My Destiny (Chapter 1 of 2)

KIM FAMILY SERIES 2

Cast ::

Kim Youngwoon as Appa

Kim Jungsoo as Umma

Kim Heechul as 1st Daughter

Kim Yesung as 1st Son

Kim Ryeowook as 2nd Daughter

Kim Kibum as 3rd Daughter

Kim Kyuhyun as 2nd Son

Figur ::

Hankyung

 

Last Story ::

My Destiny

 

Pov :: Kim Heechul

.

Kuarahkan kamera polaroidku kearah Kyuhyun dan Yesung yang sejak tadi masih belum menyadari keberadaanku. Wookie dan Kibum yang sejak tadi menahan tawa dibelakangku sudah menarik- narik kemejaku nggak sabar.

Untungnya kedua namja yang memang lagi serius itu nggak sadar dengan keberadaan kami.

Aku menoleh sebenatar menatap kedua adik perempuanku itu. Sambil menyunggingkan senyuman iblis andalan Kyuhyun yang sudah kupelajari, aku memberi isyarat pada keduanya untuk memulai aksi pembalasan.

Dan seakan mengerti, mereka mengangguk. Dan saat itu juga…

“ Kyaaaa!!!!!” Kibum dan Wookie menjerit disaat yang bersamaan.

Suara kedua yeojya itu terdengar melengking bahkan aku berani bertaruh kalau kami ada di gunung es maka esnya akan runtuh.

“ MWO!” Kedua namja yang tadinya sibuk sama PS itu langsung loncat kaget dan menunjukkan ekspresi yang…

Hmm…

Kelewat babbo.

Jepret! Kuambil foto mereka berdua yang berwajah sangat bagus. Haha..

“ Yaey! Dapat!” Seru Kibum yang pertama sambil tertawa geli.

Yesung dan Kyuhyun masih menatap kami bertiga dengan tampang horror. Hasil foto yang baru kuambil langsung keluar dari kameraku dan kutatap foto excellent itu. Benar- benar maha karya yang keren!

“ Ka-kalian..” Yesung yang pertama sadar dari shocknya. “ Difoto hah!”

“ Kabur!” Wookie langsung menarik tangan Kibum dan berlari menuruni tangga kabur dari kamar Kyuhyun. Aku sih masih berdiri di ambang pintu kamar Kyuhyun dan menatap dua namja itu yang masih memasang tampang konyolnya.

“ No-noona.. Itu..” Kyuhyun mulai bersuara.

“ Aku dapat tugas mencari foto ekspresi yang diluar dugaan.” Senyum licik terulas diwajahku. “ Kuucapkan untuk kalian berdua dongsaeng yang paaaaaling baik karena mau menyumbangkan ekspresi yang diluar dugaan itu dengan gratis.” Kukibas- kibaskan hasil fotoku.

“ Noona!” Seruan Kyuhyun dan Yesung yang bersamaan membuatku langsung sadar.. Bahaya mendekat! Oke, kabur Kim Heechul!

Haha.. Dasar dongsaeng pabbo.. Rasakan.. Biasanya mereka berdua yang mengolokku, sekarang saatnya aku gantian yang menggoda mereka.

Aku langsung turun dan berlari ke dapur. Wookie dan Kibum masih tertawa geli di dapur sedangkan umma yang sedang duduk santai di kursi sambil meminum teh cuma bisa geleng- geleng keheranan dengan sikap kami.

“ Noona kekanak- kanakkan!” Kudengar suara dua namja itu masuk ke dapur.

Tawa Wookie dan Kibum semakin keras. Aku memilih duduk santai disamping umma tanpa memperhatikan kedua namja yang memang menyebalkan itu. Yah.. Punya dongsaeng macam Yesung-Kyuhyun memang amat sangat nyebelin!

“ Noona nggak dewasa!” Kali ini runtukkan si magnae yang terdengar.

Kualihkan pandanganku menatapnya. “ Aku kan masih remaja.. Jadi santai aja kali..” Balasku dengan nada menggoda. Kyuhyun melongo. Haha.. Itu kan kalimat kesukaan Kyuhyun kalau aku mengatainya nggak dewasa. Kali ini gantian aku yang bilang, Kyu..

Catch you babbo magnae..

