You

YOU

Pairing :: HanChul

Rated :: PG-17

Genre :: Angst/Romance

.

Telat!

Aku telat!!

Dengan secepat mungkin aku berlari menyusuri jalan menuju sekolah. Waktu menunjukkan pukul delapan kurang dua menit lagi. Jam delapan tepat gerbang sekolah akan ditutup dan aku telat! Aku nggak mau dihukum.

Aku berlari menyebrangi jalan yang menghubungkan dengan sekolah.

TIIIN! Bunyi klakson mobil itu menyentakkan diriku. Untuk beberapa detik aku terpaku ditengah jalan.

Brugh! Sampai seseorang datang mendorongku hingga membentur pinggiran jalan.

“Pabbo! Apa yang kau lakukan? Kau mau mati!”

Dia menatapku kaget dengan tampang shock. Matanya memancarkan kepolosan juga ketenangan. Benar- benar sosok namja yang sempurna. Pertemuan pertamaku dengannya, langsung membuatku jatuh cinta kepadanya.

Musim gugur pertama dimana aku jatuh cinta.

.

.

Story Start!!

.

.

“Heenim!”

Aku menatap Hankyung yang berlari ke arahku sambil membawa map coklat juga tas besar. Mahasiswa seni itu kelihatannya datang dengan membawa kabar baik.

Namja itu terlihat terengah- engah saat berhadapan denganku. “A-aku.. Aku..”

“Apa Hankyung? Jangan lelet kalau mau bicara!” Seruku ketus karena penasaran dengan berita yang dibawanya.

Hankyung tersenyum bangga kearahku. “Aku diterima!” Serunya sambil berhambur memelukku erat. Nafasku langsung berhenti seketika, aku kaget juga dengan serangannya itu.

“Aku diterima di fakultas kedokteran untuk mata kuliah tambahan!”

Wooww! Itu berita yang sangat bagus. Aku ikutan tersenyum senang saat mendengar dia mengatakannya. Hankyung memang mahasiswa seni, tapi tahun ini ia memutuskan untuk masuk ke jurusan kedokteran, dan dia berhasil!

“Chukkae!” Kali ini gantian aku yang memelukknya. Namun hanya sekilas karena aku ingat ini hal yang konyol. Dua namja berpelukan di koridor kampus? Jyaah…

Hankyung tersenyum lembut sambil menatapku. Tangannya bergerak menepuk bahuku pelan. “Gomawo… Itu semua kan gara- gara kau juga Heenim. Kalau kau nggak ada, aku nggak yakin bisa melakukannya.”

Nafasku kembali tercekat. Degup jantungku mulai nggak karuan mendengarnya mengatakan hal itu. Dia lagi- lagi terlalu berlebihan menilaiku. Aku hanya membalasnya dengan senyuman tipis. “Itu semua karena usahamu sendiri bodoh.”

Hankyung hanya tertawa lalu merangkul bahuku. “Ayo kutraktir ramen.”

Aku nggak berani menjawabnya. Mengatur degup jantungku itu lebih penting. Namja ini sangat tahu bagaimana caranya membuatku berdebar- debar. Dia yang paling bisa membuat hatiku kacau. Hanya dia. Yap, karena aku menyukainya. Sejak tiga tahun yang lalu, sejak kami bertemu untuk pertama kalinya.

Hankyung namja dan orang pertama yang membantuku untuk berubah.

0o0o0o0o0o0o0

“Kim Heechul!” Kudengar hyungku memanggilku. Si Leeteuk itu sedang sensitive hari ini gara- gara banyak tugas di perusahaan.

Ah, sebelumnya perkenalkan dulu. Aku adalah Kim Heechul. Hyungku namanya Kim Leeteuk. Keluargaku termasuk keluarga yang sangat berada. Hyungku sekarang menjabat sebagai presedir di perusahaan appa karena appa sudah meninggal. Dan eomma… Dia sudah meninggal sejak aku lahir. Tadinya ada eomma tiriku yang menikah dengan appa saat aku berusia lima tahun… Tapi tiba- tiba dia menghilang…

Jangan tanyakan padaku dimana yeojya itu karena aku sendiri nggak tahu dia ada dimana.

“Wae hyung?” Aku masuk ke ruang kerjanya. Namja itu tengah duduk sambil membuka file hitam dan menyandarkan tubuhnya di rak buku. “Kau memanggilku seperti orang tuli aja.”

Teukie hyung menatapku datar. “Aku harap ini bisa jadi peganganmu.” Teukie hyung menghampiriku sambil menyerahkan padaku beberapa berkas yang cukup aneh. Seperti surat- surat penting atau sejenisnya.

Kutatap dia ragu. “Apa ini?”

“Surat kematian appa.”

Degh! Aku menelan ludah saat mendengarnya.

“Ke-kenapa masih kau bicarakan? Bukankah kematian appa…”

“Dia dibunuh.” Lagi- lagi hyungku itu bicara sesinis itu. Tatapan matanya kosong dan dia enggan menatapku. “Kubilang padamu appa telah dibunuh. Kukatakan pada polisi dia mati ditangan penjahat! Tapi tak ada seorangpun yang percaya..”

“Hyung, itu murni kecelakaan!” Balasku sambil meletakkan surat- surat itu di meja kerja Teukie hyung. “Polisi sudah menyelidikinya. Itu murni kecelakaan dan nggak ada sangkut pautnya dengan dunia bisnis.”

“Chullie!” Kini hyungku itu menatapku serius.

“Sudahlah, Teukie…”

Tatapan kami berdua mengarah ke sesosok pemuda tinggi bertubuh kekar yang masuk ke ruangan itu. Menatap Kangin yang mendekati kami. Sebenarnya namanya Kim Youngwoon. Namja ini adalah orang yang paling bisa menjadi tempat sandaran hyungku, dia kekasihnya.

