Yin and Yang

Yin and Yang

.

Pairing :: KangTeuk

Genre :: Romance/Angst

Rating :: Lagi-lagi cuma berani sampai “T”

Warning :: Kayak biasa.. YAOI. Typo(s). Gaje. Abal. Bikin boring. Dsbg..

Summary :: Kita memang berbeda, tapi kita saling melengkapi.

Disclaimer :: KangTeuk punya siapa? Ada yang mau? Ambil aja gih.. Hhehe

.

Yay.. Sesuai yang aku bilang YAOI version berikutnya adalah KangTeuk. Bagi para shipper silahkan menikmati hidangan di depan layar netbook/komputer/laptop/hape anda. Gooomaawoo~

.

~Kangin pov~

Aku memandangi sosok leader dalam keluarga besar kami. Sang leader atau kami biasa menyebutnya sang angel without wings itu tengah duduk di sofa ruang tengah sambil menyandarkan tubuhnya di bantalan sofa dan menutup matanya.

“ Hyung..” Aku berjalan mendekatinya dan berdiri di hadapannya.

Teukie hyung membuka matanya dan menatapku sambil tersenyum lembut. “ Nae, Kangin-ah?”

“ Hyung lelah?”

Dia menggeleng. Yah, aku sudah tahu jawabannya pasti hanya sebuah gelengan. Dasar namja yang terlalu memaksakan diri. Aku hanya bisa menghela nafas sebentar dan duduk di sisinya.

“ Jam berapa siaran di Sukira?” Tanyaku lagi.

Teukie hyung bergumam. “ Seperti biasa jam empat. Emang ada apa, sih? Kangin-ah mau mengajakku kencan, yaa?”

Aku langsung menatapnya kaget. Kini aku bisa merasakan wajahku tengah memanas. Nih orang pintar banget mempermainkanku, sih?

“ Pede! Siapa yang mau ngajak hyung kencan? Ogah banget. Ntar aku dibilang aneh lagi.” Balasku kesal. Sebenarnya itu cuma alasan belaka biar nggak kedengaran aneh, sedangkan yang sebenarnya sekarang, jantungku sudah berdegup kencang bahkan rasanya jantungku mau loncat keluar dari mulutku. Ah, oke.. Nggak selebay itu kali.. =.=

Teukie hyung tertawa keras sambil mengusap kepalaku. Aiish.. Ini membuat debaran ini semakin gila!

“ Lalu ada apa? Jangan- jangan Kangin-ah mau mentraktirku makan?”

“ Ya, hyung. Kau aja nggak pernah traktir aku.” Balasku lagi sambil cengengesan.” Tapi aku nggak pernah bermimpi buat di traktir hyung, kok.. Aku kan tahu hyung pelit banget dan cuma mau ngeluarin duit buat beli benda berwarna putih.”

Begitu aku membalas lawakannya, hyungku itu langsung cemberut. “ Ya, rasanya aku memang dikenal jadi leader yang pelit.” Ia cemberut sambil menerawang lurus kedepan.

Aku tertawa. Dia kelihatan sangat manis. “ Memang nyatanya begitu.” Imbuhku.

Kali ini leader itu tersenyum menatapku. “ Lupakan. Lalu aku nanya serius, nih.. Kenapa kau nanya- nanya?”

Aku diam. “ Hmm..”

Aku malu buat bilang, sih.. Tapi..

“ Kangin-ah?”

“ Hyung..” Mulaiku sambil mencoba menatap matanya dan dia balas menatap mataku dengan sorot matanya yang sangat lembut. Jujur aja, tatapan itu seakan mengintimidasiku. Rasanya kurang pantas aku yang berpredikat bad boy ini ditatap selembut itu oleh orang yang berpredikat angel ini.

Rasanya seperti malu karena nggak berpakaian. Hyaa, Youngwoon! Kau kan berpakaian babbo!

“ Kau mau bilang apa?” Tanyanya lagi.

“ Hari minggu besok, aku dapat tawaran menjadi bintang iklan di Mokpo, jadi aku nggak di dorm selama tiga hari.”

Hyungku itu mengangguk. “ Arraseo. Kan manajer hyung sudah bilang padaku. Apa hanya itu masalahnya?”

Kali ini aku menggeleng. “ Satu hari sebelum pergi, aku mau hyung menemaniku membeli beberapa barang, ya.. Tadinya aku mau ngajak Siwon, tapi dia ada urusan sama Kibum. Lalu aku mau minta tolong si magnae, dia malah bilang minta upah sebagai imbalan mengantarku. Bilang ke Donghae, dia ada show sama Eunhyuk. Yah, yang terakhir tinggal hyung.” Jelasku.

Teukie hyung kembali tertawa. “ Youngwoon-ah.. Kau menyedihkan sekali. Kayak ditolak yeojya aja, ya?”

Deg! Aku terkesiap saat mendengar ucapan terakhirnya. Ditolak yeojya? Ah, hyung.. Apa kau nggak tahu kalau aku sama sekali nggak tertarik sama yeojya? Huh.. Dasar payah!

“ Kenapa nggak langsung minta padaku?” Tanyanya lagi sambil memamerkan senyuman pemikatnya itu.

Aku hanya cemberut. “ Kan aku tahunya hyung selalu sibuk. Lagian hyung kan selalu kelihatan lelah dan memaksakan diri. Jadi aku enggan..”

“ Pabbo-ya!” Teukie hyung kini menepuk kepalaku.

“ Sakit, ooy!”