0o0o0o0o0o0o0o0

“ Heyo..”

Satu suara itu membuatku langsung menoleh. Hankyung langsung melingkarkan lengannya dibahuku dan mencium kepalaku lembut. Ah, biar kuperkenalkan.. Tapi kalian pasti sudah tahu siapa dia, kan?

Hankyung, pacarku.

Hankyung berjalan memutariku dan duduk dihadapanku. Tangannya langsung mengambil salah satu hasil fotoku yang kuletakkan diatas meja dan memperhatikannya. “ Sudah lama?” Tanyanya tanpa menatapku.

Kubalas dengan gumaman kecil. “ Kau yang terlalu lama..”

Hankyung tertawa lembut dan mengambil foto lainnya. “ Sudah kubilang aku ada persiapan menjelang ujian, jadi agak telat. Salah Heenim sendiri nggak mau ke kelasku.” Mata polosnya menatapku lembut.

Aku suka sekali saat kedua mata itu menatapku. Aku tersenyum. “ Aku malas.” Jawabku. “ Ah, lalu bagaimana dengan hasilnya? Bagus, kan?” Kuambil foto Kyuhyun dan Yesung yang kudapatkan kemarin. “ Ini yang paling aku suka. Ekspresi yang polos.” Tawaku pecah.

Hankyung mengambil foto yang kuambil tadi dan langsung tertawa pelan. “ Ini sih langka. Hebat sekali ekspresi keduanya.” Tambahnya. Ia kembali menatapku. “ Aku kira kau akan mengambil konsep gambar keluargamu seperti pameran tahun lalu.”

Kualihkan pandanganku ke beberapa mahasiswa yang berkeliaran disekitar kami. “ Aku.. Ingin foto yang lain. Aku ingin memakai gambar salah satu dari adikku.”

Hankyung berdiri dan mengubah posisi duduknya jadi disebelahku. Dengan lembut Hankyung merangkul bahuku dan menyandarkan kepalaku dipundaknya. “ Heenim.. Saranghae..” Bisiknya lembut.

Eh? Tumben..

Jarang sekali Hankyung bersikap begini secara tiba- tiba.

Ah.. Tapi.. Gwaenchana.. Aku suka setiap kali ia memperlakukanku dengan sangat lembut. Aku senang setiap jemarinya menyentuhku dengan lembut. Iya.. Itu karena aku terlalu mencintainya.

Kupejamkan mataku dan merapatkan kepalaku dibahunya. “ Nado, Hankyungie..”

Aku memang sangat mencintainya.

Tapi.. Masih ada yang lebih kucintai dari pada Hankyung.

Yap, keluargaku..

Meski keluargaku sedikit berbeda. Seperti yang semua tahu, keluargaku itu terbilang unik karena aku dan keempat adikku sama sekali nggak memilikim hubungan darah satu sama lain. Bahkan dengan umma dan appa juga nggak ada ikatan. Kami hanya anak angkat yang dibesarkan umma dan appa.

Tapi meski begitu, aku sangat mencintai keluargaku..

Meski ada si magnae bodoh ataupun si kepala besar yang suka membuatku marah- marah dan kesal hampir setiap hari. Aku tetap menyayangi mereka. Mereka harta berharga yang nggak bisa dinilai dan nggak tergantikan. Meski apapun yang terjadi, aku nggak akan meninggalkan mereka..

Iya..

Aku memang nggak akan meninggalkan mereka..

Sampai kapanpun.

0o0o0o0o0o0o0

Hari ini ada pengumpulan foto. Yah.. Sebelum pulang aku harus menemui dosen mata kuliahku untuk membicarakan tentang hasil fotoku.

Tema pameran kali ini adalah Beauty in the Beast. Ada yang mengerti maksudnya? Hmm.. Biar kujelaskan sedikit. Jadi maksudnya itu dalam foto yang kita tampilkan harus menunjukkan kesan keindahan artistik pada sebuah gambar atau media yang sebenarnya jelek dimata orang. Kita harus menunjukkan sisi keindahan itu dengan sebuah kamera.

Dan saat ini.. Dosenku sedang melihat hasil fotoku..

Tatapan matanya berhenti pada foto kedua dongsaeng namjaku.

Sooman-sshi itu menatapku. “ Ini…”

“ Itu kedua adikku.” Jawabku cepat sebelum ia melanjutkan pertanyaannya.

