My Destiny (Chapter 2 of 2)

Chapter 2..

.

“ Ya, dua tahun kau akan di Kanada. Kau akan meninggalkan Seoul.”

Satu kalimat itu kini berubah bagaikan petir yang menyambar tubuhku.

Dua tahun..

Kanada..

Meninggalkan Seoul..

Itu artinya aku akan meninggalkan keluargaku selama dua tahun..?

Itu kan lama banget!

Aku.. Aku nggak mau meninggalkan keluargaku selama itu! Pokoknya nggak mau.

Aku masih diam menatap guruku dengan tegang. Pikiranku sekarang kacau dan nggak tentu arah. Pusing.. Bingung.. Ragu.. Pokoknya semaunya jadi satu. Aku harus bagaimana? Apa yang harus kupilih?

“ Apa kau akan menerimanya?” Tanya Sooman-sshi lagi.

Aku diam.

“ Yah.. Mungkin kau masih bingung. Kau bisa bicarakan dulu dengan keluargamu. Tapi pikirkan baik-baik Heechul-ah.. Kesempatan nggak akan selalu datang disaat yang sama. Nggak ada jaminan kau akan mendapatkan kesempatan emas ini kalau kau menolaknya. Kau beruntung, dan apakah kau akan membiarkan kesempatan ini pergi begitu saja..”

Kusimpan kata- katanya dalam otakku.

Sama halnya dengan takdirku, ya..

Hidup memang penuh dengan berbagai macam pilihan.

“ Aku tunggu jawabanmu tiga hari lagi. Institut itu memintaku mengabarinya dalam waktu dekat. Kau boleh kembali ke pameran, Heechul-ah.”

Aku mengangguk sekali. “ Arraseo.” Aku langsung berdiri dan berjalan keluar dari ruangan itu.

Pikiranku sekarang kosong. Hanya satu kalimat yang kini terpatri dalam otakku.

Apakah aku harus menerimanya?

Bagaimana dengan keluargaku juga Hankyung? Dua tahun.. Oh Tuhan.. Dua tahun itu lama banget. Bagaimana kalau aku menerimanya dan terjadi sesuatu dalam dua tahun itu? Manusia kan nggak tahu apa yang akan terjadi.

Oke, mungkin aku terlalu berlebihan.. Tapi apa salahnya kalau aku berpikir begitu..

Jika aku pergi selama dua tahun.. Semuanya belum tentu sama..

“ Sesuatu terjadi?”

Deg! Aku terkejut saat melihat Hankyung berdiri dihadapanku dan menatapku khawatir. Kuperhatikan sekelilingku yang ramai. Aku sudah ada di gedung pameran. Sejak kapan aku sampai disini? Aku kebanyakan melamun.

“ Ada masalah?” Tanya Hankyung lagi.

Aku hanya bisa menggeleng lemah. Aku belum siap cerita pada Hankyung..

Hankyung nggak langsung membalas tanggapanku yang hanya sebatas gelengan itu. Namja itu hanya merangkul bahuku sambil bergumam kecil. “ Ooh..” Hanya itu tanggapan yang kudengar dari Hankyung. Dia kok kelihatan santai dan nggak perduli?

Ah, tentu aja! Dia kan nggak tahu apa yang kini melanda pikiranku!

0o0o0o0o0o0o0o0

Kurebahkan tubuhku dilantai kamarku.

Aku butuh sesuatu yang dingin, dan kurasa lantai kamarku cukup untuk mendinginkan pikiranku. Kenapa nggak sekalian kuletakkan es dikepalaku aja biar semakin dingin. Huh.. menyebalkan..

Mataku tertuju pada foto keluarga yang berukuran besar yang special kupasang di dinding kamarku. Hasil fotoku yang kuambil saat appa pertama kali membelikan kamera padaku untuk merayakan kelulusanku. Waktu itu kami sekeluarga sedang mengadakan pesta kecil di kebun malam- malam sambil memanggang barbekyu. Dan Yesung dan Kyuhyun bertaruh, siapa yang bisa menghitung jumlah bintang yang kelihatan akan dapat jatah makanan paling banyak. Tapi tentu aja Yesung dan Kyuhyun nggak sanggup menghitung berapa jumlah bintang. Dan si evil magnae itu dengan pedenya memberikan jawaban -mengelak sebenarnya biar nggak dibilang se-babbo yesung- yang membuat Yesung kalah telak. Dia bilang jumlah bintang dilangit itu sebanyak jumlah cintanya pada umma yang sama- sama nggak akan bisa dihitung meski dengan kalkulator tercanggih sekalipun.

Jawaban konyol yang tentu aja membuat umma langsung terharu mendengarnya..

Aku tersenyum kecil mengingat kenangan itu. Kalau diingat lagi si evil magnae itu memang kekanak- kanakkan. Apalagi kalau kuingat dia yang menangis paling sedih saat Wookie hendak pergi dengan nyonya Lee dulu. Tapi sekarang.. Kulihat magnae itu semakin dewasa. Seperti yang kudengar dari umma, Kyu dengan santainya bilang Sungmin itu calon menantu umma.

