi? Kau baru boleh menyerah kalau memang tak ada harapan lagi. Tapi selama harapan itu masih terlihat, kenapa harus menyerah?” Eomma tersenyum lembut kepadaku.

Aku langsung duduk tegap menatapnya. “Itu yang eomma lakukan terhadap appa? Apa eomma tak pernah menyerah waktu mengejar appa?”

“Tadinya sih begitu, tapi ujung- ujungnya appa yang mulai merespon perasaan eomma. Kau juga harus begitu, namja itu akan lebih mudah memberi perhatian pada yeojya yang memang terlihat dihadapannya seperti apapun yeojya itu. Buat dia menatapmu. Hanya menatapmu.”

Itu yang aku inginkan. Aku mau oppa menatap hanya kearahku.

“Mau mencoba?” Eomma mengapus air mataku.

Aku mengangguk perlahan. “Aku rasa aku harus melakukannya. Aku tak boleh menyerah begitu saja. Aku sangat mencintainya.”

Eomma tersenyum sambil menepuk kepalaku. “Bagus, sekarang ayo makan malam.” Eomma turun dari tempat tidurku dan langsung keluar dari kamarku.

Kutatap fotoku waktu kelulusan SMP bersama dengan Changmin oppa.

Nae, oppa… Aku akan mencobanya.

0o0o0o0o0o0o0o0

Tapi bagaimana memulainya? Changmin oppa terlanjur salah paham terhadapku, kan? Kemarin aku marah sekali padanya sampai berteriak begitu. Sekarang aku harus minta maaf dulu, kan? Aishh.. Seharusnya aku jangan gegabah.

Aku menatap seorang yeojya tinggi yang berdiri di depan rumah Changmin oppa.

Nugu?

“Mian, Sooyoungie.” Changmin oppa langsung keluar dari rumahnya dan secara reflex aku juga langsung bersembunyi di balik tiang dipinggir jalan. Memperahatikan keduanya.

Jadi dia yang semalam menelepon Changmin oppa?

Changmin oppa memberikan sebuah buku tebal kepadanya. “Mian karena terbawa, seharusnya kau tak perlu ikut aku pulang mengambilnya, kan?”

“Gwaenchana.” Balas yeojya itu sambil tersenyum. Yeojya yang tinggi dan sangat cantik. Apa seperti itu tipe ideal Changmin oppa? Yeojya cantik dan dewasa. Sangat jauh kalau dibandingkan denganku yang masih sekolah.

“Sekarang ayo kembali ke kampus. Kurasa kita akan sedikit terlambat.”

“Aku ingin bolos saja.” Goda Changmin oppa dan keduanya berjalan bersamaan. Aku merapatkan tubuhku ke tiang. Tapi saat keduanya melewatiku, Changmin oppa ternyata melihatku dan menoleh. “Eunjung?”

Aku membatu.

“Kenapa kau berdiri disana? Kau… Menguping, eh?”

Issh.. Sangat tidak menyenangkan mendengarnya!

“Eeh? Dia Kim Eunjung yang pernah kau ceritakan itu, Changminnie?”

Di-dia menyebut nama oppa semanis itu? Aku menengadah menatap yeojya itu. Aku benci dia!

Changmin oppa tersenyum aneh kepadaku. “Yah, begitulah. Eunjung, dia ini_”

“Mian aku menganggu kalian.” Aku langsung membungkuk sekali dan langsung berlari meninggalkan kedua orang itu menuju rumahku. Aku tak mendengar Changmin oppa memanggilku, tapi aku yakin dia memperhatikanku.

Padahal aku baru saja ingin mencoba memperbaiki hubungan ini, tapi melihat mereka berdua aku langsung lari begitu saja.

Aku langsung berjalan masuk ke dalam rumah dan melongok ke dapur.

“Aigoo, oppa.. Jangan seperti ini, nanti kalau Eunjung lihat bagaimana?”

Aku langsung kaget saat melihat appa sedang memeluk eomma dari belakang sedangkan eomma hanya terkekeh sambil menggerutu pelan.

“Biarkan saja. Kita kan tak melakukan hal yang aneh, pabbo.” Kali ini appa malah mencium puncak kepala eomma lembut.

Mereka memang terlalu akrab. Aku juga ingin seperti itu dengan orang yang aku cintai. Jika bisa hidup bahagia bersama orang yang dicintai, pasti rasanya sangat menyenangkan. Aku bersandar di tembok dan menunduk.

Changmin oppa…

~Eunjung pov end~

.

“Mwo? Bertengkar dengan Eunjung?” Changmin menutup telinganya saat mendengar Jaejoong menatapnya kaget. “Kenapa bisa bertengkar? Kau menggodanya keterlaluan, ya?”