“Youngwoon?”

Kangin mencoba menggenggam tangan Teukie hyung lembut. “Jangan kau pikirkan lagi. Kalau kau begitu terus Heechul pasti akan merasa terbebani lagi. Biarlah semua hal tentang appamu itu terkubur.”

“Aniya.” Hyung masih bersikeras. “Aku nggak berniat berhenti sampai aku pastikan orang yang membunuh appa berada dalam penjara atau mati.” Teukie hyung berjalan meninggalkanku dan Kangin.

Perlahan namja itu melirikku. “Kau lihat kan bagaimana kelakuannya sekarang… Dia tertekan. Saat kejadian itu, dia yang berada di sisi appamu. Dia yang paling tau apa yang terjadi, tapi semua omongannya nggak memiliki bukti.”

“Nae, Kangin.” Aku menatap lagi surat- surat kematian appa. “Sejujurnya aku mempercayai Teukie hyung, tapi aku nggak berani bilang tanpa bukti. Baiklah, aku akan ke kamar aja.” Aku langsung berjalan meninggalkan Kangin di ruangan itu sendirian.

Aku sudah muak dengan masalah ini. Kematian appa setengah tahun yang lalu membuat hidup kami berubah. Saat kejadian itu Teukie hyung memang berada di sisi appa. Disaat mobil yang mereka tumpangi tiba- tiba berguling karena ban belakangnya meledak. Saat itu Teukie hyung berhasil terlempar ke luar, tapi appa nggak bisa. Sedetik saat Teukie hyung terlempar mobil itu langsung meledak.

Polisi bilang ledakan itu karena bensin yang terkena api. Tapi Teukie hyung nggak percaya. Teukie hyung yakin ada yang sengaja menyabotase mobil appa dan merencanakan pembunuhan itu. Hanya saja, nggak ada bukti.

Kami nggak bisa apa- apa.

Aku merebahkan tubuhku diatas tempat tidurku. Setiap mengingat kejadian itu rasanya kepalaku langsung sakit. Karena keluarga kami cukup terkenal di segala bidang, wajar aja kalau ada saingan yang menggunakan cara kotor untuk menjatuhkan kami. Mungkin itu alasan paling pas kalau ada yang mau membunuh appa. Mungkin aja… Berikutnya aku atau Teukie hyung.

0o0o0o0o0o0o0

“Musim gugur itu kurang bersahabat.” Gumam Hankyung asal sambil membenarkan lilitan syal kecoklatannya. “Sayangnya banyak yang menyukai musim gugur.”

“Aku suka musim gugur.” Balasku sambil merapihkan buku kuliahku. “Kalau nggak ada musim gugur, kita nggak mungkin bertemu pabbo. Kau lupa ya kalau kita bertemu saat musim gugur?” Lanjutku dengan nada agak ketus.

Hankyung tertawa. “Nae. Aku ingat. Mana mungkin aku melupakannya.” Tangannya bergerak memainkan rambutku dengan lembut. “Tapi kalau nggak ada musim gugur, mungkin kita akan bertemu saat musim semi atau musim panas. Itu lebih baik.”

Aku mencibir pelan. Seenaknya saja dia merubah takdir.

“Aku benci musim gugur.” Hankyung masih berceloteh sendirian.

“Ya.. Ya.. Terserah kau. Aku bosan mendengarmu mengeluh soal musim ini.” Aku baru aja hendak berdiri untuk pergi meninggalkannya, tapi namja itu langsung menahan tanganku dan menatapku dalam. “Wae?”

“Musim gugur itu awal dan akhir. Karena itu aku benci.”

Apa yang dikatakannya? Lagi- lagi bicara hal yang nggak kumengerti.

Aku menarik tanganku pelan. “Aku nggak paham. Sudahlah, aku mau ke kelasku. Sebentar lagi kelasku akan mulai.” Dengan setengah berlari aku meninggalkannya. Tapi kalimatnya terus kuingat jelas.

Awal dan akhir?

Apa maksud dari kalimat itu?

Langkahku terhenti saat aku melewati pohon momiji yang tumbuh dipinggiran jalan kampusku. Daun- daunnya yang kecoklatan berguguran menghujaniku. Awal dan akhir…?

Kutadahkan tanganku dan kuambil satu helai daun momiji. Sebuah awal karena nanti akan tumbuh daun yang baru dan sebuah akhir dari daun yang sudah lama hidup karena dia harus gugur. Itukah maksudnya?

Kalau dipikir lagi… Memang agak menyedihkan sih…

Aku langsung berlari meninggalkan pohon momiji itu ke kelasku. Ini bukan waktunya untuk berteori Kim Heechul. Aku sangat nggak suka datang terlambat.

.

“Kibummie!” Aku berlari menghampiri seorang namja manis yang sedang duduk sendirian sambil membaca buku. “Dimana Hankyung?” Tanyaku cepat.

Kibum kelihatan berpikir sejenak. “Tadi kulihat dia masih di ruang praktikum kimia. Mungkin dia masih disana sekarang.”

“Ah, gomawo.” Balasku cepat sambil berjalan meninggalkan namja itu. Seperti biasa, memang aku selalu menghabiskan waktuku dengan Hankyung. Namja itu kan memang selalu membuatku tenang.

Aku melongokan kepalaku kedalam ruang praktikum itu. Kulihat Hankyung sedang mengetik sesuatu dengan ponselnya. Mengirim pesan ke siapa? Apa dia sedang dekat dengan orang lain selain aku?

“Wae, Heenim? Jangan mengintip begitu.”

Aku tersentak saat ia memanggil namaku. Namja itu memasukkan ponsel ke saku celananya dan menoleh menatapku sambil tersenyum manis.

