(3rd Story) Key of Memories // HaeHyuk

Devil Half Angel -D.H.A- Series

.

Cast ::

Angel :: Kim Leeteuk

Petal :: Kim Heechul

Cloud :: Kim Yesung

Camomile :: Kim Youngwoon

Shins :: Shin Donghee

Jewel :: Lee Hyukjae

Snow :: Kim Kibum

Sparkyu :: Kyuhyun

Mitang :: Zhoumi

String :: Henry Lau

.

Other Chara : Lee Donghae

.

Key of Memories

(Third Story)

.

(All pov Hyukjae)

 

Aahh.. Ada- ada saja sih masalah yang kami hadapi di Halfpas. Memang ini semua resiko karena melanggar peraturan dewa. Tapi ini sudah sangat nggak masuk akal..

Pertama Teukie hyung yang menjalin cinta dengan pangeran iblis. Cinta malaikat dan iblis sampai matipun nggak akan direstui oleh dewa manapun. Itu sangat menyalahi aturan dunia. Tapi karena benar- benar serius akhirnya ide gila kabur ke Halfpast dipilih.Dan bodohnya, aku ikut dengan hyung kabur kesini.

Lalu kini cinta antara malaikat dan manusia yang dialami Kibummie dan Yesung hyung. Yang lebih konyolnya, sekarang pangeran itu juga terlibat cinta semacam ini. Aku mulai ragu kalau hal ini semua bukanlah kutukan. Kurasa kami semua memang dikutuk..

Dan yang terakhir..

Namja itu..

Grak! Aku langsung menoleh kebelakang dengan sedikit menggeser kursiku. Namja itu tadinya memperhatikanku, tapi dia langsung membuang muka dan sok sibuk sendirian.

Kenapa dia selalu memperhatikan gerak- gerikku? Sejak aku masuk ke sekolah ini dia selalu memperhatikanku. Aku sudah menyelidikinya, tapi tetap saja aku nggak tahu apa yang ada dipikiran namja aneh itu.

Apa dia iblis seperti kasus Kim Ryeowook dulu? Atau dia sesama malaikat? Tapi itu nggak mungkin.. Sedikitpun nggak ada hawa semacam itu dikelas ini. Dia hanya manusia biasa yang sepertinya agak penasaran dengan diriku.

Dan aku selalu jadi risih dibuatnya..

Aku langsung berdiri dan berjalan mendekati anak itu. “Waeyo, Lee Donghae?”

“Eh.. Eh? A-apa?” Lagi- lagi dia berpura- pura nggak sadar denganku. Kedua bola matanya menatapku aneh. Setiap melihat wajahnya aku merasa agak mual. Aku sendiri nggak tahu kenapa.

Dilihat dari hatinya, dia sama sekali bukan orang jahat atau berpikiran buruk sehingga hatinya nggak terlihat kotor. Tapi aku selalu saja merasa mual. Sejak tiba di Halfpast, sampai tempat ini, aku selalu penasaran dengan hal ini dan selalu menyelidikinya, tapi aku nggak bisa menemukan jawabannya.

“Nae Lee Hyukjae?” Tanyanya.

“Kenapa kau memperhatikanku? Ini bukan yang pertama kalinya aku memergokimu sedang menatap kearahku loh.. Ada yang aneh diwajahku ya?”

Namja manis itu menatapku nggak percaya. Sudut bibirnya perlahan membentuk seulas senyum manis. “Aku hanya memperhatikan warna langit kok.. Kebetulan aja kau duduk di dekat jendela jadi aku kelihatan selalu melihat kearahmu.”

Dasar pembohong..

“Oh ya? Kukira kau bisa melihat warna langit tanpa menatap ke arahku. Nae, Hae.. Mulai sekarang kalau kau hanya ingin melihat warna langit tatap aja bagian lain kelas kita. Arra?” Kudekatkan wajahku kepadanya.

Dia berdecak pelan. “Suka- suka aku dong..”

“Tapi aku risih tahu.”

“Kau ini yang risih bukan aku.” Kali ini ia menjulurkan lidahnya meledekku lalu berdiri. “Aku nggak suka diatur oleh orang yang bahkan lebih manis dariku Lee Hyukjae. Hehe..” Dia hanya nyengir sambil menepuk bahuku beberapa kali dan langsung berjalan meninggalkanku keluar kelas.

Dia memang aneh dan menyebalkan..

0o0o0o0o0o0o0o0

“Beberapa hari ini ada yang merisaukanmu Jewel?”

Aku menoleh menatap Teukie hyung yang meletakkan sebuah pot bunga di pinggir jendela dan menatap kearahku aneh. “Apa?” Aku balik bertanya.

“Sejak kau hidup di Halfpast sepertinya kau sering sekali bilang ada yang harus kau selidiki. Apa sebenarnya yang kau selidiki? Apa ada masalah denganmu Hyukkie? Kau bisa ceritakan padaku..”

Masalah? Sebenarnya masalahnya bukan padaku..

“Aniya hyung. Aku nggak ada masalah. Hanya saja ada seorang namja yang selalu membuatku merasa aneh. Dia selalu memperhatikanku sejak aku pertama kali masuk sekolah, tapi sekalipun dia nggak berniat berteman denganku. Kalau aku tanya kenapa, dia selalu mencari alasan yang aneh- aneh dan berlalu begitu saja. Aku jadi penasaran..” Kutatap Teukie hyung serius. “Apa wajahku aneh hyung?”

Bukannya Teukie hyung yang menjawab, aku malah mendengar suara Kyuhyun tertawa keras sekali. Kulirik anak itu yang sedang bermain PSP di sudut ruangan dengan posisi duduk di atas rak meja.

“Heyo Kyu! Aku nggak bicara denganmu!”