Sooman-sshi menatapku heran. Ia menaikkan kacamatanya dan kembali menatap foto itu. “ Bisa kau jelaskan maksud dari gambar ini, Heechul-sshi? Aku tahu disetiap karyamu pasti menyimpan sesuatu seni yang bisa dibanggakan. Tapi ini..”

“ Bisa anda lihat dari ekspresi mereka..” Aku memulai penjelasanku.

“ Ekspresi kaget yang menurutku…” Dia kembali diam nggak melanjutkan kalimatnya.

Aku mengangguk sekali. “ Sebuah foto bisa mempelihatkan sesuatu yang nggak terlihat mata. Keduanya terkejut dengan wajah yang aneh, buat orang yang hanya melihatnya dengan otak memang nggak bagus. Tapi ada sesuatu yang membuat foto itu menaik perhatianku..”

“ Apa?” Sooman-sshi menatapku nggak sabar.

“ Sebuah ikatan keluarga..” Jawabku pelan. Kutarik nafasku. “ Dibalik foto aneh itu ada sebuah ikatan dan kehangatan keluarga yang kuat, kan? Coba lihat bagaimana ekspresi keduanya. Sebuah foto nggak hanya menampilkan gambar objeknya, tapi juga bisa menangkap aura yang terpancar dari objeknya.”

“ Ah.. Arraseo.” Balas Sooman-sshi. “ Itu memang cirri khasmu. Semua hasil fotomu selalu berkesan lembut dan hangat. Kurasa itu karena didikan keluarga yang sangat baik. Kau memang berbakat.” Sooman-sshi tersenyum bijak kearahku.

Didikan yang sangat baik..

“ Kamshahamnida.” Aku menunduk sopan.

Sooman-sshi kembali merapihkan foto- fotoku dan memasukkannya ke map coklat yang tadi kuserahkan padanya. Ia menyerahkan hasil foto itu padaku. “ Aku setuju jika kau memakai foto kedua namja itu. Memang kalau dari segi fotografismu, semua hal yang unik bisa terlihat baik.”

Kuambil map coklatku dan membungkuk hormat. “ Nae, kamshahamnida.” Ucapku sekali lagi. “ Aku permisi. Annyeong.”

Kulangkahkan kakiku berjalan keluar dari ruang pengajar.

Yah.. Aku kan memang sudah memutuskan akan memakai foto dua namja itu. Meski sedikit yang akan tertarik, gwaenchana. Aku tetap ingin menampilkan kesan keluarga dihasil karyaku.

Seperti biasa, Hankyung sudah berdiri menungguku di depan ruang pengajar.

Dia tersenyum lembut. “ Bagaimana?”

“ Setuju. Foto Yesung dan Kyuhyun bisa dipakai.” Jawabku penuh semangat sambil berajalan pelan mendekati Hankyung.

Sebelum aku berada tepat didekatnya, namja Cina itu langsung menarik tanganku dan menarik wajahku. Dengan lembut dia mencium bibirku sekilas dan tersenyum sangat manis.

Omona.. Jantungku… Aiish. Aku yakin wajahku sekarang pasti udah merah banget!

“ Baguslah..” Ia kembali mengusap kepalaku lembut. “ Aku tahu kau pasti sangat senang. Karena itu aku juga senang mendengarnya.”

Aku mengangguk sambil mengalihkan tatapanku dari wajah namja itu.  “ Gomawo..” Bisikku.

Hankyung langsung menarik tanganku dan berjalan menyusuri koridor. “ Malam ini.. Jalan denganku, ya..”

Aku masih nggak mau menatap Hankyung.

Entah kenapa aku merasa malu sekali. Yah.. Memang sih itu bukan ciuman pertama kami. Tapi aku merasa ada yang aneh.. Sensasi yang membuatku merasa geli. Aah.. Ada apa sih denganku? Kacau deh!

0o0o0o0o0o0o0

Kutatap wajahku yang terpantul di cermin.

Sempurna..

Kreek- Kudengar pintu kamarku terbuka perlahan. Aku langsung menoleh dan kulihat Yesung berdiri di ambang pintu kamarku. Menatapku.

Apa dia mau minta foto yang kemarin.