Yesung juga, keinginannya untuk segera diakui oleh appa dengan menjalankan usaha café dengan temannya tetap ia jalankan. Saat ini impiannya hanya satu, segera diakui dan menjadi namja yang mapan lalu menikah dengan Wookie. Aku pernah berkunjung ke café itu dan kulihat adikku itu cukup pintar mengatur café itu. Yesung semakin dewasa.

Wookie dan Kibum juga. Beberapa bulan lagi mereka akan lulus dan menjadi mahasiswa. Yah, mereka memang belum kelihatan bagaimana. Tapi aku yakin kedua adik yeojya itu pasti semakin tumbuh dewasa. Wookie bisa memilih hal yang memang baik untuknya, memilih untuk tinggal dengan kami dibanding dengan umma kandungnya. Dan Kibum, dia bisa melakukan hal yang nggak pernah kuduga. Berdasarkan cerita Kyuhyun, Kibum berani mencium Siwon di koridor saat namja itu marah padanya. Mereka semua semakin berubah, ya..

Dan aku..

Apa aku juga berubah?

Apa aku yang anak tertua kini semakin dewasa?

Kalau iya, kenapa aku nggak bisa memutuskan hal ini. Ah, aku butuh teman untuk bicara.. Tiga hari itu waktu yang singkat, aku nggak boleh diam aja. Umma dan appa harus tahu. Hankyung juga..

Hankyung..

Ah! Aku tahu dia pasti memahami masalahku ini..

Bukankah Hankyung pernah dihadapi pilihan seperti ini juga dulu? Saat ia masih berurusan dengan komplotan preman yang pernah menculikku. Dia harus memilih apakah harus tetap bersama mereka atau memilihku dan pergi. Dan Hankyung tetap memilihku.

Aku langsung mengambil ponselku dan mengetik sebuah pesan.

“ Hankyungie..? Kau sudah tidur?”

Hankyung bukan tipe orang yang suka membalas pesan. Menurutnya, kalau punya waktu untuk mengetik pesan lebih baik langsung telepon aja. Karena itu, satu menit setelah pesan itu terkirim, Hankyung langsung meneleponku.

“ Yeoboseyo..” Jawabku cepat.

“ Waeyo, chagiya?” Suaranya lembut.

“ Apa aku mengganggu?” Pertanyaan konyol Kim Heechul. Apa nggak ada pertanyaan yang lebih logis?

Kudengar Hankyung tertawa pelan. “ Ya, Heechul, ah.. Ceritakan padaku ada apa?”

“ Ada apa?” Ulangku bingung.

Hankyung bergumam. “ Ada yang kau pikirkan sejak kau kembali dari ruangan Sooman-sshi, kan? Jangan pikir aku nggak tahu, aku tahu sekali bagaimana dirimu.” Jelasnya dan tentu aja membuatku diam.

Namja ini memang sangat mengenalku.

“ Ketahuan, ya..” Aku hanya bisa meringis.

Hankyung lagi- lagi hanya bergumam. Dia nggak langsung berbicara. “ Hmm.. Masih jam sepuluh malam. Apa kau boleh keluar semalam ini?”

Aku melirik kearah jam tanganku. Iya sih memang masih jam sepuluh..

“ Aku nggak yakin appa akan mengizinkan..”

“ Kalau aku yang kesana?”

“ Ini udah malam, Hankyungie..” Ucapku gemas.

Hankyung lagi- lagi tertawa. “ Nae, arraseo.. Arraseo.. Lalu, apa kau mau meneritakan apa sebenarnya yang dikatakan Sooman-sshi tadi?”

Yang dibicarakan Sooman-sshi.. Yang aku ingin bicarakan padamu, babbo..

“ Hankyungie..”

“ Hmm?”

“ Kalau misalkan kita harus berpisah sangat jauh dalam waktu yang sangat lama.. Apa Hankyung akan_”

“ Kau akan pergi?” Potong Hankyung.

Aku gantian diam.

“ Kemana?”

Ahh.. Aku nggak bisa menjawab pertanyaan itu.

“ Jawab aku..” Suara Hankyung terdengar serius. “ Kalau kau nggak menjawab, aku akan langsung mematikan teleponku dan langsung pergi kerumahmu. Sekarang.” Suaranya berubah tegas dan penuh penekanan.

Aku menghela nafas. “ Sooman-sshi bilang aku ditawarkan untuk menjalani program pertukaran pelajar dengan SM institute yang berada di Kanada..” Aku memberikan jeda dikalimatku.

“ Itu bagus, kan..” Suara Hankyung terdengar ceria.

Bagus?

“ Kau bisa belajar banyak di sana. Kanada? Jauh sih.. Tapi itu jalan yang bagus..”

Entah kenapa aku merasa sakit mendengar Hankyung bicara begitu. Apa dia nggak tahu aku justru merasa ini hal yang menyebalkan. Apa dia nggak tahu kalau aku justru nggak mau meninggalkannya juga keluargaku dan pergi ke Kanada.

“ I-ini program selama dua tahun..” Kucoba mengatur suaraku agar nggak terdengar kesal.