“Kalau nggak mau aku ikutan, jangan bicara di dekatku, dong..” Kyuhyun menatapku dengan mata liciknya. “Hyung tahu? Bukan cuma wajah, tapi otakmu itu juga sama aneh dan jeleknya. Dia pasti mau bilang begitu, tapi takut. Makanya dia hanya memperhatikanmu dari jauh.”

“Cho Kyuhyun Sparkyu jaga ucapanmu!”

Pletak! Entah dari mana datangnya, pangeran Petal sudah berdiri disampingya dan menyentil kepala Kyuhyun kencang.

“Sakit! Hyung itu kenapa sih mainnya kasar begini?! Aku magnae loh.. Magnae!” Kyuhyun memberikan penegasan di kata magnae yang diucapkannya itu.

Pangeran Petal sepertinya nggak berniat meladeni si Kyuhyun. “Angel.. Tadi Camomile bilang mungkin malam ini nggak akan pulang.”

“Wae?”

Namja tinggi dan cantik itu mengangkat bahu. “Mungkin karena dia sedang asyik menyerap jiwa kotor. Ah, entahlah.. Malam ini kau siapkan makan malam seadanya saja. Aku juga nggak akan pulang..”

“Kalian para iblis itu hidupnya menyenangkan yaa..” Gumamku sambil berdiri. “Nae, Teuki hyung, aku mau jalan- jalan aja. Karena pangeran sudah punya pacar aku jadi diasingkan nggak ada kerjaan. Kibummie juga selalu mengikuti kemana pangeran pergi bersama dengan pacarnya itu. Huh..”

“Cari pacar sana hyung..” Kyuhyun masih belum kapok ternyata.

Aku langsung menatap kearahnya dengan tajam dan..

Pletak!

“Aw!” Namja itu menoleh kearah lain sambil mengusap dahinya lalu menatapku kesal. “Jangan gunakan kekuatanmu itu untuk menyerangku dong.. Kau curang. Mau kubalas?”

“Heechul hyung!!” Aku menatap pangeran Petal seakan tengah meminta pertanggung jawabannya.

“Kyuhyun!!”

Kyuhyun meloncat turun dari meja. “Curang! Mainnya ngadu sama si iblis itu!” Si magnae evil itu langsung kabur ke kamarnya sambil tertawa- tawa senang.

Dasar bodoh.. Dia malah iblis yang lebih berbahaya dari pangeran iblis sekalipun.. Cih..

0o0o0o0o0o0o0o0

Tega! Kok bisa sih pangeran dan Kibum pergi sekolah begitu aja tanpa bilang sama aku? Aku memang kesiangan tapi jangan ditinggal kenapa. Kalau sesuatu terjadi dengan mereka nanti siapa yang bertanggung jawab? Pasti aku..

Hyaaah!!

Brugh! Tiba- tiba aku bertabrakan dengan seseorang di perismpangan jalan. Untungnya nggak ada yang terluka. Tapi saat kulihat siapa yang kutabrak.

“Kau?” Donghae menatapku kaget.

Aiish.. Kenapa harus dia yang kutemui pagi- pagi?

“Mianhae..” Aku langsung berlari lagi meninggalkannya. Tapi dipinggir jalan kulihat seekor anjing tengah berteduh sambil menjilati bulunya yang kecoklatan. Dia haus..

Aku memutar arah lariku jadi menghampiri anjing itu. “Heyo, kau haus?” Kutadahkan telapak tanganku kearahnya dan perlahan muncul air di telapak tanganku. Tentu saja aku bisa melakukannya, aku ini malaikat air.

Malaikat memang memiliki posisi masing- masing di dunia lain. Ada malaikat pengikat musim seperti Kibum yang menjadi malaikat musim dingin, ada malaikat pengikat elemen seperti aku yang malaikat air, malaikat utama yang memiliki tugas hebat seperti Teukie hyung yang menghidupkan para malaikat baru. Malaikat pengawas seperti Shins hyung, juga malaikat penjaga yaitu Mitang hyung dan String.

Karena itu mengeluarkan sedikit air begini sangat mudah.

“Padahal nggak hujan dan kau nggak membawa botol air. Darimana datangnya air itu?” Tiba- tiba Donghae sudah berjongkok disampingku dan mengusap kepala anjing yang tengah minum dari tanganku itu. Namja itu menatapku penasaran.

Aku hanya tersenyum kecil kepadanya. “Dari Tuhan.” Jawabku asal.

“Kau suka anjing ya?”

“Aniya. Aku nggak memiliki ketertarikan khusus terhadap sesuatu yang ada di bumi ini. Aku memberinya minum atas dasar saling membantu sesama mahluk hidup aja kok..”

Bisa kurasakan Donghae menatapku bingung.

“Aku aneh kan?” Kualihkan pandanganku menatapnya dan dia memalingkan wajahnya.

“Sangat.” Sekilas aku melihat sinar matanya berubah sedih sekali. “Kau sangat aneh kau tahu itu? Kau bahkan mengatakan hal yang sama dengan dia.” Donghae langsung berdiri dan berjalan meninggalkanku begitu saja.

Dia? Dia itu siapa?

Perlahan kutekan lagi perutku yang terasa mual dan sekarang kepalaku mulai pusing. Apa disekitar sini ada tekanan jiwa kotor yang kuat sehingga aku jadi seperti ini? Aiish..

Perlahan aku berdiri tapi sulit..

Pandanganku memudar..

“Donghae.. Tolong..” Ucapku sebisa mungkin. Setelah itu aku hanya bisa melihat kegelapan dan nggak bisa mengingat apapun lagi.

.

Hangat…

Perlahan aku membuka mataku dan kaget saat melihat telapak tangan seseorang di hadapanku. Tapi kekuatan yang kurasakan ini.. Ini milik pangeran.