“ Mau kemana?” Tanyanya singkat.

Kuputar tubuhku agar mengarah kepadanya. “ Pergi dengan Hankyung. Wae?”

Yesung mengangguk dan memilih berjalan ke arah tempat tidurku lalu duduk. Matanya masih terus menatapku. “ Apa noona nggak memikirkan sesuatu.. Hmm.. Tentang.. Masa depan noona begitu?”

Sepertinya adikku ini ingin membicarakan hal yang cukup serius. “ Maksudmu?”

“ Yah.. Noona kan yang paling tua.” Yesung nyengir begitu dia mengucapkan kata tua. Huh, dia meledekku rupanya? Raut wajahnya kembali santai. “ Apa noona nggak memikirkan tentang masa depan noona? Hmm.. Menikah dengan Hankyung maksudnya..”

“ Kau mau ikutan menggodaku seperti Kyu?”

Yesung kembali tertawa. “ Nggak lah, noona. Aku nanya serius nih!”

Kali ini kucoba tersenyum menatap Yesung. Namja ini memang sudah semakin dewasa. Bahkan dia sudah memikirkan tentang masa depannya. “ Bohong kalau kubilang aku nggak pernah memikirkan hal semacam itu. Yah, jujur sih aku kadang membayangkan bagaimana kalau aku menikah dengan Hankyung.. Hidup terpisah..”

“ Jadi noona sudah siap pergi dari keluarga ini?”

Yesung bisa membaca pikiranku. Kutatap raut wajahnya dengan serius. “ Aku nggak mau pergi meninggalkan keluarga ini. Cuma itu yang kadang membuatku bingung. Mungkin suatu saat aku memang akan keluar dari rumah ini.. Tapi suatu saat itu masih lama. Aku nggak mau pergi sekarang.”

Yesung tersenyum lembut. “ Sama dengan yang dikatakan umma padaku.” Yesung berdiri dan berjalan menghampiriku. Ia menepuk bahuku lembut. “ Aku tadinya juga sedikit khawatir dengan hal ini, makanya aku bertanya pada noona. Tapi sekarang aku lega, karena aku tahu keluarga kita memang nggak akan terpisah.”

“ Kadang kau bisa juga ngobrol secara dewasa denganku, Yesung.. Tumben.”

“ Noona! Aku ini udah kuliah!”

Kutepuk kepala adikku itu.

“ Wooi! Hee-noona! Pacarmu itu sudah dataaaang!” Kudengar seruan kencang si magnae menyebalkan itu dari luar kamarku. Yesung langsung tertawa mendengarnya.

“ Magnae itu memang hobi cari masalah denganku.” Gumamku sambil berjalan keluar kamar dan Yesung mengikutiku. Benar kata Kyuhyun, Hankyung sudah berdiri di dapur sambil mengobrol dengan Kyuhyun yang sibuk menatap layar PSP-nya.

“ Kalian mau makan malam?” Appa yang sejak tadi sibuk membantu umma menyiapkan makan malam menoleh kearahku. “ Jangan pulang teralu malam.” Lanjutnya.

“ Arraseo, ahjussi.” Hankyung yang menjawab. Namja itu langsung menatap kearahku dan tersenyum manis. “ Mau pergi sekarang?” Tanyanya santai.

Aku mengangguk sambil merangkul lengan Hankyung. “ Nae, umma-appa.. Dan dongsaengdeul.. Aku pergi ya..” Aku langsung menarik Hankyung meninggalkan dapur sebelum si magnae itu berceloteh iseng kayak biasa.

“ Noona! Oleh- oleh!”

Betul, kan! Kyuhyun itu mulutnya emang nggak bisa di-pause!

Hankyung tertawa pelan disampingku saat kami beranjak keluar dari rumah. Dia dan Kyuhyun itu memang sedikit sama. Pantes aja Hankyung bisa akur sama Kyuhyun. Ampun, deh…

0o0o0o0o0o0o0

Kami makan malam di N-Grill yang berada di Namsan. Kalian pasti tau dimana Namsan tower berada, kan? Salah satu tempat terindah yang bisa dikunjungi di Seoul. Ini pertama kalinya aku datang ke tempat semacam ini. Dan aku benar- benar senang karena Hankyunglah yang membawaku ke sini. Ketempat terindah.