Changmin hanya mengaduk sup dihadapannya malas. “Aku tak menggodanya sedikitpun. Hanya saja ada sedikit kata- kataku yang aku yakin menyakitinya. Aku bingung, eomma.” Namja itu menjatuhkan kepalanya di atas meja dengan lesu.

Jaejoong duduk di kursi makan dan menatap Changmin serius. “Kenapa tidak minta maaf kalau kau yang salah?”

“Aku tak berani. Menatap matanya yang terluka karena aku, membuatku ikut terluka. Aku tak bermaksud melukainya, aku serius, tapi dia salah menanggapi. Dia langsung marah begitu saja.” Gerutu Changmin lagi.

Jaejoong malah terkekeh pelan. “Aneh, Taena sama sekali tak cerita kepadaku. Ah, seingatku dua hari lagi Eunjung ulang tahun kan? Apa kau mau dia merayakan ulang tahunnya dengan perasaan begini?”

“Ulang tahun?” Changmin langsung meraih ponselnya dan melihat tanggalan. “Aiish.. Benar! Untung eomma mengingatkan.”

“Minta maaflah padanya.” Jaejoong mengusap kepala putra tunggalnya lembut. “Dia pasti akan memaafkanmu. Eunjung itu sangat mencintaimu, Changminnie.”

Changmin tertegun mendengar ucapan Jaejoong barusan. “Aku… Tahu.” Jawabnya sambil memalingkan wajahnya dari tatapan sang eomma.

0o0o0o0o0o0o0o0

~Eunjung pov~

Weekend… Aku sama sekali tak ada kegiatan

“Heya, chagi.. Kau tak punya kerjaan? Kasihan sekali.” Appa duduk disofa disebelahku sambil membolak- balik sebuah majalah yang isinya resensi film. Dia itu hobi sekali sih nonton film. Saat pacaran dengan eomma pasti diajak nonton terus. Habisnya dia kan orang terkenal, wajar kalau tak bisa keluar rumah sembarangan.

Aku bersandar di lengan appa malas. “Appa, aku sangat bosan.”

“Appa dengar kau bertengkar dengan Changmin, nae? Apa sampai sekarang masih belum berbaikan?”

Aku menggeleng.  “Aku tak bertengkar. Aku hanya malas bertemu dengannya saja, kok…”

“Itu namanya bertengkar, chagi..” Sambil tertawa appa mengacak rambutku. “Ah, yeobo! Tolong ambilkan buah, dong! Aku mau apel, ya…”

Seenaknya saja menyuruh orang.

Aku duduk tegap sambil melirik appa. “Appa, apa sekalipun appa tak pernah bertengkar dengan eomma?”

Appa menatapku heran. “Pernah, kok.”

“Mwo? Jeongmal? Kapan? Kok aku tak tahu.”

Lagi- lagi appa mengacak rambutku. “Kadang pertengkaran juga karena hal kecil, dan kami juga tak bertengkar secara terang- terangan. Yang namanya hubungan sepasang manusia itu tak pernah bisa dilewati tanpa pertengkaran. Dan untuk menyelesaikannya, kalian harus bicara baik- baik. Kalau hanya diam dan menghindar, masalah tak akan selesai.”

“Appa menyindirku?” Gerutuku.

Appa lagi- lagi tertawa. “Sudahlah, kau mau kado apa, chagi?”

“Kado?” Aku menatap appa bingung. Tapi beberapa detik kemudian aku baru teringat. “Aku lupa! Ini hari ulang tahunku!” Seruku sambil menepuk jidat dan berdiri. “Kenapa tak ada yang mengingatkanku? Eomma!!!”

“Berisik, ah…” Eomma keluar dari dapur sambil membawa sepiring buah- buahan segar yang sudah dipotong dan duduk disamping appa. “Siapa yang suruh lupa sama ulang tahun sendiri?” Godanya.

Aku hanya cemberut. “Setidaknya eomma harus mengingatkanku dan bertanya apa yang aku mau satu hari sebelumnya.” Aku langsung duduk disamping appa lagi. “Appa, aku mau jalan- jalan sekeluarga. Bagaimana? Bisa kan?”

“Sulit juga.” Gumam appa. “Appa ada jadwal siaran malam ini, besok juga ada banyak jadwal menunggu. Tapi mungkin kalau kita perginya sekarang masih bisa. Tapi appa tak bisa ikut makan malam. Bagaimana?”

“Setuju!” Seruku semangat.

Oke, Kim Eunjung… Satu hari ini lupakan Jung Changmin! Kau harus bersenang- senang!

.