“Yesung hyung..?”

“Kau sudah sadar?” Pangeran langsung menarik tangannya dan menatapku lega. “Syukurlah.. Aku kurang paham bagaimana caranya mentransfer kekuatan jiwa seperti yang dilakukan Teukie hyung, untungnya saja kau bisa bangun..”

Aku baru tahu jiwa Yesung hyung sehangat itu. Selama ini aku kan hanya mendapatkan jiwa dari Teukie hyung, jiwa mereka sedikit berbeda tapi sama- sama hangat.

“Bagaimana keadaanmu hyung?” Kibum berjalan mendekatiku. “Mianhae nae.. Tadi aku dan pangeran berangkat duluan soalnya ada tugas yang harus kami selesaikan di kelas.”

“Gweanchana.” Aku mencoba duduk dan memandang sekelilingku. Aku di ruang kesehatan. Dan kulihat Donghae berdiri di dekat pintu dan menatapku khawatir. “Hae? Kenapa kau ada disini?” Tanyaku.

“Dia yang membawamu kesini. Kalau dia nggak ada mungkin kau saat ini masih dipinggir jalan. Baiklah, aku dan Kibum keluar dulu biar kalian bisa bicara.” Pangeran langsung mendorong Kibum agar keluar dari ruangan ini.

Kutatap Donghae yang perlahan berjalan mendekatiku. “Kau.. Membuatku sangat takut Lee Hyukjae..”

“Mwo? Mianhae.. Aku memang bisa pingsan kapan saja.” Jawabku. Aku nggak berbohong kan?

“Kau punya penyakit?” Dia menatapku semakin cemas.

Aku menggeleng. “Aniya.. Tubuhku ini memang agak berbeda dengan manusia biasanya.” Lagi- lagi aku nggak berbohong, dia juga nggak akan paham kan. “Kenapa kau secemas itu? Mian kalau aku merepotkan..”

Donghae menghela nafas. “Kau mau tahu kenapa aku cemas?”

Dia mau memberi tahu alasannya?

“Apa.. Ada hubungannya dengan kau yang selalu mempehatikanku?” Tanyaku ragu sambil menatapnya menyelidik.

Namja itu mengangguk sambil mengeluarkan sebuah liontin kecil yang tersembunyi di balik seragamnya. Dia membukanya dan memperlihatkan kepadaku foto seorang anak kecil. Dan betapa terkejutnya aku.. Saat melihat anak kecil itu sangat mirip denganku.

“I-itu aku?!” Seruku kaget.

Tentu saja Donghae ikutan kaget. “Bo-bodoh! Namja ini adik kembarku. Kau kaget karena dia sangat mirip denganmu kan?”

Aku mengangguk. Bagaimana bisa aku dan anak itu sangat mirip begitu?

“Kau tahu kenapa aku jadi cemas?”

“Wae?”

Namja itu kembali memasukan liontinnya dan menunduk menatap kedua tangannya yang dikepal. “Adikku meninggal sepuluh tahun yang lalu karena kecelakaan. Dia sempat koma selama satu minggu sebelum akhirnya meninggal. Aku kaget karena kau tiba- tiba muncul. Kau sangat mirip dengannya…” Dia memberikan jeda sejenak saat menatapku. “Bahkan nama kalianpun sama..”

Kali ini aku menganga nggak percaya menatapnya. “Na-nama adikmu itu Hyukjae?”

“Lee Hyukjae. Kau lupa kalau margaku juga Lee? Sama denganmu.”

Dewa.. Kali ini aku yang dipermainkan oleh takdir. Namaku di Halfpast Lee Hyukjae. Nama adiknya Donghae juga Lee Hyukjae dan kami berdua sangat mirip. Apa itu ada hubungannya kenapa aku merasa mual kalau bertemu dengannya?

Apa yang terjadi kepadaku?

“Hyukjae? Kau kenapa? Kau kaget..?”

“Kau bilang adikmu meninggal sepuluh tahun yang lalu kan? Berapa umurnya saat itu?”

“Tujuh tahun..”

Degh! Aku menelan ludah shock.

Tujuh tahun.. Aku terlahir menjadi malaikat saat berusia tujuh tahun. Apakah ini mungkin.. Apakah aku ini sebenarnya adalah..

0o0o0o0o0o0o0o0

“Ingatan sebelum menjadi malaikat? Apa maksudnya hyung?” Kibum merapihkan piring yang selesai kucuci malam itu.

Aku duduk setelah mencuci tangan sebentar. “Malaikat itu nggak semuanya terlahir dari sosok bayi kan? Aku terlahir dimulai saat usia tujuh tahun. Kalau kau Kibum?”

Namja itu tampak berpikir sejenak. “Aku sejak bayi hyung. Jadi aku nggak memiliki ingatan sedikitpun saat menjadi manusia dulu. Meski malaikat itu asalanya adalah manusia suci yang terlahir kembali, tapi nggak ada satupun dari kita yang memiliki ingatan semasa hidup jadi manusia.”

“Kalau Teukie hyung bagaimana? Dia kan malaikat yang menghidupkan para malaikat baru?”

“Mungkin dia tahu.”

Aku langsung bergegas meninggalkan Kibum dan pergi ke ruang depan. Kulihat hyungku dan yang lainnya sedang duduk sambil santai- santai. “Teukie hyung.”

“Hmm?”

“Sebelum aku menjadi malaikat, aku ini siapa?” Aku langsung bertanya tanpa basa- basi kepadanya. Nae, aku hanya ingin tahu secepatnya. Mungkinkah sebelum aku terlahir aku memang adiknya Donghae.

Awalnya hyung mengerutkan keningnya bingung. Tapi dia tersenyum. “Waeyo Hyukkie?”

