An Angel

Pairing :: KangTek

Genre :: Romance

Rated :: PG-13

@Thena presented….

.

An Angel

.

Seorang dokter itu harus bisa tegar demi pasiennya sendiri. Apapun yang terjadi, berapapun kematian yang ditemui, kegagalan yang dilakukan, semuanya harus dihadapi dengan pikiran tenang tanpa beban.

Ya, aku adalah dokter..

Jadi aku harus menjunjung tinggi prinsip itu.

Satu kalipun jangan pernah tunjukkan kelemahanmu di hadapan orang lain, siapapun itu. Kau akan berjalan dengan kekuatanmu sendiri. Kau akan bertopang dengan kakimu sendirian. Jangan pernah berpikir untuk kembali dan memperbaiki semuanya.

Itu sudah terlambat..

.

.

Story Start!

.

.

~Leeteuk pov~

“Dokter Park.. Pasien di kamar 281 memanggil anda.”

Aku menoleh ke arah Taehyeon, salah satu perawat di rumah sakit anak yang saat ini menjadi tempatku bekerja menghabiskan sisa waktuku. “Apa yang terjadi dengan Yoogeunnie?”

“Kelihatannya dia baik- baik saja kok. Mungkin dia sedang bosan dan ingin bermain.” Taehyeon tersenyum kepadaku dengan lembut.

Aku balas tersenyum dan mengangguk kepadanya. “Baiklah, aku akan menemuinya.” Dengan segera aku berjalan meninggalkan Taehyeon menuju kamar 281. Kamar VIP untuk seorang anak manis yang terpaksa harus menghabiskan waktunya di rumah sakit karena kanker.

Kreek~ Perlahan aku membuka pintu kamar itu.

“Yoogeunnie? Gwaenchanayo?” Aku berjalan menghampiri seorang bocah namja yang duduk di atas tempat tidur yang putih bersih. Tangannya memegang rubik dan dia sedang sibuk mengacak warna- warnanya.

Aku duduk di kursi yang ada disisi tempat tidurnya. “Gwaenchana?”

Dia masih kelihatan fokus sendirian.

Perlahan aku tersenyum getir. Yoogeun mengidap kanker otak dan itu membuat kinerja tubuhnya agak lambat karena kerja otaknya yang menurun. Tiap hari dia memainkan rubik agar otaknya terlatih, tapi tetap saja. Insting dan kepekaannya sangat kurang.

“Yoogeunnie..” Kutepuk punggungnya lembut.

Anak itu baru menoleh kearahku. “Eh? Hyung!” Wajahnya langsung berubah ceria. “Sejak kapan dokter di sini?” Dia menyingkirkan rubiknya ke atas meja dan langsung menatapku lurus dengan bola matanya yang gelap.

Aku suka tatapan polos tanpa dosanya..

“Aku baru sampai. Kau kelihatan sangat serius. Apa sudah ada kemajuan?”

“Hari ini aku bisa menyelesaikan dua sisi. Tapi saat aku berniat menyelesaikan sisi yang lainnya, dua sisi itu hancur lagi dan aku harus mengulangnya.” Yoogeun agak cemberut sambil menatap rubiknya. Ia kembali menatapku. “Hari ini mau main apa, hyung?”

“Aish.. Sebenarnya aku nggak bisa menemanimu main hari ini. Siang ini aku ada jadwal operasi. Kau istirahat saja Yoogeun. Besok akan kubawakan kau buku menarik untuk dibaca. Gimana?”

Awalnya anak itu agak cemberut mendengar pengakuanku, tapi beberapa saat kemudian dia tersenyum manis dan mengangguk. Dia mengarahkan jari kelingkingnya kearahku. “Hyung janji ya?”

Kukaitkan kelingkingku di jarinya. “Nae, aku kan nggak pernah berbohong padamu.”

Yoogeun tersenyum bahagia.

Kuusap rambutnya sayang. “Oke, aku harus mengecek keadaan anak yang lain. Sampai nanti Yoogeunnie.” Aku langsung berdiri dan meninggalkan anak itu.

Saat berada di luar kamarnya aku mencoba meneliti agenda yang selalu kubawa mengenai daftar anak dan penyakit yang harus kutangani. Yoogeun masuk ke list nomor satu yang harus kuperhatikan.

Kanker yang dideritanya sudah memasuki stadium akhir. Kami para dokter sudah memperkirakan kalau umur anak itu nggak akan bisa lewat satu bulan lagi. Mungkin dia akan pergi akhir tahun ini.

Kupandangi salju yang turun di luar. Kalau memang begitu… Natal dan salju yang akan mengantar kepergiannya nanti. Ah, aniya.. Kalau kami berusaha, mungkin dia bisa diselamatkan. Mungkin dia bisa bertahan hidup lebih lama sampai musim panas nanti..

Mungkin…

0o0o0o0o0o0o0o0

“Hmm…”

Aku memandangi dokter kepala rumah sakit yang kelihatan agak bingung dengan laporan yang baru saja kuserahkan. “Ada yang salah?”

“Jadi kau berpikir kalau kita melakukan operasi, anak itu mungkin bisa dihindari dari kematian meski hanya sebentar?”

Aku diam.

“Kau tahu.. Kita ini dokter. Kita bukan Tuhan, Jungsoo.. Kita tak bisa merubah garis kematian seseorang. Jika kau melakukannya, bukan hanya anak itu yang menderita karena harus bertahan lebih lama dengan penyakitnya. Tapi keluarganya, juga kau akan ikut menderita.”

“Dokter Lee.. Aku hanya ingin berusaha agar Yoogeun bisa melihat kehidupan yang lain. Aku sama sekali tak bermaksud merubah takdirnya. Aku hanya berusaha.”