Hankyung masih terdengar ceria. “ Yah, lalu kenapa? Itu kan bagus..”

“ Kau setuju kalau aku pergi..?”

“ Tentu.”

Satu kata itu entah kenapa rasanya menusukku. Aku nggak tahu kenapa air mataku sekarang sudah mengalir perlahan. Dan aku tahu, aku mulai terisak sekarang. Jadi kuputuskan untuk menutup mulutku agar Hankyung nggak mendengarnya.

“ Heechul..? Kau masih disana?” Kudengar suaranya lagi.

“ Nae.. Selamat tidur.”

Cklek! Aku langsung mematikan ponselku dan naik ke atas tempat tidurkku. Kubenamkan wajahku diatas bantal dan kubiarkan aku terisak.

Hankyung babbo! Jeongmal babbonikka!

Kenapa dia nggak ngerti dengan perasaanku.. Aku ini nggak mau pergi meninggalkannya!

0o0o0o0o0o0o0

“ Heechullie.. Telepon dari Hankyung-ah..” Kudengar panggilan umma dari ruang tengah. Aku sih hanya bisa mendengus malas sambil terus menatap majalah yang sedang kubaca dari tadi. “ Heechullie..” Umma memanggiilku lagi.

“ Dipanggil umma..” Wookie menyenggol lenganku.

“ Bilang aku sibuk!” Seruku cepat sambil membanting majalah di atas meja. Aku marah sama Hankyung. Aku kesal. Yah, konyol sih.. Tapi aku nggak perduli. Dia itu polos atau apa, sih.. Masa nggak paham dengan perasaanku yang lagi kacau ini.

“ Tumben eonnie berantem..” Gumam Wookie lagi.

Aku mengalihkan pandanganku kearah umma yang sudah berdiri dibelakang sofa. Umma menatapku heran dengan mata tegasnya. “ Ada masalah, chagiya?”

“ Ani.” Jawabku sambil menghela nafas dan berdiri. “ Kalau dia telepon lagi bilang aja aku sedang malas bicara.” Ucapku sambil berjalan melewati umma. Aku tahu umma dan Wookie menatapku dengan raut wajah penuh tanda tanya.

Tapi aku nggak perduli..

Yang pasti aku sedang kesal dengan  Hankyung. Ah, aku juga kan harus bicara dengan umma dan appa..

Aku masuk ke dalam kamarku.

Kurebahkan tubuhku diatas tempat tidurku dan menatap langit- langit kamarku. Ya, sejak semalam aku nggak mengaktifkan ponselku. Aku tahu Hankyung pasti menghubungiku. Aku nggak perduli. Habis Hankyung juga nggak perduli denganku.

Kupejamkan mataku..

Aku ngantuk..

Semalaman aku nggak tidur karena memikirkan masalah ini.

Tok-tok.. Kudengar suara pintu kamarku diketuk.

“ Chagiya..” Umma mengintip kedalam kamarku. “ Apa umma boleh masuk?” Tanyanya lagi dengan nada lembut.

Aku nggak mengalihkan pandanganku menatap umma.

“ Sudah masuk aja..” Kali ini kudengar suara appa. Lalu kudengar suara grasak-grusuk. Aku berani bertaruh kalau adik- adikku juga ikutan masuk ke kamar. Yah, aku kan sedang memejamkan mataku.. Mana aku tahu mereka ngapain.

Kurasakan umma duduk disamping tempat tidurku. “ Sebenarnya ada apa? Apa kau bertengkar dengan Hankyung?”

Aku hanya bisa menghela nafas sambil membuka mataku. “ Ani..” Jawabku. “ Aku hanya sedang kesal sedikit dengannya.”

“ Wae?” Appa yang bertanya.

Aku menggeleng pelan. Aku nggak yakin akan menceritakan semuanya sekarang. Aku benar- benar nggak yakin aku harus membicarakan semua ini. Aku sudah memutuskan untuk menolak program itu. Aku nggak mau meninggalkan keluargaku.

“ Apa ada hubungannya dengan program pertukaran itu?”

Deg! Kurasakan jantungku berdegup keras saat mendengar suara itu.

Suara Hankyung!

Aku langsung bangun dan benar. Hankyung sudah berdiri diambang pintu kamarku sambil menatap kearahku tanpa emosi. Raut wajah polosnya sudah benar- benar menghilang sekarang. Apa dia marah karena sikapku?

Aku langsung membuang muka.

Eh.. Tunggu! Tadi Hankyung bilang apa..?

“ Aku sudah menanyakan semuanya ke Sooman-sshi.” Hankyung kembali bicara. “ Waktunya itu selama..”

Diam!

Aku langsung bangun dan berlari menghampiri Hankyung dan menutup mulut namja itu agar dia nggak melanjutkan ucapannya. Hankyung nggak boleh bilang sesuatu ke keluargaku tentang program itu!

“ Program yang ditawarkan SM institute Kanada untuk Heechul noona, kan..?”

Aku membatu sambil menatap Hankyung horror. Hankyung juga menatapku kaget. Kualihkan pandanganku kearah Yesung yang kini menatapku sambil mencoba tersenyum. Yesun bilang tentang program itu..?