“Kok tahu aku yang datang?” Aku menghampirinya.

Hankyung tertawa kecil. “Dari jarak sepuluh meter aku bisa tahu kalau kau mendekatiku. Sensorku ini bekerja sangat akurat kalau berhubungan denganmu tahu.”

Kurasakan wajahku langsung memanas lagi. Dia memang ahli…

Aku langsung berjalan meninggalkannya keluar dari kelas itu. Kudengar langkah kaki Hankyung mengejarku dan dia berjalan disisiku. “Hari ini kau mau langsung pulang atau mau kutemani dulu sebentar?”

“Aku mau mencari beberapa buku untuk melanjutkan teori kuliahku. Kau mau ikut?”

“Nae! Aku kan selalu ikut kemanapun kau pergi. Kalau nggak bersamamu, rasanya aku selalu khawatir.” Hankyung cengengesan menatapku dengan tampang polosnya. Benar- benar namja yang lucu. Dalam waktu singkat bisa jadi sosok yang serius, penuh perhatian, lembut atau kekanak- kanakkan.

Kami berjalan keluar dari wilayah kampus. Aku berjalan lebih ke depan dari Hankyung untuk menyebrang. Seakan déjà vu, aku langsung kaget saat menyadari sebuah mobil hitam melaju kencang kearahku.

Sret! Satu tarikan tangan Hankyung membuatku kembali mundur tepat beberapa detik sebelum mobil itu menabrakku.

“Da-dasar pabbo!! Apa yang pengemudi itu pikirkan!” Aku shock tentu saja. Kejadian ini bukan yang pertama dan aku yakin juga bukan yang terakhir. Sudah sering aku selamat dari kecelakaan yang nyaris menimpaku. Dan Hankyung yang selalu menolongku.

Hankyung menatapku. “Gwaenchana?”

“Nae.” Jawabku pelan. “Saking seringnya, aku bahkan sudah merasa terbiasa.” Aku melepaskan tanganku dari tangan Hankyung. “Jangan pernah beri tahu hyungku atau siapapun, arra?”

Namja itu nggak mengangguk, juga nggak menggeleng. Dia menatapku datar sambil kembali menarik tanganku. “Makanya kubilang, aku selalu khawatir kalau kau nggak disisiku. Sudah sering kuingatkan jangan pernah berjalan mendahuluiku kalau berada di luar.”

Aku diam.

“Kau itu selalu mengundang bahaya.” Gumamnya lagi.

Mungkin ini juga ada hubungannya dengan kematian appa. Aku memang selalu diincar, makanya mungkin saja yang akan mati berikutnya aku atau Teukie hyung. Aku sudah tahu hal itu…

0o0o0o0o0o0o0

Kupandangi surat- surat kematian appa yang masih berada di atas meja kerja hyungku. Sepertinya sejak kemarin anak itu nggak menyentuh surat- surat ini. Perlahan aku mengambil dan membukanya.

Semua keterangan tentang peristiwa itu tercatat dengan sangat detail.

Itu murni kecelakaan. Bahkan perusahaan asuransi juga mengasumsikannya sebagai kecelakaan karena memang polisi nggak menemukan bukti apapun. Meski begitu Teukie hyung nggak pernah merasa puas.

“Penyebabnya adalah ledakan gara- gara terjadinya hubungan antara bensin dan api. Bukan karena rem yang sudah disabotase atau semacamnya. Jika Teukie hyung nggak berhasil meloncat keluar saat mobil itu berguling, mungkin sekarang aku sebatang kara.”

Kuambil surat- surat itu dan berjalan keluar kantor Teukie hyung. Saat itulah pendengaranku menangkap sesuatu yang mencurigakan.

Kudengar suara Kangin yang agak berbisik sedang berbicara di telepon. Karena penasaran aku memilih menguping apa yang dibicarakannya.

“Ya, dia memang sesuai dengan dugaan kita. Meski para polisi turun tanganpun kejahatan ini nggak akan bisa terbongkar.”

Mwo? Kejahatan? Apa dia membicarakan tentang appa?

“Tanpa bukti mereka nggak akan bisa apa- apa. Semua sekarang ada di tangan kita, apapun yang terjadi jangan sampai kerjaanmu ketahuan. Menyingkirkan satu persatu anak- anak Tuan Kim bukan pekerjaan yang mudah.”

Degh! Aku membeku mendengar apa yang diucapkannya. Menyingkirkan satu persatu anak- anak Tuan Kim? Itu artinya aku dan Teukie hyung kah? Kangin ingin menyingkirkan kami?!

“Aku percaya padamu. Kau harus mengerjakannya dengan baik. Kalau ada kabar apapun segera kabari aku. Nae. Oke… Aku akan menghubungimu lagi nanti.”

Aku mengintip perlahan. Kulihat namja itu sedang berdiri sambil menumpukan tangannya di atas meja makan dan memandangi ponselnya. Munginkah Kangin yang berada dibalik semua ini? Mungkinkah dia ingin membunuh kami secara diam- diam?

Ya Tuhan! Teukie hyung harus tahu!

Aku langsung berjingkat pelan meninggalkan tempat itu, setelah agak jauh aku langsung berlari naik menuju kamar Teukie hyung.

“Hyung!”

Teukie hyung saat itu kelihatan baru selesai mandi. Dia masih memakai bathrobe putih dan rambutnya basah. “Chullie? Wae? Gwaenchanayo?”

Apa aku harus bilang padanya? Tentu!

“Hyung, kau harus tahu. Kangin sebenarnya…”

“Ada apa denganku?”

Degh! Lagi- lagi aku terkesiap. Buru- buru aku menoleh dan kulihat Kangin berdiri dibelakangku sambil memandangiku heran. Dia dengar kah?

“Aku kenapa?” Ulangnya lagi penasaran.

