At Seoul

“Gege.”

Seorang namja tinggi dengan hidung mancung menatap seorang namja manis yang berlari kearahnya sambil membawa sebuah biola berwarna putih.

“Mochi?”

Namja yang dipanggil mochi itu tersenyum polos sambil menjunjung tinggi biola putihnya bangga. “Aku diterima gege!”

“Diterima?”

Namja itu mengangguk senang. “Aku diterima di Seoul Music High School! Minggu depan, aku akan terbang ke Seoul!” Dia memeluk namja tinggi itu dengan senang. “Aku sangat senang gege!”

Si namja tinggi itu awalnya tidak membalas. Tapi perlahan ia memeluk namja dihadapannya ragu. Tatapannya berbeda jauh. Dia tidak senang. Tatapan matanya pilu dan tak rela. “Selamat..” Hanya itu balasan yang bisa dikeluarkannya.

.

Author :: Thena_Kim Taena

Pairing :: ZhouRy

Rated :: PG-13

Genre :: Romance

.

~Henry pov~

“Annyeong!” Aku berlari masuk ke dalam kelasku, kelas 2-A. Aku berlari ke arah kursi kosong di bagian belakang. Disampingnya sudah duduk seorang namja dengan PSP ditangannya. “Kyuhyun!”

Kyuhyun menatapku datar. “Hmm?”

“Heyo, menyebalkan sekali tanggapanmu!” Aku duduk disebelahnya. “Tahu nggak, tadi di bus aku melihat sesuatu yang bagus lho.”

“Apa?” Kyuhyun kembali menatap layar PSP-nya tanpa minat kepadaku.

“Ada kupon makan ramen gratis dengan mengikuti lomba makan ramen di kedai yang dikelola Sungmin hyung!”

Saat aku menyebutkan satu nama itu, Kyuhyun menatapku cepat. Kedua bola matanya membulat tak percaya. “Kau serius?”

Dengan cepat aku mengangguk. “Tentu!”

Kyuhyu buru- buru meletakkan PSP di atas meja. “Oke! Hari ini aku akan kesana dan aku punya alasan untuk masuk ke kedai itu! Sungmin hyung nggak punya alasan untuk melarangku datang kalau kubilang ingin ikut lomba itu.”

“Demi mendekati Sungmin hyung kau sampai mengorbankan harga dirimu, Kyu..” Kusandarkan kepalaku di atas meja dan menatap Kyuhyun geli.

“Cinta bisa membutakan semuanya.” Kyuhyun menyeringai iblis, seperti biasanya. Si raja iblis itu sepertinya sudah merencanakan sesuatu di otak liciknya. “Pokoknya Sungmin hyung akan segera jatuh dalam genggamanku.”

“Hyah.. Aku jadi iri.” Gumamku santai. Kutepuk bahu Kyuhyun santai. “Kudoakan keberhasilanmu, sobat..”

“Kau juga harus ikut!”

“Mwo! Nggak mau! Kau kira aku mau melihatmu mempermalukan dirimu dengan ikut lomba konyol itu. Oh, Cho Kyuhyun-sshi.. Jangan bermimpi!” Aku menyilangkan kedua tanganku di depan wajahku dan menggeleng- gelengkan kepalaku cepat. “Aku punya banyak kegiatan yang lebih berguna dari itu..”

“Aniya!” Kyuhyun menarik bahuku cepat dan merangkulku. “Kau harus ikut Henry Lau-sshi.. Karena masa depan percintaanku ada di lomba itu.”

“Heyo! Kalau aku ikut kau mau membayarku?”

“Ooh.. Tentu tidak!” Kyuhyun nggak melepaskanku dan tetap merangkulku. Senyuman iblisnya semakin lebar dan aura kegelapan seakan terpancar dari dirinya. Uh.. Raja setan ini selalu berhasil membuatku merinding.

Aku jadi takut membayangkan apa yang terjadi kalau namja semanis Sungmin hyung jatuh kepada raja setan seperti dia.

~Henry pov end~

0o0o0o0o0o0

Sore itu Henry dan Kyuhyun berdiri di depan sebuah kedai ramen yang menjadi tempat tujuan Kyuhyun. Diremasnya dengan bangga selebaran tentang lomba makan itu dengan semangat.

“Ayo masuk!” Baru saja Kyuhyun hendak melangkahkan kakinya ke dalam.

Byur!! Semburan air membasahinya.

Henry yang berada agak belakang hanya terkena sedikit air itu.

“Mau apa kau anak kecil?” Seorang namja putih dengan wajah manis dan gigi kelinci juga berambut hitam seleher menatap Kyuhyun sinis dengan ember ditangannya. “Kalau kau datang untuk mengacau, lupakan dan pulang sana. Anak kecil seharusnya belajar dirumah.”

“Sungmin hyung! Halooooo!” Seakan tidak memperdulikan ucapan Sungmin, si namja manis tadi, Kyuhyun bersikap sok tenang. Padahal pakaiannya sudah basah dan Kyuhyun pasti kedinginan, mengingat di Seoul saat ini sedang musim dingin.

Sungmin mendelikkan matanya dan melirik ke arah Henry tajam. “Hayo! Kau yang bilang ke dia kalau ada lomba makan ramen disini kan, Henry Lau!?”

“Mian hyung! Aku kan selalu ada dipihak Kyuhyun.” Henry nyengir.