“Sama saja, Jungsoo.”

Aku terdiam. Ternyata memang agak mustahil dengan hal itu. Kanker stadium akhir Yoogeun memang sudah tak bisa disembuhkan lagi. Sekalipun semua dokter di sini berusaha seperti apapun, Tuhan memutuskannya untuk pergi.

“Baiklah.. Aku akan kembali ke ruanganku.” Akhirnya aku memutuskan untuk berdiri dan berjalan keluar meninggalkan ruangan itu.

Ada alasan kenapa aku ingin Yoogeun bisa hidup lebih lama. Anak itu selalu mengingatkanku kepada adikku yang telah meninggal sepuluh tahun yang lalu. Donghae.. Seorang namja yang manis dan periang yang harus pergi karena leukemia.

“Annyeong..”

Ngh? Aku mengalihkan pandanganku kepada seorang namja yang berdiri dengan santai. Nuguya?

“Apa anda salah satu dokter di rumah sakit ini?”

“Nae.. Ada yang bisa saya bantu Tuan?”

Namja itu mengangguk dan tersenyum santai. “Aku mau bertemu dengan dokter kepala disini. Ah, ini kartu pengenalku.” Dia menyerahkan padaku sebuah tanda identitas mahasiswanya.

Kubaca kartu itu dengan teliti. “Kau.. Mahasiswa kedokteran..” Aku membaca namanya perlahan. “Youngwoon-sshi?” Aku kembali menatapnya sambil menyerahkan padanya tanda pengenalnya itu.

Namja itu kembali mengangguk. “Aku ingin magang di rumah sakit ini. Karena itu aku harus bertemu dengan dokter kepala disini.”

“Kau tinggal berjalan ke ruangan yang paling ujung di lorong ini. Itu ruangnnya.” Jawabku sambil memberi salam sekali dan langsung berjalan meninggalkannya.

“Ah, tunggu!”

Aku menoleh menatapnya lagi. “Nae? Masih ada yang mau ditanyakan?”

“Siapa namamu, dokter?”

“Aku? Namaku Park Jungsoo. Tapi aku biasa dipanggil hyung oleh anak- anak di rumah sakit ini. Waeyo?”

Dia tersenyum sambil mengangguk dan berjalan meninggalkanku. “Aku nggak sangka ada dokter yang sangat cantik disini.”

Mwo? Apa yang tadi dia bilang?

Cantik?! Siapa maksudnya? Aku? Hii.. Dasar namja yang sangat aneh. Ini pertemuan pertama kami, kenapa dia bilang hal itu.

Buru- buru aku berjalan menjauhi tempaku bertemu dengannya. Satu hal yang saat ini aku pikirkan, kalau dia diterima magang di rumah sakit ini maka kami akan bekerja sama sebagai sesama dokter dong?

Semoga saja itu nggak terjadi.

“Dokter!!!”

Baru saja aku melewati lorong utama. Sunkyu langsung menghampiriku dengan panik. Wajahnya agak pucat dan nafasnya kacau.

“Sunkyu-yah? Waeyo gudhae? Gwaenchanayo?”

“A-anou.. Yoogeun.. Yoogeunnie..”

Degh! Aku langsung kaget saat mendengarnya menyebut nama Yoogeun. Tanpa menunggunya selesai bicara aku langsung berlari meninggalkan Sunkyu yang gantian berusaha mengejarku dengan susah payah.

Butuh waktu tujuh menit untuk sampai dikamar 281 itu. “Yoogeun!”

“Dokter!” Aku terkejut saat melihat Taehyeon ada disana dengan tampang bingung. Satu tangannya memegangi tubuh Yoogeun yang kelihatan mengejang sambil memegangi kepalanya. Anak itu menangis.

Aku langsung menghampirinya sambil memakai kacamata kerjaku. “Yoogeun tenanglah..”

“Sakiit~ hyuuung~ hikss..”

Aku mengambil senter kecilku dan membuka kelopak matanya. Wajahnya pucat pasi. Dia pasti benar- benar merasa sakit di kepalanya karena sel kanker itu. Dengan segera aku mengeluarkan kotak kecil tempat menyimpan beberapa obat penting.

Aku mengambil suntikan dan obat bius. Setelah kumasukan obat bius, aku langsung menyuntikkannya kepada Yoogeun. Perlahan anak itu tenang dan akhirnya tertidur sambil tetap meneteskan air matanya. Setelah itu aku menyuntikkan obat peredam rasa sakit untuk penyakitnya.

Yoogeun..

“Dia ingin mencarimu tadi, tapi saat hendak turun dari atas tempat tidurnya dia terjatuh. Saat aku membantunya naik lagi, dia langsung merasa kesakitan.” Jelas Taehyeon kepadaku.

Ahh.. Janji kami kemarin..

“Taehyeon, pindahkan dia ke ruang gawat darurat untuk sementara. Sunkyu, tolong hubungi keluarganya. Aku akan kembali ke ruanganku sebentar.” Aku langsung memasukkan kotak peralatanku dan berjalan keluar dari ruanganku itu.

Di koridor aku berlari menuju ruanganku sesegera mungkin.

Saat berlari aku berpapasan dengan Youngwoon, namja yang tadi kutemui. Dia menyapaku, tapi mian.. Aku nggak bisa bicara denganmu. Aku sama sekali nggak memperdulikannya dan berlalu begitu saja.

~Leeteuk pov end~

0o0o0o0o0o0o0o0

~Youngwoon pov~

Dia keliahatan sangat sibuk. Padahal aku sedang menyapanya, tapi dia malah berlalu begitu saja. Apa ada sesuatu yang terjadi ya?