Aku nggak bisa membiarkan pembunuh itu berada di dekat kami. Aku berjalan mendekati namja itu dan dengan cepat aku memukul wajahnya sehingga Kangin tersungkur di lantai.

“Kim Heechul!! Apa yang kau lakukan!!” Teukie hyung langsung menghampiri kekasihnya shock dan menatapku heran. “Ada apa denganmu?! Apa kau kuajarkan untuk menyelesaikan sesuatu dengan kekerasan?!”

“Shut up hyung! Apa kau sadar siapa yang kau bela! Dia itu penjahat!” Aku marah besar.

Teukie hyung langsung menatapku bingung. “Penjahat?”

“Tadi kudengar dia berbicara di telepon dengan seseorang. Dia membicarakan kita dan masalah pembunuhan appa. Aku yakin dialah yang berada di balik semua ini! Aku tahu dia tahu sesuatu!” Tuduhku sembarangan.

Tapi respon yang kudapat dari Kangin justru berbeda. Namja itu tertawa sambil menurunkan tangan Teukie hyung yang memegangi bahunya. “Jadi kau dengar? Aigoo, Heechul! Kau itu seharusnya jangan tuduh aku sembarangan.”

“He?” Aku melongo.

“Heechul, akulah yang menyuruh Youngwoon menyelidiki tentang kasus itu. Mianhae sebelumnya, sebenarnya beberapa kali aku mendapat masalah. Ada seseorang yang mengincar nyawaku. Karena aku nggak mau kau khawatir, jadi aku diam aja selama ini.” Teukie hyung berdiri dan berjalan mendekatiku sambil tersenyum. “Kau salah paham…”

“Omo? Jadi hyung juga…?” Aku menatapnya nggak percaya. Dan mendengar pertanyaanku, Teukie hyung berubah kaget dan merengkuh bahuku kuat.

“Ju-juga? Maksudmu kau?”

Aku menundukkan kepala. “Nado hyung.” Jawabku cepat. “Selama ini sebenarnya aku sering berada dalam masalah seperti ada seseorang yang mengincar nyawaku. Aku diam saja karena aku nggak mau hyung cemas. Untung aja Hankyung selalu ada disisiku, dia yang selalu melindungiku.”

Kedua tangan hyungku itu langsung merosot di lenganku. Dia benar- benar kelihatan shock dan nggak bisa bilang apa- apa. Tubuhnya gemetar. “Hyung, gwaenchana?”

Teukie hyung menggeleng sambil menoleh menatap Kangin. “Youngwoon…” Namja itu langsung berjalan mendekati Kangin dan membisikkan sesuatu kepadanya. Apa yang mereka bicarakan?

Kangin mengangguk dan berjalan memegangi tubuhnya. Sekali namja itu menatapku. “Heechul, kurasa kau jangan dekat- dekat Hankyung dulu untuk beberapa saat ini.” Kedua namja itu langsung pergi meninggalkanku.

Jangan dekat- dekat Hankyung? Waeyo? Apa ada hubungannya semua ini dengan Hankyung?

0o0o0o0o0o0o0

“Kenapa kau pandangi aku terus? Ada yang aneh di wajahku?”

Pertanyaan Hankyung membuyarkan lamunanku. Nae, sejak tadi aku memang nggak bisa melepaskan pandanganku dari wajahnya. Kalimat Kangin semalam terus teringat. Kenapa aku harus menjauhinya? Apa salahnya?

Aku langsung menggeleng.

“Ada yang merisaukanmu, Heenim?”

“Aniya. Aku hanya bingung.” Kupandangi langit biru musim gugur. “Kangin bilang aku harus menjauhimu, dia nggak bilang alasannya.” Aku kembali menatap namja itu dan kulihat sorot mata tenangnya berubah dingin.

Pertama kali kulihat sorot mata itu…

“Apa kau ada masalah dengan Kangin? Kau tentu kenal dia kan? Orang kepercayaan hyungku.”

Hankyung mengangguk. “Aku sangat mengenal semua anggota keluargamu, Heenim.” Namja itu tersenyum lembut sambil mengusap setiap helaian rambutku.

“Aku nggak tahu kenapa dia bilang begitu padaku…”

“Mungkin karena baginya aku ini sangat berbahaya.” Hankyung masih tetap tersenyum santai. “Aku nggak menyalahkanmu kalau kau akan menjauh, kalau mengingat kecelakaan yang menewaskan Tuan Kim, wajar aja kalau kau sedikit menutup diri dari orang luar. Kau selalu diincar bahaya…”

Kujauhkan kepalaku agar dia nggak bisa menyentuh rambutku. “Kenapa kau justru bilang begitu? Buatku kau itu sama sekali nggak berbahaya. Diantara banyak namja yang kukenal, kau justru yang selalu melindungiku. Aku sangat mempercayaimu.”

Hankyung tersenyum menatapku. “Jeongmal? Kalau begitu bagus.” Namja itu berdiri dan mencium puncak kepalaku. “Seterusnya, tetaplah percaya kepadaku Kim Heechul. Aku sangat mencintaimu.” Hankyung langsung berlalu pergi meninggalkanku.

Aku shock. Jantungku berdegup kencang. Kubiarkan angin dingin musim gugur menghancurkan tatanan rambutku. Tadi itu apa yang Hankyung katakan? Dia mencintaku? Apa ini mimpi! Kalau ini mimpi, aku nggak mau terbangun!

Tapi… Kenapa namja itu langsung pergi begitu saja setelah mengungkapkannya?

Dia serius atau hanya mempermainkanku aja?

Srat! Tiba- tiba mataku silau karena menangkap sebuah cahaya yang diarahkan tepat ke mataku.