“Hyung! Aku basah nih!” Kyuhyun langsung membuka mantel musim dinginnya dan menatap Sungmin kesal. “Ayo tanggung jawab! Hyung harus jadi namja chinguku!” Tanpa memperdulikan tampang Sungmin yang sudah marah, Kyuhyun tersenyum santai.

Sungmin melotot menatap Kyuhyun dan langsung masuk ke kedai ramennya lagi.

“Dia mau apa?” Gumam Henry. Tapi detik berikutnya Henry langsung kaget karena Sungmin sudah membawa sebuah benda yang sangat menakutkan. Sebuah tongkat kayu yang biasa digunakannya kalau latihan martial art.

Kyuhyun mematung shock dan mundur.

“Maju kalau berani.” Tantang Sungmin dingin.

“Ehe..” Kyuhyun hanya bisa tertawa garing. “O-oke… Sampai besok hyung. Besok aku akan datang lagi, yaaa…”

“Kubilang jangan datang lagi!!” Sungmin menghentakkan kakinya maju.

“Kabuuuur!” Satu aba-aba dari Kyuhyun langsung membuat kedua namja itu lari menjauh dari kedai Sungmin. Tanpa Kyuhyun sadari, mantelnya jatuh begitu saja. Kyuhyun terlalu takut dipukul Sungmin. Lebih baik selamatkan nyawa dari pada selamatkan mantel.

.

~Henry pov~

Aigoo! Aku lelah!

“Gila… Sungmin hyung itu kejam amat sih. Dia nekat!” Kyuhyun terengah- engah di sampingku sambil menghapus keringatnya yang bercucuran. “Mana saking kagetnya mantelku jatuh. Mau kuambil takut dia masih setia dengan tongkat bodohnya itu.”

Kyuhyun menatapku. “Ambilin dong, Hen..”

“Ogah ah.” Tolakku. “Kau aja yang kembali sana. Membuat Sungmin hyung si jagoan martial art itu marah sama aja bosan hidup. Aku masih belum bosan hidup.”

Kyuhyun cemberut dia langsung menendang batu yang ada dibawah kakinya secara asal.

“Kyuhyun!” Aku shock saat melihat batu itu mengarah ke sekumpulan preman yang duduk di pinggiran jalan. Dan batu naas itu mengenai kepala botak namja gendut yang duduk di sana.

Kyuhyun mematung. “Mati kita..”

Namja itu dan teman- temannya menoleh kearah kami dengan tampang marah. Wajahnya seperti monster yang siap menelan aku dan Kyu hidup- hidup. Oh Tuhan! Apa ini hari sialku?! Kok dari tadi aku kena masalah terus sih!

“Heh bocah! Siapa yang melemparku?!”

“Kyuhyun, ayo kabur.” Aku menarik lengan seragam Kyuhyun perlahan.

Tapi Kyuhyun sok jago. Dia diam dan memandang mereka dengan tatapan merendahkan.  “Salah kalian sendiri duduk di tempat seperti itu. Itu kan juga mengganggu. Jangan salahkan aku kalau kau terkena batu itu.”

Oh Kyuhyun! Kalau sama Sungmin hyung aja kau kabur! Kenapa kalau sama mereka kau berani?!

“Dasar bocah ingusan!” Seorang namja berlari kearah kami.

“Omo! Kabur!” Entah apa yang ada dipikiran namja bodoh itu, disaat para preman itu berniat memukuli kami dia baru menarikku lari dari tempat itu. Dan tentu aja para preman itu mengejar kami.

Aku berusaha menyamai langkah lari Kyuhyun secepat mungkin. “Babbo! Semua kan gara- hara kamu!”

“Cerewet! Yang penting kita cari tempat yang sepi dulu!”

“What?! Kau mau menantang mereka!!”

Kyuhyun tersenyum iblis. “Memangnya siapa yang bilang aku akan melewatkan mereka.” Kyuhyun berhenti berlari di tempat yang agak sepi di sebuah gang sempit dan menoleh ke arah para preman yang sudah bersiap menghajar kami.

“Kyu! Aku ada les biola nanti malam.”

“Sana kau pulang duluan mochi. Disini biar aku yang hadapi…”

Kutatap dia ragu. “Kau bisa mengalahkan mereka semua?”

“Kalau aku terdesak kan tinggal kabur aja.” Kyuhyun nyengir kearahku dan kembali menatap para preman itu. Kalau sudah begini caranya mau nggak mau aku harus membantu Kyuhyun. Masa aku kabur begitu aja…

Seorang preman berseru untuk memberi aba- aba agar menyerang kami. Mereka semua berlari kearah kami. Oh Tuhan… Selamatkan kami berdua!

Dengan sekejap aku melihat bayangan seorang namja sudah berada di depan Kyuhyun dan menahan serangan preman pertama dengan sangat mudah. Dia menendang preman itu dan menghajar yang lainnya bergantian tanpa celah.

Aku dan Kyuhyun tercengang.

Namja itu menggunakan mantel coklat dan syal tebal yang menutupi lehernya. Ia juga mengenakan kacamata hitam dan rambutnya berwarna merah kecoklatan. Siapa sih dia? Kenapa menolong kami?

Duak! Aku melihat seorang namja menghantam tembok karena diserang seseorang.