Dia kembali nyengir. “ Meski aku kelihatan lelah, kalau ada dongsaengku yang minta tolong aku pasti menyanggupinya, kok..”

Dongsaeng?

“ Jadi hyung mau?” Tanyaku pelan. Kini ada sebuah perasaan yang menyelimutiku setelah dia mengatakan kalimat tadi. Ya, Teukie hyung memang selalu memandangku sebagai dongsaengnya aja kan.. Jadi intinya perasaan ini cuma sia- sia aja, kan? Rasanya bagaikan ditolak sebelum menyatakan perasaanku.

Teukie hyung mengangguk dan kali ini kembali mengusap kepalaku lembut. “ Aku mau, Kangin-ah..”

Dengan terpaksa aku tersenyum kepadanya. “ Gomawo..” Aku diam sejenak. “ Hyung..” Ya, aku kan dongsaengnya. Jadi dia pun akan tetap menjadi hyungku..

0o0o0o0o0o0o0

Teukie hyung dan aku memang berbeda. Semuanya berbeda. Dia itu bagaikan cahaya tanpa dosa yang selalu benar dan dipandang orang lain. Sosok yang berkharisma sebagai pemimpin dan bisa diandalkan. Sosok yang sempurna tanpa cacat. Kesempurnaanya bagaikan menyita semua pikiranku terhadapnya.

Aku mencintainya..

Dia hyungku, wajar kalau aku mencintainya. Yah, tadinya aku berpikir begitu. Tapi semakin lama aku semakin takut dengan perasaan ini. Aku semakin sadar kalau perasaan ini bukanlah cinta antar dongsaeng ke hyungnya. Cintaku berbeda dari rasa cinta Donghae ke Teukie hyung. Aku mencintainya sebagai seakan dia itu seorang yeojya.

Ini nggak normal!

Kami memang biasa menunjukkan fan-service, berciuman antar namja, berpelukan, tapi itu hanya sebuah fan-service dan nggak lebih. Beberapa antis memang mencap kami sebagai gay, tapi itu nggak benar. Kami melakukannya untuk fans dan juga kami melakukannya karena kami sudah saling menyayangi satu sama lain. Nggak ada rasa malu lagi.

Tapi perasaanku ini.. Aku justru malu meski hanya untuk merasakannya.

Seperti yang aku bilang, aku merasa malu bertatapan dengannya. Aku ini kan sosok yang hina. Mencintai sesama jenis itu benar- benar menjijikan! Tapi aku.. Aku mencintainya! Aku sangat mencintai hyungku!

Tapi apa yang bisa kulakukan? Sebesar apapun perasaanku terhadapnya, dia nggak akan memahaminya. Karena Teukie hyung normal dan aku nggak. Sekalipun Teuki hyung juga tertarik pada sesama jenis, dia pasti akan memilih namja yang benar. Bukan namja seperti aku yang benar- benar sudah dicap ‘bad boy’ oleh semua orang.

Aku dan Teukie hyung terlalu berbeda. Ya, seperti Yin dan Yang.

~Kangin pov end~

“ Hyung mau menemani Kangin hyung?” Donghae berguling diatas tempat tidurnya dan menatap Leeteuk santai. “ Apa hyung yakin? Nanti dia buat masalah yang merepotkan, lho..” Namja childish itu nyengir dan membuatnya semakin terlihat kekanak- kanakkan.

Leeteuk yang sejak tadi membaca bukunya membuka kacamatanya dan menatap teman satu kamar sekaligus dongsaeng kesayangannya itu sambil tersenyum lembut. “ Justru aku harus ikut kalau dia kemana- mana, Hae-ah.. Jadi ada orang yang bisa mengontrol emosinya. Dia kan rakun liar.”

Donghae tertawa keras mendengar sebutan itu. “ Kangin hyung pasti mencak- mencak nggak jelas kalau dengar hyung ngatain dia rakun liar. Kangin hyung kan benci kalau dipanggil rakun.” Tawa namja itu langsung diam dan digantikan seringaian nakal. “ Ahh.. Tapi seingatku dia nggak pernah marah kalau Teukie hyung yang manggil dia rakun..”

Leeteuk menatap dongsaengnya sambil membulatkan matanya sok imut. “ Masa sih?” Kok aku nggak sadar ya?” Balasnya santai sambil kembali memakai kacamata bacanya dan menatap buku yang sejujurnya udah nggak lagi menarik perhatiannya itu.

Ucapan Donghae kini malah membuatnya kepikiran. Leeteuk menatap Donghae. “ Iya juga, sih? Kok dia nggak pernah marah, ya? Apa dia takut marah padaku? Wah.. Nggak nyangka..” Sang leader itu tersenyum jahil dan Donghae tertawa geli melihat kelakuan hyungnya itu.

“ Ya, hyung! Jangan- jangan Kangin hyung naksir lagi sama hyung.” Godanya lagi sambil tetap tertawa namun kali ini sambil guling- gulingan kayak anak anjing yang kegirangan.

Leeteuk diam mencerna ucapan Donghae. ‘ Kangin menyukaiku?’ Batinnya menebak.

0o0o0o0o0o0

~Leeteuk pov~

“ Bangun! Youngwoon!” Kuguncangkan tubuh Youngwoon sambil menarik guling yang masih dipeluknya. “ Dasar kebo! Susah banget bangun, mau nyaingin Shindong hah?”