Aku dan Hankyung melangkah keluar dari restoran. Tangan namja itu terus menggandengku dan membawaku ke balkon observasi. Malam ini nggak terlalu ramai. Aku memilih tempat yang agak jauh dari orang lain dan menatap kota Seoul.

Bisa kalian bayangakn betapa indahnya kota ini..

Lampu berwarna- warni yang dipancarkan dari toko- toko atau lampu jalan dan mobil yang berada di Seoul terlihat bagaikan jutaan batu berkilauan warna- warni yang terpancar dari lautan gelapnya malam. Dilangit bertaburan bintang, di Seoul juga bertaburan banyak bintang yang lebih indah.

“ Kau suka?” Hankyung memeluk pinggangku sambil menumpukan dagunya dibahuku.

Aku mengangguk. “ Arumdapta.” Gumamku pelan tanpa mengalihkan pandanganku ke Hankyung. Rasanya mataku terlalu enggan dialihkan dari pemandangan ini. “ Gomawo.” Lanjutku lagi.

Hankyung mencium rembutku. Aku bisa mendengar suara nafasnya yang pelan dan teratur. “ Cheonmaneyo.. Aku senang kalau kau suka, chagiya..”

“ Kenapa nggak ngajak aku kesini sejak lama? Ini kan pertama kalinya kita kesini.” Balasku.

Hankyung tertawa lembut. “ Karena malam ini special.”

Dia bilang apa barusan? Spesial?

Perlahan aku melepaskan pelukan Hankyung dan memutar tubuhku agar menatap namja tinggi itu. “ Spesial bagaimana?”

Hankyung tersenyum polos. “ Tada!” Tiba- tiba namja itu mengangkat tangannya yang kini sudah memegang sebuah gembok plus kuncinya. Tunggu dulu.. Apa aku nggak salah lihat? Kok gembok?!

Kutaikan satu alisku.

Hankyung masih tersenyum polos. “ Apa ini?” Tanyanya.

“ Gembok?”

Mendengar jawabanku entah kenapa namja itu langsung tertawa dan menepuk kepalaku lembut. “ Ya, Heechullie.. Padahal kamu itu kan yeojya, tapi kamu nggak ngerti maksudnya?”

Apa sih yang dia bicarakan?

“ Sini ikut aku!” Hankyung menarik tanganku dan mengajakku mendekati sebuah tempat yang kali ini sedikit ramai. Ada beberapa pasangan kekasih yang sibuk di sesuatu yang kami dekati. Dan saat aku melihat apa itu..

Pagar kawat yang dipenuhi gembok?

“ Ini apaan sih?” Tanyaku sambil memperhatikan gembok- gembok yang dipasang itu. Di gemboknya terukir nama dua orang. Hmm.. Kalau menurut pemahamanku, itu pasti nama namja dan yeojya.

Hankyung langsung merangkul bahuku. “ Ini pagar kawat. Banyak orang percaya kalau ada pasangan yang mengunci gembok yang sudah diukir nama mereka disini dan gembok itu nggak terbuka, maka mereka akan selalu bersama.”

Kutatap Hankyung. Haahh.. Aku baru paham!

Hankyung tersenyum lembut dan memperlihatkan gembok itu lagi. Dia berjalan mendekati sepasang kekasih dan meminjam pen mereka. Setelah beberapa saat Hankyung sudah kembali lagi. Ia memperlihatkan gembok itu padaku.

“ Bagaimana?”

Kuperhatikan gembok itu.

Kim Heechul..

Hankyung..

Ada nama kami berdua..?

Aku benar- benar nggak bisa menggambarkan perasaanku saat ini. Hatiku terasa sedih, terharu, senang, pokoknya semua perasaan itu kini campur aduk dalam hatiku.

Hankyung merain tanganku dan menarikku lebih dekat ke pagar kawat itu. “ Pasangkan gembok dan kunci.” Perintahnya lembut.

Aku menurutinya.

Dengan gemetar kupasang gembok itu.

Cklek! Kuncinta kini terpasang.

Aku menoleh menatap Hankyung yang sudah tersenyum lembut. Hankyung kembali menarikku ke arah tempat observasi terbuka dan dengan santai dilemparkannya kunci itu jauh keluar sana. Kunci itu langsung hilang ditelan kegelapan malam kota Seoul.