Kali ini Kyuhyun nyaris menganga melihat Sungmin hyung berada di ujung gang dengan tampang tenang dan menatap para preman itu datar. “Sungmin hyung!”

“Apa yang kalian semua lakukan terhadap dongsaengku itu?”

“Di-dia itu Lee Sungmin!” Melihat Sungmin hyung, para preman itu langsung memilih kabur. Ya, banyak yang mengenal Sungmin hyung sebagai sosok yang jago berkelahi dan belum pernah kalah satu kalipun. Mungkin itu juga yang membuat Kyu takut padanya.

Sungmin hyung membawa mantel Kyuhyun dan melemparkannya ke Kyuhyun. “Kalau mau kabur, jangan jatuhkan mantel bodoh.”

“Salah hyung sendiri yang membuatku ngeri.” Balas Kyuhyun sok.

Sungmin hyung menatap ke namja tinggi yang masih diam itu. Aku baru ingat kalau dia msih disini. “Gomawo. Kau telah melindungi mereka berdua.”

“Ne, cheonmaneyo.”

Degh! Aku shock saat mendengar suara berat itu. Ya, aku sangat mengenal suara siapa itu.

Namja itu menoleh kearahku dan tersenyum. Senyuman yang masih sama dengan yang dua tahun yang lalu. “Kau baik-baik aja kan, Henli?”

“Gege!!!!” Sontak aku berlari kearahnya dan memeluk namja tinggi itu.

Aiish.. Sudah dua tahun aku nggak bertemu dengannya. Zhoumi ge, gege yang paling kusayang. Temanku sejak kecil yang selalu melindungiku waktu aku tinggal di Cina dulu. Nggak kusangka aku bisa bertemu lagi dengannya disini.

Di Seoul!

~Henry pov end~

0o0o0o0o0o0o0

“Gege… Kok nggak bilang kau akan ke Seoul? Aiish.. Aku kangen banget sama kamu!” Henry nggak berhenti mengungkapkan kerinduannya kepada Zhoumi. Bahkan saat ia sampai di rumahnya ia terus bicara seperti itu.

Zhoumi tersenyum kecil. “Kau nggak berubah ya? Kukira kau akan jadi lebih dewasa.”

Henry menatap Zhoumi senang. “Kenapa gege nggak bilang kalau mau kesini? Menginap pula? Iihs.. Ini benar- benar hebat! Bahkan aku nggak pernah membayangkannya!”

Zhoumi lagi- lagi menyunggingkan senyumannya sambil sesekali merapihkan rambut coklat Henry yang berantakan. “Aku sengaja hanya memberi tahu orang tuamu. Mereka juga menitip salam untukmu. Aku sampai tadi pagi dan langsung berniat mengejutkanmu di sekolah. Tapi karena penasaran dengan kegiatanmu, jadi sejak kau keluar dari sekolah aku hanya mengikutimu aja. Baru saat kalian diserang tadi, aku keluar.”

“Gege berubah ya? Jadi makin menjulang begitu. Mana rambut di cat merah lagi! Tapi jadi keren sih.. Emang boleh kerja begitu?”

Kali ini Zhoumi tertawa pelan. “Kau lupa yah aku kan seorang model babbo!”

Henry ikutan tertawa. “Senyuman gege masih sama.” Namja manis itu menopang dagu sambil memandangi wajah Zhoumi yang kini tersenyum dihadapannya. “Aku suka senyum gege.”

Zhoumi kembali mengusap kepala Henry lembut. “Aku sangat merindukanmu.”

“Aku juga.” Kali ini Henry berdiri. “Tapi, gege.. Malam ini aku ada les biola di sekolah. Jadi malam ini gege sendirian dirumah. Nggak apa- apa kan?”

Zhoumi mengangguk pelan. “Tenang aja.”

“Aku ke kamar dulu ya.” Henry langsung berlari meninggalkan Zhoumi yang masih duduk di ruang makan rumah itu.

Zhoumi hanya memandangi Henry yang akhirnya menghilang.

.

~Zhoumi pov~

.

Aku terus memandangi ruang makan yang nggak terlalu besar itu. Selama dua tahun ini disinilah dia menghabiskan hari- harinya. Apartemennya sangat berbeda dengan rumahnya di Cina. Tapi sepertinya dia sangat senang tinggal di Seoul.

Padahal aku sebaliknya.

Kulangkahkan kakiku ke ruang tengah rumah itu. Agak kecil. Seluruh bagian rumah ini dipenuhi oleh bau Henli. Apa aku bisa bertahan selama satu minggu ini?

Aku melihat lukisan kaligrafi hangul di tembok rumah itu.

Seoul.. Kenapa harus ke Seoul kalau kau bisa melanjutkan sekolahmu di Beijing?

Sampai sekarang aku nggak paham alasannya. Tapi sejujurnya aku satu- satunya orang yang nggak bisa menerimanya. Aku datang kesini juga karena hal ini. Aku ingin mengajaknya kembali ke Beijing. Kembali ke sisiku…

“Gege!”

Aku menoleh kearah Henry yang sudah berganti pakaian. Dia membawa biolanya yang tertutup rapat di tempat biola kayu. Masih yang itu…

“Wow.. Biolamu masih sama?”

Henry mengangguk. “Aku nggak mungkin mengganti biolaku.” Anak itu menjunjung biolanya sambil tersenyum. “Ini kan biola yang gege hadiahkan padaku saat aku lulus SD. Ini benda yang paling berharga.”