“ Hyung! Jangan bawa- bawa aku, dong!” Balas si subur dari Super Junior sambil mendorong tubuhku dan tertawa pelan. Namja itu langsung keluar dari kamar Youngwoon merangkap kamarnya juga. (kalau misalkan mereka nggak sekamar, yah maaf. hhehe)

Aku kembali menatap rakun berbadan besar yang masih pulas tertidur.

Kulirik jam didekat tepat tidur Youngwoon. “ Masih jam sembilan. Apa kubiarkan dia tidur sebentar lagi? Yah, hari ini kan dia nggak ada jadwal.” Gumamku sendiri. “ Ya sudah..” Aku kembali menyelimutinya dan berjalan meninggalkannya.

“ Hyunghm~”

Eh? Suara apa itu? Hyung?

Aku langsung menoleh dan kulihat Youngwoon berguling memunggungiku. “ Hyung..”

Kudengar lagi suaranya itu. Dia mengigau, ya? Lalu, hyung? Dia manggil siapa? Banyak banget orang yang dipanggilnya hyung. Tapi kalau dipersempit luang lingkupnya menjadi Super Junior.. Hmm.. Ada aku, Heechul, Joongwoon, dan Hankyung, kan? Apa dia memanggilku?

Eh? Kenapa degup jantungku jadi aneh?

Gawat! Aku harus keluar!

Dengan cepat aku melangkah keluar dan menutup pintu kamar Yoongwoon. Namun aku nggak langsung pergi. Rasanya kakiku agak berat meninggalkan kamar itu. Aku masih mematung didepan pintu kamar itu.

Youngwoon..

Yah, rasanya aku mulai kacau gara- gara kebanyakan ngasih fan-service. Aku nggak boleh memiliki perasaan apapun terhadapnya. Aku yakin dia itu namja normal, kok.. Dia nggak mungkin beneran suka padaku. Jangan berharap lebih Jungsoo.

~Leeteuk pov end~

Sarapan kali ini hanya beberapa orang yang hadir. Siwon dan Kibum memang lebih sering dirumah dan jarang sekali tidur di dorm, KRY ada job dari pagi, Hankyung kebetulan lagi ada show di Cina dan si Kangin masih tidur dengan tentramnya.

Karena sang koki jabanan suju nggak ada, maka jadilah sarapan pagi mereka dengan menu yang agak menyedihkan, kalau mengingat mereka itu artis terkenal di Korea. Jenis makanan yang udah sangat dikenal di dunia sebagai makanan kesukaan –secara terpaksa- para member suju. Ada yang mau nebak? Oke.. Jawabannya.. RAMEN.

Shindong tampak mengaduk ramen dengan nelangsa. “ Ramen again.. Ooh.. Ramen again.. I love Ramen.. But I love Nari more~” Namja bertubuh.. Agak *coret* Lumayan gendut *author digiles Shindong* itu malah nyanyi sambil terus mengaduk- aduk sang ramen naas. (ngebahas ramen author jadi laper)

“ Kalo Shindong hyung nggak mau sini buatku.” Ujar Donghae sambil menyendok ramen Shindong sedikit.

“ Heh! Enak aja.. Kan aku bilang I love Ramen but I love Nari more.. Jadi aku bakalan tetep makan.” Shindong langsung memeluk mangkok ramennya dan memakan isinya dengan cepat, takut si manusia ikan* author dilempar Elfishy ke jurang* itu mengambil jatahnya lagi.

“ Makanya kalo makan nggak usah ribet. Harusnya hyung tuh bersyukur masih bisa makan meski cuma ramen, coba lihat diluar sana. Banyak orang yang-hmmph!” Sungmin yang tadi lagi ngoceh langsung disumpal sesendok ramen sama Heechul.

“ Oh, Min, plis, deh.. Udah cukup deh Siwon yang ceramah tiap hari. Lu nggak usah ikutan.” Sindir Heechul muak.

“ Ya, hyung… Heechul hyung panas denger ceramah hyung!” Timpal Eunhyuk tanpa takut dilempar sesuatu oleh Heechul, dan setelah si anchovy itu bicara, sebuah gelas melayang mengenai kepala botak *plak!* salah.. Kepala besar (itu yesung, author babbo! *ditabok yeppa*). Ah, lupakan..

“ Aaw! Hyuuuung! Sakit pabbo!”

Bugh! Kali ini bukan cuma gelas, tapi botol air dilempar ke kepala Eunhyuk.

“ Ya, Hyukkie! Jangan mati! Nanti aku nggak punya couple! Aku nggak mau fan-service-an ama Shindong hyung!” Donghae dengan gaya histeris bin lebay menggoyang- goyangkan tubuh Eunhyuk yang sebenarnya masih sehat wal afiat.

Eunhyuk gantian menggetok kepala Donghae. “ Siapa yang mati? Utang gue aja belom lunas.”

Donghae nyengir gaje sedangkan sang leader cuma bisa geleng- geleng melihat tingkah para dongsaengnya yang emang udah pada rusuh makin rusuh lagi pagi ini.

“ Ah, hyung.. Kangin hyung nggak dibangunin?” Sungmin memilih nggak ikutan dengan kejadian aneh itu dan menatap Leeteuk. “ Aku ada job sekarang. Aku duluan pergi, yaa..” Sungmin langsung ngacir meninggalkan ruang makan.

Heechul yang tadi lagi berperang dengan EunHae langsung ingat sesuatu. “ Aku mau jemput Hankyung!” Serunya cepat sambil mengambil kunci mobilnya. “ Bisa gawat kalau dia naik bus umum. Dah, hyung.. Hari ini aku dan Hankyung kan free jadi pulang malam banyak tugas pribadi.”