Yesung sudah tahu..?

Kutatap umma dan appa bergantian yang berdiri berdampingan. “ Sooman-sshi sudah menghubungi umma kemarin sore, chagiya.. Umma dan appa sudah tahu tentan hal itu.” Lanjut umma dengan tenang.

Kulepaskan Hankyung. Tubuhku rasanya gemetar. Hankyung langsung memegangi bahuku sambil mendekatkan kepalanya ketelingaku. “ Bicaralah sekarang..” Bisiknya lembut sambil merengkuh bahuku semakin kuat.

Aku nggak sanggup..

“ Itu alasannya kenapa kita semua kesini..” Appa merangkul umma sambil tersenyum. “ Sepertinya uri Heehullie sedang bingung karena hal ini, jadi kami putuskan untuk membicarakannya sekarang.”

“ A-appa.. Itu lama, lho.. Dua tahun.. Kanada..” Suaraku gemetar dan aku menunduk.

“ Lalu kenapa?”

“ Appa!” Suaraku mulai parau. Namun aku tetap menahan air mataku. “ Dua tahun bukan waktu yang singkat! Semuanya bisa terjadi selama dua tahun itu! Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi selama aku disana? Aku nggak mau aku berada jauh dari keluarga ini! Aku nggak mau!”

“ Eonnie..” Kibum langsung berjalan mendekatiku dan menatapku. Kutatap mata yeojya itu yang kelihatan tenang. “ Jangan berpikir jauh.. Memangnya apa yang akan terjadi dengan keluarga kita? Nggak akan ada apa- apa..”

“ Semuanya bisa aja terjadi, Kibummie..” Balasku ketus.

Aku galau kalau harus membayangkan apa jadinya kalau kami terpisah. Aku takut aku nggak sanggup hidup jauh dari keluarga ini. Aku tahu aku yang paling dewasa, dan sebagai yang paling tua, aku yang akan pertama kali keluar dari keluarga ini. Tapi sekarang.. Disaat aku masih bisa berada di keluarga ini.. Kenapa aku harus pergi?

“ Noona terlalu cemas.” Kutatap Yesung yang menatapku serius. “ Noona jangan kayak anak kecil yang nggak bisa lepas dari orang tua begitu, dong.. Apa salahnya mengejar impian noona dan sementara meninggalkan keluarga..”

“ Itu kau!” Seruku marah. Emosiku memang labil. “ Kau memang sangat ingin keluar dari keluarga ini. Tapi aku nggak seperti itu, Yesung! Aku ingin tetap disini, dan apa itu salah? Jangan samakan pikiranku dengan pikiranmu!”

“ Setidaknya aku nggak berpikir bodoh seperti noona!” Yesung ikut berteriak.

“ Oppa.. Tenanglah..” Kulihat Wookie langsung merangkul lengan Yesung dengan wajah panik.

Yesung langsung menggeleng. “ Setidaknya.. Aku nggak akan melepaskan apa yang menjadi impianku hanya karena ketakutan bodoh yang sekarang noona rasakan.” Yesung menolehkan kepalanya menatap Kyuhyun yang sejak tadi diam menatapku serius. “ Aku yakin, Kyuhyun pun sama.”

Kulihat magnae itu mengangguk. “ Kalau aku, aku akan mengejar semua mimpi yang terlihat dihadapanku. Meski itu artinya aku harus meninggalkan keluarga ini untuk sementara. Aku nggak takut. Aku sangat mengerti yang terpenting bagi appa dan umma adalah kebahagiaan anak- anaknya, dan kalau aku bahagia dalam mengejar impianku. Aku nggak akan ragu.” Jelas magnae itu.

Kali ini air mataku benar- benar mengalir.. Siapakah yang kekanak- kanakkan disini..? Aku..? Iya.. Aku memang sangat kekanak- kanakkan. Adik- adikku aja bisa berpikir logis seperti itu. Kenapa aku nggak?

Aku mulai terisak. “ Aku takut..” Bisikku.

“ Takut apa eonnie?” Kibum menatapku lugu.

Kutelengkan kepalaku menatap kedua orang tuaku yang masih memilih diam mendengarkan kami. “ Aku takut.. Aku ini kakak.. Setidaknya.. Aku juga mau malihat bagaimana pertumbuhan adik- adikku.. Aku masih ingin merasakan bagaimana kehangatan keluarga ini.. Aku terlalu takut untuk menjauh ataun pergi dari tempat ini. Aku takut aku nggak akan merasakan kehangatan keluarga diluar sana. Aku takut appa dan umma pergi meninggalkanku apalagi melupakanku kalau aku pergi dari tempat ini..” Isakku pilu. Itu semua ketakutanku.

“ Aku ingin melihat saat- saat dimana Kibummie dan Wookie juga Kyuhyun lulus dan masuk universitas. Aku juga ingin melihat bagaimana café Yesung berjalan. Aku..”

“ Eonnie..” Kibum langsung memelukku dan yeojya itu menangis.

Kupeluk tubuh Kibummi yang sudah gemetar. “ Aku terlalu takut kalau memikirkan semua itu. Aku nggak mau ikatan keluarga yang mengikatku putus begitu aja..” Kutarik nafasku perlahan dan kurasakan Hankyung mengusap punggungku lembut.