Aku tersenyum kecil. “Sana pergi. Kau bisa terlambat nanti.”

“Nae!” Henry berlari kearahku dan memelukku sekilas. “Kuharap saat aku pulang gege masih disini ya. Biar aku sadar ini bukan mimpi.” Dia langsung berlari meninggalkanku dengan semangat.

Aku kan memang akan ada disini.

Kupandangi langit malam yang dipenuhi banyak bintang. Langit Seoul. Ini langit yang selalu di tatap Henli tiap malam kah? Mochi-ku…

Apa kau bisa merasakan perasaanku? Aku sangat mencintaimu.

~Zhoumi pov end~

0o0o0o0o0o0o0

Zhoumi baru saja membuka matanya pagi itu.

“Gege good morning!!!!” Seruan Henry menjadi hal pertama yang dia dengar. Namja tampan itu menatap dongsaengnya shock dengan tatapan mengantuk. “Yeah! Gege ayo cepat bangun! Aku udah bikin sarapan!” Henry langsung menarik tangan Zhoumi.

Dengan langkah gontai Zhoumi hanya mengikuti Henry tanpa bicara. Nyawanya masih berkeliaran ke Beijing.

“Nih.. Aku buatin sup miso. Karena hari ini aku libur jadi aku punya banyak waktu buat masak. Gege tidurnya pulas banget! Pasti gege capek banget yah?”

Zhoumi hanya tersenyum tipis sambil menyeruput satu sendok sup. “Enak. Sejak kapan kau jadi jago masak? Perasaanku, kau selalu kegosongan kalau menggoreng telur.”

Henry cemberut. “Gege jangan nyebelin deh.”

“Ahaha.. Berhenti bersikap sok imut begitu.” Seperti biasa, Zhoumi mengacak rambut Henry santai. “Ah, hari ini apa kau ada acara??”

Henry bergumam pelan sambil memakan sup misonya. “Aku mau mengantar Kyu ke kedai Sungmin hyung lagi. Tapi kalau gege keberatan, aku bisa ngebatalin dan seharian ini menemani gege. Tapi hari ini gege jangan kemana- mana. Istirahat aja.. Gimana?”

Zhoumi tampak berpikir sejenak. “Kyu itu… Temanmu yang kemarin? Ke kedai yang kemarin? Apa dia nggak takut dihajar namja manis itu?”

“Sungmin hyung sebenarnya itu sepupu si Kyuhyun. Tapi karena Kyuhyun suka sama dia, jadinya begini deh.” Henry cengengesan. “Memang sih Sungmin hyung itu manis banget aku aja suka kalau melihat wajahnya.”

“Uhuk!” Zhoumi tersedak.

“Mwo? Mimi ge kenapa?” Henry langsung memukul punggung Zhoumi cepat. “Gwaenchana? Kok bisa tersedak sih? Makanya makan pelan- pelan. Aku tahu masakanku enak, tapi nggak sebegitunya kali.”

Pletakk! Zhoumi langsung menggeplak kepala Henry kesal.

“Jangan kepedean kamu!” Serunya sambil menenggak air di gelasnya sampai habis. Zhoumi memandangi Henry ragu. “Kau beneran suka sama namja manis itu? Kau bohong kan!”

Otomatis Henry langsung tertawa. “Yah ampun gege! Kau itu mikir apa sih! Masa aku naksir orang yang disuka sahabatku sendiri? Aku nggak mau mati ditangan Kyuhyun tau!” Henry berdiri sambil merapihkan sisa makanannya. “Oke, hari ini sebaiknya aku harus menemani gege aja deh.”

Tapi Zhoumi masih memandangi Henry ragu.

“Kenapa gege?”

Zhoumi diam.

“Gege! Kau tertarik sama ketampananku yah? Ahaha…”

“Dasar bodoh.” Zhoumi berdiri dan membawa mangkuk sisa supnya ke westafel untuk dicuci Henry. “Kau sama sekali nggak tampan. Dan aku sama sekali nggak tertarik tuh sama wajahmu.” Gumamnya sambil mencuci mangkuknya sendiri.

“Gege nggak bisa diajak bercanda.”

Croot! Zhoumi menyemprotkan air ke wajah Henry.

Henry shock dan menatap Zhoumi yang sudah nyengir menatapnya. “Aigoo.. Gege kau itu korban sinetron yah! Kan jadinya basah tau! Dasar gege rese!” Henry membasahkan tangannya dan mencipratkannya ke wajah Zhoumi. “Rasakan!” Namja manis itu langsung kabur meninggalkan Zhoumi yang baru mau membalasnya.

“Hoi Mochi! Sini kamu!”

“Aku mau mandiiii!”

Senyum tulus terukir di wajah tampan Zhoumi. Dia kembali duduk di kursi sambil memandangi ruang makan itu lagi. “Satu minggu yah.. Aku harus bisa membawanya pulang.” Zhoumi mengalihkan pandangannya ke foto keluarga Henry di tembok dapur. “Aku sudah berjanji aku akan membawanya pulang.”

0o0o0o0o0o0o0

~Henry pov~

Ini hari kelima Mimi ge menginap. Ahai.. Semua bagaikan mimpi! Ada seorang gege yang paling kusayang disisiku. Habisnya sudah dua tahun ini aku hidup sendirian di Seoul. Sejujurnya aku sangat kesepian.