Pandanganku tertuju pada dua suster yang berlari sambil membawa tempat tidur. Ada seorang anak kecil yang berbaring diatasnya. Ehh? Apa ini pasien dokter Park? Tadi dia kelihatan terburu- buru, sekarang dua suster ini.

Aku menatap kearah kedua suster itu yang semakin jauh. Dari sebuah ruangan aku melihat dokter Park kembali keluar dan mengejar kedua suster itu. Ah… Ternyata tebakanku benar. Itu memang pasiennya.

Dia kelihatan seperti dokter yang berdedikasi tinggi. Zaman sekarang sudah jarang sekali ada dokter yang sampai seperti itu.

Aku berjalan lagi menyusuri lorong.

Kenapa aku memutuskan magang di rumah sakit anak? Padahal appa menyuruhku magang di rumah sakit umum yang lebih besar.

Ya, alasannya simple. Karena rumah sakit anak, aku pasti bisa santai sedikit. Setiap hari nggak mungkin akan datang puluhan anak kecil yang terkena penyakit serius kan? Sedangkan kalau di rumah sakit umum, setiap hari bisa datang puluhan pasien berbagai usia. Aku pasti akan sibuk banget dan itu akan sangat membosankan.

Silahkan katakan aku ini calon dokter yang nggak punya aturan. Tapi memang itu kenyataannya. Aku nggak terlalu ingin jadi dokter. Ini semua kehendak appaku yang juga seorang dokter di rumah sakit Seoul. Cih..

Hoaahm.. Aku mengantuk!

Semalam kan aku main sama Heechul hyung dan Yesung hyung, pantas aja mengantuk.

Hmmm…

Mataku tertuju pada kursi di luar rumah sakit. Sepertinya kalau tidur sebentar diluar nggak masalah. Aku nggak akan mati kedinginan kan..? Hehe..

.

.

Dingiiinn~

Aku membuka mataku.

Omona! Tadi kan aku yang tidur di luar. Pantas aja dingin banget. Untungnya salju nggak turun, kalau turun aku bisa mati membeku sebagai manusia salju nih.

“Sekarang mau ngapain ya?”

Aku mengalihkan pandanganku ke segala arah. Dan sosok di jendela membuatku terdiam. Kulihat dokter Park sedang berdiri menatap keluar jendela sambil memegang kopi sepertinya. Sorot mata dibalik kacamatanya kelihatan sangat teduh dan hangat.

Dia memang sangat cantik.. Dilihat dengan jas dokter yang putih bersih, dipadukan dengan salju yang berwarna putih juga cat tembok rumah sakit yang semuanya putih, dia kelihatan sangat bersinar. Seperti seorang malaikat..

Tapi kenapa dia kelihatan sedih?

Matanya terluka.

Namja itu menunduk dan dia melihat kearahku. Entah apa yang menghipnotisku, perlahan aku melambaikan tanganku kearahnya. Dokter Park mengangguk sekali ke arahku lalu meninggalkan jendela itu.

Membiarkan aku sendirian disini mematung ke arahnya yang kini hampa.

Perasaan apa yang sekarang merasukiku?

~Youngwoon pov end~

.

Leeteuk berjalan keluar dari ruangannya sambil membuang gelas kopi di tempat sampah di ruangannya. Namja cantik itu membuka kacamatanya dan memijit keningnya yang terasa sangat pegal. Dia harus kembali memeriksa keadaan Yoogeun. Sudah satu jam dia meninggalkan Yoogeun.

“Dokter Park!!”

Langkahnya terhenti saat dipanggil seseorang. Leeteuk menoleh dan melihat Youngwoon berlari menghampirinya. Namja itu mengerutkan keningnya melihat jas putih yang dipakai Youngwoon.

“Kau..? Baju itu?”

Youngwoon nyengir. “Aku akan magang disini selama dua bulan. Mohon bantuannya ya.. Tadi aku mau menyapamu, tapi kau kelihatan sangat sibuk bahkan nggak membalas sapaanku.”

Merasa tak enak, Leeteuk tersenyum kecil. “Mianhae,Youngwoon-sshi.. Tadi aku benar- benar darurat. Mianhae..”

“Jangan panggil aku begitu. Panggil aja aku Kangin, teman- temanku memanggilku begitu, loh…”

“Aniya, Biar aku memanggilmu Youngwoon-ah.” Leeteuk tersenyum sopan. “Baiklah, aku banyak tugas. Sampai nanti, Youngwoon-ah..” Namja itu berjalan meninggalkan Youngwoon yang masih memandanginya.

“Ngh.. Dokter..”

“Nae?” Leeteuk kembali menoleh.

“Siapa nama anak itu?”

“Anak itu?”

“Anak yang menjadi pasienmu saat ini.”

Awalnya Leeteuk kelihatan ragu, tapi dia akhirnya membalikkan tubuhnya. “Namanya Jung Yoogeun.” Setelah menjawab pertanyaan itu, Leeteik segera berjalan menjauhi Youngwoon yang terus memandanginya.

0o0o0o0o0o0o0

Kreek~ Leeteuk membuka pintu kamar Yoogeun.

“Yoogeunnie.. Aku datang lagi!” Ia berusaha menyapa Yoogeun ramah. Tapi ia langsung terdiam saat melihat anak itu sedang mendengarkan cerita yang dibacakan oleh Youngwoon. “Youngwoon-ah? Kenapa ada disini?”

“Ah.. Annyeong Teukie hyung!” Balas Youngwoon sambil tersenyum jahil.

“Te-teukie hyung?”