“ Noona konyol..” Kulirik magnae itu yang sudah bersandar di lemariku tanpa memandangiku. Tapi bisa kulihat butira air mata menetes dari dagunya. Kyuhyun.. Menangis lagi?

Yesung merangkul Wookie yang juga udah terisak pilu. Namja itu menatapku sambil tersenyum lega. “ Ya, noona.. Kenapa kau berpikir terlalu jauh? Apa kau pikir kami akan denan mudah melupakanmu hanya karena kau pergi? Itu nggak mungkin..”

“ Babbo! Kau nggak ngerti betapa kacaunya pikiranku!”

“ Chagiya..” Aku langsung menoleh menatap umma yang berjalan mendekatku. Umma dangan lembut mencoba melepaskan pelukan Kibum dan mengusap kepala yeojya itu sambil tersenyum mencoba menenangkannya. Umma kembali menatapku. “ Apa hanya itu yang kau takutkan?”

Aku menggeleng. “ Banyak umma.. Banyak sekali.. Dua tahun itu nggak sebentar. Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi di keluarga ini selama aku nggak ada? Aku nggak mau itu terjadi..” Suaraku merendah, aku nggak mungkin meninggikan suaraku dihadapan umma.

“ Chagi..” Umma meraih tanganku, meraih jari kelingku menautkannya dengan kelingkingnya. “ Apa kau bisa melihatnya?”

Kutatap umma bingung. “ Melihat apa?”

“ Takdir benang merah di jari kelingkingmu yang terkait dengan kelingking umma.” Umma-ku itu tesenyum lembut.

“ Umma.. Takdir benang merah itu kan hanya mengikat kita dengan jodoh kita..” Aku cemberut mendengar celotehan umma.

Umma tertawa pelan. “ Tapi menurut umma lain. Nggak hanya jodoh yang diikat dengan benang takdir itu. Tapi segala hal yang berhubungan dengan manusia itu sendiri. Bagi umma, saat ini benang merah yang terikat itu sudah bercabang- cabang menjadi beberapa benang yang kini terikat di jari appa, juga saudaramu yang lain. Benang merah itu benang takdir, dan takdirlah yang mempersatukan kita semua dalam sebuah keluarga. Jadi benang itu juga terikat di jari kita semua.”

Aku masih belum paham dengan penjelasan umma.

“ Takdir itu sesuatu yang nggak bisa diputuskan. Ya, benang merah itu nggak bisa diputus karena nggak ada yang bisa melihatnya.” Umma meraih tanganku dan menyentuhkan tanganku didadaku. “ Tapi bisa dirasakan.. Apa kau bisa merasakannya?”

Aku diam.

“ Perasaan yang kuat yang umma rasakan terhadap kalian semua ini nggak akan berubah meski kita berada jauh, chagiya.. Dua tahun.. Sekalipun bertahun- tahun lamanya, kita semua nggak akan berubah. Hanya tempat dan waktu yang berubah, tapi semua akan tetap sama.” Kulihat mata umma berkaca- kaca. “ Kita ini keluarga, nggak akan ada satupun hal yang akan menghancurkan keluarga kita meski salah satu anggotanya pergi ketempat yang jauh. Keluarga tetap keluarga. Kami akan menunggumu kembali, chagi..” Kali ini air mata umma sudah menetes.

Appa sepertinya nggak sanggup membiarkan umma melanjutkan ucapannya. Appa kembali merangkul bahu umma. Appa-ku menatapku lembut dengan senyuman khasnya. “ Ini rumahmu, chagi.. Tempat dimana kau akan pulang.. Meski kau akan meninggalkannya, kami yakin kau akan tetap kembali kesini. Karena itu.. Kami pasti akan menunggu saat dimana keluarga kita bersatu lagi.. Berapa lamapun waktu yang dibutuhkan.. Semuanya akan menunggu.”

Umma menyandarkan kepalanya dibahu appa dan menghapus air matanya.

Appa tertawa pelan. “ Ikatan keluarga itu satu- satunya hal yang nggak akan bisa diputuskan. Jadi jangan takut sesuatu akan terjadi, sekalipun sesuatu terjadi kau harus percaya kami akan baik- baik aja. Dua tahun memang sangat lama.. Tapi kalau kau peraya pada keluargamu, nggak akan terasa.”

Aku menengadah sambil memejamkan mataku.

Brugh! Kakiku sudah lemas dan aku menutup wajahku.

Air mataku nggak bisa berhenti. Apa yang kupikirkan? Kau bodoh Kim Heehul.. Kalau keluargamu saja bisa mempercayaimu sampai seperti ini, kenapa kau ragu pada mereka?

Appa benar.. Dua tahun itu nggak akan terasa kalau aku memperayai pada hari dimana aku bisa berkumpul lagi dengan keluargaku. Dan aku akan mempercayai hal itu. Aku pasti akan kembali dan berkumpul dengan mereka.

Ya.. Karena mereka keluarga yang penting untukku.