“ Kalian bertiga juga ada job, kan?” Tanya Leeteuk kearah EunHaeDong.

Tiga- tiganya mengangguk. “ Ya udah.. Dadaah hyung..” Shindong mengambil sekantong camilan dan kabur disusul sama EunHae.

Tinggalah sang leader sendirian dihadapan setumpukkan piring kotor.

“ Huuff..”

0o0o0o0o0o0

~Leeteuk pov~

Aah.. Selesai..

Kuletakkan piring terakhir yang sudah aku lap. Yap! Waktunya ngebangunin Youngwoon deh sekarang.

Aku langsung melepas celemek yang tadi kugunakan dan beranjak ke kamar Youngwoon, namja itu masih tidur dengan tenang. Ampun, deh.. Sejak kapan rakunku berubah jadi kerbau? Eh? Apa? Rakunku? RakunKU? RAKUNku!

Lupakan, Jungsoo..

“ Kangin-ah..” Kugerakkan tubuhnya, susah pastinya kalau mengingat tubuhnya dua kali lebih besar dibandingkan tubuhku. “ Kangin-ah bangun.. Sarapan..” Aku kembali mengguncang tubuhnya.

“ Aku ngantuk..” Dia bergumam sambil memutar tubuhnya membelakangiku.

Ah, susah banget ngebangunin dia.

Kuputuskan untuk duduk disampingnya. “ Heyo, bangun..” Kupukul lengan kekarnya. Tapi dengan kencang.

“ Aku ngantuk!” Serunya lagi masa bodoh.

“ Kim Young Woon!” Aku langsung berdiri dan menarik selimut yang melilit tubuhnya.

“ Hyung-ah!” Youngwoon malah berbalik menarik selimut yang kutarik dan aku malah tertarik kearahnya dan jatuh diatas tubuh Kangin. Dan dengan cepat dia berguling dan kini posisinya kebalik. Youngwoon berada diatasku.

Namja itu nyengir. “ Hayoo.. Hyung mau ngapain?”

“ A-apanya yang mau ngapain? Harusnya aku yang nanya begitu!” Seruku. Yah ampun.. Jantungku kacau. Mukaku panas banget. Youngwoon membuatku menggila hari ini! Aku malu banget!

Namja itu masih tetep nyengir. “ Dorm sepi ya?”

“ Eh?”

“ Wah.. Enak nih kalau sepi..” Youngwoon mendekatkan kepalanya di leherku.

Aku menelan ludah kecut. Jangan- jangan maksud dari kata sepinya itu.. Dia mau.. Hyaaa! Aku belum siap sekarang! Eh, belum siap sekarang? Jadi maksudnya kalau nanti aku siap begitu? Astaga.. Aku menggila!

“ Hhhh..” Kudengar suara nafas Youngwoon.

Eh? Perlahan aku menolehkan kepalaku. Namja itu sekarang sudah tertidur lagi dengan kepala tepat di bahuku dan tubuhnya kini menindihku.

“ Ka-kangin-ah..?”

Dia tetap diam nggak merespon.

“ Fyuuh.. Aku harus gimana..” Bisikku pelan. Tapi kemudian aku tersenyum dan perlahan aku memeluk sosok namja itu. “ Untuk kali ini aku mengalah..” Gumamku.

~Leeteuk pov end~

…….

~Kangin pov~

Huuuaahh! Aku lapar!

Tapi masih ngantuk..

Eh? Aku tidur dimana? Dikamarku kan? Kok hangat yaa? Kayak ada yang memelukku. Rasanya nggak mau bangun. Tapi aku penasaran siapa.

Kuputuskan memeluk benda itu.

Apa sih ini? Kok keras?

Akhirnya aku membuka mataku dan detik itu juga aku langsung melotot sambil mengatupkan mulutku. Saking shocknya nggak sanggup untuk berteriak. Kulihat Teukie hyung sedang memejamkan matanya tepat disampingku.

Kenapa aku bisa berada di kamarnya! Eh, salah! Kenapa dia bisa ada dikamarku?

“ Hyu-hyung..” Panggilku pelan.

Perlahan dia membuka matanya yang mengantuk. Angel itu tersenyum tanpa perasaan kaget sedikitpun. “ Kau sudah bangun? Aku jadi ikutan ngantuk nih gara- gara kamu. Sekarang cepat bangun dan sarapan.” Ia masih mengulas senyumannya yang membuat jantungku kacau.

“ Kok hyung disini?”

Kali ini ia nggak tersenyum. “ Aku mau bangunin kamu tapi malah dapat serangan mendadak.” Jawabnya yang langsung membuatku shock. Serangan! Aku menyerangnya!

“ Huwaa! Mianhae!” Aku buru- buru melepas tubuh Teukie hyung yang tadi masih kupeluk dan beringsut mundur dalam keadaan berbaring.

Brugh! Karena nggak tahu dimana ujung tempat tidur alhasil aku jatuh ke lantai.

“ Ya, Youngwoon-ah! Kau kenapa panik begitu, sih?” Ia tertawa dan bangun. Perlahan ia turun lalu membantuku berdiri. “ Sudahlah.. Gwaenchana.. Sekarang kau sarapan dulu, yaa..” Kali ini tangannya dengan lembut menuntunku keluar kamar.

Kupandangi sosoknya yang berjalan di depanku. “ Hyung.. Sarang..” Bisikku sepelan mungkin dan aku yakin Teuki hyung nggak mungkin mendengarnya. Coba kau tahu hyung… Coba aku bisa menjelaskannya hyung.. Coba kau nggak menganggapku sebagai dongsaengmu hyung.. Maka dengan mudah mungkin aku bisa menyatakannya padamu.