Tapi satu minggu ini berubah! Aku senang!

“Mochi! Air panasnya mau disisakan?”

Aku menatap gege yang baru keluar dari kamar mandi. “Nae, gege! Aargh! Aku capek banget, hari ini ada pelajaran olah raga. Mandi air hangat memang is the best!”

Zhoumi tertawa. “Sudah sana mandi!”

Aku buru- buru masuk ke kamar mandi. Harum gegeku itu masih tersisa. Hehe.. Kedengarannya kok jadi yadong sih? Aku kan namja polos… Hhihi

Setelah selesai aku segera keluar. Gege sedang duduk di sofa kecil di dalam kamarku. “Wae gege?”

Namja tinggi itu menatapku. “Kau nggak kesepian tinggal di tempat ini?”

Aku memilih duduk disampingnya dan menatap wajahnya yang selalu menatap kearahku itu. “Aku itu sangat kesepian gege. Jauh dari orang tua, jauh dari gege, mana mungkin aku nggak kesepian. Tapi di Seoul inilah aku meraih impianku. Jadi aku bertahan.”

Zhoumi ge nggak menanggapiku, dia hanya memandangiku. “Apa mustahil kalau kau temukan mimpimu di Beijing? Kenapa harus di Seoul?”

“Karena aku tahu Seoul tempat yang paling tepat untukku saat ini gege. Di Seoul Music High School aku menemukan yang selama ini aku cari. Jadi aku nggak punya alasan untuk pulang sebelum mimpiku terwujud.”

Gege tetap nggak langsung menanggapi. Tangannya seperti biasa, mengusap rambut coklatku lembut. “Kau itu membuat orang tuamu cemas, kau tahu?”

Aku mengangguk. Aku sangat tahu.

“Pulanglah…”

Aku tersentak mendengar ucapan gege. “Pulang?”

“Kedatanganku kesini untuk membawamu pulang, Henli. Orang tuamu memintaku untuk menjemputmu. Kau mau kan pulang bersamaku?”

Aku terdiam. Kupandangi bola matanya yang kelihatan serius. “Aku nggak mau!” Seruku cepat sambil beringsut naik ke tempat tidur dan langsung memejamkan mataku.

“Mochi, aku tahu kau nggak niat tidur sekarang.” Mimi gege menggoyangkan tubuhku pelan. “Ayo bangun, kita harus membicarakannya.”

“Aku nggak mau!”

“Henli.. Besok itu hari terakhir aku di Seoul…”

Brakk! Aku kembali bangun dan menatap gegeku itu serius.

“Besok akan kuajak gege mengelilingi Seoul. Kita ke Namsan, Myeondong dan semua tempat yang keren. Akan kubuktikan kalau aku nggak kan meninggalkan kota ini gege. Akan kubuat gege mengerti.” Setelah mengatakannya aku kembali tidur dan menutup seluruh tubuhku dengan selimut.

Masih bisa kurasakan kalau Mimi ge menatapku. Tapi aku nggak mau memikirkannya lagi. Kenapa dia harus datang hanya untuk membawaku pulang? Aku nggak mau pulang!

~Henry pov end~

Zhoumi terus memandangi Henry kalut. Namja itu memilih membaringkan tubuhnya disamping Henry sambil menatap langit- langit kamar itu datar.

“Aku ingin kau kembali ke Beijing karena aku ingin kau ada disisiku. Aku ingin selalu bisa melindungimu.” Bisiknya pelan

Henry nggak menanggapi ucapan Zhoumi meski sebenarnya Henry mendengarnya. Namja itu nggak menghiraukan ucapan Zhoumi. Ada satu perasaan berkecamuk di dalam hatinya, tapi dia nggak berani mengartikannya.

Zhoumi memejamkan matanya. “Night, Mochi…”

0o0o0o0o0o0o0

“Mau kemana sekarang?”

Henry menatap ke berbagai tempat. “Aku agak lelah. Gimana kalau makan siang di kedai ramen Sungmin hyung?”

Zhoumi mengangguk- angguk asal. “Terserah kamu aja…”

Henry langsung tersenyum dan menggenggam tangan Zhoumi, tapi lagi- lagi sesuatu membuatnya ragu. Saat itu juga ia melepas tangan Zhoumi dan menatap namja itu ragu. “Gege.. Saat ini posisi kita kan sama- sama namja dewasa ya? Lucu kayanya kalau kita jalan sambil gandengan seperti dulu. Pasti orang akan bilang kita aneh.”

Tentu Zhoumi kesal mendengarnya. Zhoumi langsung menggenggam tangan Henry dan memasukkannya ke saku mantelnya. “Memangnya kau hidup dengan mendengar omongan orang. Jalani hidupmu sendiri.” Gumam Zhoumi sekenanya.

Kali ini Henry menatapnya dengan tatapan yang cukup aneh. Ia merasa sedikit senang dengan perlakuan Zhoumi. Tanpa ragu ia menggenggam tangan Zhoumi yang berada di saku mantel itu. “Gege sangat baik..”

Lima belas menit jalan kaki, mereka sampai di kedai ramen yang di tuju.

“Annyeong! Sungmin hyung, I am coming!” Serunya semangat. Tatapan mata Henry tertuju pada sosok orang yang sedang mengepel lantai. “Kyu!! Wahaha! Kau jadi cleaning service disini heh????”