“ Dengan begitu nggak akan ada yang bisa membukanya.” Gumamnya.

Aku menolehkan kepalaku menatap Hankyung. Kali ini kurasakan air mataku mengalir. Aku terlalu bahagia dengan semua ini. Saking bahagianya aku jadi sangat sedih..

“ Hiks.. Go-goma-gomawo..” Isakku tertahan.

Aish, Hangkyungie.. Aku nggak bisa menahan tangisku ini. Mianhae..

Hankyung mengangkat wajahku. Senyuman lembutnya masih terpasang. Jemarinya dengan lembut menghapus air mataku. “ Aku melakukannya bukan karena aku mau melihat Heechul menangis. Tersenyum, yaa..” Pintanya manja.

Kau nggak tahu betapa bahagianya aku, kan..

Tersenyum itu susah kalau sedang menangis!

Kualihkan wajahku dari Hankyung. “ Apa.. Apa itu harapanmu?”

“ Harapan?”

Aku mengangguk. “ Apa kau memang ingin bersama denganku selamanya?” Suaraku tertahan. Aku merasa takut untuk menanyakan hal ini pada Hankyung. Aku takut dia akan menjawab..

“ Tentu.”

Aku mematung.

“ Aku serius.. Aku ingin bersama denganmu selamanya..” Namja itu lagi- lagi menarik wajahku agar menatapnya. Aku nggak bisa melihat kebohongan di sorot matanya yang selalu terlihat polos itu.

Hankyung..

Air mataku semakin mengalir deras.

Hankyung perlahan mendekatkan wajahnya kewajahku. Dan dengan lembut ia mencium bibirku. Air mataku semakin tumpah ditengah ciuman kami. Kupeluk Hankyung dan dia balas memelukku erat.

“ Saranghae..” Bisik namja itu disela ciuman kami.

“ Nado.” Jawabku singkat.

0o0o0o0o0o0o0

Kadang orang berpikir kalau aku ini yeojya yang nggak beruntung..

Waeyo?

Karena aku nggak tahu siapa keluargaku. Aku hanya anak angkat. Dan menurut mereka menjadi anak angkat merupakan suatu ketidak beruntungan. Tapi nggak buatku!

Menjadi anak angkat dikeluarga Kim adalah sebuah anugrah.

Aku merasa ini memang takdirku.

Aku nggak yakin aku akan merasakan semua ini kalau saja aku nggak ditakdirkan berada di keluarga ini. Keluarga yang sangat menyayangiku dan sangat kusayangi. Belum lagi karena Hankyung juga selalu ada disisiku. Untukku, ini adalah sebuah kebahagiaan yang nggak ada duanya.

“ Eonnie.. Kapan pamerannya?” Kurasakan Kibum beringsut menempel di lenganku. Yeojya manis itu ikut memperhatikan foto- foto yang sedang kurapihkan sebelum aku berangkat ke Sangji. “ Hari minggu juga kuliah?”

“ Aku kan harus mempersiapkan semuanya.” Jawabku santai. “ Pamerannya hari selasa. Umma dan appa katanya akan meluangkan waktu untuk datang. Kibummie bagaimana? Mau datang juga?” Kutatap adikku yang masih memandangi hasil fotoku.

Kibum bergumam kecil. “ Aku mau lihat.. Tapi nggak bisa. Aku dan Wookie eonnie kan lagi ujian.” Keluhnya sambil menyandarkan tubuhnya di sofa

Musim ujian, yaa.. Sebentar lagi juga pergantian semester..

“ Noona.. Itu fotonya mau dipakai?” Tiba- tiba Yesung sudah muncul dibelakangku sambil menyandarkan kepalanya di atas bantala sofa. “ Itu foto jelek banget, Noona.. Jangan deh..” Pintanya dengan nada memelas.

Aku langsung memasukkan foto- foto itu ke map dan memasukkannya kedalam tasku. “ Ani. Aku akan tetap memakai foto kau dan Kyu.”

Yesung langsung cemberut.

“ Udahlah oppa.. Terima aja.. Lagipula bagus kok hasilnya..” Goda Kibum dan langsung dibalas dengan jitakan dari Yesung. “ Sakit!” Saat satu kata itu mengalir dari yeojya itu tangan Yesung udah mengacak- acak rambut Kibum dan yeojya itu langsung menghindar cepat. “ Oppa!”