Kami bermain sampai sore di taman bermain. Terlalu kekanakkan memang, di usia sedewasa ini kado ulang tahun masa main ke taman bermain dengan kedua orang tua? Seharusnya kan aku jalan- jalan dengan teman atau setidaknya pacar.

Pacar yaa…

Changmin oppa ternyata lupa kalau ini hari ulang tahunku.

“Chagi ayo pulang.” Ucap appa mengingatkan.

Aku langsung berjalan mendekati appa dan eomma yang sudah berjalan duluan.

“Ah, Eunjung… Kau jangan pulang dulu.” Eomma langsung merogoh tasnya dan menyerahkan padaku sesuatu. “Tolong kirimkan kartu pos ini, kau bisa kan?”

“Aku kan ulang tahun, masa masih disuruh?” Rajukku.

Appa menatapku datar. “Hayo, kau mau menolak permintaan eomma? Bukannya seharian ini appa dan eomma mengabulkan semua permintaanmu.”

Ukh… Aku kalah suara.

“Baik deh…” Aku mengambil kartu pos yang eomma berikan tadi dan masuk ke dalam mobil. Aku hanya menumpang sampai kantor pos. Hari ini mereka sangat pelit, padahal kan bisa sekalian mengantar kartu sambil pulang. Kenapa aku ditinggal?

Setelah mengirim kartu pos itu aku berjalan menuju halte bus.

Kutatap langit malam. Ini ulang tahun terburuk karena tak kurayakan bersama dengan Changmin oppa. Dia benar- benar lupa padaku padahal kami hanya tak bertemu beberapa hari. Sangat keterlaluan!

Tuh kan lagi- lagi mataku berkaca- kaca. Ini semua gara- gara Changmin oppa.

“Kau sedang apa?”

DEGH! Aku mematung mendengar suara itu.

“Eunjung kan?”

Perlahan aku menoleh. Dan Changmin  oppa berjalan kearahku. “Mwo? Kau menangis?! Ke-kenapa, Eunjung?” Saat dia mau melangkah mendekatiku, aku mundur.

“Eunjung? Kau masih marah?”

“Aniya. Aku harus pulang.” Aku melirik ke jalan. Kenapa tak ada bus yang lewat sih?!

“Jalan kaki saja denganku.” Tanpa persetujuanku, Changmin oppa langsung menarik tanganku menjauh dari halte bus dan menggandengku. “Jalan kaki malam- malam itu lebih sehat. Tapi kenapa kau disini? Kalau aku sih dari kantor pos, eomma menyuruhku mengirim sesuatu.”

Kantor pos?

“Eomma juga menyuruhku mengirim kartu pos.” Gumamku sambil berusaha menarik tanganku, tapi Changmin oppa justru menggenggamnya semakin erat. “Oppa, lepas… Nanti ada yang salah paham.”

“Biar saja, mereka kan tak mengenal kita.” Jawabnya santai.

Kenapa dia seperti ini? Justru kelakuannya membuatku semakin terluka.

“Selama ini aku menganggapmu seperti adikku sendiri.” Dia kembali membuka pembicaraan.

Aku menunduk sambil menggigit bibir bawahku kesal. Apa maksudnya sih…

“Aku selalu memperlakukanmu dengan sangat baik, kan? Sekalipun aku selalu berusaha agar tak melukaimu. Tapi ternyata aku salah, kelakuanku selama ini justru membuatmu terluka. Aku salah menganggapmu seperti adik. Aku sudah kelewatan.”

Kalau tahu kenapa diteruskan!

Aku menarik tanganku kuat agar lepas dari tangannya. “Kalau oppa sadar kalau aku terluka, kenapa kau terus memperlakukanku seperti itu? Bahkan sampai sekarang kau tetap memperlakukanku seperti itu kan?!”

Changmin oppa memandangiku dalam diam.

Kali ini air mataku kembali menetes. “Aku lelah, oppa… Aku lelah karena kau memandangku sebagai seorang adik kecil. Kau tak tahu sepenting apa arti pertunangan itu untukku, kau tak tahu seberapa besar aku menyayangi oppa. Tapi dengan mudahnya kau bilang, kau yang akan menentukan pasangan hidupmu. Kau tak memahami sesakit apa hatiku saat mendengarnya?!”

“Oke, mianhae…” Changmin oppa berusaha meraih tanganku, tapi aku kembali mundur. “Eunjung…”

“Jangan berikan aku harapan kosong, oppa. Kalau kita seperti ini terus, aku yang akan tersakiti. Lebih baik kita jangan bertemu lagi untuk sementara waktu.” Ini saatnya aku benar- benar menyerah. Aku tak punya harapan lagi.

SRETT! Tiba- tiba Changmin oppa memelukku.