“A-aku ingin tahu. Disekolah tadi ada seorang namja yang bilang kalau wajah dan namaku sangat mirip dengan adiknya yang meninggal sepuluh tahun yang lalu. Apa mungkin aku..”

“Tidak bisa.”

Aku menatap hyung kaget. Tidak bisa apa? Aku kan belum mengatakan keinginanku.

“Kau tidak boleh mencampur adukkan masalah sebelum kau menjadi malaikat Jewel. Saat ini kau malaikat. Sekalipun kau bertemu dengan orang yang mungkin berhubungan denganmu sebelum kau terlahir dulu, itu nggak akan merubah apapun. Kau bukan adiknya.. Kau hanya sosok adiknya yang terlahir kembali. Kalian sama sekali nggak memiliki hubungan darah atau semacamnya. Arra?”

Huh.. Dia langsung menjawab semua yang ingin kutanyakan!

“Aku.. Aku hanya mau tahu hyung.. Apa itu juga nggak diperbolehkan?” Aku berjalan mendekati Teukie hyung. “Aku selalu merasa mual saat didekatnya padahal dia nggak berjiwa kotor. Jadi kurasa ada ikatan khusus antara kami karena sampai aku menjadi malaikatpun aku masih merasa sesuatu yang khusus terhadapnya.”

“Itu namanya takdir babbo..” Pangeran yang memilih menjawab. Dia melayang ke arahku dan bergelayut dibahuku dengan tampang licik. “Kalau kau mau, aku tahu cara agar kau bisa melihat kembali masa lalumu..”

Benarkah?!

“Jeongmal!” Seruku nggak percaya. “Hyung tahu caranya?”

Namja itu mengangguk. “Aku ini pangeran tahu..”

“Kuharap kau nggak bermain- main dengan kemampuanmu Yesung. Jangan lakukan hal yang akan membahayakan siapapun.”

Aku kembali menatap Teukie hyung. “Jebal hyung demi aku..”

Yesung hyung sepertinya nggak berniat mendengarkan Teukie hyung. Namja itu mengeluarkan sesuatu yang bercahaya di telapak tangannya. Sebuah benda kristal kecil.

“Apa itu hyung?”

“Ini namanya kunci ingatan. Dewa memberikannya kepadaku disaat aku masih kecil dan aku bisa menggunakannya kapanpun. Dengan kunci ini malaikat bisa tahu seperti apa hidupnya dulu. Tertarik mencoba?”

“Mau!” Aku langsung hendak mengambil kristal kecil itu, tapi dengan gesit Yesung hyung melayang menjauh. “Hyung!”

“Tapi kau harus mempunyai satu kunci lagi..”

“Satu kunci lagi?”

Pangeran mengangguk. “Benda yang bisa menghubungkanmu dengan masa itu. Satu saja cukup asal benda itu senilai dengan betapa berharganya masa lalumu itu. Jika nggak senilai, maka kau nggak akan bisa kembali ke masamu saat ini dan terkurung di kristal ini.” Namja itu menghela nafas ragu. “Makanya aku nggak pernah menggunakannya. Aku takut kunci yang satunya lagi nggak senilai dan aku akan terkurung didalamnya.”

“Sudah kubilang itu bisa membahayakan!” Teukie hyung menengahi kami berdua dan menatap Yesung hyung serius. “Simpan kristal itu pangeran Cloud. Ini perintah dariku.”

“Hyung…” Pangeran itu cemberut.

Ini kesempatan emas..

“Benda yang hyung maksud itu apa?” Tanyaku serius.

Yesung hyung kembali menatapku. “Apapun itu asalkan senilai.”

“Kalau begitu pinjami aku.”

“Jewel!”

Aku menatap Teukie hyung serius. “Aku harus tahu seperti apa hubunganku dengan namja itu hyung. Aku selalu merasa risih saat merasakan arti tatapan matanya itu. Bukan hanya luka yang dalam, tapi ada sesuatu yang lain. Dan aku harus mengetahuinya..”

Pangeran terbang pelan kearahku dan memberikan kristal itu kepadaku. “Kalau begitu pakai saja. Aku juga ingin melihatmu menemukan sesuatu yang penting untukmu Jewel. Tapi jangan pernah berlebihan.. Ini bukan mainan.”

“Arraseo pangeran Cloud.”

Aku melirik kearah Teukie hyung yang hanya menghela nafas berat. “Kalian semua mulai mengacuhkan laranganku sekarang..”

“Kami kan masih muda hyung.” Balas Yesung hyung santai sambil menepuk bahuku.

0o0o0o0o0o0o0o0

Seperti yang dikatakannya tentang kristal itu. Aku harus memakai kunci yang lain. Benda yang senilai dengan betapa berharganya kenangan itu untukku. Aku sendiri nggak tahu betapa berharganya kenangan itu. Kira- kira benda apa yang bisa kupakai?

“Heyo, Hyukjae..”

“Waa!” Aku terkejut saat mendapati wajah Donghae sudah berada diatas mejaku. Dia tersenyum manis sekali menatapku. “Ha-hae! Jangan mengagetkanku begitu!”

Namja itu tertawa pelan. “Mian. Kuperhatikan kau melamun, jadi aku ingin mengejutkan sebentar. Ada masalah?”

“Aniya.” Kuceritakan padanyapun dia nggak akan mengerti.

Ah, tapi.. Dia satu- satunya orang yang mungkin tahu seperti apa aku dulu. Mungkin aku bisa minta bantuannya mencari benda yang bisa kutukar dengan kristal itu.

“Ah, Hae.. Aku boleh bertanya sesuatu?”

“Nae?”

Kuputar bola mataku sebelum menatapnya. “Ngh.. Begini.. Kau bilang aku sangat mirip dengan adikmu itu kan? Sebelum adikmu meninggal, menurutmu kenangan kalian itu bisa dihargai dengan apa?”