Aku menoleh untuk mencari asal cahaya itu dan langsung shock saat melihat seseorang dari jarak yang nggak terlalu jauh tengah mengarahkan senjata kearahku.

Dor! Suara letupan itu membuatku kaget dan reflex menghindar.

Tapi peluru itu menyerempet mengenai lengan kananku. Aku terjatuh di tanah sambil menahan rasa sakit yang langsung menghampiriku. Aku nggak bisa mengingat apapun yang terjadi selanjutnya, yang terakhir kulihat adalah wajah Hankyung yang kaget menatapku.

Setelah itu… Gelap!

0o0o0o0o0o0o0o0

Kepalaku terasa sangat sakit. Tubuhku antara lemas dan sakit. Tanganku nggak bisa kugerakan karena kaku. Tubuhku bagai terikat oleh kegelapan saat ini.

Disela- sela kesadaranku, aku bisa melihat sosok Hankyung tengah mengarahkan senjata kepadaku. Tunggu! Kenapa dia mengarahkan senjata itu kepadaku? Apa dia mau menembakku!? Apa dia mau membunuhku?!

Dor! Suara letupan itu membuat darahku berdesir hebat.

Degh! Aku langsung membuka mataku. Dan pemandangan yang kulihat sangat berbeda dengan apa yang tadi kulihat. Aku ada di dalam kamarku.

“Kau sudah sadar?!” Teukie hyung langsung menghampiriku dan menyentuh keningku. “Demammu sudah turun, semalaman kau demam tinggi. Kurasa karena luka tembakanmu itu.” Hyung langsung menyentuh lengan kananku.

Sakit!

“Aww!” Seruku cepat. “Sakit hyung!”

“Mianhae…” Kini tatapannya terlihat pilu. “Aku nggak menyangka kaulah yang paling diincar. Kalau aja aku tahu, mungkin aku akan meningkatkan pengawasan terhadap dirimu. Selama ini aku mengira akulah incaran utamanya, ternyata aku salah.”

“Hyung? Apa yang kau katakan?”

“Mereka, orang yang membunuh appa, perlahan ingin membunuh salah satu diantara kita. Mereka selalu gagal membunuhku karena Youngwoon selalu melindungiku. Aku nggak tahu kalau ternyata mereka malah nekat menembakmu seperti kemarin. Aku benar- benar shock dan takut.” Dia menjelaskan dengan wajah tertunduk. Digenggamnya tanganku dan aku bisa merasakan tubuhnya gemetar.

“Ada yang membawamu ke rumah sakit, tapi aku nggak tahu siapa. Dia menghubungiku dengan ponselmu dan bilang kau ditembak. Saat itu aku benar- benar lemas. Aku kira aku akan kehilangan keluarga lagi…” Namja itu memejamkan matanya kuat- kuat. Itu dilakukan agar dia nggak menangis. Mungkin hatinya memang sudah menangis saat ini.

Aku mengusap pundak Teukie hyung. “Gwaenchana hyung…” Gumamku selembut mungkin. “Jangan terlalu kau pikirkan, toh sekarang aku masih hidup. Aku kan masih ada disini.”

“Aniya.” Teukie hyung menatapku, kali ini tatapannya marah. “Siapapun dalangnya, aku nggak akan pernah memaafkan mereka semua. Aku akan menemukan siapa mereka dan memberikan hukuman yang pantas.” Namja itu berdiri dan berjalan meninggalkanku. Sebelum ia keluar dari kamarku ia menoleh. “Istirahatlah. Mulai sekarang kau nggak akan pergi keluar sendirian lagi.”

Tinggallah aku sendirian di kamarku.

Siapa yang membawaku ke rumah sakit dan menghubungi Teukie hyung? Mungkinkah itu Hankyung?

Nae, sebelum aku pingsan sepenuhnya, aku melihat wajahnya cemas menatapku. Tapi mimpiku tadi… Hankyung menembakku?

Mungkinkah kalau dia yang melakukannya?

Aniya! Aku menggelengkan kepalaku kuat- kuat.

Itu nggak mungkin! Nggak mungkin Hankyung yang melakukannya. Hankyung bukanlah penjahat. Dia namja baik yang selalu melindungiku. Dia namja yang sangat kucintai. Jadi nggak mungkin dia yang melakukannya.

Aku langsung mengambil ponselku dan men-dial nomornya. Nggak ada jawaban sama sekali. Tumben sekali, Hankyung nggak pernah mengabaikan panggilanku sebelumnya. Apa dia sedang sibuk? Atau dia kena masalah?

Aku harus menemuinya sekarang dan bicara secara langsung!

Dengan cepat aku mengambil mantel tebalku dan berjalan keluar kamar. Setidaknya jangan sampai Teukie hyung tahu tentang hal ini. Kalau dia tahu dia akan sangat marah kepadaku. Aku nggak mau membuat pikirannya lebih terbebani lagi.

0o0o0o0o0o0o0

Aku turun di halte bus yang paling dekat dengan apartemen tempat Hankyung tinggal. Jarak dari halte nggak terlalu jauh. Aku hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai disana. Udara dingin benar- benar menusuk. Sepertinya lukaku semakin memburuk.

Tinggal beberapa meter lagi aku akan sampai di apartemennya.

“Kenapa kau lakukan itu!”

Aku terdiam tiba- tiba karena mendengar suara itu. Itu suara Hankyung? Sedang bicara dengan siapa dia malam- malam begini?

“Aku muak melihat hasil kerjamu yang sangat lamban. Bukankah sudah tiga tahun aku memberikan waktu? Tapi kau sama sekali tak memperdulikan ancamanku. Sekarang kau tak kubutuhkan. Aku akan menghabisi mereka semua dengan cepat, seperti saat aku membunuh namja itu.” Kali ini suara yeojya yang cukup ku kenal.