~Kangin pov end~

0o0o0o0o0o0o0

Akhirnya hari yang dijanjikan tiba. Karena seluruh member kebetulan lagi free job, Kangin dan Leeteuk bisa jalan- jalan dengan santai. Sebelum keluar nggak lupa mereka mengenakan jubah perang (read :: masker, topi, syal, mantel) untuk mengelabuhi ribuan elf yang mungkin aja bisa mengganas kalau menemukan mereka berdua nanti.

“ Kau mau beli apa memangnya?” Leeteuk keluar dari mobil BMW-nya yang digunakan untuk mengantar Kangin hari ini. Tadinya Kangin mau memakai mobilnya sendiri, tapi Leeteuk melarangnya.

Kangin ikut keluar dan langsung memutari mobil menyusul Leeteuk. Mereka sudah berada di wilayah Myeondong, Shibuya-nya Korea. “ Yah.. Cuma beberapa hal aja sih.. Sepatu boots, karena kami akan syuting di daerah persawahan dan mantel baru. Aku malas kalau menggunakan fashion yang disiapkan tim produksi karena kadang nggak sesuai.”

Leeteuk hanya manggut- manggut mendengar penjelasan dongsaengnya itu.

Tatapan matanya tertuju pada sebuah kios kecil tak jauh dari mereka berjalan. Menatap sebuah benda berwarna putih dan hitam yang saling bertautan dan dipasang dua rantai kalung yang berbeda.

“ Wae, hyung?”

“ Ani.” Leeteuk menggeleng. “ Disini ramai, ya..”

Mendengar lelucon itu Kangin tertawa. “ Namanya juga Myeondong, hyung.. Ya udah.. Hyung jangan sampai kepisah sama aku. Bisa repot jadinya.” Namja itu langsung menggandeng tangan hyungnya erat dan berajalan lebih depan dari Leeteuk. Sebenarnya itu adalah cara agar sang leader nggak bisa melihat rona merah yang kini muncul di pipinya. Dan tanpa disadari Kanginpun, kini wajah Leeteuk memerah.

Dan keduanya hanya saling diam mengarungi pikiran masing- masing.

Tiba- tiba Leeteuk diam dan nggak mengikuti langkah Kangin, matanya terus menatap namja yang juga ikutan diam. Perlahan Kangin melepas tangan Leeteuk dan menatap namja itu sambil meringis merasa bersalah. “ Ah, jeongmal mianhae.. Aku tahu hyung pasti nggak suka digandeng sama namja.” Satu kalimat itu keluar begitu aja dan Kangin kembali melangkah.

Tersirat raut wajah kecewa di paras Leeteuk dan namja itu langsung menyusul dongsaengnya tanpa komentar.

Kangin masuk ke sebuah toko sepatu. Dan mulai memilih sepatu boots yang ada dengan berbagai model. “ Hyung, bantu aku memilih.” Mulainya dengan senyum yang kini terpampang diwajah polosnya.

Leeteuk ikut tersenyum dan menghampiri Kangin. Baru aja tadi dia kecewa dan takut Kangin marah padanya, tapi prasangka itu hilang saat ia melihat senyuman dari sang rakun yang terlihat tulus dan manis itu.

“ Ngomong- ngomong Kangin-ah, tumben mau belanja di Myeondong.”

Namja itu nyengir. “ Aku sedang bosan. Sekali- kali ke tempat begini bagus juga, hyung. Memangnya hyung nggak suka?”

Leeteuk buru- buru menggeleng. “ Aku juga suka, kok..” Ucapnya sambil mengambil sebuah boots berwarna hitam pekat. “ Ini.” Leeteuk menyerahkan sepatu itu pada Kangin dengan perasaan agak senang. Ya, dia senang karena rakunnya kini nggak lagi berwajah kecewa.

Kangin langsung membawa sepatu itu ke penjaga tokonya.

“ Heyo, nggak dilihat dulu!”

“ Ani.. Aku yakin dengan pilihan hyung. Aku kan mempercayai hyung sepenuhnya.”

Lagi- lagi wajah Leeteuk memerah mendengar ucapan dongsaengnya. Dia membalas Kangin dengan tersenyum lembut. “ Gomawo, racoonie..”

“ Ne, cheon hyung..”

Leeteuk memandangi Kangin. ‘ Benar.. Dia nggak pernah marah kalau kupanggil begitu. Apa benar dia menyukaiku? Dan aku…?

0o0o0o0o0o0o0

~Leeteuk pov~

“ Huaahh..” Aku duduk di kursi taman yang agak ramai sore ini.

“ Kau lelah ya hyung? Mian, ya..”

“ Nae, gwaenchana.” Aku tersenyum menatapnya. “ Aku senang hari ini.”

Kulihat dia tersenyum sambil menepuk kantong belanjaannya. “ Cuma aku yang belanja nih.. Hyung nggak mau beli sesuatu?”

Hmm.. Aku diam sejenak.

“ Sebenarnya ada satu benda yang menarik perhatianku.”

“ Apa?”

“ Sebuah kalung. Ne, YinYang. Aku melihatnya di kios kecl tadi saat kau menggandeng tanganku. Ada dua rantai kalung di benda itu, aku yakin benda itu bisa dibelah dua. Aku ingin yang warna putih..” Aku diam sejenak.

“ Akan aku belikan.” Kangin langsung berdiri.