Hankyung langsung memelukku yang sudah terisak pelan. “ Kau merasa tenang sekarang?” Bisiknya lembut.

Aku mengangguk.

“ Sudahlah noona.. Sejak kapan noona-ku yang galak jadi cengeng, sih?” Kucoba membuka mataku yang sedikit buram karena air mata untuk melihat Kyuhyun yang berdiri disamping Yesung dan Wookie yang tersenyum. Seluruh keluargaku berdiri dihadapanku.

“ Jadi apa keputusanmu, chagiya?” Tanya umma.

Aku mengangguk sambil mencoba menghapus air mataku. Kali ini aku tersenyum. “ Aku akan pergi.” Jawabku mantap.

0o0o0o0o0o0o0

Sebenarnya aku mau menunda kepergianku ke Kanada, karena sebulan lagi acara kelulusan Wookie dan Kibummie. Tapi nggak bisa..

Yah, Yesung sudah janji dia akan mengirimiku album pesta perpisahan mereka ke Kanada. Jadi nggak masalah deh..

Kutatap nomor penerbangan yang akan berangkat lima belas menit lagi. “ Aku harus langsung ke pesawat.” Gumamku.

“ Pasti sepi kalau noona nggak ada.” Runtuk Kyuhyun. Kutatap magnae-ku sambil tersenyum lembut. Kyuhyun balas tersenyum kearahku. Ini pertama kalinya aku dan Kyuhyun saling tersenyum selama ini.

“ Aku pasti akan kangen sama kamu magnae menyebalkan.” Balasku.

Kyuhyun nyengir bangga. Kuputuskan untuk menghampiri kedua adik yeojaku yang matanya sudah sembab. “ Kalian berdua harus jaga diri, ya.. Aku nggak mau kalian berdua disakiti sama namja.” Kulirik Yesung serius.

“ Arraseo. Aku memang nggak akan nyakitin Wookie. Dan aku yakin Kibummie juga akan baik- baik aja noona.” Balas Yesung.

“ Heechul eonnie jaga diri, ya..” Wookie memelukku sebentar lalu Kibum.

“ Kalau ada apa- apa langsung kabari kami.” Lanjut Kibum.

Aku mengangguk dan berjalan mendekati appa dan umma. Kupeluk appa lalu memeluk umma. “ Doakan aku, ya..” Gumamku sambil melepas pelukanku dari umma.

“ Tentu chagi..” Umma tersenyum.

Appa mengusap kepalaku lembut. “ Jaga dirimu baik- baik.”

“ Nae, appa..”

Kali ini untuk yang terakhir. Aku menatap kearah Hankyung yang tersenyum lembut. Hankyung menarik tanganku agar segera berjalan mendekatinya. “ Ada yang mau aku serahkan padamu.” Ucapnya.

“ Apa?”

Hankyung merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan sebuah cincin perak.

Cincin?

Kutatap namja itu nggak percaya. “ Hankyungie?”

“ Setelah kau pulang.. Dua tahun lagi.. Maukah kau menikah denganku?”

Air mataku mengalir lagi. Apa yang terjadi saat ini mimpi? Hankyung.. Melamarku?

“ Mau kan?”

Aku mengangguk. “ Aku pasti kembali dua tahun lagi. Dan kau harus menepati janjimu.” Ucapku.

Hankyung tesrenyum sambil menyematkan cincin itu di jari manisku. Cincin itu terlihat sangat manis. Kutatap Hankyung. “ Saranghae..” Aku langsung sedikit berjinjit untuk menium bibir namja itu.

Hankyung balas mencimku.

Aku.. Pasti akan kembali. Aku akan berusaha sebaik mungkin disana. Nggak akan kusia- siakan semangat yang diberikan keluargaku.

Tunggu aku..

0o0o0o0o0o0o0

Dua tahun~

Kulangkahkan kakiku keluar dari wilayah Incheon airport. Kenapa nggak ada satupun orang yang menjemputku? Aku nggak salah ngasih kabar, kan? Aku bilang aku akan pulang hari ini dan umma bilang akan menjemputku bersama yang lainnya.

Tapi ini.. Sudah jam sebelas siang.. Belum ada yang datang..

Zret! Sebuah modil berhenti dihadapanku.

Brak! Tanpa aba- aba pintu mobil itu terbuka dan seseorang langsung menariku masuk kedalam mobil hitam itu.

“ Heyo! Siapa kalian!” Seruku marah sambil menampar namja yang menarikku.

“ Aaw.. Sakit noona! Dua tahun di Kanada ternyata tetap galak!”

Eh.. Suara ini..

Aku mencoba menatap namja yang duduk disampingku. Ya! Muka menyebalkan itu! Kyuhyun!

Kyuhyun menatapku bête. “ Sakit noona..” Namja itu memakai jas yang sangat lengkap.

“ Noona! Kau kelihatan beda! Kok jadi cantik?”

Aku mencoba melihat siapa yang menyetir mobil dan si kepala besar itu. Berbeda sekali, rambutnya di cat pirang dan sudah agak panjang. Dia juga mengenakan satu stel jas hitam. “ Yesung?”