Kyuhyun menatap sahabatnya kesal. “Diam kau Mochi!”

“Selamat datang.” Sungmin mempersilahkan Zhoumi dan Henry duduk. “Hari ini namja bodoh itu tertangkap basah olehku, jadi sekalian aja dia kujadikan pembantu disini. Hari ini ramai sekali.”

“Wah.. Wah.. Hyung memang menakutkan.” Henry menatap Zhoumi. “Mau pesan apa? Ah, biar aku yang pilih ya… Sungmin hyung! Ramen yang paling enak dua!” Henry berbicara tanpa memberikan waktu bagi Zhoumi untuk menimpalinya.

Zhoumi hanya memandangi sosok Henry dan Sungmin juga Kyuhyun bergantian. Henry sibuk mengobrol dengan Kyuhyun atau Sungmin dan Zhoumi hanya memandanginya. Memperhatikan kelakuannya.

“Kau kenapa memandangi Henry terus hyung?” Kyuhyun yang bertanya.

Henry baru menatap Zhoumi. “Eh? Gege? Ada yang aneh di wajahku?”

Zhoumi menggeleng. “Kau fasih sekali berbahasa Korea. Kalau dua tahun yang lalu, kau bahkan nggak bisa bicara Korea sama sekali.”

“Aku kan udah berubah, gege..” Henry tersenyum canggung. Ia sadar maksud terselubung di perkataan Zhoumi.

Sungmin datang sambil membawa dua mangkuk ramen. “Silahkan. Karena kalian tamu spesial, kuberikan potongan harga lima persen.”

“Omo! Pelit amat potongan lima persen!” Henry ngedumel sendirian.

“Kalau banyak- banyak aku bisa bangkrut bodoh.” Gumam Sungmin sambil tersenyum sopan. “Kyu! Jangan malas atau kau nggak kubayar!”

“Hyung memang nggak membayarku! Pokoknya hyung harus mau jadi pacarku!”

“Cho Kyuhyun!”

“Hyaah!” Kyuhyun kabur ke belakang sambil membawa gagang pelnya.

Henry tertawa geli. “Dasar, Kyuhyun itu kekanak- kanakkan.”

“Kau juga masih anak- anak.” Gumam Zhoumi sambil memakan ramennya. “Jangan lupakan pembicaraan kita semalam Mochi. Hari ini juga kau harus memantapkan dirimu untuk kembali ke Beijing.”

Brakk! Henry menggebrak meja kedai itu kesal.

“Aku nggak mau gege!”

Mendengar suara ribut itu Sungmin dan Kyuhyun melongok ke dalam kedai.

“Henli… Tenangkan diri. Kita di kedai.” Zhoumi tetap tenang.

“Pokoknya aku nggak mau pulang ke Beijing!” Henry langsung berjalan pergi meninggalkan Zhoumi dengan cepat.

“Henry Lau!” Ditatapnya Henry kesal tapi ia tak langsung mengejarnya. “Dasar anak kecil.”

“Mian…” Kyuhyun menghampiri Zhoumi hati- hati. “Hyung… Akan membawa Henry ke Beijing?”

Zhoumi menatap Kyuhyun. “Itulah tujuanku ke Seoul.” Namja tinggi itu mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan uang seratus ribu won ke Kyuhyun. “Maaf membuatmu melihat kejadian tadi. Kembaliannya ambil aja.” Zhoumi segera meninggalkan Kyuhyun yang hanya melongo menatap uang seratusan itu.

“Masa Henry mau pergi…”

0o0o0o0o0o0

~Henry pov~

Kumainkan biolaku dengan kasar. Semua melodi yang kumainkan terdengar datar dan berantakan. Aku kesal. Aku marah! Aku nggak mau kembali ke Beijing! Kenapa sih Mimi ge memaksa begitu?!

“Henli!”

Aku nggak menanggapi panggilan gege.

“Henli dengarkan aku dulu…”

Meski suaranya melembut, aku nggak perduli.

“Henry Lau!” Tiba- tiba Mimi ge menarik tanganku dan menghentkan permainanku. Sorot matanya kelihatan nggak suka dengan sikap acuhku, tapi aku nggak akan kalah. Kutatap dia marah. “Kubilang dengarkan aku.”

“Lepas!” Kusentakkan tangan Mimi ge. “Kalau gege datang hanya untuk membawaku pulang, lebih baik gege nggak menunggu sampai besok! Lebih baik gege pulang sekarang!”

“Henli dengar!” Gege mencengkram kedua lenganku dan sedikit membungkuk agar tinggi kami menjadi sejajar. “Aku melakukannya bukan hanya karena keinginan pribadi. Aku juga dimintai tolong oleh orang tuamu. Mereka mencemaskanmu, begitupun aku. Apa kau nggak bisa paham?”

“Apa kalian juga nggak paham kalau aku ingin ada disini? Aku ini bukan anak kecil yang harus selalu gege lindungi! Berhenti bersikap begini gege!”

Sret! Zhoumi gege menarik tubuhku dan langsung memelukku.

Seketika nafasku tercekat. Rasanya jantungku berdegup keras. Perasaan yang sangat aneh menyelimuti hatiku. Kerinduan yang sangat dalam… Kehangatan yang sangat manis. Aku nggak bisa berbohong, aku suka ini.