“ Ani!”

“ Hyung disini!” Dia langsung menyerahkan belanjaannya padaku dan tanpa banyak bicara langsung berlari meninggalkanku. Entah kenapa aku tak bisa memanggilnya untuk berhenti.

Ya, sekali aja.. Aku ingin dia berkorban untukku.

Rasanya menyenangkan..

Nae, Jungsoo.. Sekarang kau harus meyakini perasaan ini. Kau mencintainya. Perasaan ini nggak akan bisa dibendung. Aku nggak perduli bagaimana kata public, ataupun apa yang akan dikatakannya kalau dia tahu perasaanku. Aku haya mempercayai satu kalimat..

Aku mencintainya..

Aku diam ditaman selama beberapa saat. Sepertinya sudah hampir tiga puluh menit aku menunggunya disini. Lelah dan membosankan juga. Kuputuskan untuk membawa belanjaan Kangin dan berjalan mendekati danau di taman ini.

Danau yang tenang..

Sama seperti perasaanku. Tenang.. Kalau dibandingkan dengan Kangin kami memang bertolak belakang. Kenapa aku tertarik dengan kalung Yinyang itu? Karena itu bagaikan lambangku dan Kangin. Akulah Yang, elemen yang berwarna putih dan dia Yin, elemen yang berwarna hitam. Kedengarannya konyol, ya..?

Perbedaan yang sangat jauh antara aku dan Kangin.

Greb! Tiba- tiba ada yang memelukku dari belakang.

“ Eh? Yo-youngwoon-ah?”

“ Hmm..”

Deg! Bukan suara Youngwoon!

“ Siapa kau?”

“ Hhhh..” Dia mendesah.

Aiish.. Ini masalah!

Perlahan kurasakan orang itu meraba dadaku dan memelukku semakin erat.

“ Lepaskan aku!”

“ Chagihh~” Dia kembali mendesah. “ Hhhh…”

“ Lepaskan aku!” Kali ini kutarik tangannya dan langsung mendorong tubuhnya. Namja itu tersungkur kebelakang. Kulihat ada dua namja lainnya berdiri sambil membangunkan temannya itu.

Tiga namja.. Sedangkan aku sendirian..

Sialan!

Kutendang belanjaan Kangin sedikit menjauh dariku. Aku nggak mau barang- barang itu kenapa- napa. Itu kan milik Kangin.

“ Sialan.. Sok jual mahal.” Gumam namja yang tadi kudorong.

Kukepalkan tanganku. Kalian mau berkelahi? Aku nggak akan lari. Aku namja. Aku nggak takut meski jumlah mereka lebih banyak dariku.

“ Serang, bro!” Seorang dari mereka berseru dan dua orang lainnya berlari kearahku sambil mulai menyerangku.

Kukepalkan tanganku kuat- kuat dan memukul satu namja yang melayangkan pukulannya kearahku.

Bugh! Tanganku lebih panjang, jadi pukulanku lebih dulu mengenai wajahnya yang nggak banget. Banyak yang bilang aku kadang mirip yeojya, tapi aku ini tetap namja. Maaf aja kalau kalian meremehkanku.

Seorang lagi mengayunkan kakinya dan menendangku.

Bugh! Dia berhasil menendangku dan aku terjatuh.

Namun saat itu juga seorang namja yang paling belakang langsung terjatuh ditanah. Kutatap sosok yang kini berdiri cukup jauh dariku. “ Youngwoon-ah?”

“ Berani sekali kalian menyerang malaikatku!”

Degh!

Malaikat..?

Kangin menyerang ketiga namja itu tanpa ampun dan aku hanya bisa duduk. Namun saat satu namja itu mengeluarkan darah dari mulutnya aku baru tersadar dan langsung menahan tangan Kangin yang mau memukulnya. “ Sudah cukup Youngwoon!”

“ Andwae! Dia menyerangmu duluan!”

“ Sudah! Aku baik- baik aja!”

“ Hyung!”

Aku diam saat dia membentakku. “ Dia yang melukaimu duluan, jadi mereka harus merasakan pembalasanku.” Suara namja itu benar- benar serius. Sisi kasarnya benar- benar menguasai Kangin.

“ Ani. Tapi sudah cukup!”

“ Kalian itu kan namja ! Menjijikan sekali!” Seru seorang dari mereka.

Menjijikan?

“ Eh apaan nih?” Seseorang memungut sesuatu dari tanah dan saat melihat benda yang dipungutnya aku langsung terkesiap.

“ Itu!” Sentak Kangin.

Kalung yang tadi dicari Kangin?

“ Kembalikan!” Aku langsung berlari menghampiri mereka.

“ Tunggu hyung!”

“ Apaan sih! Sampah!” Namja itu melempar kedua kalung yang masih menyatu itu kearah danau.

Aku menegang sambil melihat kalung yang kini hilang itu. Kalung kami..

Kutatap namja yang melempar itu marah. “ Brengsek!” Baru aja aku mau memukulnya Kangin sudah mendahuluiku memukul namja itu kencang dengan raut wajah marah.

“ Pergi kalian semua sialan! Pergi atau kubunuh kalian semua!” Bentak Kangin benar- benar membuatku bergidik ngeri. Pertama kalinya kulihat dia begitu dan ketiga namja itu langsung kabur.

Kalungnya!

Aku berlari kearah danau. Aku harus mendapatkannya!

“ Apa yang kau lakukan!” Kangin langi- lagi menarik tanganku, menahanku yang baru saja mau masuk ke dalam danau.