Yesung menoleh kearahku sambil tersenyum. “ Lama nggak ketemu noona nggak mengenali kami?”

“ Ma-mana yang lain..?” Tanyaku cepat.

“ Ada di tempat tujuan..” Kulirik Kyuhyun yang sudah memamerkan senyum iblis khasnya yang sudah sangat lama nggak kulihat.

Yesung berhenti disebuah toko.

“ Ayo keluar!” Namja itu langsung menarikku keluar dari mobil dan masuk ke dalam toko itu. “ Sungmin! Sanderanya datang!” Seru Yesung.

Sandera?

Sungmin langsung berlari menghampiri kami bertiga. Yeojya itu terlihat sangat cantik dengan mengenakan gaun formal berwarna pink yang terlihat sangat lembut. Rambut pirangnya sudah panjang dan dibuat bergelombang. Sungmin cantik sekali.. Sayang banget Kyuhyun yang mendapatkan yeojya seperti dia.

“ Ayo, eonnie..” Sungmin menarikku kesebuah ruangan.

“ Eh? Tunggu! Kalian mau apa?”

Sungmin hanya tertawa pelan dan menarik sebuah gaun kearahku. Gaun putih yang sangat cantik. Gaun pengantin!

Yeojya itu langsung membantuku memakai gaun itu. Aku bingung dan nggak bisa berontak sama sekali. Apa yang mereka rencanakan sebenarnya? Ini konyol! Aku kan baru kembali dari Kanada!

Setelah memakai gaun itu, seorang yeojya langsung merias wajahku.

“ Selesai..” Sungmin menuntunku perlahan keluar dari ruangan persiapan tadi. Diluar Yesung dan Kyuhyun menatapku kaget. “ Bagaimana? Cantik kan?”

“ Wow! Noona! Kau sangat cantik!” Seru Kyuhyun.

“ Sebenarnya kalian mau apa, sih?”

“ Udah diem aja..” Yesung berjalan keluar dari toko.

Apa yang mereka rencanakan..?

Sekitar jam dua belas siang Yesung berhenti di suatu tempat. Kali ini tempat yang membuatku nyaris jantungan. Oh Tuhan! Ini kan gereja? Mau apa kami kesini dengan dandanan kayak begini?

Yesung, Kyuhyun dan Sungmin turun lalu membantuku turun dari mobil. Sungmin langsung berlari masuk kedalam gereja itu meninggalkan Kyu dan Yesung yang berjalan menuntunku.

“ Katakan padaku apa yang terjadi?” Tanyaku nggak sabar.

Yesung tersenyum sambil menatap lurus kedepan. “ Noona.. Semoga kau bahagia..”

“ Ini pesta untuk menyambut kepulanganmu.” Lanjut Kyuhyun.

Kami  bertiga masuk kedalam gereja itu.

Dan apa yang aku temukan..? Umma, appa, Wookie, Kibum, Siwon, Sungmin dan beberapa orang yang aku kenal berdiri di dalam gereja. Ada satu namja yang membuatku kaget saat menatapnya.

Namja tinggi itu berdiri di depan altar dengan menggunakan jas putih yang membuatnya terlihat sangat tampan.

Kyuhyun dan Yesung berjalan meninggalkanku dan digantikan oleh appa yang menuntunku berjalan menyusuri wilayah gereja itu.

“ A-appa.. Sebenarnya..” Aku melirik kearah umma yang menatapku sambil menangis terharu dengan senyum lembutnya. Kedua adik yeojya-ku juga tersenyum sambil menganggukkan kepalanya padaku.

“ Selamat datang, chagiya.. Kami sudah mempersiapkannya sejak lama. Ini adalah pesta penyambutan kepulanganmu. Semoga kau bahagia..” Kami berhenti tepat di depan Hankyung dan seorang pastor.

Hankyung tersenyum sangat manis dan membungkuk hormat pada appa.

“ Jaga dia Hankyung.” Ucap appa.

Hankyung mengangguk dan langsung meraih tanganku. Membimbingku menaiki dua anak tangga menuju altar suci itu.

“ Hankyung.. Ini..?”

“ Pesta pernikahan kita.. Bukannya aku sudah bilang.. Dua tahun lagi, saat kau pulang, kita akan menikah, chagiya..”

Aku ingat ucapannya..

Jadi ini.. Pernikahan kami..?

“ Hankyung bersediakah kau mengambil Kim Heehul sebagai istrimu, pendamping setiamu dan akan selalu menjaga serta menyayanginya dalam sehat maupun sakit?”

Jantungku berdegup kencang mendengar ucapan pastor itu.

“ Ya..” Saat kata itu diucapkan Hankyung, aku merasa kebahagiaan langsung merasukiku. “ Aku bersedia.” Lanjutnya dengan sangat jelas.

“ Dan kau Kim Heechul, apakah kau akan menerima Hankyung sebagai pendamping hidupmu dan akan selalu berbakti kepadanya dalam keadaan sehata ataupun sakit?”

Kutarik nafas sebentar. Aku nggak mau suaraku gemetar saat mengucapkan janji ini. “ Iya. Aku bersedia.”

Kurasakan air mataku mengalir.