“Aku begini karena aku mengkhawatirkanmu. Sedetikpun aku nggak pernah berhenti untuk mencemaskanmu. Tapi apa yang kau lakukan? Pernahkan sekali kau berpikir untuk nggak membuatku cemas? Setiap kau mengirimiku kabar kau selalu bilang berbagai hal yang menambah kecemasanku. Bagaimana bisa aku nggak memikirkanmu!”

Aku diam.

“Kau tahu… Ini semua nggak semudah seperti hubungan yang kau artikan. Dimatamu, aku hanya seorang gege kan? Tapi…”

“Jangan dilanjutkan!” Buru- buru aku mendorong tubuh Zhoumi gege agar melepaskanku. “Ja-jangan kau teruskan gege. Sudah cukup.”

Gege menatapku pilu. “Henli…”

“Gege jangan bilang hal yang bisa membuatku kacau. Kumohon…” Aku perlahan mundur. Setelah cukup jauh aku langsung berlari meninggalkan Mimi ge. Aku dengar dia memanggilku, tapi aku nggak mau menoleh.

Aku takut.. Aku bingung.. Perasaan yang kini memenuhi hatiku. Aku memang sangat mencintainya. Tapi apa yang harus kulakukan??

~Henry pov end~

.

~Zhoumi pov~

Aku berlari menyusuri setiap sudut jalan untuk mencari Henry. Sudah jam delapan malam dan dia nggak pulang- pulang. Teleponku juga nggak diangkat. Lagi- lagi dia membuatku cemas kan? Aku benar- benar terlalu over protektif terhadapnya. Wajar saja, aku kan menganggapnya lebih dari sekedar adik aja.

“Mianhae, nona.. Apa kau melihat namja ini?” Aku memperlihatkan foto Henry yang menjadi wallpaper ponselku ke dua orang yeojya yang kutemui. Mereka menggeleng dan aku mencarinya ke tempat lain.

Aku nggak tahu kalau dia akan seperti ini… Dia benar- benar nggak mau kembali ke Beijing.

“Zhoumi hyung?”

Aku menoleh menatap Kyuhyun yang memandangiku. “Cho Kyuhyun?”

“Sedang apa malam- malam? Nggak sama Henry? Apa kalian masih bertengkar gara- gara tadi siang?”

Aku menatapnya sekilas. “Sebenarnya, tadi di rumah, kami bertengkar lagi dan Henli pergi. Aku sedang mencarinya.”

“Gara- gara kau mau membawanya ke Beijing ya?”

Aku mengangguk. “Dia benar- benar nggak mau pulang ke Beijing.” Kutatap langit malam kota Seoul yang cukup terang. “Kenapa dia keras kepala begitu sih…”

“Hyung…” Kyuhyun menepuk punggungku. “Kau mungkin nggak tahu. Tapi Seoul itu sangat berarti buat Henry. Disekolah dia belajar biola dengan sangat tekun. Dia menemukan apa yang dia cari disini. Dia menemukan semua impiannya disini, kenapa dia harus meninggalkannya?”

“Bilang aja kau nggak mau dia pergi.”

Kyuhyun cengengesan menatapku. “Ketahuan yah?”

“Sangat ketebak, Kyuhyun.”

Namja itu tertawa sambil mengangguk. “Aku dan Henry itu berteman sejak pertama kali masuk sekolah. Kami benar- benar cocok. Dia itu partnerku. Mana mungkin aku mau partnerku itu pulang, aku pasti akan menahannya. Kalau kau memang ingin melindunginya, bukan begitu caranya…”

Aku menatap Kyuhyun lagi. “Memang ini bukan satu- satunya cara untuk melindunginya. Tapi ini satu- satunya cara yang bisa kuusahakan untuk melindunginya. Aku punya karir di Beijing yang nggak bisa kulepas, karena itu aku memintanya kembali ke Beijing.”

Kyuhyun menepuk tangan sekali. “Nah kan… Kau aja bilang begitu. Kalau begitu seharusnya kau bisa memahami Henry. Masalah kalian nggak akan selesai sebelum salah satunya menyerah.” Kyuhyun mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.

“Ah, Mochi! Dimana kau?” Dia menghubungi Henry. “Ah… Pinggir sungai Han toh. Ngapain kau malam- malam disana? Dingin bodoh.” Kyuhyun melirik ke arahku sambil mengerling jahil. Ah, aku paham maksudnya!

“Thanks!” Bisikku cepat sambil berlari meninggalkan Kyuhyun.

Sungai Han… Kau disana Henry…

~Zhoumi pov end~

0o0o0o0o0o0

Henry mengusapkan kedua telapak tangannya sambil meniupinya. “Dingin banget disini. Menyebalkan…” Gumamnya kesal. “Aaargh! Seharusnya aku nggak usah kabur begitu! Kenapa aku malah kabur sih? Membuatku kelihatan konyol aja dihadapan Mimi ge.”

“Dingin, kan…?”

Tiba- tiba Henry terkejut karena seseorang memeluknya dari belakang. Nafasnya seakan berhenti dan degup jantungnya kembali kacau. “Ge-gege!”

“Disini dingin. Ayo pulang…”

“Aniya! Aku nggak mau kembali sebelum gege berhenti memaksaku pulang ke Beijing! Aku mau- Hatchiih!” Namja itu bersin tiba- tiba.