Yoogeun berusaha berdiri dan berjalan mendekati Leeteuk. “Tadi aku menceritakan banyak hal tentang hyung ke Kangin hyung. Dia mau ikutan aku memanggilmu Teukie hyung.” Anak itu tersenyum sambil menarik tangan Leeteuk agar mendekati tempat tidurnya.

Leeteuk masih bingung dan dia terus menatap Youngwoon.

“Jangan shock begitu dong hyung.. Memangnya aku nggak boleh memanggilmu begitu juga ya? Aku sudah tanya anak- anak disini, katanya mereka juga memanggilmu begitu.” Youngwoon hanya tersenyum tak berdosa melihat ekspresi Leeteuk.

“Bu-bukan nggak boleh. Hanya saja rasanya aneh dipanggil begitu oleh sesama dokter.” Leeteuk menggaruk kepalanya. “Ah, ya sudahlah. Ini aku membawakanmu buku.” Leeteuk langsung mengeluarkan dua buah buku yang tadi dibawanya dengan kantong.

Dengan semangat Yoogeun meraih buku itu. “Yes! Buku lagi! Aku bisa menghabiskan seharian waktuku dengan membaca buku. Tadi Kangin hyung juga sudah membacakanku cerita, hyung. Dia pendongeng yang lucu.” Yoogeun tertawa riang sambil naik ke atas tempat tidurnya dan membuka buku yang diberikan Leeteuk.

Lagi- lagi Leeteuk melirik ke arah Youngwoon yang tengah asyik mengusap rambut Yoogeun sambil tersenyum lembut.

“Sebelumnya, biar aku memeriksamu dulu.” Leeteuk kembali fokus. Namja itu mengenakkan kacamatanya lagi dan mengeluarkan peralatannya.

Tanpa diminta, Youngwoon langsung berdiri menjauh dari tempat tidur dan membiarkan Leeteuk melakukan pekerjaannya terhadap Yoogeun. Mata namja tampan itu terus mengawasi sosok Leeteuk dihadapannya.

Dia agak terpesona..

“Aku akan meminta suster Sunkyu untuk menemanimu. Akan sangat bahaya kalau rasa sakitmu itu datang lagi. Bagaimana?”

“Nggak buruk. Aku suka suster Sunkyu. Dia yeojya yang imut!”

Dengan gemas Leeteuk mengacak rambut Yoogeun. “Dasar! Kau ini kan masih anak- anak. Tau apa kau tentang yeojya imut atau nggak..”

Yoogeun nyengir memamerkan deretan giginya. “Oke.. Hyung dan Kangin hyung bisa meninggalkanku, kok. Aku akan baik- baik aja disini.”

“Arraseo.” Leeteuk kembali memasukkan peralatan kedokterannya dan menoleh menatap Youngwoon. “Kau juga harus pergi, dia butuh istirahat.”

“Oke.” Youngwoon berjalan kearah pintu. “Sampai nanti, Yoogeunnie!”

“Bye, hyung!”

Youngwoon berjalan keluar dari kamar itu, baru disusul oleh Leeteuk. “Padahal kelihatannya kau nggak terlihat menyukai anak- anak. Kenapa kau bisa ada di kamarnya?” Leeteuk memulai pembicaraan saat keduanya berjalan berdampingan.

“Aku mau tahu aja.”

“Mau tahu apa?”

“Aku mau tahu seperti apa anak yang kau rawat sampai memunculkan ekspresi panik seperti kemarin. Ekspresi panik, shock, terluka, trauma, saat aku melihat wajahmu kemarin aku terus kepikiran. Jadi aku mau tahu..”

Leeteuk mematung diam.

“Ada yang salah dengan tindakanku hyung? Mianhae..”

“Aniya. Kau nggak salah.” Balas Leeteuk datar.

“Anou, apa ada sesuatu yang membuatmu sampai sebegitunya? Apa karena waktunya sebentar lagi? Kau memperlakukannya secara istimewa apa karena dia mengingatkanmu kepada..”

“Dari mana kau tahu?” Leeteuk memotong dengan tampang serius. “Kau mencari tahu tentang aku?”

Merasa tak enak, Youngwoon mengalihkan wajahnya dari tatapan Leeteuk. “Mian lagi hyung. Kemarin aku bertanya- tanya ke banyak suster tentangmu. Dan mereka bilang kalau kau pernah kehilangan_”

“Hentikan!”

Degh! Youngwoon terdiam kaget.

“Jangan pernah mencari tahu tentang diriku lagi. Kau nggak punya hak untuk melakukannya!” Leeteuk langsung berjalan meninggalkan Youngwoon yang hanya bisa mematung menatapnya yang semakin jauh.

Hanya itu yang bisa dilakukan Youngwoon, menatap sosok Leeteuk yang meninggalkannya.

Leeteuk tak berniat mengingat lagi kejadian saat itu. Ia harus menjadi sosok yang tegar dan kuat. Dia sama sekali nggak ingin kelihatan lemah di depan orang lain. Karena dia seorang dokter!

0o0o0o0o0o0o0

~Youngwoon pov~

“Yoogeun!” Aku masuk ke dalam kamar anak itu sambil membawa mainan kepadanya. Sebuah puzzle kayu. Dia pasti akan tertarik dengan mainan ini. Tapi aku langsung diam saat melihat Teukie hyung tengah memeriksa kondisinya sedangkan anak itu kelihatan tertidur.

Teukie hyung menoleh kepadaku. “Apa tugas magangmu hanya bermain-main Youngwoon-ah?” Dia bertanya sinis sambil memasukan stetoskopnya ke balik kemejanya. “Saat ini Yoogeun harus kubiarkan tertidur, jadi tolong jangan ganggu dia dulu.”

Tertidur?