“Tapi kau tetap nggak bisa melakukan semuanya seperti itu!” Hankyung berseru.

Dengan ragu aku mengintip dan mencari sosok yang tengah berbicara itu. Yap! Aku menemukannya. Kulihat Hankyung dengan mantel hitamnya berdiri dihadapan seorang wanita dengan mantel berbulu putih yang sangat mewah.

Eomma!

Tubuhku lemas seketika. Kakiku gemetar. Sulit untuk bisa berdiri sekarang. Perlahan kurasakan air mataku mengalir. Antara takut dan terluka, aku nggak tahu yang mana yang aku rasakan sekarang.

“Mulai sekarang pergi dari kota ini. Aku tak mau melihatmu lagi. Anak- anak keluarga Kim, akulah yang akan menghabisi keduanya.”

“Kau… Memang iblis…” Hankyung berujar dingin.

Degh! Jadi… Selama ini memang Hankyung terlibat. Dan dalang utamanya itu.. Eomma tiriku? Wae?!

Sebelum aku terjatuh lemas, seseorang langsung menahanku dan membekap mulutku. Aku tersentak dan kulihat Kangin memberikan isyarat padaku agar diam. Namja itu langsung membawaku pergi dari tempat itu dengan hati- hati.

Setelah kami berada di mobil Kangin, dia langsung mengebut menjalankan mobilnya. Menjauh dari wilayah apartemen itu.

Aku gemetar. Aku nggak sanggup bicara dengannya.

“Ternyata tebakanku selama ini benar. Nyonya Kim sendirilah yang mendalangi pembunuhan ini.”

Degh! Rasanya jantungku berhenti berdetak mendengar Kangin mengatakan hal itu. Aku shock karena mengetahui eomma tiriku yang telah berusaha membunuh kami selama ini. Dan juga, aku shock karena Hankyunglah kaki tangannya.

0o0o0o0o0o0o0

Kangin memapahku untuk memasuki rumah. Saat kami melewati pintu masuk utama, aku melihat Teukie hyung berdiri di ambang tangga dan menatapku datar.

“Hyung…”

“Kenapa kau kabur dengan kondisi begitu? Untung Youngwoon berhasil menebak dan mengejarmu. Jika dia terlambat, mungkin kau akan berada dalam masalah besar sekarang.” Teukie hyung berjalan kearahku.

“Diam disitu!” Seruku cepat dan Teukie hyung berhenti.

Kini kutatap dia nggak percaya. “Kau…Sudah tahu semuanya kan? Kau tahu siapa dalang dibalik semua ini dan kau tahu kalau Hankyung terlibat. Karena itu aku nggak boleh dekat- dekat dengan Hankyung kan?” Suaraku gemetar saat menanyakannya. Kuharap ini hanya mimpi dan akan ada orang yang membangunkanku.

Teukie hyung diam menatapku.

“Kenapa diam hyung? Jawab aku!”

“Nae.”

Aku menahan nafasku saat mendengar hyungku itu membuka suara.

“Aku memang sudah berhasil mengetahuinya. Tapi aku nggak bisa mengatakannya padamu karena aku tahu ini terlalu sulit diterima. Pertemuanmu dengan Hankyung sudah diatur. Namja itu diperintahkan untuk menghabisimu. Tapi sepertinya karena dia nggak bisa melakukannya, yeoja itu memilih bertindak cepat. Kami masih mencari bukti akurat agar bisa menyelesaikan masalah ini. Karena itu kau_”

“CUKUP!” Kutahan kakiku agar nggak terjatuh seperti tadi. Kusentuh lukaku yang berdenyut perih. Bukan hanya lenganku yang perih, hatiku bahkan lebih perih lagi. Sakit… Da lagi- lagi air mataku menetes.

Kangin memegangi tubuhku perlahan. “Tenanglah dulu… Biar kuantar kau ke kamarmu.”

“Ini pasti bohong kan!” Aku menatap mata Teukie hyung dalam- dalam. Berusaha menemukan kebohongan dari sorot mata tajamnya. Tapi nihil, yang kulihat hanya tatapan terluka seorang hyung terhadap dongsaengnya.

Teukie hyung maju selangkah untuk mendekatiku. “Tenangkan dirimu…”

“Ini semua pasti bohong!” Aku masih belum bisa percaya. “Hankyung nggak mungkin melakukannya!” Benar! Dia nggak mungkin melakukannya. Bukankah dia bilang kalau dia mencintaiku?

“Heechul…”

“Hankyung bukan orang yang seperti itu!” Aku memegangi kepalaku. “Mustahil.. Ini nggak benar! Jadi selama ini aku mencintai namja yang suatu saat akan menghancurkanku? Kenapa harus begini? Kenapa Tuhan harus mempertemukanku dengannya kalau harus seperti ini! Ini nggak adil!!”

“Heechul…” Kangin berusaha memegangiku.

“Jangan sentuh  aku!” Seruku cepat. “Kalau memang ini nyata… Lebih baik aku nggak pernah bertemu dengannya. Ini bahkan lebih buruk dari pada kematian…” Lanjutku sambil menatap Teukie hyung.

Perlahan aku berjalan melewati Teukie hyung dan naik ke atas tangga. Sulit melakukannya dengan kaki yang lemas dan gemetaran. Tapi aku nggak berniat meminta bantuan siapapun. Aku ingin sendirian. Aku ingin menenangkan pikiranku. Ini terlalu menyedihkan untukku.

0o0o0o0o0o0o0

Aku berjalan tertatih saat menyusuri lorong kampus. Aku melangkah menuju kelas Hankyung. Pagi ini aku kabur lagi dari rumah, setidaknya aku harus menanyakan semuanya pada Hankyung. Hubungannya dengan eommaku yang lama nggak terdengar kabarnya.