“ Dengan begini, dihadapan Tuhan dan ikatan suci, kalian telah resmi menjadi sepasang suami-istri.” Ucap sang pastor itu.

Hankyung meraih tanganku dan menarik cincin perak yang dulu disematkannya dua tahun yang lalu. Digantinya dengan sebuah cincin yang lebih indah. Cincin pernikahan kami.

Kututup mulutku untuk menahan isakanku. Hankyung membuka tudung pengantin yang sejak tadi menutupi wajahku. Senyumannya.. Senyuman yang paling kurindukan.

“ Saranghae..” Gumamnya.

Aku mengangguk. “ Nado, saranghae..”

Hankyung menunduk dan langsung mencium bibirku lembut. Aku balas menciumnya. Hankyung.. Aku benar- benar bahagia bisa menjadi pengantinmu. Terima kasih karena telah mencintaiku.

Umma.. Appa.. Dan adik- adikku yang lain..

Jeongmal gomawoyo..

Saranghae..

.

~Last story is Fin~

.

OMAKE

Enam bulan telah berlalu sejak acara pernikahan Hankyung dan Heechul. Hari ini keluarga Kim mengadakan pesta kebun untuk merayakan Kyuhyun yang baru aja menjadi pemenang tunggal di kompetisi gamers. Dasar magnae yang nggak berubah.

Tentunya ada hal yang special karena Siwon dan Sungmin ikut bergabung.

“ Kyu!” Yesung langsung menggeplak kepala Kyuhyun begitu sadar si magnae sedang merekam dirinya yang sejak tadi lagi mojok sama Wookie.

Kyuhyun kembali cengengsan dan mengarahkan handycam ke Sungmin yang sedang memanggang barbekyu dengan Jungsoo. “ Yah.. Umma dan calon menantunya akur!” Seru Kyuhyun dan mengarahkan kamera itu ke Siwon yang sedang duduk sambil ngobrol dengan Youngwoon.

“ Kali ini cuma adegan ngebosenin.” Cibir si magnae. “ Ah, Kibum noona! Gosong!”

Kibum tersentak saat sadar kalau roti yang dipanggangnya udah gosong gara- gara yeojya itu sibuk ngeliatin Siwon karena khawatir Youngwoon nggak suka sama pacarnya. Ini kan pertama kalinya dua namja itu ngobrol secara resmi.

Kyuhyun langsung tertawa geli.

“ Magnae aneh! Sini aku yang rekam!” Yesung langsung mengambil alih kamera. Dan merekam kearah Heechul yang sejak tadi duduk santai di dekat Wookie sedangkan suaminya udah gabung sama Youngwoon.

“ Ugh!” Gelagat Heechul membuat kedua namja itu diam dan melepaskan pandangan dari handycam.

“ Eonnie kenapa?” Tanya Wookie.

Heechul menutup mulutnya. “ Aku..” Sebelum selesai bicara, Heechul langsung lari masuk ke rumah.

Semua mata langsung tertuju pada Hankyung yang cuma bisa bengong.

“ Dia sakit?” Tanya Jungsoo khawatir.

Hankyung menggeleng. “ Biar kulihat dulu.” Namun sebelum Hankyung beranjak masuk ke rumah Heechul sudah kembali dengan wajah pucat. “ Kau sakit, chagi?”

Heechul kelihatan menggeleng lemah. “ Aku hanya mual.” Jawabnya.

Mendengar satu jawaban itu Yesung dan Kyuhyun membulatkan mata mereka nggak percaya.

“ Eonnie! Apa eonnie udah haid bulan ini?” Tanya Sungmin cepat.

Heechul diam menatap Jungsoo yang juga nggak sabar menanti jawabannya. Heechul menunduk. “ A-aku.. Telat dua bulan..” Bisik yeojya itu.

“ Yay! Umma dan appa akan jadi kakek dan nenek!” Seruan Kyuhyun membuat suasana yang hening langsung heboh.

“ Noona akan punya anak!” Seru Yesung nggak kalah heboh.

“ Chukkae!” Wookie langsung berlari memeluk Heechul. “ Chukkae, noona..”

Heechul hanya menatap keluarganya bingung. Dialihkan tatapannya ke Jungsoo dan Youngwoon yang tersenyum.  Hankyung langsung merangkul pinggang Heechul dan mencium kepala yeojya itu lembut.

“ Kita akan menjadi orang tua, nih..” Gumamnya santai.

Heechul tertawa pelan. Tapi ada satu perasaan yang kini menyelimutinya. Antara perasaan bahagia, terharu dan sedih. Ya, dia memang sangat bahagia sekarang. Ditengah keluarganya dan keluarga kecilnya dengan Hankyung. Penantiannya selama dua tahun terbalaskan dengan keutuhan keluarga yang semakin bertambah.

“ Aku.. Bahagia..” Gumam Heechul pelan.

.

TAMAT!

2 thoughts on “My Destiny (Chapter 2 of 2)

  1. semua terasa banget : keluarga, percintaanya…kim family yang paling aku suka
    ada rencana melanjutkan ke series 3 ga nieh?? ^_^
    top dech pokoknya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s