“Penyakitnya..”

“Bukan urusanmu.” Lagi- lagi namja itu memotong ucapanku. “Kumohon lakukan tugasmu dengan baik. Jangan ikut campur, Youngwoon-ah..”

“Waeyo?” Aku bertanya pelan. Aku nggak mau terus membuatnya tersinggung dan marah padaku. Aku nggak mau dia terus bersikap datar begitu.

Teukie hyung berjalan kearahku dan mendorongku keluar dari kamar Yoogeun. “Sudah kubilang ini bukan urusanmu.” Balasnya tanpa emosi. Dia melepaskan kacamatanya dan menyelipkannya di saku jasnya.

Piiip! Tiba- tiba aku mendnegar alat pemanggilnya berbunyi.

Teukie hyung langsung terkesiap. “Panggilan mendadak?”

“Dokter Park! Lee Jinri mengalami pendarahan mendadak dari seluruh tubuhnya. Kondisinya kritis! Tolong segera ke ruang operasi!” Aku bisa mendengar seruan seorang suster dari alat itu dan tanpa bicara apapun Teukie hyung langsung berlari meninggalkanku.

Operasi? Perasaanku nggak enak nih..

Aku langsung mengejarnya.

Teukie hyung masuk ke dalam ruang operasi. Di depan ruangan itu sepertinya keluarga pasien sedang menunggu dengan panik. Sang eomma menangis disisi suaminya. Aku berdiri mematung di depan ruang itu.

Ya Tuhan.. Semoga operasinya berjalan lancar..

.

Satu jam berlalu..

Lampu ruang operasi masih menyala. Aku memang belum terlalu paham penyakit apa yang diderita pasien itu. Tapi kalau dia sampai mengalami pendarahan parah, sepertinya penyakit yang cukup mematikan.

.

Dua jam berlalu..

Operasi itu masih belum selesai. Aiish.. Menunggu sangat melelahkan. Bagaimana dengan para dokter dan suster yang berjuang di dalam? Juga dengan sang pasien yang saat ini berjuang untuk hidup? Inikah rasanya menjadi seorang dokter?

Aniya! Ini masih belum..

.

Tiga jam..

Ya Tuhan! Kenapa lama sekali?! Apa yang dilakukan mereka di dalam! Kalau selama ini yang ada nyawa pasien itu bisa berbahaya. Apa masih bisa diselamatakan?

Tep! Tiba- tiba lampu ruang operasinya mati.

Operasinya selesai..

Seorang dokter keluar dari ruangan itu. Dan keluarga si pasien langsung menghampirinya.

Ah, tidak.. Aku tahu arti raut wajah dokter itu.. Aku sangat tahu artinya sebelum dokter itu bersuara.

“Mianhae.. Kami sudah berusaha sebisa yang kami lakukan. Tapi Tuhan berkehendak lain..”

Ctaaar! Entah kenapa rasanya petir menyambar tubuhku. Dingin. Kaku. Shock. Aku benar- benar lemas mendengar ucapan dokter tadi. Meski aku nggak mengenal pasien itu, tapi aku bisa merasakan sakitnya.

Lalu.. Bagaimana dengan Teukie hyung?

Perlahan kulihat namja itu keluar dengan tampang kelelahan. Ia melewatiku begitu saja. Tanpa menyapaku atau menatap kearahku. Dia kelihatan sangat terpuruk.. Tatapan matanya memang kelihatan biasa, tapi aku merasa sangat terluka menatapnya.

“Dokter Park pasti sangat terluka.”

Eh? Aku mengalihkan pandangan kearah beberapa suster yang menatap Teukie hyung diam- diam.

“Dia memang tak pernah kelihatan shock kalau gagal dalam operasi. Tapi kudengar dia hanya menutupi perasaannya. Dia yang paling trauma kalau operasinya gagal. Dia selalu terkenang dengan nam-dongsaengnya.”

Teukie hyung..

Aku langsung berjalan menyusul Teukie hyung yang sepertinya sudah kembali ke ruangannya. Di depan ruangnnya aku perlahan membuka pintunya. Sangat pelan karena aku tak mau mengejutkannya..

Dan gerakanku langsung terhenti sebelum pintu itu terbuka lebar.

Kini kulihat namja cantik itu tengah duduk ditengah ruangannya sambil setengah membungkuk dan tubuhnya bergetar. Isakan pelan mengalir dari bibirnya. Dia menangis sepilu itu!

Aku langsung menutup pintu ruangannya dan bersandar dibaliknya. Menahan nafas atas apa yang baru saja kulihat. Seorang malaikat yang tadinya kulihat sebagai sosok yang sangat berdedikasi sebagai seorang dokter, kini rapuh di balik pintu ini..

“Hyung…”

~Youngwoon pov end~

0o0o0o0o0o0o0o0

“Yoogeunnie..” Leeteuk tersenyum saat masuk ke dalam kamar Yoogeun. “Eh? Kau sendirian hari ini? Biasanya Youngwoon selalu ada di kamarmu.”

Yoogeun nyengir kearahnya. “Kangin hyung kan banyak kerjaan, hyung. Kudengar dia diangkat sebagai asisten dokter Kim.”

Leeteuk hanya mengangguk kecil. “Bagaimana keadaanmu?”

“Sangat baik!” Yoogeun menggenggam kedua tangannya erat dengan tampang semangat.

Melihatnya, Leeteuk tersenyum sambil mengusap kepala namja kecil itu sayang. Luka yang diterimanya kemarin sudah sedikit terobati. “Bagus.. Kau harus semangat terus seperti ini. Kalau kau semangat, maka musim dingin yang panjang ini akan segera berubah jadi musim semi.”