Namja itu mengerutkan keningnya. “Tentu saja nggak ada satupun yang bisa menghargainya!” Dia langsung berdiri dan kelihatan marah kepadaku. “Kalau kau berpikir kenanganku dengannya bisa dinila begitu, kau salah besar. Bagiku kenangan kami itu bahkan lebih berharga dari pada nyawaku.” Donghae langsung berjalan menjauhiku.

Aiish.. Aku kelewatan kah?

Aku memang membutuhkan bantuannya. Kalau sekarang ada dua manusia yang tahu rahasia kami, ditambah satu orang lagi pasti bukan masalah besar kan?

“Tunggu Hae!” Aku langsung berdiri dan menarik tangannya. Kubawa dia keluar kelas dan berjalan keluar gedung sekolah. Namja itu sama sekali nggak berontak. Saat sekeliling kami sudah sepi aku baru menatapnya.

Dia kelihatan sangat bingung. “Waeyo Hyukjae?”

“Boleh kupinjam liontinmu?”

“Buat apa?”

“Pinjam aja deh..” Aku langsung mengeluarkan liontin itu dari balik seragamnya dan kelakukan itu membuat Donghae mundur selangkah. Dia menatapku kaget dengan wajah memerah.

Aiish! Lagi- lagi aku kelewatan! Sekarang jantungku ikutan berdebar aneh.

“A-aku bisa mengeluarkannya sendiri tahu.” Sungutnya kesal sambil melepas liontin itu dan memberikannya kepadaku. “Mau diapakan?”

“Berjanjilah ini akan jadi rahasia kita.” Ucapku sambil mengeluarkan kristal yang kupinjam dari pangeran kemarin. Tentu saja Donghae kaget bukan main melihat kristal cahaya yang sangat indah itu.

“Hyukjae?! Itu apa?”

“Akan kuberi tahu nanti. Kalau memang kenangan itu sangat berharga dan liontin ini juga sangat berharga, aku yakin ini senilai.” Aku mendekatkan liontin itu ke kristal cahaya itu. Sesuatu yang aneh terjadi.

Cahaya terang menyelimuti liontin itu dan juga tubuhku dan Donghae.

“Hyukjae! Apa ini!”

Buru- buru aku menggenggam tangan Donghae. “Kita akan kembali ke masa dimana aku belum menjadi seorang malaikat. Sudah kubilang padamu kalau tubuhku ini sedikit berbeda dari manusia biasa, kan..”

“Mwo?! Malaikat apanya? Ma-maksudmu?”

Aku menoleh menatap namja itu. “Aku sebenarnya adalah seorang malaikat. Namaku Jewel..”

0o0o0o0o0o0o0o0

Sriing~ Cahaya terang yang menyelimuti kami berdua perlahan memudar. Saat itu juga pijakan kami berdua menghilang dan dengan kecepatan penuh kami berdua terjatuh.

Srats! Aku langsung menyibakkan kedua sayapku dan menarik tangan Donghae.

“Gwaenchana Hae?”

Donghae menengadah menatapku dengan tatapan nggak percaya. “Hyukjae.. Ka-kau benar- benar?”

“Sudah.. Nanti saja pertanyaannya.” Aku langsung terbang menyusuri wilayah itu ke tempat yang sedikit bercahaya. Sebuah rumah yang kelihatan sederhana. Apa ini rumah yang aku tinggali dulu?

“Hyukkie! Jangan kesana!”

Degh! Suara Donghae.

Kami berdua turun dan bersembunyi di balik semak- semak. Kulirik Donghae yang menatap shock sambil mengatupkan mulutnya rapat. Bola matanya kelihatan sangat terluka sekarang. Aku nggak suka.

Kulihat dua namja yang nggak kelihatan mirip bermain di halaman rumah itu. Satu namja yang aku tahu adalah Donghae, dan yang satunya lagi..

“Itu Hyukjae-ku..” Donghae bersuara pelan.

Itu aku?!

Kami berdua hanya diam selama memperhatikan berbagai kejadian di rumah itu. Kejadiannya berpindah dengan sangat cepat dan akurat. Saat Donghae dan aku yang bermain- main di halaman. Bahkan ada kenangan yang memasukkan kedua orang tuaku, mungkin.

“Bisakah kita pulang Hyukjae?”

“Eh? Wae?” Aku menoleh menatap Donghae yang tubuhnya sudah gemetar.

“Se-sebentar lagi..”

Aku sepertinya paham maksudnya.. Sebentar lagi pasti saatnya aku kecelakaan.

“Kita harus segera pulang!” Donghae menarik tanganku cepat.

“Tunggu!” Tahanku penasaran.

Duk.. Sebuah bola mengarah kearah kami berdua. Oow.. Kami ketahuan sepertinya..

“Ah, hyungdeul? Nuguseyo? Kenapa ada di halaman rumah kami?” Hyukjae kecil menghampiriku dan Donghae. Konyol sekali melihat diriku saat menjadi manusia dulu. Kulirik lagi Donghae yang hanya menunduk.

Anak itu mengambil bola di dekat kami dan langsung berbalik.

“Tunggu!” Kali ini Donghae menghentikannya dan langsung menarik tangannya agar menatapnya. Tentu saja anak itu kaget dengan kelakuan Donghae.

Aku melirik Donghae yang kelihatan tersenyum lembut sambil mengusap kepala anak itu. “Hati- hati ya..”

“Ehh?”

“Donghae.. Ayo pergi!” Aku langsung menarik tangan Donghae dan terbang menjauhi pekarangan rumah itu. Aku hanya diam, begitupun dengan Hae. Dia masih menata ulang hatinya yang harus terluka dua kali.