Semuanya..

Saat aku menoleh ke dalam kelas, aku melihat namja itu duduk di kursinya sambil termenung. Apa benar wajah itulah yang selama ini mengincar nyawaku?

Apa benar kebaikannya selama ini hanya tipuan? Juga pernyataan cintanya itu…

“Hankyung…”

Hankyung langsung menoleh kearahku. Kedua matanya terbuka lebar, tanpa menunggu lagi dia berlari menghampiriku. “Heenim! Kau… Kau baik- baik aja? Bagaimana keadaanmu?” Suaranya terdengar panik.

Apa itu juga acting?

“Coba kulihat.”

Baru saja Hankyung mau menarik tanganku, aku langsung menepis tangannya itu.

“Heenim?”

“Sekarang katakan kepadaku, apa kau yang berada di balik semua peristiwa ini?” Kutatap dia takut. Jantungku berdebar keras menatap matanya yang semakin kelihatan shock.

“A-apa maksudmu?”

“Kau kan yang berada dibelakang semua ini!! Kau dipekerjakan eomma tiriku untuk membunuhku!”

“Heenim!”

Degh! Aku membeku. Pertama kalinya Hankyung membentakku.

“Jangan bicara sembarangan. Aku tak mengerti apa yang_”

Plakk! Sebelum dia selesai bicara, aku menamparnya. Membuat namja itu bungkam seketika. Hankyung nggak menatapku. Tatapan matanya kelihatan shock dan… Terluka.

“Aku dengar semua! Semalam aku ingin menemuimu, tapi kau sedang bicara dengan yeojya itu! Aku sudah dengar semuanya! Pantas saja kau selalu ada untuk melindungiku… Itu semua karena kau tahu kapan aku akan diserang dan kapan tidak!”

“Heenim!” Hankyung kembali membentakku sambil meraih kedua tanganku. Dia menatapku serius. “Percaya padaku…”

“A-apa?”

“Kau harus mempercayaiku…”

“Babbo!” Kusentakkan tangannya kencang membuat namja itu terdorong kebelakang sedikit. “Aku nggak akan pernah mempercayaimu lagi. Aku membencimu Hankyung! Aku benci padamu! Sekalipun, jangan pernah kau muncul lagi dihadapanku!!” Perlahan air mataku menetes.

“Kim Heechul, jebal…” Hankyung berusaha merengkuh lenganku dan berniat memelukku dengan tatapan yang menyedihkan. “Dengarkan aku… Aku punya alasan kenapa melakukan itu semua…”

“Jangan sentuh aku!” Kudorong tubuh Hankyung agar menjauh dariku. “Aku benar- benar membencimu!” Setelah mengatakannya, aku langsung meninggalkan Hankyung. Aku nggak tahu namja itu mengejarku atau nggak, aku nggak berniat untuk menoleh sedikitpun.

Bruak! Tiba- tiba sebuah mobil hitam berhenti di hadapanku.

“Eh?”

Beberapa namja berjas hitam langsung keluar dari dalam mobil dan menghadangku.

“Siapa kalian?!”

Bugh! Seseorang memukul perutku dengan sangat kencang.

“Ukh!” Sakit…. Sakit sekali! Pandanganku buram… Aku…

0o0o0o0o0o0o0

Perlahan aku membuka mataku.

Dimana aku?

“Kau sudah sadar chagi?”

Degh! Suara itu! Aku langsung menyadari dimana aku berada. Aku diikat disebuah kursi kayu di sebuah gudang yang sepertinya nggak terpakai lagi. Banyak namja- namja berjas hitam yang tadi menghadangku.

Tatapanku terfokus kepada seorang yeojya berbaju mewah. “E-eomma…” Shock. Tentu saja aku shock. Bertahun- tahun aku nggak melihatnya tanpa alasan. Dan sekarang… Yeojya itu ada dihadapanku dengan sosok yang berbeda.

Dia tersenyum sinis. “Lama tak berjumpa chagi…”

“Eomma! Apa yang terjadi?! Apa yang kau lakukan!!” Aku berusaha berontak sehingga kursi yang kududuki berderit kencang. “Lepaskan aku!! Kenapa kau lakukan ini kepadaku?!”

“Diam!”

Aku mematung mendengarnya membentakku.

Yeojya itu tetap tersenyum sinis. “Kau mau tahu kenapa? Appamu. Namja brengsek yang telah berhasil kubunuh itu sudah menelantarkanku. Dia menceraikanku dan membuangku begitu saja. Karena itu aku sangat membencinya, aku benci anak- anaknya. Bertahun- tahun aku berusaha membalas dendam. Akhirnya saat itu tiba juga..”

Air mataku mengalir perlahan. “E-eomma.. Bo-bohong..”

“Kau mau dibunuh dengan cara lembut atau kasar chagi? Karena kau si bungsu, aku akan memintamu memilih. Kalau Leeteuk nanti, aku sudah mempersiapkan kematian terindah untuknya.”

“JANGAN SENTUH HYUNGKU, BI*CH!!”

Plakk! Eomma menamparku dan mengarahkan sebuah revolver di keningku.

“Kau membuatku muak. Kau sangat mirip dengan appamu yang menjijikan itu.” Dia tetap tersenyum manis sambil mengusap kepalaku. “Sudah kuperintahkan Hankyung untuk membunuhmu, tapi namja itu terlalu lemah. Dia justru melindungimu dan menentangku. Cih…”

Aku tersentak mendengarnya. Kuingat lagi kata- kata Hankyung kepadaku. Percaya…

“Selamat tinggal, anak tiriku…”

Bruagh!! Aku terkejut saat melihat pintu masuk gerbang itu langsung terdobrak keras. Hankyung masuk kedalam gudang itu dengan menggunakan sebuah motor besar. Dibelakangnya menyusul sebuah mobil putih.