“Nae hyung!” Yoogeun benar- benar kelihatan semangat. “Ah, hyung..”

“Hmm?”

“Kemarin eomma bilang padaku..”

“Bilang? Tentang apa?”

Kini Yoogeun tersenyum lembut menatap Leeteuk. “Eomma bilang, kalau aku mau sembuh masih ada cara satu lagi. Dengan sebuah operasi yang hyung bicarakan dengan dokter kepala itu. Dokter kepala bicara dengan eomma dan appa, dan mereka kembali bilang padaku.”

Degh-degh! Jantung Leeteuk berdegup kencang.

“Ta-tapi itu mustahil. Kemungkinan keberhasilannya_”

“Hanya sepuluh persen kan?”

Leeteuk menatap Yoogeun nggak percaya. “Kau tahu?”

“Aku tahu dan aku sudah memutuskannya, hyung..”

Kali ini Leeteuk benar- benar dikuasai perasaan takut yang teramat dalam. Sepertinya dia mengerti apa yang akan dikatakan Yoogeun setelahnya. Dia perlahan mundur menjauh.

“Aku sudah memutuskan untuk menjalaninya, hyung..”

Leeteuk langsung merasa sesak. Nafasnya tercekat dan tanpa sengaja agendanya jatuh begitu saja. “A-apa?”

“Aku sudah bilang akan menjalaninya. Tinggal melakukan persiapan aja. Aku mau sehat hyung. Aku mau melihat lagi semua musim yang ada. Aku mau bermain di luar. Aku ingin tumbuh dewasa dan menjadi seorang dokter seperti Teukie hyung..”

“Jangan katakan.” Leeteuk kembali menguasai dirinya dan mengambil agendanya yang terjatuh. “Jangan bilang kau mau menjadi dokter anak sepertiku agar kau bisa menyembuhkan anak- anak yang terkena penyakit sepertimu.”

Yoogeun nyengir. “Hyung tahu ya?”

“Kau tak akan bisa melakukannya.” Mata Leeteuk terasa panas dan mulai berkaca- kaca. Tapi dia menahan dirinya agar tak menangis sekarang. “Kau jangan pernah menjadi dokter. Kalau kau sehat, kau jangan pernah merasakan betapa sakitnya menjadi sepertiku, Yoogeun. Kau harus menjadi sosok yang lain yang lebih menyenangkan..”

“Aniya!” Yoogeun cemberut. “Aku tetap akan menjadi dokter ah.. Aku mau jadi seperti hyung. Hyung itu ibarat malaikat yang dikirim Tuhan untukku. Karena itu aku mengidolakan hyung dan ingin menjadi seperti hyung.”

Leeteuk membekap mulutnya dan mencoba tersenyum. “Baiklah kalau itu maumu. Aku akan mendukungmu. Sekarang istirahatlah.. Aku masih banyak tugas. Sampai nanti Yoogeun.” Leeteuk berjalan keluar dari kamar itu.

Saat di depan kamar itu ia menatap Youngwoon yang sudah ada dihadapannya. Menatapnya.

“Youngwoon-ah..?”

“Hyung..”

“Permisi..” Leeteuk berjalan goyah meninggalkan Youngwoon.

“Kau bisa hyung!”

Degh! Namja itu berhenti.

“Kau bisa melakukannya. Kau bisa menyelamatkannya dan membantunya mewujudkan impiannya. Kau adalah dokter yang hebat. Aku percaya kau bisa melakukannya dengan baik. Hwaiting..”

Leeteuk tak berniat menoleh. “Gomawo.” Ia kembali berjalan meninggalkan Youngwoon yang seperti biasa, memandanginya yang semakin menjauh.

“Sampai kapan.. Kau akan terus meninggalkanku seperti ini hyung..?” Gumamnya pelan sambil memandangi ke kamar Yoogeun yang tertutup rapat.

.

~Leeteuk pov~

Aku memandangi foto Hae kecil yang selalu kubawa kemana- mana. Foto ini seakan penguatku. Obat yang selalu menenangkanku.

Teringat kembali ucapan Yoogeun tadi.

Dia ingin menjadi dokter sepertiku.. Sedangkan aku menjadi dokter karena Donghae. Aku nggak mau melihat anak kecil yang meninggal karena penyakitnya. Sebisa mungkin aku ingin menyelamatkannya. Aku ingin mereka merasakan banyak hal yang belum mereka rasakan. Tumbuh dewasa… Mewujudkan impian…

Tapi kenapa…

Ini kejam! Tuhan… Apa aku bisa melakukannya?

Hwaiting!

Aku teringat kalimat terakhir Youngwoon tadi.

Semangat? Ya, aku harus semangat. Aku adalah dokter dan aku akan menyelamatkan Yoogeun. Kalau aku berusaha sekuat tenaga, aku pasti akan berhasil. Aku tahu aku bisa melakukannya. Demi Yoogeun. Demi impiannya..

~Leeteuk pov end~

0o0o0o0o0o0o0

~Youngwoon pov~

Akhirnya hari ini tiba. Disinilah aku. Berdiri mematung di depan ruang operasi. Menunggu bersama dengan keluarga Yoogeunnie. Menunggu hasilnya..

Aku teringat pembicaraanku dengan Yoogeun kemarin malam.

“Kau takut Yoogeun?”

Anak itu menatapku polos. “Aku takut sih hyung.. Aku nggak berani sebenarnya. Tapi kalau membayangkan dengan operasi ini aku bisa sembuh dan kembali menjalani hari- hariku, aku jadi semangat!” Anak itu kembali mengepalkan tangannya kuat- kuat.