Zhoumi tertawa pelan sambil melepas pelukannya dari Henry dan berpindah posisi menjadi di hadapan Henry. “Kubilang kan disini dingin. Ayo pulang aja…”

“Aniya!” Henry masih keras kepala.

“Henli…”

“Jangan memaksaku gege_”

Greb! Lagi- lagi Zhoumi memeluk Henry.

“Gege.. Apaan sih! Lepaskan aku dong! Panas tau!”

“Ayo pulang bersamaku…”

“Sudah kubilang aku akan tetap berada di Seoul! Sekeras apapun usaha gege untuk membawaku kembali aku akan tetap di Seoul. Aku akan bicara langsung ke orang tuaku dan memaksa mereka berhenti mencemaskanku! Aku akan tetap disini sampai semua impianku terwujud!”

“Aku bilang pulang bersamaku!”

“Gege!”

“Kerumahmu…” Zhoumi melepas pelukannya dan menatap mata Henry sambil terseyum lembut. Dipegangnya kedua bahu Henry dan mengacak rambut kecoklatan namja itu pelan.

Henry menatap Zhoumi keheranan. “Eh?”

“Ayo ikut pulang denganku ke rumahmu. Disini dingin.” Zhoumi langsung menggandeng tangan Henry dan berjalan pelan menuntunnya.

“Kukira gege akan bilang ayo pulang dengaku ke Beijing lagi…”

Zhoumi tertawa pelan. “Makanya dengarkan apa yang akan kukatakan. Kebiasaan burukmu adalah memotong ucapanku. Dasar payah…”

“Meski kita sampai rumah, aku nggak akan menuruti gege. Aku nggak akan ke Beijing.”

Zhoumi menghentikan langkahnya dan menengadah langit. “Langit malam disini sama aja dengan di Beijing. Kurasa nggak buruk- buruk amat yah..”

Tentu saja Henry bingung dengan ucapan Zhoumi itu. “Maksudnya apaan gege?”

Zhoumi menatap Henry. “Sudah kuputuskan aku nggak akan membawamu kembali ke Beijing. Sebagai gantinya aku yang akan pindah ke Seoul.”

“Omo!” Henry melepaskan tangannya dari Zhoumi dan menatap namja tinggi itu nggak percaya. “Jeongmal! Jadi gege nggak akan memaksaku pulang dan gege akan tinggal disini?! Gege nggak berbohong kan?!”

Zhoumi tetap tersenyum. “Aku nggak pernah membohongimu Henli.” Diusapnya rambut Henry. “Aku akan disini untuk menjaga dan menemanimu. Aku nggak mau kesepian lagi. Sejak kau pergi aku sangat kesepian dan itu membuatku kesal.” Namja tinggi itu menautkan keningnya diatas kepala Henry dan menghirup wangi namja itu.

“Ge-gege?”

“Wo ai ni.”

Degh! Henry menelan ludah. Jantungnya kembali kacau.

“Wo ai ni. Saranghae. Sejak dulu aku menyukaimu, aku mencintaimu, tapi aku nggak bisa mengungkapkannya. Aku selalu bertindak seperti kakakmu yang selalu menjaga dan melindungimu. Itu semua kulakukan karena kau sangat berarti untukku, karena itu aku selalu mencemaskanmu setelah kau pergi.”

“Gege… Anou…”

“Jangan dipaksakan kalau kau nggak menyukaiku. Aku hanya ingin mengungkapkannya…”

“Aniya!” Kali ini gantian Henry yang meraih kedua tangan Zhoumi dan menggenggamnya. “Sebenarnya aku sangat senang mendengarnya gege. Aku bahagia karena akhirnya gege mengucapkannya dengan sangat jelas.” Henry menengadah untuk menatap mata Zhoumi. “Sejak dulu juga aku menyukai gege. Karena itu aku selalu bergantung kepadamu. Kaget juga karena aku bisa berada di Seoul tanpamu, tapi nggak bisa kupungkiri kalau aku sangat merindukanmu.”

“Benar?”

Henry mengangguk. “Aku sangat senang kalau gege benar- benar memutuskan tinggal dengaku.” Henry memeluk Zhoumi erat. “Aku sangat bahagia, gege…”

Zhoumi tersenyum manis sambil memeluk Henry dan lagi- lagi mengusap kepala namja itu penuh sayang. “Aku juga bahagia, Mochi… Biar aku yang bicara dengan kedua orang tuamu. Mereka pasti berhenti untuk cemas…”

“Thank you gege!” Henry tersenyum polos menatap Zhoumi.

“You’re welcome.” Balas Zhoumi lembut.

.

~Fin~

7 thoughts on “At Seoul

  1. suka bgt paart yg kyu jd ob di kedaix sungmin xixiixixixixxixi
    hendry sering digambrkn namja yg jenaka,,,,,,,,,,,,,rus terkadang cinta mati sm mimi,,,,,,,,,,pengenx si mimi yg cinta mati sm mochi hehehehehe
    akhrx mimi kalah juga sm mochi whkkkkkk………..suka jg yg ni hehhehe

  2. Zhoury… senang ama couple satu ini, manis sih soalnya.

    Mochi berani juga ya pergi ke Seoul sendirian. Mimi jadi kuatir begitu. Akhirnya Mimi ngalah juga n pindah ke Seoul. Jadi model di Seoul jg ga masalah secara dia keren * ditabok Henry*

    Salam,

    Elle

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s