Kami berdua melayang di atas rumah itu.

Kiik! Bruagh! Dua suara itu membuat kami berdua terkejut.

Saat melihat keasal suara, kini yang terlihat adalah tubuh Hyukjae kecil yang tengah terbaring di jalan dengan bersimbah darah dan Donghae kecil yang berlari histeris menghampirinya.

Kecelakaan yang menewaskanku dulu..

Perlahan kusentuh dadaku yang terasa sesak. Aneh sekali dan agak sakit.. Pantas saja Donghae sangat ingin pergi. Mana mungkin dia mau melihat lagi kejadian menyedihkan itu. Aku jadi merasa menyesal karena menolak ajakannya untuk segera kembali tadi.

“Hae, mianhae..” Ucapku pelan sambil menunduk dihadapannya.

“Jadi.. Kau memang benar adikku?” Dia sepertinya menatapku dan suaranya mulai parau. Perlahan tangannya menggenggam tanganku hati- hati. “Kau memang Hyukjae-ku?”

Aku diam. “A-aku bukan adikmu Hae. Aku adalah malaikat yang lahir untuk menggantikan jiwa adikmu itu. Malaikat lahir dari jiwa suci orang yang telah mati. Karena saat meninggal adikmu berusia tujuh tahun, aku terlahir dari usia tujuh tahun. Tapi pada dasarnya aku bukan adikmu.” Aku mengangkat wajahku menatap matanya yang jernih.

“Kalau begitu kenapa kau membawaku kembali ke masa ini?” Donghae menatapku terluka. Matanya merah dan berkaca- kaca. “Kau tahu betapa hancurnya aku saat Hyukjae mati meninggalkanku? Kenapa kau membawaku dan membiarkanku melihat lagi kenangan itu?”

Ah, benar juga.. Kenapa Donghae ikut terbawa? Apa karena dia berada di dekatku saat itu?

“Mollayo.” Jawabku sambil melepaskan tangan Donghae. Ada yang aneh di hatiku saat ini. Aku sendiri nggak tahu apa, tapi rasanya sangat menyesakkan.

Krakk! Tiba- tiba langit retak. Dan warna langit dan sekeliling dunia itu berubah menjadi abu- abu. Seakan mati. Kenapa ini?

“Apa yang terjadi?” Donghae berubah panik.

“Kita harus segera pulang!” Baru saja aku ingin menarik tangan Donghae, tapi sesuatu yang aneh terjadi. Pelahan tangan Donghae yang berusaha kuraih memudar. “Ha-hae?!”

“Hyukjae?! Aku kenapa?!” Donghae panik sambil memegangi tangannya. Dia menatapku aneh.

“Ha-hae!” Sekuat apapun aku meraihnya aku tetap nggak bisa. Ia bagaikan hologram yang nggak bisa kusentuh! Apa ini? Kenapa bisa terjadi?

Lagi- lagi hal aneh datang. Kali ini putaran angin yang sangat cepat mengacaukan kami berdua. Dalam waktu singkat kami berdua terpisah. Aku nggak tahu kemana Donghae pergi dan aku juga nggak tahu kemana angin itu membawaku.

Srat!

Degh!

Dan detik berikutnya disaat aku kembali menatap sekelilingku. Aku kembali berada di pekarangan sekolah. Sendirian.. Tanpa Donghae..

0o0o0o0o0o0o0

“Kau membawa orang ikut ke masa lalu dan dia nggak ikut kembali denganmu?!”

Telingaku nyaris tuli saat mendengar suara Kyuhyun yang berteriak.

Teukie hyung merengkuh bahuku yang gemetar dan menatapku serius. “Jelaskan padaku apa yang terjadi Jewel?”

Tubuhku gemetar dan perlahan air mataku menetes. Aku takut. “A-aku nggak tahu hyung. Disaat aku ingin kembali, tubuhnya memudar dan kami dipisahkan angin yang sangat kencang. Aku hanya pulang sendirian.. A-aku benar- benar nggak tahu hyung..” Kedua kakiku terasa lumpuh. Apa yang harus kulakukan sekarang?

“Pangeran! Bukankah itu kristal milikmu? Kau pasti tahu jalan keluarnya kan?” Kudengar pangeran Camomile berbicara.

Perlahan aku menoleh menatap Yesung hyung. Aku harap dia tahu bagaimana cara mengembalikan Hae kedunia ini.

Tapi pangeran Cloud menatapku penuh rasa bersalah. “Sudah kukatakan kunci satunya lagi adalah benda yang senilai dengan kenangan itu kan? Benda apapun itu asalkan senilai. Dan menurut kristal itu, benda yang senilai adalah jiwa namja yang ikut denganmu.”

Degh! Tubuhku terasa mati sekarang.

“Arrh..” Perlahan aku terjatuh. “Bo-bohong! Kau bohong hyung!”

“Cloud! Apa kau serius?”

Kulihat Yesung hyung mengangguk. “Kan sudah kukatakan sebelumnya. Sekarang jiwa namja itu sudah tertukar. Lebih jelasnya, namja itu telah mati.”

Bohong…

“Andwae!!” Kuhampiri Yesung hyung dan mengguncang tubuhnya. “Kau bohong pangeran! Dia nggak mungkin mati! Dia nggak boleh mati! Aku telah membunuhnya! Seharusnya nggak kubiarkan dia ikut! Seharusnya aku nggak usah menggunakan benda itu! Aaargh!!” Air mataku tumpah sudah. Pikiranku kacau.

Donghae.. Mianhae! Kenapa aku melakukannya kepadamu?!

“Tenanglah Jewel!” Teukie hyung langsung memelukku yang sudah lemah.