Kutatap dia panik. “ Mendapatkannya lagi.”

“ Jangan konyol! Kalung itu sudah tenggelam!”

“ Tapi aku harus mendapatkannya!”

“ Jeongmal pabbo kau hyung!”

Aku membeku.

“ Kalau kau sebegitu menginginkannya, akan kubelikan yang lain. Seratus kali lebih bagus dari benda konyol itu! Sudah nggak usah mencarinya lagi!”

Benda konyol? Kau nggak paham artinya, kan..

Perlahan aku merasakan sesuatu mengalir dari mataku, Kangin langsung menatapku shock. “ Hyung..” Dia berusaha merengkuh lenganku namun aku menghindar dan menghapus air mataku. Memalukan sekali kau Jungsoo..

“ Younwoon.. Kita memang berbeda.” Ucapku dan langsung berjalan meninggalkan Kangin. Aku nggak menoleh karena aku nggak mau Kangin melihatku yang kembali menangis.

~Leeteuk pov end~

0o0o0o0o0o0o0

~Kangin pov~

Kubaringkan tubuhku diatas tempat tidur hotel berukuran king size tempatku menginap selama di Mokpo. Setelah kejadian malam itu sampai hari ini aku nggak bicara dengan Tekie hyung. Bukannya menghindarinya, tapi dia menghindariku. Setiap melihatku wajahnya selalu tertunduk. Itu yang membuatku nggak berani menatapnya…

Apa kalung itu begitu berarti untuknya?

Kenapa?

Itukan hanya kalung seharga lima rubu won yang kubeli di kios pinggir jalan? Ya, memang agak unik karena berlambang Yin dan Yang  yang bisa dilepas menjadi dua. Benda yang melambangkan diriku dengan Teukie hyung.

Lambang..?

“ Heyo! Cepat tidur!”

Aku menoleh dan menatap manajer hyung masuk ke kamarku. “ Hyung?”

“ Cepat tidur. Besok kita dari pagi, Youngwoon-sshi.”

“ Nae, arraseo.” Jawabku malas.

“ Tumben.”

Aku menatapnya kaget. “ Tumben?”

Dia mengangguk. “ Tumben kau langsung menurut, biasanya kau nggak mau nurut. Kadang aku bingung sama Leeteuk-sshi yang bisa mengaturmu yang sulit diatur.”

Kuputuskan untuk duduk menatap manajer hyung. “ Maksud hyung?”

Dia mengangguk lagi. “ Kau itu benar- benar menyebalkan, nggak peka, menyeramkan kalau marah, emosian dan kasar. Kok bisa Leeteuk-sshi yang kalem, baik hati, ramah itu bertahan dengan sifatmu. Kalian sangat berbeda.”

Berbeda?

“ Tapi..” Ia melanjutkan. “ Dari yang kulihat kalian justru saling melengkapi.”

Kami saling melengkapi?

“ Kalian kan berpredikat sebagai umma dan appa-nya super junior. Meski sifat kalian bertolak belakang begitu, kalian saling melengkapi satu sama lain. Itulah alasan kenapa fans suka dengan couple KangTeuk.” Manajer hyung nyengir. “ Sudah tidur sana! Malam..” Namja itu keluar dari kamarku.

Gantian aku yang termenung sendirian memikirkan ucapan namja itu.

“ Nae.. Dia benar.. Aku tahu kami berbeda.. Tapi kalau kami saling melengkapi satu sama lain apa salahnya? Kurasa perasaan dalam hatiku ini menjadi penyambungnya. Meski aku jatuh cinta pada sosok yang salah, tapi aku nggak akan menyangkalnya.” Gumamku sendirian.

Nah, hyung.. Aku nggak perduli apakah kau juga menyukaiku.

Setidaknya.. Aku hanya ingin kau tahu..

Kuraih ponselku dan langsung menghubungi Teukie hyung. Agak lama sekai dia mengangkatnya. Apa dia nggak mau mengangkatnya?

“ Yeoboseyo, Youngwoon-ah!” Sapanya terengah- engah.

“ Hyung? Wae?”

“ Ah, anio.. Aku baru saja selesai latihan.” Kudengar ia tertawa. Berbeda sekali dengan sikapnya beberapa hari kemarin. “ Bagaimana syutingnya?”

“ It’s okay.” Jawabku. “ Nae, hyung..”

“ Hmm?”

“ Mianhae..”

Teukie hyung nggak menanggapi selama beberapa saat. Aku yakin dia mengerti maksud kenapa aku bilang mianhae. Namja itu menghela nafas. “ Nae, gwaenchana. Seharusnya aku yang meminta maaf. Aku yang konyol dan terlalu sensitive karena masalah itu. Mianhae, Youngwoon-ah..”

“ Hyung..” Panggilku. Aku tersenyum kecil.

“ Nae?”

“ Saranghae.”

Tut! Langsung kutekan tombol merah di ponsel androidku dan membaringkan tubuhku. Kutatap langit- langit kamarku sambil tersenyum. Aku bisa menebak raut wajah Teukie hyung saat ini. Pasti menggemaskan.

Hehe..

~Kangin pov end~

0o0o0o0o0o0o0

Seperti yang dibilang manajernya, pagi itu syutting dimulai agak pagi. Jam tujuh pagi. Syuttingnya adalah sebuah iklan traktor (mian ngasal) di daerah persawahan (kalau di Korea nggak ada sawah jangan salahin author. :p). Karena tubuhnya yang kekar, makanya Kangin dipilih sebagai bintang iklannya.