Kuusap kepalanya lembut. “Itu baru semangat yang bagus. Kalau kau semangat, para dokter itu juga akan semangat. Dan aku yakin operasinya akan berhasil. Ubah kemungkinan sepuluh persen itu jadi seratus persen!”

“Nae! Arraseo Kangin hyung!” Yoogeun tersenyum lebar menatapku.

“Ah aku juga mau mengaku..”

“Ngh? Mengaku?”

Aku tersenyum menatapnya. “Aku juga akan menjadi dokter anak seperti Teukie hyung. Tadinya aku kuliah di fakultas kedokteran tanpa tahu mau jadi dokter bagian apa. Tapi sekarang sepertinya aku juga menemukan impianku.”

Yoogeun tertawa senang. “Hebat! Suatu hari nanti kita bertiga akan bekerja di rumah sakit yang sama ya? Pasti akan menyenangkan.”

Kembali kuusap kepalanya. “Nae, pasti seru. Sekarang kau tidur aja ya..”

“Nae hyung! Sampai besok!”

Sampai besok.. Sampai hari ini..

Kutautkan kedua tanganku dan berdoa.

Tuhan.. Kumohon semoga semua berjalan lancar. Aku memang jarang sekali berdoa kepadaMu, tapi sekali ini saja. Kabulkanlah semuanya. Harapan semua orang tersimpan dibalik ruangan ini. Kumohon..

.

Aku tak tahu berapa lama aku menunggu. Tapi sudah sangat lama.. Mungkin sudah dua jam lebih aku berdiri di depan ruang operasi ini.

Tep! Lagi- lagi lampunya mati.

Dokter kepala, dokter Lee, keluar dari ruang operasi.

“Mianhae..”

Degh! Degh! Apa yang dibilangnya tadi..

“Kami..”

Drap! Aku terkejut saat melihat sosok Teukie hyung yang langsung berlari keluar dari ruang operasi itu.

“Teukie hyung!!” Aku langsung berlari mengejarnya.

Mungkinkah.. Mungkinkah operasinya telah gagal?

“Hyung jebal! Tunggu aku!”

Dia berlari keluar rumah sakit. Membiarkan salju mengotori jasnya.

“Hyung!!” Aku mempercepat lariku dan langsung menarik tangannya. Dia berbalik kearahku dan saat itu aku tercengang. Dia menangis. Dia menangis tanpa suara. Nafasnya tersenggal- senggal dan wajahnya merah.

Perlahan aku melepas tangannya. “Hyung…”

Dia diam… Hanya terisak sambil membekap mulutnya. Perlahan namja itu berbalik dan hendak meninggalkanku lagi.

“Sampai kapan kau akan begini hyung?!”

Dia terdiam.

“Kau selalu membelakangiku lalu pergi meninggalkanku. Kalau dalam kondisi biasa, aku mungkin nggak mempermasalahkannya. Tapi saat ini.. Saat ini kau butuh seseorang hyung. Dan aku ada disini. Aku ada disini untukmu. Berpalinglah kepadaku..” Suaraku bergetar perlahan.

Masih belum ada respon darinya.

Aku memilih berjalan mendekatinya dan mengambil posisi dihadapannya. Dia menunduk. Air matanya menetes membasahi salju yang kami pijak. “Hyung..”

“Di-dia pergi.. A-aku gagal..” Tubuhnya gemetaran.

Kuraih tubuhnya perlahan dan memeluknya hati- hati. Kudekap kepalanya di dadaku. “Hyung..”

“A-aku.. Aiish..” Suaranya tertahan pilu. “Dia pergi.. Yoogeun..Yoogeun!”

“Tenanglah hyung.”

“Mana bisa aku tenang!! Aku membunuhnya?! Kubiarkan dia pergi!! Kubiarkan dia pergi menyusul Donghae! Kubiarkan dia gagal mewujudkan impiannya! Kenapa kau menyemangatiku?! Kenapa kau membuatku yakin aku bisa melakukannya!! Waeyooo?!”

“Ini bukan salahmu hyung!!” Aku berteriak membalasnya, dia kembali diam. “Ini bukan salahmu. Ini memang takdirnya. Bukankah memang sudah diprediksikan dia akan pergi akhir tahun ini? Ini semua bukan salahmu hyung..”

“Tapi aku yang mempersingkatnya, Youngwoon-ah..” Suaranya parau dan dia memegangi kedua lengaku kuat. “Aku.. Aku..”

“Tenanglah hyung… Aku ada disini. Aku akan selalu ada disisimu. Mulai sekarang, bersandarlah kepadaku. Aku akan melindungi dan menjagamu hyung.. Aku akan selalu ada disisimu mulai sekarang.”

“Youngwoon-ah..” Dia berbisik sambil terisak. “Gomawo.”

Hatiku sakit sekali. Sangat sakit…

~Youngwoon pov end~

0o0o0o0o0o0o0

“Biru..”

Youngwoon menoleh kearah Leeteuk yang berjalan sambil memasukan tangan di saku jas putihnya. Dia tersenyum dengan mata teduhnya sambil menatap ke laut lepas dan langit yang biru. Musim panas…

“Sangat tepat kalau laut ini menjadi tempat dimana mereka menebar abu Yoogeun..” Gumam Youngwoon.

“Yoogeunnieeee!!! Kau dengar aku???!”

Youngwoon tersentak karena tiba- tiba Leeteuk berteriak. Suaranya melebur bersama deburan ombak. Seperti biasa, Youngwoon hanya menatapnya. Menatap sosoknya yang sempurna dimatanya itu. Malaikatnya..

“Yooguennie!!!”