“O-oppa! Lepas!”

“Aniya!” Serunya kesal. “Kenapa kau bicara sepanjang itu tanpa memberikan kesempatan bagiku untuk berbicara? Itu sangat tidak adil. Aku bahkan belum bilang sesuatu yang paling penting dan menyerahkan sesuatu.”

Sesuatu?

Changmin oppa melepaskan pelukannya dan merogoh saku jaket kulitnya. Dia mengeluarkan sebuah kantung kain kecil berwarna biru langit dengan boneka kecil diatasnya. Kutatap dia heran.

Changmin oppa tersenyum. “Saenggil chukkae hamnida.”

Air mataku kembali menetes. Kututup mulutku kaget. “O-oppa ingat?”

“Mana mungkin aku lupa?” Oppa langsung membuka kantung kain itu dan mengeluarkan sebuah gelang perak dengan bandul berbentuk hangul ‘E’.

“E untuk Eunjung.” Ucapnya sambil memasukkan gelang itu ke tanganku. “Mianhae… Beberapa hari yang lalu aku memang agak keterlaluan. Tapi sebenarnya bukan itu maksudku.”

“Bukan itu?”

Changmin oppa menggenggam tanganku. “Selama ini aku belum berani mengakui pertunangan itu karena aku takut melukaimu. Aku tahu kau sangat menyukaiku dan sejujurnya aku juga begitu. Tapi kita masih terlalu dini untuk memikirkan tentang pertunangan juga menikah. Karena itu aku sama sekali tak suka membicarakannya.” Dia menatapku dalam dan mengusap wajahku lembut.

“Jadi…”

“Sejujurnya, aku sangat mencintaimu.”

Kata- kata itu bagaikan sihir untukku. Air mataku langsung berhenti. “Je-jeongmal?” Tanyaku tak yakin.

Changmin oppa mengangguk. “Kau tak perlu menjawabnya. Aku tahu apa yang kau pikirkan.” Namja tinggi itu langsung memelukku meski aku masih terpana tak percaya. “Mungkin setelah ini aku juga akan menyakitimu, tapi jangan diam lagi. Kau harus bilang padaku kalau kau terluka karena aku. Jangan bicarakan tentang pertunangan atau apapun. Masa depan kita, kita yang akan mengaturnya, bukan orang tua kita.”

Perlahan aku balas memeluk Changmin oppa. “Nae, oppa. Arraseo.”

Eomma… Appa… Akhirnya aku juga menemukan kebahagiaanku. Kelak aku ingin bahagia seperti kalian berdua. Ini adalah satu- satunya kado terindah sepanjang hidupku.

~Eunjung pov end~

.

.

“Kiriman kartu pos!!”

Eunjung langsung berlari keluar rumah saat mendengar suara tukang pos. “Mwo? Kartu?” Diambilnya kartu di dalam kotak pos. “Kok sama seperti yang pernah eomma suruh aku kirimkan dulu?”

“Eunjung? Kartu pos itu kan yang dulu kukirim?” Tiba- tiba Changmin menghampirinya.

Eunjung melirik kartu pos ditangan Changmin. “Itu yang dulu kukirimkan!”

“Mwo? Jangan- jangan kita sengaja disuruh kirim oleh kedua eomma kita?” Changmin melirik ke arah rumahnya kaget.

Eunjung tertawa kecil. “Dasar eomma dan Jae ahjumma. Tapi setidaknya caranya berhasil mempertemukan kita, oppa!” Seru Eunjung sambil merangkul lengan Changmin. “Ayo masuk ke rumah. Eomma tadi bikin apple pie.” Eunjung langsung menariknya masuk ke dalam rumah.

.

.

~The End~

3 thoughts on “Special Birthday Gift // Straight // Changmin x OC

  1. Eomma ini aq!:D
    Hu-huwaaaaaa…. aq pngen nangis bca’a!.:>..< #plak ngg.. jd oppa, suatu saat nnti qta bnran mnikah kan? *toel2 Changminnie* xD yah, pkoq'a aq suka ini eomma! Suangaat sukaa!! Skali lg, JEONGMAL GOMAWO EOMMA! Saranghae!:*

  2. gyaa, entah knpa saat baca fic ini chara changmin aku bayangin kayak artis jepang yg main di crows zero2 yg berambut pirang ganteng itu #gubrak😀

    Hmm, ceritanya seperti biasa bagus🙂
    bisa membua pembaca menghayati ceritanya, saya saja smpe senyum”🙂

    yg jdi appa’a eunjung sudah pasti yesung kan eon?

    oke, segitu aja ya eon saya emang ga bakat riview (?)
    overall this is nice fic😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s