Teukie hyung dan Kangin!

“Apa- apaan ini?! Apa yang kalian semua lakukan?! Tahan ketiga pecundang itu! Habisi mereka semua!” Seru yeojya itu sambil berusaha kembali fokus kepadaku.

Buagh! Aku langsung berdiri dan menerjangnya hingga revolvernya terlempar.

“Kim Heechul! Minggir dariku!”

“Aku nggak mau kehilangan siapapun lagi!” Aku mengangkat kepalaku tinggi- tinggi. Dan..

Jdugh! Aku membenturkan kepalaku ke kepalanya dan yeojya itu langsung pingsan. Kepalaku rasanya sakit sekali.

Telingaku berdesing tiap terdengar bunyi peluru yang ditembakkan. Beberapa benda di gudang itu berhamburan kesana- kemari disaat mereka semua berkelahi. Pandanganku agak kabur untuk melihat hyungku dan Kangin yang berkelahi cukup jauh dariku.

Hankyung berlari kearahku. “Heechul? Gwaenchana?”

“Ha-hankyung…? Kenapa bisa?”

“Saat kulihat mereka menculikmu, aku langsung menemui hyungmu dan menjelaskan semuanya. Untunglah pada akhirnya dia mempercayaiku. Bukankah kubilang padamu untuk percaya kepadaku? Karena itu.. Percayalah…”

Aku harus mempercayainya? Memang sejak awal aku selalu mempercayai Hankyung kan?

“Hankyung! Bawa Heechul pergi! Polisi sudah hampir sampai!” Teukie hyung berseru.

Hankyung langsung menarikku dan berusaha membuka ikatan di tubuhku dari kursi. “Kita harus segera berhasil. Setelah ini_”

“Hankyung!!”

Degh! Kami semua terkejut. Aku melihat eomma tiriku itu sudah kembali berdiri dengan memegang revolvernya. Hankyung membatu menatapnya.

“Kubilang jangan pernah melawanku. Kau punya harga yang akan kau bayar kalau melawanku. Kau tentu tak ingin keluargamu ikut terlibat bukan? Kau tahu kalau kau berani membangkang maka aku akan menghancurkan keluargamu bukan?”

Aku menatap Hankyung shock. Jadi inikah alasan kenapa Hankyung melakukannya.

Yeojya itu melemparkan revolvernya kearah Hankyung dan Hankyung menangkapnya. “Bunuh dia dan kau akan lepas dariku. Aku juga nggak akan pernah menyentuh keluargamu.”

Hankyung memandangi revolver itu.

“Ha-hankyung…” Perlahan aku bergerak mundur. Dengan keadaan terikat begini aku nggak akan pernah bisa menghindar. Kalau namja itu memilih untuk menembakku demi keluarganya, maka aku akan mati.

Hankyung dengan tampang serba salah mengarahkan revolver itu kearahku. “Mianhae..”

“Hankyung…” Kupejamkan mataku perlahan sambil menahan nafasku. “Saranghae..”

Dor!

“Aaaakh!”

Degh! Seruan tadi membuatku kaget. Aku langsung membuka mataku dan kulihat yeojya itu langsung terjatuh sambil memegangi lengan kanannya. Dia menatap Hankyung marah.

“Itulah harga yang harus kau bayar karena melukai tangannya. Sayangnya kau nggak akan bisa menyentuh keluargaku. Keluarga Kim telah membawa keluargaku pergi jauh ketempat yang nggak bisa kau capai.” Hankyung menatap yeojya itu dan melemparkan revolver itu kepadanya. “Inilah akhirnya.” Hankyung berlari kearahku dan membuka tali ikatanku.

“Hankyung…?”

“Kubilang padamu untuk percaya.” Hankyung menatapku yang sudah terlepas. “Terima kasih karena telah percaya padaku Heenim. Jeongmal saranghaeyo.” Namja itu langsung memelukku erat.

Aku sendiri masih agak shock. Sampai akhirnya kedatangan para polisi membuatku tersadar dari keadaanku saat itu. Aku bahkan baru sadar kalau lenganku yang terluka terasa sangat perih sekali.

Teukie hyung dan Kangin langsung menghampiriku.

“Heechul! Syukurlah kami masih sempat.” Teukie hyung memelukku sambil menangis. “Semua sudah berakhir sekarang. Para pembunuh appa sudah tertangkap, kita sudah aman. Sekarang semua sudah berakhir…”

Perlahan aku balas memeluk hyungku. “Nae, hyung. Jangan menangis.”

Teukie hyung membantuku berdiri, tapi karena masih agak lemas aku langsung nyaris roboh. Untung Hankyung langsung menahanku dengan lengannya yang kuat. Tatapan mata kami kembali bertemu.

“Kurasa pengeranku butuh tumpangan. Hup!” Dengan satu hentakkan namja itu menggendongku ala bride style. Wajahku terasa panas tapi ini bukan saatnya menolak. Aku memang butuh bantuan. Hankyung tersenyum manis dan mencium keningku. “Saranghae…”

Aku langsung memeluk namja itu. Kata- kata sudah nggak bisa mewakili semua perasaanku. Aku sangat mencintainya. Aku sangat mencintai namja ini. Tuhan, kutarik kata- kataku dulu. Aku beruntung bertemu dengannya. Terima kasih..

4 thoughts on “You

  1. Hiyyaa happy ending. .^^
    Hanchul. .Aishh bnar bnar merindukan kalian. .
    Mau hanchul hanchul brikutnya. .Tp jgn dbuat mati.* terserah author dong*😀

  2. kalo ksah hanchul pasti ada adegan mafia, brantem, pistol2an hehehe
    brasa bgt klo han tu bodyguard’nya cinderella..
    daebak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s