“Hyung!” Youngwoon berjalan menghampiri Leeteuk. “Berteriak sekencang apapun, suaramu langsung di telan ombak tahu. Sudah hentikan daripada pita suaramu rusak.”

Leeteuk tidak menatapnya. Tatapan matanya lurus ke laut lepas. “Dia mendengarku kan?”

“Tentu.” Ditepuk bahunya. “Dia itu sangat mengidolakanmu. Dimatanya kau bagaikan seorang malaikat yang Tuhan kirim untuknya. Dia sangat ingin menjadi orang sepertimu, jadi mana mungkin dia nggak mendengarmu.”

“Youngwoon-ah..”

“Nae?”

“Kau benar kan..?”

Youngwoon mencoba menatap wajah Leeteuk bingung. “Benar apa hyung?”

Namja itu mengalihkan pandangannya kearah Youngwoon. “Kau akan selalu ada disisiku. Bersamaku. Melindungiku. Kau akan menopangku..”

Youngwoon tersenyum kepadanya. “Tentu. Aku ini namja yang selalu menepati. Aku akan selalu ada disisimu.”

Leeteuk kembali menatap ke laut lepas. “Bagi Yoogeun, aku adalah idolanya. Aku adalah orang yang ingin disamainya. Aku bagaikan malaikat yang dikirim Tuhan padanya. Tapi sejujurnya itu salah, buatku dialah malaikat itu.Yoogeun adalah malaikat kecil yang dikirm Tuhan untuk menyadarkanku.”

“Hyung..?”

“Sejak Donghae meninggal, aku meras sendirian. Aku menghadapi semuanya sendirian. Aku berusaha tegar dengan kekuatanku sendiri. Tapi semuanya perlahan berubah. Aku bertemu Yoogeun. Dia mirip dengan Donghae. Dia membuatku tergantung kepadanya. Dia membuatku berpikir, kalau dia pergi maka aku akan sendirian lagi. Aku nggak mau sendirian lagi..”

Mata namja itu kembali berkaca- kaca.

“Tapi aku salah.. Dia pergi dan membuatku sadar akan sesuatu yang lain.”

“Apa itu?”

“Disaat dia pergi aku tetap tak akan sendirian. Tuhan nggak akan membiarkanku sendirian. Dia akan mengirimiku malaikat lain yang akan berada disisiku.” Leeteuk memandang Youngwoon. “Dan saat ini kaulah malaikat itu Youngwoon.”

Youngwoon terperangah mendengar ucapannya itu. “Hyung.. A-aku malaikat?”

“Kau malaikatku. Malaikat lain yang lagi- lagi Tuhan kirimkan untukku. Gomawo Youngwoon-ah..”

Youngwoon tersenyum sambil perlahan meraih tangan Leeteuk dan menggenggamnya erat. “Jangan bilang terima kasih. Kalau kau bilang terima kasih karena aku akan selalu melindungimu, kau akan menyesal. Karena seumur hidupmu, kau harus mengucapkannya kepadaku.”

“Mwo?”

Dengan sigap Youngwoon langsung memeluk tubuh Leeteuk erat. “Karena seumur hidupku aku akan melindungimu. Aku akan bekerja lebih keras agar bisa menjadi dokter anak sepertimu dan kita bisa bersama selamanya.”

Perlahan Leeteuk meraih lengan Youngwoon yang memeluknya sambil tersenyum dan memejamkan matanya. “Kalau begitu bersiaplah mendengarnya, karena aku akan mengucapkannya seumur hidupku hanya untukmu. Gomawo Youngwoonnie..”

“Kau nggak mendengarkanku hyung.” Youngwoon tertawa lepas sambil menatap ke laut lepas. Dia tersenyum lembut. Tersenyum untuk seorang anak yang diyakininya saat ini sedang menatapnya juga.

Yoogeun.. Malaikat yang Tuhan kirim untuk mereka. Yang pada akhirnya mempersatukan mereka.

.

~Fin~

11 thoughts on “An Angel

  1. sedih. bc ini pengen nangis. kanker otak emang jrng bs smbh, Tp manusia kn cm bs berusaha. Yoogeun imut polos, cpt bgt diambil Tuhan. Lg2 pngen nangis.

    KangTeuk semangat y biar bs sembuhin anak2 yg lain.

    salam,

    Elle

  2. *mewek breg siwon*
    kalo ad dktr kyk teukie d sini,
    mgkin namdongsaengku yg brnasip sama kyak yoogun bs kuat. . Sumpah . Ni crita nyindir gw bget. . Jd kgen adikku. .
    Thx unnie,, ni ff yg gk mgkin aku lupain

  3. eonni…crita y mengharu biru…keren….bhasa y jga bgus…tetep bkin ff yg laen y…terutama yg da teukppa y…brothership jga psti seru…

  4. Hwaaa… Jadi pengen nangis bacanya… T.T
    Paling sedih krna Yoogeun gak bisa smbuh… ;(

    Tapi over all.. Crita nya bgus.. Lain dari biasanya krna backgroundnya di rumah sakit.
    Good job, Taena-chan…😀

  5. annyeong~ saya readers baru disini^^
    ff kangteuk yang menyentuh, sedih, bahagia, geregetan sekaligus jadi satu! kkk~ aku suka. jarang-jarang ada ff kangteuk sebagus ini. kkk~
    kalo bisa buat lagi yah, tapi yang sad ending sekali-kali .-. *readers baru banyak bacot* kkk~
    HWAITING!!

  6. Hiks .. Hiks
    cerita’a sedih eonni ..
    Biqqn aqqu nangis tersedu” *lebay*
    n kayak’a teukie salah ngomong dech harus’a kangin itu racoon buqqn malaikat .. Hahaha *d gorok kangin*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s