“ Siapa suruh ngeledek..” Yesung kembali menatapku. “ Noona..”

“ Ani.. Ani.. Ani…” Kututup telingaku sambil mengalihkan wajahku ke Wookie yang berjalan masuk ke ruang tengah dan bersandar di tubuh Yesung sambil memasang wajah aegyonya. “ Wookie.. Jaga namja itu! Aku mau kabur!” Seruku.

Wookie mengangguk. “ Siap, eonnie!” Yeojya itu langsung merangkul lengan Yesung yang mau mengejarku sambil teratawa geli. “ Fotonya bagus oppa. Sudahlah tenang aja!” Gumam Wookie santai.

Aku langsung berjalan cepat meninggalkan ruang tengah dan keluar dari rumahku.

Si Yesung itu benar- benar nggak setuju kalau fotonya kupajang. Itu kan foto yang bagus.. Dasar orang amatir yang nggak mengerti seni fotografis.

“ Heechullie..”

Suara lembut itu membuatku menoleh. Umma sedang dikebun kecilnya sambil memotong ranting- ranting kecil yang menghambat kebun kecil umma. Aku berjalan mendekati umma. “ Nae?”

“ Semangat, yaa..” Umma tersenyum lembut.

Satu senyuman itu bagaikan sihir yang membuat semua bebanku hilang. Aku tersenyum sambil mencium pipi ummaku sekilas. “ Gomawo, umma.. Aku berangkat!” Seruku sambil memutar tubuhku dan berajalan keluar dari pekarangan rumah keluarga Kim.

Semangat!

Hwaiting, Kim Heechul..

0o0o0o0o0o0o0

Pameran..

Yah, seperti yang kubilang pada keluargaku kalau hari ini karya yang akan kupamerkan adalah foto Yesung dan Kyuhyun yang sangat fotogenik itu. Haha..

Dan yang terjadi setiap kali ada pengunjung yang melihat hasil karyaku..

Hanya satu kalimat yang selalu mereka ucapkan sebelum mereka tertawa geli.

Wow, foto yang bagus!

Bagus dalam maksud yang mereka katakan itu berarti unik. Yah, aku sih nggak perduli. Kalau mereka nggak mengerti nilai seni dan ikatan yang ada di foto ini, itu bukan salah mereka Toh banyak juga para pengagum seni fotografis yang memuji fotoku.

“ Ekspresi yang benar- benar nggak terduaga..” Gumam appa.

Appa datang sekitar jam satu siang. Itu waktunya makan siang di kantornya dan dia bisa pergi sebentar kesini bersama dengan umma.

Kulirik umma yang tersenyum menahan tawa. “ Benar Youngwoon-ah.. Aku nggak tahu kalau Yesung dan Kyuhyun punya bakat sebagai model.” Goda umma dan langsung membuat appa dan Hankyung yang berada disampingku tertawa geli.

“ Apa mereka ngga ada yang datang?” Tanya Hankyung disela tawanya.

Umma menggeleng. “ Mereka semua ada urusan. Lagipula mana mau Yesung datang kesini. Dia bisa malu berat karena fotonya dipajang. Pasti akan menarik perhatian.” Jelas umma masih sambil tertawa pelan.

“ Arraseo ahjumma.” Hankyung kembali teratawa geli mendengar celetukan umma-ku.

Aigoo.. Sejak kapan umma jadi punya mulut seiseng Kyuhyun? -__-“

“ Ah, Heenim..” Seorang namja menghampiriku. Hmm.. Biar kuingat siapa dia.. Ah! Shim Changmin. Salah satu teman sekelasku. Changmin membungkuk hormat pada umma dan appa lalu menatapku lagi.

“ Waeyo, Changmin-ah?”

“ Sooman-sshi ingin bicara denganmu sekarang.” Jawab Changmin cepat.

Sooman-sshi.. Tumben banget.

“ Ada apa sih?” Selidikku penasaran.

Changmin menggeleng pelan. “ Aku nggak tahu. Lebih baik langsung temui Sooman-sshi. Ah, tapi kayaknya kabar bagus. Habisnya dia senyum- senyum sendiri. Jangan- jangan dia suka padamu, Heechul-ah..” Changmin langsung nyengir.