“Hyung.. Aku telah membunuhnya…”

“Bukankah semua jiwa yang mati akan terlahir ke dalam sosok malaikat atau iblis sesuai dengan jiwanya semasa hidup? Dan sebelum diputuskan untuk bereinkarnasi atau menjadi malaikat dan iblis, semua jiwa itu akan dikumpulkan di taman jiwa kan?” Kudengar Kyuhyun berbicara.

“Kalau kita pergi ke taman jiwa sebelum keputusannya dibuat, mungkin masih sempat menyelamatkannya.” Kali ini Kibum.

Tapi apapun yang mereka bicarakan.. Aku benar- benar kacau. Aku telah membunuhnya.. Aku malaikat yang terkutuk.

“Jewel lihat aku!” Teukie hyung menatap mataku dalam- dalam. “Sekarang juga kita akan menyusup ke dunia langit. Berharaplah namja itu ada disana dan kalian bisa bertemu lagi.”

“Ta-tapi hyung.. A-aku..”

“Kau harus percaya Hyukjae!” Teukie hyung membentakku. “Kalau kau ingin bertemu dengannya lagi, kau harus percaya. Kenangan kalian berdua yang hilang karena kau harus mati dulu harus kau tebus. Kunci kenangan yang sebenarnya, itu adalah kepercayaan hatimu terhadap orang yang berharga untukmu.”

Kunci kenangan yang sebenarnya adalah kepercayaan hati?

“Apa dia berharga untukmu?”

“Lebih dari nyawaku sendiri..” Jawabku pelan.

“Kalau begitu, ikut aku. Kita pulang ke dunia langit.”

0o0o0o0o0o0o0o0

“Jadi kau memutuskan untuk kembali Jewel?”

Disinilah aku.. Di dunia langit..

Aku menatap Mitang hyung serius. “Ani hyung. Ada yang harus kucari disini. Bisakan kau sekali saja melepaskan kami? Kurasa setelah bekerja sama dengan iblis untuk membawa pangeran, sekarang kau punya alasan untuk membiarkanku.”

Mitang hyung tersenyum licik. “Kau pikir aku taku dengan ancaman terselubungmu itu?”

“Hyung jebal!”

“Aniya!” Namja tinggi itu menatap String yang berdiri malas disisinya. “Kau sendiri kenapa diam saja? Kenapa kau nggak tangkap Jewel dan bawa dia kehadapan dewa?”

String menatapku. “Hyung, kau mau membuat pertukaran denganku?”

“Pertukaran apa?”

“Akan kubantu kau melewati Mitang hyung, tapi berjanjilah untuk selalu menjaga pangeran di Halfpast sana.” String tersenyum jahil kearahku. Ehh? Anak ini mau membantuku?

“String!!” Mitang hyung langsung menyibakkan sayapnya dan bersiap menangkapku.

Bodoh Jewel! Kenapa kau malah diam?

“Aku setuju String! Tolong aku sekarang dan aku akan melindungi pangeran dengan taruhan nyawaku!” Aku ikut menyibakkan sayapku dan bersiap menghadapi serangan yang mungkin muncul.

Dengan gesti String ikutan terbang dan menarik kedua tangan Mitang hyung kebelakang.

“String?!”

“Hyung, kau tahu kan kalau aku sangat menyayangimu? Aku nggak mau kau terluka kalau bertarung dengan Jewel hyung. Ayo kita pergi dari sini.” Malaikat manis itu langsung menghilang dengan sangat cepat dengan membawa Mitang hyung pergi.

String malaikat cahaya. Dia bisa datang dan pergi secepat kecepatan cahaya. Dan sekarang aku.. Aman?

“Hyung, aman..” Aku berbicara sendiri.

Perlahan tubuhku mengeluarkan cahaya, dan Teukie hyung keluar dari tubuhku. Sosoknya sangat bercahaya. Dia menatapku serius. “Waktu kita singkat sebelum dewa menemukanku disini. Ayo ke taman jiwa.” Dia langsung terbang cepat meninggalkanku.

Donghae… Nggak akan kubiarkan kau mati!

Kami terbang sangat cepat menuju sebuah taman. Taman yang dipenuhi banyak sekali sosok manusia yang kelihatan bercahaya. Itu taman jiwa! Dan dengan mudah aku bisa menemukan seseorang yang kami cari.

Lee Donghae.

“Itu hyung!” Aku terbang melewati Teukie hyung dan langsung menarik tangan Donghae. “Hae!”

Mata namja itu kelihatan kosong dan hampa. Inilah mata jiwa yang sudah mati.

“Hae..? Hae!!”

“Jewel.. Biarkan aku yang melihatnya!” Dengan sigap hyung langsung menarik tangan Donghae dan menatap matanya dalam- dalam. Dia kembali menatapku. “Kau yakin ingin menyelamatkannya Jewel?”

“Nae hyung. Bagaimanapun caranya!”

Entah apa arti tatapan hyungku saat itu. Dia menarik tangan Donghae ke tempat yang nggak terlalu ramai dan kembali menatapku serius. “Kalau begitu bersiaplah..”

“Angel hyung! Sudah kuduga kau akan datang dengan Jewel! Tak akan kubiarkan kau keluar dari dunia langit!”

Aku tersentak saat mendengar suara Mitang. Saat menengadah, kulihat dia dan tentara malaikatnya terbang cepat kearah kami. Aku kembali menatap Teukie hyung panik. “Hyung!”

“Aku hanya butuh sedikit waktu. Tolong tahan mereka semua sebentar Jewel. Kau bisa kan?”

“Apa yang akan kau lakukan hyung?!”

“Lakukan saja apa yang kuperintahkan!”

Aku langsung mengeluarkan sebuah tongkat cahaya dari balik tanganku dan detik itu juga tongkatku beradu dengan pedang emas yang diarahkan Mitang hyung kepadaku. Tatapan kami berdua bertemu.