Sejak pagi Kangin syutting dengan serius. Perasaannya agak senang hari ini. Ia merasa lega. Biar aja nanti masalahnya kalau udah pulang ke Seoul. Kalau ia bertemu dengan Teukie hyungnya baru ia selesaikan.

“ Break, Youngwoon-sshi!” Ucap sutradara yang kelihatan puas dengan acting Kangin.

“ Gamsha!” Kangin menunduk sopan dan berjalan mendekati manajernya yang memberikanya sebotol air mineral.

“ Ada yan mencarimu.”

“ Nuguya?”

Manajer itu mengangkat bahu. “ Kayaknya fansmu. Dia menunggu di sana.” Manajer itu menunjuk kesebuah pohon besar.

Dengan malas Kangin menghampiri pohon besar itu dan menoleh kebalik pohon itu. Dan dia langsung kaget saat melihat seorang yeoja cantik yang menunggunya. Rambutnya agak ikal panjang berwarna pirang dengan menggunakan kacamata hitam dan menunduk.

“ Mian, noona.. Mencariku?”

“ Nae, Youngwoon-sshi..” Yeojya itu menunduk malu- malu. Tapi ada satu hal yang membuat Kangin takjub. Yeojya itu termasuk dalam kata tinggi untuk ukuran yeojya. Tingginya menyamai Kangin padahal dia nggak pakai high heels.

Suaranya nggak asing..’ Batin Kangin.

Yeojya itu menyerahkan sesuatu. Kangin menatap sesuatu yang diserahkan yeojya itu dan langsun melotot. “ Kau!” Namja itu langsung merengkuh bahu si yeojya dan mengangkat wajah yeojya itu cepat. Matanya kali ini benar- benar terbuka lebar. “ Hyu-hyung..? Apa- apaan kau!”

Leeteuk nyengir tanpa dosa dibalik kacamata hitamnya. Ia perlahan membuka kacamatanya. “ Aku cantik juga ya sebagai yeojya?”

Wajah Kangin langsung memerah dan memandangi kalung YinYang yang diserahkan Leeteuk. “ Sebenarnya ada apa? Kenapa hyung menyamar jadi yeojya? Ketularan sifat Heechul hyung?”

Leeteuk tetap tersenyum. “ Biar serasi.”

“ Eh? Serasi?”

Leeteuk mengangguk dan tiba- tiba namja itu menarik kerah baju Youngwoon agar namja itu sedikit menunduk dan mencium bibir namja itu cepat dengan sekilas. Senyumannya kembali terulas membuat lesung pipinya kembali menggoda. “ Nado saranghae, Youngwoon-ah..”

“ MWO!” Kangin mundur beberapa langkah saking kagetnya. “ Hyung bercanda! Mau menggodaku hah!”

“ Ani! Aku serius!” Balas Leeteuk sambil mematahkan kalung YinYang itu menjadi dua bagian dan menyerahkan yang warna putih pada Kangin. “ Simpanlah.”

Kangin maju perlahan dan mengambilnya.  “ Kenapa putih?”

“ Karena putih itu adalah aku.” Leeteuk memakai kalungnya dan kembali menatap Kangin sambil tersenyum. “ Kau tahu kenapa waktu itu kalung itu sangat berharga, karena menurutku kita sama dengan lambang ini. Kita berbeda dan sangat bertolak belakang.” Terlihat senyuman miris dari bibirnya.

Kangin kali ini tersenyum simpul. “ Tapi kita saling melengkapi, hyung.. Sama seperti dua potong benda ini yang saling melengkapi.” Kangin memakai kalungnya dan berjalan semakin dekat dengan Leeteuk. “ Apa benar nggak apa- apa?”

“ Nggak apa- apa gimana?”

“ Benarkah nggak apa kalau kita saling mencintai.. Hyung.. Super junior nanti akan dicap semakin buruk oleh antis. Kita ini sama- sama namja.”

“ Aku nggak akan membiarkan hal itu terjadi.” Balas Leeteuk yakin. “ Aku akan menjaganya dari public. Bukankah kita memang biasa melakukan fans-service di depan umum? Pasti nggak akan ada yang sadar.” Namja itu nyengir dengan polos.

Kangin tertawa pelan. “ Ya, hyung.. Santai sekali..”

“ Lalu.. Sekarang gimana?”

Kangin memutar bola matanya sebentar mencari jawaban yang tepat. Lalu detik berikutnya namja itu langsung memeluk tubuh Leeteuk erat. “ Nae, hyung.. Jeongmal saranghae.. Jadi namjachingu-ku, ya?” Terdengar Kangin tertawa geli sendiri mengucapkan kalimat itu.

Leeteuk ikutan meringis. “ Pabbo.. Aku ini kan namja dan kau namja.”

“ Ya udah.. Kalau begitu hyung jadi uke-ku. Gimana?”

Kali ini Leeteuk baru membalas pelukan Kangin. “ Nae. Aku mau kalau yang itu.” Ucapnya sambil tersenyum. “ Nado saranghae Youngwoon-ah..”

Kangin menyusupkan kepalanya di bahu Leeteuk dan mencium bahu namja itu lembut. Memang seperti apapun yang terjadi Yin dan Yang akan bersatu, kan? Sekalipun terpisah tetap satu. Karena mereka saling melengkapi satu sama lainnya. Kangin dan Leeteuk yang paling paham akan hal itu untuk saat ini.

Dan yang menyatukan dua hal itu cuma satu. Cinta.

.

~Fin~

One thought on “Yin and Yang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s