“ Jangan sembarangan Shim Changmin..” Balas Hankyung. “ Yeojya ini punyaku.” Lanjutnya sambil tersenyum menggoda.

Changmin kembali tertawa. “ Ah, aku bercanda Hankyung-ah. Sudah ah.. Aku mau ketempat fotoku. Annyeong.” Changmin langsung berlari meninggalkan kami berempat.

“ Lebih baik temui.” Umma menepuk bahuku lembut. “ Tapi mianhae, chagiya.. Umma harus segera pulang.”

Aku menoleh kebelakang dan kulihat appa sudah melirik jam tangannya. “ Appa juga harus kembali ke kantor. Ayo Jungsoo, aku antar kau pulang dulu.” Appa mengusap kepalaku lembut. “ Hwaiting, chagiya..” Ucapnya.

Aku mengangguk. “ Gomawo sudah menyempatkan diri datang ya appa.. umma..”

Kedua orangtuaku mengangguk dan menatap Hankyung.

“ Annyeong, Hankyung-ah..” Ucap umma dan setelah itu kedua orang tuaku langsung berjalan meninggalkan aku dan Hankyung. Yah.. Tinggal kami berdua.

“ Sana temui Sooman-sshi.. Aku akan menunggu disini.” Ucap Hankyung.

“ Oke!” Aku langsung berlari meninggalkan Hankyung.

Apa yang mau dibicarakan Sooman-sshi? Penasaran juga, sih.. Apa ada hubungannya dengan foto dan pameran hari ini? Semoga aja hal baik.. Ah, berhenti menduga- duga Kim Heechul! Cepat temui orang itu.

Graak.. Aku masuk keruangan Sooman-sshi.

“ Duduklah, Heechul-ah..” Ucap dosenku santai.

Aku menurut dan duduk di kursi tamu didepan mejanya. “ Changmin-ah bilang anda mau bicara. Ada apa?” Tanyaku tanpa basa- basi.

Sooman-sshi duduk di kursinya sambil tersenyum bangga. “ Heechul-ah, aku punya berita baik untukmu.”

Ah.. Berita baik? Woow.. Apa itu?

“ A-apa?” Aku berusaha menyembunyikan rasa penasaranku dan memberi respon biasa aja pada Sooman-sshi.

Sooman-sshi manatapku datar sejenak lalu senyumnya kembali. “ Selama ini ada seorang seniman luar yang selalu memperhatikan fotomu, dan dia mengajukan sebuah permohonan pada universitas kita..”

“ Permohonan apa?”

“ Kau akan mendapat kesempatan emas untuk menjadi siswa pertukaran dengan institute terkemuka di Kanada. Dengan ini semua bakatmu akan tersalurkan dan kau akan menjadi seorang professional yang hebat.”

Ini… Ini berita yang sangat bagus!

Kurasakan jantungku berdegup keras. Aku senang.. Beberapa hari ini aku selalu merasa bahagia.. Apa aku sedang bernasib baik.

“ La-lalu?” Kali ini rasa penasaranku nggak bisa kututupi.

Sooman-sshi mengangguk. “ Mulai semester depan kau akan pindah ke universitas SM yang berada di Kanada. Kau akan belajar selama dua tahun di Kanada.”

Ahh.. Belajar diluar negeri..?

Sesuatu yang aneh kini merasukiku. “ Tunggu.. Dua tahun di Kanada? Maksud anda..” Suaraku terhenti begitu satu pikiran kini menyelimuti otakku.

“ Ya, dua tahun kau akan di Kanada. Kau akan meninggalkan Seoul.”

Satu kalimat itu kini berubah bagaikan petir yang menyambar tubuhku.

Dua tahun..

Kanada..

Meninggalkan Seoul..

Itu artinya aku akan meninggalkan keluargaku selama dua tahun..?

Itu kan lama banget!

 

~To be continued~

2 thoughts on “My Destiny (Chapter 1 of 2)

  1. fave saya yang pertama!
    HanChul is the best!
    Hyaaa . . .
    Yg plg deg-deg-an tuh pas bagian 2nya!
    Ah, lanjut ah!
    Mau cepet2 baca yg ke 2!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s