“Jewel.. Kau tahu apa yang akan terjadi kalau kalian membawa jiwa manusia itu pergi? Itu pelanggaran terbesar. Kalian akan tamat!”

Kutatap dia serius. Aku tahu itu.. Tapi saat ini, jika aku harus melakukan kejahatan terbesarpun, aku akan menyelamatkan jiwanya. Dia pernah sekali kehilangan sosok adik yang disayanginya, aku nggak mau gantian aku yang harus kehilangannya.

“Jewel dengarkan aku!” Mitang hyung menekanku dan aku mundur perlahan.

“Apapun yang terjadi, aku percaya.”

“Jangan konyol!”

Trang! Mitang hyung memutar pedangnya sehingga berada di atas tongkatku dan dengan mudah menepis tongkatku hingga terjatuh.

Srat! Kini malaikat penjaga itu mengarahkan mata pedangnya di hadapan wajahku.

“Kalau kau tetap nekat untuk ikut melanggar peraturan. Maka kau akan kumusnahkan sekarang juga Jewel.”

Aku akan tamat…

Sraats!! Tekanan angin yang besar langsung membuat kami semua terkejut. Cahaya yang menyilaukan datang dari arah belakangku. Aku langsung menoleh dan kulihat Teukie hyung kini menyibakkan sayapnya lebar- lebar dan melayang rendah.

Ini saatnya..

Dugh! Kutendang tangan Mitang hyung yang memegang pedangnya dan pedang itu terangkat keatas. Aku langsung terbang mundur mendekati Teukie hyung yang langsung menarik tanganku agar berlindung dibalik sayapnya.

“Hyung! Bagaimana dengan Donghae?”

Teukie hyung tak menjawab. Matanya menatap serius kearah sekumpulan tentara yang kini menyerang kami dengan bersamaan.

Saat itu juga cahaya sangat terang muncul dan seakan membutakan mataku. Nggak ada satupun yang bisa kulihat, kurasakan dan kudengar. Hampa..

0o0o0o0o0o0o0o0

Sekalipun akan melanggar peraturan dunia langit, asalkan dia bisa kembali aku akan melakukannya. Tapi ada satu hal yang luput dari pemikiranku saat itu..

Brak! Aku membuka mataku dan langsung terduduk kaget di atas tempat tidurku.

Kuperhatikan sekelilingku.. Ini dikamarku..?

“Hyukjae..”

Suara Donghae!

Aku menoleh keasal suara itu dan melihat namja itu kini berada di hadapanku. Tersenyum menatapku dengan senyum manisnya. “Ha-hae…?” Perlahan air mataku langsung menetes dan kubiarkan tanganku meraih tangannya yang terasa agak dingin.

“Benar- benar ajaib. Aku hidup lagi..”

“Babbo!” Aku langsung menariknya dan memeluk namja itu erat sambil terisak. “Mian.. Mianhae! Seharusnya aku nggak mencoba kunci itu dan membuat jiwamu tertukar! Seharusnya aku ingat kau bilang kenangan itu lebih berharga dari nyawamu! Mian karena aku kau nyaris saja mati! Jeongmal mianhae…”

Kurasakan tangannya mengusap kepalaku lembut. “Sudahlah.. Aku sudah dengar semua ceritanya dari malaikat yang lain. Jangan menangis Hyukkie.. Semua sudah baik- baik saja sekarang. Aku sudah hidup lagi kan…?”

“Mianhae…”

Kali ini kurasakan dia balas memelukku hati- hati. “Mulai sekarang, kau harus menebus kenangan yang hilang selama sepuluh tahun antara aku dan adikku dengan dirimu, Hyukjae. Kau nggak boleh meninggalkanku. Arra?”

“Apapun akan kulakukan..” Bisikku pelan. “Akan kuisi sepuluh tahunmu yang kosong tanpa adikmu dengan seratus tahun antara kau dan aku. Tapi jangan pernah meninggalkanku lagi.. Jangan buat aku menjadi kau kedua yang harus kehilangan orang yang berharga lagi..”

Donghae kembali mengusap kepalaku. “Arraseo.” Perlahan dia mencium puncak kepalaku. “Aku sangat menyayangimu…”

Disaat itu aku benar- benar melupakan satu hal yang sangat penting. Donghae hidup kembali karena Teukie hyung kan? Apa yang dilakukan hyung untuk membuatnya hidup kembali? Dan bukankah menghidupkan manusia yang telah mati adalah pelanggaran yang nggak bisa termaafkan oleh dewa?

Sekali aku melirik ke arah Teukie hyung yang berdiri di ambang pintu kamarku sambil dipegangi pangeran Camomile. Malaikat itu tersenyum lembut kearahku.

Gomawo hyung..

Untuk berikutnya, jika sesuatu terjadi kepadamu karena kesalahanku ini, maka aku pasti akan menyelamatkanmu sekalipun harus mempertaruhkan nyawaku. Aku berhutang padamu Angel hyung… Maafkan aku..

.

.

“Jadi Angel menghidupkan kembali manusia yang telah mati dengan mengorbankan setengah jiwa malaikatnya? Setelah pelarian besar- besaran sekarang dia melakukan kesalahan yang tak bisa aku maafkan.”

“Apa yang harus aku lakukan Dewa yang agung?”

“Mitang, bawa segera Angel ke dunia langit. Dia harus menerima hukuman terberat bagi seorang malaikat.”

“Maksudnya.. Dia akan mati..?”

.

~Fin~

 

4 thoughts on “(3rd Story) Key of Memories // HaeHyuk

  1. Hiyaaaa…. Seru bangeeeeeetttt…😄😄
    Aku suka banget critanya.. Sedih, tapi mengharukan..
    Taena, your story DDAEBAK!!😄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s